
Mereka yang tengah membuat tontonan gratis di pusat perbelanjaan itu pada akhirnya kini berada di satu ruangan tertutup yakni ruang keamanan. Sungguh betapa malunya Sonia dan Alya diarak oleh dua orang satpam di tengah ramainya pengunjung.
Dalam hati Sonia dan Alya mengumpat tak terima atas apa yang terjadi pada mereka saat ini. Mereka menyalahkan Belva atas kejadian memalukan ini. Bahkan saat perkelahian di depan toilet tadi sudah pasti ada yang merekam mereka.
Roichi tetap tenang merangkul Belva dalam perjalanan menuju ruang keamanan. Serta beberapa orang saksi mata. Jelas saja proses interogasi akan dilakukan saat itu juga karena telah membuat onar yang menarik perhatian publik.
Beberapa saksi mengatakan jika memang awal mula terjadi karena Alya yang memulai hingga Belva membalas dan semakin di perpanas oleh kehadiran Sonia. Bahkan ujaran kebencian yang dilakukan oleh Sonia pada Belva pun tak luput dari penjelasan saksi mata.
"Baik terima kasih atas penjelasan anda Nona-Nona. Sekarang disini saya rasa Nona Vanthe dan juga Nona Alya sama-sama korban. Jadi, kalau menurut saya kita selesaikan saja secara kekeluargaan." Ucap kepala Satpam.
"Tidak... Saya akan melaporkan kejadian ini atas tuduhan penganiayaan." Ucap Sonia. Ia masih belum terima atas perlakuan Belva pada mereka.
"Kalau seperti itu silahkan, itu hak anda Nyonya. Tapi saya sarankan lebih baik diselesaikan secara kekeluargaan saja. Akan lebih mudah dan lebih cepat selesai." Satpam kembali menanggapi.
"Baik mari kita selesaikan di kantor polisi saja Nyonya." Ucap Roichi dengan tegas dan tenang.
Mata Belva menatap Roichi ada rasa cemas, ia takut jika nantinya dirinyalah yang akan kalah sebab luka Alya lebih berat daripada dirinya. Tatapan cemas itu bisa ditangkap oleh Roichi dan juga Sonia maupun Alya.
Tapi berbeda dengan Roichi, dia tak takut. Meski Belva sudah melukai Alya jikapun masalah ini sampai pada kepolisian. Roichi, pria itu tak akan membiarkan anak majikannya kalah begitu saja. Sonia dan Alya belum paham rupanya dengan orang yang sedang mereka hadapi saat ini.
"Baik, kalau begitu jika kalian sama-sama sepakat untuk menyelesaikan di kantor polisi. Silahkan kalian buat laporan di sana. Saya harap kejadian ini tidak lagi terjadi di sini Tuan dan Nyonya."
"Baik Pak, terima kasih atas bantuan anda. Kami permisi dulu." Ucap Roichi.
Pria itu berdiri dengan meraih lengan Belva. Wanita itu menurut perasaannya semakin kacau sebenarnya tapi ia berusaha tetap diam dan tenang.
"Nyonya, saya tunggu anda di tempat parkir. Mari kita sama-sama ke kantor polisi." Ucap Roichi.
Tatapan Roichi pada kedua wanita yang menjadi musuh Belva itu tetap datar. Tapi Alya menangkap senyum tipis yang menunjukkan seringai menakutkan.
"Dengan bukti luka-lukaku, aku melihat perempuan kampung itu ketakutan. Tapi kenapa pria itu justru tak takut sama sekali jika istrinya masuk penjara ?" Batin Alya bertanya-tanya.
Belva dan Roichi sampai terlebih dahulu di parkiran. Mereka tak langsung masuk mobil melainkan menunggu di pintu menuju parkiran. Tak lama Sonia dan Alya pun akhirnya tampak batang hidung mereka.
Mereka berempat masuk ke dalam mobil masing-masing. Tujuan mereka sama yakni ke kantor polisi. Mereka akan sama-sama membuat laporan disana.
Bella dan Duo Kay ? Mereka bertiga sudah pulang terlebih dahulu saat perkelahian itu terjadi. Saat itu Bella pun hendak ke toilet yang sama dengan Belva. Melihat Belva sedang beradu debat dengan Sonia, ia lebih memilih mengurungkan niat untuk ke toilet. Gadis itu kembali ke mejanya, mengingat adanya Roichi akan lebih baik Ayahnya itu yang mengurusnya.
Tanpa tahu apa-apa Duo Kay diajak pulang terlebih dahulu dengan alasan sang ibu sedang bertemu dengan klien mendadak. Du bocah itu menurut saja karena memang sedari dulu pun terbiasa jika Mami mereka bekerja.
Mereka telah membuat laporan masing-masing di kantor polisi tersebut. Roichi sedari tadi menenangkan Belva agar tak khawatir akan hal ini. Ini hanya sebagian kecil permasalahan yang harus dihadapi Belva. Sempat Belva kesal karena hal ini dianggap masalah kecil begi Roichi.
Waktu yang tepat sesaat setelah saling membuat laporan. Alya pergi keluar disusul oleh Roichi. Gadis itu tak menyadari jika dirinya diikuti oleh Roichi. Dia tertawa puas saat menerima teleponnya bercerita jika dirinya puas sebentar lagi akan membuat Belva mendekam di penjara. Roichi merasa geram dengan putri rekan kerjanya itu. Dia tak menyangka jika ternyata keluarga dari rekan kerjanya yang dipandang sebagai keluarga terhormat nyatanya bersikap hina seperti itu.
"Hhhaa astaga !!" Pekik Alya. Ia terkejut sudah ada Roichi di belakangnya.
"Terkejut ? Apa anda akan lebih terkejut lagi saat saya menunjukkan ini pada anda ?" Tanya Roichi. Pria itu sibuk mengotak-atik ponselnya.
Mata Alya membelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya pada ponsel Roichi. Seakan beku dan mulutnya sulit untuk berbicara kini Alya masih terdiam dengan wajah terkejutnya.
Roichi, dia tersenyum sinis melihat ekspresi Alya saat ini. Tawa yang tadi pecah saat sesumbar akan berhasil menjebloskan Belva ke dalam penjara pun kini hilang tak tersisa.
"Tertawa lah Nona seperti tadi kamu tertawa lepas dan bahagia. Jangan tunjukkan ekspresi seperti itu. Kamu pastikan sendiri siapa yang akan mendekam dibalik jeruji besi itu nanti." Senyum sinis itu Roichi tunjukkan secara terang-terangan dihadapan Alya lalu berlalu.
"Oh ya... Dan saya rasa Tuan Satya pun harus turun tangan bukan dengan permasalahan ini ?" Ucap Roichi kembali sebelum benar-benar meninggalkan gadis licik itu.
Alya semakin panik saat ini kala nama Satya pun disebut oleh Roichi. Ayahnya itu memang akan turun tangan jika permasalahan ini sampai diketahuinya. Ia melihat punggung Roichi yang semakin menjauh darinya tanpa bisa suaranya keluar memanggil pria itu untuk berhenti.
Napas Alya sudah tak bisa tertarik secara normal lagi, helaan napas yang lembut dan teratur itu kini berubah sedikit lebih cepat. Napas kepanikan atas permasalahan yang bisa dipastikan menghancurkan kehidupan nya.
"Tidak... Tidak... Ini tidak boleh terjadi. Kenapa pria itu bisa mengetahuinya ?" Gumam Alya lirih.
"Bagaimana ini ? Aku harus bicara apa pada Mommy." Alya panik sendiri.
Rasanya ingin tenggelam saja di dasar laut agar tak menghadapi masalah yang baginya sangat besar. Kedua orang tuanya yang sibuk dengan dunia mereka sendiri mana tahu dengan semua yang Alya lakukan. Jika Satya mengetahui hal ini pasti akan marah besar hingga akhirnya sang Mommy pun akan marah padanya. Ia sangat tahu bagaimana watak Daddy nya itu.
"Oke... Tenang Alya. Pulang ya pulang sekarang." Gumam Alya.
Gadis itu berjalan dengan langkah yang cepat untuk menghampiri Mommy nya. Disana masih ada Belva dan juga Roichi yang tengah duduk tenang. Roichi melirik Alya yang sudah menunjukkan gelagat tak tenang.
"Cih jangan pernah main-main padaku Nona. Kamu salah memilih lawan." Batin Roichi mencibir Alya.
"Mom, ayo kita pulang." Ajak Alya.
"Hah ? Pulang bagaimana ? Kita belum selesai Alya." Ucap Sonia bingung.
"Sudah lah ayo pulang saja." Rengek Alya.
"Diam kamu Alya. Apa-apaan kamu huh ?!" Bentak Alya dengan nada lirih, mengeratkan gigi depannya agar tak terbuka saat berbicara. Alya merengek meminta pulang membuat Sonia kesal.
Roichi dan Belva pulang lebih awal karena laporan mereka sudah selesai. Sedangkan Sonia dan Alya masih dalam proses tanya jawab. Sepasang pria dan wanita itu melenggang pergi tanpa menyapa Alya dan Sonia. Hanya saja tatapan Roichi saat ini menatap tajam pada Alya sebelum keluar ruangan.
Di dalam mobil Belva menghela napas lelah. Keputusannya untuk melawan Sonia dan Alya mengapa justru berujung pada urusan hukum. Apa keputusannya salah untuk melawan Alya dan Sonia ? Pikir Belva.
"Kenapa ?" Tanya Roichi. Ia tahu saat ini Belva sedang memikirkan masalah yang baru saja terjadi.
"Apa aku salah melawan mereka ? Kenapa harus berurusan dengan polisi seperti ini." Ucap Belva lirih.
"Vanthe... Sudahlah. Jangan lemah hanya karena berurusan dengan hukum. Kamu membela diri tidak ada yang salah dengan itu. Justru saya mendukungmu, saya rasa mereka sudah keterlaluan padamu. Rasa toleransi mu pada mereka sudah cukup Vanthe."
"Tapi aku melukainya Om. Pasti aku juga salah di mata hukum."
"Kamu lupa saat ini sedang bersama siapa ? Denganku dengan keluarga Hector, Vanthe. Kami tidak akan membiarkanmu melewati ini sendiri. Menjadi bagian dari keluarga Hector harus kuat dan berani. Papamu dan Mama mu mereka hanya sendiri jika kamu lupa. Tapi mereka meneguhkan diri untuk menjadi orang yang kuat dan berani hingga mereka bisa menjadi orang yang besar seperti saat ini."
Memang jika kita takut dalam melangkah, lemah dalam perjalanan pasti kita akan kalah dengan mereka yang lebih kuat dan berani. Bukan tanpa alasan Belva masih memiliki rasa takut dalam perjalan hidupnya. Apalagi berhadapan dengan Alya dan Sonia yang notabene adalah mantan majikannya dulu. Berurusan dengan hukum jika melawan orang yang status sosialnya lebih tinggi dengan harta melimpah sudah bisa dipastika orang-orang kecil akan kalah.
Sikap seperti itu masih melekat dalam diri Belva, dimana dirinya memang bukan orang kaya dengan status sosial yang tidak tinggi. Belva lupa jika dirinya sudah menjadi bagian dari keluarga Hector dalam permasalahan seperti ini. Meski menjadi bagian dari keluarga Hector, wanita itu tak bisa melupakan dari mana dirinya berasal. Ia tak ingin menjadi seseorang yang sombong dan melupakan status darimana dirinya berasal.
Belva mengela napas atas kalimat panjang dari Roichi. Menjadi bagian keluarga Hector itu berarti dirinya memiliki hak untuk melindungi harga diri nama besar Hector. Apa yang dilakukan Sonia dan Alya kepada dirinya bisa saja menginjak harga diri keluarga Hector. Memperlakukan bagian dari keluarga yang memiliki nama besar itu dengan tindakan yang memang bisa menjerat mereka dalam hukum.
****
__ADS_1
Untuk permasalahan itu Belva percayakan pada Roichi yang lebih paham. Malang melintang di dunia bisnis tentu sudah pasti juga berkaitan dengan segala macam urusan hukum. Setiap surat kontrak dan legalitas dalam bisnis yang dikelola saat ini bersama Tuan Hector tentu melibatkan hukum dalam pengukuhannya.
Saat ini Belva hanya harus fokus mengelola butik dan anak-anaknya saja bersama Bella. Ia harus lebih pintar mengatur emosi dan pikirannya. Masih banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan nya di butik. Selama masalah ini menghampiri dirinya membuat pekerjaanmya sedikit terbengkalai.
"Nona, ada customer yang ingin bertemu dengan anda untuk konsultasi desain."
"Oke Bella, aku akan turun ke ruangan mu sebentat lagi."
Dibereskan meja kerjanya yang penuh dengan kertas berisi gambar-gambar sketsa gaun. Ia turun ke ruangan Bella dengan langkah yang ringan.
Customer yang tengah menanti dirinya itu tersenyum tulus pada Belva. Dalam beberapa hari terakhir banyak dari mereka yang ingin bertemu langsung dengan Belva. Kabar yang beredar justru di satu sisi membuat mereka penasaran akan sosok seperti apa yang berhasil membuat Nyonya Balakosa meradang.
Pertemuan untuk pertama kali dengan pemilik Evankay boutique ini memberikan kesan yang sangat baik. Tidak terlihat sikap buruk sama sekali dari Belva. Sikap lembut, ramah dan sopan itu dirasakan oleh customer butik itu.
"Terima kasih Nona, saya merasa nyaman dan tidak salah memilih butik ini."
"Sama-sama Nyonya. Saya merasa senang jika anda merasa seperti itu. Kami akan berusaha keras untuk membantu anda mewujudkan pakaian yang Anda inginkan." Ucap Belva.
"Baik kalau begitu saya permisi dulu. Mari Nona Vanthe dan Nona Bella."
"Silahkan Nyonya. Mari saya antar sampai depan." Ucap Belva.
Hal yang selalu dilakukan oleh Belva dan Bella sebagai rasa hormat mereka pada customer mereka. Dan sudah pasti para pengunjung itu pun merasa dihargai dan diperlakukan istimewa di butik itu. Itu salah satu kelebihan dari Evankay boutique.
"Bersiaplah Nona, akhir-akhir ini banyak sekali customer yang ingin bertemu dengan Anda."
"Iya Bella. Terima kasih sudah membantuku menghandle butik."
"Sudah tugas saya Nona. Tetap semangat sehabis hujan pasti akan ada pelangi. Seperti inilah yang kita dapatkan setelah gosip itu beredar. Anggap saja wanita-wanita jahat itu membantu mempromosikan butik kita." Ucap Bella tertawa.
Belva pun tertawa dengan ucapan Bella. Memang ada benarnya juga meski sempat down dengan beberapa customer yang batal memesan tapi kini mulai meningkat kembali selain dari usaha yang dilakukan Bella dan Belva untuk mempertahankan butik. Gosip yang beredar justru secara tidak langsung mengangkat nama butik Belva.
Saat ini Duo Kay sedang sibuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Sesuai dengan pesan Mami dan aunty nya jika mereka tidak boleh mendengarkan kata-kata orang lain yang menjatuhkan mereka. Mereka tidak nakal dan juga harus selalu menceritakan apa saja yang terjadi di sekolah. Hal itu dilakukan demi memantau kondisi Duo Kay.
Hari ini adalah jadwal modelling class. Selalu dengan pakaian terbaik yang mereka kenakan. Buatan Belva dan Kaila sendiri, tak jarang Farel dan Donny juga meminta pada Mama mereka agar Mami Kaila mau membuatkan pakaian untuk mereka.
Dalam kegiatan modelling kali ini, pihak sekolah kedatangan model profesional serta fashion desainer. Entah, mungkin mereka adalah sebuah bentukan organisasi dalam dunia modelling.
Dari sekian banyak anak-anak yang mengikuti kelas tersebut ada beberapa anak yang menjadi perhatian mereka. Diantaranya adalah Duo Kay.
"Maaf Miss... Anak yang mengenakan pakaian warna pink itu apakah memang pernah mengikuti perlombaan modelling ?"
"Ohh itu, sepertinya belum pernah. Ada apa Nona ?" Tanya Guru.
"Sikap dan gayanya sudah terlihat mahir dan lincah. Wajahnya juga cantik."
"Iya Nona memang anak itu menyukai dunia fashion. Mamanya juga pemilik butik jadi tidak heran jika penampilan nya sangat menarik."
"Siapa namanya ?" Tanya wanita mudah dan cantik itu.
"Namanya Kaila, dia memiliki kembaran. Itu yang memakai pakaian warna abu-abu." Tunjuk guru Duo Kay.
Wanita itu tersenyum. "Saya juga baru saja ingin menanyakannya. Pantas wajah mereka memang mirip. Yang laki-laki namanya siapa ?"
"Emm... Oke. Saya tertarik dengan mereka. Apa saya bisa bertemu dengan mereka nanti ? Atau kalau bisa dengan orang tuanya juga."
"Bisa Nona, tapi jika bertemu dengan orang tua mereka bisa nanti saat kegiatan sekolah usai."
"Oke. Kalau begitu saya ingin bertemu dengan mereka terlebih dahulu."
"Baik Nona." Ucap guru.
Saat modelling class usai, Duo Kay dipanggil oleh guru kelas mereka. Keduanya dituntun untuk masuk ke dalam ruang guru. Disana sudah ada model cantik dan fashion desainer yang sedari tadi mengamati kegiatan para anak kecil tersebut.
"Kaila... Kaili... Bagaimana kegiatan hari ini menyenangkan ?" Tanya miss mereka.
"Menyenangkan Miss... Kan ada modelling class." Jawab Kaila antusias. Kaili mengangguk setuju dengan jawaban Kaila.
"Kalian menyukai kegiatan ini ?" Tanya model cantik itu.
"Iya." Jawab Kaili singkat.
"Baju kita yang buat Mami loh sama aku juga tapi." Jawab Kaila.
"Oh yaa ? Sama dong dengan aunty. Aunty juga suka buat baju." Fashion desainer cantik itu juga ikut menimpali.
"Wah sama dong seperti Mami dan aku." Jawab Kaila.
"Memang Kaila bisa buat baju juga ?"
"Kaila suka bantu Mami gambar baju yang dipesan orang-orang." Jawab Kaili.
"Apakah itu benar Miss ?" Tanya fashion desainer.
"Kalau untuk itu kami kurang memahami nya Nona. Mungkin anda bisa berbincang langsung dengan orang tua mereka. Tapi setahu saya memang Kaila mengikuti kelas fashion desainer di luar sekolah."
Model cantik Luna Catherine dan fashion desainer Ivanka Elizabeth, keduanya tersenyum. Mereka bisa melihat memang dari penampilan dua bocah itu bukan anak-anak seperti biasa.
Karena rasa ketertarikan mereka maka, Ivanka Elizabeth memutuskan untuk bertemu dengan orang tua Duo Kay melalui undangan yang akan disampaikan oleh pihak sekolah. Hal itu dilakukan demi menghormati pihak sekolah sebagai wadah bagi anak-anak dalam belajar dan mengembangkan bakat.
Duo Kay sudah dijemput oleh Bella, karena Belva sedang bertemu dengan customer yang ingin bertemu langsung dengan nya. Benar kata-kata Bella jika dirinya harus menyimpan banyak tenaga untuk menyambut dan melayani mereka.
Karena tidak adanya budhe Rohimah maka Duo Kay akan berada di butik setelah pulang sekolah. Sebelumnya Belva juga sudah memerintahkan Bella untuk menambahkan beberapa perabotan seperti ranjang, lemari dan beberapa barang yang lain. Untung saja dulu Roichi sudah memprediksi hal itu. Jika Belva akan membutuhkan tempat khusus bagi dirinya.
"Hai sayang, maaf ya mami tidak menjemputnya kalian tadi." Ucao Belva dengan sesal.
"It's oke Mami. Aunty bilang Mami banyak tamu yang pesan baju ke Mami." Ucap Kaila.
"Iya sayang. Jadi tidak bisa jemput kalian. Bagaimana tadi kegiatan di sekolah ?"
"Menyenangkan, tadi kita di tanya-tanya sama aunty cantik-cantik." Ucap Kaila.
__ADS_1
Belva penasaran siapa yang dimaksud oleh Kaila. "Siapa sayang ? Mereka tidak membuat kalian menangis kan ?"
"No Mami. Di sekolah tidak ada yang nakal." Ucap Kaili.
"Tadi, kata aunty nya kalau dia juga suka buat baju sama seperti Mami sama juga seperti Kaila."
Perbincangan di sela-sela kesibukan Belva itu masih terus berlanjut. Meski sibuk jika ada waktu kosong sedikit saja pasti digunakannya untuk mengobrol dengan anak-anaknya.
Perannya sebagai seorang ibu tidak akan pernah tergeser meski dirinya sibuk bekerja. Meski sulit tapi Belva harus berusaha semaksimal mungkin. Siapa lagi jika bukan dengan dirinya, kedua anak itu berbagi cerita. Orang yang paling dekat dan orang tua satu-satunya saat ini hanyalah Belva.
Beberapa hari kemudian, benar adanya pihak sekolah memberikan undangan pada Belva unruk bertemu dengan fashion desainer di sebuah tempat yang tak jauh dari sekolah Duo Kay.
Belva bertemu dengan membawa Duo Kay bersamanya. Sempat merasa aneh mengapa pertemuan dari pihak sekolah dilakukan di sebuah cafe. Tapi untuk menghargai undangan itu Belva tetap datang.
Cafe yang di datangi bukan cafe sembarangan melainkan cafe mewah yang biasa didatangi oleh orang-orang dengan kalangan elit.
"Selamat datang Nona. Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu ?" Sapa pelayan dengan ramah.
"Oh iya selamat siang. Saya ingin bertemu dengan seseorang disini."
"Bisa saya tahu dengan siapa anda bertemu ? Barangkali sudah reservasi meja sebelumnya."
"Oh iya saya ingin bertemu dengan Nona Ivanka Elizabeth." Ucao Belva.
"Baiklah. Mari ikut saya Nona. Beliau sudah menunggu beberapa menit yang lalu." Ucap pelayan.
Belva dan Duo Kay mengikuti langkah kaki pelayan tersebut. Ternyata pertemuan dilakukan di sebuah ruangan tertutup. Ruangan VIP yang dikhususkan untuk orang-orang tertentu. Yang pasti ruangan tersebut bertarif sangat mahal untuk mendapatkan meja itu. Jika meja di luar saja sudah banyak dipenuhi oleh orang-orang yang berduit apalagi ruangan itu pasti sudah bisa ditebak mereka adalah orang yang lebih berani mengeluarkan uang dalam jumlah besar.
"Silahkan masuk Nona. Saya permisi dulu."
"Terima kasih sudah mengantar." Jawab Belva.
Belva masuk dengan Duo Kay saat pelayanan tersebut pergi meninggalkannya. Masih dengan menunjukkan rasa sopan nya Belva mengetuk terlebih dahulu pintu itu. Tak lama pintu dibuka oleh seorang wanita cantik.
"Apa ini dengan Nona Belva ?" Tanya wanita tersebut.
"Benar Nona. Saya datang kesini karena ada pertemuan dengan Nona Ivanka Elizabeth."
"Masuklah. Hai... Anak-anak manis." Sapa wanita tersebut yang tak lain adalah Ivanka.
"Hai aunty."
"Mari duduk. Perkenalkan saya Ivanka Elizabeth." Uluran tangan itu tertuju pada Belva.
"Ah iya Nona, saya Belva orang tua Kaila dan Kaili. saya tak menyangka jika yang membuka pintu untuk kami adalah anda sendiri." Ucap Belva tersenyum.
"Tidak masalah Nona, hanya membuka pintu saja. Saya juga tak menyangka jika ibu dari Kaila dan Kaili masih sangat muda dan cantik." Ivanka tersenyum.
Memang benar adanya jika Ivanka tak menyangka, menurut pikirannya orang tua Duo Kay memang masih muda tapi tak semuda Belva.
"Terima kasih sudah memenuhi undangan pertemuan ini Nona. Saya sangat terkesan dan tertarik dengan anak-anak anda ketika saya dan teman-teman datang ke sekolah melihat kegiatan sekolah modelling mereka."
"Terima kasih, tapi apa yang membuat anda merasa tertarik dengan anak-anak saya Nona hingga melakukan pertemuan ini ?" Tanya Belva yang sudah penasaran.
"Baiklah, saya tak ingin berbasa-basi Nona. Saya melihat potensi dari mereka, gerak dan gaya mereka dalam kegiatan modelling sungguh menarik hati saya, mereka terlihat sudah cukup luwes dalam melakukan nya."
"Saya juga mendengar jika Kaila mengikuti kelas tambahan di bidang fashion desainer. Apakah itu benar Nona ?" Tanya Ivanka memastikan lebih dalam.
"Saya hanya mengarahkan mereka saja untuk melakukan kegiatan positif. Karena mereka berada dilingkungan yang saya rasa berkaitan dengan bidang fashion. Dan untuk Kaila memang benar saya memasukkannya ke kelas tambah tersebut sesuai dengan keinginannya." Ucap Belva.
"Kaila dan Kaili bercerita jika Kaila sering membantu anda untuk mendesain gaun. Saya sungguh awalnya tak percaya, karena dilihat usia Kaila masih kecil. Bahkan saya sendiri belajar fashion desainer di usia yang sudah menginjak SMA. Apa saya bisa melihat hasil dari karya Kaila ?"
Perbincangan yang cukup panjang dan menarik bagi mereka terkhusus bagi Ivanka Elizabeth itu terus berlanjut. Hingga keinginan sang fashion desainer untuk merekrut Duo Kay sebagai model cilik di brand miliknya Ivelloth. Sebuah brand terkenal yang sudah merambah dunia internasional.
Belva memang sebelumnya tak percaya dan tak menyangka jika ia bisa bertemu dengan fashion desainer terkenal seperti Ivanka Elizabeth. Dan ia semakin terkejut jika pemilik brand ternama itu ingin merekrut anak-anaknya untuk menjadi model cilik bagi brand tersebut.
"Anda yakin Nona ? Ini sungguh mengejutkan bagi saya. Tapi mereka masih kecil saya takut jika menjadi model di brand terkenal milik anda itu akan mengganggu waktu dan kehidupan pribadi mereka." Belva mengungkapkan apa yang dirasakannya.
"Ini kesempatan yang bagus Nona untuk mengembangkan bakat dan minat mereka. Kami paham bagaimana memperlakukan anggota kami terlebih usia mereka masih sangat kecil. Tentu kami juga akan membantu melindungi mereka agar tetap nyaman seperti biasanya." Ucap Ivanka.
Seperti biasa untuk mengambil keputusan Belva tak bisa mengambil keputusan secara langsung. Banyak hal yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan. Serta berdiskusi dengan beberapa pihak nantinya
Pertemuan itu sudah selesai, sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ivanka memberikan Belva waktu selama tiga hari untuk memberikan jawabannya. Karena dalam waktu dekat ini brand nya akan mengeluarkan produk baru yang nanti akan dikenal oleh Duo Kay sebagai modelnya jika mereka menerima tawarannya.
Belva menyanggupi waktu tersebut, ia paham bahwa Ivanka orang yang sibuk. Wanita itu juga bercerita jika akan meluncurkan produk baru yang berkaitan dengan keputusan yang akan diambil oleh dirinya nanti.
Sampai di rumah Belva menceritakan hal ini pada Bella dan juga Roichi. Ia ingin meminta masukkan bagaimana baiknya untuk tawaran yang diberikan boleh Duo Kay. Menerima tawaran sebagai model pada brand terkenal tentu duo Kay akan dikenal oleh banyak orang dan itu juga akan berdampak pada kehidupan pribadi Duo Kay.
"Apa ini benar ? Kakak tak main-main ?" Tanya Bella.
"Tentu saja tidak. Tadi siang kami bertemu dengannya."
"Wah ini benar-benar hebat. Kakak bertemu dengan fashion desainer terkenal dan si kembar mendapatkan tawaran untuk menjadi model di brand itu. Itu benar-benar prestasi bagi Duo Kay." Ucap Bella terlampau senang.
"Tapi bagaimana dampak bagi kehidupan pribadi merek. Tahu sendiri jika sudah dikenal banyak orang akan seperti apa."
"Sudah tanyakan pada anak-anak apa mereka tak keberatan ?" Tanya Roichi.
"Sudah. Mereka mau mau saja. Karena setahu mereka menjadi model sama seperti kegiatan yang ada di sekolah mereka." Jawab Belva.
"Jika mereka tak keberatan saya rasa tidak ada masalah. Asalkan dengan perjanjian, itu tak mengganggu kegiatan sekolah anak-anak dan tak membuat mereka kelelahan." Ucap Roichi.
Diskusi masih berlangsung. Mereka menentukan apakah menerima atau tidak tawaran dari Ivanka Elizabeth. Memang tawaran itu adalah sebuah prestasi yang bisa diraih oleh Duo Kay diusia mereka yang masih kecil. Sangat jarang bagi anak-anak di luar sana yang mendapatkan kesempatan emas ini. Dilirik oleh brand terkenal tak pernah ada dalam bayangan Belva terlebih Duo Kay yang masih kecil.
Beruntung bagi Kaili dan Kaila yang diberikan anugrah wajah tampan dan cantik serta kecerdasan yang luar biasa menurut Belva. Semakin bangga dirinya memiliki Duo Kay dalam kehidupannya.
****
ππππππππππππππππ
Terima kasih para readers ku yang masih setia membaca hingga bab ini. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisannya. Alurnya memang lambat ya dear jadi mohon bersabar. Tapi alurnya sudah sedikit dipercepat dari rencana yang sudah saya buat. βΊοΈ
__ADS_1
Terima kasih atas support teman-teman, like dan komennya terima kasih sekali. Semoga sehat selalu dan lancar rejeki. βΊοΈπ€²π