
Kembali Belva memperhatikan wanita hamil yang sedang berada di pinggir jalan. Antara ragu dan yakin, wajah yang begitu mirip dengan Alya tapi badannya sedikit berbeda lebih kurus dengan perut yang membuncit.
"Mas, itu Alya atau bukan sih?" Tanya Belva tak ragu.
"Kalau itu Alya memang kenapa?" Tanya Satya dengan cueknya.
Belva menatap suaminya yang menjawab dengan kesan begitu cuek.
"Beneran itu Alya? Dia sudah menikah atau..."
"Setahu mas belum." Jawab Satya dengan cepat.
"Lalu? Itu?" Tanya Belva penuh rasa penasaran dan tak percaya.
"Hamil?" Tanya Satya menoleh pada Belva. Dan istri cantiknya itu mengangguk.
Satya menarik napasnya sebelum mulai menjelaskan pada Belva.
"Mas tidak tahu pasti apa yang terjadi tapi saat dirinya berada di rumah sakit dokter Andrew mengatakan jika dia dalam kondisi hamil. Kemungkinan pacarnya yang waktu itu yang menghamilinya tapi mas tidak tahu pasti."
"Astaga!!" Belva menutup mulutnya. Mendengar penjelasan Satya sungguh miris nasib Alya.
"Lalu apa pacarnya bertanggung jawab dan mereka sudah menikah?" Tanya Belva kembali.
Satya menghendikan bahunya, "Mas tidak tahu."
Lampu sudah berubah menjadi hijau, Satya langsung menancap gas mobilnya kembali. Pria itu seakan tanpa beban meninggalkan mantan putrinya di pinggir jalan tanpa bersedia turun untuk sekedar menyapa. Hati pria itu sudah terlanjur kecewa dan sakit atas perbuatan Sonia dan Alya pada Belva. Lebih parahnya lagi bahkan Alya berniat untuk melenyapkan nyawa putri kandungnya sendiri, hal itu membuat emosi Satya meninggi jika harus mengingat hal itu.
Saat mobil telah berjalan, Belva masih setiap menatap Alya hingga menoleh ke belakang pun Belva lakukan karena masih penasaran dengan nasib Alya saat ini yang berbanding terbalik dengan dirinya.
"Mas, kita tidak berhenti dulu?"
"Mau apa? Lampu sudah hijau kita harus jalan. Anak-anak sudah menunggu kita." Ucap Satya.
"Tapi..."
"Sudah biarkan saja, kita sudah hidup masing-masing. Kita dengan kehidupan kita dan mereka dengan kehidupan mereka." Ucap Satya memotong suara Belva.
Belva masih sesekali memandang ke arah belakang dimana tubuh Alya perlahan terlihat semakin mengecil akibat mobil yang terus menjauh dari posisi perempuan hamil itu.
"Duduk yang benar sayang. Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Satya.
Belva membenarkan posisi duduknya menghadap depan dengan banyak pertanyaan di dalam kepalanya. Mengingat kembali perempuan hamil yang benar adanya jika itu adalah Alya. Perempuan yang pernah menjadi temannya, majikannya dan yang paling diingatnya adalah perempuan yang dengan tega menghancurkan masa depannya.
"Tidak aku hanya masih tidak percaya jika itu benar-benar Alya. Aku membayangkan apa yang terjadi padaku dulu juga dirasakan oleh Alya. Memiliki anak tapi tidak bersuami itu bukan suatu hal yang mudah."
Lagi-lagi Satya menghela napasnya sembari mata tajamnya terfokus pada jalanan.
"Anggap saja itu buah yang dia petik karena tingkah lakunya yang kelewat batas. Dia membuatmu menderita dengan hamil tanpa seorang suami bukankah itu adil jika kalian sama-sama merasakan hal yang sama."
Belva langsung menoleh pada suaminya, apa yang diucapkan oleh suaminya itu memang benar adanya tapi dirinya tak pernah berpikir bahwa hal semacam yang ia alami akan terjadi pada Alya.
Meski masuk akal memang jika Alya mengalami hal yang kurang lebih sama dengan nasibnya dulu mengingat jika kesulitan yang pernah dialaminya itu semua diakibatkan oleh perbuatan Alya.
Belva terpaku dia diam tak bisa berkomentar apapun saat ini atas apa yang dilihatnya dan apa yang dikatakan oleh suaminya. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa ikut prihatin pada Alya tapi hal itu hanya di rasakan nya dalam hati tanpa bisa terungkap. Belva wanita yang berhati lembut sesungguhnya, ia merasa kini Alya dalam keadaan yang tak jauh lebih baik. Penampilan Alya sedikit berbeda bila dibandingkan dengan biasanya yang tampak glamor dan mewah.
"Kenapa diam hemm?" Tanya Satya lembut dengan mengusap lembut kepala Belva.
"Tidak mas, sepertinya Alya dalam keadaan kurang baik."
__ADS_1
"Sudah lah Sayang kamu tidak perlu memikirkan nya. Lebih baik kita pikirkan saja kehidupan kita, misalnya kita mau menambah anak berapa? Mau laki-laki atau perempuan seperti itu yang harus sayang pikirkan." Satya tersenyum melirik istrinya yang kini tampak mengerutkan keningnya.
"Mas, bukankah sudah aku bilang?" Ucap Belva.
"Mas tahu, sayang. Tapi itu tidak salah bukan, kamu masih muda dan mas masih sanggup."
"Kaili dan Kaila masih kecil dan masih butuh perhatian dari kita. Jika mereka memiliki adik apakah mereka tidak akan merasa terabaikan nanti."
Belva rasa hal seperti ini memang perlu dibicarakan. Ia dan Satya sudah menjadi suami istri yang tentunya perencanaan dalam membina rumah tangga memang harus dibuat secara matang termasuk merencanakan untuk kembali memiliki momongan. Belva mulai membiasakan diri agar tak merasa canggung dan malu membahas hal-hal yang berbau sensitif seperti hubungan suami-istri.
"Umur mereka lima tahun bukan?" Tanya Satya.
"Ya bulan depan sudah lima tahun." Jawab Belva.
"Banyak anak seusia itu sudah bisa menerima kehadiran adik bagi mereka, sayang."
"Tapi apakah tidak masalah? Aku masih merasa ingin memberikan perhatian lebih untuk mereka, mas. Belum lagi aku masih mengurus butik dan juga dirimu."
"Sudah mas sarankan jika butik serahkan saja pada Bella. Sayang fokus saja pada mas pada dan anak-anak. Mas rasa tidak masalah kita menambah anak lagi, mas menginginkan nya sayang."
"Kita lihat saja nanti mas, kalau rejekinya memang Belva harus hamil lagi juga tidak masalah." Jawab Belva pada akhirnya. Meski dalam hati dirinya masih ingin memberikan kasih sayang yang lebih untuk Duo Kay.
Satya tersenyum, diusapnya pipi sang istri yang lembut dan mulus.
"Terimakasih sayang, mas harap jangan pernah memakai apapun untuk menunda kehamilan. Biarkan dia berkembang disini, mas akan terus menanamnya sampai dia tumbuh disini." Kini tangan Satya beralih berlabuh pada perut Belva yang masih rata itu.
"Menanam? Kaya pohon saja." Belva terkekeh.
"Tentu saja, kita harus memikirkan nya jika perlu setiap hari kita lakukan."
"Japus selalu siap karena dia selalu merasa hangat bersembunyi di dalam lorong sempit milik mu, sayang." Bisik Satya pada telinga istrinya saat mereka kembali mendapati lampu merah.
"Mas iihh... Tidak usah membicarakan hal itu disini."
"Hahaha itu berkaitan dengan rencana kita, sayang. Tapi memang itu kenyataan nya, mas sangat suka milik mu sangat sempit di tambah milik mas yang berukuran besar. Bukan hanya kamu sayang yang sangat merasakan penuh saat itu tapi mas juga." Ucap Satya meski dengan menggoda Belva tapi ucapannya begitu serius.
Belva hanya menanggapi dengan menggelengkan kepalanya saja. Ia baru tahu bagaimana sifat dan sikap suaminya kini yang benar-benar jauh berbeda saat masih menjadi majikannya. Satya dulu terkesan cuek, dingin, arogan dan datar terhadap nya.
Rasa syukur Belva ucapkan dalam hatinya, ia merasa kehidupan nya mulai bahagia bersama suami dan juga anak-anak nya. Berbeda dengan Alya yang kini merasa hidupnya berubah jauh dari kehidupannya yang dulu. Kini perempuan itu harus hamil dalam keadaan yang cukup memprihatinkan, serba kekurangan dan tanpa di samping seorang suami. Persis seperti yang dulu pernah Belva rasakan. Tapi kesulitan Alya tak seberapa bila dibandingkan dengan kesulitan Belva yang harus bertahan di tempat terpencil hingga hanyut di sungai.
Alya berdiri di bawah pohon pinggir jalan karena dirinya harus menunggu angkutan umum, ia terpaksa harus mencari pekerjaan demi menghidupi dirinya sendiri. Mommy nya entah kemana dirinya tak tahu, ponsel sang Mommy tidak aktif sama sekali sehingga dirinya tak bisa menghubunginya. Kristal teman yang paling baik terhadap dirinya pun kini sudah jarang sekali menemui dirinya dengan berbagai macam alasan kesibukan.
Sekarang tidak ada lagi yang bisa diandalkan oleh perempuan itu. Uang sepeser pun kini ia tak punya, uang pegangan yang diberikan Kristal beberapa waktu lalu sudah habis untuk menutupi kebutuhan nya.
"Kemana lagi aku harus mencari pekerjaan." Gumam Alya saat berdiri di bawah pohon pinggir jalan.
Otak nya kini berpikiran keras harus bekerja apa saat ini. Untuk melamar pekerjaan di sebuah perusahaan meski dirinya memiliki ijazah dengan starata satu tapi otaknya tak secerdas itu untuk bersaing dengan yang lain. Keterampilan dirinya sama sekali tak memiliki keterampilan apapun. Kehidupannya dulu hanya digunakannya untuk bersenang-senang dan berfoya-foya tak jelas hanya untuk memuaskan hati dan ambisinya saja demi gengsi.
Manik mata Alya melihat sebuah rumah makan, ia berniat untuk mencari pekerjaan di rumah makan yang berada di seberang jalan. Malu sebenarnya Alya malu seperti ini, ia terbiasa hiudp enak dan sangat jarang bersosialisasi dengan masyarakat kalangan bawah. Tapi dengan apa lagi dirinya akan bertahan hidup jika tidak bekerja sendiri.
Perempuan hamil itu menyebrangi jalan, menghampiri rumah makan yang terlihat cukup ramai. Ia berdiri di depan rumah makan tersebut mengamatinya dari luar, beberapa pasang mata menatap dirinya dengan tatapan bermacam-macam. Pemilik rumah makan kebetulan juga berada di sana untuk membantu melayani pembeli, melihat perempuan hamil di depan rumah makannya wanita yang masih tergolong muda itu mengernyitkan dahinya penasaran.
"Ada apa Mbak? Mau beli makanan atau mau apa?" Tanya pemilik rumah makan.
"Emm... Permisi Bu. Apa ada lowongan pekerjaan?" Tanya Alya.
"Lowongan pekerjaan? Ada sih bantu-banu angkut piring kotor dan cuci piring."
Mata Alya berbinar mendengar kabar yang sangat sepele tapi sangat bermanfaat untuk dirinya.
__ADS_1
"Saya boleh melamar Bu? Saya sangat membutuhkan pekerjaan." Ucap Alya penuh harap.
Mata pemilik rumah makan tersebut menatap Alya dengan seksama dari atas hingga bawah, manik matanya terpaku pada perut buncit Alya.
"Tapi maaf Mbak, saya tidak mempekerjakan wanita hamil. Saya tidak mau ambil resiko."
Sebuah jawaban yang mampu membuat binar bahagia dan harapan di mata Alya surut seketika.
"Tapi... Saya tidak apa-apa kok Bu saya bisa." Ucap Alya yang masih berharap diberikan kesempatan.
"Tapi saya tidak bisa Mbak nanti kalau kandungan kamu terjadi sesuatu nanti saya juga yang repot. Saya kan butuh karyawan untuk bekerja meringankan pekerjaan yang ada di rumah makan ini kalau kamu kerja disini lalu kenapa-kenapa malah pekerjaan disini jadi terbengkalai."
Ucap pemilik rumah makan.
Alya masih saja terus memaksa tapi si pemilik rumah makan tersebut tetap saja menolak keinginan dan harapan Alya untuk bekerja di rumah makan miliknya.
Dengan lesu Alya berbalik arah untuk meninggalkan rumah makan tersebut. Ia semakin bingung harus bagaimana, sedari kemarin dirinya mencari pekerjaan tapi tak mendapatkan nya. Kebanyakan dari mereka menolak karena alasan kehamilan Alya.
Alya menghela napas kasar, rasanya kesal dan sakit. Ia benci dengan kehamilan nya yang mengusahakan dirinya saat ini. Belum lagi mencari keberadaan Jack tapi tak kunjung ia dapatkan informasi dimana keberadaan Jack. Pucuk hidung pria itu saja tak terlihat sejak kepergian pria itu saat berpamitan untuk pergi mengunjungi keluarga dari pria itu.
"Sial*lan... Ini gara-gara kamu bayi tak berguna. Kamu hanya bisa menyusahkanku saja. Jika bapakmu ada dan mau menghidupi ku maka kehadiran mu tak masalah tapi sekarang permasalahan nya berbeda." Gumam Alya kesal.
Sejak keluar dari rumah sakit saat itu ia tak pernah lagi memeriksakan diri, melihat bagaimana kesehatan kandungannya tak pernah dilakukannya. Alya seakan tak perduli dengan kandungannya, ia tak pernah mengharapkan kehadiran bayi itu. Berbeda jika kehadiran Jack ada disisinya mungkin saja dirinya akan menyayangi bayi dalam kandungannya.
Jika Alya sadar kehidupannya sekarang adalah buah dari sikapnya yang ia taburkan pada Belva dulu. Jika ia tahu bagaimana kehidupan Belva saat hamil dulu ini lah yang dirasakan Belva kesulitan apa saja yang wanita cantik yang kini menjadi Nyonya Balakosa itu rasakan dulu.
Roda itu berputar, dulu dirinya begitu tega menyakiti orang lain dan hidup bersenang-senang tanpa mau melihat penderitaan orang lain bahkan sampai sekarang pun tak ada kata maaf yang terucap dari bibirnya untuk Belva.
Menyusuri jalanan kembali sembari memikirkan nasibnya saat ini. Tiba-tiba saja saat dirinya berjalan, sepeda motor menyenggol dirinya hingga terjatuh.
Bruk!!!
"Auwh... Ssshh..." Ringis Alya.
Beberapa orang yang melihat Alya terjatuh ada yang dengan hati nurani mereka bersedia membantu Alya berdiri.
"Mbak, tidak apa-apa? Apa ada yang sakit, kita minggir dulu duduk disana." Ucap salah satu pengguna jalan yang sedang berjalan kaki.
Orang itu menuntun Alya duduk di pinggir trotoar. Untung saja perempuan hamil itu tak merasakan sakit pada bagian perutnya. Tangan nya saja yang lecet karena menahan tubuhnya agar tak terlalu dalam jatuh terjerembab.
Kandungan nya sempat diinformasikan lemah dan sedikit bermasalah akibat penggunaan obat terlarang tapi saat ini kandungan itu terlihat kuat dan baik-baik saja seolah mengerti keadaan sang ibu yang tengah dalam kesulitan ia bertahan sekuat tenaga untuk tetap berada di dalam kandungan ibunya.
"Tidak apa-apa, terimakasih sudah membantu." Ucap Alya dengan wajah meringis.
"Jangan melamun Mbak kalau jalan apalagi di jalan besar seperti ini bahaya terlebih kamu sedang dalam kondisi hamil." Ucap seseorang tersebut.
Alya mengangguk dan mengucapkan terimakasih untuk kedua kalinya pada orang tersebut. Merasa orang yang ditolongnya baik-baik saja maka orang tersebut berpamitan untuk pergi. Alya masih terduduk di pinggir trotoar seakan hilang arah dan merasa bingung apa yang harus dilakukan nya saat ini.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Maaf kemarin gak sempat up karena benerΒ² cuapek banget. Terimakasih banyak buat kalian yang masih setia support ππβΊοΈ
Terimakasih banyak buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian.
Semoga kalian semua sehat selalu dan lancar rejeki π€ππ
__ADS_1