
Mereka kini telah berada disebuah warung tenda pinggir jalan. Satya sebenarnya keberatan dirinya tidak biasa makan di tempat seperti itu. Tapi karena Duo Kay menginginkan makan sate jadi Belva membawa mereka ke warung tenda Bu Bambang.
Warung tenda yang dulu pernah didatangi nya ketika pulang dari pasar berbelanja bahan makanan kebutuhan rumah besar Satya.
"Ayo sayang kita duduk di pojok sana." Belva mengarahkan kedua anaknya.
"Mam, serius ini kita makan disini ?" Tanya Satya.
"Kenapa ? Tidak mau makan disini ? Ya sudah kembali saja ke mobil. Biar aku dan anak-anak yang makan." Ucap Belva cuek.
"Kita bisa makan di restoran Mam, bahkan disana jauh lebih enak."
"Ssstt... Sudah deh ya, kalau Daddy Satya tak mau makan disini, terserah. Ayo anak-anak kita duduk."
Tak urung Satya tetap mengikuti Belva dan anak-anak nya yang telah duduk di kursi.
"Kalian tunggu disini ya, Mami pesankan dulu satenya." Ujar Belva. Kedua anaknya mengangguk antusias.
Belva berjalan ke arah Bu Bambang yang sedang sibuk membakar satenya. Warung tenda ini cukup ramai bahkan pemilik warung itu terkadang lebih banyak berdiri di depan pembakaran.
"Bu, pesan tiga porsi ya, lontong sama satenya dipisah ya."
Belva hanya memesan tiga porsi saja karena setelah melihat reaksi Satya, ia berpikir jika pria itu tak mau memakan makanan pinggir jalan seperti ini.
"Iya Non sebentar ya antri." Ucap Bu Bambang. Wanita paruh baya itu sibuk dengan beberapa tusuk sate tapi menyempatkan untuk menatap Belva sebentar. Bu Bambang menelisik pandangan nya pada Belva dengan tatapan intens.
"Ada apa Bu ?" Tanya Belva.
"Eh maaf tidak Non, ibu kaya pernah lihat Non nya." Ucap Bu Bambang tersenyum.
"Masa sih Bu ? Kapan ?" Tanya Belva tersenyum.
"Apa cuma mirip saja yang Non ?" Ucap Bu Bambang.
"Memang siapa yang pernah ibu temui ?" Tanya Belva.
"Dulu ada Non, dia cantik juga masih sekolah tapi sering dulu habis belanja di pasar suka mampir ke sini. Kalau gk salah namanya Vava."
"Belva ?" Jelas Belva.
"Nah iya Belva... Loh kok Non nya tahu ? Saudara nya ya ? Mirip sekali."
Belva tersenyum manis. "Iya ini Belva Ibu... Yang dulu suka belanja di pasar."
"Hah ? Ya ampun benar ini Non cantik itu. Astaga Nooonn... Kamu makin cantik saja. Ibu sampai pangling loh. Sudah lama tidak datang ke warung ibu. Kemana saja Non." Bu Bambang tertawa senang melihat Belva. Tangannya sampai reflek menepuk bahu Belva.
Belva tertawa melihat respon Bu Bambang penjual sate itu. Dulu mereka sempat dekat saat Belva sering berkunjung di warung makan itu.
"Mami, aku haus." Ucap Kaili turun dari tempat duduknya dan menghampiri Belva.
Bu Bambang menatap bocah laki-laki itu lalu bergantian menatap Belva. Wajah anak kecil itu mirip dengan Belva.
"Non, ini siapa ? Anaknya ? Kok panggil Mami ?"
"Iya Bu, ini anak saya... Kaili namanya. Ayo nak salaman sama Uti."
Belva selalu mengajarkan pada anaknya untuk bersikap sopan pada siapapun. Mau itu orang kaya atau orang biasa. Dengan patuh Kaili menyalami Bu Bambang.
"Ya ampun pintarnya. Ganteng sekali pasti Bapaknya juga ganteng ini." Ucap Bu Bambang.
Belva hanya tersenyum. "Bu, bisa minta tolong untuk minumannya lebih dulu, ini anak saya haus." Pinta Belva.
"Oh iya... Iya sebentar ya... Dicky tolong buatkan minum buat mejanya non Belva dulu."
Dicky adalah putra pertama Bu Bambang yang sejak dulu setia membantu ibunya berjualan di warung ibunya. Pria itu hanya selisih tiga tahun dengan Belva. Mendengar nama Belva, pria itu langsung menatap wanita muda dan cantik di hadapan ibunya.
"Iya sebentar Bu, ini Non Belva yang waktu itu sering datang kesini itu kan ?" Tanya Dicky.
"Iya kak... Ini Belva yang dulu pagi-pagi sering kesini." Belva memanggil Dicky dengan sebutan kakak karena dulu saat dirinya masih sekolah dan bertemu dengan Dicky yang sudah lulus satu tahun. Bahkan sempat Belva meminta tolong pada Dicky mengenai pelajarannya di sekolah dulu.
Dicky tersenyum sumringah saat menatap wajah cantik itu. Dengan semangat dirinya membuatkan minuman untuk menja Belva. Selesai dengan pesan memesan Belva kembali duduk di mejanya.
"Mami lama sekali. Mami kenal sama orang itu ?" Tanya Kaila.
"Iya sayang, Mami mengenal mereka." Ucap Belva.
Tak lama Dicky datang denganbawa segelas teh manis. Minuman yang sering Belva pesan saat mampir di warung tenda milik ibunya.
"Ini Non cantik minumnya." Ucap Dicky tersenyum manis pada Belva.
Satya menatap Dicky dan Belva secara bergantian. Sedikit tak suka saat Dicky menatap kagum mengisyaratkan jika pria itu menyukai Belva. Dicky sudah lama menyukainya wanita cantik itu. Tapi saat memiliki keinginan untuk mendekati wanita itu justru Belva menghilang dan tak pernah lagi mereka bertemu.
"Terima kasih Kak, maaf tapi minumnya kurang dua gelas lagi." Ucap Belva.
"Dua gelas ? Untuk siapa ? Mereka ?" Tanya Dicky menunjuk pada dua bocah kecil dan seorang pria yang juga berada di meja yang sama dengan Belva.
__ADS_1
"Iya kak..." Jawab Belva.
"Oh oke... Dua anak kecil ini adik mu atau keponakan mu Non cantik ? Pasti anaknya Tuan ini ya ?"
Belva tersenyum. "Mereka anak-anak saya kak."
Dicky terkejut mendengar pengakuan Belva. Tak percaya wanita yang disukainya sudah memiliki anak. Lalu pria dewasa yang usianya jauh di atas Belva itu siapa, batin Dicky bertanya-tanya.
"Lalu ?" Dicky melirik dan sedikit menunjuk pada Satya.
Dengan spontan Satya mengulurkan tangannya dan disambut oleh Dicky.
"Saya Daddy nya dua anak kecil ini." Ujar Satya dengan tegas.
Mulut Dicky menganga, jika pria dihadapannya itu memperkenalkan diri sebagai bapak dari dua bocah ini. Itu artinya pria matang ini adalah suami dari Belva.
"Suaminya Non Belva ?" Tanya Dicky memastikan pengertiannya.
"Iya saya suami Belva." Satya kembali bersuara dengan tegas.
Belva melebarkan matanya, pria dihadapannya itu dengan santai dan tegas mengatakan jika pria itu adalah suaminya. Satya hanya melirik biasa saja pada Belva.
"O-oh... Suaminya ya ? Ya sudah Non saya buatkan minuman lagi." Pamit Dicky yang langsung pergi meninggalkan meja Belva.
"Kenapa harus mengatakan seperti itu ?" Tanya Belva kesal pada Satya.
"Memang kamu mau dikira seorang janda ? Kamu mau digoda banyak lelaki humm ?"
"Tapi bukan seperti itu juga." Ucap Belva kesal.
"Atau kamu mau banyak orang mengetahui jika kamu hamil tanpa suami ?"
Ucapan yang begitu menusuk hati Belva. Kejadian itu bukan kemauan dirinya.
"Bukankah memang seperti itu." Ucap Belva ketus.
Satya melihat ada raut kemarahan di wajah Belva saat dirinya mengatakan hal yang tak seharusnya dia katakan. Kalimat yang begitu sensitif untuk wanita cantik itu.
Satya menyentuh lengan Belva dan mengusapnya lembut.
"Maaf... Mam, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya berniat melindungimu saja. Jangan marah, nanti cantiknya Mami hilang." Satya sedikit menggoda Belva.
"Ck... Apaan sih. Sudah diam, jangan membuat selera makanku hilang."
"Sudahlah diam atau kembali saja ke mobil." Ucap Belva yang masih dalam model kesal dengan kalimat Satya yang menusuk hatinya.
Satya terdiam, dia tahu jika perkataan nya itu membuat Belva sakit. Tapi dirinya benar-benar tak berniat seperti itu. Pria itu hanya tak suka jika ada pria lain yang mencoba mendekati Belva terlebih dengan terang-terangan memperlihatkan wanita dambaannya dengan tatapan memuja.
Tak lama minuman dan makanan tiba. Tiga gelas minuman dan tiga porsi sate ayam terhidang di atas meja. Satya melirik satu persatu minuman dan makanan itu.
"Kok cuma tiga ?" Tanya Satya.
"Bukankah kamu tak mau makan disini." Ujar Belva.
"Siapa yang bilang ? Lalu saya hanya melihat kalian makan saja ?" Ujar Satya.
"Daddy mau ? Ini kita bagi dua." Ucap Kaila.
Satya menolak dirinya tak tega mengganggu makan Kaila dan Kaili. Dirinya lebih memilih menahan lapar agar kedua anaknya bisa makan dengan nyaman dan kenyang.
Belva merasa kasihan pada Satya yang hanya mampu melihat mereka makan. Rasanya juga tak sopan jika mereka makan dengan asik sedangkan Satya tidak makan. Pria itu beralih fokus pada layar ponselnya meski perutnya terasa lapar saat melihat dan mencium aroma sate ayam itu.
"Makanlah Dad." Belva menyodorkan piringnya ke tengah membagi porsi sate nya pada Satya.
Pria itu menatap piring dihadapannya dan beralih menatap Belva. Lalu menggelengkan kepalanya.
"Mami saja, pasti kamu lapar seharan bekerja." Tolak Satya.
"Boleh minta minumnya saja ? Saya haus." Ucap Satya meminta ijin.
Belva mengangguk dan menggeser gelas es teh manisnya. "Tapi sudah ku minum tadi."
"Tidak masalah." Ucap Satya mengambil es teh manis itu dan meneguknya hingga berkurang seperempat.
Satya kembali fokus ada ponselnya. Mengecek beberapa pekerjaan melalui email yang terkirim masuk pada ponselnya.
"Yakin tidak mau merasakan sate ayam ini sedikit saja ?" Tanya Belva. Kembali Satya mendongakkan kepalanya melihat Belva.
"Apa rasanya enak ?"
"Sangat enak, lihat saja anak-anak lahap memakannya." Ujar Belva.
Satya mengambil satu tusuk sate tersebut dan memasukkan ke dalam mulutnya. Ludahnya merasakan cita rasa bumbu yang begitu lezat.
"Enak..." Ucap Satya singkat. Dirinya sibuk mengunyah daging ayam itu.
__ADS_1
Merasa ketagihan Satya mengambil lagi dan lagi sate yang asa dipiring Belva. Hingga habis membuat Belva menggelengkan kepalanya. Tadi saat pertama memasuki warung tenda ini pria itu terkesan tidak ramah pada tempat ini tapi kini lidahnya terasa betah dengan menu makanan di warung tenda itu.
"Kok habis ?" Tanya Satya.
"Ya habislah orang kamu makan dari tadi." Ucap Belva.
"Anak-anak sudah makannya." Tanya Belva pada Duo Kay. Dua bocah itu sedari tadi anteng sekali dengan sate mereka masing-masing.
"Sudah Mami." Jawab Kaili. Kaila mengangguk.
"Oke, sebentar ya Mami bayar makanannya dulu." Ujar Belva tapi langsung ditahan oleh Satya.
"Biar saya saja sekalian kita pulang." Ujar Satya berdiri menggendong Kaili yang ada di sampingnya.
Satya berjalan ke arah Bu Bambang dan Belva mengikuti dari belakang dengan menggandeng tangan Kaila. Wajah tampan Satya seringkali mendapat perhatian dari banyak pasang mata.
Pria itu membayar makanan mereka dan kbali memesan dua porsi untuk Budhe Rohimah dan juga Bella.
"Non, ini suaminya ?" Tanya Bu Bambang.
Belva hanya bisa tersenyum secara paksa tanpa menjawab apapun.
"Mami dan Kaila langsung masuk saja ke mobil. Nanti Daddy dan Kaili menyusul." Ujar Satya. Melihat tatapan Satya yang serius Belva menurut saja. Dirinya dan Kaila mengikuti perintah Satya.
Satya meminta tolong pada Bu Bambang agar kedua porsi sate itu dikirim ke alamat rumah Belva dengan menggunakan jasa antar makanan. Bu Bambang menyanggupi permintaan Satya dengan senang hati.
Lalu Satya dan Kaili menyusul Belva dan Kaila yang sudah berada di dalam mobil. Pria itu menempatkan Kaili di kursi belakang. Memasang sabuk pengaman untuk kedua anaknya.
"Mami, duduklah di depan. Biarkan anak-anak lebih leluasa." Ujar Satya.
Belva tak ingin berdebat, sudah lelah seharian bekerja. Ia menurut pindah ke depan bersama Satya. Baru saja mobil melaju beberapa meter Kaila meminta untuk pulang ke rumah Daddy nya. Sempat ditolak oleh Belva tapi Satya berusaha membujuk Belva.
"Oke tapi jam delapan kita harus pulang." Ujar Belva.
"Oke Mami." Jawab Duo Kay.
Satya melajukan mobilnya menuju sebuah gedung yang tinggi dan bisa dipastikan itu memiliki beberapa lantai di dalamnya. Belva menatap bingung kenapa Satya membawa mereka ke gedung tersebut.
"Kenapa kesini ? Daddy Satya ada urusan disini?" Tanya Belva.
"Ayo turun." Satya melepaskan sabuk pengaman nya. Ditengoknya kedua anaknya sudah tertidur di jok belakang.
"Saya gendong Kaila, kamu gendong Kaili. Mereka tidur." Ujar Satya.
Belva mengangguk, mereka berdua keluar dari mobil dan menggendong masing-masing bocah itu. Belva berjalan mengikuti langkah Satya.
Sebuah kotak besar Satya masuki untuk mempersingkat waktunya sampai ke tempat yang dia tuju.
"Kita mau kemana ?" Tanya Belva pada Satya.
Ting...
Pintu lift terbuka, mereka berhenti di lantai 18.
Satya berjalan dengan satu tangan menggendong Kaila dan satu tangannya lagi memapah pundak Belva.
"Tidak usah rangkul-rangkul juga Om." Ujar Belva yang sekarang sudah mulai bersikap santai pada Satya. Memanggil pria itu sesuka hatinya.
"Nanti kamu ketinggalan. Kakimu lebih pendek dari kaki ku." Ujar Satya.
"Beda sepuluh senti juga, berlebihan sekali." Ucap Belva malas.
Tapi Satya tetap tak melepaskan rangkulannya pada pundak Belva. Mereka berhenti di lantai nomor 205. Rangkulan itu seketika terlepas karena Satya harus memencet tombol sandi pintunya.
"Ini apartemen saya. Ayo masuk." Ajak Satya.
Kini mereka sudah masuk ke dalam apartemen milik pria tampan itu. Kembali heran Belva karena Satya mengajaknya dan anak-anak ke sebuah apartemen.
"Kamar anak-anak ada di sebelah sana. Ayo ikut, tubuh mereka pasti tidak nyaman tidur seperti ini."
Satya memimpin jalannya menuju kamar Duo Kay. Belva hanya mengikuti saja. Mereka letakan Duo Kay di ranjang king size dalam kamar itu. Belva mengecup kening anak-anaknya satu persatu bergantian dengan Satya yang juga melakukan hal yang sama.
"Kenapa harus ke tempat ini ?" Tanya Belva kembali saat keluar dari kamar Duo Kay.
"Karena rumah saya sedang direnovasi. Jadi untuk sementara waktu saya tidur di sini."
****
To Be Continue...
Selalu tak pernah bosan author mengatakan terimakasih pada kalian. Mungkin kalian bosan author tiap hari bilang kek gini. Tapi mau bagaimana lagi author hanya bisa mengatakan ini tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Nanti suatu saat jika dikasih rejeki lebih mungkin bisa berbagi dengan kalian. βΊοΈπ
Terus dukung author my dear para readers. Bisa bantu promo juga jika berkenan π€ππ.
Maaf kalau author jadi ngelunjak π¬ππ
__ADS_1