Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 155. Keracunan.


__ADS_3

Salah satu hari paling membahagiakan sepanjang hidup seorang wanita dan pria adalah ketika mereka mampu menemukan pasangannya dan mampu membawa pasangannya dalam ikatan yang lebih sakral. Berjalan bersama membina rumah tangga yang bahagia sesuai dengan keinginan mereka.


Kebahagiaan itu saat ini juga menghampiri Azura dan Marko. Keduanya baru saja mengikrarkan janji sehidup semati dihadapan sang pencipta, pastor dan juga para tamu undangan. Janji yang dengan tegas dinyatakan sesuai dengan penuh keyakinan. Kegugupan yang sempat menyerang keduanya pun sirna kala keyakinan mereka untuk memiliki satu sama lain.


Paras cantik dan tampan saat pertama kali bersitatap setelah keduanya didandani menggunakan pakaian pengantin mereka itulah yang menjadi awal sirnanya kegugupan. Proses pemberkatan pernikahan telah usai kini berganti dengan acara pesta untuk merayakan hari dimana keduanya telah sah menjadi sepasang suami istri.


"Selamat, Zura. Aku turut berbahagia, semoga segera mendapatkan putra-putri yang cantik dan tampan." Ucap Belva memberikan selamat untuk Azura. Keduanya saling berpelukan, sama-sama merasakan bahagia dihari yang bersejarah bagi Azura dan Marko.


"Terima kasih, Van atas ucapan dan doanya. Sungguh aku merasa bahagia hari ini. Sekali lagi terima kasih sudah hadir."


"Sama-sama." Jawba Belva.


"Selamat atas pernikahan kalian." Ucap Satya pada Azura dengan menjabat tangan wanita yang baru saja sah menjadi istri Marko.


"Terima kasih, Kak." Ucap Azura.


Satya dan Belva kemudian beralih pada Marko memberikan ucapan selamat pada pria itu.


"Marko, selamat kamu sudah menjadi seorang suami. Tugas dan tanggung jawabmu lebih besar lagi saat ini." Ucap Belva sedikit terkekeh menggoda Marko.


"Terima kasih, Van. Tentu saja istriku sekrang adalah tanggung jawab ku sepenuhnya."


"Hahaha sekarang sudah bisa mengatakan istri pada Azura. Jaga dan sayangi Azura sepenuh hati, awas jangan sakiti dia." Belva memberikan peringatan pada Marko.


Belva memang orang yang tak suka melihat ada seorang lelaki yang tega menyakiti seorang wanita terlebih wanita tersebut adalah istrinya sendiri.


"Kamu tenang saja tanpa kamu minta pun semua pasti akan aku lakukan." Ujar Marko.


"Aku percaya padamu, Marko." Belva menepuk lengan Marko.


"Marko, selamat. Jadilah pria yang bertanggung jawab." Ucap Satya yang kini tengah berpelukan ala para lelaki.


"Tentu kak. Terima kasih, aku akan mengingat pesanmu." Ucap Marko.


"Aunty... Uncle... Selamat ya semoga bahagia." Ucap Kaila.


"Terima kasih, sayang." Ucap Azura gemas mencubit pipi Kaila.


"Terima kasih, cantikku. Disini banyak makanan loh kamu harus mencobanya." Ucap Marko tersenyum lebar pada Kaila, tangan kekarnya mengusap lembut kepala gadis kecil itu.


"Oke nanti Kaila mau ambil cake coklat dulu." Ucap Kaila yang memang sedari tadi mengincar makanan tersebut.


Semua tersenyum mendengar ucapan Kaila.


"Uncle, selamat ya." Ucap Kaili pada Marko.


Ucapan selamat itu hanya Kaili tujukan pada Marko, entah kenapa bocah itu hanya mengingat untuk memberikan selamat pada Marko saja.


"Hei, kamu tidak mau memberikan selamat pada aunty?" Tanya Azura sembari mencubit pipi Kaili.


"Iya aunty selamat juga. Tapi bukankah sama saja?" Ucap Kaili.


Azura hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Kaili. Marko dan Belva terkekeh, Satya hanya tersenyum tipis seperti biasa.


Tuan dan Nyonya Hector pun hadir dalam acara tersebut. Setelah Duo Kay sudah menempel pada kedua orang tua mereka, maka pasangan lanjut usia itu bebas berjalan kemana saja dalam gedung tersebut.


Banyak kolega bisnis Tuan Hector dan teman-teman dari Nyonya Hector dala. Acara tersebut. Mereka setelah mengucapkan selamat pada pasangan pengantin, kegiatan mereka lanjutkan dengan berbincang-bincang dengan kolega mereka.


Setelah menyampaikan ucapan selamat atas pernikahan Azura dan Marko, kelurga kecil Satya mendekati meja yang di atasnya telah berjajar dengan rapi aneka makanan dan minuman. Benar saja Kaila banyak sekali memilih makanan untuk mengisi perutnya. Tidak ada larangan bagi Belva selama gadis kecilnya sudah memakan nasi terlebih dahulu.


Hingga siang hari acara baru selesai, para tamu undangan semua menikmati acara yang digelar dengan mewah oleh keluarga Azura dan Marko. Satya dan keluarga berpamitan paling terakhir dibandingkan dengan para tamu undangan yang lain.


Perjalan pulang mereka tak banyak pembicaraan, hanya sedikit saja pembicaraan mengenai acara yang baru saja berlangsung. Kedua bocah kembar mereka sudah tertidur pulas akibat kelelahan.


"Mas, kamu baik-baik saja?" Tanya Belva.


Terlihat wajah Satya yang pucat dan sedikit berkeringat.


"Perut mas tidak nyaman, sayang. Sepertinya tadi salah makan di acara pernikahan tadi."


"Mending berhenti dulu saja mas di depan toko itu." Pinta Belva.


Satya pun hanya menuruti saja perintah sang istri. Perutnya benar-benar merasa tidak nyaman. Mobil yang mereka kendarai berhenti di area parkir toko.


"Tunggu di sini sebentar, aku mau ke dalam dulu."


"Mau beli apa, yank?"


"Mau beli permen." Ucap Belva yang bergegas keluar dari mobil.


Tak lama kemudian Belva masuk ke kembali kedalam mobil dengan membawa sekantong plastik berwarna putih.

__ADS_1


"Mas, minum dulu."


Belva menyodorkan satu cup gelas teh hangat yang dibelinya di dalam toko tadi. Satya menerima satu cup gelas tersebut, terasa di tepak tangannya hangat.


"Ini apa, yank?"


"Teh hangat, minumlah agar perutmu lebih nyaman, mas."


Satya meminum teh tersebut, rasa hangat juga menghampiri tenggorokannya dan juga perutnya. Menunggu beberapa saat agar Satya lebih merasa nyaman.


"Bagaimana? Masih sakit perutnya?" Tanya Belva.


"Sudah lebih baik, terima kasih sayang."


"Emm..." Belva mengangguk.


"Sini biar aku saja yang menyetir mobil." Ucap Belva.


"Tidak usah biar mas saja. Mas masih bisa."


"Mas, aku tidak mau ambil resiko. Anak-anak tidur di belakang dan perutmu sedang tidak nyaman. Biar aku saja yang menyetir."


Seakan tahu dengan kekhawatiran sang istri, mau tak mau Satya pasrah saja bertukar posisi. Kini Belva yang berada di belakang kemudi untuk mengambil alih kemudi.


Satya duduk bersandar di jok penumpang samping Belva. Dipejamkan matanya dengan kening mengerut. Beberapa menit mobil itu berjalan rasa tak nyaman kembali menyerang perut Satya tapi sebisa mungkin ditahan oleh pria tersebut.


Belva tahu jika keadaan suaminya tak baik-baik saja maka dirinya tidak akan mengganggu dengan banyak pertanyaan. Ia fokus pada kemudinya agar lebih cepat sampai ke rumah mereka.


Untung saja jarak rumah Tuan Hector tidak terlalu jauh dengan gedung hotel di mana acara pernikahan Marko dan Azura digelar. Mobil sudah masuk ke dalam pekarangan rumah dan berhenti. Satya yang merasa mobil tak lagi berjalan lalu dia membuka matanya.


"Sudah sampai, yank?" Tanya Satya.


"Sudah, mas. Langsung saja masuk ke dalam, masih bisa berjalan?" Tanya Belva.


"Masih, yank." Satya keluar dari mobil pun diikuti oleh Belva yang juga keluar dari mobil.


Belva langsung membuka pintu mobil belakang untuk menggendong Kaila. Satya yang melihat istrinya harus menggendong anak-anak maka dirinya pun harus membantu.


"Mas, tidak usah biar aku saja. Kamu langsung masuk saja dan beristirahat tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa, sayang. Mas masih kuat jika hanya menggendong Kaili." Satya memaksa, dirinya sudah menggendong Kaili dan berjalan menjauh dari mobil.


Rasa tak nyaman yang dirasakannya tak digubris. Demi anak dan istrinya Satya akan tetap terus berusaha meski dirinya sendiri merasa tidak nyaman atau kesakitan.


Duo Kay langsung mereka antar ke dalam kamar milik dua bocah kembar itu. Satya langsung meletakkan Kaili di atas ranjang setelah itu dirinya berbaring ke sofa. Belva menatap keadaan suaminya sembari meletakkan Kaila di ranjang.


Belva kembali sibuk dengan mengurus pakaian Duo Kay yang masih menempel. Kaila merasa terganggu tidurnya akibat gaun yang akan dilepas oleh Maminya. Gadis kecil itu merengek karena merasa kesal.


"Sayang, dilepas dulu gaunnya ya, Kuta ganyi pakai baju tidur." Bujuk Belva.


Meski masih kesal dan menangis Belva tetap menggantikan pakaian untuk Kaila. Demikian juga untuk Kaili, Belva mengurus putranya dengan sigap. Satya tak banyak bergerak karena merasakan ketidaknyamanan dalam tubuhnya.


Baru saja urusna Belva selesai mengurus Duo Kay, tiba-tiba Satya berlari ke arah kamar mandi Duo Kay. Belva terkejut melihat respon suaminya yang sedikit berlebihan.


"Hoek!! Hoek!!!"


Mendengar suara Satya yang dengan jelas Belva sudah mengira suaminya itu sedang memuntahkan isi perut maka dengan langkah cepat Belva menyusul suaminya.


"Mas, kamu kenapa? Apa perutmu sangat sakit?" Tanya Belva.


Satya hanya menggele lemas dengan napas yang sedikit tersengal. Dalam perutnya semakin merasa tidak nyaman bahkan setelah muntah kini perut Satya terasa sedikit keram akibat memuntahkan isi perutnya. Mungkin bagian otot-otot perutnya tertarik saat berusaha mengeluarkan isi perut.


"Kita ke kamar saja ya, mas harus istirahat nanti aku panggilkan dokter."


"Iya... Hoek!! Hoek!!!"


Baru saja akan menjawab ucapan sang istri kembali Satya merasa mual. Tidak ada yang keluar untuk kali ini tapi perutnya masih saja terasa mual. Belva berusaha membantu memijat tengkuk Satya saat suaminya berusaha memuntahkan kembali.


"Sudah? Jika sudah kita kembali ke kamar."


Satya mengangguk lemas, Belva memapah suaminya sekuat tenaga karena tubuh Satya yang lebih berat darinya. Terpaksa tidak ada ciuman di kening saat meninggalkan Duo Kay karena Satya lebih darurat saat ini. Untung saja kamar mereka masih satu lantai dengan kamar Duo Kay sehingga tidak perlu menaiki lift atau tangga lagi.


Mereka masuk ke dalam kamar, dibantunya Satya berbaring di ranjang. Tak lupa sepatu dan segala masih menempel pada tahun buh suaminya dibuka satu persatu oleh Belva hanya tinggal menyisakan celan panjang kain Satya.


"Yank, celananya belum."


"Tidak usah dulu, sebentar lagi aku panggil dokter."


Satya hanya diam saja, jika tadi perutnya terasa tak nyaman dan mual kini rasa sakit menyerang kepalanya. Berdenyut dan berputar membuat Satya semakin lemas.


Belva segera mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan. Ia pun segera menelpon dokter untuk memeriksa suaminya. Khawatir jika suaminya memang sakit akibat salah makan, tapi Belva juga berpikir jika suaminya pasti merasa kelelahan karena waktu istirahat mereka yang masih sangat kurang.

__ADS_1


"Tunggu sebentar dokter pasti datang, aku tinggal dulu ke dapur ya."


"Yank, di sini saja jangan kemana-mana." Pinta Satya.


"Hanya sebentar mau ambil air hangat saja." Bujuk Belva.


"Panggil pelayan saja biar mereka yang antar. Kamimu di sini saja temani mas."


Belva hanya menghembuskan napas, ia turuti kemauan suaminya daripada terus merengek. Belva menghubungi telepon dapur meminta Jasmine untuk mengantarkan air hangat ke kamarnya.


"Yank, kepala mas pusing."


"Iya aku pijit saja ya." Ucap Belva.


Satya mengangguk, sembari menunggu air hangat Belva memijat kepala sang suami. Sedikit lebih baik saat tangan lembut bwmva memijat dengan lembut kepala Satya.


Jasmine mengantarkan air putih hangat yang diminta oleh Belva melalui sambungan telepon tadi, saat akan menaiki tangga gadis itu berpapasan dengan Tuan dan Nyonya Hector yang akan masuk ke dalam kamar mereka yang ada di lantai bawah.


"Jasmine, kamu mau ke mana?" Tanya Nyonya Hector.


"Saya mau ke kamar Nona Vanthe, Nyonya. Mengantarkan air hangat untuk Tuan Satya karena kata Nona, Tuan sedang tidak enak badan." Jawab Jasmine.


"Tidak enak badan? Apa dia kelelahan menghadiri acara pernikahan Marko dan Azura tadi?" Gumam Nyonya Hector.


"Baiklah, nanti setelah itu saya minta tolong antarakan teh hangat untuk saya seperti biasa."


"Baik, Nyonya. Saya permisi dulu."


"Iya Jasmine." Jawba Nyonya Hector.


Baru saja akan masuk ke dalam kamar, syara bel berbunyi dari pintu utama rumahnya. Salah satu ART membukakan pintu untuk tamu yang tak diketahui oleh Tuan Hector dan Nyonya Hector.


"Siapa itu, Pa?"


"Papa tidak tahu, Ma. Coba kita tanya saja nanti pada Olive."


Tanpa bertanya pada Olive sesuai yang diucapkan boleh Tuan Hector kini mereka sudah bisa melihat siapa yang datang. Seorang yang sangat mereka kenal selama ini.


"Dokter Richard." Gumam Nyonya dan Tuan Hector secara bersamaan.


"Selama siang Tuan... Nyonya. Apa Van atau salah satu dari kalian yang sakit, Tuan?" Tanya dokter Richard.


Kedua pasangan lanjut usia itu sudah paham siapa.yang harus diperiksa saat ini.


"Bukan kami, dok. Mari kita ke atas saja." Ucap Tuan Hector.


"Baiklah, mari Tuan... Nyonya." Ucap dokter Richard.


Mereka naik ke lantai dua menggunakan lift hingga lift kembali terbuka saat sudah sampai mereka berjalan menuju kamar Belva.


"Apa sepatah itu sampai memanggil Richard?" Batin Nyonya Hector.


Sebelum masuk Tuan Hector mengetuk pintu, merek amtak bertemu dengan Jasmine karena gadis itu turun menggunakan tangga. Pintu dibuka oleh Belva.


"Mama... Papa... Kok bisa bersama dokter Richard?"


"Baru saja Mama sampai rumah, dokter Richard datang. Satya sakit apa?" Tanya Nyonya Hector.


"Tidak tahu, Ma. Kemungkinan salah makan saat di acara tadi karena mas Satya sakit perut hingga muntah-muntah."


"Ya sudah, dokter ayo segera periksa menantu saya." Ucap Tuan Hector.


"Baik, maaf saya permisi masuk." Ucao dokter Richard.


"Ah iya silahkan masuk, dokter." Ucap Belva membuka pintu lebih lebar.


Tak hanya dokter Richard yang masuk melainkan Tuan dan Nyonya Hector juga ikut masuk untuk memastikan sakit yang dialami Satya saat ini. Satya terlihat sangat lemas sekali, wajahnya pucat dan keringat membanjiri wajah pria itu.


"Tubuhnya sangat lemas, harus banyak istirahat. Mendengar keterangan yang diberikan kepada Nona Vanthe tadi bisa disimpulkan bahwa kemungkinan suami anda mengalami keracunan, mual, pusing dan lemas bisa menjadi ciri-ciri seseorang keracunan makanan. Lebih baik dibawa saja ke rumah sakit."


Setelah dokter memeriksa dan mendengar penjelasan dari Belva maka dokter menyimpulkan bahwa menantu keluarga Hector mengalami keracunan makanan.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Simak kelanjutan ceritanya yaa, nikmati alurnya.


Thanks buat kalian yang masih setia support author, thanks buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian 🙏🙏🙏

__ADS_1


Masih author pantau siapa saja yang masuk ke rangking 3 besar jika dalam bulan ini cerita author tembus 1jt view maka kejutan kecil akan kalian dapatkan di akhir bulan. Semangat terus, bahagia selalu dan sehaaatt selalu. 🤗🙏


__ADS_2