
Merasa tidak terima dengan perlakuan seorang wanita yang tak dikenal itu karena sikapnya yang arogan dan tanpa sopan santun Roichi langsung membawa Duo Kay dan Jasmine ke tempat pengelolaan lingkungan taman di mana mereka berkunjung.
Roichi melihat Kaila dan Jasmine yang merasa ketakutan karena ancaman pelaporan pada pihak berwajib atas kelalaian dalam menjaga anak kecil. Permasalahan yang terjadi di taman langsung direspon dengan baik oleh pihak pengelola taman.
"Tuan, ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah satu pengelola taman
"Sesuatu baru saja terjadi di taman dan saya ingin mengetahuinya lebih jelas apa yang terjadi, bisakah anda membantu dengan memperlihatkan rekaman cctv taman sebelah timur?" Ucap Roichi.
"Baik, Tuan. Maaf kalau boleh tahu kejadian itu terjadi kapan? Agar kami lebih mudah memutarkan rekaman cctv."
"Hari ini tepatnya tiga puluh menit yang lalu." Ujar Roichi.
"Baik, itu sangat mudah karena baru saja terjadi."
Dalam setiap gerakan jari pengelola taman itu terlihat lincah tak butuh waktu lama rekaman cctv telah di dapat dan di putar. Beberapa pasang mata memperhatikan dengan seksama rekaman tersebut. Roichi sangat yakin jika Kaili tidak bersalah karena dia tahu bagaimana sifat dan watak bocah kecil yang sudah dianggapnya sebagai anak itu. Mungkin memang Jasmine sedikit ceroboh dalam hal ini tapi semua itu bukan seratus persen salah Jasmine.
"Cukup. Bisa Anda salin rekaman cctv itu. Saya membutuhkannya." Ujar Roichi.
"Baik, Tuan. Mohon ditunggu sebentar."
Roichi mengangguk, rekaman cctv seketika sudah didapatkan salinan rekaman tersebut melalui email Roichi. Wanita yang sedari tadi begitu kekeuh menuduh Kaili dan Jasmine kini hanya bisa terdiam tanpa kata.
"Tuan, maaf jika saya lancang mengenai kejadian ini. Taman ini begitu banyak orang yang berkunjung saran saya sebagai orang yang lebih dewasa kita harus menjaga anak-anak demi menghindari kejadian seperti ini atau juga hal-hal lain yang tidak diinginkan seperti penculikan." Ujar pengelola taman.
"Saya mengerti itu, tapi bukankah manusia itu bisa saja lalai. Meski yang kita harapkan memang keselamatan anak-anak tetap terjaga. Terima kasih atas saran anda dan atas bantuan anda. Saya permisi." Pamit Roichi.
"Sama-sama, Tuan. Semoga permasalahan anda cepat selesai."
Roichi mengangguk lalu keluar dari ruangan tersebut. Wanita yang merasa anaknya menjadi korban pun ikut keluar.
"Anda lihat bukan jika yang salah di sini adalah putramu. Wanita yang anda sebut lalai dalam menjaga anak itu pun seharusnya anda tujuan pada diri anda sendiri." Ujar Roichi.
"Putraku yang menjadi korban dari ulah putramu, Nyonya. Tidak seharusnya anda menuduh jika anda tak mengerti dengan jelas kejadiannya seperti apa. Ini untuk biaya pengobatan putramu yang celaka akibat ulahnya sendiri." Ucap Roichi dengan memberikan berberapa lembar uang pada wanita tersebut.
Jasmine sedari tadi hanya menunggu di luar ruangan bersama Kaila dan Kaili. Perempuan itu masih merasakan kecemasan atas apa yang telah menimpa Kaili. Rasa bersalahnya kini memuncak memenuhi pikiran dan perasaannya. Ia takut jika terjadi hal yang tidak diinginkan pada Kaili karena sedari tadi bocah itu masih mengeluh nyeri setelah jatuh.
Saat Roichi berbicara dengan wanita yang telah menuduhnya dengan arogan itupun Jasmine juga mendengarnya tapi ia hanya bisa diam saja tanpa mau ikut campur membuka suara. Ia mendekap Duo Kay, menjaga kedua anak itu.
"Tuan, maafkan saya atas tindakan saya." Ucap wanita itu.
"Sudahlah, lain kali jaga sikap anda pada orang lain jangan sembarang menuduh. Segera obati putramu dan didik putramu dengan baik agar tidak mudah melukai anak-anak yang lain." Ucap Roichi.
Pria itu berlalu begitu saja, dia ingin memastikan keadaan Kaili dan Kaila yang masih dijaga oleh Jasmine.
"Jasmine, ayo kita pergi." Ajak Roichi.
"Baik, Tuan." Uval Jasmine lirih.
Kembali Kaili digendong oleh Jasmine dan Kaila digendong oleh Roichi. Mereka berjalan beriringan menuju mobil. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Roichi. Jasmine semakin merasa takut dan cemas, ia sudah pasti mengira Roichi marah padanya karena tidak bisa menjaga Kaili.
Roichi meletakkan Kaila di kursi penumpang belakang. Setelah itu Jasmine menyusul masuk bersama Kaili.
"Turun, saya bukan sopirmu." Ucap Roichi pada Jasmine.
Jasmine langsung merasa bingung dan terkejut, apakah segitu marahnya Roichi pada kesalahannya hingga menyuruhnya turun dari mobil dan harus pulang sendiri pikir Jasmine.
"Ma-maaf, Tuan. Saya akan turun." Ucap Jasmine. Tampak sekali raut ketakutan dan kesedihan di wajahnya.
Roichi hendak berjalan memutari mobil untuk masuk ke dalam mobil tapi melihat Jasmine tak bergerak sedikitpun membuatnya menghentikan langkahnya.
"Kenapa masih di sini?" Tanya Roichi.
"Ma-maksud Tuan?" Tanya Jasmine.
"Masuk, kita harus ke rumah sakit segera."
"Hah? Ma-masuk? Bukankah Anda menyuruh saya turun dan pulang sendiri?"
Pria itu justru mengernyitkan keningnya data mendengar ucapan Jasmine. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Roichi justru bergerak menuju pintu mobil yang ada di sebelah Jasmine dan membukanya.
__ADS_1
"Cepat masuklah, kita harus ke rumah sakit. Atau kamu memang ingin pulang sendiri?" Ujar Roichi.
Jasmine sudah mulai bergerak hendak masuk ke dalam mobil seketika itu juga Roichi juga melanjutkan langkahnya untuk memasuki mobil. Mereka mulai mengendarai mobil menuju rumah sakit terdekat untuk memeriksakan keadaan Kaili. Tak mungkin Roichi membawa pulang anak Satya dan Belva dalam keadaan sakit bisa-bisa kedua orang tua Duo Kay akan marah padanya.
Di dalam mobil terasa sangat hening, Jasmine berulangkali memikirkan kejadian yang menimpa Kaili, rasa bersalahnya semakin menjadi-jadi ia merasa semakin tidak tenang saja.
"Tuan..." Panggil Jasmine lirih.
Roichi hanya menoleh saja tanpa menjawab panggilan Jasmine.
"Tuan, m-ma-maafkan saya. Ini kelalaian saya dalam menjaga Tuan kecil." Jasmine meminta maaf kepada Roichi karena merasa sangat bersalah pada keadaan Kaili.
"Tidak apa, semoga nanti Kaili baik-baik saja. Lain kali jangan ceroboh, jika Tuan Satya tahu putranya terluka maka saya jamin kamu akan habis olehnya." Ucap Roichi.
Jasmine semakin merasa ketakutan setelah mendengar ucapan Roichi. Perempuan itu tercekat tak dapat berbicara apapun lagi, pikirannya tertuju pada reaksi yang akan Satya berikan padanya. Jasmine mulai berkeringat dan duduk tak tenang, jari jemarinya saking bertautan tidak tenang.
"Jasmine, kamu kenapa?" Tanya Roichi yang melihat ketidak-beresan pada Jasmine.
Roichi memperhatikan Jasmine yang berubah aneh dan teelihat tidak tenang.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Roichi.
"Ap-apa... Saya akan dipecat, Tuan?" Tanya Jasmine pada Roichi.
Jelas sekali Roichi melihat wajah Jasmine, mata gadis itu terlihat sedih dan cemas, raut wajah pasrah pun tampak dari Jasmine. Roichi merasa kasihan pada gadis itu, kembali dia memikirkan kalimat yang sudah diucapkannya pada Jasmine.
"Astaga kamu membuatnya ketakutan." Gumam Roichi dalam hati pada dirinya sendiri.
"Saya jamin kamu masih akan tetap bekerja di rumah Tuan Hector. Kamu jangan khawatir, Kaili pasti baik-baik saja." Ucap Roichi berniat menenangkan Jasmine.
"Tapi... Tuan Satya pasti akan marah besar kepada saya."
Pikiran Jasmine masih dipenuhi rasa takut saat ini. Ia bisa menilai jika sikap Satya jauh lebih dingin daripada Roichi. Pria di sampingnya itu masih dalam batas normal dalam bersikap pada siapapun meski terkadang juga bersikap dingin.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Itu urusan saya. Ini untuk pembelajaran saja lain kali jangan cerobong. Bagaimana tadi bisa terjadi?" Tanya Roichi pada akhirnya.
"Apa sangat penting hingga kamu lalai menjaga Kaili?"
Jasmine menundukkan wajahnya, dikatakan penting memang penting karena keluarganya sedang sedikit mengalami masalah. Dirinya adalah tulang punggung keluarga yang merasa memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya.
"Maaf, lain kali saya tidak akan mengulanginya dan akan mengutamakan keselamatan Tuan dan Nona kecil." Ujar Jasmine yang memilih untuk tak menjawab pertanyaan Roichi.
Meski merasa tidak nyambung tapi Roichi tak memaksa Jasmine untuk menjawab pertanyaannya. Tak berapa lama mereka tiba di rumah sakit.
"Biar saya yang gendong Kaili." Ujar Roichi pada Jasmine.
"Baiklah, biar saya yang menggendong Nona kecil." Ujar Jasmine.
"Sayang, kamu tidak apa-apa kan jalan. Aunty Jasmine kelelahan karena sedari tadi menggendong Kaili. Mau jalan hmm?" Tanya Roichi pada Kaila yang diangguki oleh gadis kecil itu.
"Iya Papi, aku jalan bersama aunty saja." Jawab Kaila.
"Tapi Tuan..." Ujar Jasmine.
"Kaila tidak sakit, dia masih bisa berjalan. Kamu sedari tadi menggendong Kaili, setidaknya beristirahatlah sejenak sebelum melanjutkan tugasmu." Ucap Roichi.
"Kita masuk." Kembali ujar Roichi.
Mereka berempat melanjutkan perjalanan masuk ke dalam rumah sakit untuk memeriksa keadaan Kaili. Menurut keterangan Kaila dan melihat rekaman cctv terlihat jika kepala Kaili meluncur lebih dulu hingga membentur tanah. Khawatir terjadi masalah maka Roichi harus mengantisipasi sesegar mungkin.
Kaili diperiksa oleh dokter di dampingi Roichi dan juga Kaila serta Jasmine. Pria kecil itu masih mengeluh nyeri sampai saat ini di bagian kepalanya.
"Tuan dan Nyonya, putra kalian tidak apa-apa. Hanya sedikit ada benjolan saja akibat benturan maka dari itu yang membuatnya merasakan nyeri." Jelas dokter.
Jasmine seketika merasa tidak nyaman dengan penjelasan dokter. Kaili bukanlah anaknya bersama Roichi tapi dokter itu mengira bahwa Kaili adalah anaknya.
"Dokter, maaf itu bukan anak saya." Ujar Jasmine.
"Oh maaf saya kita anak kalian. Jadi, dimana ibunya?" Tanya dokter.
__ADS_1
"Ibunya ada di rumah. Apa benar-benar tidak terjadi sesuatu padanya?" Tanya Roichi memastikan lebih jelas.
"Baiklah. Untuk lebih meyakinkan lagi kita bisa melakukan Rontgen." Ucap dokter.
"Lakukan saja dokter, saya ingin memastikan dia baik-baik saja dan tidak ada hal membahayakan." Ucap Roichi.
"Baiklah, kita akan melakukannya. Tunggu beberapa saat, kalian bisa menunggu di luar biar pasien dipersiapkan oleh suster."
Jasmine, Kaila dan Roichi hendak keluar tapi Kaili merengek agar tidak ditinggalkan jadi mau tidak mau dokter mengijinkan mereka untuk menemani Kaili sementara waktu sebelum proses Rontgen dilakukan.
Semua proses sudah dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada. Hasil dari Rontgen tersebut sesuai dengan penjelasan dokter bahwa Kaili tidak mengalami masalah serius hanya memar dan benjolan saja akibat terbentuk dengan tanah yang beralas rerumputan. Bersyukur Roichi dan Jasmine mendengar hasil dari pemeriksaan. Kini mereka kembali ke rumah mengabaikan rencana mereka untuk membeli kado.
"Kaili baik-baik saja, jangan khawatir, tenanglah." Ucap Roichi kembali menenangkan Jasmine yang masih tegang di dalam mobil.
Perempuan itu tersenyum tipis dan mengangguk. Ia cukup merasa lega dengan hasil pemeriksaan dokter tapi ia masih merasa cemas akan reaksi Satya saat mengetahui jika Kaili terjatuh.
Sampi di rumah Duo Kay segera dibawa ke dalam kamar mereka tapi baru saja akan melangkah ke arah tangga Satya dan Belva melihat kedatangan kedua anak mereka.
"Kalian sudah pulang? Loh... Kaili kenapa, sayang?" Tanya Belva pada Kaili.
Belva melihat wajah Kaili yang sembab karena menangis. Jasmine kembali menegang karena ketakutan. Tangannya meremas ujung bajunya dan Roichi memperhatikan itu karena dirinya sudah yakin jika asisten rumah tangga Tuan Hector itu masih merasa ketakutan.
"Tadi Kaili jatuh, Mi." Ucap Kaila.
"Jatuh?! Bagaimana bisa?!" Tanya Satya dengan nada panik dan khawatir.
"Tadi ada anak yang mendorong Kaili di taman tapi dia baik-baik saja tidak perlu khawatir." Ujar Roichi.
"Bagaimana bisa terjadi, apa kalian tidak menjaga putraku?" Tanya Satya dengan nada jengkel.
"Satya, ini kecelakaan kecil. Jatuh dalam bermain itu wajar. Aku yang lalai menjaga mereka karena kejadian itu begitu cepat." Ujar Roichi sebelum Jasmine membuka mulutnya.
Roichi menghindari terjadinya masalah yang akan timbul dari peristiwa yang dialami Kaili. Dia tahu sedikit bagaimana sifat Satya yang masih memiliki sifat arogan. Roichi sudah melihat wajah Jasmine yang ketakutan dan tertekan sejak tadi, dia menjadi tidak tega dengan perempuan itu. Kali ini Roichi berusaha menyelamatkan Jasmine dari amukan Satya. Roichi tahu jika Satya terlihat begitu menyayangi kedua anaknya dan juga Belva.
"Tapi Kaili benar-benar baik-baik saja kan, Om?" Tanya Belva memastikan.
"Putramu baik-baik saja tenanglah. Aku tidak akan membiarkan putraku terjadi sesuatu yang buruk." Ujar Roichi.
"Hei itu putraku bukan putramu." Ucap Satya tak terima.
"Bukan putra kandungku tapi tetap saja mereka putraku, aku ikut menjaga mereka sejak kecil." ucap Roichi tak mau mengalah. Hatinya masih merasa kecewa dan kesal karena pada akhirnya Satya lah yang bersama Belva. Pria yang sempat menelantarkan Belva dan Duo Kay.
"Om dan Jasmine bisa bantu membawa Kaila dan Kaili?" Tanya Belva yang berusaha mencegah terjadinya perdebatan.
Satya saat ini masih dalam kondisi yang sensitif. Ia tahu Satya akan tersulut emosi jika Roichi terus saja membalas ucapan Satya. Melihat wajah Satya yang sudah mulai kesal membuat Belva segera mengambil tindakan.
"Tuan, maaf. Tuan Satya sedang sensitif saat ini." Bisik Jasmine pada Roichi.
Pria itu mengerut tak mengerti hendak bertanya tapi Belva sudah meminta tolong untuk segera membawa Duo Kay. Sampai di dalam kamar Duo Kay baru Roichi bertanya pada Jasmine.
"Apa maksud mu Satya sedang sensitif?" Tanya Roichi.
"Hah? Itu Tuan, Nyonya besar sempat mengatakan jika Tuan Satya sedang mengalami kehamilan simpatik jadi apapun sikap Tuan Satya yang dirasa aneh itu adalah bawaan dari kehamilan Nona Vanthe. Saya melihat jika Tuan Satya memang lebih cepat merasa sensitif dan merasa tersinggung." Jelas Jasmine.
Roichi kembali mengingat saat pagi berkumpul di taman belakang. Tuan dan Nyonya Hector mengatakan jika Satya memang mengalami kehamilan simpatik jadi memang masuk akal jika Satya sedang sensitif saat ini.
"Bantu saya mengganti pakaian mereka. Kamu gantikan pakaian Kaila biar saya gantikan pakaian Kaili." Ujar Roichi, Jasmine mengangguk patuh.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Thanks masih setia baca cerita receh author ππ
Thanks buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian yang luar biasa menambah semangat author πππ
Sehat selalu dan bahagia selalu guys... Semoga masih tetap menghibur βΊοΈβΊοΈ
__ADS_1