Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 180. Ternyata Arsitek Andalan


__ADS_3

"Ikut saja ini sangat penting kita harus ke dokter nanti."


"Nanti kapan? Anak-anak bagaimana?"


"Anak-anak kita titip pada Ibu atau Bella."


Belva hanya mengerutkan keningnya saja masih belum paham mengapa Satya mengajak dirinya untuk pergi ke dokter. Akhirnya dirinya hanya mengangguk pasrah mengikuti kemauan suaminya meski belum paham untuk apa.


Tak lama Bella datang bersama Duo Kay, Bella membawa sekantung plastik hitam yang diduga kuat itu adalah makanan yang mereka beli di perempatan jalan depan.


"Daddy, kapan ke sininya kok Kaila tidak lihat?" Tanya Kaila berjalan masuk menghampiri kedua orang tuanya.


"Tadi Daddy ke sini juga tidak lihat ila dan kakak Ken. Kalian dari mana hem?" Tanya Satya meski sudah tahu jawabannya kedua anaknya dari mana.


"Kita beli mie ayam kata aunty Bella mie ayamnya enak."


"Oh ya? Jadi kalian sudah makan?" Satya memangku putrinya.


"Sudah tadi di sana bersama aunty dan Kaili."


Kaila memang susah sekali untuk memanggil Kaili dengan sebutan kakak padahal Satya dan Belva sudah berusaha untuk memintanya memanggil Kaili dengan sebutan kakak.


"Tapi kita belikan mie ayam juga kok untuk Mami." Ujar Kaili yang duduk di dekat Daddy nya.


"Oh ya? Untuk Daddy ada juga?" Tanya Satya.


Bella mendekat ke arah sofa dan meletakkan kantung plastik hitam itu di atas meja.


"Aunty, Daddy dapat juga kan?" Tanya Kaili pada Bella.


"Maaf om, aku tidak tahu jika om akan datang ke butik jadi kami hanya membeli satu bungkus saja untuk kak Vanthe."


Belva melirik sang suami, bagaimana bisa dirinya nanti makan jika sang suami tidak mendapatkan jatah makan siang dari Bella.


"Tidak apa-apa Bel, nanti biar aku pesan makanan untuk mas Satya." Ujar Belva, ia meraih ponsel yang diletakkannya pada meja.


"Mam, tidak usah. Nanti saja biar Daddy pesan sendiri." Cegak Satya.


"Ini sudah jam makan siang, kamu harus makan nanti waktu untuk makan siang habis."


"Iya, di sini tidak ada mangkuk?" Tanya Satya mengalihkan pembicaraan.


"Buat apa?" Tanya Belva.


"Buat memindahkan mie ayam, Mami harus makan siang juga kan."


"Di sini tidak ada mangkuk, di dapur biar aku ambil dulu."


"Duduk saja, biasr Daddy yang ambil. Sebentar sayang, Daddy ke dapur dulu ambil mangkuk untuk Mami." Satya menurunkan Kaila dari pangkuannya.


"Tapi mas..."


"Tidak apa istirahat saja. Ila dan kakak Ken temani Mami dulu." Pinta Satya pada kedua anaknya.


"Biar aku saja om yang ambilkan." Bella menawarkan diri.


"Tidak usah, Bella biar saya saja. Kamu istirahat saja." Tolak Satya. Dia memang ingin melayani sang istri makan pada siang ini.


Bella menurut saja, ia beristirahat di dalam ruangan Belva dengan menemani Duo Kay bermain serta mengobrol dengan Belva selama Satya pergi ke dapur mengambil mangkuk.

__ADS_1


Kembali dari dapur Satya menyiapkan makan siang untuk istrinya. Dituangkan mie ayam itu ke dalam mangkuk tanpa memberikan sambal, saos ataupun kecap pada mie ayam tersebut dengan alasan agar lebih aman untuk perut sang istri. Belva mencoba untuk mencegah karena merasa tidak enak dengan Satya tapi suaminya itu tetap memaksa agar Belva diam dan menurut saja.


"Sayang, makan dulu." Ucap Satya pada Belva. Meletakkan mangkuk berisi mie ayam siap santap di hadapan istrinya.


Belva tersenyum, "Terima kasih, mas."


Tangan Belva terulur untuk mengambil saos dan segala macam printilan pelengkap mie ayam tersebut tapi tangannya langsung dicekal oleh Satya.


"No, sayang itu tidak sehat untukmu. Kita tidak tahu saos itu dari bahan dan merek apa."


"Mas, aku tidak bisa makan seperti ini bagaimana rasanya jika tidak dicampur sambal, saos dan kecap."


"Rasanya tetap enak, sini mas suapin."


"Tidak aku makan sendiri saja." Tolak Belva.


"Baiklah makanlah sekarang."


Belva mencoba memakan mie ayam tanpa saos, sambal dan kecap seperti biasanya dirinya makan. Cukuplah tidak terlalu hambar untung saja kuah mie ayam tersebut bercampur dengan bumbu yang pas sehingga tak masalah jika tak menggunakan printilan tersebut.


Melihat istrinya makan mie ayam dengan lahap Satya tiba-tiba menelan ludahnya tergiur dengan makanan tersebut.


"Yank, boleh mencicipi tidak?" Tatapan mata Satya tertuju pada mangkuk mie ayam istrinya.


"Mas mau? Yakin? Ini makanan pinggir jalan loh."


Satya sangat jarang sekali makan di pinggi jalan. Terlebih mie ayam seperti ini pasti suaminya tak pernah membeli di penjual pinggir jalan dengan gerbok yang menjadi ciri khasnya.


Satya mengangguk antusias, dirinya tiba-tiba merasa tertarik untuk makan. Belva menyuapi suaminya mie ayam miliknya.


"Enak sekali, yank." Ucap Satya sembari mengunyah.


"Daddy seperti anak kecil makan saja harus disiapin." Ledek Kaila.


Kaili dan Bella langsung menatap Satya tapi pria itu cuek saja. Siang ini dirinya ingin makan bersama sang istri.


"Siapa suruh kalian hanya membeli satu saja untuk Mami. Daddy juga lapar, sayang."


Belva hanya menggelengkan kepalanya, terkadang suaminya itu bertingkah seperti kurang sesuai dengan usianya yang sudah matang.


Setelah selesai menikmati makan siang bersama sang istri yang terasa romantis menurutnya. Satya meminta ijin pada Belva untuk membawa Kaili ke kantornya. Tahu dengan maksud suaminya maka Belva mengijinkan. Satya pasti juga akan menjaga Kaili dengan baik.


"Ya sudah Daddy dan kakak Ken ke kantor dulu ya." Pamit Satya pada Belva dan Kaila.


"Sayang, kamu jaga Mami nanti kabari Daddy jika ada hal yang penting. Oke." Satya mencoba melatih memberikan tanggung jawab pada anak-anaknya.


Dengan cara seperti itu maka baik Kaila ataupun Kaili akan merasa mereka diandalkan dan dibutuhkan sehingga mereka akan berusaha untuk melakukan tugas mereka dengan baik. Satya dan Belva tahu bahwa tak sepenuhnya kedua anak mereka akan bertanggung jawab penuh karena mereka masih kecil tapi setidaknya mereka mulai paham dengan tugas dan tanggung jawab mereka.


"Oke, Daddy siap." Ujar Kaila mengangkat tangannya hormat pada Satya.


"Good girl. Daddy tinggal ya."


Satya mengecup kening dan pipi putrinya lalu beralih mengecup kening istrinya. Tak lupa usapan lembut mendarat pada perut sang istri seakan berpamitan pada anaknya yang masih berada di dalam perut Belva.


"Mas ke kantor, sayang."


"Hati-hati, mas."


Satya mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


"Mami, aku pergi dulu bersama Daddy ya. Mami baik-baik di sini dan jaga adik bayinya juga." Pamit Kaili.


"Iya, sayang." Jawba Belva tersenyum.


Kaili menyalami Maminya dan juga Kaila atas arahan Satya, Kaila pun mencium tangan Kaili sang kakak kembar nya.


"Bella, titip istri dan anak saya."


Bella mengangguk paham, Satya menggendong Kaili dan berlalu dari ruangan Belva. Dia membawa Kaili masuk ke dalam mobilnya untuk menuju kantor.


Satya membutuhkan kehadiran Kaili, waktu yang dia berikan pada karyawannya mundur dua hari karena mereka sedikit kesulitan dalam membuat file desain tiga dimensi yang diminta oleh Satya maupun Roichi.


"Kenapa mengajakku ke kantor Daddy?" Tanya Kaila duduk di samping Satya.


"Kita akan berdiskusi mengenai gambaran desain mu, boy. Tapi nanti kakak Ken diam saja mendengarkan diskusi ya."


"Emm oke, Dad."


Kedua pria beda generasi itu telah sampai di kantor Bala Corp. Satya kembali menggendongnya Kaili yang menjadi pusat perhatian. Sebagian besar memang masih ada yang belum tahu jika Satya menikah lagi. Beberapa dari mereka masih menerawang apakah benar Satya menikah kembali.


Sebelum rapat kecil di mulai rupanya Satya berkumpul bersama Jordi dan Roichi di ruangannya. Mereka berbincang mengenai perencanaan anggaran pembangunan serta beberapa hal lain yang berkaitan dengan proyek baru mereka.


"Apa kamu yakin, boy?" Tanya Satya.


"Tentu saja, aku yang membuat desainnya jadi semua berada dalam imajinasi dan bayangan ku." Ujar Kaili.


"Jangan meragukan kemampuan putramu. Bahkan kamu akan terkejut jika saya mengatakan hal ini padamu." Ujar Roichi yang memang sudah paham akan kelebihan yang dimiliki Kaili.


"Apa itu?" Tanya Satya penasaran.


"Masih ingat tender besar di Surabaya waktu itu?" Tanya Roichi mencoba membangkitkan ingatan Satya kembali.


Jordi mengingatnya dia hanya menganggukkan kepala. Satya pun juga mengingat tender besar itu yang dimana dirinya dikalahkan oleh Hector Group yang dulu menjadi saingannya kini justru menjadi bagian keluarga dari pemilik Hector Group.


"Iya sayang mengingatnya, ada apa dengan tender itu?" Tanya Satya.


Roichi tersenyum tipis bila mengingat kejadian itu Satya kalah dalam perebutan tender besar itu.


"Bala Corp kalah bukan? Dan dimenangkan oleh Hector Group perusahaan mertuamu saat ini. Itu semua atas campur tangan Kaili, arsitektur proyek pembangunan itu adalah hasil karya putramu serta rincian mengenai pembangunan itu sebagian hasil dari keahlian Kaili."


Satya begitu terkejut mendengarkan cerita dari Roichi. Hingga berbulan-bulan dirinya dan Satya mencari tahu siapa arsitektur andalan Hector Group hingga tak menemukannya sampai saat ini. Rupanya semua sudah terjawab bahkan jawaban dan kenyataan itu lagi-lagi membuat Satya terkejut dan tak percaya.


"Benarkah? Kami bahkan penasaran dengan arsitektur perusahaan kalian dan sampai saat ini sebelum anda mengatakannya kami tidak akan tahu siapa perancang bangunan megah itu." Ucap Satya.


"Tentu saja, tanyakan saja pada Tuan Hector jika masih belum percaya. Kami memang sengaja menyembunyikan identitas perancang desain bangunan tersebut atas keinginan Vanthe untuk melindungi Kaili. Anda tahu sendiri bukan bahwa dunia bisnis itu cukup mengerikan untuk anak-anak usia dibawah umur terlebih seperti Kaili yang masih sangat belia."


'Astaga ternyata anakku lah yang menjadi arsitek andalan Hector Group.' Gumam Satya dalam hati.


****


To Be Continue....


Hai my dear para readers ku tersayang


Terima kasih banyak masih setia support author 🙏🙏


Terima kasih untuk Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian 🙏🙏


Author masih semangat karena masih ada yg masih setia menunggu kelanjutan cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2