
"Panggil saya seperti anak-anak memanggil saya saja jika kamu bingung. Rubahlah kebiasaanmu memanggil saya Tuan. Terlebih dihadapan orang banyak." Ujar Satya.
"Maksud Tuan dihadapan orang banyak, apa ?" Belva menjadi semakin bingung.
"Kamu tak merasa khawatir dan kasihan pada mereka ? Jika dihadapan orang-orang kamu memanggil saya Tuan tapi sebenarnya saya adalah Daddy mereka. Bagaimana pandangan orang-orang pada si kembar, padamu dan juga saya nanti. Pikiran hal itu."
Belva semakin berpikir lebih keras, mencerna apa yang dikatakan oleh Satya. Semakin paham apa maksud dari perkataan Satya. Tentu orang-orang akan memandang aneh pada mereka karena tak ada hubungan apapun diantara mereka tapi mereka bisa memiliki anak bersama. Bisa saja nanti berujung dengan pandangan buruk terhadap mereka yang sebenar mereka adalah korban dari sikap buruk orang lain.
"Kamu sudah mengerti ?" Tanya Satya setelah beberapa menit menunggu dalam diam membiarkan Belva berpikir.
Belva mengangguk. "Saya mengerti Tuan."
"Kenapa masih memanggil seperti itu."
"Tidak ada yang mendengar tak masalah bukan ?" Ujar Belva.
"Ya sudah terserah. Bisa saya meminta tolong ?" Tanya Satya.
"Apa Tuan ?"
Satya menghela napas, sejujurnya dia berharap panggilan itu bisa berubah setidaknya tidak se-formal itu yang terlihat seakan mereka memiliki jarak.
"Buatkan saya kopi dan antar ke ruang kerja saya."
"Tapi bukankah sudah ada Mbok Yati ?"
"Sudah lama saya tidak merasakan kopi buatanmu." Ucap Satya.
Pria itu bangkit dari ranjang, mencium kening Kaili dan juga Kaila terakhir mengusap lembut kepala Belva lalu pergi keluar dari kamar Duo Kay.
Belva menatap kepergian Satya, sikap lembut yang sedari tadi dapat Belva rasakan. Sungguh sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Mengingat permintaan Satya pada dirinya tadi Belva tak urung bangkit dari berbaring nya di atas ranjang. Ia berjalan keluar menuju dapur untuk membuatkan kopi.
Saat turun di lantai bawah Belva bertemu dengan Tuti dan Inah. Sepertinya kedua pembantu muda itu memang pasangan sejoli yang bekerja di setiap sudut rumah selalu saja bersama.
Tatapan sinis dan tak suka dilayangkan pada Belva. Saat wanita cantik itu memasuki dapur. Tatanan gelas masih sama hanya saja letak kopi dan dan gula yang sudah berubah. Belva kebingungan mencari dimana letak dua barang yang dibutuhkannya itu.
"Mbak, bolehkah ditunjukan dimana kopi dan gulanya. Saya kesulitan mencarinya." Pinta Belva dengan lembut dan sopan.
Tuti menatap Belva dari atas sampai bawah berkali-kali dengan tatapan sinis. "Maaf ya Mbak nya siapa ya ? Kenapa tidak ada sopan-sopan nya masuk dapur di rumah orang lain seperti ini."
Belva terkejut dengan ucapan Tuti. Dirinya bisa sampai dapur karena Satya yang memintanya membuatkan kopi untuk pria itu. Bukan karena kelancangan dirinya yang seenak jidat di rumah orang lain.
"Maaf tapi saya diminta untuk membuatnya kopi untuk Tuan Satya, Mbak." Belva masih bersikap sopan pada Tuti.
"Tuan Satya ? Biasanya Mbok Yati tuh yang buat. Beliau tidak mau orang lain yang membuatkan kopi untuknya."
"Sudah kasih tahu saja Tut... Bukankah dia juga mantan pembantu di rumah ini. Barangkali Tuan Satya mau rekrut dia jadi pembantu lagi disini." Ucap Inah dengan sangat beraninya.
Belva terdiam mendengar perkataan demi perkataan dari dua pembantu Satya itu. Dirinya tak tersinggung sama sekali atas apa yang mereka ucapkan. Toh memang kenyataannya dirinya hanyalah seorang mantan pembantu di masa lalunya.
"Maaf Mbak, saya hanya menanyakan letak kopi dan gula disimpan saja. Nanti saya yang mengambil sendiri." Ucap Belva kembali.
"Tuh di laci sebelah kiri paling atas. Air panasnya rebus sendiri pake teko kecil itu." Ucap Inah dengan nada sinis dan sombongnya khas seorang pembantu.
"Terima kasih Mbak." Ucap Belva. Dirinya berbalik mengambil kopi dan gula serta mengambil air yang diletakkan di teko kecil untuk di rebus.
Tak butuh waktu lama merebus air tersebut karena hanya sedikit saja. Tuti dan Inah masih berada di dapur untuk membersihkan piring-piring kotor bekas makan malam Satya dan juga Belva serta anak-anak mereka.
Tuti yang melihat Belva tengah menuangkan air panas kedalam cangkir dengan sengaja menyenggol punggung Belva hingga air itu tumpah mengenal punggung tangan Belva.
"Auw !!!" Pekik Belva.
"Ssshh... Panas." Belva mengibas-ngibaskan tangannya.
"Oh ops... Tidak sengaja." Ucap Tuti.
"Astaga... Neng... Neng tidak apa-apa ? Tuti kamu bagaimana sih, ini kan bahaya." Ucap Janis yang panik saat melihat punggung tangan Belva tersiram air panas. Kulit putih itu berubah merah seketika.
"Neng, sini bawa kesini." Tarik Janis ke arah wastafel dan menyiram tangan itu dengan air dingin.
"Ya ampun merah seperti ini pasti panas sekali airnya." Ucap Janis.
"Iya Mbak, sudah tidak apa-apa. Tadi air baru saja saya rebus pasti memang akan seperti ini. Sudah tidak apa-apa, terima kasih Mbak." Ucap Belva.
"Tapi ini pasti nanti akan melepuh Neng. Saya ambilkan obat dulu ya." Ucap Janis khawatir.
"Tidak usah Mbak. Terima kasih ya. Saya harus selesaikan buatkan kopi ini dulu." Belva beralih pada cangkir kopi yang belum diaduknya. Ia segera menyelesaikan tugasnya membuat kopi.
__ADS_1
Belva berlalu dari dapur dengan sebelumnya mengucapkan terima kasih pada Janis yang telah menolongnya. Belva menatap Tuti, terlihat sangat jelas jika wanita itu tak suka padanya. Dalam hati Belva merasa heran kenapa Tuti seperti itu padanya. Bahkan setelah melihat tatapan Tuti, pikiran buruk Belva berkembang jika Tuti sengaja melakukan itu padanya. Tapi dengan cepat Belva menyingkirkan pikiran buruk itu dari kepalanya.
Janis yang masih berada di dapur langsung memarahi Tuti yamg sangat jelas dilihat olehnya sengaja menyenggol Belva. Mereka tak tahu jika Janis yang tiba-tiba berada di dapur melihat yang sebenarnya terjadi. Tuti mengelak jika dirinya sengaja melukai Belva.
"Tut, kenapa kamu bersikap tak sopan pada tamu Tuan Satya." Ucap Janis dengan geram.
"Siapa yang tidak sopan ? Aku atau wanita itu huh ? Dia bahkan dengan tidak sopan masuk ke dapur ini. Mengatakan jika Tuan Satya menyuruhnya untuk membuatkan kopi." Ucap Tuti.
"Memangnya kenapa ? Ada masalah denganmu jika Tuan Satya memintanya untuk membuatkan kopi ?" Tanya Janis. Sungguh aneh jika hanya dengan alasan seperti itu Tuti bisa berbuat jahat pada Belva.
"Pasti wanita itu seorang penggoda. Kamu tahu sendiri bukan jika Tuan Satya tak pernah mau dibuatkan kopi oleh orang lain selain Mbok Yati di rumah ini. Bahkan Tuan Satya sering menolak jika Nyonya Sonia membuatkan kopi untuknya." Ucap Tuti.
"Iya benar itu. Apa yang diucapkan Tuti pasti benar. Apalagi Tuan belum lama bercerai dengan Nyonya Sonia pasti karena ulah wanita itu. Kamu tak lihat di media sosial jika wajah wanita itu mirip sekali dengan wajah perempuan yang dimaki oleh Nyonya Sonia." Ucap Inah membantu Tuti.
Kedua asisten rumah tangga Satya itu rupanya termakan oleh fitnah yang diberikan oleh Sonia beberapa waktu lalu pada Belva yang terekam pada media sosial. Mereka menganggap bahwa apa yang terjadi dalam rekaman video itu adalah kebenaran yang mereka lihat.
Janis tampak berpikir, mengingat apakah dirinya pernah melihat video yang dimaksud oleh Inah. Apakah yang dikatakan oleh Inah adalah benar Janis akan menyelidiki nya lebih lanjut. Ia tak mau salah sangka pada orang lain.
"Tapi apapun itu kalian tak bisa bersikap tak sopan pada tamu Tuan Satya." Ucap Janis lalu beranjak pergi dari dapur.
Di ruang kerja Satya, Belva mengetuk pintu sebelum masuk. Satya membuka pintu ruang kerjanya. Hal yang jarang dilakukan oleh Satya ketika ada yang mengetuk pintu ruang kerja. Biasanya mereka akan membuka pintu itu sendiri setelah mengetuk nya.
Belva masuk berjalan ke arah meja kerja Satya diikuti oleh Satya. Belva masih paham dimana kopi harus diletakkan. Saat meletakkan cangkir tersebut Satya melihat punggung tangan Belva.
"Ini kopinya Tuan, saya permisi." Ucap Belva.
Satya langsung mencekal lengan Belva yang akan berjalan keluar ruangannya.
"Tunggu..."
"Tanganmu kenapa ?" Tanya Satya.
"Tidak apa-apa Tuan." Belva melepaskan tangannya yang di cekal oleh Satya.
Tapi Satya kembali meraih tangan Belva dan menariknya untuk dududk di sofa ruang kerjanya.
"Duduk. Katakan apa yang terjadi pada tanganmu ?" Ucap Satya dengan tatapan mata yang tajam. Itu dilakukannya agar Belva mau berterus-terang padanya.
Sesungguhnya Belva memang selalu menunduk takut ketika tatapan tajam itu datang dari sorot mata Satya.
"Katakan Belva." Ucap Satya.
"Terkena air panas ? Bagaimana bisa ?" Ucap Satya sedikit terkejut.
"Maaf merepotkanmu hingga membuatmu sakit seperti ini." Ucap Satya kbali dengan nada lembut dan rasa bersalah.
"Sudahlah Tuan, ini bukan hal yang besar. Saya permisi dulu."
"Tidak duduklah disini jangan kemana-mana." Satya menahan pundak Belva agar tetap duduk di sofa.
Satya pergi menuju meja kerjanya, tak sampai satu menit pria itu kembali lagi dengan membawa kotak obat. Diambilnya sebuah gel pereda rasa sakit. Satya meraih tangan Belva yang terlihat memerah, dioleskannya gel tersebut pada punggung tangan Belva.
"Tanganmu terasa panas ?" Tanya Satya, Belva mengangguk.
"Gel ini akan membuat tanganmu terasa dingin."
Belva diam memperhatikan Satya yang tengah mengoleskan gel itu pada tangannya. Gerakannya terasa lembut dan berhati-hati sekali.
"Lain kali hati-hati saat menyeduh air panas." Satya menasehati Belva.
Seperti seorang ayah yang menasehati anaknya tapi terasa sedikit berbeda. Belva tahu dengan jelas jika Satya memanglah sudah berusia sangat matang. Patut memang jika dirinya merasa Satya seperti sedang menasehati anaknya. Alya saja usianya sama dengan dirinya.
"Sudah... Apa masih terasa panas ?" Tanya Satya dengan lembut..
Belva menggelengkan kepalanya. Punggung tangannya terasa dingin saat gel itu menempel pada kulitnya.
"Terima kasih Tuan." Ucap Belva.
"Ya... Biasakan jangan memanggilku Tuan."
"Lalu saya har..."
"Daddy tak masalah." Ucap Satya memotong suara Belva.
Belva kembali menatap Satya. Pria itu justru mengangkat salah satu alisnya. "Ada apa ? Keberatan ? Terasa aneh ? Terserah kamu saja asal jangan Tuan."
"Om... Apa boleh saya panggil Om ?" Tanya Belva lirih.
__ADS_1
"Saya terlihat tua ?" Tanya Satya dengan tak tahu dirinya.
"Alya seumuran dengan saya." Ujar Belva.
Satya menghela napas, panggilan dari Tuan menjadi Om. Entah sebuah peningkatan atau justru sebuah kemunduran bagi Satya. Dia pun tak tahu.
"Panggilan mu bisa menggiring opini orang lain jika saya adalah pria dengan image buruk yang memelihara sugar baby hingga membuahkan hasil." Ucap Satya dengan sangat enteng.
"Uncle ?" Ucap Belva.
"Apa bedanya dengan Om ?" Tanya Satya.
Belva berpikir benar juga kedua panggilan itu sama saja hanya berbeda bahasa. Dirinya semakin bingung saja.
"Lalu Tuan mau saya panggil apa ?" Tanya Belva terlanjur geregetan dengan Satya. Pertanyaannya keluar dengan suara sedikit kesal.
Satya tersenyum tipis melihat sikap Belva saat ini. "Sayang juga boleh." Ucap Satya sedikit menggoda Belva.
Belva langsung berdeham, seakan tenggorokannya serak dan kering. Ia terkejut dengan ucapan pria yang usianya sama dengan Ayahnya itu.
"Saya harus ke kamar Kaili dan Kaila." Ucap Belva. Ia tak tahu harus menanggapi apa pembahasan Satya saat ini.
"Kamu sudah mengantuk ?" Tanya Satya.
"Saya harus menemani mereka."
"Mereka baik-baik saja, temani saya sebentar saja." Ucap Satya.
Niat hati ingin menghindari Satya, tapi pria itu justru meminta dirinya untuk menemani. Tak ada jawaban dari Belva, selama bersama Satya, wanita itu lebih banyak diam. Hanya mendengar Satya berbicara dan merespon sesekali saja atau sekiranya penting. Ia masih canggung dan sungkan pada Satya.
Satya mengambil laptopnya dan membawanya ke meja sofa. Dia meminta Belva menemaninya itu artinya dirinya pun tak akan mengabaikan Belva yang duduk di sofa. Satya kini duduk bersebelahan dengan Belva.
Kembali Satya memeriksa pekerjaannya, sesekali ekor matanya melirik pada Belva yang duduk diam tak melakukan apapun. Hati Satya terasa begitu senang saat ini, bukan saat ini tapi sepanjang hari ini.
Kopi yang diseduh kan oleh Belva, disesapnya sedikit demi sedikit. Terasa pas dilidah Satya, kopi buatan Belva hampir sama seperti buatan Budhe Rohimah. Karena wanita itu diajarkan oleh Budhe Rohimah saat menyeduh kopi untuk Satya. Seberapa takaran yang digunakan. Tapi bagi Satya rasa kopi buatan Belva jauh lebih enak dibandingkan dengan buatan Budhe Rohimah.
"Enak... Aku sangat menyukainya." Batin Satya menatap cangkir kopinya.
Entah rasa kopi itu yang disukai Satya atau pembuatnya yang disukai oleh Satya. Yang jelas keduanya sangat memungkinkan baginya untuk masuk ke dalam daftar favorit hidupnya. Dan mungkin saja berada dalam daftar teratas.
Hingga beberapa jam, Belva masih terdiam. Justru diamnya itu membuatnya semakin merasa bosan dan mengantuk. Tanpa sasar Belva bersandar di sofa dan tertidur. Merasakan jika tak ada pergerakan apapun Satya menoleh pada wanita di sebelahnya.
"Dia sudah tidur ?" Gumam Satya.
Tangannya melambai tepat di depan wajah Belva. Wanita itu tak merespon sama sekali. Tanda bahwa Belva benar-benar sudah tertidur pulas.
Satya justru asik memandangi wajah Belva yang terlihat semakin cantik menurut Satya. Gadis yang dulunya terlihat sangat polos kini terlihat semakin cantik saat sudah memiliki dua orang anak. Meski memang Satya akui jika dirinya flashback ke belakang wajah Belva memang sudah cantik sejak dulu.
"Bahkan aku baru bisa memandangi wajah mu dengan jarak yang sangat dekat saat ini. Ternyata memang kamu sangat cantik." Lirih Satya.
Tak bosan bagi pria itu memandang wajah cantik Belva. Rasanya Satya semakin ingin dekat dan memiliki wanita itu saja. Pikirannya dilema apakah terus maju untuk mendekati dan memiliki Belva atau tidak mengingat ada pria lain dalam hidup Belva.
Tapi setiap adanya kesempatan Satya tak mau menyia-nyiakan nya begitu saja. Bukan ingin menjadi pria brengsek tapi apalah daya jika keinginan hatinya begitu besar pada Belva saat ini.
Satya pria dewasa yang membutuhkan seorang istri seperti Belva. Sedikit banyak Satya paham Belva wanita yang baik dan tulus. Wanita itu tak memiliki trek record yang buruk di mata Satya.
Dia akan sangat beruntung dan bahagia bila bisa mendapatkan wanita seperti Belva. Terbukti dari Duo Kay yang tumbuh dengan baik, sehat dan pintar. Tak diragukan lagi jiam Belva adalah wanita yang tepat untuk menjadi seorang istri dan ibu.
Satya merapikan pekerjaannya terlebih dahulu. Dilihatnya memang waktu sudah larut malam. Pria itu beranjak menuju pintu, membuka dan menutupnya secara perlahan agar Belva tak bangun. Langkah kakinya menuju kamar Duo Kay. Bocah-bocah itu masih tertidur pulas.
"Berisitirahat lah dengan nyenyak sampai pagi Nak. Daddy sangat menyayangi kalian." Lirih Satya menatap kedua anaknya.
Pria itu keluar dari kamar tersebut dan masuk kembali ke ruang kerjanya. Dia kembali menutup pintu dengan perlahan dan mengunci pintu tersebut.
Mendekati Belva lalu mengangkat tubuh wanita itu untuk dibaringkannya ke ranjang berukuran sedang miliknya di ruang kerja. Belva tak terbangun sama sekali karena memang sudah sangat mengantuk sekali. Dibaringkan dengan nyaman dan diselimuti dengan selimut tebal Satya.
Sejak perceraiannya dengan Sonia, Satya lebih nyaman tidur bertelanjang dada. Terasa lebih leluasa dan ringan menurutnya. Entah bagaimana bisa seperti itu, tapi Satya tak perduli dan benar-benar menikmati kebiasaan barunya.
"Tak mungkin aku tidur bertelanjang dada saat ini. Bisa-bisa dikira berbuat yang tidak-tidak nanti." Gumam Satya.
Pria itu pun memilih menggunakan kaosnya dan mengambil posisi tidur di samping Belva. Entahlah pria itu benar-benar memanfaatkan momen langka seperti ini. Mengambil kesemy yang ada dengan sebaik mungkin. Masa bodoh dengan Belva yang sudah bersuami begitulah pikiran Satya saat ini. Hasrat hatinya yang ingin terus bersama dan dekat dengan Belva sudah sangat memuncak.
Satya kini tidur berbagi ranjang dan selimut dengan Belva. Dia tidur dengan posisi miring menghadap Belva. Masih ingin terus menatap wajah cantik itu lebih lama. Hingga tak terasa dirinya ikut tertidur pulas bersama dengan Belva.
****
To Be Continue...
__ADS_1
Hallo my dear para readers setia author.
Mohon maaf kemarin egk up karena disini ujan deres jadi gada sinyal mau login susah banget. Nunggu sampe ketiduran, malam² kebangun langsung coba login syukurnya bisa terus author langsung up malam². 🙏🙏🙏