
Pertemuan antara kedua belah keluarga kini sedang terjadi di sebuah restoran. Satya dan Belva kini bertemu dengan pasangan Jack dan Noella rupanya tidak hanya Jack dan Noella saja yang datang melainkan kedua orang tua Noella dan Jack pun juga datang untuk mengetahui perihal penyerahan bayi mungil yang tak mereka harapkan.
Satya dan Belva menatap kedua orang tua Jack dengan pemikiran yang cukup aneh. Sebab seharusnya mereka sebagai orang tua justru bertanggung jawab atas bayi yang hadir karena ulah anak mereka. Tapi mereka justru enggan mengakuinya dan enggan merawat bayi kecil itu.
Kedua orang tua Noella rupanya mendadak seperti balon yang bocor halus perlahan mengecil dengan sendirinya. Mengetahui jika seseorang yang akan menerima serta merawat anak kandung Jack adalah seorang pebisnis handal dan sangat diperhitungkan dalam dunia bisnis. Terkhusus Papa Noella, pria paruh baya itu merasa malu karena menolak kehadiran bayi Alya didalam rumah tangga putrinya. Sedangkan kedua orang tua Jack benar-benar kurang memahami siapa itu Satya, mereka lama tinggal di luar negeri dan bisa dibilang bisnis keluarga Jack masih dibawah jauh dari seorang Satya dan juga orang tua Noella.
"Langsung saja tidak usah lama-lama untuk membicarakan masalah ini." Ucap Ayah Jack.
Belva dan Satya kembali melayangkan tatapan mereka kepada Ayah Jack. Terlihat sekali jika orang tua Jack benar-benar tak mengharapkan seorang bayi yang sebenarnya adalah cucu kandung mereka sendiri.
"Baiklah, anda benar tidak perlu berlama-lama dan berbasa-basi. Jordi, bawa semua berkas yang dibutuhkan." Ujar Satya.
Satya pun semakin merasa malas dengan orang-orang yang ada dihadapan terutama kedua orang tua Jack. Mereka bahkan seolah mendukung Jack untuk tak bertanggung jawab atas darah dagingnya sendiri.
"Ini, Tuan. Surat perjanjian yang isinya penyerahan hak asuh." Ujar Jordi.
Tak hanya Jordi tapi Satya pun membawa pengacaranya untuk menyaksikan penyerahan hak asuh atas bayi Alya.
"Silahkan dibaca dan dipahami, jika sudah silahkan tanda tangan. Semua pengurusan hak asuh kalian tidak perlu repot-repot mengurusnya karena pihak saya yang akan mengurusnya hingga selesai." Ucap Satya sembari menatap Jack dengan tatapan tajam.
Satya merasa memang lebih baik bayi Alya jatuh pada pengasuhannya dan juga sang istri mengingat tabiat Jack memang bukan seseorang yang baik. Masih ingat dengan sangat jelas saat Jack masih bersama Alya. Beberapa barang pribadi yang dikoleksi oleh Satya raib dan pelakunya tentu Satya tahu jika itu adalah Jack tapi Satya cukup diam tak mempermasalahkan hal itu terlalu malas mengurus hal yang akan membuang waktunya.
Belva berharap bahwa pihak Jack tidak akan mengurungkan niat mereka karena wanita berhati lembut itu merasa yakin bahwa bayi Alya akan aman dan hidupnya terjamin jika berada dibawah pengasuhan keluarganya.
Jack dan Noella membaca dengan seksama setiap kalimat demi kalimat yang tercetak di dalam satu beberapa lembar kertas putih itu. Beberapa poin yang dipinta dari pihak Satya pun rupanya tak membuat pihak Jack mengurungkan atau menyayangkan niat mereka untuk menyerahkan bayinya.
"Sudah tanda tangan saja tidak perlu berpikir lagi. Lebih baik mengurus bayi dalam pernikahan yang sah." Ujar Ayah Jack dengan santai dan percaya diri.
Jack melirik ke arah Ayahnya dan ke arah mertuanya. Kelurga Noella hanya bisa terdiam tanpa kata.
"Ma... Kalian yakin?" Tanya Jack pada Mamanya.
Dari hati kecilnya yang paling dalam ada setitik kecil rasa iba pada bayi kecil itu. Mama Jack melirik ke arah suaminya lalu mengangguk kecil pada Jack. Sebagai seorang ibu, meski menolak kehadiran bayi mungil itu tapi Mama Jack pun merasa kasihan tapi tidak mungkin juga mereka mempertahankan bayi itu di dalam keluarga mereka. Akan ada banyak rumor yang menghampiri mereka terutama dari keluarga besar mereka. Itulah yang juga menjadi pertimbangan kelurga Jack.
Pada akhirnya, Jack menandatangani perjanjian penyerahan hak asuh bayinya. Sedangkan Noella menandatangani surat kuasa pelimpahan wewenang untuk mengurus bayi Alya yang sedang di rawat di rumah sakit.
"Tuan, kami titip bayi itu kepada kalian. Terima kasih sudah mau menerimanya." Ucap Noella. Sejujurnya hati Noella pun merasa sedih tak bisa merawat bayi itu seperti janjinya pada dirinya sendiri dan pada Alya.
"Tentu saja kami akan merawatnya dengan sangat baik bahkan akan berkelimpahan kasih sayang. Istri saya seorang ibu yang penyayang dan lembut terhadap anak-anak. Bahkan yang bukan darah dagingnya sendiri pun dengan senang hati dan tangan terbuka untuk merawat."
Kalimat terakhir yang diucapkan Satya mampu mencubit hati Jack dan juga keluarga Noella kecuali Ayah dari Jack. Selesai dengan segala perbicangan mereka mengenai penyerahan hak asuh itu tanpa basa-basi lagi Satya tidak ingin berlama-lama berada di tengah orang-orang yang tak memiliki perasaan seperti mereka.
"Sayang, kita pulang." Ajak Satya. Belva mengangguk menyetujui ajakan sang suami.
"Nona, Tuan dan Nyonya kami permisi." Pamit Belva mengangguk dan sedikit memberikan senyum ramahnya pada keluarga Jack dan Noella.
Satya dan Belva berjalan keluar lebih dulu, Satya hanya menganggukkan kepalanya saja untuk berpamitan pada keluarga Jack dan Noella. Pria itu menggandeng tangan istrinya agar mereka tetap berjalan sejajar dan tidak meninggalkan sang istri.
"Kami akan mengurus semuanya. Mungkin anda dan suami bisa datang di persidangan hak asuh nanti." Ujar Jordi sebelum berpamitan.
Jack dan Noella mengangguk. Jordi lalu berpamitan pada mereka yang ada di sana.
"Saya permisi." Ujar Jack.
Pengacara Satya pun mengangguk berpamitan saat Jordi berpamitan. Pihak Satya sudah benar-benar pergi dari restoran tersebut menyisakan kelurga Jack dan Noella.
Sepasang suami istri muda itu hanya terdiam setelah perbicangan serius mereka begitupun dengan kedua orang tua Noella.
"Kita sekalian makan dulu saja di sini." Ucap Ayah Jack.
"Maaf Allan, aku tidak bisa bergabung ada pekerjaan mendadak yang harus kuselesaikan." Ucap Mattew Papa dari Noella.
Sebenarnya Mattew merasa kurang nyaman dengan pertemuan yang baru saja mereka lakukan. Permasalahan ini membuatnya seakan kehilangan wajah dan harga diri di depan pebisnis sekelas Satya.
"Baiklah, biar aku dan anak-anak saja yang makan di sini." Ucap Allan, Ayah dari Jack.
"Terserah kalian saja, aku dan Dona harus pergi. Ayo sayang kita pergi."
"Iya. Sayang Mama dan Papa pergi dulu." Ucap Dona Mama dari Noella.
Noella mengangguk dan tersenyum tipis, ia pun masih merasa tak nyaman setelah penyerahan hak asuh bayi Alya.
"Hati-hati, Ma... Pa..." Ujar Noella.
__ADS_1
Noella dan Jack menyalami kedua orang tua Noella lalu Mattew dan Dona pergi dari restoran. Jack dan Noella terpaksa harus menemani kedua orang tua Jack makan di restoran tersebut.
Satya dan Belva sudah berada di dalam mobil bersama Jordi. Seperti biasanya Jordi yang akan mengemudikan mobil tersebut membawa Satya dan Belva yang duduk di kursi belakang.
"Mas, apa masih lama kita bisa membawa bayi Alya?"
"Semoga saja tidak, sayang. Kita harus mengurus semuanya dengan tuntas agar nanti tidak ada lagi masalah yang terjadi mengenai hak asuh."
"Aku berharap secepatnya, mas. Kasihan jika harus terlalu lama di rumah sakit kita harus melakukan sesuatu agar bayi mungil itu bisa secepatnya keluar dari rumah sakit."
"Pasti, sayang."
"Jordi, segera urus semuanya agar kita bisa segera bertindak lebih lanjut untuk bayi Alya." Titah Satya pada Jordi.
"Siap, Tuan. Saya juga sudah berkoordinasi dengan pengacara pribadi anda untuk segera ngurus semua keperluannya."
"Bagus." Ucap Satya menanggapi Jordi.
"Kamu dengar, sayang semua akan kita selesaikan. Tapi satu hal yang harus kita pikirkan lagi, kita harus cari baby sitter untuk menjaganya nanti."
Satya mengusap bahu istrinya tak lupa kecupan disarangkan pada kepala sang istri. Belva membalas pelukan Satya dengan menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami. Lagi-lagi Belva merasa bersyukur memiliki suami yang pengertian padanya dan selalu mengusahakan kemauao dan anak-anaknya. Tapi ketika semua sudah diusahakan oleh Satya bukan berarti Belva menjadi wanita yang manja, ia masih selalu berusaha sendiri selama dirinya mampu.
"Kita kemana dulu, Tuan?" Tanya Jordi dalam perjalanan.
"Ke rumah ibu, Kay di sana." Jawab Satya.
"Sayang, suruh Bella pulang sekarang. Kita akan makan bersama nanti." Ujar Satya pada istrinya.
"Oh oke, mas sebentar aku hubungi dulu dia."
Belva langsung menghubungi Bella menyuruhnya kembali pulang secepatnya sesuai dengan perintah suaminya. Mendengar nama Bella, entah nama gadis itu selalu seperti menyentuh alarm pada pendengaran Jordi sehingga Jordi merasa sedikit sensitif dengan nama Bella.
Sampai di rumah Budhe Rohimah, ketiga orang yang berada dalam mobil Satya langsung turun. Mereka berjalan menuju rumah yang sejatinya milik Belva semasa masih menjadi single mom.
Budhe Rohimah menyambut kedatangan mereka dengan wajah penuh senyum. Wanita paruh baya itu selalu merasa bahagia kala Belva, Satya dan Jordi datang. Ia sudah menganggap mereka seperti anaknya sendiri. Meski Satya dan Budhe Rohimah memiliki usia yang tak jauh berbeda.
"Kalian sudah datang? Apa urusannya sudah selesai?"
"Sudah Budhe." Ucap Belva menyalami tangan Budhe Rohimah dan memeluk wanita yang sudah dianggo sebagai ibu.
"Iya, Kaila memiliki tugas baru setelah mendapat kontrak kerjasama dengan Christina Diora. Kalau Kaili tanyakan saja pada Daddy nya, dia mendapatkan tugas dari Daddy nya." Ujar Belva tersenyum.
Mereka semua masuk dan duduk di sofa ruang keluarga. Perbicangan mereka kini masih membahas topik kesibukan Duo Kay.
"Tugas apa yang kamu berikan pada anakmu, Nak?"
"Masih sesuai dengan hobinya, menggambar desain bangunan. Saya ada proyek baru yang membutuhkan desain dari Kaili. Tidak perlu keluar biaya lebih kan jika putraku sendiri yang membuatnya." Satya tersenyum setelah mengucapkan kalimatnya.
"Jangan bilang perusahaan mu sedang dalam masalah keuangan jadi kamu harus menghemat seperti itu." Budhe Rohimah menanggapi dengan candaannya.
Tapi candaan itu cukup tepat menggambarkan keadaan yang saat ini Satya alami di perusahaannya. Jordi menatap Satya sedangkan yang ditatap hanya bisa menghela napas.
"Memang seperti itu Bu, maka dari itu saya meminta bantuan pada Kaili. Masalah ini cukup rumit jika saya jelaskan pada ibu. Yang penting doakan saja agar kami bisa menyelesaikan permasalahan ini. Jordi dan Roichi akan membantu menjalankan rencana saya."
Budhe Rohimah mengulurkan tangannya untuk mengusap lengan Satya. Ia turut prihatin atas permasalahan yang kini dialami perusahaan Satya.
"Ibu turut prihatin atas masalahmu, Nak. Ibu akan selalu mendoakan anak-anak ibu agar kalian tetap sehat dan baik-baik saja."
"Terima kasih Bu." Ucap Satya tersenyum tipis. Ia dapat merasakan kehangatan dan kelembutan perilaku Budhe Rohimah padanya.
Semenjak dirinya memutuskan untuk menganggap Budhe Rohimah yang notabene adalah pembantunya dulu kini menjadi ibu nya semakin terasa kehangatan dan kelembutan seperti seorang ibu yang selalu Satya harapkan meski usianya sudah tak lagi muda.
"Nak Jordi, ibu percaya kamu pasti bisa membantu masalah perusahaan karena kamu selalu berada di sisi Nak satya selama ini."
"Iya ibu, saya akan selalu mendampingi Tuan Satya dalam pekerjaannya dan semua yang berkaitan dengan, Tuan." Ucap Jordi.
"Oh iya Budhe, Belva ada kabar bahagia."
Perhatian Budhe Rohimah kini beralih pada Belva. "Kabar bahagia apa, Nduk?"
Belva menatap suaminya dengan bibir tersenyum merekah. Satya pun tak sabar mengabarkan kabar bahagia yang mungkin sedikit terlambat mereka bagikan.
"Istri saya sedang hamil dua bulan, Bu."
__ADS_1
Manik mata Budhe Rohimah membelalak penuh keterkejutan tapi ada binar bahagia dari pancaran mata tua itu.
"Benarkah? Benar kamu hamil, Nduk?"
Belva mengangguk, "Iya Budhe, maaf terlambat memberikan kabar bahagia ini."
Raut wajah ibu hamil itu sedikit berubah sendu karena merasa bersalah terlambat mengabarkan kabar bahagia.
"Tidak masalah, Nduk. Yang penting kamu masih tetap ingat sama Budhe untuk kabar bahagia ini itu artinya Budhe masih menjsdi bagian orang terpenting dalam hidupmu."
"Budhe... Sampai kapanpun Budhe adalah orang terpenting dalam hidup Belva. Maaf karena aku dan mas Satya masih sibuk jadi terlambat mengabarkan berita kehamilanku."
"Iya, Nduk sudah jangan merasa bersalah seperti itu. Kandungan kamu baik-baik saja kan? Bagaimana apa kamu merasakan mual?"
"Iya Budhe, kandunganku sehat. Aku juga tidak merasakan mual. Bayinya pintar sekali tidak merepotkan ibunya."
"Iya bayi kita memang pintar tidak merepotkan mu tapi merepotkan daddy-nya." Sambung Satya.
Belva dan Jordi terkekeh, mengingat bagaimana Satya bisa berubah menjadi lebih manis bila dibandingkan dulu saat di kantor dan juga mual serta ngidam yang dialami Satya itu semua berkat kehamilan Belva.
"Kenapa? Apa Belva mengidam macam-macam hingga membuatmu kerepotan?" Tanya Budhe Rohimah pada Satya.
"Bukan Belva yang mengidam Bu, tapi saya yang mabuk karena kehamilan Belva kali ini."
"Hahaha, iya Budhe. Mas Satya yang mual dan muntah, dia juga yang lebih banyak mengindam."
"Astaga hahaha di kampung juga ada beberapa bapak-bapak yang seperti itu saat istrinya sedang hamil. Itu sebuah keberuntungan, Nak karena tidak semua suami mengalami itu."
"Iya Bu, ini memang sebuah keberuntungan untukku. Itu berarti memang dia anak kandungku hasil jerih payahku." Ucap Satya santai.
Sontak Satya langsung mendapatkan cubitan kecil dari Belva karena malu dengan ucapan Satya. Mereka semua terkekeh di ruang keluarga membuat Duo Kay merasa terganggu hingga akhirnya mereka keluar dari kamar mereka.
"Mamiii... Daddyyyy..." Teriak Duo Kay berlari menghampiri Satya dan Belva.
Keduanya memeluk orang tua mereka, Kaila yang ingin melompat pada Belva langsung dicegah oleh Satya.
"Sayang, jangan melompat pada Mami. Ada adik bayi di sini nanti dia kesakitan tertimpa kakaknya yang cantik ini." Satya menunjuk pada perut Belva dan menjawil hidung mancung Kaila.
Kaila langsung menepuk jidatnya, "Oh iya lupa haha. Maaf ya adik bayi kakak cantik tidak akan nakal lagi kok."
Kaila langsung mengusap perut Maminya dengan lembut. Belva tersenyum begitu pula para orang dewasa yang tengah menyaksikan tingkah Kaila.
"Daddy, gambar ku sudah hampir jadi loh." Ujar Kaili.
"Oh ya? Nanti kita periksa gambarmu, oke." Satya memberikan jari jempolnya pada Kaili.
"Oke Daddy."
Tak lama Bella sampai di rumah, ia tak tahu jika ada Jordi yang ikut di rumahnya. Bella berjalan dengan sedikit cepat dan berteriak sejak berada di ruang tamu.
"Budhe cantiiikkk... Bella yang lebih cantik sudah pulang!!" Teriak Bella dengan percaya diri.
Semua orang yang ada di ruang keluarga saling pandang mendengar teriakan Bella. Satya menggelengkan kepalanya karena baru mengetahui tingkah Bella yang ternyata cukup urakan jika berada di rumah.
Jordi pun sama tapi tak terlalu terkejut pasalnya pria itu mampu menilai bahwa Bella memiliki sisi lain dibalik sikapnya yang kalem, tenang dan lembut saat berada di tempat umum. Kejadian kemarin saat dirinya membawakan makanan untuk Bella sudah membuat Jordi tak terlalu terkejut.
"Aunty berisik." Teriak Kaili dari ruang keluarga.
Bella berjalan menuju ruang keluarga saat mendengar teriakan Kaili, anak asuh yang dianggapnya sebagai anak, adik dan keponakan baginya. Begitu sampai di ruang keluarga Bella cukup terkejut melihat dua sosok pria duduk di ruang keluarga.
"Eh... Ternyata ada mereka. Aku kira hanya kak Belva dan si kembar yang datang." Batin Bella. Wajah Bella terlihat semburat merah karena merasa malu akan tingkahnya yang tidak terkontrol saat di rumah.
Satya hanya menatap sekilas pada Bella berbeda dengan Jordi yang menatap hingga beberapa detik lamanya. Bella semakin malu dan merutuki kekonyolannya saat menangkap tatapan mata dari Jordi padanya.
"Ternyata lebih bar-bar." Batin Jordi menatap Bella.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Terima kasih banyak buat kalian yang masih setia sampai saat ini. Yang masih terus mengikuti cerita receh author. Terima kasih banyak support nya, Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian yang luar biasa 🙏🙏🙏
__ADS_1
Buat kak @Afida Rosita dan kak @Siti Chasanah Anna masih author tunggu sampai hari Sabtu yaa... silahkan bisa chat author untuk klaim kejutan kecil kalian. Terima kasih 🙏🙏