
Sonia bingung dimana Alya sekarang ini. Gara-gara Faris dirinya tak bisa menjenguk dan juga menjaga Alya saat putrinya sedang sakit. Lebih tepatnya tidak semua salah Faris tapi memang dasar Sonia saja yang tidak memiliki pikiran untuk lebih mengutamakan Alya.
Wanita itu lebih berat mengutamakan Faris yang ia gadang-gadang nanti menjadi suaminya. Pengganti Satya setelah Satya menceraikan dirinya. Bukan sesuai harapan justru bertolak belakang dengan harapan.
Dirinya hanya dimanfaatkan Faris sebagai ajang balas dendam karena dulu dirinya lebih memilih Satya dan juga karenanya kedua orang tuanya telah menghina Faris. Mengatakan jika Faris tak pantas untuk Sonia.
"Dimana Alya ? Apa... Astaga... Apa dia sudah dibawa ke kantor polisi ?" Gumam Sonia dalam hati.
Segera dirinya berjalan dengan cepat untuk keluar dari rumah sakit. Ia ingin bertemu dengan putrinya, Alya. Tapi seketika sampai di depan rumah sakit dirinya berhenti. Menyadari di Jakarta banyak sekali kantor polisi, di kantor yang mana Alya di tahan.
Tring... Tring...
Ponsel Sonia berbunyi, panggilan dari orang yang tak dikenalnya. Diangkatnya panggilan tersebut.
"Halloo... Mommy !!"
"Hallo Alya... Alya ? Ini kamu sayang ?" Tanya Sonia menggebu.
"Iya Mom, ini Alya. Mom, tolong Alya....tolong Alya. Alya tidak mau di penjara, hiks..."
"Kamu dimana sekarang sayang, Mommy akan menyusul mu."
"Di kantor polisi ********. Mommy cepat kesini, Alya takut Mom... Hiks..."
"Oke sayang, kamu tenang ya... Mommy akan segera kesana."
Panggilan terputus, akhirnya Sonia tahu dimana Alya ditahan sekarang. Untung saja saat dirinya sibuk berpikir dimana Alya ditahan. Putrinya langsung mengabari dirinya.
"Taksi... ? Tidak... Aku sudah tak punya uang lagi. Angkutan umum ? Tidak itu sangat menjijikan, aku harus bersentuhan dengan banyak orang." Gumam Sonia.
"Minta tolong Karen... Iya dia... Dia pasti mau memgantarku. Tapi... Tidak. Nanti dia tahu bagaimana nasib ku sekarang. Dan Alya ? Dia pasti juga akan tahu jika Alya ditahan polisi. Pasti mereka akan membicarakan ku nanti." Gumam Sonia kembali.
Gengsinya sangat tinggi karena terlalu sering berkumpul dengan para sosialita yang menjunjung tinggi harga diri. Bahkan jika ada skandal sedikit saja pasti akan dibicarakan. Seperti video dirinya dengan Belva saat itu, tapi Sonia dengan sombong mampu membungkam mulut teman-temannya dengan alibi bahwa dirinya mempertahankan rumah tangganya dari seorang pelakor.
Dirinya tak tahu jika saat dirinya kabur Faris tidak akan tinggal diam membiarkan dirinya kabur begitu saja. Masih ada dendam di hati Faris untuk Sonia. Banyak luka yang Sonia torehkan pada diri pria itu tapi Sonia seakan menutup mata dan telinga. Seperti semua tidak pernah terjadi.
"Bos... Itu Sonia." Ucap anak buah Faris yang melihat Sonia berdiri dipinggir jalan dekat rumah sakit.
Faris langsung menajamkan arah pandangnya mencari keberadaan Sonia. Benar saja, diri ya menemukan Sonia saat ini.
"Cepat kita kesana." Ujar Faris.
Faris dan anak buahnya turun dari mobil karena mereka berlawanan arah dengan tempat dimana Sonia berdiri di pinggir jalan. Faris dengan tiga anak buahnya turun menyebrang jalan. Berhasil melewati jalan satu arah mereka kini mereka harus menyebrang kembali jalan lawan arah.
Faris dan anak buahnya tak berteriak untuk manggil Sonia. Mereka lebih memilih diam agar Sonia tak mengetahui keberadaan dirinya. Tapi bukan keberuntungan Faris kali ini, meski sudah berusaha diam saja tapi Sonia mengetahui keberadaan mereka.
Sibuk berpikir apa yang harus dilakukannya, Sonia menjadi bingung dan menengok kiri kanan. Mata hitamnya melihat anak buah Faris. Matanya membulat terkejut, bagaimana bisa ada anak buah Faris. Panik tidak ingin tertangkap di sekap serta diperlakukan semena-mena oleh Faris.
Angkutan umum yang melintas langsung diberhentikan nya. Tak perduli lagi jika harus berdesakan dengan banyak orang. Sonia langsung masuk ke dalam angkutan umum itu tanpa tahu kemana arah tujuan angkutan umum itu. Yang terpenting ia bisa terbebas dari Faris.
Faris dan juga anak buahnya merasa kesal karena tiba-tiba target mereka menghilang begitu saja tanpa tahu kemana perginya. Empat orang pria itu kembali lagi ke mobil mereka.
"Sialan... Kenapa wanita itu bisa lolos." Ucap Faris kesal di dalam mobil.
"Jalankan mobilnya !!" Perintah Faris.
Mobil mereka berjalan tapi pikiran mereka masih mengingat celah mana yang bisa membuat Sonia kabut dan menghilang tadi.
"Bos, sepertinya dia menaiki angkutan umum yang melintas tadi."
"Tetap terus cari wanita itu. Saya tidak mau tahu kalian harus mendapatkan dia secepatnya." Ucap Faris.
Dirasa sudah aman, entah sudah sejauh mana Sonia tak tahu tapi dirinya memilih berhenti dan turun dari angkutan umum itu.
"Astaga panas sekali... Ini semua gara-gara Faris sialan itu aku harus naik angkutan umum seperti itu. Mana bau keringat lagi." Gumam Sonia mengomel.
Dirinya harus kembali melanjutkan perjalanan menuju kantor polisi. Lagi-lagi tak ada pilihan lain, angkutan umum kembali menjadi tumpangannya.
Turun dari angkutan umum, Sonia buru-buru masuk ke dalam kantor polisi. Dirinya meminta untuk bertemu dengan putrinya.
"Sayang..."
__ADS_1
"Mommy... Hiks... Mom, Daddy jahat hiks..."
"Apa maksud mu sayang ?" Tanya Sonia.
"Mommy tahu ? Siapa yang melaporkan ku ke kantor polisi ? Daddy... Mom... Daddy..."
Sonia membulatkan matanya, Satya tega melaporkan Alya. Meski pria itu tahu jika Alya bukanlah putrinya tapi kenapa dia setega itu.
"Kamu tahu dari mana sayang ?"
"Polisi yang mengatakannya padaku. Mereka bilang Daddy melaporkan ku atas kasus percobaan pembunuhan putrinya yang bernama Kaila. Itu pasti bocah kecil anak wanita kampung itu."
Ucapan Alya kembali mengingatnya pada dua anak kecil yang berada di gendongan Satya saat dirinya menghampiri butik Belva.
"Pasti anak itu yang dimaksud Alya. Wanita itu memang biang masalah untuk hidupku dan putriku." Batin Sonia.
Rasa iri dan benci menutupi akal sehat dan hati nurani ibu dan anak itu. Sudah mendapat beberapa hal menyakitkan dan menyedihkan tapi mereka tetap juga tidak sadar atas apa yang mereka perbuat.
"Mom, aku tidak mau berada disini. Aku mau pulang Mom...hiks..."
"Iya sayang kamu tenang saja, Mommy akan segera membebaskan mu."
Sonia berusaha menenangkan putrinya. Ia merasa kasihan dan tak tega pada Alya. Putri nya itu tak pernah hidup susah tapi kini harus merasakan hidup susah di dalam tahanan.
"Secepatnya Mom, Alya mohon mommy secepatnya keluarkan aku dari sini."
Alya terus saja merengek pada Mommy. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi pada Mommy saat ini setelah perceraian Mommy nya dengan mantan Daddy nya. Sonia tak menceritakan apa yang terjadi pada dirinya terhadap Alya. Waktu yang belum tepat untuk menceritakan apa yang terjadi.
Alya pun sama hal nya dengan Sonia tak menceritakan bagaimana kondisinya yang sebenarnya pada ibunya. Mengenai kehamilannya Alya tak bercerita. Tubuh Alya cukup tinggi hampir sama seperti Belva dengan badan yang juga cukup besar hingga perutnya yang semakin membesar itu tak terlalu kentara meski sudah memasuki usia kehamilan lima bulan.
Alasan lain Alya tak mau berlama-lama di penjara adalah selain merasa tak nyaman juga karena dirinya harus mencari keberadaan Jack untuk mempertanggung jawabkan kehamilannya.
Waktu kunjung sudah habis, Sonia harus berpisah dari Alya. Dalam hati Sonia berjanji untuk segera mengeluarkan Alya dari dalam penjara. Wanita itu terus berjalan kaki menyusuri trotoar, berpikir dimana dirinya harus kembali.
Tabungan miliknya sudah diambil alih oleh Faris. Sekarang dirinya hanya membawa beberapa perhiasan yang berhasil dibawanya kabur dan juga ponsel serta dompetnya yang hanya ada beberapa lembar uang saja.
"Aku harus kemana sekarang ? Kembali ke rumah Papa tidak mungkin pasti mereka akan mengusir ku dan menghinaku habis-habisan."
"Alya... Pasti dia masih punya tabungan. Aku harus segera membebaskannya segera. Hanya dia satu-satunya yang ada bersamaku sekarang."
Sonia langsung memiliki pilihan untuk membebaskan Alya. Ia berjalan mencari ojek untuk pergi menemui seseorang yang mungkin saja bisa menolong dirinya dan juga Alya.
***
Waktu terus berjalan, saat ini Belva mau tak mau harus tinggal bersama Satya di apartemen pria itu. Ucapan Satya membuatnya harus berpikiran dua kali jika kembali ke rumah minimalis miliknya. Ia tak ingin Budhe Rohimah dan Bella ikut menjadi korban kejatahan Sonia ataupun Alya. Cukup saat itu Budhe Rohimah yang menjadi korban kejahatan Alya.
Terlebih keselamatan Duo Kay sangat penting sekali. Setidaknya tinggal di apartemen Satya cukup aman bagi Duo Kay. Bocah-bocah itu selalu diantar jemput oleh Satya sendiri ataupun Jordi sehingga keamanan mereka terjamin.
Saat ini Belva berada di ruangannya, melakukan tugasnya sebagai seorang desainer. Duo Kay juga sudah mulai beraktivitas seperti biasa hanya saja mereka lebih ketat mendapatkan pengawasan dari Satya.
Belva termenung dengan satu tangan terlipat di atas meja dan satu tangan lainnya masih memegang pensil. Ucapan Satya dua hari yang lalu masih terus terputar di kepalanya.
"Belva menikahlah denganku, kita hidup bersama dalam ikatan keluarga yang sah."
"Maaf aku tak bisa, aku tidak ingi hanya demi mereka, aku ataupun kamu harus terikat tanpa adanya cinta yang berujung perpisahan atau kegagalan berumah tangga."
Belva menolak saat itu juga, dirinya merasa tidak memiliki perasaan pada pria itu. Memang ia tak pernah mengenal yang namanya sebuah hubungan tapi bukankah sesuatu hal yang dipaksakan pasti akan berakhir dengan keburukan.
Wanita itu terus meyakinkan diri bahwa keputusannya sudah benar. Menolak keinginan Satya untuk menikah. Tapi sejujurnya dirinya merasa tidak enak hati karena sudah menolak pria itu. Rasanya Belva ingin pergi dari apartemen Satya.
Sore hari Belva tak kunjung pulang, dirinya merasa tidak nyaman berada satu atap dengan pria yang bukan siapa-siapa nya dan juga sudah ia tolak.
"Nona, anda tidak pulang ?" Bella menghampiri Belva di ruangan khusus wanita itu.
"Aku masih ada yang harus ku selesaikan. Kamu pulang saja duluan tidak apa-apa."
Belva beralasan, ia tak ingin bercerita pada Bella. Bukan suatu hal besar jadi tak perlu berbagai dengan siapapun.
"Tapi ini sudah sore, sudah waktunya pulang kak. Para karyawan sudah pulang semua." Ucap Bella.
"Tidak apa-apa Bella, pulanglah. Budhe pasti sudah menunggu mu. Kasihan dia sendirian."
__ADS_1
Bella tak lagi memaksa, Budhe Rohimah pasti memang sudah menunggunya. Sejak Satya meminta Belva dan Duo Kay untuk tinggal di apartemen demi keselamatan dua bocah itu, Bella tinggal hanya berdua saja dengan Budhe Rohimah.
"Ya sudah aku pulang. Kak Vanthe hati-hati, kalau ada apa-apa kabari aku." Pamit Bella.
Belva hanya mengangguk dan tersenyum. Setelah perginya Bella, wanita itu menelungkupkan kepalanya. Rasanya sangat lelah sekali hari ini. Ia beristirahat sejenak, menghembuskan napas lelah nya.
Wanita itu beralih duduk di sofa, menjulurkan kaki panjangnya di atas sofa. Tubuhnya yang terasa pegal akibat terlalu banyak duduk kini sedikit terbayar. Bersandar pada sandaran sofa, perlahan kelopak matanya menutup. Untuk lima belas menit dirinya mampu menikmati istirahatnya itu.
"Sudah lupa dengan anak-anak mu yang telah menunggu sedari tadi."
Suara bariton terdengar cukup dekat di dalam ruangan tersebut. Kelopak mata Belva terbuka akibat merasa terkejut dengan suara yang tiba-tiba berada di dalam ruangannya.
"Om..."
"Tak masalah jika kamu tidak ingin pulang tapi Kaili dan Kaila selalu mencarimu." Ucap Satya. Pria itu berubah sikapnya setelah Belva menolak dirinya.
"Mamiii...!!!" Teriak Duo Kay memasuki ruangan Belva.
"Sayang... Kalian mencari Mami ?"
"Iya, Mami lama sekali." Ujar Kaili.
"Maaf sayang, Mami masih banyak pekerjaan." Ujar Belva meminta maaf. Dirinya merasa bersalah pada dua anaknya yang sampai mencari dirinya.
"Sayang, kalian belum makan. Kita harus segera makan, ila kan masih harus minum obat hemm." Ucap Satya membujuk anak-anak nya karena mereka tak mau makan jika belum bertemu dengan Belva.
"Ayo Daddy... Mami ayo kita pulang. Kaila sudah lapar dari tadi tunggu Mami pulang."
Belva tersenyum sedikit kecut. Sikap Satya berubah tak ada kelembutan seperti biasanya. Tapi dirinya tak mau terlalu ambil pusing. Dirinya sadar pasti karena penolakannya yang memicu perubahan tersebut.
"Ayo sayang kita pulang." Ujar Belva.
Mereka pulang bersama dengan Satya yang menggendong Kaila. Pria itu tak lagi berbicara pada Belva justru berlalu begitu saja. Tak hanya pulang berempat saja melainkan juga bersama Jordi.
"Jordi, kita mampir makan dulu." Titah Satya.
"Baik Tuan."
Dalam mobil itu Satya lebih memilih duduk di depan bersama Jordi. Duo Kay duduk di belakang bersama Belva. Hanya ada celotehan Duo Kay dan juga Satya yang sibuk berbincang dengan Jordi.
Sampai di restoran, mereka semua memesan makanan. Lagi-lagi Satya bersikap cuek pada Belva. Biasanya pria itu selalu menawarkan makanan apa yang ingin dipesan oleh Belva. Tapi pria itu hanya sibuk menawarkan pada kedua anaknya saja.
Bahkan sampai di apartemen, tak ada tegur sapa diantara Belva dan juga Satya. Belva kini justru merasa canggung dengan pria itu. Merasa asing karena perubahan Satya terhadap dirinya.
Sampai apartemen, Satya dan Belva meletakkan Duo Kay di ranjang mereka karena sudah tertidur pulas. Satya langsung berlalu keluar kamar Duo Kay setelah mencium kening Kaili dan Kaila.
Mau tak mau Belva pun harus mengikuti Satya masuk ke dalam kamar Satya. Dirinya harus membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Satya keluar saat Belva memasuki kamar mandi, pria itu memilih duduk di sofa sembari menerima panggilan telepon. Laptop pun berada di pangkuannya, melanjutkan pekerjaan yang tak pernah ada habisnya jika terus dituruti.
"Kemana dia ?" Gumam Belva yang tak melihat kehadiran Satya.
Tubuhnya terasa lebih segar meski matanya kini sudah merasa berat. Lelah di dalam tubuhnya masih saja terasa meski sudah mandi. Niat hati hanya ingin berbaring meluruskan otot-otot tubuhnya tapi justru kebablasan.
Hampir tengah malam Satya memasuki kamar, dia melihat Belva tertidur tanpa memakai selimut. Diselimuti nya wanita itu agar tidak kedinginan serta menaikan suhu AC yang ada di kamarnya.
Satya berbaring di tempat tidur dengan posisi membelakangi Belva. Dia tak bisa tidur dengan nyaman sudah hampir satu jam dirinya hanya bergerak gelisah. Akhirnya Satya memilih bangkit dari ranjang dan tidur di sofa.
Pergerakan pria itu mengusik kenyamanan tidur Belva. Wanita itu terbang dan menengok ke belakang, ia melihat Satya yang berjalan menuju arah sofa dan tidru di sofa itu.
"Kenapa harus tidur di sofa. Dia bisa membangunkan ku dan aku akan tidur bersama Kaili dan Kaila." Batin Belva.
Mereka berdua saat sudah persis seperti sepasang suami istri yang sedang bermasalah. Ada rasa tak nyaman dari mereka berdua setelah permohonan yang berakhir dengan penolakan.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku...
Loh kok malah ditolak ? Duuhh alurnya lambat banget ya... eits... setiap author punya alurnya sendiri ya dear... ikuti saja terus alurnya, nikmati semua pasti ada waktunya sendiri. βΊοΈ
__ADS_1
Selalu tidak pernah lupa author ucapkan banyak terimakasih buat kalian yang masih setia support... yang masih terus komen, like dan vote. Jujur komen positif kalian selalu menyemangati author buat up tiap hari di sela-sela aktivitas dunia nyata. ππ