Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 208. Terseret Semua


__ADS_3

Nyonya Hector terfokus pada Jordi begitupun Tuan Hector dan Belva. Satya sedikit tampak santai dan lega akhirnya semua bisa diungkapkan saat ini, berharap semua kembali baik-baik saja. Pria pemilik Bala Corp itu kini tengah menikmati jari-jemari nya dimainkan oleh baby As.


"Jadi kemungkinan besar bayi yang dikandung wanita itu adalah anak dari pria yang kalian bayar untuk menggantikan Satya?" Tanya Tuan Hector.


Jordi dan Satya mengangguk secara bersamaan.


"Sudah saya katakan jika saya tidak mungkin mengkhianati istri saya sendiri, Pa." Ujar Satya.


Tuan Hector mengangguk, pria paruh baya itu memang sudah yakin jika menantunya tidak akan berbuat macam-macam. Selama ini Tuan Hector juga ikut memantau perkembangan rumah tangga sang putri. Maka dari itu mertua Satya tak terlalu mengambil pusing atas tindakan Satya hanya saja mengantisipasi jika Belva lah yang akan terbebani dengan apa yang Satya lakukan.


"Oh jadi kamu biang keladinya? Membuat kacau rumah tangga orang huh." Ucap Nyonya Hector geram pada Jordi.


"Bu-bukan Nyonya... Eh ii-iiya Nyonya. Maafkan saya ini semua demi kelancaran perusahaan saja." Ujar Jordi takut pada Nyonya Hector.


"Heh jika perusahaan itu bangkrut sekalipun aku masih bisa menghidupi mereka. Perusahaan keluarga Hector masih banyak untuk kalian kelola." Ujar Nyonya Hector dengan sombongnya karena merasa geram dengan ulah Satya dan Jordi.


Ia begitu takut dan khawatir dengan sang putri yang kembali bersedih dan tak mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahan. Terlalu menyayangi Belva maka dari itu Nyonya Hector lah yang tampak lebih antusias dan marah selama ini.


Tuan dan Nyonya Hector memang berkompromi untuk memberikan pelajaran pada Satya dengan menyembunyikan Belva dan anak-anak di Jerman. Bahkan Nyonya Hector sempat ingin memaksa Belva agar menceraikan Satya karena wanita itu tak tahu jika apa yang dilakukan Satya hanya sebuah rencana saja.


"Ma, sudahlah... Tenangkan dirimu, yang terpenting Satya memang tidak mengkhianati Vanthe. Sekarang tergantung putri kita mau bersikap seperti apa pada suaminya. Bercerai juga boleh... Ber..."


"Pa, kenapa sejak kemarin harus membicarakan perceraian." Protes Satya.


"Ck... Kamu ini lama-lama kurang ajar memang ya dengan Papa, Papa belum selesai bicara dengarkan dulu." Tuan Hector kesal.


Satya terdiam tapi dirinya masih kesal jika harus membicarakan perceraian. Dia tak memiliki niat sama sekali untuk bercerita dengan Belva. Apapun akan dilakukannya demi mengembalikan keutuhan rumah tangganya. Satya tak ingin kehilangan istri dan anak-anaknya lagi.


"Bercerai juga boleh... Bersatu kembali akan lebih baik karena ada anak-anak kalian yang membutuhkan kalian." Lanjut Tuan Hector.


"Sayang, kamu sudah dengarkan penjelasan Jordi ini semua bukan salahku ini semua..."


"Aku sudah tahu ide gila dari Om Jordi." Ucap Belva santai. Wanita hamil itu menyandarkan punggungnya di sofa dan tangannya setia mengusap perut buncitnya.


Satya dan Jordi terdiam melongo atas pengakuan Belva yang ternyata sudah mengetahui ide gila mereka berdua.


"Sa-sayang, kamu tahu dari mana?" Tanya Satya.


Jordi mengangguk, dia begitu ingin tahu bagaimana bisa istri bos-nya itu bisa mengetahui rencana yang mereka rahasia kan hanya berdua saja.


"Iya... Aku sudah tahu semuanya karena saat itu..." Belva mengingat dan menceritakan kembali pada semua keluarganya terutama Satya dan Jordi.


Flashback On.


Sampai akhirnya dua bulan kemudian, Belva merasa ada yang aneh dengan suaminya. Diam-diam Belva menyelidiki sang suami menggunakan jasa seseorang untuk menguntit di mana pun Satya berada. Di sebuah hotel Grand Lux Belva sendiri sering melihat suaminya dan sang asisten sedang mengobrol bersama di restoran.


"Apa mereka sudah sedari tadi sampai di hotel ini?" Tanya Belva pada orang suruhannya.

__ADS_1


"Iya mereka sudah sedari tadi memasuki hotel ini. Sayapun sudah mengecek suami anda memang memesan bahkan membooking kamar khusus tapi beliau memesan dua kamar dengan connecting door."


"Aku mau kamu mendapatkan cctv di kamar itu selama mereka sering mengunjungi tempat ini." Titah Belva.


"Baik, Nyonya. Segera akan saya lakukan."


Setiap kemanapun Satya pergi orang suruhan Belva selalu mengintai dengan rapi. Beberapa tempat yang disinggahi Satya bersama Siwi selalu dikorek habis oleh pria itu demi mendapatkan informasi lebih lanjut.


Namun, yang namanya seorang istri yang begitu mencintai suaminya tentu saja setiap Satya pergi bersama Siwi selalu menghadirkan perasaan takut dan khawatir jika saja Satya tak bisa menjaga hatinya lalu tergoda pada Siwi.


Perasaan yang wajar dan manusiawi tapi beberapa kali Belva selalu mengalihkan rasa gelisah nya dengan melakukan perawatan diri, memanjakan dirinya sendiri dengan fasilitas yang ia miliki.


Belva tahu jika memang wanita yang saat ini dekat dengan sang suami benar-benar memiliki perasaan pada suaminya. Maka dari itu Belva selalu waspada menyelidiki tingkah laku suaminya saat di luaran sana.


Beberapa kali disaat Satya sibuk sendiri Belva pun sibuk melakukan aktivitasnya terutama untuk memantau sang suami. Pertemuan rahasia antara Belva dan orang suruhannya beberapa kali mereka lakukan di tempat yang tak terlalu mencolok tapi bukan juga di tempat yang sepi. Menghindari diri dari tuduhan dan fitnah mengingat dirinya kini telah berstatus istri Satya.


"Nyonya, ini foto-foto hasil penyelidikan saya."


"Bagus, apa terlihat gerak-gerik dari suami saya yang mencurigakan bersama wanita itu?"


"Tidak ada, Nyonya. Anda bisa melihat semuanya dari foto-foto yang saya dapat dan beberapa video yang sudah saya kirimkan."


Belva melihat beberapa foto yang didapatkan nya dari orang suruhannya. Terlihat Siwi begitu bahagia menggandeng lengan Satya. Dilihat dari raut wajah Satya tak nampak wajah bahagia yang menikamati perjalanan. Justru terkesan datar berbeda saat sedang berjalan bersama dirinya dan anak-anaknya.


"Mereka berbelanja dan makan bersama." Gumam Belva.


"Dari kebanyakan foto yang kamu berikan kenapa mereka lebih sering berbelanja?" Tanya Belva kesal.


"Tahu dari mana kamu?" Tanya Belva.


"Saya sempat menyadap ponsel wanita itu beberapa pembicaraannya dapat terdeteksi. Wanita itu sering sekali menghubungi Tuan Jordi asisten suami anda dan sering meminta untuk bertemu dengan suami Anda. Dia juga sering meminta untuk ditemani jalan-jalan, berbelanja dan makan bersama."


'Astaga suamiku harus mendekati wanita murahan seperti itu. Awas saja kalau sampai tergoda, jangan bilang aku wanita lemah jika sampai itu terjadi akan kubuat kamu menyesal, mas.' Batin Belva.


"Oke, terus pantau apapun yang mereka lakukan dan dimana pun. Jangan sampai gagal, bekerjalah dengan rapi. Aku mengandalkan mu." Ujar Belva. Wajahnya terlihat santai, meski tak terlalu terlihat ramah seperti biasa tapi sangat terlihat di mata pria yang bekerja bagi Belva itu bahwa istri Satya itu merupakan wanita baik dan lembut.


"Saya akan bekerja semaksimal mungkin untuk anda, Nyonya."


"Terima kasih banyak. Ini untukmu dan ada bingkisan yang datang ke rumahmu mungkin beberapa jam lagi."


Belva memberikan sebuah amplop coklat berukuran kecil tapi cukup tebal. Ia tak segan memberikan bonus atas kerja bagus orang suruhannya. Belva bukan orang yang sulit dalam membagikan rejeki yang ia miliki untuk orang lain yang sudah bersedia menolongnya.


"Nyonya, terima kasih banyak. Anda sangat baik sekali pada saya." Ucap pria itu dengan tulus.


"Sama-sama, kamu juga sudah baik bersedia membantuku."


Pria itu mengangguk, pertemuan mereka berakhir. Namun, penyelidikan masih tetap berlanjut meski Belva berada di Jerman. Wanita itu sangat yakin jika suaminya tak menghamili Siwi, maka dari itu ia tetap tenang saat Siwi mengatakan jika telah mengandung anak Satya. Cemburu tentu saja Belva rasakan, pikiran negatif juga terkadang menghantui setelah mendengar Siwi membuat pengakuan hamil anak Satya. Sebagai manusia biasa dan sebagai seorang wanita hal itu sangat lumrah terlebih saat ini Belva juga tengah mengandung tentu perasaannya lebih sensitif.

__ADS_1


Flashback Off


"Karena aku curiga pada mas Satya jadi aku memeriksa ponselnya. Rekaman suara itu ku kirim pada ponselku."


"Ja-jadi kamu sudah tahu semuanya, sayang?" Tanya Satya.


"Ya aku mengetahui semuanya, kemana kamu pergi kapan saja kamu pergi aku mengetahui nya."


"Jika kamu tahu kenapa kamu diam saja? Kenapa malah pergi menghilang beberapa bulan membuat mas seperti orang gila."


"Hei... Hei... Kenapa kamu menyalahkan putriku? Apa semua ini salah putriku huh?!" Ucap Nyonya Hector dengan mata mendelik pada Satya. Rasa kesalnya pada menantunya itu masih belum reda.


Satya kembali terdiam, nyalinya saat ini terasa menciut jika berhadapan di depan sang mertua dan istrinya. Terlebih kelakuan konyolnya itu memang bisa berakibat fatal jika saja sang istri tak mengetahui semuanya.


"Kamu sendiri kenapa tidak mengatakannya padaku? Kenapa tidak jujur saja? Kenapa harus merahasiakan semuanya dariku, mas?" Tanya Belva menatap tajam pada Satya.


Belva kesal dan kecewa karena masalah sebesar ini Satya tak mau jujur padanya. Melihat sang istri yang menatap tajam setelah sang ibu mertua membuat Satya semakin ketar-ketir.


"Sayang, mas minta maaf. Mas hanya tidak ingin kamu sedih dan kecewa karena mas harus jalan bersama wanita lain tapi mas bersumpah semua demi menyelesaikan masalah kantor saja. Dan semua sudah berakhir kita sudah mengantongi semua bukti-bukti itu."


"Mas terpaksa, sayang. Ini cara yang paling mudah untuk mendapatkan bukti permasalahan kantor meskipun sebenarnya mas sulit untuk melakukannya tapi Jordi terus mendorong agar mas berusaha demi kebaikan kita." Ujar Satya terus berusaha meyakinkan istrinya.


Lagi-lagi nama Jordi menjadi tameng bagi Satya. Sejak awal Satya memang tidak akan membiarkan Jordi tenang jika masalah ini justru semakin mendatangkan masalah bagi keluarganya. Jordi hanya bisa pasrah saja jika dirinya menjadi bulan-bulanan bos-nya.


"Apa tidak ada cara lain? Kenapa harus mendatangkan wanita itu? Sekarang jadi repot sendiri kan." Tanya Nyonya Hector.


"Sebenarnya kami hanya ingin mempekerjakan saja di kantor memancingnya apakah kembali melakukan masalah atau tidak dan semua itu juga diketahui Papa dan Roichi." Ujar Satya dengan jujur.


Nyonya Hector langsung menatap ke arah suaminya begitu juga dengan Belva. Tuan Hector sedikit terkejut rupanya menantunya itu turut menyeret dirinya dalam permasalahan yang merepotkan itu.


"Jadi, papa tahu?" Tanya Nyonya Hector.


Tuan Hector menatap bingung pada semua orang yang ada di ruang tamu tersebut.


'Kenapa jadi aku ikut terseret seperti ini, punya menantu kurang aja sekali.' Batin Tuan Hector sedikit kesal tapi tetap mencoba sabar.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Nah loh jadi kena semuanya kaaann 🀭


Terima kasih banyak buat kalian yang masih setia support author β€οΈπŸ™.


Terima kasih atas Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian πŸ™β˜ΊοΈ

__ADS_1


Ditunggu selalu update nya ya guys, yuk penuhi komennya kasih ide-ide kalian hahaha πŸ™πŸ™πŸ™


Sehat selalu, bahagia selalu, dan lancar jaya rejekinya buat kalian semua πŸ™β˜ΊοΈ


__ADS_2