
Disaat anak-anak lain jika diculik atau dibawa kabur oleh orang tak dikenal pasti menangis ketakutan mencari orang tuanya berbeda dengan Kaila yang duduk anteng di jok belakang mobil Fahmi tapi tidak dengan bibir mungilnya yang terus berbicara hingga membuat Fahmi pusing dan kesal.
"Opa, kok kita pergi lebih dulu, Kaili kenapa ditinggal?"
"Kita buru-buru." Jawab Fahmi singkat.
"Tapi nanti Kaili cari kita bagaimana?"
"Tidak akan."
"Pastilah cari kita, setiap hari kan kami selalu bersama nanti Kaili pulang dengan siapa?"
Lelah mendengarkan pertanyaan dari Kaila, pria itu memilih diam dan fokus pada jalanan.
"Opa, kita mau ke mana?"
"Opa, kenapa kita belum sampai sejak tadi?"
"Opa..."
"Opa..."
"Opa..."
Banyak sekali suara cempreng dari gadis kec itu, tidak ada suasana menegangkan yang Kaila rasakan saat itu. Hanya rasa penasaran kenapa dirinya pergi tanpa Kaili dan hendak pergi kemana mereka tapi tak dijawab oleh pria yang sedari tadi dipanggilnya dengan sebutan Opa.
"Opa, aku haus."
"Tidak ada minum."
"Kita berhenti saja dulu di minimarket, aku haus sekali, Opa."
'Haiiss... Bocah ini merepotkan sekali.' Batin Faris.
Terpaksalah dirinya celingukan mencari minimarket di pinggir jalan hanya untuk membelikan minuman untuk Kaila.
Saat berbelok ke arah minimarket, Faris tak mengijinkan Kaila turun dari mobil. Dia meninggalkan Kaila di dalam mobil padahal Kaila sudah berteriak mengetuk kaca mobil ingin ikut turun memilih makanan camilan juga.
Tak lama Fahmi datang dengan membawa satu kantong plastik berisi makanan dan minuman untuk Kaila. Dia tidak ingin direpotkan lagi dengan rengekan gadis kecil itu.
"Minum dan makan. Jangan merengek apapun lagi padaku." Ujar Fahmi melempar satu kantong kresek itu pada Kaila.
"Opa, itu tidak sopan Mami bilang kalau kasih barang ke orang lain itu tidak boleh di lempar."
"Ck... Diam bocah kecil. Terima saja makanan dan minuman itu. Duduk diam dan jangan berisik."
Fahmi langsung kembali mengendarai mobilnya entah ke mana pria itu akan membawa Kaila pergi menjauh dari keluarga gadis kecil itu sendiri.
Kaila yang doyan makan dan ngemil pada akhirnya sibuk sendiri dengan cemilan yang disediakan oleh Fahmi. Hingga gadis kecil itu kembali harus mengganggu pria itu kembali dengan rengekannya.
"Opa, kebelet pipis."
Tak ditanggapi oleh Fahmi, merasa tak tahan Kaila kembali melapor pada Fahmi.
"Opa, aku kebelet pipis, nanti kalau aku mengompol bagaimana?"
"Ck... Kamu bisa diam tidak!!" Bentak Fahmi yang sudah jengkel dengan rengekan Kaila.
Gadis kecil itu terkejut saat seorang pria dewasa itu membentak dirinya. Selama ini Kaila bisa dikatakan selalu diperlakukan dengan baik dan lembut oleh orang-orang disekitarnya. Ini kali kedua dirinya mendengarkan bentakan secara langsung setelah beberapa lama sebelum bertemu dengan ayah kandungnya. Saat salah satu orang tua murid membentak dirinya dan Kaili dulu.
"Tapi aku kebelet pipis." Cicit Kaila dengan nada ketakutan.
Awalnya masih terasa biasa saja saat bersama Fahmi hingga suasana kali ini berbeda Kaila rasakan. Fahmi mengeluarkan taringnya membuat Kaila merasa ketakutan. Gadis kecil bergetar saat Fahmi membentak dirinya.
Mencari tempat pengisian bahan bakar sekaligus mencari tenpat untuk buang air kecil, manik mata Fahmi celingukan ke sana kemari. Hingga dapatlah tempat itu justru Kaila sudah tak tahan, gadis kecil itu mengompol di tempat. Dan Fahmi tak mengetahui hal itu, pria itu keluar mobil untuk membawa Kaila pergi ke toilet umum.
"Keluar kita ke toilet." Ujar Fahmi dengan wajah dan nada yang tak seramah sebelumnya.
Kaila menatap Fahmi dengan ekspresi takut, "A-aku sudah pipis." Cicit Kaila dengan nada lirih dan sedikit bergetar.
Fahmi langsung membulatkan matanya, mengarah pada sekeliling Kaila. Jok mobil belakangnya sudah basah hingga merambah ke beberapa tempat. Fahmi mengumpat kesal dengan tingkah anak Satya.
"Brengsyek!!"
Brak!!!
Pintu mobil belakang langsung ditutup oleh Fahmi dengan kasar, kembali membuat Kaila terkejut dan semakin ketakutan. Pria itu masuk ke dalam mobil dengan hati yang sangat kesal.
"Sini kamu!!" Bentak Fahmi menarik lengan Kaila dengan kasar.
__ADS_1
"Dasar kamu anak nakal. Tidak tau sopan santun."
Fahmi mencubit lengan hingga tubuh Kaila yang lain sekena tangannya dimana saja bisa mencubit Kaila.
"Hiks... Ampun Opa... Hiks... Sakit."
Kaila menangis menahan sakit dan ketakutan. Selama ini bahkan kedua orang tuanya tak pernah berlaku seperti itu padanya.
"Diam kamu!! Atau saya buang kamu ke jurang!!"
Kembali bentakan dari Fahmi membuat Kaila tersentak, mau tak mau Kaila menahan tangisnya dengan terpaksa. Gadis kecil itu menangis tanpa suara, air mata masih mengalir dari kedua mata bulatnya yang indah.
"Jangan duduk di jok mobil, duduk kamu di bawah." Titah pria berpenampilan rapi dan berbadan gagah itu.
Kaila hanyalah seorang gadis kecil tentu hanya bisa mengangguk mengikuti perintah dengan ketakutan. Tubuhnya masih terasa panas akibat cubitan dari Fahmi di berbagai tempat.
**
Jordi dan Satya kini berada di apartemen Jordi sudah beberapa jam mereka berada di tempat yang sama tak beranjak sama sekali. Mereka berdua mencoba melacak keberadaan Fahmi yang telah membawa Kaila kabur dari area sekolah.
"Tuan, apakah masalah kalian belum juga selesai?" Tanya Jordi.
"Entah, masalah itu saya rasa sudah lama berlalu."
"Coba Tuan tanyakan saja keberadaan pria itu pada Siwi pasti dia mengetahuinya."
"Kamu gila? Jangan membuat semuanya semakin rumit, Jordi saya sudah pusing untuk menyelesaikan masalah ini semua terjadi secara bersamaan."
"Tapi setidaknya setelah ini semua akan selesai secara bersamaan juga, Tuan."
"Tidak semudah itu, saya harus membuktikan pada Belva bahwa anak yang dikandung Siwi bukan anak saya."
"Mengenai itu, Anda tenang saja saya akan membantu anda." Ujar Jordi.
"Harus, kamu yang bertanggung jawab atas permasalahan ini. Saya tidak mau tahu semua harus kamu lakukan dengan segera."
Jordi mengangguk saja memang semua yang terjadi dirinya tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja.
Hampir malam Satya berada di apartemen Jordi belum ada hasil dari penyelidikan mereka. Satya memutuskan untuk kembali pulang ke rumah mengingat keadaan sang istri yang pasti sangat terpukul.
Sampai di rumah Satya langsung ke lantai tiga yang tak lain adalah kamarnya bersama Belva. Pria itu masuk ke dalam kamar yang tampak sepi dan gelap.
Dinyalakan lampu melalui saklar yang ada di dekat pintu. Tampak teranglah seluruh isi kamar tersebut. Belva masih berbaring di atas ranjang dengan berselimut tebal.
"Yank... Mam..." Satya berjalan menghampiri Belva.
Diraihnya bahu Belva yang tengah berbaring miring, tampaklah wajah cantik sang istri yang kini berubah menjadi sedikit pucat dan tak bersemangat.
"Sayang, bangun hei..."
Satya dengan lembut membangunkan sang istri. Bulu mata lentik itu perlama terbuka menyeimbangkan cahaya yang terang masuk ke dalam indera penglihatannya.
"Mas..."
"Iya, bangun dulu yank."
"Di mana Kaila, mas? Apa kamu sudah menemukannya?" Tanya Belva dengan nada tak sabar, cemas dan khawatir.
"Kami sedang mencarinya, maaf belum bisa saat ini tapi mas akan terus berusaha mendapatkan putri kita."
"Mas, Kaila pasti saat ini sedang bingung dan ketakutan. Kita harus cepat menemukannya." Desak Belva..
"Iya sayang kamu tenang, mas sedang berusaha. Sabar dulu sayang kita berdoa semoga Kaila cepat ditemukan dalam keadaan baik-baik saja."
Satya kembali menenangkan Belva dengan dekapan lembut yang diberikannya pada sang istri.
Melihat keadaan sang istri yang seperu itu jujur saja Satya merasa tak tega. Bukan hanya Belva tapi dirinya juga merasa khawatir dan cemas dengan keberadaan putrinya yang saat ini dibawa oleh Fahmi.
Tuan Hector dan Nyonya Hector kini sedang menemani Kaili dan juga baby As. Mereka bahka belum sempat menanyakan mengenai keputusan Satya dan Belva mengadopsi baby As, waktunya tidak tepat untuk saat ini.
Setelah dirasa Belva kembali tenang, makan malam pun harus Satya sendiri yang menyuapi bva agar wanitanya tetap mau mengisi perutnya dengan nasi, bujuk rayu demi sang jabang bayi pun selalu mampu mengalahkan pertahanan diri Belva. Satya menghampiri kamar baby As, kedua putranya itu kini tengah tertidur lelap dengan Nyonya Hector yang berada di atas ranjang mendekap baby As dan Kaili.
"Pa, Papa belum tidur?"
"Papa ingin bicara padamu." Ujar Tuan Hector.
"Kita ke ruang kerja Satya saja, Pa."
Kedua pria berbeda generasi itu akhirnya memmilih ruang kerja Satya sebagai tenpat mereka untuk mengobrol.
__ADS_1
"Apa yang ingin Papa bicarakan?" Tanya Satya dengan perasaan was-was.
"Bagaimana bisa cucuku hilang seperti ini?"
"Seseorang dari masa lalu saya yang menjadi pelaku penculikan Kaila, kami masih menyelidiki keberadaan orang itu dan di mana dia membawa Kaila."
Tuan Hector menghela napas, rupanya menantunya itu banyak sekali sisi kehidupan yang membuatnya cukup pusing sebagai seorang mertua. Satya bukan pria dengan permasalahan yang lurus-lurus saja.
"Untuk saat ini kita fokus ke pencarian Kaila untuk hal lain masih ada yang ingin Papa bicarakan padamu. Papa juga sudah mengerahkan anak buah untuk mencari keberadaan Kaila."
Meski merasa was-was akan apa yang diucapkan mertuanya tapi Satya sepertinya menyetujui bahwa mereka harus fokus dengan keberadaan Kaila.
Tak lama terdengar ponsel Satya yang berdering, satu nomor yang tak dikenalnya masuk untuk menghubungi dirinya. Satya mengerutkan kening tapi tak urung diangkat panggilan itu olehnya.
"Ya hallo, dengan siapa ini?" Tanya Satya.
"Hallo, anak pungut."
Dari suara itu Satya sudah mengetahui siapa yang menghubungi dirinya. Pria itu mengeraskan rahangnya bukan karena seseorang itu memanggy dirinya anak pungut melainkan kelakuan orang tersebut terhadap keluarganya.
"Fahmi? Apa mau mu? Katakan di mana putriku?!"
Tuan Hector langsung menoleh menatap Satya. Dia pun cukup penasaran dengan seseorang yang kini tengah menghubungi menantu nya.
"Hahaha... Tenang anak pungut, putrimu baik-baik saja asalkan kamu mau menuruti perintahku."
"Apa maksudmu?!! Jangan bertele-tele, katakan apa maksud mu membawa putriku pergi!?" Satya sudah mulai tak sabar.
"Kamu mau putrimu? Aku akan serahkan putrimu asalkan dengan satu syarat."
"Katakan baji Ngan apa yang kamu inginkan, sudah ku katakan jangan bertele-tele!!"
"Hahaha tidak perlu marah-marah, kamu cukup serahkan saja bayi Alya padaku maka akan ku serahkan putrimu."
"Untuk apa kamu menginginkannya? Dia sudah menjadi putraku, aku tidak akan memberikan putraku pada siapapun."
"Oh yaa? Coba dengarkan ini hahaha."
"Aaaa... Hiks Daddy hiks... Sakit." Rintih Kaila di seberang telepon.
Satya mendengar dengan jelas suara putrinya yang merintih kesakitan membuat emosi Satya naik.
"Brengsyek!!! Baji Ngan!!! Fahmi kamu apakan putriku? Berani kamu menyentuh putriku saya habisi kamu!!"
Amarah Satya justru memancing gelak tawa bagi Fahmi di seberang sana. Itulah yang Fahmi inginkan membuat lawannya kesal dan marah hingga mudah dirinya mengalahkan seorang Satya. Rupanya benar apa yang Sonia katakan jika Satya akan sangat mudah terpancing jika itu berkaitan dengan orang-orang yang dia sayangi.
"Waktumu sampai besok pagi, jika kamu tak membawa bayi itu maka jangan salahkan aku jika putrimu tak akan ditemukan lagi."
Fahmi langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Satya mengumpati setengah mati. Bagaimana dirinya bisa menemui pria itu jika dimana keberadaan Fahmi saja Satya tidak mengetahuinya.
Dengan gerka cepat Satya mengirimkan nomor Fahmi pada Jordi untuk melacak keberadaan nomor itu saat ini.
"Siapa Satya? Bagaimana Kaila?" Tanya Tuan Hector dengan harap-harap cemas.
"Fahmi, dia yang membawa Kaila." Jawab Satya.
"Apa yang dia katakan? Apa dia meminta uang tebusan? Berapa? Papa akan kasih asalkan cucu Papa tidak kenapa-kenapa."
"Bukan uang tebusan, Pa tapi pria gila itu menginginkan barter antara kaila dengan baby As.
"Barter? Kenapa dia memilih meminta bayi itu daripada uang?" Tanya Tuan Hector.
"Entah, Satya juga tidak tahu, Pa. Barter itu tidak mungkin dilakukan, Belva pasti juga akan menolak hal ini. Baby As sudah resmi menjadi putra kami." Ucap Satya frustasi.
"Tapi ini bagaimana dengan Kaila? Kaila putri kandung kamu Satya." Ucap Tuan Hector.
"Satya tahu itu, tapi baby As tidak mungkin Satya gunakan untuk menukar Kaila. Pa, bayi itu sudah cukup malang Satya tidak mungkin tega padanya."
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Maaf akhir-akhir ini selalu terlambat update karena kesehatan yang belum pulih. 🙏🙏
Tapi tetap terima kasih buat kalian yang masih setia menunggu kelanjutan cerita receh author 🙏
Terima kasih buat support kalian, Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian terima kasih banyak 🙏🙏
__ADS_1
Buat Kak @brigita prima selamat dapat 1 slot yang waktu lalu author janjikan. Maaf lama dan lupa capture tapi author masih inget kok. Monggo bisa chat author 🙏🙏