
Satya tak menggubris kehadiran Sonia di kantornya. Bahkan di depan sekertarisnya pria itu berlalu tanpa mengajak istrinya masuk ke dalam ruangan. Jordi, pria itu terdiam di tempatnya, melihat ada Nyonya Balakosa dia tak mau mengikuti masuk bos-nya ke dalam ruangan. Garce hanya menatap bos-nya dan juga istri bos-nya yang tak pernah terlihat romantis saat bertemu. Diantara ribuan karyawan yang ada di perusahaan besar itu hanya Jordi dan Grace yang mengetahui bagaimana hubungan sebenarnya pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
"Apa kamu lihat-lihat. Minggir kamu !! Mual saya lihat wajahmu." Ucap Sonia tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Grace kembali ke mejanya, ada perasaan kesal terhadap istri bos-nya itu. Tapi ia tak menampakkan kekesalannya itu agar tak terjadi keributan. Meski ia tahu bos-nya tak akan memecatnya hanya untuk berdebat dengan Sonia.
"Astaga bagaimana bisa bos masih betah mempertahankan pernikahannya dengan si nela itu." Gerutu Grace kembali duduk di kursinya. Ia menghela napas dan merapikan kembali penampilannya.
"Sejak kapan dia datang ?" Tanya Jordi.
"Tiga puluh menit yang lalu." Jawab Grace yang masih merasa kesal.
"Keributan itu ?" Kembali Jordi bertanya.
Memang bukan hanya sekali dua kali Grace dan Sonia berdebat hanya karena Grace bertahan menjalankan perintah sedangkan Sonia bertahan dengan statusnya yang sebagai istri pemilik perusahaan yang bisa berbuat semaunya tanpa ada yang bisa menghalanginya.
"Lima belas menit yang lalu si nela memulai keributan. Seperti cacing kepanasan yang tak sabar menunggu."
"Titip untuk si bos. Nanti aku kembali lagi setelah istrinya pergi." Ucap Jordi lalu pergi meninggalkan meja Grace dengan bungkusan di atas meja.
Grace yang kesal segera mengambil bungkusan itu dan disisihkan ke pojok meja yang lain.
Di dalam ruangan satya sudah duduk di kursi kebersamaannya. Sonia mengikuti masuk ke dalam ruangan Satya. Pria itu tak membuka suaranya lagi saat memasuki ruangan. Rasanya malas sekali berhadapan dengan Sonia. Seakan suaranya begitu berharga jika hanya untuk berbincang dengan istrinya sendiri.
Tumpukan berkas di atas meja lebih menarik ketimbang wajah cantik dan tubuh seksi milik istrinya. Seakan tak ada orang lain di dalam ruangannya, Satya bekerja tanpa terganggu. Sonia merasa kesal sedari masuk tak ada pembicaraan diantara mereka.
"Dad..." Panggil Sonia.
Satya tak menjawab, pria itu seperti tak mendengar suara sama sekali.
"Satya..." Sonia kembali memanggil Satya, kini dengan menyebutkan nama suaminya dengan suara sedikit keras karena merasa kesal.
"Apa yang kamu inginkan ?" Tanya Satya to the point.
Dia tahu pasti ada sesuatu yang penting hingga Sonia datang ke kantornya. Sesuatu itu penting tapi hanya bagi Sonia saja. Dia ingat tadi sebelum kembali ke kantor istrinya itu memberondongnya dengan beberapa kali panggilan yang sengaja ditolaknya.
"Kenapa panggilanku tak kamu jawab ?"
"Aku sibuk." Jawab Satya santai dengan nada datar dan dingin.
Sonia memutar bola matanya malas mendengar jawaban dari suaminya. Selalu saja sibuk menjadi alasan bagi suaminya.
"Sayang..." Sonia mendekat ke arah Satya dengan suara selembut mungkin.
"Berdiri di tempatmu. Katakan ada apa datang ke kantorku." Ucap Satya yang tak ingin didekati oleh Sonia.
Entah apa yang dirasalan oleh Satya terhadap Sonia. Banyak sekali rasa kecewa, kesal dan rasa-rasa lain yang tak menyenangkan.
Sonia merasa geram dengan sikap Satya saya ini. Sikap yang sudah berubah menjadi dingin dan datar, tak selembut tadi malam.
"Sayang jadwal keberangkatanku dipercepat. Nanti sore aku sudah berangkat. Kamu ingat dengan janjimu tadi malam kan sayang ?" Sonia kembali membicarakan perihal uang yang dimintanya dari Satya.
"Aku sibuk, pergilah. Aku tak lupa." Usir Satya.
Sonia tetap mendekat, ia ingin memeluk dan mencium bibir Satya tapi sayang pintu diketuk oleh seseorang. Aksi Sonia terpaksa harus berhenti seketika. Satya merasa terselamatkan atas kedatangan orang tersebut.
"Masuk." Perintah Satya.
Ternyata ketukan pintu itu datang dari Jordi, asisten Satya sendiri.
"Maaf mengganggu Tuan. Sudah saatnya kita berangkat menemui Tuan Roichi."
"Oke. Kita berangkat sekarang." Putus Satya.
"Mari Tuan." Jawab Jordi.
"Pulanglah. Aku sibuk." Ucap Satya yang menyuruh Sonia pergi dari ruangannya. Dia tak ingin ada orang lain yang berada di ruangannya jika dirinya tak ada di ruangan.
Sonia menghela napas, ia kembali mendekati Satya tapi ditolak oleh Satya karena prianitu tahu apa yang akan dilakukan Sonia.
"Tahu diri lah dengan sekitarmu Sonia." Ucapan Satya begitu pedas terhadap istrinya sendiri.
Sonia menahan kekesalannya dalam hati, berulang kali Satya bersikap dingin terhadapnya di depan Jordi maupun Grace. Sedangkan di depan karyawan yang lain Sonia tak berani bertingkah karena sudah mendapatkan peringatan dari Satya.
Jika dirinya meluapkan emosinya karena kekesalannya itu maka ia akan kehilangan uang banyak. Sudah berusaha merayu untuk mendapat uang dari suaminya tidak lucu jika harus gagal mendapatkannya.
Satya memang orang kaya, harta berlimpah tapi mengapa istrinya sendiri harus merayu terlebih dahulu agar mendapatkan uang ? Itu karena Satya sudah membatasi uang yang diberikan untuk Sonia. Wanita itu kerap menghamburkan uang secara tidak jelas. Belum lagi ia tak menaati keinginan Satya yang sederhana. Satya hanya ingin istrinya lebih banyak waktu untuk mengurus dirinya tapi Sonia sejak awal pernikahan tak pernah melakukan hal itu.
Sonia pergi dengan langkah cepat, menyimpan kekesalannya sendiri di dalam hatinya. Satya masih saja dengan sikapnya yang dingin dan datar tak memperdulikan istrinya.
"Ayo jalan."
"Maaf Tuan, sebenarnya pertemuan masih satu jam lagi."
"Maksudmu ?" Satya bingung kenapa Jordi mengatakan jika mereka sudah waktunya bertemu klien.
"Ini Tuan, bubur yang tadi saya beli. Ganjal perut anda sedikit saja. Anda terlihat sedikit pucat."
"Benarkah ? Aku merasa baik-baik saja." Ucap Satya.
"Tentu, anda akan lebih baik-baik saja jika memakan ini sedikit saja. Setidaknya agar lambung anda tetap terisi tidak baik jika harus diisi langsung dengan kopi."
"Baiklah. Suruh Grace menyiapkannya untukku."
Jordi, meski bos-nya terkadang tak menyenang dan membuatnya kesal sendiri. Dia tetap memperhatikan kesehatan bos-nya. Jika Satya jatuh sakit maka dia sendiri yang akan kerepotan nantinya. Pekerjaan di perusahaan itu tak pernah berhenti barang seharipun. Bahkan terkadang tanggal merah jika mendadak dan penting mereka tetao harus berangkat.
Satya selesai dengan bubur untuk mengganjal perutnya. Kini Satya dan Jordi melanjutkan kegiatan mereka. Pertemuan kembali dilakukan dengan Roichi selalu perwakilan dari Tuan Hector. Sejak kerjasama mereka terjadi, mereka kerap melakukan pertemuan untuk membahas perkembangan proyek yang tengah mereka kerjakan.
Pertemuan kali ini mereka lakukan di cafe yang tak jauh dari kantor Bala Corp. Seperti biasa Roichi selalu sendiri dalam melakukan pertemuannya bersama Satya.
"Maaf terlambat." Ucap Satya..
Rupanya Roichi telah sampai terlebih dahulu di tempat mereka berjanji bertemu.
"Tidak masalah. Silahkan duduk Tuan." Roichi bukanlah pria yang terlalu kaku seperti Satya. Sikapnya memang sedikit dingin tapi bisa saja bersikap ramah pada waktu-waktu tertentu dan akan sangat ramah pada orang-orang terdekatnya.
__ADS_1
"Bagaimana kabar anda Tuan Roichi ?"
"Seperti yang anda lihat, saya baik-baik saja. Bagaimana dengan anda sendiri, sepertinya anda terlihat kurang segar saat ini."
"Benarkah ? Asistenku mengatakan jika saya sedikit terlihat pucat."
"Itu benar. Jangan terlalu keras bekerja. Kesehatan sangat penting." Saran Roichi.
"Anda benar Tuan. Bagaimana perkembangan proyek resort ? Apakah ada kendala ?" Tanya Satya.
"Semua berjalan dengan lancar Tuan sudah hampir lima pulun persen berjalan."
"Bagus. Sebenarnya saya juga ingin membahas sesuatu dengan Anda." Ucap Satya.
"Ada apa Tuan ?" Tanya Roichi penasaran.
Satya akan melakukan rencana tambahan karena merasa apa yang dilakukannya saat ini kurang maksimal.
"Saya ingin membangun kembali sebuah hotel dengan tema tradisional modern. Tapi saya ingi membuatnya menjadi beberapa bagian di satu luas tanah yang sama. Tentu dengan desain yang bisa dikreasikan antara bangunan modern dan tradisional. Juga beberapa furniture yang digunakan sudah pasti saya akan serahkan pada pihak Hector Group yang lebih kompeten dalam bidang ini."
"Baiklah, saya akan coba sampaikan pada Tuan Hector. Sepertinya jika dibayangkan desainnya akan sedikit rumit, bukan begitu Tuan ?" Ucap Roichi.
"Tentu, karena perpaduan antara modern dan tradisional. Saya ingin menggunakan desain rumah tradisional dari pulau Jawa dan Bali. Ini memang sedikit rumit."
"Di mana rencana anda akan membangun hotel tersebut ?" Tanya Roichi.
"Jogja. Di sana masih sangat banyak tanah yang luas. Dan di kota itu juga tak kalah banyak pengunjungnya bila dibandingkan dengan Bali."
"Saya rasa akan sangat menyenangkan. Bukankah banyak orang yang menginginkan tempat yang bernuansa alam dengan fasilitas seperti di kota ?" Ucap Satya.
"Saya sangat setuju Tuan. Nanti buatkan saja proposal kerjasamanya."
"Itu sudah pasti. Asistenku akan mengirimkannya. Oke, hanya itu saja yang ingin saya sampaikan. Apakah ada hal lain tentang proyek resort yang ingin anda sampaikan Tuan ?" Tanya Satya.
"Untuk Resort berjalan lancar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Baiklah. Kalau begitu saya pamit. Masih ada jadwal temu dengan klien."
"Anda sangat sibuk sekali Tuan Satya. Silahkan kalau begitu. Tetap jaga kesehatan, proyek kita masih banyak." Ucap Roichi tersenyum.
"Terima kasih." Satya berjabat tangan dengan Roichi lalu pria itu pergi ke tempat selanjutnya untuk bertemu dengan klien berikutnya.
Roichi pun sama, selama di Jakarta dia memantau perkembangan perusahaan Hector Group yang ada di Indonesia. Pria itu memutuskan untuk menuju kantor Hector Group baru akan menemui si kembar.
****
Setelah keluar dari kantor sang suami, Sonia berkumpul dengan teman-teman sosialitanya. Seperti biasa perkumpulan itu hanya sibuk arisan atau bersenang-senang menikmati hidup. Sebagai para ibu rumah tangga yang bersuamikan seorang pebisnis membuat hidup mereka seakan-akan jauh dari segala kesusahan dan segala masalah.
Kini Sonia telah berada di sebuah cafe mewah tempat biasa yang digunakannya untuk berkumpul bersama teman-teman sosialitanya. Tempat yang cukup luas dengan furniture mewah, bersih dan rapi. Makanan dan minuman yang tersedia pun dibanderol dengan harga mahal. Hanya kalangan berduit yang bisa masuk dan makan di tempat seperti itu.
Gelak tawa, canda dan juga obrolan-obrolan seru seputar kecantikan, fashion, perhiasan dan juga tempat-tempat liburan yang menarik selalu menjadi topik bagi sekumpulan wanita matang yang cantik-cantik itu.
"Eh... Ngomong-ngomong bajumu bagus juga. Beli dimana ?" Tanya salah satu wanita kumpulan sosialita Sonia. Wanita itu berambut panjang dan juga anggun.
"Bagus ya ? Iya ini pesan di butik yang ada di jalan dekat sekolah TK Blue School. Butik baru sih tapi hasilnya oke." Ucap wanita itu dengan anggun. Sama seperti namanya wanita itu bernama Anggun.
"Kukira beli di luar negeri loh. Rupanya hasil dalam negeri. Boleh juga kapan-kapan aku akan ke sana." Ucap Karen.
"Anggun, terlihat semakin cantik dan selalu high class ya. Padahal baju buatan dalam negeri." Ucap Safia.
"Ngomong-ngomong nama butiknya apa Nggun ?" Tanya Karen.
"Evankay butik. Meski masih baru tapi desainer sekaligus pemiliknya dari Jerman."
"Wah pantas saja hasilnya sangat bagus. Hampir setara dengan brand internasional yang terkenal." Ucap Safia.
Beberapa teman yang lain mereka mendengarkan dengan antusias. Meski tak suka dengan Anggun tapi Sonia tetap mendengarkannya. Tempat-tempat rekomended seperti itu tak pernah luput dari perkumpulan sosialita seperti mereka.
Apalagi barang yang bagus menurut mereka, seputar topik yang selalu dibahas tak pernah mereka mau untuk tertinggal. Bahkan mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan barang yang lebih bagus. Memamerkan barang-barang tersebut diperkumpulan dan mendapatkan pujian adalah kepuasan tersendiri bagi mereka. Apalagi mereka menjadi panutan dalam mendapatkan barang-barang tersebut itu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri.
Pembahasan terus berlanjut dan bergulir ke beberapa barang yang mereka kenakan. Hari ini Sonia tak menjadi bahan perbincangan karena kali ini tak ada yang menarik untuk dibahas dari seorang Sonia. Ia hanya diam dan hanya sesekali menimpali saja sesuai suasana hatinya.
Membicarakan suasana hati Sonia saat ini memang buruk perlakuan Satya di kantor masih membuat suasana hatinya buruk kini ditambah lagi dengan teman-temannya yang sedari tadi membahas Anggun. Selalu saja terdengar di telinganya saat mereka memuji Anggun. Hal itu semakin memperburuk suasana hatinya.
"Oh iya kapan nih jadinya kita traveling. Aku sepertinya akan mengajak putriku." Ucap Safia.
"Sama sepertinya aku juga akan mengajak putriku, kebetulan bulan ini dia mengambil cuti untuk menghadiri wisuda putraku." Ucap Anggun.
"Oh iya aku lama tak bertemu putrimu. Bagaimana kabarnya ? Aku sangat terkesan dengan anak-anakmu. Kamu berhasil mendidik mereka Anggun." Ucap Karen.
"Besok saat kita traveling, aku ajak dia. Kamu bisa bertemu dengannya."
"Tak sabar aku bertemu dengannya. Putraku sempat menanyakannya loh." Ucap Safia.
Sonia tampak semakin kesal dan malas untuk berkumpul dengan teman-temannya saat ini. Topik pembicaraan mereka selalu saja terarah pada Anggun. Wanita yang selalu menjadi saingannya.
"Ck... Aku duluan." Ucap Sonia dengan nada menahan kesal.
Semua memandang Sonia dengan tatapan sedikit terkejut. Tidak ada apa-apa tapi wanita itu tiba-tiba saja memilih untuk pergi.
"Kamu mau kemana Sonia ?" Tanya Karen.
"Ada yang lebih penting daripada membahas hal yang tak penting saat ini." Ucap Sonia dengan nada angkuh dan cueknya.
Wanita itu berdiri dan berjalan dengan menenteng tas mahalan. Tanpa berjabat tangan atau cipika-cipiki seperti biasanya ia berlalu begitu saja.
"Dia kenapa ?" Tanya Safia.
"Biasalah. Seperti tidak tahu saja. Kita saat ini sedang membahas Anggun. Tahu sendirikan dia bagaimana dengan Anggun." Ucap Karen yang sudah paham akan sikap dan perasaan Sonia.
Anggun hanya diam dan menggelengkan kepalanya. Masih tak mengerti kenapa temannya itu bersikap seperti itu padanya. Padahal mereka sudah berteman cukup lama, Anggun merasa tak pernah menyentuh atau mengusik Sonia selama ini.
Sonia masuk ke dalam mobil mahalnya, meski sudah hampir menginjak setengah abad untuk beberapa tahun lagi. Tapi stylenya masih terlihat muda, mobil yang digunakannya adalah mobil sport yang hanya muat untuk dua orang saja.
"Apa-apaan mereka, sejak tadi Anggun terus Anggun terus. Membuatku semakin muak saja." Gerutu Sonia yang merasa kesal.
__ADS_1
Ia melanjukan mobilnya ke suatu tempat yang sedari tadi membuatnya penasaran. Mobil yang mampu melaju dengan kecepatan tinggi itu mengantarkannya ke suatu tempat yang ditujunya. Tak perlu susah payah karena Sonia tahu akan jalan menuju tempat itu bahkan sudah hafal.
Parkirlah mobil mahal itu di area parkir depan bangunan yang terlihat rapi dan juga indah dipandang mata. Cat putih dengan desain minimalis tapi terlihat elegan. Satu papan dengan tulisan calligraphy handwriting font yang membuat papan nama itu terlihat lebih elegan.
Evankay Boutique itulah papan nama yang menjadi tempat tujuan Sonia. Melihat saingannya memilik baju dari butik ini membuat Sonia tak bisa tinggal diam begitu saja. Ia tak ingin kalah saing, meski harus merogoh kocek yang cukup tinggi tak masalah baginya.
Dengan gaya angkuh dan cueknya, wanita itu masuk ke dalam butik milik itu. Beberapa pegawai yang ada di depan menyambut Sonia dengan sangat ramah sesuai dengan perintah pemilik butik.
"Selama datang Nyonya." Ucap pegawai butik.
Sonia hanya mengangguk singkat, sangat terlihat jika ia tak ingin terlalu dekat dan ramah pada orang lain yang dianggapnya tak selevel dengannya. Ternyata semakin berjalannya waktu membuat Sonia semakin lebih buruk dalam bersikap. Pemikiran yang bersarang di kepalanya bahwa ia adalah istri dari pengusaha besar membuatnya semakin tinggi hati.
Ia berkeliling melihat-lihat gaun-gaun dan beberapa pakaian yang tergantung di besi alumunium. Koleksi di butik itu memang membuatnya cukup terkesan. Ia dapat membuktikan sendiri dari pembahasan teman-temannya tadi.
"Saya ingin memesan gaun dengan desain eksklusif."
"Oh baik Nyonya. Anda silahkan masuk ke dalam ruangan itu." Pegawai butik mengarahkan Sonia pada salah satua ruangan yang sering digunakan untuk membahas desain dan pemesanan. Yang tak lain adalah ruangan milik Bella.
Dengan diantat oleh pegawai Sonia menuju ruangan Bella. Untung saja Bella sudah kembali dari bepergiannya.
"Silahkan Nyonya." Ucap pegawai butik.
Pintu terbuka Bella melihat ada seseorang yang masuk, ia lantas berdiri menyambut orang tersebut.
"Nyonya. Silahkan duduk. Saya Bella, ada yang bisa saya bantu ?" Tanya Bella ramah.
"Ya. Saya ingin memesan gaun dengan desain eksklusif. Apa bisa saya bertemu dengan desainernya ?" Ucap Sonia masih dengan gaya khas Sonia.
"Baik Nyonya, tapi maaf untuk desainer kami sedang tidak ada di tempat karena sedang berhalangan."
"Anda bisa menyampaikannya pada saya, nanti akan saya sampaikan pada desainer kami. Seperti apa konsep gaunnya Nyonya ?" Tanya Bella dengan nada ramah meski ia tahu customer dihadapannya itu bukanlah orang yang ramah dan menyenangkan.
Bella menjelaskan syarat dan ketentuan dalam pemesanan di butik. Sonia mendengarkan dengan seksama. Sesuai dengan penjelasan Sonia melakukan pemesanan. Ia memberikan konsep seperti apa yang diinginkan untuk gaunnya.
"Baik Nyonya, ada lagi ?" Tanya Bella.
"Cukup, nanti kirimkan saja desainnya padaku."
"Baik Nyonya. Akan kami usahakan sesuai dengan permintaan Anda."
"Oke kalau begitu saya pergi dulu." Pamit Sonia pada Bella tanpa berjabat tangan.
Bella mengantar Sonia hingga ke depan pintu butik. Sudah seperti kebiasaan baginya dalam memperlakukan customer mereka.
Saat Sonia dan Bella berjalan ke luar ruangan, Budhe Rohimah akan melangkah maju menuju ruangan Bella. Wanita paruh baya itu terkejut melihat mantan majikannya.
"Astaga." Gumam Budhe Rohimah yang terkejut. Segera ia menyembunyikan dirinya di samping ruangan Bella.
Bella mendengar pekikan Budhe Rohimah, ia menoleh ke arah suara itu tapi tidak dengan Sonia yang tak mendengar suara itu. Matanya fokus pada koleksi pakaian yang ada di butik itu.
"Kenapa bisa ada Nyonya Sonia di sini ?" Gumam Budhe Rohimah. Ia memegang dadanya yang kini merasakan detak jantung yang berdegup kencang.
Ada rasa cemas, khawatir dan juga takut. Ia sudah berusaha dan berdoa agar tak bertemu lagi dengan mantan majikannya itu. Terlebih ia selalu berdoa agar Belva tak pernah bertemu dengan mereka terutama Sonia. Masih terngiang jelas di dalam pikirannya beberapa tahun silam saat Sonia hendak membunuh Belva akibat kemarahan wanita itu.
Pikirannya terus melayang memikirkan keberadaan Sonia di butik milik keponakannya. Tercetak jelas wajah terkejut dan juga takut itu.
Puk... Sebuah tepukan mengenai bahu Budhe Rohimah.
"Hah !!" Pekik Budhe Rohimah akibat terkejut kembali.
"Budhe ada apa ? Kenapa ketakutan seperti itu ?" Tanya Bella. Tepukan itu berasala dari tangan Bella.
"Hah ? Tidak... Tadi... Ada kecoa di situ merayap ke arah Budhe jadi Budhe terkejut dan takut."
"Oh astaga, biar nanti aku suruh tukang bersih-bersih untuk membersihkannya kembali."
"Iya... Ya sudah Budhe ke atas dulu ya. Kepala Budhe sedikit pusing." Ucap Budhe Rohimah.
"Iya istirahatlah sejenak. Maaf Budhe harus membantuku disini."
"Tidak apa Bella. Ini juga sama saja usaha kita bersama. Kita bisa makan dari butik ini." Ucap Budhe Rohimah.
Wanita itu kemudian berlalu masuk ke dalam ruangan Belva. Di sana ia bisa beristirahat sejenak. Rencananya setelah makan siang ia akan kembali ke rumah untuk melihat keadaan Belva dan juga si kembar. Pasti si kembar akan kelaparan karena tak ada yang membantu mereka untuk makan siang. Belva masih dalam keadaan sakit.
"Budhe mau kemana ?" Tanya Bella saat menuruni tangga dan membawa tas Tote bag warna hitam milik wanita paruh baya itu.
"Budhe, mau pulang ke rumah. Belva dan si kembar pasti belum makan siang."
"Budhe tenang saja. Bella sudah memesankan makanan untuk mereka. Lagi pula Ayah akan datang dan aku suruh untuk langsung ke rumah saja."
"Benarkah ?" Budhe Rohimah memastikan.
"Iya Budhe. Sudah budhe tenang saja. Ayo kita makan siang."
Perasaannya lega karena Belva and cucu-cucunya susah ada yang membantu mereka untuk makan siang.
Bella beserta pegawai yang lain makan siang bersama dengan makanan yang telah di pesan oleh Bella. Belva dan Bella memang terkadang memberikan jatah makan untuk pegawai mereka, hal itu dilakukan agar para pegawai mereka merasa diperhatikan.
Lagipula bagi Belva membagi rejekinya untuk orang lain sama saja menabung rejeki. Sang pemilik hidup akan menggantikan rejekinya jauh berlipa kali dari apa yang dilakukannya untuk orang-orang sekitarnya.
Prinsip yang selalu dipegang kuat oleh Belva sejak dulu saat orang tuanya masih ada. Meski keadaan mereka sederhana tapi orang tua Belva mendidik anaknya untuk tetap menyisihkan rejeki bagi orang-orang sekita yang membutuhkan. Sebaik-baiknya manusiawi adalah dia yang berguna bagi sesama.
Melakukan hal seperti itu sudah mampu membuat hati Belva lebih tenang dan bahagia. Bisa berbagi dengan sesama, ia pernah merasakan susah jadi saat ia memiliki rejeki berlebih tentu ia akan merasa sangat bahagia bisa berbagi.
****
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Terimakasih buat para reader setia.
Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.
Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys π
Btw komentar positif kalian sejujurnya membuat author semangat untuk menulis bagaimana part selanjutnya, meski tulisan ini masih sangat receh dan sadar belum sempurna, masih banyak kekurangan. Typo, alur dan beberapa hal yang lain masih kurang dengan masukkan dari kalian setidaknya bisa sedikit demi sedikit bagi author untuk memperbaiki. Terimakasih banyak reader ππ
__ADS_1