
"Jangan kamu kurangi dan kamu tambahkan, ceritakan yang sebenarnya." Ujar Satya.
"Kenapa tidak kamu saja yang bercerita?" Tanya Nyonya Hector dengan nada sinis.
"Jika saya yang bercerita apa Mama percaya?" Tanya Satya.
Nyonya Hector membuang pandangan ke arah Jordi.
"Lanjutkan, Jordi." Titah Nyonya Hector.
"Iya, Nyonya..." Ujar Jordi.
"Saat itu tiba-tiba terlintas ide dari saya untuk melancarkan rencana kami mengumpulkan bukti serta memunculkan dalang dibalik permasalahan yang dialami Perusahaan." Lanjut Jordi menceritakan kembali apa yang terjadi.
Flashback On
"Tuan saya memiliki ide yang menurut saya sangat bagus jika ini berhasil."
"Ide apa? Katakanlah."
"Bukankah dia datang karena perintah seseorang sekarang kita balikan keadaan. Kita manfaatkan dia dalam membuka jalan bagi kasus kita, Tuan. Kita manfaatkan rasa suka dan tertariknya pada Tuan dengan begitu kita akan lebih mudah mengorek informasi mengenai tujuannya masuk ke perusahaan dan siapa yang menyuruhnya."
"Maksud nya bagaimana?" Satya masih ingin mendengar lebih lanjut mengenai ide yang diberikan oleh asistennya. Satya mendengarkan Jordi sembari tangannya memgang ponsel miliknya.
"Kita buat dia mengikuti semua perintah kita secara tidak sadar. Maksudnya jika Tuan bersedia, Tuan dekati saja Siwi seakan-akan Tuan memberikan jalan baginya untuk lebih dekat lagi dengan anda. Saya rasa wanita seperti Siwi akan dengan mudah menyerahkan segalanya saat dia sudah luluh. Bahkan mungkin... Maaf tubuhnya saja bisa dia berikan dengan mudah. Itu menurut cara pandang saya."
Satya memikirkan penjelasan yang diberikan boleh Jordi. Memang ada benarnya, Siwi seperti tipe wanita yang bersedia melakukan apapun demi tujuannya tercapai. Tapi dalam hatinya dia tidak setuju dan keberatan melakukan ide dari Jordi.
"Idemu terlalu gila, Jordi Itu sangat beresiko bagi rumah tangga saya. Saya tidak ingin mengkhianatinya istri dan anak-anak saya." Ucap Satya dengan tegas dan sedikit kesal pada ide gila Jordi.
"Tuan, ini semua demi menyelesaikan kasus kita. Saya akan membantu semuanya semaksimal mungkin. Dan saya jamin rumah tangga anda akan baik-baik saja."
"Bagaimana caranya rumah tangga saya bisa baik-baik saja jika istri saya tahu kalau saya dekat dengan wanita lain. Kamu ingat saat saya dekat dengan Rania untuk membahas pekerjaan kita bersama suaminya dan saat Sarita datang membuat kekacauan. Saya dan Belva terjadi salah paham, Belva sangat marah saat itu. Kamu tidak tahu bagaimana jika dia marah."
Satya tak ingin terjadi masalah dalam rumah tangganya kembali. Dia tidak suka dikhianati maka dia pun tidak akan mengkhianati pasangannya.
"Tentu saja saya tahu, Tuan. Bahkan istri anda terlihat cukup menyeramkan untuk golongan wanita lembut seperti istri anda. Kejadian Nyonya Sonia waktu lalu saja membuat saya terkejut jika istri anda bisa nekat ingin membunuh Nyonya Sonia. Bahkan sebelum melihat itu saya juga pernah dibentak oleh Nyonya Belva."
Jordi mengutarakan apa yang pernah dilihatnya dan dialaminya saat Belva marah. Baru kali ini Jordi jujur terhdap Satya mengenai sikap Belva.
"Kamu pernah di bentak istri saya? Kapan? Setahu saya istri saya selalu lembut pada setiap orang tapi dalam suasan hati yang baik sih."
"Dulu saat Tuan meminta saya menjemput Tuan kecil dan Nona kecil. Sepertinya memang Nyonya dalam suasan hati yang tidak baik waktu itu."
Satya menghela napasnya, istrinya memang wanita lembut tapi memiliki sisi lain yang cukup mengerikan.
"Jadi, bagaimana Tuan?" Tanya Jordi meminta jawaban atas ide gilanya.
Satya melirik Jordi dengan serius, "Lalu jika wanita itu melakukan hal yang nekat bagaimana?"
"Nekat bagaimana?" Tanya Jordi.
"Ck... Meminta hal lebih kamu tahu kan maksud saya." Ucap Satya kesal.
"Bagaimana anda bisa berpikiran seperti itu?"
Satya terdiam sesaat, mengingat beberapa hari yang lalu sebelum berangkat ke Bandung Siwi nekat menawarkan diri padanya. Mau tak mau Satya harus bercerita pada Jordi agar tidak ada kecurigaan yang mengarah bahwa dirinya lah yang menginginkan hal lebih terhadap wanita lain.
"Tiga hari sebelum kita pergi ke Bandung membahas rencana kita waktu itu, saat kamu keluar apa kamu melihat Siwi?"
Seketika Jordi mengingat saat itu juga dan dia mengangguk membenarkan.
"Saat itu saya memintanya untuk kembali ke ruangannya." Ujar Jordi.
"Tapi sesaat kamu pergi, wanita itu masuk ke dalam ruangan saya. Kamu tahu apa yang dia lakukan?"
"Meminta tanda tangan anda. Memang ada sesuatu hal yang lain?" Jordi mulai penasaran.
"Iya dia meminta tanda tangan tapi ada satu hal yang kamu harus tahu. Wanita itu menawarkan dirinya padaku." Ucap Satya datar.
__ADS_1
Jordi sedikit terkejut tapi dia tak memperlihatkannya. Tebakannya benar sekali terhadap wanita itu yang rela melakukan apa saja demi apa yang diinginkannya.
"Serius? Dia terlalu nekat meski masih tergolong baru menjadi karyawan di perusahaan. Itulah mengapa kita harus memanfaatkan wanita itu dengan tepat. Jika Tuan bisa bermain cantik, saya percaya semua akan selesai."
"Permasalahannya saya tidak mau menyentuh wanita manapun selain istri saya. Saya tidak bisa bersikap seperti saya bersikpa pada istri saya."
"Berpura-puralah layaknya seorang aktor, gunakan ketampanan anda dan materi anda untuk menjerat wanita itu. Selebihnya biar saya yang urus."
Cukup lama Satya berpikir untuk memberikan jawaban apakah dirinya menerima atau menolak ide gila Jordi.
"Baiklah, saya menerima ide gila mu dengan beberapa syarat."
Jordi mulai was-was dan ketar-ketir, wajah Satya terlihat sangat serius sekali.
"Apa Tuan?"
"Pertama dan kamu jangan sampai gagal, Carikan pria yang memiliki postur tubuh yang sama seperti saya dan suara yang sama seperti saya."
Kening Jordi mengerut, apa maksudnya.
"Untuk apa, Tuan?"
"Kamu tahu seorang artis saat memerankan adegan berbahaya dia tidak akan mau melakukannya tanpa keahlian khusus dan tak ingin membahayakan dirinya. Sama seperti saya, saya tak memiliki keahlian khusus dalam berselingkuh dan saya tidak ingin membahayakan diri saya sendiri dengan menghancurkan rumah tangga saya. Kamu tahu stuntman? Saya butuh peran pengganti untuk melakukan semua itu apalagi memerankan adegan berbahaya bagi keutuhan rumah tangga."
Jordi baru memahami perintah bos-nya. Benar juga jika sampai terjadi yang melebihi batas maka bisa menjadi lebih rumit masalahnya.
"Baik saya akan mencari orang yang mirip dengan anda. Tapi pasti Siwi tetap akan curiga bagaimana bisa kita mendapatkan orang yang sangat mirip dengan anda. Tidak mungkinkan kita melakukan operasi wajah untuknya."
"Cari saja bentuk tubuh, potongan rambut, atau hidung yang sama dengan saya yang sekiranya mirip secara samar. Lakukan saja perintah saya seperti itu. Kita akan bermain cantik sama seperti yang kamu katakan."
Jordi mengangguk paham.
"Kedua, rahasiakan semuanya sampai kita benar-benar berhasil mencapai terget kita. Terutama dari istri saya karena tidak mungkin saya bercerita mengenai ide gilamu ini pada istri saya. Saya tidak mau istri saya mengetahui barang sedikit saja mengenai hal ini."
"Baik, Tuan." Jordi kembali mengangguk.
"Ketiga, bukan hanya saya yang berakting tapi kamu juga harus mengikuti dalam drama ini. Saya tidak mau nanti ketika bermasalah hanya saya yang mendapatkannya."
"Kenapa saya harus ikut? Bukankah Siwi hanya tertarik pada Anda."
"Ini ide gila dari mu jadi jika sampai ini terbongkar dan istri saya mengamuk kamulah orang pertama yang harus menjadi tersangka utama. Kamu nanti yang menghandle wanita itu ketika saya sudah merasa tidak nyaman dengan sikapnya."
"Oh iya baik, Tuan." Mau tak mau jordi harus pasrah mengikuti syarat dari Satya.
"Keempat, gajimu saya potong karena memberikan ide gila ini." Ujar Satya begitu santai dan cuek.
Jordi menganga tak terima, dirinya sudah membantu memberikan ide untuk menyelesaikan masalah bukan mendapatkan bonus tapi justru di potong.
"Tuan tidak bisa seperti itu bukankah saya memberikan ide untuk anda. Kenapa malah di potong gaji saya." Protes Jordi.
"Ide gila ini sangat beresiko untuk saya, kita tidak tahu nanti hasilnya seperti apa. Kalau kamu tidak mau ya sudah berhenti saja, saya cari asisten lain yang lebih berani bertanggung jawab."
'Loh kok dipecat. Hutang? Cicilan rumah? Cicilan mobil? Sekolah Anneke? Pengobatan ibu bagaimana nanti?' Seketika segala macam tanggungan yang Jordi harus selesaikan bermunculan kala mendengar satu kata yang cukup horor baginya yaitu dipecat.
"Loh... Ya tidak bisa begitu Tuan masa hanya karena hal ini saya di pecat. Saya sudah bekerja lama dengan anda. Nanti keluarga saya bagaimana jika saya tak bekerja." Protes Jordi.
"Terserah menerima persyaratan saya atau tidak itu urusan kamu. Masih jomblo juga apanya yang harus dikhawatirkan." Ucap Satya yang masih santai karena dia tahu Jordi tidak akan menerima begitu saja jika dipecat dengan alasan tak masuk akal dan tak profesional seperti ini.
Lagipula Satya pun tak berniat mengganti asisten dengan yang lain. Jordi sudah cukup banyak membantu dirinya dan paling mengerti dirinya.
"Ck... Iyaaa baiklah... Baiklah... Saya juga punya persyaratan dan Tuan harus menyetujuinya." Ucap Jordi dengan kesal.
"Hemm katakan." Ucap Satya dengan cuek. Dia memainkan ponselnya, setelah percakapan mengenai ide gila Jordi, Satya memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Saya minta bonus jika berhasil menemukan dalang dibalik kasus penggelapan dana. Anneke ingin mencoba membuka usaha sembari menyelesaikan kuliahnya dan ibu saya rencananya akan saya bawa ke Singapura untuk berobat nanti setelah beberapa pekerjaan tidak padat. Jadi, sayang harus bekerja keras dan Tuan harus memberikan bonus atas kerja kerasa saya."
Jordi mengutarakan sedikit beban hidupnya pada Satya. Dalam hati Satya pun merasa aneh atas tingkah asistennya.
"Hei mana ada asisten yang meminta dengan cara memaksa seperti ini pada bos-nya?"
__ADS_1
"Bagaimana sepakat atau tidak ini? Ini sudah malam saya mengantuk."
"Ck... Itu tergantung nanti, kita lihat saja. Tapi saya menumpang di sini saya tidak mau tidur bersama wanita itu."
"Eh sebentar... Sebentar. Kita harus memulai drama ini sekarang. Awal yang bagus untuk memulainya karena dia sendiri yang datang dan kita berpura-pura seakan semuanya terjadi mengalir begitu saja."
"Apa lagi maksud mu, Jordi?"
"Tuan, anda harus tidur di kamar anda sendiri agar terlihat lebih natural nanti saat memainkan drama."
"Heh kamu mau mati huh?! Tidak saya tidak mau." Ucap Satya dengan tegas.
"Tuan, ini demi kelancaran rencana kita." Jordi terus saja memaksa Satya agar mengikuti keinginannya dalam menjalankan misi.
"Hahhh ya sudah, tapi kamu ikut saya. Kita tidur bertiga di sana."
"Heu... Mana bisa, Tuan nanti yang ada Siwi justru merasa tidak nyaman kalau dia lihat saya di sana. Lagipula masa iya kita berbagai ranjang bertiga. Saya di sebelah kiri, Tuan di sebelah kanan dan Siwi di tengah begitu?"
Bugh!!!
Satu pukulan Satya daratkan pada bahu Jordi dengan keras membuat sang asisten meringis kesakitan.
'Astaga dia selalu menganiayaku jika aku visum dapat uang tapi langsung dipecat.' Batin Jordi.
"Siapa yang mengatakan berbagi ranjang. Kalau saya tidak mau lebih baik saya tidur di lantai tanpa alas. Tapi kalau kamu mau satu ranjang denganmya tidak masalah, mau kamu peluk cium dia juga tidak masalah."
"Loh lalu kita tidur di mana, Tuan?"
"Saya di sofa, terserah kamu mau di mana, di kamar mandi, di lantai, di ranjang bersama wanita itu juga boleh yang penting di dalam kamar tidak hanya ada aku dan wanita itu. Ayo!"
Satya menarik tangan Jordi agar segera berdiri dan kembali ke kamarnya. Jordi tampaknya masih berpikir bagaimana bisa tidur bertiga di dalam kamar itu sedangkan misinya adalah membuat Satya terlihat natural membuka jalan bagi Siwi.
"Tuan..."
"Ikut saja, nanti saat subuh atau menjelang pagi kamu keluar dari kamar seolah-olah dia benar-benar tidur hanya berdua denganku saja." Ucap Satya yang seakan tahu asistennya hendak melayangkan pertanyaan atau melayangkan protes padanya.
"Oh oke baiklah."
Akhirnya Satya dan Jordi masuk ke dalam kamar tersebut untuk tidur bersama bersama meski berbeda-beda tempat. Satya tidur di sofa panjang sedangkan Jordi tidur lantai beralaskan karpet yang cukup menahan hawa dingin dari lantai. Mereka membiarkan Siwi tertidur pulas dan untungnya wanita itu tidak pernah bangun di malam hari sehingga membuat keadaan cukup aman. Hal itu berjalan hingga beberapa hari, di malam selanjutnya setelah Satya dan Jordi memutuskan untuk membiarkan Siwi tidur di dalam kamar hotel Satya, kedua pria itu menambah rencana demi melancarkan aksi mereka.
Setiap malam Satya memberikan coklat hangat pada Siwi sebelum tidur dan berusaha bersikap manis pada Siwi meski dirinya muak sekali tapi harus menahan diri agar rencananya berhasil. Dalam segelas coklat hangat tersebut telah tercampur obat tidur untuk Siwi agar tak menyadari sekelilingnya. Sehingga Satya memutuskan untuk tidur di kamar Jordi dengan bebas lalu kembali saat pagi hari sebelum Siwi terbangun.
Hampir tujuh hari lamanya mereka berada di Bandung. Siwi sangat bahagia sekali akhirnya kesempatan untuk mendekati Satya rupanya terlihat Satya tak menolak.
'Mungkin jika di tempat-tempat umum dia akan menjaga harga diri tapi saat tidak ada karyawan atau yang lain Tuan Satya bisa bersikap manis padaku. Hahaha ini sangat membahagiakan sekali untukku.' Batin Siwi bersorak senang.
Saat pulang ke Jakarta Satya mengantarkan Siwi lebih dulu semakin membuat Siwi bahagia. Rencana akan berlanjut sampai semua berhasil Satya dapatkan.
Sampailah saat-saat di mana Siwi merayu Satya mengajak untuk bermalam bersama dan dengan tujuan tertentu Satya mengikuti kemauan Siwi. Tentu saja dalam setiap rayuan Siwi, Satya lah yang memegang kendali. Tempat yang harus mereka tuju untuk bermalam atau untuk berduaan sudah di tentukan oleh Satya dengan semua susunan rencana yang begitu matang bersama Jordi.
Benar kata Jordi, dia harus menggunakan ketampanannya dan juga memberikan iming-iming materi pada Siwi, Satya dengan muda menaklukan Siwi. Keduanya sering bertemu secara diam-diam tanpa sepengetahuan Belva ataupun orang lain itu permintaan Satya pada Siwi dan wanita itu dengan senang hati menurut pada Satya.
Setiap pertemuan yang memang sengaja Satya tempatkan di sebuah hotel pasti berakhir di atas ranjang tapi Satya tidak bodoh. Dalam aktivitas panas itulah syarat pertama yang Satya ajukan pada Jordi benar-benar terlaksana. Dirinya memakai jasa orang lain yang penampilan serta suaranya hampir mirip dengan Satya. Pria itulah yang selalu menggantinya peran Satya dalam menjalankan tugas memberikan kepuasan pada Siwi.
Ketika kedua manusia itu saling berpacu dalam irama, Satya pergi keluar dari kamar hotel menggunakan pintu penghubung. Satya selalu mengumpat kesal pada Jordi karena ulah asistennya itu membuat kepala Satya terasa pening harus menahan diri.
*Selama menjalankan semua itu Siwi tak pernah sadar jika dirinya dipermainkan oleh Satya dan Jordi. Kedua pria itu sungguh apik dalam bermain peran. Beberapa cara licik terpaksa mereka lakukan karena musuh merekapun bermain licik untuk menghancurkan Satya. Menggunakan obat tidur dan obat perang*sang pun terpaksa mereka lakukan untuk membodohi Siwi. Jadi, dalam menjalankan perannya Satya selalu berusaha menjaga dirinya untuk tidak berkhianat pada sang istri. Dirinya hanya ingin menjalankan misi saja*.
Flashback Off
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Gimana masih ada yang mau di flashback lagi?? sudah cukup jelas yaa apa yang terjadi antara Satya dan Siwi ππ
Terima kasih banyak buat kalian semua yang masih setia support author β€οΈπ. Terima kasih banyak atas Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian ππ
__ADS_1
Kalian luar biasa support author meski author sangatΒ² sibuk. Author bangga punya readers yang baik hati seperti kalian yang mau kasih ide, kasih saran buat kelanjutan cerita author. Maaf klo author terkadang tdk sempat balas komen kalian satu persatu tp author seneng klo bisa berinteraksi dg kalian ππ.
Sehat selalu, bahagia selalu dan lancar jaya rejekinya buat kalian readers ku yg baik hati ππ