Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 139. Meluapkan Emosi


__ADS_3

Tak perduli semua menatap ke arahnya dan satpam yang memanggil dirinya Satya berlalu begitu saja mengejar istrinya yang sudah keluar lebih dulu. Bisa gawat jika Belva kembali marah padanya hanya gara-gara ulah Sarita.


Entah kemana sosok Belva telah menghilang begitu saja dari pandangan Satya. Semakin kesal saja Satya pada Sarita, dia tidak akan pernah mengampuni Sarita jika rumah tangganya kembali bermasalah.


Satya terus mencari Belva tapi tidka bertemu juga, oonsei berdering Marko menghubungi dirinya dan mengatakan jika Belva sudah menunggu di parkiran mobil. Satya langsung bergegas turun ke lantai paling bawah di basement pusat perbelanjaan dimana mobilnya terparkir.


"Sayang." Panggy Satya.


"Kemana saja sih? Turun saja lama nya minta ampun." Gerutu Belva.


Satya diam melirik ke arah Marko dan Azura yang juga ada disana.


"Kita pulang." Ujar Satya.


"Anak-anak ayo kita pulang." Ajak Satya pada Duo Kay.


"Kak, apa tidak sebaiknya kami bawa saja si kembar pulang bersama kami." Ucap Marko.


"Tidak usah Marko, biar mereka pulang bersama kami. Kalian juga pasti lelah." Tolak Satya yang tidak ingin merepotkan Marko dan Azura.


Satya membuka pintu mobil belakang, Azura dan Marko membantu Duo Kay masuk ke dalam mobil.


"Besok kita main bersama lagi, sekarang kalian pulang dulu ya." Ucap Azura.


"Tapi janji besok kita main bersama lagi?" Ucap Kaili.


"Iya boy, besok uncle dan aunty akan datang berkunjung ke rumah mu. Kalian pulang dulu sekarang pasti kalian lelah." Ucap Marko.


"Oke." Ucap Kaili dengan menunjukkan tanda oke, jari jempol dan jari telunjuk membentuk donat dan tiga jari lain berdiri tegak.


"Bye aunty... Bye uncle..." Ucap Kaila yang sudah bersandar pada jok mobil.


"Bye sayang." Ucap Azura dan Marko.


Pintu mobil di tutup oleh Satya.


"Terimakasih kalian sudah bersedia menemani anak-anak." Ucap Satya.


"Sama-sama kak, tidak masalah. Kami pamit." Ucap Marko.


"Iya, kalian hati-hati." Ucap Satya.

__ADS_1


"Permisi kak." Ucap Azura yang mengikuti Marko memanggil Satya dengan sebutan kakak. Sebenarnya dirinya masih merasa aneh harus memanggil Satya dengan panggilan tersebut karena jarak usia mereka yang sangat jauh seperti ayah dan anak.


Satya hanya mengangguk, setelah Azura dan Marko berbalik memunggungi nya dan berjalan ke arah mobil mereka, Satya pun berbalik masuk ke dalam mobilnya. Belva sudah berada di dalam dengan posisi diam menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil sembari memejamkan matanya.


"Mami." Panggil Kaili.


"Ya?" Jawab Belva singkat.


"Mami sakit?" Tanya Kaili. Pria kecil itu melihat Maminya yang tidam seperti biasanya.


"Tidak, sayang." Jawab Belva.


"Mami, Kaila belum sempat beli mainan." Rengek Kaila.


"Kaila, Mami lelah." Ucap Belva.


"Ila sayang, beli mainannya besok lagi ya kita pulang dulu. Mami sedang lelah, kalian juga pasti sudah lelah main sedari tadi. Kita langsung pulang dulu." Ucap Satya memberi pengertian pada putrinya.


"Iya Daddy." Jawab Kaila.


Satya mengemudikan mobilnya untuk kembali pulang ke rumah mereka. Tidak ada pembicaraan di dalam mobil tersebut yang ada hanya hening saja karena Duo Kay juga sudah tertidur di jok belakang.


Sampai di rumah Belva langsung membuka pintu tanpa menunggu Satya membukakan untuk nya. Wanita itu langsung membuka pintu belakang untuk menggendong Kaila yang tengah tertidur. Satya juga mengurus anaknya yang lain, menggendong Kaili yang juga tertidur. Mereka masuk dalam diam tanpa sepatah katapun keluar dari mulut mereka masing-masing.


Menggunakan lift mereka naik kelantai dua dimana kamar Duo Kay berada. Satya membukakan pintu kamar Duo Kay, Belva masuk dan membaringkan putrknya di atas ranjang demikian Satya melakukan hal sama membaringkan tubuh putranya.


Merasa suasana hatinya sedang memburuk, Belva langsung keluar dari kamar Duo Kay setelah melepaskan sepatu dua bocah kembar itu. Satya mengikuti istrinya dari belakang.


"Sayang." Panggil Satya.


"Aku mau ke dapur, haus mau minum." Ucap Belva lalu pergi begitu saja.


Satya hanya bisa menghela napas, harus bersabar menghadapi emosi istrinya. Satya memmilih untuk naik ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Belva sudah berada di lantai bawah dan berjalan menuju dapur. Ia mengambil gelas untuk mengisi air dan meneguknya hingga tandas.


"Ya ampun katanya Nyonya rumah minum saja sudah kaya kuli babu, kebiasaan jadi babu memang tidak akan hilang." Ucap Tuti dengan perlahan agar tak terdengar oleh Belva.


Sejak kejadian pagi tadi Tuti mulai berhati-hati dalam membicarakan Belva. Namun, sayang ucapan Tuti sedikit terdengar jelas oleh Belva.


Takk!!!

__ADS_1


Gelas yang Belva bawa diletakkan dengan kasar oleh wanita itu di atas meja. Suasana hatinya sudah memburuk akibat ulah Sarita kini saat kembali ke rumah rupanya asisten rumah tangga Satya membuatnya semakin kesal. Belva mengigit bibir bawahnya kesal dan menggenggam gelas dengan erat.


Siti dan Fitri yang juga berada di sana terkejut dengan suara gelas yang dilekatkan dengan kasar. Tak biasanya majikannya itu berlalu seperti itu.


"Katakan sekali lagi, Tuti." Ucap Belva.


Kali ini tidak ada embel-embel Mbak dalam memanggil asisten rumah tangga itu. Emosi Belva kini sudah berada di ubun-ubun.


Tuti menegang saat mendengar suara Belva. Bahkan suara itu terdengar tidak selembut biasanya.


"Apa yang kamu katakan, ucapkan sekali lagi dengan suara lantang mu seperti biasanya, Tuti." Ucap Belva lagi. Kini wanita itu sudah menghadap ke arah Tuti. Ia tak bisa lagi menahan emosinya kali ini.


Tuti masih terdiam membuat Belva semakin geram pada perempuan itu. Rasanya Belva ingin memuntahkan semua emosinya saat ini.


"Kalau saya dulu menjadi babu memang kenapa? Apa setelah saya tidak menjadi babu saya meminta makan padamu? Saya menumpang hidup di rumahmu? Hemm? Katakan apa saya membuat hidup mu rugi?!!"


Belva benar-benar meluapkan emosinya pada Tuti yang sejak tadi terpendam setelah setengah mati menahan di toko kosmetik. Kini suara Belva tak bisa lagi dikendalikan, suaranya meninggi. Dadanya naik turun akibat emosinya yang tak terkendali lagi.


Semua asisten rumah tangga baru kali ini melihat sisi lain dari Belva yang selama ini bersikap ramah dan lembut. Belva tak perduli bagaimana penilaian orang lain terhadap dirinya toh semua manusia juga punya batas kesabaran dalam menahan emosinya. Sikap Tuti sudah dirasa keterlaluan menurut Belva. Sudah beberapa kali perempuan itu dengan sengaja membuat masalah dengannya. Hanya karena dirinya berusaha sabar dan menahan diri sikap Tuti jadi seenaknya terhadap dirinya.


Janis yang mendengar keributan di dapur langsung berlari masuk. Ia melihat Belva sedang meluapkan emosinya. Tak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi Janis menebak pasti Tuti membuat masalah hingga Belva terpancing emosi.


"Neng, sabar Neng. Ada apa ini kenapa neng marah-marah begini?"


Inah juga yang memiliki sifat kepo yang luar biasa tinggi, ia pun masuk ke dalam dapur menyaksikan apa yang sedang terjadi. Merasa kecewa atas sikap Tuti padanya maka Inah berniat membalas sikap Tuti.


"Tentu saja dia merasa dirugikan atas kehadiran anda, karena sebenarnya..."


"Ada apa lagi ini?" Tanya Satya yang membuat Inah berhenti sejenak.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Si Inah mau bilang apa ya ?? Tunggu yaa kelanjutannya 🤭


Terimakasih banyak atas support kalian yang masih setia. Terimakasih banyak buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian yang luar biasa.


Sehat selalu, bahagia selalu. Semoga terhibur dengan cerita receh author 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2