Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 199. Keputusan Tuan Hector


__ADS_3

Belva sampai di rumah sakit di mana suami dan putrinya di rawat. Berdasarkan informasi dari Jordi, saat ini Satya dan juga Kaila berada di ruangan yang sama yakni di ruang VVIP khusus permintaan dari pihak Jordi agar ayah dan anak itu bisa dirawat dalam satu ruangan.


Wajah cemas dan sedih sangat tampak dari raut wajah Belva yang biasanya terlihat cantik dan berseri. Wanita itu berjalan cepat menghampiri ruangan yang diinformasikan oleh Jordi. Pak Amin ternyata tak hanya sekedar mengantar saja tapi pria yang terpaut usia tak jauh dari Belva itu tetap mengikuti sang majikan karena takut terjadi sesuatu pada Belva. Wanita hamil itu berjalan cepat hingga membuat Pak Amin pun merasa khawatir, dia takut jika terjadi sesuatu dengan Belva maka dirinya juga yang akan mendapatkan masalah.


Tak hanya menjaga rumah Satya tapi menjaga seluruh anggota penghuni rumah Satya pun menjadi tugas Pak Amin. Keselamatan majikannya adalah penentu kinerjanya. Jika cara kerja Pak Amin bagus maka bisa dipastikan sang majikan juga akan puas dan mempertimbangkan kesejahteraan dirinya.


"Nyonya, mohon pelan-pelan saja jalannya nanti anda terjatuh." Pak Amin mengingatkan istri majikannya.


"Iya Pak, ini sudah pelan-pelan. Aku harus cepat sampai di ruangan suami dan putriku. Pak Amin kenapa tidak langsung pulang?" Tanya Belva sembari terus berjalan memasuki rumah sakit.


"Saya khawatir dengan keadaan, Nyonya. Sekalian kalau nanti Nyonya membutuhkan bantuan saya bisa bantu."


"Terima kasih, Pak Amin." Ujar Belva.


Saat hampir sampai di ruangan Satya dan Kaila tiba-tiba perut Belva sedikit mengalami masalah. Terasa sedikit tegang dan kram, mungkin karena wanita hamil itu tengah dalam kondisi panik dan berjalan dengan terburu-buru.


"Aduh..." Gumam Belva memegangi perutnya.


Langkah kaki yang semula berjalan cepat kini sedikit melambat. Pak Amin menyadari langkah yang tiba-tiba berjalan lambat.


"Nyonya, ada apa?" Tanya Pak Amin.


"Tidak, Pak... Hanya sedikit lelah saja. Maklum ibu hamil." Jawab Belva dengan senyum tipisnya.


"Yakin anda baik-baik saja, Nyonya?"


"Iya, Pak. Jangan khawatir. Itu ruang Anggrek 005, kita sudah sampai."


Pak Amin hanya mengangguk dan masih mengikuti dari belakang. Inilah yang ditakutkan oleh Pak Amin jika dirinya langsung pergi dan terjadi sesuatu, siapa yang akan dengan cepat menolong majikannya.


Terlihat di depan ruang rawat Satya dan Kaila cukup ramai dengan beberapa orang pria. Belva dan Pak Amin paham mungkin mereka adalah anak buah Tuan Hector yang membantu Satya dalam melakukan pencarian terhadap Kaila.


Para pria anak buah Tuan Hector berdiri saat melihat kedatangan Belva. Mereka tahu jika wanita yang datang itu adalah putri Tuan Hector sekaligus istri dari Satya yang saat ini tengah terbaring di dalam ruang rawat. Belva menganggukkan kepalanya saat melintas di hadapan para anak buah Tuan Hector.


Beberapa pasang mata itu cukup merasa kagum pada kerendahan hati dan paras cantik putri bos mereka. Hanya sebatas mengagumi saja karena mereka tahu diri bahwa wanita cantik itu telah berkeluarga dan kini tengah mengandung. Dalam hati mereka mungkin ada beberapa yang merasa cukup menyayangkan keterlambatan mereka bertemu dengan Belva.


"Maaf, dimana Om Jordi?" Tanya Belva dengan sopan pada anak buah Tuan Hector.


"Tuan Jordi berada di dalam, Nona. Silahkan anda masuk saja." Ujar salah satu anak buah Tuan Hector.


Belva mengangguk, ia masuk ke dalam ruangan rawat Satya. Jordi terlihat tengah duduk di kursi samping ranjang Satya. Manik mata Belva beralih menatap pria yang telah dicintainya sejak menikah dengan pria itu, Satya terbaring menutup kedua matanya, wajah satya terlihat pucat khas orang sakit.


Bila suami Belva itu sebelumnya pergi dari rumah dengan menggunakan kaos serta jaket membungkus tubuh atletis itu, kini semua telah berganti dengan baju pasien berwarna biru muda.


Kaila, sang putri tercinta pun nasibnya tak berbeda jauh dari Satya. Gadis kecil itupun kini tengah menutup matanya dengan wajah pucat berbaring di atas ranjang. Melihat kedua orang yang paling dicintainya dalam keadaan lemah otomatis langsung membuat hati sedih dan perih. Ini kedua kalinya Belva melihat sang putri terbaring lemah di rumah sakit.


"Nyonya, anda sudah datang." Sapa Jordi menyadari Belva memasuki ruangan.


"Bagaimana keadaan mereka? Apa kata dokter?" Pertanyaan yang paling mendominasi di dalam pikiran Belva.


"Dokter mengatakan jika Tuan dan Nona muda akan segera membaik. Luka-luka Tuan tidak terlalu fatal. Nona muda hanya demam saja." Jelas Jordi.


Belva mengangguk lalu mendekati putrinya terlebih dahulu dengan mata berkaca-kaca. Dikecupnya kening sang putri memang masih terasa panas saat bibirnya bersentuhan dengan kulit kening Kaila. Diusap lembut rambut Kaila dengan sayang. Lalu ia beralih pada suaminya, mengetahui Belva mendekati Satya maka Jordi langsung berdiri dari duduknya dan memberikan kursi pada Belva.


"Duduklah, Nyonya."


"Terima kasih, Om."


Belva terdiam setelah duduk di kursi tepat di samping ranjang Satya. Diamati wajah prianya yang paling dicintai, terlihat gurat kelelahan dari wajah Satya. Pria itu tak pernah bisa tidur sejak Kaila dinyatakan hilang karena diculik.


'Apa yang harus aku lakukan, Mas?' Batin Belva.


Masalah mengenai penculikan putrinya sudah teratasi dengan ditemukannya Kaila kembali sudah cukup membuat Belva tenang. Namun, yang namanya hidup selalu tak pernah berhenti dengan yang namanya masalah. Kini berganti pikiran ibu Duo Kay itu tengah sibuk memikirkan masalah rumah tangganya.


Ia belum bisa bernapas lega karena Siwi baru saja menambah masalah dalam hidupnya. Kedua orang tuanya pada akhirnya mengetahui sesuatu yang disembunyikan oleh Satya di belakangnya. Belva bingung harus berbuat apa semua sudah terlanjur terjadi.


"Nyonya, anda baik-baik saja?" Tanya Jordi.


Sikap diam Belva dengan menatap Satya, Jordi memperhatikannya. Wajah cantik Belva terlihat menyimpan beban. Jordi paham dengan apa yang dipikirkan oleh istri dari bos-nya itu. Diapun turut merasa bersalah karena ikut ambil bagian dalam membohongi Belva.


Belva menghela napas, "Aku terlalu pusing memikirkan semuanya. Bagaimana orang yang menculik putriku? Apa dia sudah tertangkap?" Tanya Belva.


"Semua sudah kami tangani, Nyonya anda tak perlu khawatir."

__ADS_1


"Kenapa dia menculik putriku, apa dia menyakiti Kaila ku?"


"Untuk motif penculikan Nona muda semua ada hubungannya dengan masa lalu Tuan. Saya tidak bisa menceritakannya, nanti jika Tuan sudah sadar anda bisa bertanya sendiri pada Tuan."


Belva berpikir cukup dalam masa lalu seperti apa yang membawa bahaya bagi keluarganya. Untuk masa lalu Satya memang Belva tak mengetahui dengan jelas, ia tak ambil pusing dengan masa lalu Satya baginya masa depannya bersama sang suami yang harus dipikirkan. Ia tak tahu bahwa masa lalu sang suami bisa berakibat fatal dan mengerikan seperti saat ini. Untung saja Kaila bisa segera ditemukan, takdir tak pernah ia ketahui akan berakhir seperti apa nanti jika Kaila tak bisa ditemukan.


"Apa yang terjadi pada suamiku, Om?"


Jordi masih terdiam, masih ragu antara menceritakan atau tidak. Dia melihat wajah Belva yang sedikit pucat, takut jika saja ceritanya nanti akan menambah beban pikiran Belva.


"Kenapa diam, Om? Apa aku juga harus bertanya sendiri pada suamiku nanti?"


"Nyonya, apa anda kelelahan? Beristirahatlah." Ujar Jordi.


Memang sedari tadi Belva merasa kurang nyaman merasakan keadaan tubuhnya. Ia merasa lemas tapi sedari tadi ditahannya demi menyusul suami dan putrinya di rumah sakit. Perutnya pun sempat keram sesaat itu juga tetap ditahannya.


"Aku tidak apa-apa. Ceritakan apa yang terjadi pada mas Satya? Kenapa terlalu banyak rahasia yang kalian sembunyikan dariku?"


Suara Belva sedikit meninggi, pikirannya saat ini masih kacau dengan beberapa masalah yang ia hadapi. Masalah semakin rumit saat Siwi membongkar semuanya dihadapan kedua orang tuanya. Ia takut kesehatan kedua orang tuanya terganggu mendengar pengakuan Siwi, ia sangat menyayangi Tuan dan Nyonya Hector terlebih Nyonya Hector yang sangat mengasihinya seperti anak kandung sendiri. Belva pun berusaha menyelesaikan dan mempertahankan rumah tangga tapi entahlah apa yang akan terjadi nanti menjadi bayang-bayang bagi Belva hingga kini menjadi beban baginya.


"Maaf, Nyonya. Saya... Bukan bermaksud untuk menutupi semuanya hanya saja saat ini anda terlihat kurang sehat."


Belva kembali menghela napas, tak mungkin dirinya memaksa Jordi di dalam ruangan itu karena yang ada nanti suara mereka akan mengganggu istirahat Kaila dan Satya. Belva memutuskan untuk ke kamar mandi yang ada di dalam ruangan rawat itu guna mencuci mukanya agar terasa lebih segar.


Greekk!!!


Suara kursi yang ada di samping ranjang Kaila terdorong karena Belva mencoba berpegangan pada kursi tersebut.


"Nyonya..."


Jordi langsung menghampiri Belva, mencoba menahan tubuh istri bos-nya yang terhuyung. Belum sampai ke kamar mandi Belva merasakan tubuhnya benar-benar lemas tak bertenaga ditambah kepala yang terasa berdenyut. Perlahan pandangan Belva tiba-tiba menggelap, seluruh tubuhnya terasa dingin dan pendengarannya sekejap berdengung hingga akhirnya ibu hamil itu tak sadarkan diri.


"Nyonya... Nyonya... Anda baik-baik saja? Nyonya bangunlah." Jordi berusaha membangunkan Belva saat menahan tubuh Belva yang sudah lemas tak sadarkan diri.


Mau tak mau Jordi harus mengangkat tubuh Belva untuk dibaringkan di atas sofa. Pria itu segera keluar ruangan untuk memanggil dokter. Panik dengan keadaan Belva hingga melupakan bahwa memanggil dokter bisa menggunakan telepon atau memencet tombol khusus yang ada di dalam ruang rawat Satya.


"Tuan, ada apa?" Tanya salah satu anak buah Tuan Hector.


Enam orang pria masih menunggu di depan ruang rawat Satya dan Kaila, mereka adalah anak buah Tuan Hector dan juga Pak Amin yang belum kembali pulang.


"Biar saya saja, Tuan." Ujar Pak Amin mengajukan diri.


"Oke, cepat Pak. Segera." Ujar Jordi.


Pak Amin langsung berlalu untuk mencari dokter. Jordi kembali masuk ke dalam ruang rawat menunggu Belva tersadar. Sedangkan salah satu anak buah Tuan Hector segera memberikan kabar mengenai Belva yang pingsan di rumah sakit. Apapun yang mereka dapatkan harus segera mereka laporkan pada bos mereka.


Tuan Hector yang mendapat informasi dari anak buahnya pun segera menyusul ke rumah sakit. Pria paruh baya itu begitu khawatir dengan keadaan putrinya terlebih kini tengah hamil. Sekaligus ingin memastikan keadaan cucu tercinta dan juga menantunya yang dirasanya keterlaluan.


Tanpa membawa Nyonya Hector, pria tua itu datang dengan diantar oleh Pak Supri seorang supir pribadinya selama berada di Indonesia. Bersamaan dengan datangnya Tuan Hector, dokter juga tengah memeriksa keadaan Belva.


Semua menunduk hormat saat pria paruh baya itu datang. Anak buahnya membukakan pintu ruang rawat Satya dan Kaila agar Tuan Hector bisa memasuki ruangan tersebut.


"Tuan." Sapa Jordi menundukkan kepalanya.


"Bagaimana keadaan putriku?" Tanya Tuan Hector pada Jordi dan dokter.


Dokter melihat Jordi, asisten Satya itu mengangguk memberikan ijin pada dokter menjelaskan keadaan Belva.


"Nyonya Satya hanya kelelahan saja, Tuan. Mengingat kondisinya saat ini yang tengah hamil muda maka sebisa mungkin jangan membuatnya kelelahan dan stres. Usahakan agar Nyonya Satya tetap dalam keadaan santai dan merasa senang dalam menjalani kehamilannya." Jelas dokter.


"Jangan biarkan dia berpikir terlalu keras sehingga membuatnya memiliki beban pikiran. Untuk sementara, kita pindahkan saja dulu ke ruang perawatan agar Nyonya Satya bisa beristirahat dengan lebih nyaman." Imbuh dokter.


"Lakukan yang terbaik untuk putriku, dokter." Ujar Tuan Hector.


Belva dipindahkan ke ruangan tepat di ruangan samping kamar rawat Satya dan Kaila. Suami dan putri Belva masih dalam keadaan belum sadarkan diri akibat pengaruh obat yang masuk ke dalam tubuh mereka.


Di dalam ruangan Belva, Tuan Hector menjaga putrinya sedangkan Jordi menjaga Satya dan Kaila. Di tempat terpisah itu Tuan Hector berbincang dengan anak buahnya mengenai apa saja yang terjadi hingga keluarga kecil putrinya itu bisa masuk ke dalam rumah sakit secara bersamaan seperti ini.


"Ceritakan semuanya apa yang terjadi." Titah Tuan Hector.


"Begini, Tuan... Saat melakukan penggrebekan Tuan Satya dan pria yang menculik Nona Kaila terlibat perdebatan kecil, sepertinya mereka memiliki permasalahan pribadi di masa lalu dan terjadi perebutan seorang bayi yang di angkat anak oleh Tuan Satya. Pria penculik itu diketahui bernama Fahmi dan dia membawa senjata api saat itu. Tuan Satya berusaha untuk menerobos mencari Nona Kaila tapi Fahmi mengancam dengan senjatanya hingga pria itu menembakan senjata ke arah Tuan Satya tapi beruntungnya tembakan meleset dan hanya mengenai bahunya saja. Saya secara reflek juga menembakan senjata saya ke arah Fahmi dan mengenai kakinya."


"Dimana pria itu?" Tanya Tuan Hector.

__ADS_1


"Tuan Jordi memerintahkan anak buahnya untuk membawa Fahmi. Entah kemana mereka membawa pria itu tapi yang jelas mereka tidak membawanya ke rumah sakit ataupun ke kantor polisi."


Tujuan apa yang dilakukan oleh Jordi pun Tuan Hector tak tahu. Dia tak memikirkan penculik Kaila karena Tuan Hector akan menyerahkan masalah tersebut kepada Roichi untuk menanganinya lebih lanjut.


Tiga hari sudah Satya dan Kaila dirawat di rumah sakit. Belva pun tidak bisa maksimal dalam menjaga anak dan suaminya karena kondisinya sendiri yang tidak stabil. Tapi hari ini dirinya terpaksa harus ke kantor untuk mewakili Satya dalam mengurus surat jual beli beberapa aset yang diakuisisi oleh Satya dengan mengatasnamakan seluruh aset itu atas nama Belva.


Setelah adanya kejadian tak diinginkan penculikan terhadap Kaila dan dengan keadaan Belva yang masih belum stabil maka Jordi dan salah satu anak buah Tuan Hector mengawal kedatangan Belva di kantor Satya. Secara tak sadar para karyawan Satya masih saja membicarakan pengakuan Siwi sebagai calon istri Satya dan hal itu di dengar secara langsung oleh Belva.


"Aku mau ke toilet tapi tidak jadi karena aku melihat Nona Siwi, calon istri Tuan Satya. Tahu sendiri kan bagaimana sikap Nona Siwi daripada kena masalah nanti lebih baik aku menunda diriku lebih dulu." Ujar karyawati Satya.


"Iya, masih ingat waktu beberapa hari kemarin dia begitu berani menghadapi karyawati divisi marketing itu padahal selama ini kita segan dengan karyawati itu."


"Dia berani karena Tuan Satya pasti membela calon istrinya terlebih Nona Siwi mengandung anak Tuan Satya."


Percakapan mengenai Siwi membuat Belva terdiam sejenak. Jordi yang juga berada di samping Belva tiba-tiba merasa tegang bahkan asisten Satya itu mengumpat setengah mati pada apa yang didengarnya.


'Apa-apaan ini, kenapa jadi seperti ini?' Batin Jordi.


Baru saja Jordi bertanya dalam hati, kemunculan Siwi terlihat dari arah yang cukup jauh dari Belva. Beberapa karyawan menunduk hormat pada Siwi seakan berhadapan dengan atasan mereka hanya karena pengakuan Siwi menjadi calon istri Satya.


Tidak sadar Belva dan Jordi bahwa keberadaan anak buah Tuan Hector pasti akan memberikan informasi penting itu pada Tuan Hector.


"Apa maksud kalian?" Tanya Belva pada karyawan Satya karena merasa geram dengan apa yang dilihat dan didengarkannya.


"Hah? Kamu bertanya pada kami? Kamu karyawan baru juga ya? Apa kamu tidak mendengar kabar berita bahwa Nona Siwi itu calon istri pemilik perusahaan ini? Bahkan dia juga sedang mengandung anak Tuan Satya. Kamu jangan berani-berani membuat ulah dengan Nona Siwi jika tidak ingin bermasalah." Ujar karyawati itu yang tidak tahu bahwa wanita dihadapannya adalah istri sah Satya.


Maklum dua karyawati itu adalah karyawan baru di perusahaan Bala Corp yang masuk tepat saat kejadian pengakuan Siwi pertama kalinya di perusahaan Satya.


Tanpa menjawab Belva berbalik badan dan menatap Jordi dengan tatapan tajam. Jordi menjadi salah tingkah dan grogi harus bersikap seperti apa pada Belva.


"Dimana kita harus menyelesaikan pertemuan kita dengan klien mas Satya?" Tanya Belva dengan nada dingin.


"Em... Kita ke ruangan Tuan Satya, Nyonya." Jawab Jordi sungkan.


Belva langsung berjalan menuju lift, bukan lift khusus yang sering digunakan boleh Satya melainkan lift karyawan karena kebetulan lift itu kosong.


Mereka menyelesaikan semua pertemuan dengan tanpa basa-basi karena Belva ingin segera pulang setelah menandatangani seluruh dokumen penting yang diatas namakan dirinya. Tak ingin repot sisanya diserahkan oleh Jordi dan pengacara yang sudah menunggu lebih dulu.


Perubahan diri Belva tampak jelas lebih dingin setelah mendengar desas-desus di kantor Satya. Rupanya hubungan tersembunyi itu telah menyebar hingga lingkungan kantor. Jordi bingung harus bagaimana dalam menyelesaikan masalah rumah tangga bos-nya karena Satya masih dalam perawatan.


"Nyonya, tolong anda jangan percaya dengan apa yang Anda dengar tadi." Ujar Jordi.


Belva menatap tajam pada Jordi, "Kamu mengetahui semuanya bukan? Bahkan wanita itu sudah datang ke rumah kemarin dan mengatakan semuanya dihadapanku dan kedua orang tuaku." Ujar Belva dingin.


Jordi begitu terkejut mendengar penuturan Belva. Bertambah gawat karena Tuan dan Nyonya Hector selaku mertua Satya mengetahui semuanya. Semakin pusing saja Jordi saat ini, dia berharap Satya segera pulih untuk membahas masalah ini.


Belva kembali ke rumah, ia berjalan hendak memasuki kamar Duo Kay. Kaila sudah lebih dulu bisa kembali pulang.


"Vanthe, Papa ingin berbicara padamu." Ujar Tuan Hector secara tiba-tiba menghentikan langkah Belva.


"Papa? Ada apa? Apa yang ingin Papa bicarakan?" Tanya Belva mengalihkan langkah kakinya menuju Tuan Hector.


Terlihat wajah Tuan Hector yang tampak serius, pikiran Belva pin bertanya-tanya apa yang ingin dibicarakan oleh Papanya.


"Papa, sudah tahu semuanya dan sudah memikirkan semuanya dengan matang. Setelah kepulangan Kaila dari rumah sakit, Papa memutuskan agar kamu dan anak-anak ikut Papa kembali ke Paris."


Belva cukup terkejut dengan keputusan Papanya yang tanpa basa-basi langsung pada inti pembicaraan.


"Pa, tapi mas Satya sedang sakit aku tidak bisa..."


"Setelah pengakuan wanita itu kamu akan tetap berada di sini? Vanthe, keputusan Papa sudah bulat. Alasan Papa adalah pertama keadaan Kaila yang saat ini masih merasa trauma atas kejadian kemarin dan kedua kamu sedang mengandung apa kamu akan tetap berada di sini terus melihat wanita itu mengganggu hidupmu. Kamu akan membahayakan janin mu sendiri karena beban pikiran dan tertekan dengan masalah rumah tanggamu." Ujar Tuan Hector memotong ucapan Belva.


"Bukankah itu lari dari masalah? Masalah kami tidak akan selesai jika aku pergi, Pa."


"Bukan lari dari masalah, Nak. Tapi kalian butuh ketenangan untuk sementara waktu, ini demi anak-anak kamu, sayang percaya pada Papa."


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Terimakasih banyak buat kalian yang masih setia support author πŸ™β˜ΊοΈ. Terima kasih buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian πŸ™πŸ™.

__ADS_1


Semoga kalian sehat selalu, lancar rejeki dan bahagia selalu. Semoga juga cerita receh author masih bisa sedikit menghibur kalian. β˜ΊοΈπŸ™


__ADS_2