
Satya keluar dari kamar mandi, dia mendapati istrinya tak lagi berada di dalam kamar. Di ranjang pun tak ada pakaian ganti yang biasanya disiapkan oleh Belva. Satya menghela napas, entah apa yang terjadi dalam rumah tangganya kini yang jelas Satya masih kuat dalam keputusannya.
Setelah itu Satya mengambil pakaiannya sendiri di dalam walk in closed mengenakan pakaiannya lalu duduk di sofa yang ada di walk in closed. Kedua tangannya bertumpu pada kedua lututnya, menatap lurus ke depan pada lemari kaca yang memantulkan bayangan dirinya.
'Apa yang terjadi padaku, seharusnya semua baik-baik saja. Kendalikan dirimu satya.' Gumam Satya dalam hatinya.
Satya mencoba meredam emosinya saat ini, menata dan mengendalikan diri agar hubungannya dengan Belva baik-baik saja. Lama dirinya terdiam di dalam walk in closed sampai pria itu memutuskan untuk menghampiri kamar anak-anaknya yang beberapa minggu terakhir terabaikan oleh dirinya.
Dibukanya pintu kamar baby As terlebih dahulu karena menurutnya pasti kedua anak kembarnya kemungkinan besar ada di kamar baby As. Benar saja mereka ada di sana tapi Satya tak melihat istrinya berada di dalam kamar tersebut.
"Daddy." Panggil Kaili saat mendengar suara pintu terbuka.
Kaila dan Janis pun sontak menatap ke arah pintu kamar. Satya berjalan mendekat ke arah kedua anaknya yang tengah mengerubungi baby As yang dibaringkan di atas ranjang.
"Tuan." Sapa Janis yang langsung turun dari ranjang baby As dan berdiri demi menghormati Tuan nya.
Satya membalas sapaan dari Janis hanya dengan sebuah anggukan saja. Kaila langsung berdiri di atas ranjang menghampiri Satya dan memeluk Daddy nya yang beberapa hari ini sibuk sendiri dengan pekerjaan dan aktivitas nya sendiri.
Satya pun membalas memeluk putri kecilnya. Pria itupun merasakan kerinduan terhadap putrinya.
"Kalian sedang apa hem?"
"Main bersama baby As. Dia lucu sekali Daddy." Jawab Kaila.
Satya tersenyum lalu menatap baby As yang tengah membuka matanya melihat langit-langit kamar nya yang dipenuhi dengan tempelan bintang-bintang.
"Mami ke mana?" Tanya Satya pada Kaila dan Kaili.
"Mami? Bukankah tadi Mami ke kamar katanya mau siapkan baju untuk Daddy mandi." Jawab Kaili.
Satya terdiam sejenak, menghela napas pelan. Lalu dimana istrinya biti sekarang jika di kamar saja tidak ada. Sejak perdebatan mereka tadi dirinya tak melihat Belva lagi.
"Oh mungkin Mami sedang di dapur. Ayo kita main bersama baby As, nanti Mami pasti ke sini." Ujar Satya.
Dia sendiri tak tahu nanti saat bertemu dengan Belva akan seperti apa. Menyesal telah berdebat dengan wanita itu tapi Satya tak ingin menjawab pertanyaan sang istri. Dia merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas apa yang dipertanyakan oleh Belva.
"Janis, apa baby As sudah meminum susu?" Tanya Janis.
"Susah, Tuan tadi setelah mandi baby As sudah minum susu."
Satya mengangguk, "Apa hari ini dia rewel?"
"Tidak, Tuan hari ini baby As anteng karena Nyonya hampir seharian menjaganya. Jika kemarin baby As menangis cukup lama karena ditinggal oleh Nyonya menjemputnya Tuan kecil dan Nona kecil."
'Dia sudah mulai ketergantungan bersama Belva. Pasti Belva menjaga dan merawatnya dengan baik, penuh kelembutan hingga Baby As merasa nyaman bersamanya.' Batin Satya.
Seharusnya dirinya tak memperlakukan Belva dengan sikap yang acuh. Istrinya itu begitu baik mengurus dirinya dan anak-anaknya. Tapi semua terjadi tanpa bisa dikendalikan olehnya, dia juga seorang manusia yang terkadang bisa saja melakukan sebuah kesalahan baik disengaja maupun tanpa disengaja.
"Baiklah, terima kasih Janis kamu boleh istirahat sebentar biar saya yang menjaga anak saya."
"Baik, Tuan kalau begitu saya ke dapur dulu."
"Hem, iya." Jawab Satya.
"Aunty, nanti kalau lihat Mami di dapur tolong suruh Mami ke sini ya." Ucap Kaili.
"Baik, Tuan kecil."
Janis keluar dari kamar, Satya kini bermain bersama baby As dan Duo Kay. Mereka bertiga tertawa senang menggoda baby As yang belum bisa merespon dengan baik. Mungkin hanya gerakan matanya saja yang tertarik dengan mainan yang digoyang-goyangkan oleh Satya di atasnya.
Hingga akhirnya baby As sudah lelah dan merasa mengantuk, bayi itu mulai rewel.
"Daddy, baby mau menangis itu." Ujar Kaili.
"Iya. Ssshhh kenapa menangis sayang." Ujar Satya.
Satya langsung menggendong baby As dan berusaha menenangkannya. Ditepuknya lembut pant*at bayi itu. Bukan berhenti tapi bayi itu justru menangis semakin kencang.
"Usshh... Usshh... Usshh... Jangan menangis, jagoan. Ini ada Daddy."
"Mungkin baby mau minum susu." Ujar Kaila.
"Ah iya coba ambilkan susu nya, sayang." Pinta Satya pada Kaila.
Kaili melihat adik bayinya menangis tak henti-henti itu langsung keluar tanpa sepengetahuan Satya. Kaili berniat mencari Maminya di dapur sesuai perkataan Satya tadi. Bahkan dirinya sudah meminta Janis untuk memanggilkan Maminya tapi tak kunjung datang.
Pria kecil itu berlari ke dapur, di ruangan itu terdapat Mbok Yati, Inah, Siti juga Fitri. Keempat perempuan tersebut mwlihat anak majikan mereka berada di dapur sendirian pun langsung bertanya saat Kaili celingukan ke arah dapur mencari sosok Maminya. Sedangkan Janis entah ke mana tadi berpamitan ke dpaur tapi wanita itu tak ada di sana.
"Ada apa, Tuan kecil?" Tanya Siti.
"Mami mana?" Tanya Kaili.
Fitri yang mengetahui keberadaan Belva langsung menunjukkan di mana Nyonya nya berada.
"Maminya Tuan kecil ada di kamar tamu." Ucap Fitri.
"Kamar tamu? Kenapa Mami di sana, Daddy bilang Mami di sini."
Kaili langsung berbalik arah dan berlari menuju kamar tamu. Di tengah perjalanan dirinya bingung di kamar tamu yang mana maminya berada. Pasalnya di rumah besar Satya itu tak hanya terdapat satu kamar tamu saja melainkan ada tiga kamar tamu.
"Em... Mami di kamar yang mana ya?" Gumam Kaili.
Rupanya Fitri menyusul Kaili untuk memberitahukan di kamar sebelah mana Belva berada.
"Tuan kecil, Maminya ada di kamar paling depan dekat ruang tamu."
"Em oke. Terima kasih aunty."
Kaili langsung berlari menuju kamar yang telah di tunjukkan oleh Fitri. Sampai depan pintu Kaili langsung mengetuk pintu sembari memanggil Maminya.
"Mamiii!!!"
Bruk!! Bruk!!
__ADS_1
Kaili memanggil Maminya sembari memukul pintu karena ketukannya dirasa kurang keras untuk terdengar oleh sang Mami.
Belva yang sedang berada di dalam pun terkejut, suara pintu diketuk dengan cukup keras. Ia pun melepaskan headset yang terpasang hanya di salah satu kupingnya saja. Samar-samar terdengar suara Kaili di depan pintu. Belva langsung membukakan pintu.
"Loh, sayang kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanya Belva.
"Mami, ayo ke atas baby As menangis."
Kaili mengadukan apa yang sedang terjadi pada baby As.
"Mbak Janis ke mana kan tadi kalian bersama Mbak Janis di dalam."
"Aunty pergi karena sudah ada Daddy tapi baby ada terus menangis tidak mau diam."
"Oke tunggu sebentar, Mami ambil ponsel Mami dulu."
Ponsel yang tergeletak di atas ranjang sudah kembali diambil oleh Belva. Dengan langkah buru-buru Belva langsu naik ke lantai dua menggunakan lift agar lebih cepat sampai. Wanita itu merasa khawatir akan keadaan baby As.
Begitu masuk ke dalam kamar baby As, Belva melihat baby As menangis dengan suara yang kencang. Belva langsung dengan cepat menghampiri baby As yang ada di gendongan Satya.
"Mas, stop!" Ujar Belva.
Satya terkejut mendengar pekikan Belva, Kaila pun ikut menatap Maminya. Belva masih kesal dengan suaminya.
"Kalau anak nangis jangan dikasih susu bisa tersedak dia nanti." Ucap Belva dengan kesal.
Wanita itu langsung mengambil alih baby As, Satya pun langsung menyerahkan pada istrinya dengan menatap wajah Belva yang terlihat sekali jika wanita itu tengah kesal padanya. Satya semakin merasa bersalah karena sempat berdebat dengan istrinya itu.
"Maaf, mas tidak tahu."
Belva melirik sininpada suaminya, "Bagaimana bisa tahu kalau sibuk sendiri. Sudah biar aku saja yang urus baby As. Urus saja pekerjaan mu."
Satya terdiam dengan tangan yang masih memegang botol susu milik baby As. Belva sibuk menenangkan bayinya agar tidak menangis lagi dan benar saja hanya butuh beberapa menit saja bayi itu sudah terdiam. Satya pun melihat dengan jelas jika Belva mampu mengurus bayi mereka dengan benar.
Keesokan paginya, setelah sarapan Duo Kay lagi-lagi sibuk mendekati baby As yang ada di gendongan Belva. Sudah hampir beberapa minggu baby sitter yang seharusnya Jordi carikan tak kunjung datang. Jordi terlalu sibuk mengurus pekerjaannya dan juga menghandle Siwi demi Satya.
"Sayang, kalian sudah benar-benar selesai makannya?" Tanya Belva.
"Sudah, Mami." Jawab Kaila.
"Oke, Mami ke belakang dulu kalian mau ikut? Ini waktunya baby As berjemur."
"Ikut Mami." Ujar Kaili.
Duo Kay langsung turun dari kursi saat Belva telah berdiri dari kursi. Satya masih berada di meja makan, Belva tak memperdulikan Satya pagi ini, dirinya hanya melayani Satya sekedarnya saja karena masih kesal dengan sang suami yang berani-beraninya menutupi kelakuan pria itu di belakangnya.
Belva langsung pergi meninggalkan ruang makan dengan diikuti oleh Duo Kay. Satya terdiam, hatinya terasa nyeri saat istri nya sendiri mendiamkannya.
"Apa karena perdebatan kemarin dia jadi mendiamkanku? Ck... Haahh siyalan." Gimam Satya frustasi.
Dilihatnya pergelangan tangannya dan tiba-tiba ponselnya berdering. Jordi menghubungi dirinya.
"Hallo, Jordi."
"Ya segeralah kemari."
Satya langsung menutup panggil secara sepihak. Suasana hatinya saat ini sungguh kacau, istrinya melakukan aksi mogok bicara padanya. Tapi Satya sebisa mungkin harus mengendalikan diri agar tak meluapkan emosinya dihadapan Belva ataupun dihadapan Siwi nanti.
Beberapa menit kemudia Jordi sampai di rumah besat Satya. Pria itu menggunakan pakaian yang cukup santai membuat Satya menatap asistennya itu dengan tatapan sedikit tajam.
"Kenapa menggunakan pakaian seperti itu?" Tanya Satya.
"Kenapa kan kita hanya melakukan perjalanan liburan saja bukan bekerja."
"Tutup mulutmu, Jordi." Ucap Satya mengeraskan rahangnya.
Jordi baru sadar jika dirinya saat ini berada di rumah besar Satya yang tentunya ada Belva dan seluruh anggota penghuni rumah Satya.
"Ma-maaf, Tuan saya keceplosan." Ucap Jordi menundukkan kepalanya.
"Sudah saya katakan jaga baik-baik, jangan sampai ada yang mendengarnya terutama istri saya."
"Iya baik, Tuan sekali lagi maafkan saya. Apakah kita sudah bisa berangkat sekarang?"
"Hem sebentar saya pamit pada istri dan anak-anak saya dulu."
Jordi mengangguk, Satya beranjak dari ruang makan dan pergi ke halaman belakang di mana Belva dan ketiga anaknya berada di sana untuk menjemur baby As. Rasanya berat bagi Satya pergi meninggalkan anak dan istrinya demi berlibur bersama Siwi.
"Sayang." Panggil Satya.
Panggilan itu ditujukan untuk anak dan istrinya tapi Belva tak menggubris panggilan tersebut justru sibuk membenahi letak baby As.
"Daddy." Panggil Kaila.
"Daddy mau ikut lihat kita jemut baby As?" Tanya Kaili.
Satya tersenyum tipis, "Bukan, sayang. Daddy mau berpamitan pada kalian. Daddy harus berangkat bekerja ke luar kota."
"Loh Daddy mau pergi jauh lagi? Berapa hari?" Tanya Kaila.
"Iya sayang, mungkin tiga hari nanti baru Daddy kembali lagi. Kalian mau oleh-oleh apa nanti Daddy belikan."
"Daddy pergi ke mana? Ke Bandung lagi?" Tanya Kaili.
"Daddy ke Bali sayang ada urusan pekerjaan di sana. Mengurus resort yang waktu itu Daddy ceritakan."
Satya terpaksa menggunakan kebohongan demi kebohongan agar tidak menyakiti anak dan istrinya.
"Beli Boneka sana, Daddy." Ujar Kaila.
"Kakak Ken, mau beli apa?" Tanya Satya.
Sedari tadi Belva hanya diam saja memasang kupingnya mendengarkannya percakapan Satya dan kedua anaknya.
__ADS_1
"Aku terserah Daddy saja. Asal Daddy tidak lupa seperti waktu itu." Jawab Kaili.
Lagi-lagi Satya merasa bersalah bila mengingat hal itu. Dia hanya tersenyum tipis dan mencoba meyakinkan kedua anaknya bahwa besok dirinya tidak akan lupa lagi.
"Tidak akan, Daddy janji besok pasti akan ada oleh-oleh untuk kalian."
"Mami, mau oleh-oleh apa?" Tanya Satya pada Belva.
Dihadapannya anak-anak mereka Satya memperlihatkan bahwa hubungannya dengan Belva baik-baik saja.
"Tidak perlu, asal jangan melupakan janjimu pada anak-anak saja." Ujar Belva terkesan cuek dan dingin pada Satya.
Melihat sikap istrinya lagi-lagi Satya hanya bisa diam. Bukan waktunya untuk mempermasalahkan sikap sang istri dirinya paham sikap istrinya seperti itu karena dirinya sendiri yang memulai.
"Baiklah, Daddy berangkat ya."
Satya mengecup kening Belva dan anak-anaknya.
"Hai baby, jangan nakal dan jangan buat Mami kerepotan. Daddy berangkat kerja dulu."
Tak mendapatkan respon yang seperti biasanya dari sang istri, Satya akhirnya pergi meninggalkan istri dan anaknya yang ada di halaman belakang.
"Sayang, panggilkan aunty Janis ke sini ya." Pinta Belva.
"Oke, Mami." Jawab Kaila.
Gadis kecil itu langsung berlari mencari Janis yang biasanya ada di dapur. Tak sulit menemukan Janis, Kaila langsung menyampaikan pesan Maminya pada Janis. Tahu akan tugasnya Janis segera ke halaman belakang bersama Kaila.
"Nyonya, memanggil saya? Ada apa Nyonya?"
"Iya, mbak tolong jaga baby As sebentar ya. Saya mau ke atas dulu."
"Baik, Nyonya."
"Sayang, kalian temani aunty Janis dan baby As sebentar ya. Mami ke kamar dulu ada yang harus Mami ambil."
Duo Kay mengangguk, Belva segera pergi menuju kamarnya. Di dalam kamar Belva langsung menghubungi seseorang karena merasa curiga dengan suaminya. Sejak adanya rekaman yang di dengarnya kemarin Belva menjadi over thingking terhadap suaminya. Di bukanya cctv yang ada di halaman depan demi memantau sang suami. Lalu dirinya menghubungi seseorang yang dengan cepat dapat diandalkannya.
"Hallo, sekarang mulailah pekerjaan mu. Plat mobil B XXX JRD, ikuti mereka."
"Baik, Nyonya. Siap laksanakan."
"Hubungi segera dan berikan informasi yang akurat." Ucap Belva.
"Baik, Nyonya."
Sambungan terputus, Belva masih menggenggam ponselnya dan bersidekap memeluk dirinya sendiri sembari menatap foto pernikahan nya dengan Satya yang tercetak cukup besar di dalam kamar.
"Kamu boleh menyembunyikan semuanya dariku, mas tapi aku tidak bodoh." Gumam Belva tersenyum sinis.
"Akan aku cari siapa wanita itu, kamu adalah hak ku secara sah jadi jangan harap aku yang akan kalah dalam hal ini." Belva kembali bermonolog dengan masih menatap foto pernikahan nya.
Satya dan Jordi berada di dalam mobil tanpa mereka sadari seseorang sengaja mengikuti mereka. Ya, orang tersebut adalah mata-mata yang Belva perintahkan untuk menyelidiki apa yang akan Satya lakukan dibelakangnya.
"Jordi, kamu sudah menyiapkan semuanya dengan benar?"
"Sudah, Tuan. Apa yang ingin anda lakukan di sana nanti?"
"Tentu saja mengikuti semua kemauan Siwi, dia harus menikmati liburan kali ini. Saya tidak mungkin membuatnya kecewa."
Jordi hanya mengangguk saja, semavri berdoa dalam hati agar apa yang Satya lakukan segera berakhir. Dirinya pun merasa kasihan pada Belva karena ikut menyembunyikan hal sebesar ini.
**
Di tempat lain tak jauh berbeda seorang pria mengamuk karena apa yang diinginkannya tak didapatkan nya. Rahangnya mengeras dan matanya memerah. Lengan ototnya menonjol akibat genggaman tangan yang terkepal kuat.
"Bod*oh!!! Apa yang kamu lakukan?!"
"Maaf bos, saya tidak tahu jika bayi itu sudah keluar dari rumah sakit."
"Kamu bekerja terlalu lambat. Sudah saya katakan cepat ambil bayi itu tapi kamu mengabaikan perintah saya!!"
Bugh!!! Bugh!!!
Beberapa pukulan dilayangkannya pada anak buahnya yang gagal mengambil bayi Alya. Dia tak terima jika bayi itu jatuh ditangan orang lain. Dirinya harus segera mendapatkan bayi itu.
"Cepat cari tahu siapa.yang membawa bayi itu jika kamu masih menyayangi keluargamu."
"Ba-baik, bos. Saya akan segera mencari tahunya."
Bugh!!! Satu pukulan kembali dilayangkan tepat pada tulang pipi anak buahnya Yangs udah babak belur.
"Keluar kamu!!" Usir pria yang diduga menjadi ayah kandung Alya.
Anak buah yang sudah babak belur itupun segera keluar. Sungguh siyal nasibnya memilik atasan seperti pria itu yang sangat egois.
"Bren*gsek!! Siapa dia yang berani-beraninya mengambil bayi itu. Aku yang berhak atas bayi itu."
Pria itu belum tahu jika yang membawa bayi Alya adalah Satya dan juga Belva yang sudah sah menjadi orang tua bayi Alya. Sejatinya pria itu sungguh menyesal tidak bisa mengakui Alya sebagai putrinya karena beberapa alasan tertentu yang dirinya sendiri tidak bisa mengingkari alasan tersebut. Kondisinya dulu menjadi penghambat dirinya tidak bisa menikahi Sonia dan memberikan status sebagai seorang ayah untuk Alya. Hingga putrinya itu meninggal sekalipun Alya tidak mengetahui fakta siapa ayah kandungnya.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Terima kasih yang masih setia support author sampai saat ini.
Terima kasih buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian 🙏🙏
Semoga masih bisa menghibur kalian. Sehat selalu buat kita semua.
Btw author masih tunggu chat masuk yaa hihihi di tunggu sampai besok Sabtu jika tidak author bakal alihkan lagi ke yang lain 🙏🙏
__ADS_1