
Di jalanan yang lumayan padat itu Jordi mengendarai mobil dengan ugal-ugalan. Klakson mobil terus berbunyi dari kendaraan lain untuk memperingatkan cara mengemudi Jordi. Bahkan umpatan demi umpatan pasti keluar dari bibir para pengendara lain untuk Jordi.
Menghiraukan para pengemudi lain, Jordi tak kalah heboh membunyikan klakson mobil agar kendaraan yang lain menyingkir. Bahkan Jordi dan Satya sempat uring-uringan karena ada mobil yang tetap tak memberikan jalan pada mereka. Jordi terus saja membunyikan klakson mobilnya yang terdengar mengesalkan bagi pengendara lain.
"Sialan... Apa dia tuli." Ucap Satya dengan kesal.
"Pepet saja mobil sialan itu." Titah Satya pada Jordi.
Jordi akhirnya mengendarai dengan memepet mobil itu. Sang pengendara merasa khawatir jika terjadi kecelakaan maka memilih untuk mengalah.
Sampai di depan butik Belva, Jordi dan Satya langsung saja masuk. Beberapa karyawan berkerumun di tangga. Duo Kay di ajak oleh kedua karyawan Belva ke dalam ruangan Bella. Menenangkan dua bocah yang menangis ketakutan.
"Apa yang terjadi ?" Tanya Jordi.
Beberapa karyawan yang mendengar suara Jordi langsung menoleh. "Tuan, Nona Belva sedang dalam bahaya. Wanita yang dulu pernah membuat ulah disini ada di atas bersama Nona Belva."
Satya langsung paham siapa yang dimaksud boleh karyawan Belva. "Dimana anak-anak saya ?"
"Si kembar berada di dalam ruangan Nona Bella. Mereka menangis ketakutan."
"Kami tidak berani mendekat karena wanita itu akan semakin berbuat nekat. Kami takut jika Nona Belva akan semakin berada dalam bahaya."
"Belva, sayang." Bisik Satya.
Pria itu segera berlari menaiki tangga menuju ruangan Belva. Jordi mengikuti dari belakang. Terdengar suara jeritan dari dalam ruangan Belva.
Satya langsung masuk ke ruangan itu. Matanya membulat melihat apa yang terjadi di dalam ruangan wanitanya.
"Belva..." Lirih Satya.
Jordi pun sama terkejutnya dengan apa yang dilihatnya.
"Satya... Tolong..."
Tapi Satya tak bergeming, pria itu masih merasa terkejut dengan apa yang terjadi.
Posisinya saat ini adalah Sonia yang tengah tak bisa berkutik dibawah kuasa Belva. Lebih mengerikan lagi, ternyata kini Belva sudah memegang sebuah pisau yang sudah ditempelkannya di leher Sonia.
Meski Sonia memohon dan menatap Satya dengan tatapan lemah dan penuh iba tapi pria itu tak segera berlari untuk menolong Sonia.
Belva hanya melirik kehadiran Satya dan juga Jordi. Wanita cantik itu masih dipengaruhi boleh emosi. Keberaniannya semakin berusaha dimunculkannya dengan meyakinkan diri bahwa semua demi keselamatan Duo Kay.
"Jangan mendekat." Ucap Belva dengan nada yang dingin.
Satya tak pernah melihat bahkan mendengar suara Belva yang begitu berbeda. Selama ini wanita itu terlihat lembuy dan manis. Meski beberapa kali dirinya melihat dan merasakan sikap Belva yang ketus tapi tak se-menyeramkan saat ini.
"Satya... Tolong... Aku tak ingin wanita gila ini membunuhku" rintih Sonia.
Wajahnya kini sudah terlihat babak belur akibat tamparan dan juga cakaran yang diberikan oleh Belva.
"Ya aku memang wanita gila, apa yang kamu katakan itu yang aku lakukan. Kewarasan ku kalian usik, kalian yang membuatku gila. Kamu dan anakmu berhasil membuat ku menjadi gila seperti ini."
"Jika seujung kuku anakku terluka karenamu, maka dua kali lipat yang akan kamu terima. Bukankah orang gila tidak pernah takut untuk membunuh."
Ucap Belva sinis dengan tatapan tajam pada Sonia. Mantan istri Satya itu merasa nyalinya menciut saat menatap Belva. Gadis polos itu berubah seratus delapan puluh derajat. Berani melawan bahkan mengancam nyawa seorang Sonia.
"Sayang... Lepaskan... Kamu bisa melukainya." Ucap Satya dengan nada lembut berusaha menenangkan emosi wanitanya.
"Melepaskannya ? Cih... Aku tak akan melepaskan seseorang yang selalu membuatku dan anak-anak ku menderita selama ini."
"Kesalahan apa yang aku buat pada kalian ? Kalian lah yang menghancurkan kehidupan ku. Membuatku dan orang-orang disekitar ku menderita."
Air mata Belva mengalir mengingat betapa dirinya dulu sangat menderita. Bahkan orang-orang disekitarnya pun ikut terkena dampaknya.
Tatapan kekecewaan, kepedihan tapi tak menutup tatapan penuh amarah. Jordi dan Satya melihat raut wajah dan tatapan Belva.
Satya berjalan perlahan, memberikan kode pada Jordi agar ikut mendekat dengan tujuan Jordi yang mengurus Sonia dan dirinya yang akan mengurus Belva.
Lengan Belva terus mengeluarkan darah dan menetes di lantai. Sedari tadi Satya melihat itu dan merasa khawatir akan keadaan Belva. Melihat keadaan yang mencekam, Satya tak bisa gegabah.
"Sayang..." Panggil Satya dengan sangat lembut.
Sonia merasa kesal saat Satya memanggil Belva dengan panggilan penuh kelembutan dan terdengar mesra.
"Sialan... Kenapa Satya bisa memanggil wanita ingusan ini dengan begitu mesra." Batin Sonia.
Selama ini sangat jarang sekali bahkan mungkin tak pernah Satya memanggil dirinya dengan panggilan yang terdengar lembut dan mesra.
"Sayang... Anak-anak membutuhkan mu saat ini. Dia biarkan saya yang mengurusnya."
Belva menatap Satya, kelengahan itu dipergunakan Sonia untuk menangkis tangan Belva.
"Aahh sstt..." Belva meringis lengannya terasa perih. Tangkisan Sonia begitu kasar, hingga lukanya yang terkena gunting tadi merasakan perih dan nyeri.
"Belva..." Satya langsung meraih tubuh Belva.
"Jordi... !!" Panggil Satya.
Jordi tahu apa yang harus dilakukannya, pria itu mendekat dan mengamankan Sonia. Wanita yang sama gilanya dengan Belva saat sedang emosi menurut Jordi.
"Lepaskan aku Jordi...!!" Teriak Sonia.
"Jordi, urus wanita itu. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan bukan." Ucap Satya.
__ADS_1
"Baik Tuan." Jawab Jordi.
Satya membawa Belva keluar dari ruangan itu. Sedangkan Jordi dibantu oleh karyawan Belva mengikat tangan Sonia ke belakang agar wanita itu tak bisa kabur dengan bebas.
"Jordi apa yang kamu lakukan !! Jangan kurang ajar kamu !! Kamu lupa siapa dirimu huh ?!!"
"Ck... Berisik sekali. Tentu saja saya tahu siapa saya, mantan Nyonya Balakosa. Berkacalah siapa diri anda saat ini. Seharusnya anda tak membuat masalah di tempat ini." Ucap Jordi dengan santai tapi sesungguhnya dia merasa kesal dengan sikap Sonia yang seenaknya saja.
Jordi menghubungi anak buahnya untuk datang ke butik Belva. Mereka akan membawa Sonia ke suatu tempat sebelum memulai rencana mereka.
Satya tak membawa Belva ke ruangan Belva melainkan membawanya ke mobil untuk pergi ke klinik terdekat. Dia tak bisa membiarkan wanita tercintanya itu menahan luka di lengannya.
Belva terdiam tak mengeluarkan sepatah katapun. Ini ia berusaha meredam segala emosi yang sempat keluar dengan tak terkendali.
Satya membiarkannya, dia paham jika Belva masih merasa emosi dan kesal. Mobil itu dikendarai oleh Satya dengan kecepatan sedang. Salah satu tangannya meraih tangan Belva lalu menggenggamnya dengan penuh kelembutan.
Belva menoleh ke arah Satya. "Tenangkan dirimu, saya tahu apa yang kamu rasakan." Ucap Satya.
"Pasti terasa perih, tahan sebentar kita akan sampai ke klinik." Ucap Satya kembali yang tak melepaskan genggaman tangannya.
Klinik terdekat dari butik Belva hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja. Satya keluar dari mobil dan membantu Belva keluar dari mobil. Wanita itu sedari tadi hanya diam dan menurut saja.
Dituntun oleh Satya dengan penuh perhatian. Beberapa orang yang berkunjung di klinik tersebut bahkan bisa melihat jika keduanya terlihat mesra.
"Suster, tolong bantu tangani luka istri saya."
"Baik Tuan... Mari bawa ke dalam sini."
Suster membimbing Satya dan Belva masuk ke ruang perawatan darurat. Sebenarnya Belva masih bisa duduk tapi Satya menyarankan untuk berbaring saja. Wanita itu kini tengah di tangani oleh suster. Luka yang tak terlalu parah jadi suster bisa menangani sendiri tanpa bantuan dokter.
Satya dengan penuh perhatian tetap mendampingi Belva selama dilakukan perawatan pada wanita cantik itu.
"Lukanya tak terlalu dalam tapi tetap harus berhati-hati dalam merawatnya hingga sembuh. Tolong jangan dibiarkan terkena air terlebih dahulu agar lukanya cepat mengering."
"Baik suster... Apa ada lagi pantangan selama masa penyembuhan ?" Tanya Satya dengan serius.
"Tak perlu khawatir Tuan, mungkin dua minggu lagi luka sudah sembuh. Hanya saja jangan terkena air terlebih dahulu dan tiga hari lagi bisa dibawa kesini untuk mengganti perbannya." Ucap suster saat melihat raut wajah khawatir yang ditunjukkan oleh Satya.
Pria itu mengangguk paham. "Istri anda sudah bisa dibawa pulang. Obat bisa diambil.di bagiam farmasi."
"Terima kasih suster." Ucap Satya.
"Sayang, ayo kita pulang. Anak-anak pasti sudah menunggu mu."
Mendengar kata anak-anak, Belva merasa khawatir pada anak-anak nya.
"Dimana mereka ? Ayo cepat pulang." Ucap Belva panik.
"Sstt... Tenang sayang. Anak-anak pasti baik-baik saja, mereka aman." Satya berusaha menenangkan Belva. Dipeluknya tubuh sintal wanita cantik itu.
"Kita pulang sekarang hmm..."
Belva mengangguk dalam pelukan Satya. Perlahan Satya membantu Belva turun dari brangkar. Mereka berjalan keluar ruangan perawatan darurat untuk mengambil obat lalu kembali ke butik.
Sampai di depan butik dan sebelum keluar dari butik Satya menahan tangan Belva.
"Tunggu... Jangan keluar seperti ini."
Satya menoleh ke belakang dan mengambil jaket miliknya lalu diberikannya pada Belva.
"Pakai ini untuk menutupi lukamu. Anak-anak pasti khawatir melihatmu terluka. Dan ingat jangan menggendong mereka dulu. Tanganmu harus beristirahat."
Belva mengangguk dan mengambil jaket Satya. Jaket yang terlihat lebih besar untuk tubuh Belva itu telah dipakai oleh wanita itu. Keduanya turun dari mobil dan masuk ke dalam butik.
"Dimana anak-anak saya ?" Tanya Satya pada karyawan Belva.
"Masih di dalam ruangan Nona Bella, Tuan."
Belva dan Satya masuk ke dalam ruangan Bella. Kedua anak itu masih menangis mencari Mami mereka.
"Mamiii..." Teriak Duo Kay. Tangis mereka kembali pecah saat melihat wajah Belva.
"Sayang, kalian baik-baik saja ?" Tanya Belva memeluk Duo Kay. Belva hendak menggendong Kaila. Tapi tertahan oleh suara Satya.
"Mam... Ingat apa yang Daddy katakan tadi bukan ?" Peringatan dari Satya untuk Belva.
"Aku hanya khawatir dan lega saat melihat Kaila." Ucap Belva.
"Kita sebaiknya pulang saja. Kalian harus istirahat. Ayo kita pulang." Ajak Satya dengan lembut.
"Mau gendong Mami." Rengek Kaila..
"Sayang, Mami sedang tidak enak badan. Ila gendong Daddy saja ya."
Gadis kecil itu sempat melihat tangan Mami nya terluka jadi ia hanya mengangguk saja. Satya menggendong Kaila dan Belva menuntun Kaili.
Mereka masuk ke dalam mobil dan kembali pulang ke apartemen. Dalam perjalanan menuju apartemen Satya, Duo Kay tertidur. Satya tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Belva. Sesekali pria itu menoleh ke arah Belva lalu mencium punggung tangan Belva.
Belva merasa nyaman dengan perlakuan Satya. Merasa diperhatikan, dilindungi dan di sayang. Tapi tak dipungkiri degup jantung Belva berdetak lebih kencang dari sebelum.
Sampai di apartemen, Satya menggendong Kaila. Kaili digendong oleh satpam yang menjaga area apartemen. Satya meminta satpam itu untuk membantunya menggendong Kaili karena tidak mungkin Belva yang menggendong.
Duo Kay sudah tertidur di dalam kamar mereka akibat merasa kelelahan menangis. Satya mengajak Belva masuk ke dalam kamar mereka sendiri. Keduanya duduk di bibir ranjang.
__ADS_1
"Sayang, maafkan saya tidak bisa melindungi mu dan anak-anak. Untuk kesekian kalinya kalian terluka karena Sonia."
"Tidak apa-apa, yang penting anak-anak baik-baik saja." Ucap Belva.
Satya memeluk Belva, diciumnya kepala Belva berkali-kali. Ada rasa bersalah, karena gagal lagi melindungi Belva.
Dirinya harus segera bertindak, mempercepat pernikahannya dengan Belva. Dan yang terpenting mengurus mantan istrinya yang sangat nekat itu.
"Sayang, bagaimana kalau pernikahan kita dipercepat ?"
Satya ingin setelah Belva menikah dengannya, maka perempuan itu akan lebih mudah diatur dan dikendalikannya. Berbeda jika belum menikah maka Belva akan memiliki banyak alasan untuk menolak Satya.
"Minggu depan kita menikah." Putus Satya.
"Minggu depan ? Apa kamu serius ? Persiapan pernikahan itu tidak bisa secepat itu Om."
"Kita menikah secara resmi nya saja dulu yang penting kita sah secara hukum dan agama." Ucap Satya.
"Tapi aku mau saat menikah memakai gaun rancangan Mama."
"Mama ?" Tanya Satya mengerutkan keningnya. Pelukannya diurai demi menatap wajah cantik Belva.
Pria itu masih belum mengetahui sampai detik ini jika sebenarnya Belva adalah anak angkat dari Tuan dan Nyonya Hector.
Belva mengangguk. "Mama Zeta... Mereka menolongku saat aku dalam kesulitan waktu itu. Dan mereka mengangkatku sebagai anaknya. Butik yang aku miliki sekarang, itu semua berkat bantuan Mama dan Papa."
"Jika Om serius ingin menikahi ku maka Om harus meminta ijin pada Budhe dan juga Mama dan Papa angkatku. Mereka.adalah keluargaku saat ini."
Satya masih penasaran dengan orang tua angkat Belva. Memang dirinya tahu jika dulu Belva sempat hidup dalam kesulitan tapi dia belum tahu siapa sosok yang menyelamatkan Belva dan anak-anak nya.
"Pasti, saya pasti akan menemui keluarga mu. Besok pagi kita ke rumah bertemu dengan ibu. Saya akan memintamu pada ibu untuk menjadi istri saya."
Belva mengangguk dan tersenyum tipis. Ia tak menyangka jika dirinya akan menikah dengan seorang Satya. Pria yang memiliki selisih umur sangat jauh darinya. Pria yang seusia dengan kedua orang tuanya, yang layak menjadi orang tuanya. Pria yang dulu menjadi majikannya.
"Dua hal yang membuat saya harus menikahi mu. Yang pertama adalah saya mencintaimu dan yang kedua saya ingin anak-anak memiliki kedua orang tua yang lengkap. Membahagiakan kalian orang-orang yang sangat saya cintai."
Keduanya sudah sepakat untuk mempercepat pernikahan sesuai dengan keinginan Satya. Belva tanpa ragu menyetujuinya karena wanita itupun ingin kedua anaknya bahagia. Selain itu ia tak mau jika Satya memilih wanita lain nantinya jika dirinya terus mengulur waktu.
"Kamu lelah ?" Tanya Satya.
"Mengantuk." Jawab Belva.
"Tidurlah, saya akan menemani mu."
"Tidak kembali ke kantor ?" Tanya Belva.
Satya menggeleng. "Saya merasa khawatir dan takut mendengar dirimu dan anak-anak kita dalam bahaya. Saya masih merasa syok, saya temani kalian di sini."
"Terima kasih, pasti Kaili dan Kaila merasa sangat senang memiliki Daddy seperti mu yang menyayangi mereka."
"Tentu saja saya sangat menyayangi mereka, mereka adalah anak-anak saya. Bukan hanya mereka tapi kamu juga. Saya sangat menyayangi kamu dan mencintai kamu, sayang. Apa kamu tidak merasa senang sama seperti Kay ?"
Belva tersenyum wajahnya sedikit memerah. Ada rasa senang dan bahagia yang bergelayut di dalam hatinya.
"Hemm...? Kamu senang tidak kalau saya menyayangi mu dan mencintai mu ?" Tanya Satya kembali.
"Ekhm... He'em." Ucap Belva yang merasa grogi. Dipangkuannya wajahnya agar tak melihat Satya.
Pria itu tersenyum saat melihat wajah calon istrinya yang merasa malu-malu itu. Dipegangnya dagu Belva yang telah berpaling itu agar menghadap dirinya.
"Kamu tahu ? Saya juga merasa sangat senang dan bahagia saat ini." Ucap Satya lirih menatap mata Belva.
"Kamu sangat menggemaskan, sayang." Bisik Satya.
Perlahan Satya mengecup bibir Belva dan sedikit **********.
"Ayo tidur... Pasti kamu sangat lelah." Ujar Satya.
Belva mengangguk, wanita itu memang merasa sangat lelah akibat bertarung melawan Sonia. Ia mengambil posisi untuk tidur berbaring menghadap langit-langit.
Satya melepaskan kemejanya hingga menyisakan celana kain panjangnya. Diapun mengambil posisi tidur berbaring di samping Belva.
"Sini... Jangan jauh-jauh, saya peluk."
Perlahan Belva mendekat pada pria itu, Belva mencoba membiasakan diri menikmati jalan hidupnya yang dibiarkan nya mengalir begitu saja termasuk hubungannya dengan Satya.
Kini Belva sudan berada dalam pelukan Satya yang bertelanjang dada saat berbaring. Grogi itu sudah pasti terlebih wajahnya bersentuhan dengan kulit Satya. Belva bergerak sedikit kurang nyaman karena rasa groginya sendiri.
"Ada apa ?" Tanya Satya.
"Ehmm... Tidak usah peluk. Aku tidak bisa tidur."
"Biasakan diri agar besok kamu tidak kesulitan tidur."
Satya semakin mendekatkan dirinya pada Belva. Memeluk erat wanita itu, Satya sungguh menikmati waktunya yang begitu membahagiakan.
Sebentar lagi dirinya bisa menikahi wanita pujaan hatinya. Menjadikannya istrinya dan tak akan pernah dilepaskan begitu saja.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku...
__ADS_1
Tengkyu ya masih setia support author. Like kalian, komen kalian, gift dari kalian dan juga vote dari kalian benar-benar menyuntikkan semangat untuk author. 🙏🙏