
Tangan kekarnya membuka pintu satu ruangan yang sudah dipersiapkan.
Ceklek...
Pintu dibuka oleh Satya.
Jreeengg...
Cahaya dari lilin memberikan cahaya terangnya di sepanjang kanan kiri sejajar dengan lebar nya pintu yang dibuka. Hal itu membuat Belva terkejut membelalakkan matanya, mulutnya terbuka dengan cepat telapak tangannya menutupi mulutnya yang terbuka.
"Mas... Kenapa seperti ini ?"
"Ohh jadi ini yang mereka siapkan. Bagus... Aku menyukainya." Batin Satya. Dia merasa bangga dan salut pada calon mertuanya.
Satya tetap menuntun Belva untuk tetap terus berjalan. Wanita itu yang merasa terkejut dan bingung hanya bisa menurut melangkahkan kakinya. Hingga sampai di susunan lilin yang membentuk sebuah tanda love yang cukup besar mereka berhenti.
"Mas ini ? Kok begini ?" Tanya Belva yang masih merasa bingung.
Satya menggenggam kedua tangan Belva. Mereka saling berhadapan. Ponsel Satya memang sudah di masukkan ke dalam saku jas nya setelah pintu terbuka.
"Sayang, seperti yang kamu tahu saya bukanlah pria yang romantis. Saya tidak mengerti bagaimana cara menyenangkan seorang wanita dengan cara-cara yang romantis. Tapi saya punya cara tersendiri untuk menyampaikan apa yang saya rasakan kepada mu. Maaf jika mungkin yang saya lakukan tidak begitu membuatmu tertarik. Tidak sama seperti wanita lain yang diperlukan secara romantis oleh kekasihnya." Ucap Satya yang memang dirinya tak tahu bagaimana melakukan hal-hal secara romantis. Dirinya hanya melakukan apapun yang diperintahkan oleh otak kecilnya dan perasaannya pada Belva.
Tiba-tiba Satya menekuk lutut nya dan hadapan Belva. Satu tangan kirinya memegang tangan Belva dan satu tangan kanannya memegang kotak cincin yang telah terbuka dihadapkan pada Belva. Cincin berlian yang dipilih Satya bermodel simple namun terlihat elegan. Hal itu membuat Belva kembali terkejut dan bingung.
"Mas..." Panggil Belva.
"Belva Evanthe, saya menyayangi mu dengan tulus. Saya mencintaimu tanpa syarat dan alasan. Semua perasaan saya kepadamu datang begitu saja tanpa dituntun oleh apapun."
"Belva... Maukah kamu menjadi istri saya, menjadi Nyonya Aryasatya Balakosa. Menemani seumur hidup saya."
"Mas, kamu..."
Tiba-tiba lampu kembali menyala terang benderang. Belva dapat melihat wajah tampan Satya yang sedang berlutut dihadapan nya dengan jelas. Belva menatap mata Satya terdapat sorot permohonan di dalam tatapan itu. Meski Satya tahu mereka sudah berencana menikah tapi entah Satya tetap berharap Belva menerima lamarannya malam ini.
Wusshhh....
Tiba-tiba entah darimana sumbernya Satya dan Belva tak tahu angin tiba-tiba menerpa hingga membuat lilin-lilin yang menyala semua padam. Lampu juga kembali padam.
"Mas, ini kenapa begini ?"
"Lihatlah ke atas sayang." Titah Satya.
Belva menatap ke atas meski dalam kegelapan seperti perintah Satya. Betapa terkejutnya Belva kembali dibuat oleh Satya. Langit-langit ruangan tersebut tertata dengan cantik sebuah bintang-bintang kecil yang terbuat dari fosfor yang dapat menyala saat berada dalam kegelapan. Bintang-bintang kecil itu tersusun membentuk sebuah tulisan yang terbaca oleh nya I Love You Belva. Will You Marry Me.
Wajah syok terdapat di wajah Belva, mulutnya sedikit menganga, matanya terbuka lebar alis dan keningnya mengerut naik ke atas. Mata Belva berkaca-kaca, ia terharu Satya pria datar dan dingin yang memang tak pernah terlihat bersikap manis dengan Sonia sejak dulu. Namun, saat ini pria itu bersikap manis dengan nya.
Untuk beberapa saat lampu tetap padam, beberapa menit kemudian lampu kembali menyala. Kembali Belva masih melihat Satya berlutut dihadapan.
"Sayang, bagaimana diterima tidak ini ? Lutut mas mulai kesakitan." Ucap Satya.
Belva yang syok, terharu hingga matanya berkaca-kaca itu kini terkekeh mendengar rengekan Satya.
"Iyaa diterima mas hahaha." Belva menjawab dengan terkekeh.
Satya tersenyum lebar dihadapan Belva, pria itu memakaikan cincin berlian itu di jari manis Belva. Lalu ia berdiri memeluk dan mencium kepala Belva dengan sayang.
"Terimakasih sayang." Ucap Satya memeluk Belva. Wajah wanita itu kini bersandar pada dada bidang Satya.
Jujur dalam hati Belva merasa sangat bahagia sekali. Ia tak pernah terpikirkan sama sekali jika Satya akan melakukan hal itu untuk dirinya.
Belum selesai rasa bahagia nya dirasakan. Tiba-tiba balon yang ada di atas nya meletus. Semua isi yang ada di dalam balon tersebut berhamburan mengguyur Belva dan Satya.
Duaarr !!!!
"Happy Birthday... !!!" Teriak beberapa orang dengan riang gembira.
Belva kembali terkejut akan letusan balon dan suara meriah dari beberapa orang begitu juga Satya yang terkejut dengan suara balon yang meletus.
Pelukan keduanya terlepas. Satya dan Belva dapat melihat beberapa orang yang dikenalnya berada di dalam ruangan tersebut. Kedua orang tua angkatnya, Kedua anak kembarnya, Budhe Rohimah, Bella, Jordi dan beberapa asisten rumah tangga Satya dan juga Tuan Hector.
"Budhe... Mama... Papa..."
"Selamat ulang tahun Nduk." Ucap Budhe Rohimah.
Mereka semua berjalan mendekati Belva dengan membawa kue ulang tahun berukuran cukup besar yang di bawa oleh Bella dan Jordi.
Belva berganti memeluk Budhe Rohimah, wanita yang dianggapnya sebagai ibu kandung setelah kepergian kedua orang tuanya. Wanita itulah yang bersedia mengurus dan menemani dirinya.
"Budhe... Terimakasih." Air mata Belva sudah mulai luruh. Ia sungguh sangat terharu. Banyak sekali hal-hal yang membuatnya terkejut pada malam ini.
"Iya sama-sama Nduk. Jadilah pribadi yang lebih baik lagi, lebih dewasa lagi sayang." Budhe Rohimah mengelus punggung Belva dengan lembut.
"Iya budhe..." Belva mengangguk di balik pundak Budhe Rohimah.
Belva berganti lagi memeluk Nyonya Hector.
"Happy Birthday sayang. Sehat selalu, semakin bahagia." Ucap Nyonya Hector dengan mengusap lembut punggung Belva.
"Terimakasih Mama." Sama seperti dengan Budhe Rohimah tadi Belva memeluk erat wanita paruh baya yang sudah bersedia mengangkat dirinya sebagai anak.
"Papa..." Panggil Belva lalu memeluk pria paruh baya itu.
"Putri Papa, selamat ulang tahun sayang. Papa senang bisa memberikan kejutan ulang tahun untuk mu kali ini." Tuan Hector juga memeluk Belva dengan tepukan lembut di punggung Belva.
Belva terkekeh bersamaan dengan air mata yang mengalir. "Terimakasih Papa, aku sangat-sangat bahagia malam ini."
Pelukan untuk ketiga orang yang paling dihormati nya setelah kepergian kedua orang tua kandungnya itu telah usai.
"Mami, Happy Birthday Mamiii..." Ucap Kaila dengan nada cempreng khas suara anak kecil dan wajah yang terlihat menggemaskan.
Belva langsung berlutut menyetarakan tinggi badan kedua bocah itu. Dipeluknya mereka dengan penuh rasa sayang.
"Terimakasih anak-anak kesayangan Mami."
"We love you Mami." Ucap Kaili dalam pelukan Belva.
"I love you too sayang." Ucap Belva.
"Ini lilin nya keburu habis meleleh di kue nya kak." Ucap Bella.
__ADS_1
Gadis itu sudah merasa pegal memegangi kue yang cukup besar bersama Jordi. Belva tersenyum sembari menyeka air matanya lalu melepaskan pelukannya dari Duo Kay.
"Hahaha iya Bel..." Ucap Belva.
"Ayo tiup lilinnya nanti habis lilinnya tidak jadi tiup lilin." Ucap Nyonya Hector.
Belva mengangguk, ia mendekati kue ulang tahunnya. "Berdoa dulu sebelum tiup lilin." Ucap Bella.
Dengan memejamkan mata Belva berdoa di hari ulang tahunnya. Doa yang sama setiap hari adalah diberikan kesehatan sehingga bisa selalu menjaga Duo Kay dan diberikan kebahagiaan untuk dirinya dan juga anak-anak nya. Kali ini doanya bertambah yaitu diberikan kelancaran dalam rencana pernikahan nya dengan Satya nanti. Selesai berdoa Belva membuka mata lalu meniup lilin berangka 22.
Usia yang masih cukup muda dalam mengurus dua anak dan sebentar lagi menjalani sebuah rumah tangga. Satya melihat angka di lilin ulang tahun Belva. Terpaut cukup jauh bahkan setengah dari usia nya.
"Istriku masih sangat muda." Gumam Satya dalam hatinya.
Sedari tadi Satya hanya tersenyum tipis memperhatikan wanitanya yang merasa terharu mendapatkan kejutan di hari ulang tahunnya.
"Ayo kak, potong kue nya." Ucap Bella. Semua masih memperhatikan target mereka malam ini untuk aksi kejutan yang mereka lakukan.
Belva memotong kue ulang tahun berwarna coklat cantik dengan beberapa hiasan dan ornamen khas kue ulang tahun, tidak terlalu meriah tapi terlihat sangat cantik.
Potongan pertama diberikan kepada Budhe Rohimah. Wanita itu orang pertama yang Belva suapi kue ulang tahunnya. Keluarga satu-satunya yang Belva punya yang masih setia mendampingi nya.
"Terimakasih Nduk. Budhe selalu mendoakan yang terbaik untuk hidup mu sekarang dan sampai nanti."
"Terimakasih Budhe. Belva sayang Budhe." Ucap Belva mencium pipi kanan dan kiri Budhe Rohimah.
Suapan selanjutnya diberikan pada Nyonya Hector, lalu pada Tuan Hector. Demi menghormati pasangan paruh baya itu yang telah menolong kehidupan nya yang tengah terpuruk di masa lalu. Lalu berlanjut pada Duo Kay anak-anak kandung nya yang menjadi motivasi bagi dirinya untuk hidup semakin lebih baik, semakin kuat untuk menjadi wanita tangguh. Kue selanjutnya diberikan untuk Bella, gadis yang sedari usia Duo Kay satu tahun membantu nya menjaga dua anak kembarnya. Gadis yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri.
Potongan kue berikutnya Belva berikan untuk Jordi, si asisten Satya yang setia mendampingi calon suaminya. Tentu hal itu menjadi tatapan tajam bagi Satya. Dirinya yang sedari tadi menunggu giliran berharap mendapatkan suapan lebih awal nyatanya Belva tak melakukan hal itu. Justru mengapa Jordi lah yang mendapat suapan kue dari wanitanya.
"Buka mulut mu Tuan Jordi." Ucap Belva.
Jordi tentu merasa takut untuk membuka mulutnya. Matanya melirik ke arah Satya yang terus menatapnya tajam.
"Ta-tapi Nona... Saya bisa dipecat Tuan nanti." Lirih Jordi pada Belva.
Satya langsung berjalan mendekati Belva dan Jordi.
"Sayang... Apa yang kamu lakukan." Ucap Satya.
"Buka mulut mu Tuan Jordi, abaikan tatapan matanya. Saya jamin anda tidak akan dipecat. Jika dia berani memecatmu maka pernikahan akan ku batalkan." Ucap Belva.
"Sayang..." Ucap Satya terkejut. Dia merasa kesal Belva berani mengancam dirinya seperti itu hanya karena dirinya menatap tajam Jordi.
"Ini pertama dan terakhir saya menyuapimu Tuan Jordi. Cepat buka mulut mu tanganku sudah pegal karenamu." Ucap Belva.
Jordi akhirnya membuka mulut dan menerima suapan dari Belva. Satya masih terus menatap tajam asistennya itu.
"Terimakasih Nona, semoga anda diberikan kesehatan agar bisa terus mendampingi si kembar dan Tuan Satya kelak." Ucap Jordi.
"Terimakasih Tuan Jordi." Ucap Belva tersenyum ramah.
Semakin membuat Satya kesal dan terasa panas di dalam hatinya. Dia tidak terima Belva memperlakukan Jordi seperti itu.
Berbeda dengan anggota keluarga yang lain, mereka merasa senang bisa berhasil memberikan kejutan untuk Belva pada malam ini tepat pukul 00.01.
"Ayo kita foto-foto dulu. Ini acara yang sangat langka sekali bisa memberikan kejutan dan merayakan pesta ulang tahun kak Vanthe." Ucap Bella.
"Ah iya... Iya... Ayo kita foto-foto dulu. Mataku ini sudah mulai berat." Ucap Tuan Hector.
Mereka semua berfoto bersama sebelum para orang tua kembali ke kamar mereka masing-masing untuk istirahat. Menunggu waktu tepat pukul 00.01 nyatanya membuat mereka yang sudah lanjut usia merasa lelah. Begitu juga untuk Duo Kay yang sedari tadi di tahan-tahan dengan bantuan Bella yang mengajak mereka bermain.
"Karena kita sudah selesai memberikan kejutan ini. Kalian yang masih muda silahkan nikmati acaranya kembali. Saya sudah sangat mengantuk, jadi saya pamit kembali ke kamar. Kalian jangan pulang tidur lah disini. Ini sudah malam." Ucap Tuan Hector.
"Iya Mama juga sudah mengantuk, mau tidur." Ucap Nyonya Hector.
"Lihat ini dua bocah ini juga sudah mengantuk. Kaila bahkan sudah tidur." Ucap Budhe Rohimah.
"Astaga, ayo sayang. Mami temani kalian tidur." Ucap Belva.
"Nduk, biarkan mereka sama Budhe saja. Kamu lanjutkan saja acaranya. Pasti kalian masih ingin berbincang."
Mengingat Belva melihat wajah Satya yang kecut dirinya mengangguk saja. Ia tak bisa membiarkan Satya dengan wajah tertekuk seperti itu tanpa menyelesaikan terlebih dahulu.
Para orang tua dan juga Duo Kay sudah berlalu menuju kamar mereka masing-masing. Para asisten rumah tangga sebelum berlalu mengucapkan selamat pada Belva atas perayaan ulang tahun sederhana itu.
Tinggal lah Belva, Satya, Jordi dan Bella yang masih berada di dalam ruangan tersebut. Jordi juga paham dengan sikap Satya yang berubah dingin. Dia merasa bersalah dan tidak enak hati, Jordi mendekati Belva.
"Nona, sepertinya Tuan Satya sedang tidak baik-baik saja. Saya merasa tidak enak mungkin karena anda menyuapi saya tadi." Ucap Jordi.
"Iya saya tahu, biar saya urus nanti. Anda tenang saja." Ucap Belva.
Jordi yang paham langsung menarik tangan Bella begitu saja tanpa kata-kata apapun. Gadis itu seketika merasa bingung mengapa pria itu menarik dirinya keluar dari ruangan tersebut.
"Tuan, apa-apaan ini lepaskan." Ucap Bella.
"Sstt... Diam. Kamu ikut saya dulu. Tuan Satya sedang marah saat ini, kita harus keluar dari ruangan itu."
"Hah ? Marah ? Lalu bagaimana dengan kak Vanthe nanti jika Om Satya marah-marah."
"Tenanglah, Nona Belva bisa mengatasinya. Susah ayo kita ke taman belakang saja dulu."
"Taman belakang ?? Tidak... Tidak... Disana gelap aku tidak mau." Tolak Bella.
"Lalu di mana ? Dikamar ? Ayo..." Ujar Jordi.
"Heh... Sembarangan. Ya tidak lah. Kita dapur saja. Aku lapar." Ucap Bella mendelik kesal.
"Ide bagus... Ayo." Jordi masih saja menarik tangan Bella hingga mereka jalan menuju dapur.
Belva memotong kembali kue yang lebih besar. Lalu mendekati Satya yang tampak wajahnya terlihat datar. Belva tahu jika Satya saat ini merasa kesal tapi ditutup oleh pria itu dengan wajah datarnya.
"Aaa... Buka mulut mu mas." Belva menyuapi kue ulang tahunnya untuk Satya.
"Tidak usah." Ucap Satya dingin.
"Kenapa ? Kamu tidak suka kue seperti ini ?"
"Kamu memberikan saya kue bekas banyak orang."
__ADS_1
"Tidak, ini kue baru. Tempat baru dan sendok yang baru." Belva menyuapi kue itu ke dalam mulutnya sendiri.
"Yakin tidak mau ? Ini enak sekali loh. Manis, aaa buka mulut mu."
"Tidak mau kamu saja." Ucap Satya dingin.
"Benar tidak mau ? Padahal ini enak, apalagi aku yang suami kamu." Ucap Belva yang kembali menyuapi kue ke dalam mulutnya.
Kue yang masih belum sepenuhnya masuk dan masih bergantung setengahnya di mulut itu langsung disambar oleh Satya.
Hap...
"Mas..." Pekik Belva yang merasa terkejut.
"Ini nama nya baru enak." Ucap Satya dengan santai.
"Ck... Katanya tidak mau." Sindir Belva.
"Kalau kamu suapin dari sini siapa yang menolak." Ujar Satya.
"Siapa yang suapin kamu begitu. Itu kamu nya saja yang main serobot saja."
"Memang harusnya seperti itu. Kamu menyuapi saya paling terkahir setidaknya lakukan sesuatu yang berbeda dari mereka."
"Memang sengaja paling terkahir. Kamu tidak mau aku suapin lebih lama ? Aku kasih kue yang lebih banyak." Ujar Belva.
Satya menatap Belva, dilihatnya pinggir bibir Belva terdapat cream kue yang sedikit belepotan akibat dirinya yang main serobot saja kue yang ada di mulut Belva tadi.
Satya tersenyum tipis. "Saya tidak mau kue yang banyak. Tapi saya mau seperti ini lebih lama."
Perlahan wajah Satya mendekat pada wajah Belva. Dan akhirnya bibir mereka saling bertemu. Satya mencium Belva, luma**tan itu kembali Satya lakukan setiap kali bibir keduanya saling bertemu. Mata keduanya terpejam, menikmati sapuan lembut dari masing-masing bibir mereka.
Tak secepat kilat sesapan dan lum**atan yang mereka lakukan. Mereka butuh hingga beberapa menit lamanya. Menikmati dan menyalurkan apa yang tengah mereka rasakan.
Satya dengan rasa cintanya dan jujur saja akan kebutuhannya sebagai seorang pria. Sedangkan Belva melakukan itu karena memang dorongan dari rasa cintanya.
Saat keduanya merasa sesak akibat pasokan oksigen yang menipis aksi pertemuan bibir itu terhenti. Mereka berlomba meraup oksigen demi paru-paru mereka.
"Happy Birthday sayang. I love you, my wife." Bisik Satya dengan menempelkan dahi mereka satu sama lain.
"Terimakasih Mas, I love you too calon suami." Ucap Belva tersenyum.
Satya kembali mengecup bibir Belva sekilas dengan sedikit lum**atan.
"Kurang beberapa hari sudah jadi suami mu yank."
"Iya tahu. Terima kasih ya sudah memberikan kejutan yang luar biasa untuk ku sayang."
"Sama-sama sayang. Bisakah setiap saat kamu memanggil saya seperti itu ?"
Belva tersenyum. "Akan aku usahakan." Ucap nya sembari terkekeh.
Satya merasa gemas lalu mencubit hidung Belva. Dia memeluk Belva dengan rasa yang begitu bahagia. Rasa kesalnya akibat perlakuan Belva pada Jordi tiba-tiba menghilang entah kemana.
"Sudah tidak marah lagi ?" Tanya Belva.
"Memang saya marah ?" Satya justru berbalik bertanya pada Belva.
"Ngambek tadi. Gara-gara aku suapin Tuan Jordi. Iya kan ?"
"Saya tidak suka, kamu jangan bersikap seperti itu dengan pria lain. Ingat ada saya di dekat kamu."
"Iya maaf ya... Pertama dan terakhir kali. Sebagai bentuk terima kasih sudah mendampingi calon suami ku sampai detik ini bahkan membantu memberikan kejutan untuk ku."
"Saya juga turut andil dalam acara tadi, sebagai bentuk terimakasih mu, kamu mau memberikan saya apa."
"Kan tadi aku mau suapin kamu tapi kamu nya yang tidak mau."
"Ck... Yank. Kamu baru ulang tahun ke berapa ?" Tanya Satya.
"Dua puluh dua. Kenapa ?" Tanya Belva.
"Baru dua puluh dua. Sepertinya kita seusia."
"Mana ada begitu, kamu tidak mengakui usia mu sendiri yang sudah tua ?" Ujar Belva
"Itu kamu tahu kalau mas sudah tua. Tapi kamu tidak sopan dengan mas. Jangan katakan 'kamu' pada orang yang lebih tua sayang. Jadilah istri yang baik dan penurut, agar saya tidak gagal dalam mendidik mu sebagai istri saya."
Belva terdiam, ia baru menyadari selama ini dirinya tanpa sadar selalu memanggil Satya seperti itu. Meski Satya menjadi kekasihnya, ayah kandung dari Duo Kay rupanya Satya merasa risih saat Belva memanggil nya dengan cara seperti itu.
"Panggil saya mas jangan panggil kamu. Ingat kan kita sudah punya dua anak yang cerdas. Masih ingat saat mereka memanggil dirimu dengan sebutan nama saja ? Itu karena saya sering memanggil dirimu dengan sebutan nama mu saja dihadapan mereka. Kita harus menjadi orang tua yang memberikan contoh baik bagi mereka sayang." Ujar Satya.
Semua yang Satya ucapkan mampu dicerna oleh Belva dengan baik. Ya... Dirinya ingat kala salah satu anaknya memanggil dirinya dengan sebutan namanya saja. Ia menyadari memang mereka harus menjadi contoh baik bagi anak-anak mereka.
"Maaf..." Lirih Belva yang sudah menunduk merasa tidak enak hati pada Satya.
"Hei... Tidak apa-apa. Inilah cara mas yang berusaha untuk membimbing kamu sebagai istri mas nanti. Apa kamu keberatan ?" Satya mengangkat dagu Belva agar wanita nya mengangkat wajah dan memperhatikan nya.
Belva menggeleng. "Tidak, terima kasih sudah mengingat kan ku." Belva memeluk Satya.
Beruntung ternyata Satya pria yang baik, mau membimbing dirinya ke arah yang lebih baik. Satya membalas pelukan Belva, mengusap lembut punggung Belva.
"Sudah malam, kamu tidak mengantuk sayang ?" Tanya Satya.
"Sedikit... Ini sudah lewat tengah malam."
"Ya sudah kalau begitu kita tidur sekarang. Kamu harus membersihkan diri mu juga pasti butuh waktu yang cukup lama." Ajak Satya yang memahami Belva.
Belva mengangguk, Satya meraih tangan Belva dan menariknya lembut. Menfaja wanitanya untuk segera beristirahat. Dia tidak ingin Belva kelelahan karena acara kecil ini. Keduanya masuk ke dalam salah satu kamar yang ada di Villa.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Maaf kemarin tidak sempat update karena pulang kerja rasanya cuapek bangat. Baru dapet setengah part udah ketiduran 🙏🙏🙏
Terimakasih banyak selalu author ucapkan buat kalian readers ku yang masih setia buat support. Terimakasih buat Like, Komen, Kembang setaman dan juga Vote dari kalian. Karena kalian author jadi lebih semangat 🙏🙏🙏
__ADS_1