
Takut kesehatan Kaila yang nanti akan drop kembali karena kelelahan menangis maka dokter Andrew memberikan suntikan obat penenang untuk Kaila. Perlahan gadis kecil itu berangsur tenang ditambah dengan usapan lembut dari Satya.
Hingga mata Kaila kembali terasa berat dan akhirnya terpejam kembali. Masih ada jejak air mata di sudut mata Kaila. Satya menghapus air mata tersebut dengan jempol dan jari telunjuknya di kedua sisi sudut mata Kaila.
"Cepat sembuh sayang. Daddy menyayangi ila putri Daddy yang cantik." Bisikan lembut dari Satya pada telinga Kaila. Entah gadis kecil itu mendengar atau tidak tapi setidaknya itu sebuah harapan dan doa bagi Satya untuk kesembuhan putrinya. Satu kecupan lembut Satya sarangkan pada kening Kaila.
Ila adalah sebuah nama panggilan yang spontan Satya ucapkan pada putrinya penggalan dari nama Kaila yang diambil tiga huruf dari bagian belakang nama gadis kecil itu. Dan pasti panggilan itu akan menjadi panggilan kesayangan Satya untuk putrinya.
"Tuan, maaf sekarang anda bisa kembali keluar. Kita sudah bisa memindahkan pasien ke ruangan rawat. Karena sudah sadar dan kondisinya sudah stabil dan sudah membaik." Ucap dokter Andrew.
Satya mengangguk. "Pindahkan ke ruangan VVIP dokter dan berikan penanganan yang terbaik untuknya." Ucap Satya.
"Baik Tuan kami akan berusaha selalu memberikan yang terbaik untuk putri anda." Ucap dokter Andrew.
"Mari Bi, kita keluar. Kaila akan segera dipindahkan ke ruang rawat." Ucap Satya mengajak Budhe Rohimah keluar.
"Mari Tuan."
Kedua manusia itu pergi keluar ruangan. Dokter dan suster masih memastikan peralatan yang menunjang pada tubuh Kaila sebelum dipindahkan.
"Bagaimana Nduk ? Sudah kamu hubungi Belva atau Nak Roi ?"
"Sudah Budhe. Mungkin tak lama lagi mereka akan datang ke rumah sakit." Ucap Bella.
"Bi... Saya permisi dulu ke toilet." Ucap Satya pada Budhe Rohimah. Wanita tua itu hanya mengangguk memberikan ijin.
Roichi, Belva dan juga Kaili datang ke rumah sakit. Dengan wajah yang masih mengantuk Kaili berada di gendongan Roichi. Belva sudah sangat antusias dengan kabar baik yang di dengarnya. Harapan yang sedari awal selalu berada dalam untaian doanya.
"Pelan-pelan Van." Ujar Roichi saat Belva hampir saja tersandung.
"Aku tidak sabar ingin bertemu Kaila."
"Tapi jangan seperti itu nanti kamu terjatuh. Bisa-bisa Kaila sudah sadar kamu yang pingsan Vanthe."
Meski cemberut Belva tetap menuruti perkataan Roichi. Hatinya bahagia sekali mendengar kabar Kaila sudah sadar hingga ingin sekali rasanya cepat sampai untuk bertemu Kaila. Roichi menggandeng tangan Belva agar wanita itu tak berjalan secara sembrono yang nantinya akan melukai diri Belva sendiri.
Lagi-lagi Satya melihat Belva dan Roichi yang tampak harmonis di matanya Roichi yang menggandeng Belva dan putranya yang berada dalam gendongan Roichi. Ada rasa iri dan cemburu dalam hati Satya.
Saat Satya selesai dari toilet, pria itu hendak pergi kembali ke tempat dimana semua sedang menunggu Kaila. Tapi melihat Roichi dan Belva datang, Satya mengurungkan niatnya. Dia tak ingin akan ada banyak pertanyaan datang saat Roichi melihatnya.
Satya akan memilih waktu yang tepat untuk berbicara dengan Roichi. Walau bagaimanapun pria itu yang selama ini merawat dan menjaga Duo Kay. Meski tak rela dan cemburu Satya tetap harus mengakui dan berterima kasih pada Roichi. Tak banyak orang yang mau menerima anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Satya salut atas kebaikan hati Roichi yang mau menerima anak-anaknya di dalam pernikahannya dengan Belva.
Saat ini Satya lebih memilih untuk memperhatikan dari kejauhan. Beruntung sebelum kedatangan Roichi dan Belva dirinya sudah bisa masuk ke dalam ruangan untuk melihat kondisi putrinya. Bisa memberikan usapan lembut dan juga kecupan pada putrinya.
"Bella, bagaimana Kaila ? Aku ingin masuk melihat putriku." Ucap Belva yang baru saja sampai.
"Tenang kak, Kaila sudah sadar. Saat ini dokter sedang memeriksa kembali sebelum dipindahkan ke ruang rawat." Jawab Bella.
"Benarkah ? Kaila sudah bisa dipindahkan ke ruangan rawat ?" Belva sangat antusias. Jika Kaila sudah bisa dipindahkan itu artinya perkembangan kesehatan Kaila sudah lebih baik.
"Iya Nduk. Kita tunggu saja dulu di sini ya." Ujar Budhe Rohimah.
"Ya ampun ini, Kaili kasihan dia masih mengantuk." Imbuh Budhe Rohimah.
"Mau bagaimana lagi, di rumah tidak ada yang menjaganya. Saya juga tidak mungkin membiarkan Vanthe pergi sendiri ke rumah sakit." Roichi menanggapi Budhe Rohimah.
"Sini biar kupangku saja, kasihan cucuku." Budhe Rohimah mengulurkan tangannya untuk meraih tubuh Kaili. Roichi memberikannya pada Budhe Rohimah.
Tak lama pintu PICU terbuka lebar. Suster dan dokter mendorong brangkar Kaila keluar dari ruangan. Mereka hendak memindahkan kaila ke ruang rawat.
"Kaila..." Panggil Belva yang langsung menghampiri Kaila.
"Permisi Nyonya, kita harus segera memindahkan pasien ke ruang rawat. Nanti kalian bisa menjaganya tidak baik jika berlama-lama di luar ruangan." Ucap suster.
"Baik suster." Belva mengangguk.
Suster dan dokter mendorong brangkar menuju ruang rawat VVIP sesuai dengan permintaan Satya. Semua keluarga Kaila mengikuti dari belakang. Hingga masuk ke dalam ruangan rawat baru untuk Kaila. Belva mengerutkan keningnya saat memasuki ruangan yang dengan fasilitas lengkap itu. Sedangkan Roichi tampak biasa saja, karena pikir Roichi dokter sudah benar memberikan yang terbaik untuk putrinya, saat menjaga Kaila pria itu sempat mengatakan pada dokter untuk memberikan perawatan yang terbaik agar Kaila cepat sembuh.
Segala sesuatu yang diperlukan oleh Kaila semua sudah dibereskan oleh pihak rumah sakit. Ruangan yang lengkap dengan fasilitas itu pun terdapat banyak benda yang akan dibutuhkan untuk keluarga pasien saat menjaga pasien nanti.
"Semua sudah selesai, tapi kami akan tetap terus memantau perkembangan kesehatan Kaila. Besok kami akan kembali lagi memeriksa kesehatannya. Kami permisi Tuan dan Nyonya." Ujar dokter Andrew.
"Terima kasih dokter. Tapi katanya Kaila sudah sadar kenapa masih begini dokter ?" Tanya Belva.
"Sama-sama Nyonya. Itu karena tadi Kaila menangis mencari Mami nya karena kami khawatir terlalu lama menangis akan membuat kondisinya drop maka kami memberikan suntikan obat penenang untuknya." Ucap dokter Andrew.
Belva mengangguk paham lalu dokter Andrew berlalu menjauhi ranjang Kaila.
"Terima kasih banyak dokter sudah memberikan perawatan yang terbaik untuk Kaila." Ucap Roichi sembari mengantar dokter hingga depan pintu.
"Sama-sama Tuan. Kami akan berusaha memberikan yang terbaik bagi pasien. Saya permisi dulu."
"Silahkan dokter."
Roichi menutup pintu ruangan dan kembali masuk ke dalam. Dia duduk di sofa bersama Budhe Rohimah dan juga Bella. Kaili sudah diletakkan di salah satu ranjang yang tersedia di dalam ruangan tersebut. Belva duduk di samping brangkar Kaila. Wanita itu tak mau berpindah tempat, menggenggam tangan kecil Kaila dengan erat.
"Kaila... Mami senang Kaila sudah sadar. Cepat sembuh sayang, jadi kita bisa kumpul bersama kembali di rumah." Ucap Belva lirih. Diusapnya pipi mulus Kaila yang cabi.
Malam semakin larut, Bella dan Budhe Rohimah sudah tertidur di sofa. Bella mengalah pada Budhe Rohimah agar wanita paruh baya itu bisa tidur di sofa panjang. Roichi menyarankan Bella untuk menggabungkan dua sofa singel untuknya tidur.
Roichi melihat Belva tertidur menelungkupkan kepalanya di atas ranjang Kaila pun menjadi perhatian Roichi. Diusap lembut kepala wanita itu lalu dirinya berniat untuk menggendong Belva untuk dipindahkan di ranjang bersama dengan Kaili. Saat sudah berjalan setengah jalan wanita itu terbangun dan terkejut.
"Om... !!" Pekik Belva.
"Sstt... Jangan berisik nanti membangunkan yang lain." Ucap Roichi.
"Turunkan aku."
"Tenanglah sudah hampir sampai. Tidurlah bersama Kaili disini. Jangan tidur seperti tadi tubuhmu akan sakit saat bangun nanti."
Roichi meletakkan tubuh Belva di atas ranjang dimana Kaili sudah tertidur. Belva hendak turun kembali tapi dicegah oleh Roichi.
"Menurutlah jika kamu sakit bagaimana akan menjaga Kaila ? Tidurlah disini Vanthe." Ucap Roichi.
Demi Kaila, Belva menurut dirinya tak boleh sakit ataupun drop. Roichi benar jika dirinya sakit bagaimana dirinya bisa menjaga Kaila. Lagipula mereka masih dalam satu ruangan Belva gak perlu khawatir akan keadaan Kaila. Banyak pula yang menjaga gadis kecil itu di dalam ruangan itu. Belva mengangguk patuh dan memposisikan dirinya di samping Kaili yang sudah tertidur lelap.
Roichi kembali duduk tapi tidak di sofanya tadi melainkan duduk di dekat ranjang Kaila. Memperhatikan bocah cantik yang terlelap tidur itu. Dengan seksama diperhatikan wajah Kaila, cantik tentu Roichi juga bisa menebak jika wajah itu perpaduan khas antara Belva dan ayah kandung Kaila. Bukan wajah asli Indonesia yang Kaila miliki tapi ada campuran dari darah orang luar.
"Bagaimana jika nanti kalian bertemu dengan ayah kalian suatu saat nanti ? Apa kalian akan melupakan Papi ?" Roichi bergumam lirih seraya tangannya mengusap lembut pipi Kaila.
Bila itu terjadi mungkin Roichi akan merasa sedih dan juga bahagia. Sedih bila kenyataannya nanti jika Kaila dan Kaili akan membagi rasa sayang mereka pada ayah kandung mereka. Bahagia pada akhirnya anak-anak itu yang telah lama mendambakan seorang Ayah bisa bertemu dengan ayah kandung mereka.
Rasa sayang Roichi sungguh besar pada Duo Kay. Apapun dia lakukan untuk anak-anak itu, menyempatkan diri di sela-sela kesibukan demi memberikan waktu bagi Duo Kay pada akhir pekan.
****
Satya yang berada di luar ruangan hanya bisa terdiam. Tak memilih pulang melainkan menunggu di luar ruangan yang tak jauh dari ruang rawat Kaila. Ingin memasuki ruangan putrinya tapi di dalam sana banyak orang yang sudah menjaga Kaila. Lagipula apa kata Roichi nanti jika dirinya tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan tersebut. Tentu dirinya akan dicap sebagai orang yang tak memiliki etika.
Kejadian yang dulu tanpa sadar dirinya lakukan saja itu masih mampu diingat nya dengan jelas. Saat dirinya menerobos masuk ke dalam rumah Belva tanpa ijin dari si empunya rumah. Tatapan Roichi padanya masih diingatnya dengan jelas jika Roichi sebenarnya merasa tak suka dan tak nyaman akan sikap Satya waktu itu.
Tak apa jika hanya menunggu di luar, jika terjadi sesuatu nanti dirinya akan tahu daripada jika dirinya memilih untuk kembali pulang ke rumah. Pikirannya juga nanti tidak akan tenang karena memikirkan kondisi Kaila.
"Cepat sembuh sayang. Daddy menunggumu." Ucap Satya lirih menatap ruangan Kaila.
Satu cup kopi hangat menemani Satya dalam kesendiriannya. Rasa bersalah karena baru bisa mengetahui jika Duo Kay adalah anak kandungnya dan juga tak sadar berperan dalam menghancurkan masa depan Belva dulu. Membuatnya ingin menebus semuanya itu dengan sebisa mungkin ada untuk Duo Kay maupun Belva, meski sudah ada Roichi yang jelas pasti bisa menjaga mereka.
__ADS_1
Hingga pagi tiba Satya masih duduk menahan kantuknya di kursi ruang tunggu. Hawa dingin yang sejak semalam menerpa dirinya di abaikan. Rasa sayangnya pada putrinya jauh lebih besar dari rasa kedinginan yang dia rasakan semalaman.
Sadar jika pagi telah menyapa, dirinya berdiri menghampiri ruangan Kaila. Mengintip melalu kaca kecil pada tengah-tengah pintu ruang rawat Kaila. Terlihat jika Roichi duduk tertidur di ranjang Kaila. Sebagai seorang ayah tentu saja dirinya ingin merasakan hal seperti untuk putrinya.
Helaan napas terdengar dari bibir Satya. Pria itu melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu. Dirinya harus pergi karena pekerjaan kantor masih membutuhkan dirinya.
Dengan mobilnya, Satya mengemudi dengan santai menuju rumah besarnya. Sampai rumah besar itu ternyata Jordi sudah sampai di rumahnya. Mobil yang dikenalinya yang selalu ditumpanginya itu sudah terparkir rapi di depan halaman rumah.
"Selamat pagi Tuan." Sapa Jordi saat Satya sudah memasuki rumahnya. Jordi duduk di ruang tamu.
"Pagi Jordi."
"Anda dari mana Tuan ? Kita ada meeting pagi ini."
"Baiklah. Tunggu tiga puluh menit." Ucap Satya lalu berlalu menaiki anak tangga satu persatu dengan langkah yang tak lambat juga tak cepat. Pertanyaan Jordi tak tak dijawabnya sama sekali.
Diperhatikan oleh Jordi, bahwa Tuannya itu terlihat kelelahan. Wajah yang biasanya segar dan tegas itu kini sedikit layu.
Tiga puluh menit berlalu, pria bertubuh tinggi dan kekar itu menuruni anak tangga dengan langkah pasti. Tanpa berkeinginan untuk menghampiri ruang makan terlebih dahulu Satya berjalan menuju ruang tamu dimana Jordi berada.
"Kita berangkat sekarang." Titah Satya.
"Baik Tuan."
Kedua pria gagah dengan setelan jas masing-masing itu berjalan keluar menuju mobil Satya. Hari ini mobil Jordi ditinggalkan di rumah Satya karena Tuannya itu lebih memilih menggunakan mobil sendiri.
"Jam berapa mulai meeting ?" Tanya Satya yang sudah duduk anteng di kursi belakang.
"Jam delapan Tuan. Grace sudah mempersiapkan semuanya. Nanti kita hanya tinggal menuju ruangan rapat saja."
"Baiklah... Ayo jalan."
Mobil mulai berjalan, Satya menyenderkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata. Mengistirahatkan diri sejenak selama perjalanan karena semalaman dirinya tak tidur sama sekali.
Jordi memperhatikan dari kaca mobil yang ada di atas kepalanya. Satya memejamkan mata, benar sekali dugaan Jordi jika bos-nya dalam keadaan lelah saat ini. Untuk sementara dia membiarkan Satya untuk beristirahat sejenak. Dia tahu mungkin Satya ikut menjaga Kaila di rumah sakit hingga pagi-pagi baru pulang ke rumah.
Seperti biasa pagi hari jalanan ibukota sudah mulai macet. Kesempatan bagus bagi Satya dalam menikmati istirahat sejenak nya sebelum sampai kantor. Jordi pun sengaja tak mencari jalan lain untuk menerobos kemacetan. Dilihatnya jam masih aman untuk sampai ke kantor jadi tak perlu terlalu terburu-buru.
Sampai di kantor, dilihatnya Satya masih tertidur. Jam dipergelangan tangan Jordi masih menunjukan pukul delapan kurang dua puluh menit. Mungkin memberikan waktu lima sampai sepuluh menit untuk Satya melanjutkan tidurnya tak masalah menurut Jordi. Sembari menunggu diperiksanya pekerjaan hari ini yang akan digunakan untuk meeting sesaat lagi.
"Tuan... Tuan Satya."
Pria tampan dengan wajah tegas itu mengerjakan matanya. Terbangun akibat panggilan dari Satya.
"Ada apa Jordi ?"
"Tuan sepertinya anda lelah sekali. Apa sebaiknya Tuan istirahat saja, biar saya yang handel meeting pagi ini."
"Tidak perlu Jordi. Saya masih bisa." Satya menoleh ke kiri dan kanan. Mobil telah berhenti di parkiran kantor.
"Sudah sampai ternyata." Gumam Satya.
"Iya Tuan. Mari kita masuk Tuan."
Jordi turun dari mobil begitu pula bos-nya. Satya tak pernah mau jika Jordi membukakan pintu untuknya. Meski Satya juga memiliki sikap yang arogan tapi untuk satu hal ini dirinya tak mau Jordi melakukannya. Lain halnya jika sopir yang lain yang mengantarkan Satya, mungkin dirinya akan membiarkan orang itu melakukan untuknya.
"Selamat pagi Tuan." Sapa Grace tersenyum ramah.
"Pagi Grace."
"Tuan... Anda sakit ? Apa anda baik-baik saja ?" Tanya Grace yang juga melihat wajah Satya tampak kuyu dengan wajah kurang tidur.
"Tidak. Ada apa ?"
"Wajah anda tampak lelah sekali."
"Saya hanya butuh istirahat sebentar. Materi susah siap semua Grace ?"
"Sudah Tuan. Semua sudah saya letakkan di meja anda."
"Oke." Satya berlalu masuk ke dalam ruang kerjanya.
Jordi sedari tadi sudah masuk ke dalam ruangannya untuk memeriksa materi yang akan di bahas nanti.
Meeting dimulai pukul delapan tepat. Satya dan Jordi memulai kegiatan itu tanpa memundurkan jadwal. Meski Satya terlihat lelah tapi pria itu tetap bersikap profesional. Sikapnya yang dingin dan datar serta tegas itu mampu menutupi tubuhnya yang terasa lelah di hadapan karyawannya.
Semua berjalan dengan lancar, satu dua hambatan itu memang wajar terjadi. Tapi semua dapat dikendalikan dengan baik. Hal-hal yang dirasa kurang memuaskan, Satya memutuskan memberikan mereka waktu untuk memperbaiki beberapa hal yang kurang. Para karyawan sudah sempat merasa was-was jika terjadi kesalahan pasalnya Satya akan marah dan memotong gaji bila hal itu terjadi. Tapi kali ini tampaknya pria itu sedikit berbaik hati.
"Meeting selesai. Saya tunggu revisi dari kalian. Tidak ada kata terlambat untuk besok." Ucap Satya.
"Baik Tuan." Jawab para karyawan dengan menunduk hormat.
"Oke. Sekian pertemuan kita hari ini. Jangan lupa pesan Tuan Satya atau kalian tahu sendiri seperti apa akibatnya nanti. Terima kasih, kalian bisa kembali ke ruangan masing-masing." Ucap Jordi.
Satya dan Jordi keluar terlebih dahulu dari ruang rapat. Para karyawan menghembuskan napas lega, seperti siswa yang tengah menjalani ujian matematika bersama guru tergalak di sekolah. Kelegaan mereka dapatkan setelah selesai rapat.
"Tuan... Bagaimana keadaan Kaila ? Apakah anda tadi malam ikut menjaganya ?" Tanya Jordi.
"Kaila sudah lebih baik. Dia susah sadar." Ucap Satya tersenyum.
Jordi melihat senyum yang tampak di bibir Satya adalah senyum kebahagian. Senyum yang jarang sekali Jordi lihat selama ini. Dia berharap senyum itu akan selalu muncul di wajah Satya. Hidup pria itu sudah lama tak tersentuh dengan yang namanya kebahagiaan.
"Syukurlah Tuan saya turut bahagia atas kabar baik ini."
"Terima kasih Jordi." Ucap Satya tersenyum.
"Tuan, saya ada berita penting untuk anda."
"Apa itu ?" Tanya Satya.
"FF Group sudah bisa kita akuisisi menjadi anak perusahaan Bala Corp. Semua aset Faris sudah terlepas dari tangannya dan menjadi milik kita."
Senyum yang tadi sudah merekah kini kembali merekah tapi senyum itu terlihat berbeda, tampak sinis dan kepuasan di dalamnya.
"Bagus. Apa yang sudah mereka ambil dariku tak akan saya lepaskan begitu saja."
"Pertahankan semua karyawan yang ada disana kecuali mereka yang menjadi orang-orang kepercayaan pria pecundang itu serta mereka yang membangkang peraturan baru yang akan kita jalankan di perusahaan itu." Imbuh Satya.
"Baik Tuan." Jawab Jordi.
Satya memang tak akan melepaskan mereka yang telah berusaha menghancurkan dirinya. Tapi dia masih memiliki hati nurani untuk mempertahankan para karyawan kecil yang ada di perusahaan FF Group yang kini sudah beralih menjadi anak perusahaan Bala Corp.
****
Jika Kaila sudah sadar, Alya sampai saat ini masih belum sadar. Beberapa anggota polisi masih terus berjaga di depan ruangan Alya. Seperti seorang ******* yang tengah berada dalam penjagaan ketat. Sonia yang kerap kali menunggu dan menemani Alya tapi tak jarang juga ia meninggalkan Alya sendiri untuk kepentingan pribadinya.
Seperti saat ini Sonia, tak menemani Alya yang terbaring di rumah sakit. Ia berada di apartemen bersama Faris. Menghabiskan waktu bersama berdua karena pria kesayangan Sonia itu tampak jarang sekali berada di apartemen dengan alasan mengurus pekerjaannya.
"Sayang, akhir-akhir ini kamu sibuk sekali." Ucap Sonia dengan nada manjanya.
"Iya maaf sayang memang aku sedang sibuk, pekerjaanku sedang tak bisa ku tinggalkan. Bagaimana Alya ?"
"Alya masih belum sadar sayang. Aku kangen sama kamu." Sonia mempererat pelukannya pada Faris.
"Iya aku juga kangen sama kamu sayang." Ucap Faris.
__ADS_1
Pelukan erat Sonia mampu membangkitkan jiwa keperkasaan Faris yang berada di dalam kain panjangnya. Tangan Faris sudah tak bisa dikendalikan lagi menyentuh sembarang arah dan berakhir pada bagian-bagian favoritnya.
"Sayang, aku sudah tak tahan, beberapa hari jauh darimu membuatku merindukan milikmu." Suara Faris sudah tak bisa dikondisikan berat dan terdengar sedang menahan sesuatu dalam dirinya.
Sonia wanita dewasa sudah sangat paham akan arah pembicaraan Faris yang jelas-jelas sudah mengarah ke hal yang berbau keintiman. Sentuhan-sentuhan Faris pun juga sudah tak bisa ditahan oleh Sonia. Dengan mudahnya Sonia pasrah begitu saja dihadapan Faris. Rasa rindu karena jarangnya waktu untuk bertemu membuat mereka semakin tak mampu menahan hasrat masing-masing.
Alya yang terbaring lemah pun kini tak lagi berada dalam pikiran Sonia. Isi dari pikiran wanita itu hanyalah bagaimana bisa menuntaskan rasa rindunya pada pria kesayangannya. Entah Sonia ini ibu macam apa, ia terlalu dibutakan oleh cinta meski usianya sudah tak lagi muda. Keinginannya untuk bisa bersama dengan Faris masih saja sangat kuat. Buktinya saat bersama Satya pun ia bisa tetap mempertahankan cinta pertamanya itu.
Tega mengkhianati Satya yang sudah berusaha menerima akan nasib hubungannya yang tak sesuai harapan. Tapi tak mengapa karena semua akan didapatkan oleh masing-masing pihak sesuai dengan harapan atau sesuai dengan sikap yang telah dilakukan selama ini.
Disaat keduanya melakukan aktivitas yang membangkitkan semangat empat lima itu. Berbagi peluh bersama dengan sentuhan, kecupan dan suara-suara manja mendesah. Tiba-tiba suara dering ponsel Faris terdengar hingga mengganggu kegiatan mereka.
"Sayang, ponsel mu berbunyi." Ucap Sonia.
"Biarkan sajah... Aahh.." Faris masih terus bergerak justru pergerakannya semakin cepat guna mendapatkan puncak kenikmatan.
Lagi-lagi ponsel itu terus berdering, ritme pergerakan yang cepat itu seakan berhenti secara tiba-tiba.
"Ck !! Siapa sih ganggu saja." Ucap Faris kesal. Tak hanya Faris tapi juga Sonia merasa kesal. Permainan mereka terhenti dengan suara ponsel yang terus berbunyi.
"Evi !!! Tak bisakah kamu tak mengganggu ku huh !!" Bentak Faris pada sekertarisnya, Evi. Ponsel itu berbunyi karena Evi lah yang menghubunginya.
"Ck... Sekertaris itu lagi." Batin Sonia kesal.
"Tuan Faris yang terhormat. Ini masalah pekerjaan dan penting. Itulah guna saya menjadi sekertaris Anda." Ucap Evi dengan berani. Ia sudah merasa kesal dengan Faris yang susah sekali dihubungi.
"Iya maka dari itu kamu ku gaji untuk bekerja menghandle semua pekerjaan ku jika aku tak ada di kantor Evi." Ucap Faris tak kalah kesal.
"Para investor mencabut saham mereka. Dan saat ini perusahaan anda Tuan Faris sudah di akuisisi oleh perusahaan lain." Ucap Evi karena sudah sangat kesal dan marah pada Faris.
Ia tak menyangka mendapatkan bos yang begitu bodoh dan tidak berkompeten sama sekali seperti Faris.
"Hah ??!! Bagaimana bisa itu terjadi tanpa ku ketahui ?!!" Ucap Faris dengan nada tinggi.
Evi tersenyum mengejek pada bos nya yang bodoh dan tak berguna itu. "Iya karena anda terlalu sibuk dengan kegiatan yang tidak penting sama sekali. Bukankah anda melimpahkan kekuasaan pada Tuan Budiman untuk menggantikan anda selama anda tak ada di tempat ?"
"Perusahaan semakin drop dan apa anda tahu ? Tuan Budiman dengan mudah menyerahkan perusahaan FF Group pada perusahaan lain demi menutupi banyaknya hutang karena banyak investor yang mundur dari FF Group."
Mata Faris membelalak tak percaya. Perusahaan yang sedari dulu dirintisnya berusaha keras untuk maju dan berkembang meski dengan cara-cara yang salah.
"Brengsek !!! Siapa perusahaan yang mengambil alih perusahaanku ??!!" Tanya Faris dalam keadaan marah.
"Bala Corp." Jawab Evi dengan singkat, pada dan jelas.
Semakin terkejut lah Faris saat mendengar perusahaan siapa yang mengambil alih perusahaannya. Tak menyangka jika Satya akan bertindak sejauh ini padanya. Faris langsung menutup panggilan Evi. Dan melemparkan ponselnya secara kasar di atas ranjang.
"Aarghh !!! Brengsek !!" Faris bertolak pinggang masih dalam keadaan polos. Tangannya lalu mengacak rambutnya secara asal. Frustasi yang kini Faris rasakan.
"Kenapa sayang ?" Tanya Sonia.
Faris melirik Sonia dengan tatapan masih bercampur amarah. Kesal hasratnya tak tercapai pada puncaknya ditambah informasi yang begitu mengejutkan.
Faris menyalurkan rasa kesal dan marahnya pada Sonia. Menyerang Sonia dengan membabi buta dengan menggagahi wanita yang menjadi kekasihnya bertahun-tahun lamanya itu. Sonia jelas saja terkejut atas sikap Faris yang kasar dalam menyentuhnya.
****
Di rumah sakit, Kaila sudah terbangun sejak tadi. Anak itu masih merengek karena rasa sakit yang dirasakannya. Belva dengan lembut menenangkan Kaila. Bella dan Budhe Rohimah sudah kembali pulang karena Kaili harus sekolah. Roichi masih berada di rumah sakit bersama Belva dan Kaila.
"Sayang, jangan menangis nanti kamu tambah sakit loh." Ucap Belva menenangkan Kaila.
"Hiks... Tapi sakiit Mamiiii." Rengek Kaila.
"Iya nanti tidak akan sakit lagi sayang. Sudah ya jangan menangis." Bujuk Belva.
"Kaila sayang, jangan menangis. Kaila mau apa sayang ? Nanti Papi carikan untuk Kaila sepulang dari kantor." Ucap Roichi yang ikut menenangkan Kaila.
"Kaila mau sepatu ? Atau mau boneka ?" Tawar Roichi.
"Kaila mau sembuh, ini sakit Papiiii hiii hiks."
"Iya nanti Kaila sembuh sayang asalkan jangan menangis lagi nanti tambah sakit sayang." Ucap Roichi lembut . Tangannya mengusap kepala Kaila.
Gadis kecil itu mengangguk meski masih terisak lirih. Belva berusaha mengalihkan perhatian Kaila dari rasa sakit pada hal-hal yang menyenangkan. Hingga akhirnya Kaila mulai bisa tenang, tangan Belva menepuk lembut paha Kaila agar gadis kecilnya bisa beristirahat kembali.
Melihat Kaila yang sudah tenang Roichi berpamitan untuk pulang dan berangkat ke kantor. Dia tak ingin Tuan Hector curiga karena dirinya terlalu sering membolos dari kantor untuk menemani Kaila. Sesuai dengan permintaan Belva agar tak memberitahukan pada Tuan dan Nyonya Hector.
"Saya pulang dulu, mau berangkat ke kantor." Pamit Roichi.
Belva mengangguk. " Hati-hati Om. Terima kasih sudah menemani kami."
"Tak masalah, saya pulang. Ingat hubungi saya jika terjadi sesuatu." Sapuan lembut kembali di dapatkan Belva dari Roichi sebelum pria itu pergi.
"Iya Om." Dengan senyum lembut Belva membalas sapuan tangan Roichi.
Roichi berlalu, hatinya terasa bahagia tanpa disadarinya. Berinteraksi dengan Belva dan Kaila membuatnya kembali merasakan bagaimana hidup bersama keluarga kecil yang bahagia dengan seorang istri dan anak.
Disela-sela menjaga Kaila, Belva kini sudah mulai melakukan pekerjaannya. Ia bisa sedikit lebih tenang saat Kaila sudah kembali sadar. Tablet PC nya sudah kembali digunakan untuk bekerja. Pun demikian dengan lembaran kertas dan pensil yang menjadi temannya setiap hari dalam bekerja.
Mendekati makan siang, Satya menyempatkan diri untuk kembali datang ke rumah sakit. Menengok bagaimana keadaan Kaila putri kecilnya. Bersama Jordi yang menemaninya Satya sampai di rumah sakit.
"Tuan saya ke kantin dulu. Anda mau titip ?" Tanya Jordi.
"Kopi saja." Jawab Satya.
"Baik Tuan. Kalau begitu saya ke sana dulu."
Satya hanya menjawab dengan deheman saja lalu berlalu menuju kamar rawat Kaila. Mereka berdua berpisah arah, Jordi menuju kantin.
Sebelum masuk Satya mengintip dari kaca pintu. Ruangan Kaila tampak sepi tak ada siapapun di dalam. Satya mengernyitkan keningnya. Dimana keluarga yang tadi malam menemani Kaila.
Baru sebentar saja Satya meninggalkan rumah sakit rasanya dia sudah begitu merindukan Kaila maupun Kaili. Anak-anaknya yang masih kecil itu menggemaskan bagi Satya. Pria itu masuk ke dalam kamar Kaila dan mendekati gadis kecilnya yang tampak tertidur.
Dipindai sekeliling ruangan itu, Satya mengangguk puas. Dokter benar-benar memberikan ruangan yang nyaman untuk putrinya. Di atas meja dilihatnya beberapa barang dan juga sketsa gambar.
"Apa itu milik Belva ?" Gumam Satya.
Tapi Satya tak mendekat ke arah meja tersebut melainkan mendekati ranjang Kaila. Bibirnya tersenyum tipis melihat wajah cantik Kaila.
"Hai sayang, Daddy datang. Bagaimana keadaanmu Nak ?" Tanya Satya meski dia tahu putrinya sedang tertidur. Boneka beruang kecil berwarna pink diletakkan Satya di samping Kaila.
"Daddy bawakan boneka kecil ini untukmu sayang. Cepat sembuh ila nya Daddy." Satya mengecup kening Kaila.
Belva yang baru saja keluar dari kamar mandi sontak membulatkan matanya. Satya sudah berada di dalam kamar rawat Kaila bahkan sudah duduk di samping putrinya.
"Tuan apa yang anda lakukan disini ?" Tanya Belva masih menampakkan wajah tak sukanya pada Satya.
Satya menoleh ke arah Belva. "Pelankan suaramu Belva, putriku bisa terbangun oleh suaramu."
"Mau apa anda kemari ?" Tanya Belva.
"Menjenguk putriku, apa lagi memang." Ucap Satya santai dengan sikap dinginnya.
"Kamar Alya bukan disini. Jangan sampai Nyonya Sonia melihat anda disini."
"Saya tahu ini kamar Kaila putriku." Jawab Satya.
__ADS_1
Belva semakin kesal Satya begitu santai nya berada di dalam ruangan Kaila. Sejujurnya Belva merasa khawatir jika saja nanti Sonia melihat Satya berada di kamar rawat Kaila maka akan berbahaya bagi Kaila nanti.
Wanita itu ingin sekali marah-marah dan berteriak pada Satya. Tapi dirinya sadar masih berada di rumah sakit. Saat Belva hendak membuka suara lagi tiba-tiba pintu terbuka. Otomatis Belva menelan kembali suara yang hendak di keluarkan nya untuk Satya.