Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 25. Rencana Belva dan Keluarga Hector


__ADS_3

"Seperti yang saya katakan tadi, jika kami ingin sesuatu yang berbeda dan pihak Hector Group lah yang akan lebih banyak mengambil alih pembangunan ini. Kemampuan arsitektek yang perusahaan anda miliki sangatlah berkompeten. Melihat kalian bisa memenangkan tender besar itu jadi saya sangat yakin pada Hector Group untuk pembangunan resort ini."


Tuan Hector mengangguk paham akan penjelasan dan keinginan dari Satya. Karena hampir sebagian besar Hector Group yang menggarap proyek ini maka tentu mereka akan mendapatkan banyak keuntungan.


Kesepakatan mereka dapatkan saat itu juga. Tanda tangan kontrak pun sebenarnya sudah dipersiapkan oleh pihak Satya karena dia sangat yakin jika dirinya mampu meyakinkan pemilik Hector Group.


Merasa jika tujuan awalnya berhasil tentu pria berkepala 4 tapi masih terlihat gagah dan tampan itu senang dan merasa puas. Sedikit lagi dia akan mengetahui siapa yang ada dibalik layar atas kesusksesan Hector Group.


Satya tipe orang yang tak mau kalah, apapun harus dia dapatkan jika dia memiliki keinginan. Senyum mengembang dari bibirnya yang sedikit kecoklatan akibat nikotin yang terkadang dihisapnya beberapa tahun terakhir akibat merasakan tekanan dalam rumah tangga yang tak sesuai harapannya.


"Baiklah Tuan, terima kasih atas kerjasama ini. Saya harus segera kembali lagi ke Paris untuk beberapa hari karena masih ada pekerjaan yang belum terselesaikan." Ucap Satya tegas tanpa basa-basi. Meski seseorang yang ada di hadapannya adalah orang yang lebih tua darinya.


"Ah baiklah Tuan Satya. Rupanya anda memang sangat beniat sekali meluangkan waktu untuk menemui kami." Tuan Hector tersenyum ramah pada Satya meski pria dihadapannya hanya membalas dengan senyum tipisnya.


"Tentu, ini adalah kerjasama yang sangat saya harapkan. Baiklah saya permisi dan terima kasih sekali lagi."


Satya mengulurkan tangannya untuk menjabat rekan kerjanya yang baru ini. Uluran tangan disambut dengan baik oleh pria lanjut usia tersebut.


Keluar dari ruangan dengan disusul oleh Jordi sang asisten. Jordi dan Roichi memang tidak berada dalam satu ruangan dengan Satya dan Tuan Hector karena Tuan mereka itu hanya menginginkan untuk berdiskusi berdua saja mengenai kerjasama mereka.


"Jordi, sudah siap semua ?" Tanya Satya tanpa melihat ke arah Jordi.


"Semua sudah siap Tuan. Apa anda yakin tidak kembali terlebih dahulu ke rumah ?" Tanya Jordi, pikirnya jika Satya mampir terlebih dahulu ke rumah maka dia juga bisa kembali sebentar ke rumahnya. Setidaknya menikmati masakan sang ibu.


"Tidak. Pekerjaan kita masih menunggu di sana. Kita harus segera menyelesaikannya. Apa ada jadwal lagi setelah pekerjaan yang ada di Paris ?"


" Ada Tuan, kita harus meninjau lokasi pembangunan apartemen dari perusahaan XX."


Satya hanya mengangguk, mereka memasuki mobil menuju bandara kembali. Tujuan Satya kembali ke Indonesia hanya untuk mendiskusikan kerjasama dengan Hector Group saja. Memang sangat penting sekali kerjasama itu bagi Satya.


Keduanya kembali lagi ke Paris. Beberapa pekerjaan memang masih menunggu untuk diselesaikan. Satya bahkan tak lagi mengingat bagaimana keadaan keluarganya. Bahkan dia juga jarang berkomunikasi dengan anak dan istrinya.


Beberapa hari kemudian, tak sabar Satya akan kerjasamanya dengan Hector Group. Mengirim desainnya dan meminta pihak Hector Group untuk sedikit merubah dan menambahkan sesuatu dengan keinginannya.


****


Belva masih saja sibuk dengan merawat dan mengurus Budhenya yang masih harus beberapa hari di rawat di rumah sakit. Kesibukan itu membuat kedua anak kembarnya cukup memahami jika ibu mereka harus membantu nenek mereka. Meski terkadang ada beberapakali protes dari mulut mungil Kaila yang notabene seorang anak yang sedikit cerewet tapi gadis kecil itu tetap bisa memahami dan menerima.


Saat Belva tengah sibuk, Bella lah yang mengurus duo Kay. Mulai dari aktivitas tambahan mereka yaitu mengikuti beberapa les saat berada di negara Indonesia dan kegiatan keduanya di rumah seperti biasa.


Bahkan kini Kaila dan Kaili sibuk menggambar masing-masing. Saat les yang mereka ikuti telah usai, di rumah mereka selalu sibuk dengan menggambar sesuai hobi dan bakat mereka.


Tentu gambaran itu selalu menghasilkan pundi-pundi uang bagi mereka. Bukan gambaran biasa seperti anak-anak pada umumnya yang hanya menggambar seperti pemandangan atau hal-hal yang anak kecil lakukan.


Kaila menggambar desain baju membantu pekerjaan ibunya sedangkan Kaili bocah tampan itu memiliki proyek baru membantu sang kakek mendesain sebuah bangunan megah dan mewah. Proyek kerjasama Hector Group dan Bala Corp melibatkan kemampuan luar biasa dari Kaili. Bocah itu yang menyempurnakan desain sesuai dengan keinginan klien dari perusahaan kakeknya.


Bella maupun Nyonya Hector tak pernah bertanya Kaili mendesain bangunan milik siapa saja. Setahu mereka apa yang kedua bocah lakukan itu masih dalam batas wajar dan positif. Dan apapun yang mereka lakukan jika berkaitan dengan pekerjaan kedua bocah kecil itu sudah dipilah dan dipertimbangkan oleh Belva maupun Tuan Hector.


"Sayang, istirahat dulu Oma sudah buatkan cemilan kesukaan kalian lho. Sosis gurita seperti biasa." Nyonya Hector membawakan sepiring berisi cemilan kesukaan kedua cucunya.


Cemilan itu sebenarnya hanya makan sederhana dari sosis saja yang di kreasikan sedemikian rupa hingga bentuknya menyerupai binatang gurita.


Menjadi makanan kesukaan karena sedari kecil Belva selalu membuatkannya. Saat kedua bocah kecil itu merasa bosan dengan menu makanan, maka Belva akan selalu mencoba kreasi baru untuk menu makanan kedua anaknya.


"Yeeaayy... ! Sosis gurita !" Gadis kecil itu tampak begitu antusias dan senang saat mendapati sepiring cemilan kesukaannya.


Kaili jangan tanya lagi, bocah itu tidak akan berekspresi berlebihan seperti saudari kembarnya. Dia hanya tersenyum dan segera mendekat pada piring yang sudah diletakkan di atas meja.


"Apa Oma membuat banyak makanan ini ?" Tanya Kaila antusias. Seperti biasa gadis cantik itu pasti akan meminta lagi saat makanan itu telah habis.


"Tidak sayang. Mami kalian tidak akan mengijinkannya." Nyonya Hector tersenyum lembut.


Kaila seketika lesu saat mendengar penuturan Omanya. Sedangkan Kaili masih anteng menikmati makanan kesukaannya itu. Sifat keduanya memang sangat bertolak belakang. Seperti pembagian sifat dari kedua orang tuanya terbagi secara adil pada kedua bocah itu.


Hingga saat sore hari, Mbok Yati datang ke rumah sakit untuk menjenguk Budhe Rohimah. Wanita paruh baya itu bisa datang ke rumah sakit karena majikan mudanya sedang pergi liburan bersama kekasihnya untuk beberapa hari ke depan.


"Permisi neng." Mbok Yati sesudah mengetuk pintu ia langsung membuka pintu kamar rawat budhe Rohimah. Ia melihat Belva duduk di sofa dekat ranjang pasien.


"Mbok Yati. Masuk Mbok." Ucap Belva yang seketika langsung mengalihkan perhatiannya dari lembaran kertasnya pada Mbok Yati.

__ADS_1


"Iya neng. Bagaimana kabar neng Belva ?"


"Kabar saya baik Mbok. Kok Mbok Yati bisa kesini ?" Belva tahu tidak mudah para pekerja mantan majikannya itu bisa keluar sembarangan.


"Iya Non Alya sedang liburan bersama kekasihnya untuk beberapa hari ke depan. Saya ijin keluar alasannya mau bertemu dengan kerabat dekat neng. Ini saya bawakan makanan kesukaan Bi Imah. Bi Imah boleh makan makanan seperti ini kan neng ?"


Mbok Yati bertanya seperti itu karena takut jika teman yang sudah dianggap keluarga baginya itu belum diperbolehkan untuk makan yang aneh-aneh.


Belva tersenyum. "Boleh Mbok, beberapa hari lagi juga sudah bisa pulang."


"Wah syukurlah neng. Mbok Yati ikut senang dengan kabar baik ini." Mbok Yati ikut tersenyum akan kabar baik yang diberikan Belva.


Perbincangan memang hanya dilakukan oleh Belva dan Mbok Yati saja karena budhe Rohimah sedang tidur. Tak lama panggilan masuk ke dalam ponsel milik Belva.


"Sebentar Mbok, ada telepon." Belva meminta ijin pada Mbok Yati dengan sopan agar perbincangan mereka tidak terabaikan begitu saja.


Belva mengangkat panggilan tersebut. Dan ternyata itu dari Nyonya Hector yang menyuruhnya pulang ke rumah sebentar karena ada hal penting yang akan disampaikan padanya.


"Mbok, aku harus pulang sebentar. Kalau saya titip budhe sebentar sementara aku pulang bagaimana Mbok ?" Tanya Belva sedikit ragu dan merasa tak enak.


"Tidak apa-apa neng pulanglah. Biar Mbok yang jaga saja malam ini. Lagian Mbok sudah ijin tadi sama yang lain. Non Alya juga tidak akan mencari karena dia sedang pergi."


"Terima kasih Mbok. Nanti kalau aku sudah selesai aku akan kembali lagi. Aku pulang dulu ya Mbok." Pamit Belva pada Mbok Yati. Ia merasa bersyukur saat keadaan seperti ini ada yang bisa menunggu Budhe Rohimah.


Meski terkadang Budhenya merasa tak masalah jika tidak ditunggui tapi Belva merasa bertanggung jawab pada keluarga kandung satu-satunya itu. Belva segera pulang menggunakan taksi online. Selama di Indonesia ia memang tak memiliki kendaraan sendiri. Lebih sering menggunakan transportasi umum, ia pun tak mau jika diantar jemput oleh sopir keluarga Hector jika tidak dalam keadaan terdesak.


Perjalanan begitu macet saat itu. Waktu yang seharusnya hanya memakan tiga puluh menit saja kini menjadi satu jam lebih. Kota Jakarta memang seperti itu jika sudah macet para pengguna jalan tidak akan bisa berbuat apa-apa. Terlebih saat sudah berada di tengah jalan, terjebak macet dan tidak bisa berputar arah lagi.


Sampai di kediaman Tuan Hector sudah hampir setengah tujuh malam. Meski hanya duduk diam sebagai penumpang saja nyatanya mampu membuat badan Belva terasa sedikit lelah.


"Sayang, kamu baru sampai ?" Tanya Nyonya Hector yang melihat kedatangan Belva.


"Iya Ma... Maaf jalanan macet sekali tadi. Ada perbaikan badan jalan. Anak-anak mana Ma ?"


"Anak-anak ada di dalam kamar mereka. Biasa sibuk dengan kegiatan mereka sendiri-sendiri. Bersihkan diri dulu sayang. Nanti kita makan malam bersama. Sebentar lagi Papamu juga pasti sampai mungkin terkena macet juga di jalan."


Belva beranjak dari hadapan Mamanya dan masuk ke dalam kamar. Ia tak langsung ke kamar anak-anaknya karena sedari awal sehabis dari rumah sakit ia pasti akan membersihkan diri sebelum menghampiri duo Kay.


Tubuh Belva kini jauh lebih segar setelah mandi. Tubuhnya terasa lebih ringan dengan baju yang bersih yang baru digantinya. Ia pergi menemui kedua anaknya di dalam kamar bocah-bocah itu.


"Hai sayang... Sedang apa kalian." Sapa Belva saat membuka pintu dan berjalan ke arah kedua bocah itu.


"Mamiii...." Teriak Kaili dan Kaila saat melihat dengan nyata ibunya ada di hadapan mereka.


Keduanya langsung memeluk Belva seakan telah sekian lama tak berjumpa. Memang mereka jarang sekali bertemu karena urusan penting Budhe Rohimah. Hanya di pagi hari saja mereka bisa bertemu. Malam hari Belva lebih banyak harus menginap di rumah sakit.


"Uh sayang. Kalian merindukan Mami ?" Belva menerima pelukan dua buah hatinya dengan sayang dan juga penuh rindu. Bagaimana pun seorang ibu pasti tidak bisa lama-lama berjauhan dengan anaknya.


"Tentu kami sangat merindukan Mami. Bagaimana keadaan Uti Imah ?" Tanya Kaila. Seperti biasa gadis kecil itu yang akan lebih banyak berbicara.


"Eeemm... Mami juga sangat merindukan kalian. Uti sudah lebih baik beberapa hari lagi sudah boleh pulang. Jadi kita bisa sama-sama lagi."


"Benarkah ?" Tanya Kaili. Pria kecil itu ternyata antusias sekali mendengar Utinya akan segera kembali.


Belva mengangguk dengan tersenyum hangat. Bella pun ikut menatap ketiga orang itu. Tak ingin menginterupsi atau mengganggu ibu dan anak itu.


"Bella, terima kasih sudah menjaga anak-anak." Ucap Belva. Ia merasa bersyukur karena terbantu sekali dengan adanya perempuan muda itu. Ah nyatanya mereka seumuran. Maka dari itu saat mereka pergi akan terlihat seperti sahabat yang sama-sama cantik.


"Sama-sama Nona. Bukankah ini sudah menjadi tugas dan rutinitasku." Bella menjawab dengan tersenyum begitu pula Belva.


Percakapan mereka terhenti kala Bibi Marni datang memberitahukan akan waktu makan malam yang sudah siap. Dan seluruh anggota keluarga yang lain sudah berkumpul di meja makan.


"Ayo sayang kita makan malam. Bella ayo sepertinya mereka sudah menunggu kita." Belva mengajak kedua anaknya dan Bella untuk menuju meja makan.


Benar saja, Tuan dan Nyonya Hector serta Roichi sudah duduk siap di meja makan. Kegiatan makan malam mereka berlangsung dengan penuh kehangatan. Aksi cerewet Kaila lah yang membuat meja makan itu terdengar lebih hidup dan ramai. Hingga makan malam usai, aksi bocah cerewet yang cantik menggemaskan itu masih saja berlanjut.


"Nak, kami ingin bebicara denganmu. Ayo kita ke ruang keluarga." Ajak Tuan Hector pada Belva yang diikuti oleh semua anggota keluarga.


"Ada apa Pa ? Sepertinya ini penting sekali." Tanya Belva yang sudah penasaran sedari tadi.

__ADS_1


"Bella, tolong ajak anak-anak bermain di ruang bermain mereka ya." Perintah Nyonya Hector agar pembicaraan mereka tetap fokus. Terlebih hadirnya Kaila bisa saja memecahkan fokus.


"Baik Nyonya. Kaili... Kaila... Ayo kita bermain bersama aunty lagi." Ajak Bella yang langsung diikuti oleh Duo Kay tanpa hambatan.


Di ruang keluarga kini hanya ada Belva, pasangan Hector dan juga Roichi. Pembicaraan serius pun dimulai oleh Tuan Hector selaku kepala rumah tangga.


"Nak, kita sudah beberapa bulan di sini. Kamu tahu sendiri Papa masih harus mengurus perusahaan di Jerman, begitu pula Mamamu. Butik pasti membutuhkan salah satu diantara kalian. Jadi, minggu depan atau dua minggu lagi kita harus kembali ke sana Nak."


Belva sudah menelaah setiap ucapan Papanya. Memang benar mereka tidak bisa berlama-lama meninggalkan Jerman. Kehidupan mereka ada di sana.


"Tapi Pa, maaf sepertinya aku tidak bisa ikut kembali ke Jerman. Kalian tahu sendiri Budhe Rohimah masih berada di rumah sakit. Beberapa hari lagi dia sudah bisa kembali. Tidak mungkin begitu keluar dari rumah sakit, aku harus meninggalkannya."


"Lalu bagaimana keputusanmu sayang ? Apa kamu akan menyusul kami saja nanti ?" Tanya Nyonya Hector.


"Ma... Pa... Sepertinya aku akan menetap di Indonesia saja dan akan tinggal bersama Budhe Rohimah. Aku tidak ingin Budhe kembali bekerja di rumah itu lagi. Dia sudah terlalu tua untuk bekerja berat seperti itu."


"Kamu yakin sayang ?" Nyonya Hector kini merasa khawatir dengan putrinya itu. Bagaimana pun mereka tahu masa lalu Belva. Terakhir kali peristiwa percobaan penculikan itu saja belum bisa membuatnya tenang.


"Sangat yakin. Dan anak-anak juga sepertinya akan aku daftarkan sekolah di sini saja." Ucap Belva.


Keputusan yang ia ambil ini sudah dipikirkannya beberapa hari ini dengan matang. Saat rencana kepulangan Budhe Rohimah nanti Belva sudah dengan matang tidak akan membiarkan orang tua yang sangat disayanginya itu kembali ke rumah penuh kenangan kelam itu.


"Nak, coba pikirkan kembali. Keselamatanmu dan cucu-cucuku itu sangat penting. Bagaimana bisa kita tinggal terpisah seperti itu." Tuan Hector pun tak kalah khawatir. Belva dan anak-anak sudah dianggap bagian hidup dari pria berusia lanjut itu.


"Pa... Ma... Saat ini keluarg kandungku hanya Budhe Rohimah. Maaf bukan aku tak mau berbakti pada kebaikan Papa dan Mama. Tapi..." Belva sudah berkaca-kaca. Tak sanggup jika harus berpisah kembali dengan budhe Rohimah.


"Tuan... Nyonya... Kita tidak bisa memaksa Nona Vanthe untuk kembali bersama kita. Biarkan Nona tetap berada disini, bukankah Bella akan tetap menemani mereka selama di sini ? Di sini juga ada beberapa bodyguard yang bisa menjada Nona, tuan muda dan nona kecil."


Roichi yang sedari tadi diam menyimak pembicaraan kini ikut membuka suara mengemukakan pendapatnya. Dengan adanya Bella mereka pasti tidak akan putus kontak. Terlebih para bodyguard Tuan Hector pun juga ada untuk menjaga.


Tuan dan Nyonya Hector cukup berpikir mengenai pendapat Roichi. Ada benarnya juga, mereka tak bisa memaksa dan memisahkan Belva dengan keluarga kandungnya.


"Haah... Baiklah. Papa mengijinkanmu lagi pula kamu akan aman di rumah ini." Ucap Tuan Hector.


"Pa, sekali lagi vanthe minta maaf. Aku dan anak-anak tidak akan tingg di rumah ini. Tempat ini terlalu besar untuk kami."


Lagi-lagi Tuan Hector mendesah. Hidup dan mengenal beberapa tahun dengan Belva cukup membuatnya paham bagaimana sifat putri angkatnya. Perempuan itu selalu tak mau hidup dengan segala fasilitas yang dimilikinya. Itulah yang membuat keluarga Hector begitu menyayangi pribadi Belva.


"Lalu dimana kamu akan tinggal sayang ?" Nyonya Hector ambil suara.


"Nanti aku masih mencari tempat, Mama tahu aku tidak suka tinggal di rumah yang sangat besar jika hanya bersama anak-anak. Aku akan mencari rumah yang minimalis saja."


"Baiklah besok Mama akan menemanimu mencari rumah itu." Nyonya Hector yang juga sudah paham akan sifat Belva yang sederhana tak bisa berbuat apa-apa.


Kesepakatan diskusi keluarga sudah didapatkan. Kini mereka sudah kembali dengan aktivitas masing-masing. Tuan Hector dan Roichi yang membahas pekerjaan. Nyonya Hector dan Belva membahas rencana Belva yang akan dilakukan oleh Belva kedepannya. Hingga larut malam dan mereka beristirahat masing-masing.


Pagi menjelang, Belva sudah bersiap untuk mengantar kedua anaknya mengikuti les seperti biasa sebelum mendaftarkan keduanya masuk sekolah. Setelah itu Belva bersama Nyonya Hector kembali perputar untuk mencari sekolah yang sekiranya sesuai dengan kedua anaknya.


Sebuah sekolah yang cukup bonafit dan bertaraf internasional yang dipilih oleh Nyonya Hector. Wanita paruh baya itu ingin yang terbaik untuk pendidikan kedua cucunya. Ia sangat siap untuk membiayai pendidikan dua bocah cerdas itu.


"Ma, apa ini tidam terlalu berlebihan untuk mereka ?" Tanya Belva.


"Tidak sayang. Coba kamu pikirkan, ini untuk pendidikan mereka, tidak ada salahnya memberikan yang terbaik. Jangan turunkan standar pendidikan yang sudah mereka dapat sebelumnya di Jerman." Ucap Nyonya Hector tanpa bisa di debat lagi.


Belva mengangguk paham, iya... Semua demi pendidikan yang terbaik untuk Duo Kay. Meski harus mengeluarkan biaya yang cukup malah tapi selama ini mereka masih mampu. Jika di Jerman saja Duo Kay bisa bersekolah dengan nyaman dan fasilitas yang begitu baik kenapa di negaranya sendiri ia tidak bisa. Begitulah pikiran Belva saat ini.


Setalh berunding dan menanyakan beberapa hal di sekolah itu. Ternyata sekolah itu masih satu yayasan dengan sekolah Belva dulu. Seven Blue School, sekolah TK dan paud itu masih satu naungan dengan SMA nya dulu hanya saja letaknya yang berbeda.


Kesepakatan terjadi untuk menyekolahkan Duo Kay di Seven Blue School. Setelah kegiatan mencari sekolah untuk si kembar. Belva dan Nyonya Hector menuju rumah sakit. Memang rencana mereka harus segera dilakukan sedikit demi sedikit karena tak lama lagi Keluarga Hector akan berangkat ke Jerman. Sebelum keberangkatan, Nyonya Hector ingin semuanya selesai terlebih dahulu. Sehingga wanita paruh baya itu tidak akan merasa khawatir lagi akan kesulitan Belva dan anak-anak.


"Sayang, selama berada di sini tidak mungkin kan kamu hanya diam saja. Selain bekerja jarak jauh dengan butik Mama, apa tidak sebaiknya kamu membuka butik di sini. Mengembangkan kemampuan bisnismu tidak ada salahnya sayang." Saran Nyonya Hector.


"Itu juga sudah aku pikirkan Ma. Memang rencananya aku akan membuka butik di sini. Hanya saja aku harus mencari tempat tinggal yang dekat dengan butik dan juga sekolah anak-anak."


"Mama, akan membantumu sayang. Tenang saja. Sebelum Mama dan Papa berangkat semua urusanmu untuk tinggal di sini harus sudah beres semua agar kami tidak khawatir dengan kalian."


"Terimakasih sekali Ma. Mama adalah malaikat penolongku setelah kedua orang tuamu tiada." Belva begitu bersyukur akan kehadiran kedua orang tua angkatnya. Kini Belva sudah memeluk Nyonya Hector dengan sayang.


Nyonya Hector pun merasa beruntun dan bersyukur memiliki Belva disisa hidupnya yang sudah berusia lanjut. Memiliki Belva dan Duo Kay adalah anugerah baginya.

__ADS_1


__ADS_2