
Manusia dilahirkan dengan berbagai macam pembawaan. Wajah cantik, kecerdasan otak serta beberapa bakat yang sang maha agung berikan. Ada yang memang sudah terlihat dari awal ada pula yang perlahan muncul dan perlu dilatih dan diasah.
Mendapatkan kelebihan yang tak dimiliki oleh banyak anak di usia belia membuat Belva sebagai ibu tentu merasa sangat bersyukur. Banyak orang yang sudah mengenal anak-anaknya itu memberikan pujian selalu mampu membuat Belva tersenyum dan selalu merasa bersyukur.
Kelebihan yang dimiliki Kaila dan Kaili membuat beberapa orang memiliki keterkaitan untuk menarik mereka dalam dunia bisnis. Duo Kay setelah dilirik oleh brand terkenal di Indonesia kini salah satu diantara mereka dilirik oleh brand terkenal dunia Christina Diora. Suatu kesempatan yang langkah bagi anak seusia Kaila.
Janji temu yang telah disepakati kini telah mempertemukan mereka di sebuah gedung bertingkat tinggi. Belva dan Kaila yang didampingi oleh Satya dan Kaili pun telah sampai di tempat mereka bertemu. Satya sudah pasti tak akan membiarkan kedua bidadari nya pergi tanpa dirinya. Disisi lain Kaila yang masih kecil dan juga Belva yang tengah hamil muda, pria itu tak tega jika istrinya akan kerepotan nanti.
"Permisi, kami datang untuk bertemu dengan Nona Christina." Ucap Belva di depan meja resepsionis.
"Baik, Nona. Maaf dengan siapa? Agar saya bisa menyampaikan pada sekertaris Nona Christina." Ucap pegawai resepsionis.
"Belva Evanthe dan juga Kaila Kamala." Ucao Belva.
"Baik, mohon di tunggu sebentar, Nona."
Menunggu beberapa saat akhirnya pegawai resepsionis membawa Belva dan keluarga kecil itu menghadap ke ruangan pemilik brand dunia tersebut. Sambutan didapat dengan begitu baik oleh sekertaris Nona Christina.
"Silahkan masuk Tuan dan Nona." Ucap sang sekertaris cantik yang sempat mencuri pandang pada Satya.
Satya yang mendapatkan tatapan secara diam-diam itu bersikap acuh. Dia berjalan masuk di belakang Belva dengan menggendong Kaila. Kaili dituntun oleh Belva berjalan lebih dulu.
"Permisi Nona, selamat siang." Sapa Belva dengan ramah pada oemilik ruangan yang tak lain adalah Nona Christina.
"Selamat siang, Nona. Anda sudah datang." Ucap Nona Christina tersenyum. Seketika tatapan mata Nona Christina mengarah pada Satya dan Belva paham akan hal itu.
"Iya, Nona. Oh iya maaf perkenalkan ini suami saya. Maaf saya tidak mengabari anda jika saya dan putri saya akan didampingi oleh suaminya saya."
"Ah tidak masalah. Baiklah kalau begitu silahkan duduk."
"Terima kasih, Nona."
Belva dan Satya serta Duo Kay duduk di sofa di dalam ruangan Nona Christina. Satya memangku putrinya yang duduk anteng dipangkuan Satya. Sedangkan Kaili duduk di sofa sejak Belva hamil Duo Kay sudah diberikan pengertian bahwa mereka tidak boleh membuat Mami mereka kelelahan. Kaili sangat mengerti, bocah itu memilih duduk di sofa saja.
"Saya sangat merasa beruntung, kita bisa bertemu di sini. Jadi, saya tidak harus terbang ke Indonesia." Ucap Nona Christina terkekeh.
"Iya Nona anda benar. Jika saja anda tidak bisa ke Indonesia maka belum tentu juga saya bisa datang ke sini karena suami saya pasti tidak akan mengijinkannya hahaha." Balas Belva dengan kekehan.
Rupanya Nona Christina sosok perempuan yang ramah tidak heran jika Belva langsung begitu akrab dengan perempuan itu. Ini adalah pertemuan kedua mereka setelah menandatangani kontrak kerjasama mereka.
"Kenapa begitu?" Tanya Nona Christina menatap Belva dan sekilas menatap Satya.
Belva tersenyum, "Karena kehamilan yang masih baru jadi dia takut jika terjadi sesuatu." Ucap Belva.
"Anda hamil? Wah selamat kalau begitu. Saya iri dengan anda, Nona. Di usia muda anda sudah memiliki anak sedanfo saya sudah beberapa tahun menikah belum juga mendapatkan seorang anak." Ucap Nona Christina.
"Terima kasih, Nona. Mungkin yang di atas belum memberikan rejeki itu karena masih membiarkan Anda waktu untuk menjalani kebahagiaan berdua saja dengan suami Anda."
"Anda benar, Nona. Dibalik belum sempurnanya rumah tangga kami ada kebahagiaan tersendiri bagi kami. Oh iya mengenai kontrak kerjasama ini, sepertinya tiga bulan lagi akan ada fashion show khusus peluncuran produk baru. Jadi, saya berniat akan mengeluarkan beberapa rancangan khusus buatan dari Kaila." Ucap Nona Christina.
"Untuk kerjasama ini, saya tidak masalah. Asalkan dapat berjalan fleksibel karena anda tentu paham jika Kaila masih kecil tidak bisa bekerja se-kaku orang dewasa."
"Iya saya paham untuk itu saya menggunakan kesempatan keberadaan kalian di sini untuk membicarakan hal ini. Sekalian di sini ada suami anda juga jadi kita bisa merundingkan nya bersama." Ucap Nona Christina.
Merasa disrinya disinggung dalam pembahasan kontrak kerjasama putrinya maka Satya membuka suara untuk menyuarakan pendapatnya.
"Saya tidak masalah, toh kontrak kerjasama sudah terjalin. Patuhi saja poin-poin yang ada di kontrak kerjasama." Ujar Satya membuka suara.
"Baiklah jika sudah terjadi kesepakatan bersama. Saya selaku pimpinan di sini pasti akan mematuhi setiap poin dalam kontrak kerjasama. Karena waktu acara tiga bulan lagi mungkin Tuan dan Nona bisa membantu mengarahkan Kaila untuk memulai karyanya."
"Kami akan membantu untuk itu. Kaila masih kecil jadi dia akan memulai tugasnya sendiri tanpa diminta jika dalam keadaan suasana hati yang baik." Ujar Belva.
"Anak kecil memang seperti itu, kita tidak bisa memaksa mereka. Biarkan mereka berjalan sesuai kemauan mereka tapi kita sebagai orang dewasa harus menuntunnya. Saya tidak sabar ingin memperlihatkan karya desainer cilik ini." Ucap Nona Christina tersenyum menatap Kaila.
Dalam pertemuan ini Duo Kay tampak lebih tenang bila dibandingkan dengan pertemuan mereka bersama orang-orang sebelumnya. Mungkin karena mereka masih beradaptasi dengan orang baru. Pertemuan pertama Christina Diora dengan mereka pun tak sesantai saat mereka bertemu dengan Ivanka Elizabeth.
Pertemuan mereka masih terus membahas kontrak kerjasama antara Christina Diora dengan Kaila. Satya sesekali ikut dalam pembicaraan demi kebaikan sang putri. Nona Christina pun tak keberatan atas apa yang Satya kemukakan karena memang dalam pembahasan mereka membicarakan bagaimana baiknya kerjasama bersama seorang anak yang masih dibawah umur.
__ADS_1
Waktu terus berputar, esok harinya Satya dan Belva sudah harus kembali pulang ke Indonesia. Malam sebelumnya mereka sudah membahasnya bersama Tuan dan Nyonya Hector bahwa ada permasalahan yang harus segera mereka selesaikan. Mengingat adanya permasalahan di perusahaan Satya maka Tuan dan Nyonya Hector mengijinkan mereka untuk kembali ke Indonesia.
Di bandara mereka diantar oleh Tuan dan Nyonya Hector, Roichi dan juga pasangan pengantin baru Marko dan Azura. Untuk kali ini demi kenyamanan Belva yang tengah hamil muda maka Tuan Hector memberikan keputusan tegas bahwa keluarga kecil Satya harus pulang menggunakan pesawat pribadi perusahaan Hector Group.
"Hati-hati, sayang. Jaga kandunganmu jangan terlalu lelah." Pesan Nyonya Hector.
"Iya, Ma. Terima kasih selalu mengingatkan ku. Mama dan Papa juga jaga diri baik-baik. Segera hubungi Vanthe jika terjadi sesuatu."
Belva kini berpelukan dengan Tuan dan Nyonya Hector secara bergantian untuk berpamitan.
"Hati-hati, Nak." Ucap Tuan Hector.
Belva kini berpelukan dengan Azura. "Hati-hati Van, aku akan datang saat hari kelahiran bayimu." Ucap Azura.
"Terima kasih sudah megantar kami, Zura. Aku pun menunggu kabar bahagia darimu dan Marko." Ujar Belva.
Azura tersenyum pada Belva serta mengangguk. Marko pun memeluk bwlva sesaat. Pria itu bersikap cuek dihadapan Satya dan Roichi, dia tak perduli dengan tatapan tajam kedua pria itu. Begitulah sosok Marko, sedangkan Azura merasa tak masalah karena ia tahu bagaimana perasaan dan rasa cinta sang suami padanya. Bersama Belva hanya sekedar sahabt dan saudara perempuan saja.
"Hati-hati, kabari aku jika terjadi sesuatu padamu. Aku dan istriku akan datang untukmu dan si kembar." Ucap Marko.
"Terima kasih, Marko. Aku titip pesan untuk menjaga Azura dan berikan kabar bahagia untukku dan si kembar." Ujar Belva.
"Baiklah. Aku ingat pesanmu, segera akan kukabulkan hahhaha." Ucap Marko.
"Hati-hati, Kak. Jaga Vanthe awas jika kamu menyakitinya aku tidak akan mengampunimu." Ucap Marko pada Satya seraya memeluk Satya.
"Saya tidak mungkin menyakiti istri paket komplit seperti sahabat mu itu, kamu tenang saja." Ujar Satya menepuk punggung Marko.
"Lain kali jangan peluk-peluk lagi istri saya." Ujar Satya diakhiri pelukan mereka.
Marko hanya tertawa sinis seraya mengejek santai pada Satya. Dia tak perduli dengan ucapan Satya yang diketahuinya tengah kesal padanya.
"Hati-hati, Van. Aku akan menyusulmu nanti." Ucao Roichi. Rasanya dia ingin memeluk Belva seperti biasa saat mereka berpisah tapi kini dirinya tak bisa lagi melakukan hal itu karena Satya menatap tajam pada dirinya saat berbicara pada Belva.
Selain itu Roichi pun sadar diri jika Belva adalah istri orang lain saat ini. Jika duku Satya yang berpikir bahwa Belva adalah istri Roichi tapi sekarang berkebalikan.
"Oke Om, aku menunggumu kedatanganmu pasti Bella senang dengan kedatanganmu." Ujar Belva tersenyum.
"Hati-hati, jaga istri dan anak-anak mu dengan baik." Ujar Roichi.
"Jika tidak aku yang akan menjaga mereka jauh lebih baik darimu." Sambung Roichi dalam hatinya.
"Tentu, terima kasih." Ucap Satya.
"Oma... Opa... Kita pulang dulu ya." Pamit Kaila.
"Iya sayang, hati-hati ya." Ucao Nyonya Hector. Dan Kaili mengangguk seraya memeluk Nyonya Hector.
"Opa... Oma... Besok Kaila, Kaili, Mami dan Daddy akan pulang ke sini lagi nanti sama adik bayi juga." Ucap Kaila yang membuat semua orang yang ada di sana tersenyum.
Senyum terbit dari bibir Roichi tapi terlihat sedikit berbeda. Dia tersenyum miris karena rasa cintanya pada Belva tak sampai dan harus terdahului oleh Satya.
Aksi pamitan itu telah usai, keluarga kecil Satya telah masuk ke dalam pesawat dan sebentar lagi akan lepas landas. Perjalan panjang akan mereka tempuh, pesawat itu memiliki fasilitas byang sangat baik dan memadai untuk mereka yang berada di dalamnya.
"Sayang, tidurlah jika lelah." Ucap Satya pada istrinya.
"Iya, mas. Anak-anak kalian juga nanti tidurlah jika merasa mengantuk hemm." Ucap Belva.
"Oke, Mi." Jawab Kaili.
"Mami, aku mau menggambar boleh?" Tanya Kaila.
"Boleh, tapi nanti jika sudah lepas landas." Jawab Belva.
Perlahan sesuai jadwal penerbangan pesawat itu mengudara semakin lama semakin tinggi jaub dari permukaan bumi beribu-ribu bahkan mungkin berjuta-juta meter. Hanya awan putih saja yang mereka lihat sebagai pemandangan.
Aktivitas seperti biasa Duo Kay lakukan di dalam pesawat seperti menggambar dan bermain. Tentu bukan permainan yang mengharuskan mereka berlari-lari di dalam pesawat. Jika saat lepas landas tadi Satya tampak baik-baik saja berbeda dengan saat ini wajahnya tampak sedikit pucat.
__ADS_1
"Mas, kami baik-baik saja?" Tanya Belva.
"Iya mas baik-baik saja." Jawab Satya dengan menahan diri.
"Wajahmu pucat, katakan jika kamu sakit, mas."
"Huek... Hmmpp..." Satya langsung berlari ke dalam toilet.
Belva menyusul suaminya ke dalam toilet, ia tahu pasti suaminya merasakan mual kembali. Bukan Satya seperti biasanya, menaiki pesawat sudah menjadi kebiasaannya dalam melakukan perjalanan bisnis tapi kali ini rasanya mual sekali.
"Huek!!! Huek!!"
Satya memuntahkan isi perutnya, otot-otot perutnya terasa tertarik saat dia mencoba mengeluarkan semuanya. Belva setia memijat tengkuk suaminya agar Satya merasa lebih baik. Ia pun menuntun suaminya untuk kembali duduk ke kursi mereka tadi.
"Pusing?" Tanya Belva.
Satya mengangguk, "Perut mas mual, kepala juga pusing."
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" Sapa pramugari cantik yang bertugas di dalam pesawat pribadi Tuan Hector.
"Suami saya mual dan pusing, Nona."
"Mabuk udara? Sebentar saya akan membuatkan minuman pereda mual, mohon ditunggu sebentar Nyonya... Tuan..."
Belva mengangguk, pramugari cantik itu berlalu ke bagian dapur pesawat untuk menyiapkan apa yang dibutuhkan untuk meredakan mual penumpangnya.
"Mas, sering mabuk udara?" Tanya Belva.
Mabuk udara? Bahkan hampir setiap saat Satya menumpangi alat transportasi itu bagaimana bisa dirinya mabuk udara.
"Mas bahkan hampir setiap saat menaiki pesawat, yank tapi mas baik-baik saja." Ujar Satya lemah.
Satya mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut perut sang istri, dia memejamkan mata menikmati usapan demi usapan dari tangannya yang ditujukan pada calon buah hatinya. Rasanya lebih nyaman dan lebih tenang.
"Sepertinya ini karena dia, yank. Mas, merasa lebih baik saat mengusapnya."
"Hah? Maksudnya mas sudah tidak mual lagi?"
"Iya, mas sudah lebih baik hanya masih sedikit pusing saja. Sini lebih dekat lagi." Pinta Satya.
"Mami, Daddy kenapa? Sakit lagi?" Tanya Kaili.
Belva menoleh pada putranya, "Tidak sayang, Daddy baik-baik saja kamu tenang saja."
"Oh oke, kalau Daddy sakit kita harus bawa ke rumah sakit segera buat cepat sembuh." Ujar Kaili kembali.
"Iya, sayang." Belva tersenyum.
Satya tak mampu berbicara banyak yang dia rasakan saat ini hanya ingin mengusap sang calon buah hati demi meredakan rasa mualnya.
Kaili kembali bermain bersama Kaila. Seorang pramugari cantik yang tadi menghampirinya mereka kini datang kembali dengan membawa secangkir teh jahe untuk Satya.
"Ini, Nyonya. Semoga segera membaik." Ucap pramugari tersebut.
"Terima kasih, Nona." Ucap Belva.
"Sama-sama, saya permisi."
Begitu pramugari itu pergi, Belva langsung memberikan secangkir minuman itu pada Satya. Perlahan Satya meminum dan kembali merebahkan kepalanya di sandaran kursi, tangannya masih saja mengelus lembut perut Belva. Belva memahami keadaan suaminya saat ini, dengan romantisnya Belva membalas usapan lembut Satya dengan mengecup kening suaminya. Rasa cinta bva pada suaminya semakin hari pun semakin bertambah, kebaikan dan perhatian Satya padanya dan anak-anak mampu membuat Belva jatuh semakin dalam pada sosok suaminya itu. Belva selalu berharap semua akan sama seperti itu hingga mereka menua bersama.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Thanks buat support kalian sampai saat ini, buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian yang sangat berarti buat author 🙏🙏🙏
__ADS_1
Sepertinya bulan ini gk bisa dapat view sampai 1jt 😅😅😅 tapi terimakasih banyak kalian tetap support author udah seneng. Semoga kebaikan kalian terbalaskan nanti.
Sehat selalu, bahagia selalu dan semangaaatt yess 😁🙏🙏