
Menunggu memang hal yang mengesalkan terlebih saat kita berada di posisi yang tidak nyaman. Kondisi lapar yang biasanya akan lebih cepat membuat seseorang emosi. Setelah mendapatkan makanannya Bella langsung duduk di sofa dan segera membuka paper bag berisi makanan yang dibawakan oleh Jordi.
Seorang pria justru masih berdiri membelakangi pintu dengan salah satu tangan menengadah yang di atas telapak tangan terletak dua lembar uang berbeda warna dan tentu berbeda nominal. Jordi masih menatap Bella dengan tatapan tak percaya.
"Apa-apaan ini. Dia memberikanku uang ini lalu pergi begitu saja. Dia pikir aku bekerja part time sebagai kurir." Batin Jordi.
Sejujurnya dia sedikit merasa kesal dengan sikap Bella padanya tapi tak mungkin dirinya marah-marah pada perempuan itu mengingat Bella adalah orang terdekat dari istri bos-nya. Jika Bella mengadu pada Belva karena dirinya memarahi gadis itu pasti Satya pun tidak akan diam saja. Akan ada beberapa pertanyaan yang muncul dari Satya atau bisa jadi Satya justru memotong gajinya.
"Hey Nona. Saya rasa cara berterima kasih pada seseorang tidak seperti ini. Saya tidak bekerja sebagai kurir makanan."
Bella yang sibuk dengan makanannya kini menoleh pada Jordi. Menatap pria itu dengan tatapan sedikit judes.
"Lalu saya harus bagaimana? Saya sudah mengucapkan terima kasih pada anda bukan?"
"Benar juga sih." Gumam Jordi lirih.
"Waktu saya sedikit terbuang untuk mengantarkan makan untukmu." Ucap Jordi kembali.
Bella langsung meletakkan sendoknya yang belum sempat digunakan untuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Sebenarnya apa mau anda, Tuan? Saya sudah kelaparan menunggu makanan ini dan sebentar lagi jam makan siang sudah habis tapi anda terus mengajak saya berbicara, kapan saya harus memulai makan siang saya." Ucap Bella kesal.
Jordi menghela napas, tidak mungkin juga dirinya membuat perempuan dihadapannya tidak jadi menikmati makan siangnya Yanga dan nanti dirinya lagi yang kena semprot oleh Satya.
"Ya sudah baiklah, makanlah saya tidak akan mengganggumu." Ucap Jordi.
Pria itu membiarkan Bella menikmati makan siangnya sedangkan dirinya tak perduli ikut duduk di sofa seberang Bella. Diperhatikannya perempuan cantik itu saat makan makanan yang tadi dibawa oleh dirinya.
Bella tak memperdulikan Jordi yang diam memperhatikan dirinya, perempuan itu terllau cuek untuk sekedar merasakan bagaimana sekitarnya. Dirinya hanya perduli pada perutnya yang sedari tadi bergetar dan berbunyi pertanda para cacing sudah asik berdemo meminta hak mereka dan menuntut kewajiban Bella siang ini yaitu makan.
"Kalau dilihat-lihat memang gadis ini cantik dan masih sangat muda." Batin Jordi. Dia terus memperhatikan Bella hingga perempuan itu selesai makan.
"Uhukk... Uhukk..." Bella tersedak dan berusaha menepuk dadanya agar terasa lega.
__ADS_1
"Hah? Kamu kenapa, Nona?" Tanya Jordi terkejut saat fokusnya memperhatikan Bella justru terganggu dengan suara batuk akibat tersedak yang Bella alami.
"Uhukk... Hah... Anda tidak membelikan minuman untuk saya?" Protes Bella.
"Hah? Ma-maaf... Maaf... Tadi saya buru-buru tidak sempat." Ujar Jordi.
"Dapur... Di mana dapurnya?" Tanya Jordi.
Bella dengan dada yang sedikit sesak akibat makanan yang susah tertelan itu masih berusaha menetralkan diri agar tetap tenang dan baik-baik saja. Ia menunjukkan dapur ke arah pintu keluar ruangan nya. Jordi dengan cepat dan khawatir langsung keluar ruangan guna mengambil air untuk Bella. Takut jika terjadi yang tidak-tidak pada perempuan itu. Sebagai seorang yang masih memiliki hati nurani tentu saja Jordi harus cepat tanggap untuk menolong. Tak berselang lama pria itu datang dengan membawakan segelas air untuk Bella.
"Ini... Ini minum dulu airnya." Jordi memberikan air untum Bella.
Setengah gelas sendiri Bella meneguk isi Ari putih dalam gelas itu. Rasa tenggorokannya yang perih dan juga dadanya yang sesak kini terasa lebih lega.
"Haah... Terima kasih." Ucap Bella.
Jordi mengangguk, "Kamu baik-baik saja?"
"Lain kali kalau bawa makanan itu satu paket dengan minuman. Anda pikir saya ular yang makan tanpa minum."
"Seharusnya anda juga kalau makan bisa siapkan air minum sendiri, di sini ada dapur. Biasanya juga orang bekerja selalu menyediakan air minum di mejanya." Ujar Jordi tak mau kalah.
Kedua orang tersebut justru berdebat kecil hanya masalah air minum saja. Sisa waktu istirahat siang ini justru digunakan untuk berdebat. Berbeda dengan seseorang yang ada di tempat lain yang sedang serius dalam memikirkan sesuatu yang ada di dalam kepalanya.
Seorang pria yang beberapa waktu terakhir mulai muncul di sekeliling Satya. Pria itu duduk di kursi kebesarannya sesuai jabatan yang dimilikinya saat ini. Sebuah jabatan yang susah payah didapatkannya selama bertahun-tahun hingga mengorbankan nyawanya pun mampu dia lakukan hanya untuk mendapatkan jabatan tinggi seperti itu. Masa lalu yang membuatnya memiliki ambisi dan obsesi begitu besar agar mampu menjadi seseorang yang disegani oleh banyak orang.
"Gus, selidiki lebih dalam hari-hari terakhir gadisku sebelum pergi." Ucap pria tersebut pada salah satu anak buahnya.
"Baik, bos." Ucap seorang pria yang menjadi bawahannya.
Meski mereka berada di ruang kerja pria misterius itu, tapi saat mereka hanya berdua saja pria itu memiliki aturan sendiri dalam bersikap dan dalam memanggil dirinya dengan sebutan bos. Dirinya yang menggaji para anak buah yang sengaja dipilihnya untuk mendukung setiap tindakan yang dilakukan oleh pria itu. Pekerjaan tambahan yang dilakukan secara diam-diam diluar tugas dan tanggy jawab mereka saat bekerja di kantor tersebut.
"Segera laksanakan perinta saya." Kembali ucap pria tersebut.
__ADS_1
"Siap laksanakan, bos. Saya permisi."
Anak buah pria misterius itu kini telah keluar dari ruangannya yang terasa cukup nyaman bila dibandingkan dengan ruangan yang lain. Fasilitas lebih dia dapatkan karena jawabannya.
"Aku akan singkirkan siapapun yang membuat kehidupanku dan orang-orang yang aku sayangi merasakan menderita. Pria siyalan itu harus segera lenyap dari dunia ini, hidupnya sudah lebih dari cukup untuk menikmati keberhasilan dan kebahagiaan selama ini." Ucap pria misterius itu dengan gigi yang bergemeletuk. Rahangnya mengeras mengingat betapa bencinya dirinya terhadap seseorang yang selama ini selalu mengalahkan dirinya.
Selama ini kehidupannya memendam kebencian yang mendalam pada seseorang yang kini menjadi targetnya. Langkahnya sudah semakin dekat dengan sang target, dia tidak akan membiarkan targetnya lolos begitu saja.
***
Satya dan Belva sudah berada di dalam perjalanan, mereka hendak pergi ke rumah sakit untuk menjenguk bayi Alya yang masih dirawat di rumah sakit. Terhitung sudah hampir satu bulan bayi itu mendapatkan perawatan intensif. Kondisinya yang termasuk spesial membuatnya harus mendapatkan perawatan lebih dari tim medis bila dibandingkan dengan bayi-bayi normal lainnya.
Noella pun menggunakan mobilnya mengikuti mobil Satya dan juga Belva menuju rumah sakit. Meski sudah menyerahkan bayi Alya pada sepasang suami-istri itu tetap saja Noella tak bisa begitu saja melepaskan bayi Alya. Dirinya masih ingin memantau perkembangan bayi yang juga menjadi anak kandung suaminya.
"Mas, kira-kira harus berapa lama lagi ya bayi Alya berada di rumah sakit?" Tanya Belva pada Satya saat mereka di dalam mobil masih dalam perjalanan.
"Mas tidak tahu sayang nanti kita tanyakan pada dokter."
"Kalau dia masih di rumah sakit berarty kita harus setiap hari datang ke rumah sakit untuk menjenguknya. Kasihan jika ditinggal begitu saja."
"Iya, nanti bagaimana perkembangan kondisinya kita konsultasikan dulu pada dokter. Jika bisa kita bawa pulang saja dan dirawat di rumah dengan peralatan medis yang mas siapkan nanti."
"Mas, tidak mungkin membiarkannya kamu bolak-balik ke rumah dan ke rumah sakit. Kamu harus jaga kesehatan dan kandungan, jangan sampai baby kita juga nanti bermasalah, sayang."
Belva mengangguk, dirinya tahu jika sang suami mampu melakukan hal itu. Apa yang dikatakan suaminya akan Belva turuti demi kebaikan dirinya sendiri juga dan sang bayi yang ada di dalam kandungannya.
Satya pun tahu jika dirinya tak bertindak maka sudah dipastikan istrinya akan mencari cara untuk merayu dirinya agar diperbolehkan untuk bolak-balik mengurus bayi Alya yang masih di rawat di rumah sakit. Kelembutan hati sang istri sudah Satya pahami, Belva tidak mudah menyerah jika untuk membantu orang lain yang sedang membutuhkan.
****
To Be Continue...
Thanks kalian yang masih setia support ππ
__ADS_1
Thanks buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian yang luar biasa nyemangatin bgt πππ
Buat nama-nama yang kemarin author sebutkan masih ditunggu yaa buat klaim kejutan kecil kalian. Terima kasih βΊοΈπ