Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 119. Muntah


__ADS_3

Jordi telah sampai di rumah besar milik Satya. Seperti biasa rumah itu terasa sepi. Dia turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Bila pintu tidak di kunci maka dirinya akan langsung masuk ke dalam rumah tapi jika terkunci maka dirinya akan memutar lewat pintu lain di rumah Satya seperti belakang dekat dapur atau garasi.


Pintu utama rumah itu tidak terkunci tapi entah dirinya merasa tertarik untuk melewati pintu belakang saat ini. Jadi, Jordi memutuskan untuk memutar ke lorong samping rumah menuju belakang.


"Nah, kamu lihat tidak wanita penggoda itu. Sedari tadi tidak terlihat batang hidungnya." Ucap Tuti.


"Si Nyonya baru itu? Pasti dia lagi sibuk merayu Tuan lah, Tut. Kamu seperti tidak tahu bagaimana kelakuan wanita penggoda kan kamu satu jurusan, Tut. Hahaha." Ujar Inah dengan nada mengejek pada Tuti.


Teman satu jabatan nya itu memang seorang wanita yang suka menggoda pria-pria yang dianggap nya menguntungkan. Merayu hingga pria itu terjebak oleh rayuannya hingga apapun yang diinginkan nya tercapai.


"Sialan kamu. Tapi iya juga ya pasti dia akan melakukan banyak cara untuk melilit Tuan agar dia bisa menguasai Tuan."


"Nah, itu kamu tahu Tut. Apa jangan-jangan kamu ada rencana buat jadikan Tuan Satya target mu selanjutnya." Ucap Inah sembarang hanya untuk menggoda Tuti.


Tuti hanya tersenyum sinis saja pada Inah. "Kok bisa ya Tuan Satya tertarik pada wanita itu." Ujar Tuti.


"Yaa... Tut, kamu pelakor kok be*go sih. Tuan Satya itu kan tampan, kaya raya ya jelaslah tertarik sama yang muda-muda begitu. Nah si wanita penggoda itu ya jelas juga tertarik dengan si Tuan secara Tuan Satya banyak uang bisa belanja macam-macam. Dia kan masih muda pasti masih suka belanja sana sini." Inah seakan menjelaskan pada Tuti.


"Iya Nah, kamu benar kalau banyak uang bisa belanja macam-macam. Rasanya bahagia sekali Nah kalau bisa belanja banyak barang. Apalagi barang-barang mahal."


"Seandainya wanita penggoda itu tidak ada pasti bisa kali ya Nah aku usaha dekati Tuan Sat..."


Kalimat Tuti terhenti kala melihat Jordi berjalan ke arahnya. Mata Tuti membelalak, tenggorokan nya tiba-tiba terasa kering. Kaki nya bergetar dan lemas, takut jika Jordi mendengar semua yang dibicarakannya dengan Inah.


"Tut, kamu kenapa?" Tanya Inah yang bingung dengan ekspresi Tuti yang tiba-tiba berubah aneh.


Tuti memberiku kode pada Inah melalu lirikan matanya. Menunjukkan jika Jordi berjalan di belakang Inah.


"Apaan sih, Tut. Mata kamu jelalatan begitu, melotot-melotot, kamu ayan apa bagaimana Tut. Kok aku jadi khawatir."


"Ini kedua kalinya saya peringatkan pada kalian. Bersikaplah sopan dan jangan macam-macam." Ucap Jordi dingin. Tataon matanya tajam menusuk kedua pembantu muda itu.


Inah melotot, terkejut, gugup Hinga tubuhnya terasa kaku di tempat, ia membelakangi Jordi. Tuti sudah memucat wajahnya, tubuhnya terasa lemas dan rasanya ingin ambruk seketika.


"Tu-tuan... Sa-saya... Saya... Kami hanya emm..." Tuti bingung harus menjawab apa, ia takut jika Jordi mendengarkan semua yang mereka bicarakan.


"Bekerjalah dengan baik jika masih betah disini." Ucap Jordi yang masih dengan nada peringatan.


Pria itu berlalu begitu saja, saat ini bukan dua pembantu itu yang menjadi prioritas pekerjaan nya. Bertemu dengan Satya lebih penting saat ini.


"Tut, bagaimana ini? Tuan Jordi tahu tidak jika kita membicarakan Tuan Satya dan wanita penggoda itu." Ujar Inah ketakutan.


"Aku tidak tahu, Nah. Semoga saja dia tidak dengar." Ucap Tuti. Sebenarnya ia mencoba menenangkan dirinya dengan kata-kata yang dilontarkan nya sendiri.


"Kalau dia tidak dengar lalu kenapa memberikan kita peringatay seperti tadi." Ucap Inah.


"Duuuhh inaah... Darah ku seperti berhenti mengalir begini kamu malah bilang seperti itu. Bisa turun tensi darah ku secara mendadak." Ucap Tuti kesal tapi juga ketakutan.


"Makanya jadi orang kalau punya mulut jangan licin. Gampang sekali menggosipkan orang lain." Ucap Janis yang tiba-tiba muncul di dekat mereka.


Tuti dan Inah mendelik kesal dan tak suka pada Janis. Sejak dulu memang mereka tidak terlalu menyukai Janis karena gadis itu lebih dekat dengan Mbok Yati yang menjadi kepala asisten rumah tangga.


Mereka merasa pekerjaan Janis lebih mudah dan ringan bila dibandingkan dengan pekerjaan mereka. Mereka juga mengira jika Janis sengaja berusaha mendekati Mbok Yati agar bisa bekerja lebih mudah di rumah besar ini.


Sejujurnya bukan Janis yang mendekati Mbok Yati tapi wanita paruh baya itulah yang merasa nyaman dengan Janis. Sikap serta sifat Janis yang sopan dan baik hampir sama dengan Belva dulu saat bekerja di rumah besar Satya.


"Kami bermulut licin? Bukankah kamu yang bermulut licin di rumah ini. Jangan sok-sokan kamu mentang-mentang dekat dengan Mbok Yati. Sana kamu kerja, buat apa disini berlagak jadi bos." Ucap Inah.


"Matamu tidak lihat aku sedang apa hah?!" Ucap Janis dengan santainya.


Janis membawa satu keranjang pakaian yang siap untuk di setrika. Dekat dengan Mbok Yati bukan berarti Janis tidak bekerja,.hanya dua pembantu muda itu saja yang berlebihan. Pekerjaan mereka tetap sama saja tidak ada bedanya.


Janis berlalu meninggalkan kedua perempuan yang selalu berburuk sangka padanya itu. Melanjutkan pekerjaannya dengan sebaik mungkin agar bisa cepat selesai. Satu hal yang selalu terulang dan tak pernah diperhatikan oleh Tuti dan Inah, pekerjaan mereka terasa lebih banyak karena mereka selalu sibuk bergosip berdua sedangkan Janis, ia selalu lebih banyak bekerja daripadanya berbicara.


Di tengah perjalanan Jordi bertemu dengan Mbok Yati yang entah dari mana wanita tua itu.


"Tuan Jordi, kenapa dari arah belakang?"


"Tidak apa-apa, saya hanya lewat belakang saja, Mbok."


"Sepertinya pintu depan tidak terkunci, Tuan."


"Iya, saya hanya ingin jalan-jalan saja. Oh ya perhatikan anak buah mu, Mbok."


"Maksudnya bagaimana, Tuan?"


"Jangan biarkan mereka terlalu banyak bicara daripada bergosip, itu tidak baik untuk pekerjaan mereka." Ujar Jordi tanpa mau menyebutkan nama orang yang dia maksudkan.


"Baik, Tuan. Anda mau bertemu dengan Tuan Satya?" Tanya Mbok Yati.


"Iya, dimana dia?"


"Tuan dan Nyonya sedari tadi pagi belum keluar dari kamar mereka, Tuan. Kami tidak berani untuk membangunkan mereka."


"Ya sudah lanjutkan pekerjaan Mbok Yati biar saya saja yang membangunkannya."


Mbok Yati mengangguk, mereka lalu sama-sama berlalu ke tempat tujuan mereka masing-masing. Jordi menggunakan lift untuk sampai di lantai tiga milik Satya.


Sampai di lantai tiga tpak sunyi sekali. Masih ingat jika dua anak kembar Satya pasti masih berada di rumah Tuan Hector. Satu ruangan yang sudab dipastikan kamar Satya masih tertutup rapat. Ruang gym juga tidak ada penghuni.


"Mereka benar-benar masih tidur?"


Jordi melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dia menghela napas tak biasanya memang Satya akan bangun se-siang itu jika tidak dalam keadaan sakit. Jordi mulai mengetuk pintu kamar Satya. Hingga beberapa kali ketukan tidak mendapatkan respon dari pemilik kamar. Masih terus mencoba karena rencana hari ini tidak boleh di tunda lagi menurut Jordi.


Di dalam kamar Satya dan Belva merasa terganggu dengan ketukan pintu yang selalu menggema itu.


"Enghh..." Leng*uh Belva, ia menggeliat dalam tidurnya.


Satya merespon dengan kening yang mengernyit pada suara berisik di pintu kamarnya.


"Siapa pagi-pagi sudah berisik sekali di depan pintu kamar orang." Gumam Satya dengan suara seraknya.


Pria itu melihat ke arah istrinya yang masih terlihat mengantuk, tanpa sadar selimut itu turun hingga menampilkan perbukitan dengan kerikil-kerikil kecil.


"Astaga..." Des*ah Satya. Jarum pentul nya bereaksi terlebih saat baru saja bangun tidur seperti ini.


Ketukan pintu masih saja terdengar membuyarkan pikiran traveling Satya.


"Mas, ada orang di depan?" Tanya Belva dengan suara khas bangun tidur.


"Iya sayang, kamu kembali lah tidur biar mas yang buka pintunya."


Satya membenahi selimut yang dipakai oleh sang istri agar dua barang berharga baginya itu tak terlihat oleh orang lain. Satya menyibakkan selimutnya bersamaan dengan Belva yang merubah posisi menjadi membelakangi Satya. Pria itu langsung menyambar bathrobe yang teronggok di kepala ranjang.

__ADS_1


Berjalan menghampiri pintu yang masih terus berbunyi ketukan dari luar. Tangan kekar itu terulur membuka pintu, terlihat wajah Jordi di depan pintu yang menatap Satya.


"Ada apa?" Tanya Satya.


Jordi tak merespon justru tatapan matanya terarah pada pemandangan di dalam kamar bos-nya. Satya mengikuti arah pandang Jordi. Punggung putih mulus itu terpampang nyata hingga sampai batas pinggang belakang. Satya membulatkan matanya dan menahan kesal serta emosi nya. Dia segera mendorong Satya agar semakin menjauh dari pintu dan dirinya keluar dari kamar.


"Jaga pandangan matamu." Ucap Satya dingin dan datar. Dia tak suka ada orang lain yang melihat istrinya dalam keadaan menggoda seperti itu.


"Ma-maaf Tuan saya tidak sengaja." Jordi melirik takut pada Satya.


"Ada apa kamu kesini."


"Tuan apa anda lupa jika hari ini kita harus mengurus permasalahan Nyonya Sonia? Kita tidak bisa menunda lagi saya khawatir jika dia akan kabur lagi."


"Aku tidak lupa, hanya saja sedikit kelelahan. Pergilah lebih dulu urus semuanya, saya dan istri akan segera menyusul."


Jordi memperhatikan penampilan Satya yang hanya menggunakan bathrobe, dia yakin seratus persen dengan apa yang terjadi pada Tuan nya hingga kelelahan dan bisa membuat Tuan nya bangun kesiangan.


"Baik, Tuan. Saya permisi."


"Hem pergilah dan selesaikan tugasmu dengan baik, kita masih memiliki PR lain."


Jordi mengangguk, Satya langsung kembali masuk ke dalam kamar. Terdiam menatap pintu kamar Satya, Jordi bergumam, "Gila... Semulus itu pantas saja Tuan tergila-gila padanya hingga kelelahan dan bangun kesiangan seperti ini."


Hembusan napas kasar terdengar hidung Jordi. Dia menggelengkan kepalanya.


"Enak sekali jadi bos dapat wanita cantik seperti itu. Keduanya sama-sama beruntung." Lagi-lagi Jordi bergumam sembari berjalan menuju lift rumah Satya.


Satya yang sudah masuk ke dalam kamar menatap jam dinding, dirinya pun tak menyangka bisa bangun se-siang ini karena kegiatannya bersama sang istri. Mengingat istrinya Satya langsung menatap Belva yang masih tertidur pulas. Dihembuskan dengan kasar napas nya melalui bibirnya. Jiwa pria normalnya kembali memberontak ingin menyerang lawannya yang dengan santai seakan mengejek dirinya.


"Masih ada waktu." Gumam Satya dengan senyum sinis nya.


Dilepaskannya bathrobe miliknya dan dilemparkan ke sembarang arah. Si jarum pentul super yang selalu dikatakannya sebagai barang langka itu sudah siap bahkan sangat siap. Tak lagi loyo melainkan terlihat seger bugar dan tampak bertenaga.


Tak sabar Satya mendekati istrinya dan menyentuh, menelusuri punggung putih mulus sang istri. Tak berheny disitu saja bagian belakang istrinya tak terlewatkan dari aksi rem*asan tangan kekarnya. Belva menggeliat saat merasa tubuhnya tersentuh karena merasa geli. Semakin tergodalah pria itu akan apa yang dilakukan boleh istrinya. Tangannya menyusuri perbukitan berkerikil seakan menguasai perbukitan itu dibarengi dengan melahapnya bak jelly beraneka rasa buah. Memainkannya dengan rasa menggebu hingga Belva tersadar.


"Mas!! Apa yang kamu lakukan!!" Pekik Belva dengan rasa geli dan aneh yang dirasakannya.


Satya melepas jelly miliknya seperti seorang anak kecil dan menatap sang istri dengan senyum miliknya, jangan lupa dengan tatapannya yang penuh harap dan memohon.


"Sebentar saja, yank."


"Mas, aku masih lelah." Rengek Belva pada suaminya.


"Masih sakit?" Tanya Satya lembut.


"Sedikit." Ucap Belva dengan lirih.


"Sebentar saja yank, sekali saja. Sudah on ini punya mas." Bujuk Satya.


"Maaass..." Rengek Belva.


"Yank, sekali saja sudah lama ini baru bisa merasakan lagi. Sebentar sampai muntah sekali saja."


"Hah? Muntah bagaimana mana maksudnya?" Belva bingung dengan kata-kata Satya. Satu kata yang sebenarnya memiliki makna tersendiri bagi Satya.


"Ya pokoknya seperti itulah, yank. Makanya jangan nolak biar tahu maksudnya."


Satya mulai menyerang pada titik rawan Belva. Sebagai seorang pria normal yang sudah memili pengalaman tentu Satya tahu tempat mana saja yang bisa ditaklukkan nya lebih dulu.


"Boleh kan sayang. Janji sekali saja mumpung masih ada waktu sedikit." Ucap Satya dengan suara tertahan berusaha mengontrol diri demi menaklukkan lawan nya.


Mudah sekali Belva bisa luluh dengan suaminya, hanya dengan sentuhan saja Belva sudah tak berdaya untuk menolak sang suami. Anggukan kepala menjadi pertanda Belva mengijinkan suaminya kembali berperang.


Belum pulih tenaganya dari sisa peperangan sebelumnya, kini Satya sudah kembali menggumpurnya. Suara-suara dalam peperangan terdengar menggema di dalam ruangan yang cukup luas bagi dua orang itu.


Napas tersengal dengan gerakan dada naik turun menjadi akhir dari peperangan mereka. Lelah sudah pasti hingga Satya memuntahkan semua nya. Terasa lega dan rasa bahagia menyerang pikiran serta hati pria itu.


"Terimakasih sayang. Kamu telah mengijinkan mas memuntahkan nya tidak hanya sekali tapi beberapa kali." Bisik Satya yang diakhiri dengan mengecup rahang Belva.


Napas Belva masih seperti orang yang sudah berlari puluhan kilo meter. Keringat membanjiri tubuhnya dan Satya justru semakin mengeratkan pelukannya hingga kulit mereka melekat satu sama lain. Tidak ada kata jijik baginya, justru itu adalah salah satu bagian menyenangkan untuknya bisa merasakan keringat sang istri.


"Awas ih mas, aku gerah." Rengek Belva.


"Sebentar sayang, mas suka keadaan kamu yang seperti ini."


"Tapi aku panas... Gerah mas. Mas tidak jijik, ini kita keringetan loh."


"Kamu tahu? Ini salah satu bagian favorit mas. Mas merasa kita seperti telah benar-benar menyatu. Tidak ada mas merasa jijik justru mas menyukainya."


Ucapan Satya secara kilat mampu membuat Belva tersipu malu, pipinya merona. Mereka terdiam untuk beberapa menit, saling menikmati lelah dalam sebuah pelukan.


"Capek sayang?"


"Hmm... Lelah sekali, mas tidak membiarkan aku sarapan terlebih dahulu tadi."


Satya terkekeh kecil, tangan pria itu sudah mulai mera*ba-raba lagi menyentuh apa saja yang diinginkan nya.


"Mas, tangannya ih, jangan disitu." Protes Belva.


"Kenapa? Ini milik mas secara sah." Ujar Satya santai dan cuek. Tangannya masih bergerak lembut pada perbukitan berkerikil.


"Bisakah dikondisikan? Aku tidak mau mengulangnya. Aku bukan robot." Suara Belva sudah mulai berubah sedikit kesal.


Tangan itu sontak saja berhenti dan beralih pada perut rata Belva. Satu bagian tubuh dimana dulu kedua anaknya bersemayam untuk beberapa bulan. Dia berharap tanpa menunda lagi agar akan ada calon anaknya yang bersemayam di sana.


"Mas, kamu hobi sekali mengusap perutku sedari tadi malam."


"Emm... Karena di tempat ini anak-anak ku pernah dan akan tinggal untuk sementara."


Belva terdiam sejenak, diolahnya kalimat Satya. Matanya membulat menyadari sesuatu.


"Astaga mas!!!" Pekik Belva.


"Kenapa sayang??" Tanya Satya terkejut dan khawatir.


Pria itu mengangkat sebagian tubuhnya untuk menatap Belva.


"Mas, kamu tidak pakai pengaman kan? Bagaimana jika dalam waktu dekat aku hamil?" Ucao Belva panik.


"Lalu? Ada masalah? Kamu punya suami jadi tidak masalah jika kamu hamil, sayang."


"Mas!! Kamu ingat tidak sih Kaili dan Kaila masih kecil. Mereka masih butuh perhatian kita. Jangan sembarang kamu, mas."

__ADS_1


"Sayang, meskipun kamu hamil kasih sayang dan perhatian mas padamu dan Kay tidak akan berkurang. Kamu tidak perlu takut untuk itu."


"Tapi aku nantinya jadi tidak bisa fokus mengurus dan memperhatikan mereka mas."


"Sudah kamu tenang saja, semua akan baik-baik saja. Suamimu bisa kamu andalkan."


Satya kembali memeluk Belva dari belakang. Ponsel Satya berdering, mengganggu kesenangan sepasangan manusia yang baru saja merasakan manisnya madu rumah tangga.


Dengan perasaan malas Satya terpaksa melepaskan pelukannya dari sang istri demi meriah ponselnya yang berada di atas nakas. Tertera di layar ternyata terpampang nama sang asisten. Jordi sudah menunggu hampir satu jam lebih di sebuah rumah yang khusus digunakan untuk menyekap Sonia. Menunggu kedatangan Satya tapi ternyata bos-nya tak kunjung datang. Satya melirik jam ternyata memang benar dirinya sudah membuat Jordi lama menunggu.


"Siapa,mas?"


"Jordi... Kita harus segera bersiap sayang, dia sudah menggerutu karena telah lama menunggu kita.


"Bersiap kemana?"


"Ke kantor polisi, yang tadi malam mas ceritakan padamu."


Belva melirik jam dinding yang ada di kamar luas itu, wantu sudah tak lagi menunjukkan pagi melainkan sudah menjadi siang.


"Astaga... Tapi masih ada waktu kah untuk makan siang ?" Tanya Belva.


"Kita makan siang di perjalanan saja, sayang. Kasihan Jordi dia tadi sudah datang ke sini juga."


Belva mengerutkan keningnya, kapan Jordi datang karena setahu dirinya tidak ada ynag datang karena mereka baru bangun sejak istirahat mereka sedari subuh.


"Kapan datang? Aku tidam melihatnya."


"Tadi, iya kamu tidsk melihatnya tapi dia melihatmu." Ucap Satya kesal.


"Maksudnya?" Belva bingung melihat Satya justru berubah kesal.


"Kamu tahu, sayang? Jordi telah melihat punggung mulus ini saat dia datang. Kamu ini kalau tidur tidak kira-kira."


"Kenapa jadi aku yang disalahkan?" Gumam Belva sembari berpikir kapan Jordi datang dan ia baru menyadari sebelumnya ada yang mengetuk pintu.


"Mas... berarti Jordi sudah lama dong datang ke sini?"


"Dua jam yang lalu." Jawab Satya dengan santai.


Itu artinya pria itu menggunakan waktunya yang menurutnya sedikit untuk kembali merasai sang istri.


"Pantas dia marah, kamu membuatnya menugaskan selama itu, mas."


"Mau bagaimana lagi tanggung, yank. Kalau boleh milih mas hari ini tidak ingin keluar kemanapun."


Mereka berdua masih berada di atas ranjang dan belum beranjak sama sekali. Belva masih merasa lelah dan kelaparan sedangkan Satya masih merasa malas-malasan untuk pergi padahal Jordi sudah menunggu.


"Mandilah mas, kasihan asisten mu itu sudah menunggu."


Satya malah merapatkan dirinya pada sang istri, di letakkan wajahnya dalam-dalam pada ceruh leher istrinya. Menghirup aroma tubuh Belva dengan wangi khas wanita itu yabg telah bercampur dengan keringat peperangan.


"Mandi bareng yuk." Ajak Satya.


"Aku masih lelah jadi mau tidur sebentar disini sembari menunggu mu mandi, mas."


"Maaf sayang membuatmu kelelahan tapi mas suka." Ucap Satya tersenyum pada Belva.


Wanita itu memutar bola matanya malas, "Kamu yang suka, aku yang kelelahan."


"Kamu tidak suka? Apa servis mas tidak memuaskan mu sayang?" Tampak wajah kecewa dan sedih pada pria itu, dia takut jika istrinya tidak terpuaskan olehnya sebagai suami.


"Mas, kok begitu wajah mu. Bukan seperti itu mas, kamu tahu sendiri aku bukan orang yang berpengalaman dalam hal seperti ini. Itu membuatku belum terbiasa saja, mas. Ternyata durasi melakukannya sangat lama dan membuatku kelelahan, aku baru tahu."


Satya memahami itu, Belva masih mudah dan baru kali pertama menikah dengannya. Termasuk melakukan peperangan pun hanya bersama dirinya sejak awal.


"Kamu harus terbiasa, sayang. Nanti kamu akan tahu bagaimana kebiasaan mas. Tapi kamu puas kan, sayang?" Bisik Satya pada kalimat terakhir nya.


Malu tak ingin membahas hal seperti itu lebih lanjut Belva tak menjawab pertanyaan Satya.


"Aku dulu atau mas dulu yang mandi? Jangan sampai asistenmu mengundurkan diri karena terlalu lama menunggu."


"Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab dulu sayang baru mas mandi."


Belva tetap tak mau menjawab membuat suaminya enggan beranjak dari ranjang mereka. Jika seperti itu terus bisa dipastikan dirinya juga akan mati kelaparan karena Satya yang terus memeluknya.


"Mandi lah mas, sudah semakin siang itu. Aku lapar."


"Jawab dulu baru mas mandi." Satya kekeuh ingin mendengarkan jawaban sang istri.


"Jawab apa mas?" Belva merasa gemas sendiri dengan suaminya.


"Jawab dulu, kamu puas atau tidak dengan mas."


"Iyaaa... Sudah sana mandi."


"Iya apa? Jawabnya tidak ikhlas. Mas merasa kurang sempurna sayang kalau sampai istri mas merasa tidak puas."


"Mas, kamu melakukannya berjam-jam sampai aku kelelahan seperti ini, menolakmu pun pada akhirnya juga aku tidak bisa, masih tanya aku puas atau tidak. Menurut mas?"


Satya menyembunyikan senyumnya, dia tahu jika istrinya pasti puas tapi Satya ingin mendengar jawaban itu dari bibir sang istri.


"Sudah tidak ada waktu, kita mandi bersama." Satya beranjak dari ranjangnya tanpa menggunakan apapun.


Belva kembali melongo dibuat oleh suaminya yang tanpa malu dan percaya diri berdiri sepolos itu. Belva memalingkan wajahnya karena dirinya merasa malu sendiri, wajahnya memerah. Satya melihat wajah sang istri yang memerah, dia menahan tawanya.


"Ayo bangun atau mas gendong."


"Mas, kan sudah aku bilang tutupi itumu."


"Tidak sempat ayo mandi, sama suami ini."


Tak sabar Satya langsung menggendong istri masuk ke kamar mandi meskipun Belva memberontak tapi Satya tak memperdulikannya. Jujur saja dirinya selalu bereaksi jika bersama Belva, entah karena apa tapi untuk kali ini Satya harus menahan agar tidak terjadi peperangan selanjutnya.


Jordi sudah terlalu lama menunggu, rencananya juga penting untuk keluarga kecilnya. Tidak bisa dirinya mementingkan kesenangan nya sendiri. Kebahagiaan istri dan anaknya lebih penting.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Terimakasih banyak atas support kalian sampai saat ini, kalian yang masih setia author berdoa agar kalian semua sehat selalu dan lancar rejeki β˜ΊοΈπŸ™

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Kembang setaman dan Vote nya 😁.


Terimakasih πŸ™πŸ™


__ADS_2