Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 7. Sketsa Kaila


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Belva sudah dihubungi oleh klien nya untuk bertemu di sebuah restoran membahas gaun pengantin yang akan dibuat dalam waktu dekat ini.


Bersama Kaila putri cantiknya Belva menemui klien nya. Penampilan Belva sangat cantik sekali sekarang dengan tubuh yang mendukung, kulit yang semakin glowing dan rambut nya yang panjang sepinggang dibuat nya bergelombang dicat dengan warna coklat terang. Wajah nya semakin terlihat cantik seperti bule. Sebenarnya memang Belva memiliki darah campuran dari Jawa dan Pakistan. Membuat wajahnya berbeda lebih cantik dari yang lain. Pakaiannya yang sangat sederhana celana jeans biru langit dan kemeja warna putih dengan lengan digulung hingga siku serta satu kancing sengaja di lepas menampilkan leher nya dengan kalung tipis berwarna gold.


Kaila gadis kecil itu tak kalah cantik dengan Mami nya. Menggunakan rok berbahan linen berwarna merah maron tanpa lengan dengan pita di perut nya dan model rok yang semakin turun semakin melebar. Rambut nya yang hitam panjang sama seperti Mami nya di kuncir ala Princess Charlotte Braid.


"Hai Maria... Maaf lama menunggu." Sapa Belva mendekati meja Maria dengan menggandeng buah hati nya.


"Hai Vanthe... Tak apa tak masalah. Hallo cantik kita bertemu lagi" Maria mencubit kecil pipi Kaila.


"Hallo aunty hihi." Kaila yang ceria selalu menampilkan senyum dan gigi kecil nya sembari berdada ria.


"Duduk lah Van... Aku sudah memesan kan minum untuk mu. Ku kira kamu datang sendiri." Maria tersenyum menatap wajah cantik gadis kecil milik Belva.


"Tidak masalah, untuk urusan desain Kaila pasti akan selalu antusias." Belva tersenyum mengelus rambut Kaila.


"Iya aku tahu itu.. dia anak yang hebat. Aku yakin kamu pasti bangga pada nya." Maria menatap Belva lalu menatap Kaila.


"Tentu... Dia adalah keajaiban dari Tuhan untuk ku." Ya... Kehadiran Kaili dan Kaila patut disyukuri oleh Belva meski kehadiran mereka berawal dari sebuah kesalahan yang tidak dia mengerti. Belva waktu itu adalah gadis polos yang tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Dia hanya mampu merasakan nya saja mendefinisikan secara kasar, tubuh nya yang terasa panas dan tidak nyaman serta merasa lega tersentuh oleh majikannya dulu.


Namun, bagaimana masal lalu Belva tidak ada yang tahu. Menjadi pembantu dan dihamili majikannnya sendiri menjadi awal kehadiran dua buah hatinya sebisa mungkin dikuburnya dalam-dalam. Tidak ingin banyak orang tahu bagaimana takdir nya dulu. Cukup dirinya dan kedua orang tua angkat nya saja yang tahu.


Bahkan, Tuan dan Nyonya Hector tak tahu siapa pria yang menjadi ayah kandung duo Kay. Belva tak pernah mau menceritakan nya, mengingat nya saja Belva tak mau. Bayangan yang masih jelas dalam ingatan nya adalah saat otak nya yang masih waras merasakan dan melihat majikan nya memaksa mencium bibir nya.


Ada rasa kecewa, kesal, marah, sedih semua menjadi satu saat mengingat hal itu. Berharap tak lagi bertemu dengan pria itu, yang dengan tega menghancurkan masa depan nya. Meski semuanya tak sepenuhnya salah majikan nya karena tubuhnya tak menolak.


Diskusi mengenai pembuatan desain gaun pun di mulai. Keinginan Maria seperti apa di tampung oleh Belva. Kaila, gadis kecil itu memperhatikan Mami nya dan teman Mami nya sedang berdiskusi.


Kaila anak yang cerdas, dia mampu mengartikan maksud dari kemauan Maria. Saat calon pengantin itu menceritakan keinginan nya, Kaila langsung membuat sketsa gaun pengantin nya. Sedangkan Belva mencatatkan detail yang diinginkan klien nya.


Gambar kasar sudah di dapatkan oleh Kaila. Tinggal menyempurnakan nya saja dengan beberapa detail yang lain. Saat kedua orang dewasa itu sibuk berbicara Kaila sibuk menggambar.


"Permisi... Ini pesanan anda Nona." Pelayan restoran mengantarkan minuman yang dipesan kembali oleh Maria untuk Kaila. Milk shake strawberry, buah kesukaan gadis kecil itu.


"Terimakasih." Maria tersenyum pada pelayan tersebut. "Sayang... ini minuman untuk mu." Maria menyodorkan minuman pada Kaila.


"Thank you aunty." Suara cempreng menggemaskan keluar dari bibi mungil nya yang tengah sibuk dengan pensil dan kertas nya.


"Mami, ini gambar nya." Ucap Kaila menunjukkan hasil gambar sketsa desain nya. Gambar yang hampir sempurna terhenti oleh ketertarikan nya dengan milk shake strawberry.


Belva tersenyum dengan menerima kertas sketsa putri nya. "Terimakasih sayang."


"Maria, seperti ini kah gaun keinginan mu ?" Belva menunjukkan sketsa desain pada Maria.


Mata Maria melebar dan tersenyum. Beberapa detik tercekat tak mampu berkata-kata. Putri Belva memang luar biasa. Sedari tadi mengeluarkan ide dan keinginan untuk gaun nya, dan ternyata sudah di coret-coret oleh gadis kecil itu ke dalam bentuk sketsa.


"Luar biasa. Seperti ini lah yang aku mau Vanthe. Tinggal menyempurnakan sedikit saja. Apa bisa selesai hari ini untuk sketsa desain nya ?"

__ADS_1


Maria sungguh tak menyangka, beberapa kali bertemu dengan Belva dan putrinya tapi baru kali ini Maria melihat gadis kecil itu menunjukkan kemampuan luar biasanya secara langsung.


"Akan aku usaha kan Maria, coba kita lanjutkan ini tinggal sedikit lagi." Belva mengamati sketsa buatan Kaila, menentukan letak detail yang cocok.


Kaila sibuk meminum milk shake strawberry nya. Tapi, dia tetap ikut mengawasi pergerakan Mami nya dalam menyempurnakan desain nya.


"Maria, mengingat waktu yang cukup sempit. Bagaimana kalau kita buat saja gaun nya dengan sederhana tapi tetap terlihat elegan untuk acara mu. Kita tak perlu menggunakan banyak hiasan pada gaun mu." Saran dari Belva mengingat waktu yang sedikit dan membuat gaun pengantin cukup memakan waktu.


"Baik lah tidak apa, kamu lebih tahu mana desain yang cocok untuk acara ku. Aku rasa gambar yang dibuat Kaila sudah cukup bagus."


"Baik lah berarti sebentar lagi kita sudah bisa lihat hasil akhir sketsa nya." Belva melanjutkannya pekerjaan nya dengan detail.


Kaila ikut mengarah Mami nya dalam menyelesaikan hasil akhir nya ada sentuhan sedikit dari imajinasi Kaila hingga gambar yang diinginkan benar-benar selesai. Maria, puas bisa bekerjasama dengan Belva. Baru sampai tahap ini saja, Belva sudah bisa bergerak dengan cepat. Beberapa kali memesan gaun dengan berkonsultasi desain dengan Belva dan hasilnya selalu memuaskan.


Untung saja dirinya mengundang Belva dalam acara pernikahan nya nanti, tak di sangka berat badan nya naik hingga harus membuat gaun baru. Sehingga dalam keadaan darurat seperti ini dirinya bisa meminta bantuan Belva.


Tak lama pelayan kembali datang dengan membawa beberapa makanan ke meja Maria. Beberapa peralatan yang digunakan Belva dan Kaila terpaksa harus disingkirkan sementara.


"Astaga Maria, bagaimana berat badan mu tidak naik. Makanan mu saja banyak seperti ini." Belva terkejut dengan semua menu makanan Maria. Satu demi satu setiap porsi makanan di turunkan dari nampan ke meja itu semua tak luput dari pandangan mata Belva. Bahkan menggelengkan kepala saking heran nya.


"Hehe... Kamu tahu Vanthe akhir-akhir ini aku stress menghadapi persiapan pernikahan ku jadi aku melampiaskan nya dengan banyak makan."


"Ayo Kaila sayang, makan lah bersama aunty. Vanthe makan dulu, letakkan kertas itu dan makan lah bersama ku." Ucap Maria dengan santai menyicipi setiap hidangan yang ada.


Sudah banyak hidangan di hadapan mereka. Tak enak jika Belva menolak maka dengan senang hati dirinya mulai menikmati makanan yang ada tak lupa menyuapi untuk putri tersayang nya.


Mereka makan bersama dengan sedikit berbincang kecil. Kaila pada akhirnya menginginkan untuk makan sendiri dengan tangan mungil nya. "Mami, aku mau makan sendiri." Ucap Kaila dengan tangan berada di atas meja terlihat sedikit lebih tinggi dari tubuhnya.


"Bisa Mami. Kaila ingin makan sendiri. Mami makan lah sendiri." Ucap Kaila kembali meyakinkan Mami nya.


"Baiklah, jika tidak bisa bilang pada Mami." Belva menyiapkan makanan pada piring Kaila dengan beberapa menu yang di tunjuk oleh Kaila.


Maria hanya memperhatikan ibu dan anak itu. Dalam hati berharap setelah menikah nanti bisa memiliki anak seperti Kaila yang baik dan penurut.


Duo Kay mereka anak yang penurut terhadap Belva karena mereka tahu selama ini Mami nya bekerja untuk kehidupan mereka meski mereka sendiri bisa menghasilkan uang sendiri.


"Haahh... Melihat kalian berdua rasanya aku tidak sabar segera memiliki anak setelah menikah nanti." Ucap Maria berhenti sejenak menyantap makanan nya.


"Hahaha... Segeralah menikah nanti jika gaun nya sudah jadi, dan jangan menunda kehamilan." Respon Belva hampir sama seperti ibu dan calon mertua Maria membuat calon pengantin itu terkekeh.


"Hahaha... Ucapan mu sama seperti ibu-ibu paruh baya yang menginginkan cucu." Maria masih terkekeh kecil.


"Haha... Bukankah kamu sendiri yang menginginkan anak setelah menikah nanti." Ucap Belva.


"Hahaha baiklah itu memang benar. Ngomong-ngomong bagaimana Vanthe, apakah makanan ini enak ? Kalau menurut ku ini sangat enak bahkan membuat ku ketagihan." Ucap Maria yang masih menyuap potongan daging ke dalam mulut nya.


"Tidak hanya menurut mu tapi bagi ku ini juga enak. Maria, aku tidak akan bertanggung jawab jika gaun yang kami buatkan untuk mu tidak akan muat lagi hahaha." Tawa Belva menyambar Maria hingga keduanya tertawa bersama.

__ADS_1


Mereka terlihat akrab dan cocok sekali untuk berteman. Tawa dan canda terus terjadi di meja itu. Bahkan sesekali mereka juga menggoda Kaila si gadis kecil yang terlihat seperti boneka di antara mereka dua orang dewasa.


"Emm... Vanthe aku tak pernah melihat suami mu selama ini, dimana suami mu ?" Pertanyaan yang sudah lama tersimpan dalam benak Maria.


Pertanyaan Maria seketika membuat tawa Belva terhenti. Tatapan heran diberikan Maria pada Belva. "Maaf aku tak berniat mengganggu suami mu. Aku hanya ingin tahu saja karena selama ini kamu bahkan tak pernah memposting foto suami mu di media sosial mu." Merasa tak enak jika nanti Belva berpikiran yang tidak-tidak padanya.


Perkenalan mereka memang sudah cukup dekat hingga saling mengikuti di media sosial. Sebisa mungkin Belva mengontrol diri agar tidak menunjukkan kecurigaan bagi Maria.


"Ah aku tak berfikir seperti itu. Memang ada apa ?" Belva justru melemparkan pertanyaan pada Maria. Sebenarnya tak ingin menjawab karena hal itu masih sensitif bagi nya.


Selama ini kedua anak nya saja sangat jarang sekali menanyakan keberadaan ayah mereka. Dulu Kaila pernah bertanya dan Belva hanya mampu menjawab jika Ayah nya hilang saat bekerja ditempat yang jauh dan tak pernah kembali lagi. Hanya itu yang bisa Belva katakan, pertanyaan dengan kata-kata yang diselipkan dalam sebuah nasihat.


**


"Mami, dimana Papi ?" Tanya Kaila saat menonton kartun yang bertema keluarga.


Bingung harus menjawab apa Belva hanya menjawab dengan kata-kata yang bisa di pahami oleh kedua anak nya. "Papi, hilang karena bekerja di tempat yang jauh dan lupa bagaimana jalan pulang nya. Jadi, Kaila jangan pernah main jauh-jauh dari Mami nanti Kaila hilang karena lupa jalan pulang ke rumah."


"Apa Papi bisa kembali lagi nanti ?" Tanya Kaila yang masih penasaran.


"Tidak tahu sayang. Berdoa saja yang terbaik untuk keluarga Kaila ya." Belva mencoba tersenyum saat Kaila mempertanyakan hal yang selama ini dihindari nya dan ditakuti nya.


Kaila hanya mengangguk demikian Kaili hanya diam menyimak saja tak banyak berekspresi. Sifat Kaili mampu Belva perhatikan dan sama seperti Ayah nya yang cenderung diam dan tak banyak bicara.


**


"Tidak, hanya saja aku tak pernah melihat foto keluarga kalian. Kamu hanya sering memposting foto mu dengan kedua anak mu. Bahkan Kaila dan Kaili tidak pernah terlihat berfoto dengan ayah mereka."


"Aunty, Papi hilang saat bekerja." Jawab Kaila dengan santai. Gadis kecil itu tak menunjukkan ekspresi sedih nya karena tak ingin melihat Mami nya bersedih.


"Hilang ? Bagaimana bisa ?" Tanya Maria bingung dengan jawaban Kaila.


"Ah aku tak tahu bagaimana ceritanya, yang ku tahu dia tak kembali saat bekerja." Ucap Belva terpaksa berbohong lagi mengenai pria yang menjadi ayah kandung Kaila dan mencoba tersenyum meski dipaksakan.


"Am.. maaf Vanthe aku tak bermaksud membuat mu sedih. Maafkan aku." Maria memegang tangan Belva merasa tidak enak hati dan merasa bersalah membuat hati ibu mudah di hadapan nya bersedih.


Tapi yang sebenarnya terjadi saat ini hati Belva tak ingin lagi mengingat hal itu lagi.


Dari jarak yang tak terlalu jauh sepasang mata menatap ke meja Maria. Mata nya membola memperhatikan apa yang di lihat saat ini. Rasa tak percaya seperti melihat seseorang yang mirip di masa lalu nya.


****


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Wah siapa sepasang mata nya siapa tuh ?? Mau tahu kelanjutan nya seperti apa ? Simak terus ya !!


Terimakasih buat para reader setia.

__ADS_1


Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.


Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys πŸ™


__ADS_2