
Akhirnya jalan-jalan mereka di hari Minggu itu ditutup dengan acara makan siang bersama. Satya tak membawa mereka makan di restoran yang ada di mall tersebut. Pria itu membawa Belva dan kedua anaknya makan di restoran mewah dan mahal yang biasa dikunjungi nya saat meeting dengan klien atau saat dirinya memang ingin makan di tempat itu.
Memasuki restoran mahal itu Belva menatap sekeliling. Tampak memang jika restoran itu hanya didatangi oleh orang-orang yang dari kalangan atas. Dilihat dari penampilan beberapa pengunjung restoran, pakaian yang tak sembarang dan kalaupun ada yang hanya memakai pakaian santai sangat terlihat joke mereka berasal dari orang berada. Kulit terawat dan penampilan yang bersih.
Pelayanan restoran datang menyambut mereka saat memasuki dalam restoran. Sapaan ramah langsung tertuju pada Satya karena memang sudan menjadi langganan di tempat itu.
"Selamat datang Tuan. Mau menggunakan meja yang seperti biasanya ?" Tanya pelayan tersebut.
"Ya..." Jawab Satya singkat.
Berhadapan dengan orang lain yang tak dekat dengannya membuat pria itu kembali pada sikapnya yang seperti biasa.
"Mari Tuan akan saya antarkan ke private room untuk anda."
Satya kembali berjalan mengikuti pelayan tersebut dengan mendorong stroller Duo Kay. Dua bocah itu memang diarahkan untuk tetap berada duduk di stroller mereka agar Belva tak perlu mengendong salah satu dari mereka. Satya tak tega jika Belva kelelahan seperti saat di toko mainan tadi.
Beberapa pasang mata menatap ke arah Satya dan Belva. Orang dari kalangan atas siapa yang tak mengenal Satya. Pria dengan kemampuan berbisnis yang mumpuni dan hampir setiap tender mampu dimenangkan oleh pria itu.
Ada yang berbisik mengenai siapa Belva dan kedua bocah yang berada di depan Satya. Mereka mencoba menerka-nerka orang-orang yang sangat jarang sekali mereka lihat di sekitar Satya.
"Tuan Satya..." Panggil seseorang yang mengenal Satya sebagai suami dari Sonia.
Satya menoleh ke sumber suara begitu pula dengan Belva. Keduanya terdiam menatap orang tersebut.
"Ya ?" Tak lama Satya merespon panggilan tersebut.
Orang tersebut tersenyum dengan lembut dan anggun. Seorang wanita yang Satya kenal sebagai istri dari salah satu rekan kerjanya.
"Tuan, anda disini juga ? Dimana Nyonya Sonia, akhir-akhir ini sangat jarang sekali ikut berkumpul bersama kami." Tanya wanita itu yang tak lain adalah Anggun.
Wanita yang menjadi teman sosialita Sonia dan juga yang menjadi saingan berat bagi Sonia. Padahal wanita itu tak merasa jika dirinya menjadi saingan bagi Sonia. Mereka para bos besar mana yang tak mengenal Satya dengan kekayaan yang berlimpah. Bagaimana bisa Anggun menjadi saingan berat Sonia, wanita itu merasa tak sebanding dengan Sonia. Dasarnya saja Sonia adalah orang dengan pemiliki hati yang buruk tak bersyukur dan selalu saja kurang.
"Iya Nyonya. Mengenai Sonia, maaf Nyonya Pradipta anda bisa tanyakan langsung saja padanya." Ucap Satya yang tak ingin lagi mengurusi mantan istrinya.
"Kami tidak pernah bertemu jadi bagaimana bisa saya bertanya padanya." Ucap Anggun tersenyum lembut.
"Daddy... Ayo aku sudah lapar." Ajak Kaila yang merasa Daddy lama sekali berbincang.
Semua menatap gadis kecil nan cantik itu. Anggun menatap Kaila lalu bergantian dengan Kaili. Mengenai keberadaan Belva, Anggun baru menyadari wanita muda itu.
"Nona Belva ? Anda disini juga ? Maaf saya tidak menyadarinya. Apa kalian datang kemari bersama ?" Tanya Anggun.
"Nyonya..." Belva tersenyum dan sedikit mengangguk.
Satya memperhatikan kedua wanita itu. Tampak jika keduanya telah saling mengenal.
"Anda sendiri Nyonya ?" Tanya Belva pada Anggun.
"Tidak... Saya bersama anak saya, sedang berada di toilet dia." Ucap Anggun.
"Oh iya Nyonya. Anda baru sampai ?" Tanya Belva.
"Tidak, kami justru sudah sedari tadi." Jawab Anggun.
Belva dan Anggun tampak asik berbincang, hingga membuat Satya sejujurnya bosan begitu juga dengan Duo Kay.
"Mami... Ayooo... Daddy kita tinggal saja Mami." Rajuk Kaila.
Anggun seketika langsung berhenti saat mendengar rengekan Kaila. Wanita itu terkejut mendengar gadis kecil itu memanggil Satya dengan sebutan Daddy dan Belva dengan sebutan Mami.
"Tuan Satya... Maaf Nona Belva, apakah ?" Tanya Anggun dengan ragu tapi dirinya penasaran.
"Maaf Nyonya kami permisi. Putriku sudah merasa lapar sedari tadi." Ucap Satya.
"Putri ? Apa benar itu putri Tuan Satya ? Nona Belva... Apa aku tidak salah menebak jika mereka memiliki anak bersama ?" Gumam Anggun dalam hati.
"Nyonya, maaf saya juga harus permisi. Senang bertemu dengan anda kembali." Ucap Belva lalu mengangguk dan tersenyum pada Anggun.
"Ah... Iya... Iya mari Nona... Tuan Satya... Silahkan." Ucap Anggun.
Pertanyaan yang sangat besar berada di dalam kepala Anggun saat ini. Jika mang benar tebakan lalu bagaimana dengan rumah tangga Satya dengan Sonia. Wanita itu berpikir apakah ada masalah di dalam rumah tangga Sonia, mengingat tam sosialita nya itu akhir-akhir ini tak menampakkan diri dalam setiap perkumpulan mereka.
Anggun terus menatap Satya dan Belva yang berjalan semakin menjauh dari posisinya berdiri. Hingga objek yang di tatapnya hilang dibalik ruangan khusus pengunjung kelas VIP.
"Silahkan Tuan... Nona..." Ucap pelayanan yang lebih dulu sampai dan menunggu di depan pintu.
Satya, Belva dan Duo Kay masuk ke dalam private room tersebut. Pelayanan melakukan tugasnya mendata list pesanan salah satu tamu istimewa nya.
"Kalian mau makan apa sayang ?" Tanya Satya pada Duo Kay.
"Es krim." Ujar Duo Kay kompak.
"Tapi makan nasi terlebih dahulu sayang baru makan es krim." Ucap Belva.
"Mbak, pesan makan yang ada nasinya tapi tidak pedas untuk anak-anak saya." Ucap Belva.
"Nasi dan sup iga sapi Nona, bagaimana ?" Tanya pelayan.
"Baiklah itu saja tidak apa-apa. Minumnya jus strawberry dan milkshake coklat. Sudah itu saja mbak." Ucap Belva.
"Baik. Ada lagi Tuan... Nona ?"
Satya menatap Belva. "Kamu mau makan apa, Mam ?"
"Saya tidak lapar." Ucap Belva.
__ADS_1
"Ayam bakar madu dua. Minumnya air mineral." Ucap Satya pada pelayan.
"Baik, ada lagi Tuan ?"
"Tidak itu saja dulu." Ucap Satya.
"Baik, mohon di tunggu sebentar kami akan mengantarkan pesanan kalian."
Pelayan keluar dari private room Satya. Tinggallah Satya bersama keluarga kecil harapannya.
"Setelah ini mau kemana lagi sayang ?" Tanya Satya sembari menunggu pesanan, dia mengajak Duo Kay mengobrol.
"Mau... ? Kemana lagi ya ?" Kaili berpikir.
"Kita kemana lagi Kaila ?" Tanya Kaili.
"Emm... Sebentar..." Ucap Kaila ikut berpikir.
Satya tersenyum gemas dengan tingkah kedua anaknya. Tapi senyum itu teralihkan dengan suara Belva.
"Kita harus pulang ke rumah Nak, Uti Imah dan aunty pasti sudah menunggu." Ucap Belva.
Sejenak Satya merasa tak suka jika harus mendengar bahwa Belva dan Duo Kay harus pulang ke rumah minimalis mereka.
"Tapi kita masih mau tinggal di rumah Daddy." Ucap Kaili.
"No... Sayang. Mami juga harus kembali bekerja. Kasihan aunty bella harus mengurus butik sendirian."
"Tidak mauuu... Aku mau di rumah Daddy saja." Rengek Kaila.
"Iyaa... Nanti kalian bisa berkunjung lagi di rumah Daddy kalian saat weekend sayang."
Satya bisa melihat jika wajah kedua anaknya berubah murung dan dalam mode merajuk. Bahkan Kaila sudah berkaca-kaca saat ini.
"Sudah jangan pikirkan itu. Kita makan dulu habis itu kita pulang sebentar ke rumah Daddy. Oke ?" Bujuk Satya pada Duo Kay.
Masih tak mempan pria itu tak patah semangat membujuk kedua buah hatinya. Banyak hal yang dijanjikan oleh Satya termasuk dengan mengunjungi mereka setiap hari dan menjemput mereka sekolah setiap hari. Akhirnya Duo Kay luluh dengan bujukan Satya.
Mereka sangat senang sekali bisa bersama Satya, sosok seorang Ayah yang selalu mereka tunggu kehadirannya. Maka dari itu mereka menjadi lebih menurut pada Satya.
Tak lama pelayan datang dengan membawa makanan pesanan mereka. Satu persatu di letakkan di meja makan. Hal pertama yang Belva lakukan saat makanan tiba adalah memberikan tisu basah pada tangan kedua anaknya. Wanita itu begitu telaten mengurus Duo Kay. Semua tak luput dari pandangan Satya, semakin kagum saja Satya pada wanita yang saat ini duduk di sebelahnya.
Satya tak mengijinkan Belva duduk di seberangnya. Melihat Belva yang tengah menyuapi Duo Kay, maka Satya sibuk sendiri dengan nasi ayam bakar madu di hadapannya. Memotong kecil-kecil ayam bakar madu itu lalu menyuapi Belva.
"Buka mulutmu." Ujar Satya.
Belva menoleh pada Satya dengan sendok yang masih mengarah pada Duo Kay.
"Ayo buka." Ujar Satya kembali.
Sebelum membuka mulut Belva sempat menengok pada putrinya. Di suapkannya makanan yang menggantung pada sendoknya pada Kaila. Lalu Belva menerima suapan Satya.
"Saya bisa makan sendiri Tuan."
"Biar lebih cepat... Bukankah Kaila harus minum obat siang ini dan istirahat setelahnya." Ucap Satya.
Lagi-lagi alasan Satya selalu tepat jika berkaitan dengan Duo Kay. Belva tentu tak akan bisa mengelak jika itu sudah menyangkut kedua buah hatinya.
Tak hanya Belva yang makan tapi Satya juga ikut makan dengan sendok yang sama. Belva tak menyadari itu karena ia sibuk dengan menyuapi si kembar.
Senyum Satya kembali terkembang, momen langka dan romantis menurut seorang Satya yang dingin, cuek dan datar itu.
Hingga makanan Duo Kay habis dan makanan kedua orang dewasa itu hampir habis baru Belva sadar jika mereka makan sepiring berdua.
"Tuan... Eh maksudnya Daddy... Jadi dari tadi kita makan seperti ini ?" Tanya Belva.
"Iya memang makan seperti ini karena saya memesan makanan ini. Kenapa ?"
"Bukan itu maksud saya. Kita dari tadi makan sepiring berdua begitu ?" Tanya Belva kembali.
"Kamu baru tahu ?" Tanya Satya menaikan satu alisnya. Belva terdiam kaget.
"Tenang saja saya tidak punya penyakit menular, buktinya kopi saya waktu lalu yang kamu minum tidak membuat mu sakit kan ?" Iembut Satya.
Bukan masalah ada penyakit menular nya atau tidak tapi Belva merasa terkejut dan itu kurang pantas saja baginya. Makan dengan sendok yang sama apa itu etis bagi mereka berdua yang tidak memiliki hubungan apa-apa.
"Bukan seperti itu, tapi itu tidak etis untuk kita Tuan." Ujar Belva.
"Saya rasa biasa saja. Kamu bukan lagi orang asing ataupun orang lain dalam hidup saya. Meski kita tak memiliki hubungan apapun tapi diantara kita ada anak-anak kita, Mam. Saya berharap kita bukan sebagai orang asing tapi sebagai keluarga karena ada si kembar."
Biasa saja bagi Satya karena dia memang memiliki perasaan pada Belva. Berbeda dengan Belva yang merasa mereka tak memiliki hubungan apapun terlebih terlibat dalam sebuah rasa.
Selesai dengan makan siang, mereka kembali pulang ke rumah besar Satya. Belva sedikit protes karena menginginkan untuk diantar pulang. Tapi Satya tak menuruti keinginan Belva dan melajukan mobilnya menuju rumah besarnya.
"Jangan cemberut. Lihatlah anak-anak tertidur. Mereka harus istirahat terlebih dahulu nanti sore saya antar kalian pulang."
Belva diam tak merespon, perasaannya kesal pada Satya saat ini. Wanita itu berjalan lebih dulu memasuki rumah besar itu. Satya hanya menggelengkan kepala saja, kembali dia bisa melihat seorang wanita merajuk padanya.
Satya dan Belva mengendong Duo Kay ke dalam kamar bocah-bocah itu. Kaila harus meminum obat jadi Belva harus membangunkan Kaila sebentar. Gadis kecil itu merasa tidurnya terganggu jadi menangis dan merajuk.
Sebagai seorang Ayah, Satya langsung dengan sigap mengambil alih gendongan Kaila dari Belva. Menenangkan gadis kecilnya agar tak lagi menangis dan kembali tertidur. Satya membawa Kaila keluar kamar hingga tangisan bocah itu pecah keseluruhan ruangan dan rumah Satya.
Para ART sudah tahu siapa yang menangis karena mereka sempat melihat Kaila. Hanya Tuti dan Inah yang selalu bergosip tak suka pada Belva dan anak-anak Belva.
Satya masuk ke dalam kamarnya sendiri dengan membawa Kaila. Menenangkan nya di kamar itu agar suara tak pecah kemana-mana. Didalam gendongan Satya putrinya kembali tertidur dengan jejak air mata yang masih menempel di pipi.
__ADS_1
Dikembalikan Kaila oleh Satya ke kamar bocah itu. "Kaila sudah tidur lagi ?" Tanya Belva.
Satya mengangguk dan meletakkan Kaila secara perlahan agar tak terbangun. Dikecupnya kening Kaila sebelum ditinggalkan bergantian dengan Kaili. Pria kecil yang selalu menolak jika dicium berkali-kali oleh Satya.
"Istirahatlah di kamar ruang kerja. Jangan disini karena akan mengganggu anak-anak." Ucap Satya.
Pria itu lalu menggamit tangan Belva lalu mengajak wanita itu keluar dari kamar Duo Kay. Mereka menuju ruang kerja Satya, dia akan membiarkan Belva beristirahat untuk siang ini sebelum mengantarkannya pulang.
"Tidurlah." Ucap Satya menyuruh Belva.
"Tapi Tuan..."
"Ingat perjanjian kita Mam." Ucap Satya.
"Ck... Perjanjian itu hanya di depan anak-anak." Ucap Belva kesal.
"Membiasakan diri tidak harus di depan anak-anak saja." Ucap Satya tak mau kalah.
"Ck... Terserah." Ucap Belva kesal dan malas meladeni Satya.
"Kenapa hari ini lebih banyak merajuk hemm..." Ucap Satya lembut.
"Siapa yang merajuk ? Jangan ngawur." Ucap Belva sedikit ketus karena kesal.
"Tidurlah, saya temani dari sini. Saya masih harus mengecek pekerjaan." Ucap Satya.
Merasa kesal dengan Satya akhirnya Belva pergi begitu saja dengan tak merespon lagi ucapan Satya. Kembali Satya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Dirinya benar-benar merasa senang saat Belva merajuk seperti itu. Seakan apa yang Belva lakukan adalah hal yang manis di matanya.
Beberapa menit Belva akhirnya tertidur pulas di ranjang satya yang berada di ruang kerja itu. Satya kembali fokus pada pekerjaannya, sejak kehadiran Duo Kay dan Belva, dia memutuskan untuk meliburkan diri di akhir pekan. Maka dari itu adanya sedikit waktu tetap digunakan Satya untuk memeriksa pekerjaan kantornya.
Ada hal yang dirasa kurang oleh Satya jadi dirinya memanggil Jordi untuk datang ke rumahnya. Menunggu tiga puluh menit akhirnya Jordi datang dan kini sudah berada di dalam ruang kerja Satya.
"Ada masalah Tuan ?" Tanya Jordi.
"Laporan keuangan bulan ini kenapa berbeda dari laporan sebelumnya yang di rekap oleh Grace berdasarkan data dari divisi keuangan ?"
"Mungkin kesalahan ada pada Grace, Tuan. Bukankah yang lebih teliti dalam hal ini adalah pihak divisi keuangan ?" Ucap Jordi.
"Kamu benar, tapi Grace tak mungkin sampai salah sampai selisih sangat banyak seperti ini. Kamu tunggu disini saya ambil laporan dari Grace di kamar dulu."
Satya keluar ruangan dan mengambil laporan dari Grace. Jordi menunggu di dalam ruang kerja Satya. Tapi ada suara yang mengalihkan perhatiannya. Sebuah benda jatuh mengarah dari ruangan tidur Satya.
Penasaran Jordi melangkah mendekati ruangan tersebut mengecek suara apa yang berada di dalam sana. Rasanya tidak mungkin jika rumah Satya ini terdapat tikus.
Betapa terkejutnya Jordi saat melihat Belva tengah tertidur di ranjang milik Satya. Dilihatnya ponsel Belva lah yang tergeletak di atas lantai dan dugaan Jordi ponsel itulah yang menimbulkan suara.
"Kenapa Belva ada disini ?" Gumam Jordi lirih.
Satya membuka pintu dan masuk ke dalam ruang kerja. Melihat Jordi berdiri di pintu ruangan pribadinya Satya menatap kurang suka pada Jordi.
"Apa yang kamu lakukan Jordi ?" Tanya Satya mengejutkan Jordi.
"Tu-tuan..." Jordi sedikit takut pada Satya. Dia mendekati Satya.
"Tuan, kenapa Belva ada disini ?" Tanya Jordi.
"Anak-anak ada disini. Kamu tahu sendiri Kaila sudah keluar rumah sakit. Mereka ada disini tentu saja Maminya juga ada disini."
"Lalu kenapa dia tidur di ruangan ini ?" Tanya Jordi kembali.
"Tidak mungkin kan saya menyuruhnya tidur di kamar saya. Dia wanita bersuami, Jordi."
"Tuan... Anda ingin bersama anak-anak anda bukan ?" Tanya Jordi.
"Tentu saja saya ingin bersama mereka. Jika perlu mereka tinggal di rumah ini." Jawab Satya mengutarakan keinginannya.
"Saya mendukung anda Tuan. Jadi, lakukanlah dan terus berusahalah agar mereka bisa tinggal disini."
"Itu tidak akan mudah. Belva tidak akan mengijinkan mereka tinggal disini. Pasti dia tidak akan bisa jauh dari anak-anak." Ujar Satya.
"Buat Belva tinggal disini juga Tuan. Itu akan memudahkan langkah anda agar anak-anak bisa tinggal disini."
"Jangan gila kamu... Kamu mau saya bertarung dengan Roichi. Saya bukan pria perebut istri orang apalagi istri rekan kerjaku sendiri."
Jordi tak habis pikir bagaimana bisa Satya tak mengetahui jika Roichi bukanlah suami dari Belva. Saat mereka berkunjung di rumah minimalis Belva saja bahkan disana tidak ada foto pernikahan Belva dengan Roichi atau foto keduanya yang tengah bersama terpanjang di salah satu sudut rumah.
"Siapa bilang anda merebut istri orang, Tuan. Anda bahkan sah-sah saja jika ingin mendekati atau menikahi Belva." Ucap Jordi.
"Apa maksud mu. Belva sudah bersuami, apa kamu sudah gila karena pekerjaan ?"
"Saya tidak gila Tuan. Belva belum bersuami, Tuan Roichi bukanlah suami dari Belva. Tuan ingat-ingat saat di rumah Belva, apakah ada foto mereka saat bersama ?" Ucap Jordi.
Satya mengerutkan kedua alisnya nyaris menjadi satu. Diputar kembali ingatannya saat berkunjung ke rumah Belva. Benar tak ada foto kebersamaan Belva dan Roichi di salah satu sudut rumah minimalis Belva.
"Ya... Saya ingat rumah itu tidak ada foto mereka. Tapi apa kamu yakin jika mereka bukan suami istri ? Belva bahkan tak menjelaskan apapun."
"Sangat yakin Tuan. Pasti ada alasan tersendiri mengapa Belva tak mau menjelaskan apapun mengenai hal ini. Tapi yang jelas Roichi memang sudah beristri tapi bukan dengan Belva." Ucap Jordi dengan tegas dan yakin.
Satya tersenyum tipis, fakta baru lagi yang akan melancarkan harapannya untuk hidup bersama kedua anaknya dan juga wanita dambaan hatinya.
****
To Be Continue...
Gimana Satya ? Mau tetap maju apa mundur nih ? Belva tak bersuami loh...
__ADS_1
Haiii my dear para readers ku yang masih selalu setia. Mohon maaf kalau ada yang bilang biasa up dua kali atau bilang up nya yang banyak dong. Sejujurnya author ingin sekali seperti itu... Tapi sekarang sudah aktif kerja guys... Menulis lanjutan update cerita ini meski masih receh tapi tetep harus butuh waktu tersendiri waktu yang luang khusus buat bikin cerita. Kalau di sambi-sambi nanti takutnya malah ambyar ceritanya nggak nyambung hehehe. Sabar yaaa.... btw makasih banyak yang masih tetap setia sama author 🙏🙏🙏