Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 210. Patah Tulang Ringan


__ADS_3

Hari ini adalah hari di mana Belva harus mengontrol kandungannya, usia kandungan yang sudah memasuki usia delapan bulan. Sejak dari kemarin Satya yang harus mengurus anak-anak mereka, dengan berbagai alasan Belva membuat Satya lah yang sibuk bersama Duo Kay dan Baby As.


Perihal memasak untuk pagi ini Belva lah yang memasak. Semalam Satya sempat mengutarakan bagaimana repotnya mengurus anak-anak. Belva tak terlalu menggubris keluhan yang disampaikan oleh Satya, ia ingin Satya merasakan bagaimana rasanya mengurus anak-anak sendiri seperti dirinya saat Satya sibuk sendiri bersama Siwi.


"Mamiii!!! Aku tidak mau pakai pakaian ini!!" Teriak Kaila.


Belva mendengar teriakan Kaila dari dapur, ia menggelengkan kepalanya saja. Kalia tidak pernah seperti itu saat dirinya yang mengurus keperluan mereka. Belva kembali melanjutkannya aktivitasnya, ia tak akan mengurus aktivitas suaminya.


Di dalam kamar, Satya pusing dengan keinginan Kaila yang tak mau menggunakan pakaian yang telah disiapkannya. Ditambah lagi baby As menangis karena Kaili yang mengganggu adik kecilnya itu. Saking gemasnya dengan baby As, Kaili mencium hingga memainkan pipi bayi gembul itu tapi sayangnya Kaili terlalu keras mencubit pipi baby As.


"Aaaeeeee.... Huuuaaa..." Baby As menangis.


Satya langsung menoleh ke arah ranjang di mana baby As terbaring dan sudah menangis. Kaili mencoba bertanggung jawab menenangkan adiknya tapi tetap saja baby As tidak mau diam.


"Astaga Ken kamu apakan adikmu?" Satya mulai frustasi pagi ini.


"Aku hanya menciumnya saja, dia menggemaskan sekali." Ucap Kaili tanpa merasa bersalah.


Satya mengacak rambutnya, bingung harus mana yang lebih dulu dia urus. Kepala pria itu menoleh ke kiri menatap Kaila dan ke kanan menatap anak bungsu nya yang ada di atas ranjang.


"Oh astagaaa... Apa se-repot ini ngurus anak-anak?" Gumam Satya.


Satya mengembuskan napas lelahnya, dia memutuskan menggendong baby As. Mencoba menenangkan bayinya itu agar tak menangis lagi, tapi seperti sebelumnya Satya pasti akan membutuhkan waktu sedikit lama untuk menenangkan baby As.


"Ken, Daddy bisa tolong Daddy?"


"Tolong apa, Daddy?"


"Bantu adikmu Kaila memilih bajunya." Ucap Satya.


Mau tak mau Satya meminta pertolongan Kaili karena putranya itu harus bertanggung jawab atas sedikit keributan yang diperbuatnya di dalam kamar saat ini. Kaili mengangguk patuh pada Daddy nya, dia turun dari ranjang dan menghampiri Kaila.


"Kaila, kamu mau pakai baju apa ?" Tanya Kaili


"Aku pakai baju warna pink yang ada gambar unicorn nya." Jawab Kaila.


"Di mana mami letakkan bajunya?" Gumam Kaili masih bisa didengar Kaila.


"Coba ambil di rak yang nomornya empat." Ucap Kaila.


Kaili menggeret kursi agar lebih mudah mencapai rak nomor empat di mana pakaian yang dimaksud Kaila diletakkan oleh Maminya.


Kaili mencoba mencari baju yang diinginkan Kaila. Dua anak kembar itu sibuk mencari baju sedangkan Satya sibuk menenangkan baby As.


"Ssstt... Cup... Cup... Jangan menangis, sayang."


Satya begitu lembut menenangkan baby As, ditepuk lembut punggung bayi itu dan di ajaknya mendekat pada kaca jendela yang menampilkan pemandangan luar. Jalan raya dapat dilihat dari kamar itu karena apartemen Belva berada di lantai yang cukup tinggi.


"Ssstt... Lihat... Lihat itu ada mobil, Nak banyak sekali itu mobilnya." Tunjuk Satya pada beberapa deretan mobil yang terlihat kecil. Mencoba mengalihkan fokus baby As agar melupakan tangisnya.


Mata sipit baby As melihat ke arah jari telunjuk Satya. Bayi itu sedikit terbengong melihat deretan mobil yang terlihat kecil-kecil. Satya merasa lega karena mampu mengalihkan tangis baby As tapi pria itu tak cukup berpuas diri dan harus terus mengajak baby As berbicara agar putra bungsunya itu benar-benar teralihkan karena biasanya baby As akan kembali menangis lagi.


Dua anak kembar Satya masih sibuk dengan lemari pakaian mereka. Satya tak memperhatikan bagaimana kedua anak kembarnya mencari pakaian karena lebih sibuk pada baby As. Satya bahkan keluar dari kamar dan membawa baby As ke balkon.


"Yang mana Kaila?"


"Coba aku saja yang cari." Ucap Kaila.


Kaili turun dari kursi dan bergantian Kaila lah yang menaiki kursi. Sebagai seorang kakak, Kaili memegang kursi untuk Kaila dan menjaga adik kembarnya itu agar tak terjatuh. Gadis kecil itu sibuk menarik pakaian yang masih tersusun rapi demi melihat baju yang diinginkannya.


"Tidak ada mungkin di rak nomor lima." Ucap Kaila.


"Ya sudah cari saja di rak nomor lima." Ucap Kaili.


"Aku tidak sampai." Adu Kaila.


Terlihat memang gadis kecil itu menjinjitkan kakinya. Kaili tak tinggal diam, dia mengambil alih apa yang Kaila lakukan.


"Biar aku saja, kamu turun saja." Ucap Kaili.


Kaila turun dari kursi, Kaili kembali menggeret gursi yang berukuran lebih kecil dari kursi yang mereka gunakan sebelumnya. Putri Satya dan Belva itu cukup merepotkan untuk pagi ini tapi Kaili tak merasa direpotkan saat ini.


"Bantu aku menumpuk kursi ini." Pinta Kaili.


"Nanti kalau jatuh bagaimana?" Tanya Kaila.


"Tidak akan nanti kamu pegang kursinya ya."


"Oke." Ucap Kaila tersenyum mengacungkan jempolnya.


Susah payah kedua anak itu menumpuk kursi hingga berhasil berkat kerjasama keduanya. Kaili menaiki kursi dan Kaila lah yang kini memegang kursi tersebut.


Satu persatu pakaian yang telah dilipat ditarik oleh Kaili dan ditunjukan pada Kaila. Beberapa baju berwarna pink direntangkan oleh Kaili.


"Yang ini Kaila?"


"No... Bukan itu." Jawab Kaila.


"Yang ini?"


"Bukan... Itu gambar hello kitty."


Semua pakaian yang ditarik dan di rentangkan itu diletakkan begitu saja di lantai oleh Kaili berkali-kali hingga beberapa baju berserakan di lantai.


Gubrak!!!


"Aaahh... Aow..."


Kaili berteriak karena terkejut dan juga merasakan sakit pada beberapa bagian tubuhnya.


"Kaili... Kamu tidak apa-apa?" Tanya Kaila yang ikut terkejut saat kakaknya terjatuh dari kursi yang cukup tinggi.


Satya yang berada di balkon pun ikut terkejut mendengar suara benda jatuh dan teriakan Kaili. Pria itu langsung berlari masuk sembari menggendong anak bungsunya sedangkan Belva pun reflek berjalan setengah berlari saat mendengar teriakan Kaili.


"Aow... Hiks..." Rintih Kaili.


"Ken... Kamu kenapa?" Tanya Satya khawatir. Dia masih menggendong baby As dan menatap Kaili dengan penuh kekhawatiran.


"Sakiiitt... Hiks..." Pria kecil itu tetap merintih. Satya membantu Kaili berdiri menggunakan satu tangannya.

__ADS_1


"Hah... Hah... Hah... Kaili kenapa, sayang?" Tanya Belva dengan napas ngos-ngosan. Wanita hamil itu sedikit meringis dan memegangi perutnya yang buncit.


Satya langsung menatap sang istri yang tampak kelelah.


"Mas, Kaili kenapa?"


"Jatuh... Kamu kenapa ngos-ngosan?" Tanya Satya.


"Sayang, kamu berlari tadi?" Tanya Satya kembali.


Belva hanya mengangguk saja, ia tak menyadari jika dirinya sempat berlari. Rasa ingin tahu dan khawatir membuatnya secara tak sengaja berlari menuju kamar Duo Kay.


Satya menghela napas mengetahui jawaban dari istrinya. Ingin marah rasanya mengetahui sang istri berlarian seperti itu. Satya khawatir jika Belva terjatuh akan membahayakan istri dan anak yang masih berada dalam kandungan itu.


"Kaili sayang, kenapa kamu bisa terjatuh?" Tanya Belva mendekati putranya.


"Sakiiitt hiks..." Rintih Kaili. Pria kecil itu meringis menahan sakit pada bagian panta*t dan juga lengannya.


"Sakit? Mana yang sakit?" Tanya Belva khawatir. Ia memeriksa keadaan tubuh Kaili dari depan memutar hingga ke belakang.


Kaili tampak memegang lengannya yang terasa lebih sakit dibandingkan bagian panta*tnya. Belva lalu menuntun Kaili dan mendudukkan putranya di atas ranjang.


"Aow... Aow... Sakiiitt... Lenganku sakit Mami... Hiks..."


Beberapa kali Kaili merintih kesakitan membuat Belva semakin khawatir dan panik saat ini. Satya pun tampak khawatir pada putranya, ia juga merasa bersalah karena tak menjaga putranya dengan baik.


"Sakit? Tapi itu tidak berdarah." Celetuk Kaila dengan polos.


Plak...


"Aaaoow...!!! Hwaaa haaaa... Hiks... Sakit Mami hwaaa!!!" Jerit Kaili.


Kaila melihat kakaknya merintih kesakitan pun mendekat lalu tiba-tiba memukul lengan Kaili hingga membuat Kaili semakin menjerit kesakitan.


"Sayang, jangan dong." Ucap Belva pada Kaila.


"Sayang, kenapa kamu pukul seperti itu?" Tanya Satya.


"Kan tidak berdarah berarti tidak sakit kenapa Kaili harus menangis seperti itu biasanya juga tidak menangis." Ucap Kaila.


"Tapi jangan dipukul seperti itu sayang itu membuat Kaili semakin merasa kesakitan, nak." Ucap Belva pada Kaila.


Gadis cilik itu merasa bahwa kakaknya baik-baik saja dan perlu menangis terus menerus. Setelah mendapatkan teguran halus dari sang Mami maka Kaila tampak terdiam. Belva yang merasa bahwa putranya tak baik-baik saja lantas memutuskan untuk segera bersiap menuju rumah sakit.


Satya mengemudi mobilnya menuju rumah sakit yang Belva katakan. Dalam perjalanan Kaili terus menangis merasakan sakit pada lengannya. Belva mencoba menenangkan Kaili agar tak terus menangis. Satya mencoba fokus pada jalanan meski dia merasalan hal yang sama pada Belva.


Kepala Kaili disenderkan pada tubuh Belva dari samping karena tak mungkin memamgku Kaili dalam keadaan hamil besar. Kaila pun merasa bersalah setelah melihat kakaknya semakin kesakitan.


"Kaili, jangan menangis sebentar lagi kita sampai rumah sakit." Ucap Kaila mencoba ikut menenangkan kakaknya.


"Tanganku sakiiitt Kaila hu...hu...hu..."


"Tapi tidak berdarah." Ucap Kaila.


"Tapi sakit hu...hu...hu..."


"Hwaaaa!!!! Tidak mau!!! Mami kita pulang saja hwaaa...." Kaili semakin meraung keras.


Kaila bukannya membuat Kaili menjadi lebih tenang tapi justru semakin membuat Kaili menangis kencang. Pada bayangan pria kecil itu adalah lengannya yang sudah sakit harus disuntik menggunakan jarum yang otomatis akan kembali dan bertambah sakit. Kaili ketakutan dan tak ingin semakin merasa kesakitan pada lengannya.


Satya dan Belva tampak melirik satu sama lain melalui kaca mobil yang ada di atas kepala Satya.


"Ya ampun astaga... ila bukan menenangkan malah membuat Ken semakin histeris." Gumam Satya dalam hati.


Belva sedikit menghela napas dan menggelengkan kepalanya ditengah rasa khawatirnya. Gadis kecilnya itu pagi ini membuatnya sangat gemas diantara hendak memarahi atau tertawa akan apa yang Kaila lakukan.


"Kaila, lebih baik Kaila duduk tenang saja ya. Jangan ganggu kakak Ken dulu." Ucap Belva dengan sangat lembut.


"Tadi seharusnya tidak perlu pakai dua kursi jadinya kan jatuh. Anak laki-laki kan tidak boleh menangis kalau jatuh." Ucap Kaila.


Belva yang mendengar celotehan Kaila langsung mengerutkan keningnya.


"Dua kursi? Memangnya untuk apa dua kursi sampai Kaili jatuh?" Tanya Belva.


"Iya tadi kita menumpuk kursi untuk mengambil pakaian di lemari, Mi. Kan kaki kita masih pendek jadi tidak sampai tadi makanya pakai kursi tapi Kaili malah jatuh."


Akibat dari menumpuk kursi dengan kurang pas membuat Kaili terjatuh beruntungnya pria kecil itu terjatuh ke arah yang berbeda dari posisi Kaila memegang kursi sehingga tak menimpa Kaila.


Belva mendengar cerita dari sang putri pun sedikit terkejut, bagaimana bisa mereka harus menumpuk kursi hanya untuk mengambil pakaian. Dengan polos dan tanpa ada yang dikurangi ataupun dilebihkan Kaila dengan terbuka menceritakan apapun yang ia ketahui saat terjadinya peristiwa Kaili jatuh. Kembali mengingat saat dirinya masuk ke dalam kamar tadi memang di lantai terlihat berantakan dengan beberapa baju yang tergeletak. Saking khawatir dengan keadaan Kaili Belva pun tak terlalu mengurus perihal baju yang berserakan tersebut.


"Kalian mengambil baju sendiri?" Tanya Belva.


"Iya tadi kami mengambil baju sendiri hiks..." Bukan Kaila yang menjawab melainkan Kaili.


"Daddy kalian ke mana?"


"Daddy bersama adik baby." Jawab Kaila.


Belva langsung melirik Satya tepat saat pria itu juga melirik ke arah belaky melalui kaca mobil.


"Waduh bahaya." Gumam Satya dalam hati.


Tatapan mata Belva sudah membuat Satya kembali waspada, hatinya sudah merasa resah kembali. Tak bisa mengelak jika memang perihal jatuhnya Kaili juga adalah kesalahan Satya yang tak mengawasi kedua bocah kembarnya.


Sampai di rumah sakit, mereka semua turun dari mobil. Satya justru terlihat bingung harus menggendong siapa sampai Belva sendiri yang memberikan perintah untuk menggendong Kaili karena tak mungkin jika dirinya yang menggendong putra sulung mereka.


Menyuruh Kaili untuk jalan sendiri dari tempat parkir menuju dalam rumah sakit pun tak tega hingga diputuskan untuk digendong saja. Baby As akhirnya digendong oleh Belva sendiri karena masih cukup ringan untuknya sedangkan Kaila memang harus berjalan sendiri dengan di gandeng oleh Satya.


Rencana awal datang ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan pun beralih menjadi memeriksakan keadaan Kaili. Melihat keadaan Kaili yang terus menangis menahan sakit saat memasuki rumah sakit suster langsung menghampiri Satya dan keluarga.


"Apa yang terjadi, Tuan?" Tanya suster.


"Anak saya kecelakaan tadi di rumah ada yang salah dengan lengannya." Jawab Satya.


"Baiklah mari ikut saya."


Satya Belva dan anak-anak mengikuti suster ke ruang unit gawat darurat untuk memeriksa keadaan Kaili. Seorang dokter jaga langsung memberikan pertolongan dan pemeriksaan. Satya mendampingi Kaili di dalam ruangan karena Belva menjaga baby As dan Kaila di luar ruangan. Beberapa menit kemudian pemeriksaan singkat telah selesai dilakukan, dokter keluar ruangan bersama Satya.


"Mas..." Panggil Belva pada Satya.

__ADS_1


"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Belva pada dokter.


"Kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut, saya rasa memang lengan anak anda bermasalah, patah atau retak kita akan lihat saat melakukan pemeriksaan rontgen nanti." Jelas dokter.


Sedih tampak terlihat di wajah Belva, berharap jika Kaili baik-baik saja dan tidak ada luka yang serius. Satya melihat dengan jelas raut wajah sedih sang istri.


"Sayang, Kaili mencari mu masuklah biar aku yang gendong baby As dan menjaga Kaila di sini."


"Jaga dengan benar." Ucap Belva sembari menyerahkan baby As.


Tatapan mata Belva masih saja membuat Satya merasa bersalah dan takut. Baru saja mereka menyelesaikan masalah kini tanpa sengaja Satya kembali membuat masalah.


Belva langsung masuk ke dalam ruangan unit gawat darurat dimana Kaili terbaring di atas ranjang menunggu persiapan pemeriksaan lanjutan.


Tak lama suster membawa Kaili menuju ruangan khusus dimana dirinya harus melakukan pemeriksaan Rontgen. Belva mendampingi sang putra demikian Satya pun mengikuti dari belakang sembari menggendong baby As dan menggandeng Kaila.


Selesai pemeriksaan, kini dokter menjelaskan apa yang terjadi pada Kaili. Satya dan Belva serta anak-anak mereka saat ini sudah duduk di ruangan dokter mendengarkan penjelasan dokter..


"Setelah melihat hasil pemeriksaan, lengan putra kalian mengalami sedikit permasalahan, tulangnya mengalami patah tulang ringan." Jelas dokter.


Belva semakin merasa sedih dan risau, ia sangat menyayangkan hal itu bisa terjadi pada Kaili, putranya.


"Apakah semua akan baik-baik saja, dokter? Apa yang harus kami lakukan? Apakah putraku harus melakukan operasi untuk tangannya?" Tanya Belva secara beruntun karena rasa khawatirnya.


"Nyonya tenang saja, saya rasa tidak perlu melakukan operasi cukup kita pasangkan saja gips pada lengannya untuk menyangga agar tidak terlalu banyak bergerak dan menetralkan kembali tulang yang patah."


Belva bernapas lega tidak melakukan tindakan operasi itu artinya memang putranya tak mengalami sakit yang terlalu parah meski rasa khawatir itu masih ada.


"Apa perlu rawat inap, dok?" Tanya Satya.


"Tidak perlu, Tuan setelah pemasangan gips nanti putra anda boleh kembali pulang. Saya akan memberikan obat pereda nyeri karena pasti pasien akan merasakan nyeri pada bagian lengannya. Satu sampai dua minggu nanti kalian bisa membawanya datang ke sini lagi untuk melakukan pemeriksaan kembali."


"Baik, dokter." Ucap Satya.


Pemeriksaan Kaili akhirnya selesai, hari baru Kaili nanti akan sedikit sulit dan harus lebih banyak berhati-hati karena kondisi lengannya. Keluar dari ruangan dokter, Satya masih menggendong baby As sembari mendorong kursi roda Kaili bersama Belva. Kaila turut memegangi kursi roda Kaili, ia memperhatikan lengan kakaknya yang dibalut oleh gips.


"Kaili, apa kamu sakit beneran?" Tanya Kaila masih saja tak percaya.


"Iya tanganku sakit kamu tidak boleh pukul lagi." Jawab Kaili.


"Kaila, tangan kakak mu itu benar-benar sakit, tidak mengeluarkan darah bukan berarti baik-baik saja. Bisa saja keseleo atau patah seperti Kaili." Ucap Belva dengan lembut. Ia mengingat apa yang sempat Kaila lakukan tadi di rumah terhadap Kaili.


Kaila mengangguk mengerti saat Belva kembali memberikan penjelasan terhadap dirinya.


"Sayang, kita langsung ke dokter kandungan saja?" Tanya Satya.


"Iya" Jawab Belva dengan singkat.


Ibu hamil itu merasa kesal dengan suaminya mengapa sampai hal ini menimpa pada putranya. Ia masih belum mendapatkan penjelasan yang detail dan akan menanyakan hal ini lebih lanjut. Penjelasan Kaila hanya sebatas penjelasan jujur dari anak kecil saja belum puas jika tak menanyakannya langsung pada sang suami.


Keluarga kecil itu kembali mengunjungi salah satu ruangan di rumah sakit untuk memeriksa kandungan Belva yang tinggal beberapa bulan saja anak mereka akan lahir.


Seorang dokter yang terlihat sudah berumur menyambut kedatangan Belva. Pria tua itu terlihat ramah saat menyambut kedatangan Belva terlebih senyumnya merekah saat melihat dua bocah kembar yang tumbuh dengan sehat, cantik dan tampan.


"Selamat datang, Nona Vanthe. Bagaimana kabarmu?" Tanya dokter tua tersebut.


"Terimakasih dokter, kabarku baik-baik saja." Jawab Belva tersenyum.


"Hallo... kalian kini tumbuh dengan wajah tampan dan cantik sekali, nak... Loh ada apa dengan anak tampan ini?" Tanya dokter.


Duo Kay tampak menatap dokter tua itu, memperhatikannya tanpa senyum karena masih mengamati sang dokter yang terlihat ramah dengan mereka.


"Dia baru saja terjatuh, dokter. Kami baru saja memeriksanya lalu ke sini." Jawab Belva.


"Silahkan duduk. Semoga kamu cepat sembuh, nak. Wajar saja anak laki-laki pasti ada saja yang dia lakukan."


Satya dan Belva duduk di kursi yang ada di depan meja sang dokter.


"Lalu aku duduk di mana?" Tanya Kaila.


Mendengar pertanyaan Kaila sang dokter pun tersenyum. Merasa gemas dengan Kaila karena hanya Kaila lah yang berdiri sedangkan Kaili duduk di kursi roda.


"Kamu boleh duduk di sofa itu, anak cantik." Jawab dokter Matias.


Kaila melihat sofa yang ada di belakang mereka tapi ia kembali menatap Maminya. Sudah dipastikan Kaila enggan duduk di tempat itu sendirian.


"Duduklah di sana tidak apa-apa, sayang. Bersama Daddy dan Kaili." Ucap Belva.


Kaila mengangguk tapi Satya lah yang tampaknya enggan meninggalkan Belva duduk sendiri di hadapan dokter. Dia merasa bahwa seharusnya yang memeriksa istrinya itu adalah dokter perempuan sama seperti saat di Indonesia.


"Apa ada keluhan dengan kandunganmu?" Tanya dokter.


"Tidak ada selama ini baik-baik saja, hanya saja ini sudah memasuki delapan bulan dan sudah waktunya cek kandungan."


"Ah begitu, baiklah kita cek sekarang. Suster akan membantumu."


Belva berbaring di atas brankar, suster membantunya untuk mempersiapkan pemeriksaan. Satya tetap saja mengekori Belva dengan menggendong baby As.


"Tunggu... Bisakah pemeriksaan dilakukan tanpa membuka pakaiannya?" Tanya Satya dengan konyolnya.


"Maaf membuka pakaian bagaimana, Tuan?" Tanya dokter.


Pertanyaan yang sama pun mengendap di kepala suster dan Belva tapi sudah terwakilkan oleh dokter.


"Itu bukankah yang kalian lakukan adalah membuka pakaian istri saya?" Ucap Satya.


Satya menatap dan menunjukkan bagian perut sang istri yang pakaiannya hampir tersingkap dan memperlihatkan bagian perut buncitnya. Tatapan mata Satya diikuti oleh dokter, suster dan Belva.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang kita jumpa lagiii hihi 🤭


Beribu maaf karena jarang syekali update pekerjaan sangat menumpuk sibuk sehingga kehaluan² di otakku tidak muncul. Doakan biar bisa kembali aktif terus buat update hehe...


Terimakasih sekali buat kalian yang masih setia mengikuti, masih setia menanti terimakasih yg masih kasih Like, Komen Kembang, setaman dan Vote. Terimakasih banyak yg masih terus kejar² author buat up jadi pengingat selalu buat author kalian luar biasa baik sekali 🤗🙏🙏


Sehat selalu bahagia selalu dan lancar jaya rejekinya buat kalian semua 🙏🙏☺️

__ADS_1


__ADS_2