Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 21. Kabar Duka


__ADS_3

Selama satu minggu dirawat di rumah sakit tidak ada yang menjaga Budhe Rohimah. Pak Jajak hanya sesekali menjenguk saja karena dirinya juga harus bekerja, meski ada beberapa pekerja yang lain yang baru saja datang karena jatah cuti mereka sudah habis.


Setiap pekerja di rumah Satya mereka mendapatkan jatah cuti satu kali dalam tiga tahun dengan lama nya cuti sebanyak tiga bulan. Tapi kebanyak dari mereka lebih memilih untuk diam di rumah Satya daripada pulang karena bekerja di rumah Satya mereka bisa mendapatkan gaji yang besar. Sehingga mereka mendapatkan jatah cuti berkali lipat.


"Pak Bi Imah kemana ? Dari kemarin aku tak melihatnya. Apa dia ambil cuti ?" Tanya Mbok Yati.


"Bi Imah masuk rumah sakit Mbok. Beberapa hari yang lalu kecelakaan. Tidak tahu aku bagaimana jalan ceritanya. Sampai sekarang Bi Imah masih belum sadar." Jawab Pak Jajak.


"Waduh... Lalu bagaimana keadaannya sekarang Jak ?" Mbok Yati sebagai teman merasakan khawatir dan cemas dengan rekan kerjanya.


"Belum tahu lagi Mbok karena aku juga jarang menjenguk nya. Bagaimana mau menjenguk, rumah tidak ada yang jaga kalau aku ke rumah sakit. Nona Alya yang sekarang beda dengan yang dulu Mbok lebih kejam." Keluh Pak Jajak.


Mbok Yati yang lama cuti membuat nya sedikit kurang memahami bagaimana perubahan yang dimaksud oleh Jajak.


"Kejam bagaimana ?" Tanya Mbok Yati.


"Pas kejadian Bi Imah kecelakaan seperti nya Nona Alya tahu Mbok. Dia datang padaku dan mengatakan jika Bi Imah jatuh tapi wajah nya terlihat santai sekali jadi aku pikir Bi Imah jatuh biasa bahkan Nona Alya pergi begitu saja setelah mengatakan jika Bi Imah jatuh tapi kenyataannya waktu aku menemukan nya banyak darah yang keluar dari kepalanya." Pak Jajak menceritakan apa yang diketahui nya satu minggu yang lalu.


Mbok Yati tentu merasa terkejut dan sulit untuk percaya. Jika Alya dulu gadis yang manja dan baik apa iya bisa setega itu dengan Bi Imah.


"Seperti itu yang aku tahu Mbok, tapi aku ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Bibi Imah nanti setelah sadar. Aku merasa ada yang aneh Mbok." Ucap Jajak.


Setelah Pak Jajak mendapati Budhe Rohimah tergeletak di lantai dengan banyak darah, Pak Jajak terus memikirkan kejadian itu dan menghubungkan dengan pemberitahuan Alya pada nya tentang jatuh nya Budhe Rohimah.


Pak Jajak dan Budhe Rohimah sangat dekat sebagai teman kerja karena mereka masuk di tahun yang sama saat bekerja di rumah Satya sejak puluhan tahun yang lalu. Bahkan sebelum para pekerja yang lain datang dan banyak pekerja yang silih berganti keluar masuk sebagai pekerja di rumah Satya.


"Kapan kamu akan menjenguk nya lagi Jak ?" Tanya Mbok Yati.


"Belum tahu Mbok... Bagaimana caranya keluar karena Non Alya pasti tidak mengijinkan keluar. Selama Tuan dan Nyonya tidak berada di rumah sikap Non Alya sangat kasar sekali."


Pak Jajak dan Mbok Yati sama-sama sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mereka tengah duduk bersama di gazebo taman samping rumah.


"Hei !!! Apa yang kalian lakukan ?! Kalian di gaji bukan untuk bersantai-santai. Cepat kalian kerja !!!" Teriak Alya yang melihat para pekerjanya sedang duduk-duduk beristirahat sejenak.


Kedua paruh baya itu terlonjak kaget. "Benarkan yang ku bilang Mbok." Ucap Pak Jajak lirih kepada Mbok Yati.


Mbok Yati hanya menatap Pak Jajak dalam hatinya membernarkan apa yang dikatakan Pak Jajak jika Nona nya sudah berubah.


"Hei kalian berdua !! Apa kalian tuli huh ?!" Bentak Alya yang berjalan cepat menghampiri kedua pekerjanya.


"I-iiya Non... Maaf kita sedang istirahat sebentar." Jawab. Mbok Yati.


"Istirahat ?? Enak sekali kamu Mbok Yati sudah cuti berbulan-bulan sampai sini masih mau istirahat. Dasar pembantu tidak tahu diri !!" Bentak Alya tanpa tahu sopan santun jika yang berhadapan dengan dirinya adalah orang yang lebih tua dari dirinya.


"Bubar !! Sana cepat kembali bekerja." Mata melotot Alya membuat Mbok Yati dan Pak Jajak tak mau memperpanjang masalah.


Kedua pekerja itu langsung bubar ke tempat kerja mereka masing-masing. Mbok Yati pergi ke dapur sedangkan Pak Jajak pergi ke pos satpam.


Alya kembali masuk ke dalam rumah nya. Duduk bersantai di ruang tamu sembari menunggu tamu nya datang. Sebelumnya dia sudah memiliki janji temu dengan seseorang yang sedang dekat dengan dirinya.


Suara mobil terdengar memasuki halaman rumah Satya. Pak Jajak yang membukakan gerbang hanya menatap siapa tamu yang datang di rumah Tuan nya. Seorang laki-laki keluar dari mobil. "Siapa pria itu ?" Pikir Pak Jajak dalam hatinya bertanya-tanya.


Tanpa menyapa Pak Jajak, lelaki itu berjalan menuju pintu utama rumah. Terlihat di pintu sudah ada Alya.


"Hai Baby..." Sapa pria itu dengan mesra.


"Hai Beb, masuk yuk.." Alya menggandeng mesra tangan pria itu.


Keduanya masuk ke dalam ruang tamu dan duduk bersama. Pria itu melirik setiap sudut rumah Alya. Sangat terlihat jelas jika isi dari rumah yang tengah dikunjungi nya itu adalah rumah orang kaya. Perabotan yang mengisi setiap sudut itu terlihat mewah dan elegan yang sudah bisa dipastikan jika harga dari barang-barang itu sangat mahal.


"Baby, kamu sendiri di rumah ini ?" Tanya prianyang menjadi teman dekat Alya saat ini. Pria itu bernama Jack.


Pria tampan yang ditemui oleh Alya di bar, saat gadis itu menghadiri pesta ulangtahun teman kuliah nya. Jack datang dengan sejuta pesona nya untuk menggaet seorang Alya.


Perhatian dan kasih sayang yang diberikan Jack mampu membuat Alya tergila-gila karena nya. Kedua orangtuanya yang tak pernah memperhatikan nya terganti oleh Jack yang selalu menuruti dan memperhatikan Alya.


"Emm... Iya Mommy dan Daddy ku pergi ke luar negeri." Ucap Alya bergelayut manja di lengan Jack.


"Apa mereka tidak memikirkan mu karena membuat mu kesepian ?" Tanya Jack kembali.


"Entahlah... Terserah mereka aku tak perduli. Yang penting sekarang kan ada kamu Baby." Alya semakin menunjukkan sikap manjanya dihadapan Jack. Lelaki itu tersenyum manis dihadapan Alya dan mengusak rambut Alya.


"Ya... Aku akan selalu ada untuk mu Alya sayang. Aku tidak akan melepaskan mu." Gumam Jack dalam hati.


"Jadi kita pergi Baby... Hem... ?" Jack mengecup pucuk kepala Alya.


"Jadi... Sebentar aku ambil tas dulu di kamar." Alya melepaskan lilitan tangannya pada lengan Jack. Tapi Jack justru menggenggam tangan Alya. "Boleh aku ikut dengan mu Baby ?" Jack tersenyum manis pada Alya.


Alya menyipitkan kelopak matanya, merasa aneh dengan pertanyaan Jack. Untuk apa mengikuti nya hingga sampai kamar ?


"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja Baby. Aku rasa rumah mu ini terlalu luas." Kembali Jack tersenyum sangat manis. Senyum yang membuat wajah Jack semakin tampan.


Alya luluh dengan sikap manis dan senyuman Jack saat ini. "Baby... Uuhh... Kamu manis sekali." Alya memasang wajah terharu dan kemudian tersenyum bahagia. Kepalanya mengangguk memberikan ijin untuk Jack.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan menuju lantai dua dimana kamar Alya berada. Di saat mereka naik ke atas Mbok Yati berada disana dan memperhatikan pria itu. Dalam hati bertanya-tanya siap pria asing yang datang bersama Nona nya. Tak pernah ada orang asing hingga masuk ke lantai dua. Jika ada Tuan nya pasti sudah habis oleh pria dingin dan arogan itu.


Jack, pria itu tak perduli diperhatikan boleh Mbok Yati. Bagi pria itu Mbok Yati hanyalah pekerja rendahan yang tak perlu digubris. "Baby, aku masuk dulu ya ambil tas." Ucap Alya tapi Jack justru fokus pada satu tempat yang pintunya baru terbuka saat itu karena Mbok Yati keluar dari ruangan tersebut.


"Baby..." Panggil Alya saat tak mendapatkan jawaban dari pria yang sudah dianggap sebagai kekasih nya. "A-ah ya Baby, aku akan menunggu mu disini." Jack tersenyum manis. Alya lalu meninggalkan pria itu masuk ke dalam kamarnya.


Melihat Alya menghilang dari hadapan nya, Jack tertarik untuk memasuki ruangan yang sedari tadi menjadi perhatian nya. Ruangan itu adalah walk-in closet milik Satya si Tuan rumah.


Ruangan dengan perpaduan warna hitam dan putih. Banyak terjejer rapi baju-baju yang digantung di dalam lemari kaca dan segala macam aksesoris yang dimiliki si Tuan arogan dan dingin. Baju-baju branded, berbagai macam sepatu, parfum, dasi dan jam tangan semua berkumpul di dalam ruangan tersebut.


Jack masuk ke dalamnya tanpa permisi padahal di dalam ada Mbok Yati yang sedang membersihkan ruangan tersebut. Seakan-akan keberadaan wanita paruh baya itu tidak terlihat sama sekali.


Pupil mata Jack membesar, sangat tertarik dengan satu ruangan yang dimasuki nya saat ini. Berbagai barang-barang mahal dapat dilihatnya sekarang. "Wow... Ini ruangan yang paling ku suka." Gumam Jack lirih.


Dia mendekati meja bercat putih dengan banyak kabin bersekat dan bertutup kaca. Terlihat transparan sehingga semua isi di dalamnya terlihat jelas. Jack, membuka satu laci yang berisi jam kumpulan jam tangan yang tersusun rapi dalam tiap-tiap sekat kotak.


"Ini jam tangan limited itu, akan sangat membanggakan jika aku bisa memiliki nya." Gumam Jack lirih. Tangannya hendak menyentuh jam tangan tersebut.


"Tuan...!! Apa yang anda lakukan di ruangan ini ?!" Tanya Mbok Yati terkejut tak mengetahui sejak kapan pria itu masuk ke dalam ruangan Tuan nya.


Jack terkejut dengan suara yang sedikit bernada tinggi akibat keterkejutan Mbok Yati. "Apa ? Aku hanya ingin melihat-lihat. Memang ada apa ? Kamu hanya pembantu kan disini jadi yang sopan berbicara dengan ku." Ucap Jack kesal.


"Bukan nya Tuan yang kurang sopan masuk ke dalam ruangan yang tidak seharusnya Tuan masuki ?" Mbok Yati membalikan kata-kata Jack. Justru disini yang tidak sopan adalah Jack yang tiba-tiba masuk tanpa permisi ke dalam ruangan pribadi orang lain.


"Kamu pembantu rendahan sangat tidak sopan dalam berbicara pada tamu majikan mu." Jack mulai kesal dengan wanita paruh baya itu. Tangan Jack dengan santai mengambil jam tangan dengan merek tertentu yang orang awam mungkin tak akan mengenal merek dari jam tangan tersebut. Namun, harga jam tangan tersebut bisa mencapai hingga ratusan miliar rupiah.


"Tuan tolong letakkan benda yang anda sentuh." Pinta Mbok Yati dengan tegas pasalnya jam tangan tersebut sangat lah mahal bahkan beberapa tahun gajinya di rumah Satya tak dapat menggantikan jam tangan tersebut.


Mendengar suara ribut di dalam walk-in closet milik Satya, Alya langsung masuk mengikuti asal suara. Alya cukup terkejut Jack berada di ruangan tersebut.


"Jack, apa yang kamu lakukan disini ?" Tanya Alya. Ini adalah ruangan Satya yang tidak sembarang orang bisa memasuki nya. Bahkan Sonia dan Alya pun jarang masuk ke dalamnya.


"Baby, ada apa ? Kamu marah dengan ku ?" Tanya Jack menunjukkan wajah sedihnya dihadapan Alya.


"Bukan. Tapi kenapa kamu berada disini. Ini ruangan milik Daddy ku." Jawab Alya merasa tak enak hati melihat raut wajah sedih Jack.


"Aku tahu itu maka nya aku kemari. Aku melihat jam tangan pria yang sangat bagus ini. Kamu tahu Baby ? Aku sangat menginginkan nya tapi karena aku harus membiayai pengobatan adik ku, aku tidak jadi membeli nya." Raut wajah jact benar-benar sedih. Sudut bibirnya turun ke bawah seperti tidak ada semangat.


"Jangan sedih Baby... Kami boleh membawa salah satu jam yang ada disini jika kamu mau." Tawar Alya yang tak tega melihat wajah sedih lelaki yang selalu perhatian padanya.


Mata Jack berubah berbinar-binar, seperti batrai yang di charger full pria itu kembali bersemangat. "Benarkah Baby ? Aku boleh membawa yang ini saja ?" Tanya Jack mencoba memastikan. Alya mengangguk dengan senyum cerianya. Ada sebuah kebanggaan dan kebahagiaan melihat Jack bahagia.


"Non Alya..." Mbok Yati hendak mengingatkan Alya. "Apa ?!! Sudah sana kerja." Bentak Alya tak suka dengan Mbok Yati.


Alya dan Jack akhirnya keluar dari ruangan tersebut dengan Jack membawa satu jam tangan super mahal dan limited milik satya. Mbok Yati melihat dari mana jam tangan itu diambil. Ternyata diambil dari kota dengan lapisan bludru warna merah. Itu artinya jam tangan tersebut adalah jam tangan kesayangan Satya.


Pak Jajak masuk ke dalam rumah mencari Mbok Yati setelah melihat Alya dan Jack pergi dengan mobil mereka. Mbok Yati yang sedang merasa cemas dan takut berjalan menuruni tangga.


"Jak... Jajak..." Panggil Mbok Yati yang berjalan menuruni tangga.


"Mbok..." Panggil Pak Jajak berhenti menunggu Mbok Yati.


"Jak... Aduh gawat ini." Mbok Yati mengadu pada Pak Jajak.


"Gawat kenapa Mbok ? Tadi non Alya sama siapa ?" Tanya Pak Jajak. Melihat wajah ketakutan Mbok Yati membuat Pak Jajak tegang seperti nya ada yang serius.


"Nah itu dia... Pria itu sepertinya teman dekat Non Alya dan kamu tahu Jak ? Dia membawa jam tangan kesayangan Tuan. Bagaimana ini ?" Tanya Mbok Yati.


Mata Pak Jajak melebar bahkan pria itu menepuk dahinya. " Waduh kok bisa Mbok..? Ayo sini duduk dulu." Pak Jajak menarik lengan Mbok Yati yang terlihat sedikit pucat. Mengambil air putih untuk Mbok Yati. "Minum duku Mbok... Tenang dulu... Tenang.." ucap Pak Jajak.


Mbok Yati menarik nafas dalam dan menghembuskan nya secara perlahan dan hal itu diulangi nya beberapa kali. Tak lama terdengar suara ponsel yang membuat keduanya bingung dengan suara ponsel itu.


"Mbok... Mbok... Dengar sesuatu tidak ?" Tanya Pak Jajak memasang pendengaran nya dengan baik.


"Apa sih Jak ? Jangan membuatku takut !!" Mbok Yati justru marah-marah pada Pak Jajak.


"Husshhh... Coba dengar dulu, itu seperti suara ponsel berdering." Pak Jajak mencoba mengikuti asal suara dering ponsel. Suara itu terarah dari dalam kamar Budhe Rohimah.


"Kok suaranya di dalam kamar Bi Imah." Gumam Pak Jajak.


Mbok Yati menepuk bahu pria di depannya. "Masuk saja Jak, barang kali memang ponsel Imah." Mbok Yati mendorong-dorong tubuh Pak Jajak.


"Aduh... Sabar. Iya...iya..." Pak Jajak membuka pintu kamar Budhe Rohimah yang tidak terkunci. Suara berada di dalam laci nakas Budhe Rohimah.


Semakin dekat semakin jelas. Yakin sekali jika itu suara ponsel, Pak Jajak langsung membuka laci. Ponsel itu masih berdering, menampilkan sebuah nama di dalam layar ponsel tersebut.


"Belva ?" Gumam Pak Jajak mengernyit.


"Hah ?!!!" Pak Jajak baru konek dan langsung tersadar kemudian ponsel itu terlempar di atas ranjang. Pak Jajak ingat bahwa Belva sudah meninggal beberapa tahun yang lalu tapi kenapa nomornya masih bisa memanggil.


"Jak... Kenapa dibuang ponsel nya ?" Tanya Mbok Yati bingung dan kesal.


"I-iitu... Itu... Anu Mbok... S-ssseetan." Pak Jajak hendak berlarian tapi segera ditarik oleh Mbok Yati. Dering ponsel berhenti.

__ADS_1


"Jak, setan apa ? Itu orang telepon kok dikata setan." Protes Mbok Yati.


"Mbok... Tahu Belva kan ? Keponakan Bi Imah ? Dia kan sudah meninggal Mbok tapi... Tapi dia tadi kok bisa telepon mbok ?" Kini bergantian wajah Pak Jajak yang pucat.


Ting...!! Satu pesan masuk ke dalam ponsel Budhe Rohimah.


Mata Pak Jajak dan Mbok Yati saling pandang. Dengan ragu mbok Yati mengambil ponsel Budhe Rohimah. Benar kata Pak Jajak nama Belva tertentu di layar dengan beberay kali panggilan tak terjawab dan banyak pesan dari Belva yang menumpuk.


Mbok Yati penasaran, orang meninggal bisa menelepon dan mengirim pesan itu sungguh aneh pikir Mbok Yati.


"Mbok.. jangan Mbok..." Cegah Pak Jajak, tangan gemuk nya menahan lengan mbok Yati.


"Ck... Apa sih Jak... Awas !! Kamu tidak berguna jadi satpam kalau penakuy seperti ini." Cibir Mbok Yati. Wajah Pak Jajak langsung merengut merasa di remehkan. Tapi memang kenyataannya Pak Jajak penakut.


Dibuka satu persatu pesan dari kontak yang bernama Belva. Banyak pesan yang berisi menanyakan kabar Budhe Rohimah serta pertanyaan kenapa panggilan nya gak dijawab sama sekali.


Rupanya sebelum pesan baru itu bermunculan. Rekan kerjanya sudah bertukar pesan dengan kontak yang bernama Belva.


Semakin penasaran Mbok Yati menghubungi nomor Belva. Tak lama panggilan di jawab, suara dari seorang perempuan.


Belva calling . . .


"Hallo Budhe... Budhe kenapa pesan dan telepon ku tidak diangkat apa budeh baik-baik saja ?" Tanya Belva yang langsung nyerocos begitu saja.


"Hallo... Hallo... Budhe ?" Belva bingung kenapa Budhe nya tak menjawab hanya diam saja.


"Budhe... Ada apa ? Apa ada masalah ? Cerita sama Belva Budhe. Atau... Atau kita bertemu di taman seperti biasa Budhe ?" Tanya Belva lagi. Ada perasaan cemas dan khawatir sejak kemarin.


"Ha-hallo..." Ucap Mbok Yati.


"Budhe kok suara budhe berbeda apa budhe sakit ?" Tanya Belva cemas.


"B-bbnarkah ini Belva ? Belva kamu masih hidup ?" Tanya Mbok Yati seidkit gemetar.


"Ini siapa ?" Tanya Belva sepertinya tidak asing dengan suara yang di dengarnya.


"B-belva.. ini... I-ini Mbok Yati." Suara Mbok Yati pin turut bergetar sama seperti tubuhnya.


"Mbok Yati ? Mbok ? Astaga... Mbok iya ini Belva. Belva masih hidup. Dimana Budhe Rohimah Mbok ? Kenapa ponsel Budhe ada pada Mbok Yati?" Tanya Belva penasaran.


"Astaga Nak... Serius ini kamu masih hidup ?" Mbok Yati saling pandang dengan Pak Jajak yang sedari tadi diam mendengarkan Mbok Yati.


"Nak, Budhe mu sekarang ada di rumah sakit. Dia sedang sakit Nak." Jawab Mbok Yati.


"Hah ?! Sakit apa Mbok ? Rumah sakit mana biar aku kesana." Tanya Belva panik.


"Nanti Mbok kirim pesan pada ku dimana rumah sakit nya. Ya sudah Mbok tutup dulu ya."


Mbok Yati menutup panggilan telepon tersebut. Pak Jajak yang sedari tadi takut berubah menjadi penasaran. Apakah Mbok Yati sekarang ini sedang halusinasi atau sedang kesurupan bisa berbicara dengan orang yang sudah meninggal seperti itulah pikiran Pak Jajak.


Pria berseragam Satpam itu semakin mendekat pada Mbok Yati bahkan menempel ingin mendengar suara Belva apakah nyata atau hanya mimpi. Bahkan tangan Pak Jajak sudah melilit lengan Mbok Yati.


"Ck... Jak lepas ! Apa sih kamu nempel-nempel kayak cicak." Mbok Yati risih dan mendorong Pak Jajak karena merasa terganggu.


"Kok di matikan Mbok ? Aku mau mendengar apa itu suara Belva beneran ?" Tanya Pak Jajak penasaran.


"Ck... Kalau kamu penasaran sekarang kamu bawa ponsel ini ke rumah sakit dan jenguk Imah. Nanti kabari aku jika Imah sudah sadar. Sudah sana cepat mumpung Non Alya sedang pergi." Ucap Mbok Yati mengusir Pak Jajak agar secepatnya pergi ke rumah sakit.


***


Di kediaman Tuan Hector.


Setelah mendapat panggilan telepon dari ponsel Budhe Rohimah yang ternyata itu adalah Mbok Yati dan mengabarkan jika Budhe Rohimah sedang berada di rumah sakit membuat hati Belva sangat sedih dan hancur. Air mata Belva tak lagi bisa dibendung.


Budhe nya adalah pengganti orang tuanya selama ini meski mereka sempat terpisah. Dialah keluarga kandung satu-satunya selama ini sebelum adanya Duo Kay.


Kabar sakitnya Budhe Rohimah adalah kabar duka bagi Belva. Dirinya kini bersiap-siap untuk berangkat menuju rumah sakit yang sudah diinformasikan oleh Mbok Yati melalui ponsel Budhe Rohimah.


"Bella... Aku titip anak ya. Aku ada urusan sebentar." Pamit Belva pada Bella yang berada di depan pintu kamar Duo Kay.


"Nona, ada apa kenapa kamu menangis ?" Tanya Bella. Wajah sendu dan air mata yang belum kering tentu mengundang pertanyaan bagi siapa saja yang melihatnya.


"Budhe ku... Keluarga kandung ku satu-satunya sedang sakit sekarang berada di rumah sakit. Aku harus kesana, aku pergi." Belva berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Bella yang sedang bingung dengan ucapan Belva.


"Apa maksud nya ? Kenapa Nona membuatku bingung seperti ini ?" Gumam Bella. Gadis itu memang tidak tahu jika Belva bukanlah anak kandung dari Tuan dan Nyonya Hector.


****


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Kasihan Belva. Apakah Budhe Rohimah akan sadar ? Simak terus kelanjutan ceritanya !!


Terimakasih buat para reader setia.

__ADS_1


Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.


Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys πŸ™


__ADS_2