
"Aku ingin meminta tolong pada mu untuk menghubungi keluarga nya, karena di data rumah sakit hanya namamu yang terdaftar sebagai keluarga atau penjamin gadis itu dirawat disini."
Jordi menghela napas, dugaannya selalu tak meleset pasti wanita-wanita itu selalu membawa masalah. Dirinya yang sudah tak ingin bersangkutan dengan mereka tapi kenapa saat ini harus berhubungan kembali dengan para wanita itu.
"Kenapa harus aku ? Katakan saja langsung pada yang bersangkutan. Kenapa kamu membebani ku." Ucap Jordi sebal dan kesal pada dokter Andrew.
"Jika gadis itu mengetahui langsung ditakutkan akan kembali drop keadaannya."
Dokter Andrew masih memikirkan kondisi Alya sebagai pasiennya. Walau bagaimanapun pria itu tak tahu mengenai masalah yang terjadi antara pihak sahabatnya dengan pasiennya. Dia harus bersikap netral saat ini tanpa memihak pada siapapun.
"Lalu jika keluarga nya yang tahu maka semua akan baik-baik saja ? Kalau begitu tak perlu kamu kasih tahu apapun pada mereka bereskan." Ucap Jordi dengan santainya.
Giliran dokter Andrew yang merasa kesal pada Jordi. Mengapa pria dihadapannya itu tak mau membantu dan mengerti keadaan pasiennya.
"Jordi tolonglah... Setidaknya kasihanilah gadis itu. Beberapa hari yang lalu gadis itu baru saja sadar."
"Ndrew, itu bukan urusanku. Sudahlah katakan saja padanya langsung toh cepat atau lambat pasti juga dia akan tahu kan ?"
"Tapi beda keadaan nya nanti atau saat ini Jordi." Dokter Andrew benar-benar kesal pada Jordi.
"Memangnya sepenting apa kenapa kamu takut sekali gadis itu drop jika mengetahuinya. Kamu membuang waktuku, aku sibuk." Jordi sudah bangkit dari duduknya. Pria itu malas sedari tadi membahas hal yang tidak penting.
"Gadis itu hamil. Janinnya sedikit bermasalah akibat penggunaan barang haram yang dilakukannya."
Jordi terdiam sejenak, Alya hamil ? Sedikit kejutan untuk Jordi tapi tak heran jika itu terjadi pada Alya.
"Cih... Buah jatuh tak jauh dari pohonnya." Gumam Jordi.
Perumpamaan seperti itulah yang langsung bersarang dalam kepala Jordi. Alya adalah anak kandung dari Sonia yang memiliki perilaku buruk tak heran jika Alya juga tumbuh menjadi orang yang berperilaku sama seperti orang tuanya.
"Aku tak tahu dimana keluarganya berada. Lebih baik kasih tahu saja pada gadis itu. Kamu tak tahu mungkin dia sudah mengetahui akan kehamilannya itu." Ucap Jordi.
Dokter Andrew kembali berpikir mungkin saja apa yang dikatakan Jordi itu benar. Terlebih usia kandungan Alya sudah cukup lama tidak mungkin jika Alya tak mengetahui jika dirinya hamil.
"Jadi, aku harus mengatakan langsung padanya ? Tapi jika dia syok dan drop bagaimana ?"
"Ck... Terserah padamu sajalah. Aku kira ada hal yang penting. Ya sudah aku harus kembali ke kantor. Pekerjaan ku sangat banyak."
"Ck... Pergilah sana. Kamu ini dasar teman tak berguna." Ucap dokter Andrew sebal.
"Hey apa kamu bilang ? Bagian mananya diriku yang tak berguna ? Tak mungkin Tuan Satya percaya padaku jika aku tak berguna."
"Informasi mu yang tak berguna bagiku." Imbuh Jordi lalu pergi begitu saja.
Dokter Andrew menyugar rambutnya, bisa-bisanya dia meminta Jordi datang tapi tak membuahkan hasil apapun. Yang ada dirinya yang merasa kesal dengan sikap sahabatnya itu.
"Aku harus bagaimana ini, lagi pula kenapa keluarganya tak ada yang mau menjaganya."
Dokter Andrew jadi bingung sendiri. Dirinya harus membuat keputusan sendiri. Dan keputusannya adalah tetap akan memberitahukan hal penting itu kepada Alya karena sudah beberapa hari dokter Andrew menunda untuk menunggu keluarga Alya tapi tidak ada yang datang.
Kesalahan juga bagi dokter Andrew karena dirinya baru bisa mengatakan hal sepenting itu saat ini. Alasan apapun ini juga adalah kelalaiannya.
Pria itu keluar dari ruangan dan berjalan menuju kamar rawat Alya. Walau bagaimanapun gadis itu harus tahu, dokter Andrew juga berpikir sama dengan Jordi barangkali gadis itu juga sudah tahu akan keadaanmu sebelum kecelakaan terjadi.
Untuk mengantisipasi terjadi hal yang tidak diinginkan. Pria itu membawa dua orang perawat satu asistennya dan satu lagi suster yang beberapa hari terakhir menjaga Alya. Dokter Andrew mengangguk saat dua polisi menatap nya.
"Selamat siang Nona Alya, bagaimana keadaan mu hari ini ?" Tanya dokter Andrew.
"Siang dokter, saya baik-baik saja." Jawab Alya.
"Apa ada keluhan lain yang anda rasakan ?" Dokter Andrew benar-benar ingin memastikan keadaan gadis itu. Akan lebih baik memang jika keadaannya baik-baik saja jadi kemungkinan untuk kembali drop itu sangat kecil. Tapi tak bisa menutup kemungkinan sesuatu bisa saja terjadi pada gadis itu.
"Tidak ada, hanya beberapa luka yang masih terasa perih."
"Baiklah, untuk lukanya memang perlahan akan sembuh dengan pemberian obat dalam dan obat luar."
"Iya dokter." Jawab Alya.
"Nona, ada yang ingin saya sampaikan kepada anda." Rasanya sedikit berat bagi dokter Andrew. Biasanya untuk menyampaikan segala permasalahan pasien selalu disampaikannya pada anggota keluarga pasien sangat jarang sekali disampaikan langsung pada pasien.
"Ada apa dokter ?" Tanya Alya penasaran.
"Melalui hasil pemeriksaan, mohon maaf jika ada satu hal yang terlewatkan dari saya. Sebenarnya saya sedikit berat mengatakan ini pada anda tapi tetap harus saya sampaikan karena keluarga anda tidak ada di disini jadi saya harus mengatakan pada anda bahwa kondisi janin anda lemah Nona."
"Heu ? Em... bagaimana dokter ?" Alya bingung dengan apa yang disampaikan oleh dokter Andrew.
"Janin anda lemah saat ini, perkembangannya kurang baik Nona tapi masih bisa bertahan." Ucap dokter Andrew kembali menjelaskan.
"Janin ? Maksud dokter janin saya ? Saya hamil ?" Tanya Alya syok.
Selama ini tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan dirinya hamil. Hanya saja memang siklus haidnya terganggu beberapa bulan ini. Dirinya telat datang bulan tapi Alya tak sibuk memikirkan keadaan itu. Entah bagaimana bisa Alya sampai tak memikirkan lebih panjang lagi mengenai masalah itu.
"Iya benar Nona anda hamil, kandungan anda sudah lima bulan. Melalui pemeriksaan oleh dokter kandungan, janin anda sedikit bermasalah karena maaf penggunaan obat-obatan terlarang."
"Tidak !!! Tidak mungkin saya hamil !!" Alya syok mendengar dirinya hamil.
"Nona tenang lah, kita masih bisa memberikan penanganan untuk janin anda." Ucap dokter Andrew menenangkan.
Alya menangis keras, ia syok dengan apa yang didengarkannya. Ia selalu berharap jika itu adalah mimpi. Sakitnya saja belum sembuh, tidak ada yang menjaga saja masih membuat hatinya sedih berita itu membuatnya semakin tak karuan.
__ADS_1
"Maaf Nona saya harus mengatakan hal ini, agar kita bisa sama-sama memikirkan bagaimana yang terbaik untuk anda dan janin anda saat ini. Anda harus tenang, luka-luka anda masih belum mengering."
Dokter Andrew dan suster terus berusaha menenangkan Alya. Salah satu polis masuk ke dalam ruangan karena mendegar suara raungan dari Alya yang cukup keras.
"Ada apa ini dokter ?" Tanya polisi.
"Maaf Pak, Nona Alya merasa syok dengan kabar yang saya sampaikan."
"Kabar apa dokter kalau boleh tahu ?" Tanya polisi.
"Nona Alya hamil dan janinnya sedikit bermasalah."
Polisi itu mengangguk. "Lakukan saja tindakan untuk menenangkannya sesuai prosedur kedokteran."
"Baik Pak akan kami lakukan." Ucap dokter Andrew.
Miris sekali nasib Alya tapi begitulah kenyataan. Apa yang dilakukan setiap orang pasti akan memiliki dampaknya. Ada sebab ada akibat, maka sebelum bertindak seharusnya dipikirkan terlebih dahulu baik buruknya untuk kedepannya.
****
Di ruang rawat Kaila, semuanya masih berkumpul kini sudah ada Budhe Rohimah yang juga berada di ruangan itu.
"Budhe berkeringat begitu dari mana saja ?" Tanya Belva.
"Budhe cari Kaili to Nduk, kan tadi tidak sampai-sampai jadi Budhe juga cemas tidak enak sama kamu."
Belva tersenyum. " Maaf ya Budhe, Belva terlalu khawatir dengan Kaili. Maaf membuat Budhe repot."
"Khawatir dengan Kaili memang ada apa ?" Tanya Satya.
Belva hanya menoleh tapi tak menjawab. Justru Budhe Rohimah yang membuka suara.
"Belva takut terjadi sesuatu dengan Kaili karena anda membawanya dan tidak sampai ke rumah sakit. Padahal anda pergi lebih dulu daripada saya."
"Maaf membuatmu khawatir." Ucap Satya pada Belva. Wanita itu mengangguk, ia masih canggung pada pria itu.
"Maaf Bi, tadi Kaili meminta mainan jadi kami mampir untuk membelinya terlebih dahulu." Ucap Satya pada Budhe Rohimah.
"Iya Tuan, tapi maaf seharusnya anda mengabari kami. Sehingga kami tidak khawatir, terlebih Maminya."
Satya mengangguk, dia memahami mungkin Belva belum sepenuhnya percaya padanya. Wanita itu terlalu menyayangi anak-anaknya hingga takut bila terjadi sesuatu pada mereka. Setiap ibu pasti akan seperti itu pada anaknya.
"Budhe beristirahatlah, pasti lelah sedari tadi mencafi Kaili." Ucap Belva pada Budhe Rohimah.
Wanita paruh baya itu lantas memilih duduk di sofa. Meluruskan kakinya yang terasa pegal, dirinya sudah tak lagi muda tentu saja akan lebih cepat lelah.
"Sebentar Daddy ambilkan." Satya melangkah untuk mengambil mainan milik anak-anaknya yang diletakkan di ranjang tambahan.
"Ini mainan Kaila, tadi Daddy dan Kaili yang pilihkan." Ucap Satya.
"No bukan Daddy tapi Opmud. Kan Kaila sudah punya Papi." Ucap Kaila.
Rasanya masih terasa sakit saat Kaila memberikan penolakannya. Raut wajah Satya yang semula terlihat bahagia itu sedikit meredup. Belva melihat perubahan wajah itu, ia pun merasa tak enak hati. Dirinya tidak pernah mengajarkan hal seperti itu pada Kaila.
"Sayang, dengarkan Mami Nak. Kaila dan Kaili perhatikan Mami." Suara Belva membuat Kaila mengalihkan tatapan matanya pada Belva.
Wanita muda itu mengambil napas sebelum berbicara. Berat masih terasa saat dirinya harus membuka fakta, karena kejadian luna tahun yang lalu masih membekas di hatinya. Tapi ia sadar itu bukan sepenuhnya salah Satya. Pria di sampingnya itu berhak mendapatkan penerimaan dan pengakuan dari Duo Kay.
"Dulu, Kalian sempat bertanya bukan ? Dimana Papi dan Mami bilang Papi sedang bekerja. Apa kalian masih ingat ?" Tanya Belva memastikan ingatan anak-anaknya.
Duo Kay mengangguk, tentu saja mereka ingat karena beberapa kali alasan yang sama selalu muncul saat mereka membahas Papi mereka.
"Kalian mau tahu dimana Papi kalian sebenarnya ?" Tanya Belva. Matanya sudah berkaca-kaca ada rasa bersalah pada kedua buah hatinya karena lama menutup kenyataan.
"Mau." Ucap Kaili. Kaila hanya diam mendengarkan.
Sebenarnya pria kecil itu telah lama sekali ingin mengetahui dimana Papi nya sebelum dirinya meminta Roichi untuk menjadi Papi angkatnya.
Lagi-lagi Belva menarik napasnya dalam melepaskan beban di dadanya yang terasa sesak. Satya tahu itu berat bagi Belva, diusap lembut punggung Belva oleh Satya. Berniat menenangkan dan memberikan semangat pada Belva.
"Papi kalian... Sekarang ada di depan kalian. Daddy Satya." Ucap Belva. Bersamaan dengan dua kata terakhir ada rasa lega ada pula rasa bersalah dan sakit. Semua itu datang bersamaan menghampiri hati Belva.
Satya tersenyum saat Belva mengatakan dua kata terakhir itu. Dirinya merasa lega akhirnya dua bocah kecil itu tahu siapa Daddy mereka, ayah kandung mereka.
Duo Kay menatap Satya, menggelikan bagi Satya saat ditatap intens oleh anak-anaknya. Satya membalas tatapan itu dengan tersenyum sembari matanya pun berkaca-kaca. Diusap kepala Kaili yang ada di depannya, bocah itu masih duduk di ranjang Kaila.
"Jadi, Daddy ini benaran Papi ku, Mi ?" Tanya Kaili. Belva mengangguk.
Mata Kaili terbuka lebar dengan mulut terbuka sama seperti anak-anak kecil pada umumnya yang mendapatkan surprise mainan. Mengekspresikan wajah terkejutnya dengan lucu dan menggemaskan.
"Papiiii !!" Teriak Kaili dengan sangat bahagianya. Bocah itu memeluk pinggang Satya yang tengah berdiri di depannya. Satya tersenyum bahagia, terharu sudah pasti dirasakan oleh pria itu.
Kaila, gadis kecil itu masih mencerna ucapan Maminya dan penglihatannya saat ini.
"Mami, jadi Opmud itu Papi sungguhan nya Kaila ?" Tanya Kaila yang masih belum mencerna sepenuhnya.
"Iya sayang, opa itu adalah Papi nya Kaila." Terasa lucu saat ayah kandung dipanggil Opa oleh anak kandungnya sendiri.
"Papi ?" Panggil Kaila pada Satya.
__ADS_1
Mata Satya yang sudah berkaca-kaca, kini mampu menetes saat Kaila memanggilnya Papi. Gadis kecilnya yang semula menolak dirinya kini mau memanggilnya Papi.
"Iya sayang, ini Papi Kaila Nak." Satya memeluk kedua anaknya.
Belva, wanita itu juga merasakan haru saat Satya dan Duo Kay berpelukan. Akhirnya mereka bisa merasakan bagaimana rasanya dipeluk oleh ayah kandung mereka. Arah pandang matanya pun mengarah pada Satya, pria dingin yang selama ini terlihat tampan dan gagah itu bisa meneteskan air matanya dan Belva baru melihat itu saat ini untuk pertama kalinya.
Air mata Belva pun menetes, ia menangis harus. Beban yang selama ini disimpan nya secara rapat tak lagi menjadi bebannya lagi.
"Maafkan Mami sayang, sudah memisahkan kalian dengan Papi kalian." Batin Belva.
Isakan lirih Belva terdengar oleh Satya, pria itu melepaskan pelukannya pada kedua anak kembarnya.
"Hey... Kenapa menangis ? Jangan menangis, anak-anak akan sedih melihat mu menangis." Ucap Satya dengan tubuh membungkuk menatap Belva.
"Hiks... Maaf membuat kalian terpisah karena ego dan ketakutan ku hiks..." Belva masih menangis.
"Sst... Sudah tak apa ini hanya karena keadaan. Saya yakin kamu memiliki hati yang baik, semua tidak akan kamu lakukan jika tidak ada alasannya." Satya menenangkan Belva, dia tanpa beban memeluk Belva pada pinggangnya. Karena Satya yang berdiri dan Belva yang duduk di kursi dekat ranjang Kaila.
"Hiks... Maafkan saya Tuan, Hiks... Tolong bantu saya melindungi mereka dari Nyonya Sonia dan Alya." Rasa khawatir dan ketakutan itu tetap masih ada dan bersarang pada pikiran Belva.
"Sudah Belva jangan menangis kasihan anak-anak sedih melihatmu. Dan kamu harus paham tanpa kamu meminta saya pasti akan melindungi mereka. Kamu pasti tahu alasannya apa hemm." Usapan lembut juga diberikan Satya pada kepala Belva. Wanita itu tetap tak membalas pelukan Satya. Merasa bingung harus bagaimana disisi lain ia juga canggung pada Satya, telapak tangannya meremas celana kulot hitam yang dipakainya saat ini.
Anggukan Belva menjadi tanda bahwa dirinya juga paham jika Satya pasti akan melindunginya Duo Kay dari ancaman bahaya Sonia dan Alya.
"Oke, berhentilah menangis." Satya melepas pelukannya dan merangkum wajah Belva untuk mendongak ke arahnya. Kedua jempolnya digunakan untuk menghapus air mata Belva.
"Mami jangan menangis kan Papi sudah pulang. Kata Mami dulu Papi hilang karena tidak tahu jalan pulang ke rumah." Ucap Kaili.
Satya langsung menatap wajah putranya. "Mami bilang seperti itu pada kalian ?" Tanya Satya.
"Iya, Mami bilang Papi kerja dan hilang saat bekerja." Jawab Kaili.
Satua tersenyum kecil, alasan Belva sungguh lucu sekali menurut Satya.
"Mami juga bilang waktu itu Papi sudah meninggal, Mami juga marah-marahnya saat itu karena Kaila tanya-tanya Papi." Ucap Kaila yang masih ingat terakhir kali mereka membuat dimana Papi mereka. Saat Duo Kay mendapatkan julukan anak haram yang tak punya Ayah di sekolah.
"Meninggal ?" Satya memastikan satu kata itu pada Kaila dan gadis itu mengangguk.
"Iya Mami juga bilang begitu." Kaili mendukung pernyataan kembarannya.
Satya langsung menatap tajam pada Belva. Dan wanita itu terkejut mendapatkan tatapan itu. Lidahnya terasa kaku harus memberikan tanggapan seperti apa. Kedua anaknya sangat jujur sekali pada Satya.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan saya sudah meninggal padahal saya masih hidup. Kamu mendoakan saya seperti itu ?" Tanya Satya dingin padanya.
"Bu-bukan... Bukan seperti itu Tuan. Anda tak mengerti posisi saya saat itu." Belva ingin menjelaskan pada Satya.
Disisi lain tempat di sofa sedari tadi sembari mengistirahatkan tubuh nya yang lelah Budhe Rohimah menyaksikan kisah haru dari keluarga kecil yang telah lama terpisahkan. Ralat, anak dan ayah yang lama terpisahkan. Mereka berempat belum bisa dikatakan menjadi keluarga seutuhnya karena Satya dan Belva tidak memiliki hubungan apapun.
Terkadang aneh dan lucu seorang wanita dan pria yang tak memiliki hubungan apapun tapi mereka memiliki hubungan erat diantara mereka masing-masing dengan seorang anak.
Budhe Rohimah pun tak bisa menahan rasa harunya, wanita paruh baya itu pun ikut meneteskan air matanya. Ia tahu bagaimana beratnya hidup keponakannya itu dulu, kini rahasia yang menjadi beban itu sudah melebur menjadi sebuah pengakuan dan penerimaan.
Dengan menyeka air matanya, Budhe Rohimah berjalan mendekat Satya dan Belva. Diraihnya bahu keponakan yang sudah dianggap menjadi anaknya itu.
"Tuan, maaf bukan saya ikut campur. Saya tahu masalahnya seperti apa. Saat itu mereka sedang dalam keadaan terpuruk fitnah yang diberikan oleh Nyonya Sonia membuatnya tertekan. Saya rasa itu mungkin yang membuat Belva tanpa sadar mengucapkan hal seperti itu pada si kembar." Ucao Budhe Rohimah.
"Budhe ?" Panggil Belva lirih.
Budhe Rohimah sekali lagi menyeka air matanya dan tersenyum. "Mungkin kamu kira Budhe tidak tahu Nduk. Tapi Bella, gadis itu terkadang bercerita pada Budhe, itu sebabnya kalian berlibur ke kampung kan."
Belva mengangguk, benar jika liburan itu digunakannya untuk menghibur diri dan menenangkan diri atas fitnah yang menimpa dirinya dan berimbas pada Duo Kay.
"Papi, aku kira aku dan Kaila tidak akan pernah bisa bertemu Papi lagi karena Papi sudah tidak ada. Teman-teman kami bilang jika kami tidak punya Ayah dan memanggil kami anak haram. Kaila hilang waktu itu karena Yossy bilang teman-teman memanggil Kaila seperti itu." Pria kecil itu berbicara cukup panjang mengadu atas ingatannya waktu lalu saat masalah menimpa mereka.
Satya tertegun, hatinya sakit mendengarkan cerita Budhe Rohimah dan juga Kaili. Ternyata Belva dan anak-anak nya hidup sangat sulit saat itu. Dia pun ingat saat pertama bertemu Kaila, saat itu Kaila tengah dicari oleh bebera orang yang menyatakan jika Kaila kabur. Kedua kalinya Satya juga ingat saat sepasang anak kecil bergandengan tangan keluar gerbang sekolah dengan diikuti oleh segerombolan teman laki-laki yang lain hingga terjadi perkelahian antara anak-anak kecil tersebut dengan topik permasalahan yang sama seperti yang Kaili ceritakan. Saat itu Satya yang memerintahkan Jordi untuk mengurus permasalahan itu dan mengeluarkan anak-anak yang menyerang Duo Kay. Jordi mengancam akan melaporkan kejadian tersebut pada pihak kepolisian yang bisa saja menurunkan kredibilitas sekolah.
"Maaf saya tidak tahu. Yaa... Sekali lagi saya yakin jika kamu selalu memiliki alasan dalam melakukan segala hal. Maafkan saya." Ucap Satya.
Pria itu lalu naik ke atas ranjang Kaila. Di pangkunya Kaili dan dipeluknya tubuh Kaila yang tengah duduk di ranjangnya itu.
"Sekarang kalian tidak usah khawatir. Daddy akan selalu ada untuk kalian. Daddy tidak hilang, Daddy masih ada untuk kalian." Ucao Satya lembut pada Duo Kay.
Berhadapan dengan dua bocah kecil itu Satya pasti selalu bisa bersikap lembut. Dia tak bisa untuk tidak bersikap lembut pada Duo Kay. Saat tahu mereka adalah anak kandungnya, rasa sayang itu muncul begitu saja terlebih Satya memang sudah pernah melihat wajah mereka.
Tapi bersama Belva, Satya masih bisa bersikap dingin. Itu hanya untuk menutupi perasaannya yang mengagumi istri orang lain. Sampai detik ini Satya belum tahu jika Belva bukanlah istri dari Roichi.
"Sungguh Papi tidak akan pergi lagi ?" Tanya Kaila.
"Daddy sayang. Bukankah kalian sudah punya Papi ?" Tanya Satya tersenyum meski hatinya terasa sedikit sakit.
"Iya tapi Papi Roi bukan Papi kami sungguhan. Kan Papi sungguhan Kaila Papi Satya. Iya kan Mami ?" Ucap Kaila.
****
To Be Continue...
Terima kasih banyak selalu author ucapkan untuk kalian mau dear readers ku. Sumpah karena kalian author semangat up setiap hari. Reaksi kalian baca setiap part novel ini lalu kata+kata semangat dari kalian membuat author selalu bisa tersenyum dan semangat.
Jangan pernah berubah yak buat kasih support ke author hehehe. Sehat selalu buat kalian buat kita semua. π€βΊοΈπ
__ADS_1