
Mengetahui satu tempat yang dapat memberikannya sebuah harapan maka Satya bergegas mengemudikan mobilnya menuju butik de' La Hector. Bermodalkan GPS dari ponselnya Satya dapat menemukan letak butik sang mertua.
Tepat berada di depan bangunan tersebut dengan bagian depan terpasang sebuah papan nama akrilik bertuliskan de' La Hector dengan cukup besar itu membuat Satya sedikit dapat menyunggingkan senyum. Berharap sekali di tempat itu istrinya berada.
Satya masuk ke dalam butik disambut dengan baik oleh karyawati butik Nyonya Hector. Menggunakan bahasa setempat Satya bertanya pada karyawati butik.
"Permisi, Nona maaf apakah ada Nyonya Belva?" Tanya Satya.
Karyawati itu menatap Satya dengan penuh tanya. Ia tak cukup paham dengan nama yang disebutkan oleh Satya.
"Belva?" Tanya karyawati tersebut.
"Ah maksud saya Nyonya Vanthe putri dari Nyonya Hector, apakah dia ada di sini?" Satya yang paham dengan kebingungan wanita itu langsung mengulang pertanyaannya dengan lebih jelas.
"Oh Nona Vanthe sudah lama sekali tidak berada di sini, Tuan. Sudah sejak beberapa tahun yang lalu ia pindah ke Indonesia dan belum pernah datang lagi ke butik ini."
"Dalam beberapa hari terakhir apakah dia tidak datang ke sini?" Tanya Satya kembali mencari informasi.
Karyawati itu menggeleng, "Tidak, Tuan hanya sesekali saja Nyonya Hector yang datang ke sini. Beberapa hari yang lalu Nyonya Hector baru saja berkunjung ke sini."
"Lalu kembali ke mana Nyonya Hector?" Pertanyaan Satya kali ini membuat karyawati itu menatap waspada pada Satya.
"Maaf anda ada keperluan apa, anda terlihat aneh sekali saya tidak tahu di mana mereka berada."
"Nona, dengarkan saya. Saya tidak bermaksud jahat atau apapun saya hanya ingin mencari istri dan anak-anak saya. Vanthe adalah istri saya." Ujar Satya.
Para karyawan Nyonya Hector tidak semuanya mengetahui siapa Satya dan pernikahan Belva.
"Istri? Maaf anda mungkin salah orang. Lebih baik anda pergi dari sini."
"Tolong. Apakah anda menutupi keberadaan Vanthe? Saya suaminya saya mencari istri saya!" Ujar Satya yang sudah mulai emosi.
"Tuan, sudah saya katakan saya tidak melihat mereka kenapa anda marah-marah seperti ini. Tolong keluar anda mengganggu pekerjaan saya. Security!! Security tolong bawa orang ini dia sangat aneh dan mencurigakan."
Seorang satpam datang menghampiri karyawati de' La Hector dan Satya. Sesuai dengan tugasnya satpam butik itu langsung menarik Satya keluar dari butik. Tapi tetap saja Satya berusaha untuk melepaskan diri, pria itu memberontak.
"Mari, Tuan sebaiknya anda keluar." Ujar satpam.
"Tidak! Lepaskan saya!!" Teriak Satya.
"Anda mengganggu kenyamanan pengunjung butik dan pegawai di sini. Saya bisa melaporkan anda ke pihak kepolisian." Ujar satpam.
"Lepas!! Saya bisa keluar sendiri!!"
Satya menepis dengan kasar satpam tersebut. Kedatangannya bukan untuk berurusan dengan pihak lain apalagi pihak kepolisian. Dia hanya ingin menemukan keluarga kecilnya saja.
Satya pergi dari butik itu, pikirannya semakin kacau. Harapannya yang begitu besar langsung terhempas dan hancur begitu saja. Di dalam mob dirinya memukul kemudi stir dan juga mere*mas rambutnya sendiri.
"Aaarrghh!!! Sayang!! Dimana kalian, kenapa susah sekali bertemu dengan kalian. Tolong jangan sembunyi seperti ini."
"Astagaaa ya Tuhan kenapa jadi seperti ini." Gumam Satya frustasi.
Ditengah-tengah keadaannya yang buruk, ponselnya berdering satu nomor tak dikenal karena tak tersimpan di kontak Satya itu menghiasai layar ponselnya. Dimatikan panggilan tak dikenal itu oleh Satya tapi berkali-kali terus menghubungi dirinya.
"Ck siapa orang ini berisik sekali." Gumam Satya lalu mengangkat panggilan tersebut.
"Ya hallo selam..."
"Hallo mas... Kamu kemana saja aku mencari mu tapi kamu menghilang begitu saja. Kamu mau melepas tanggung jawabmu padaku mas?!"
Satya mengeraskan rahangnya, dia paham dengan suara dibalik telepon itu.
"Dari mana kamu dapatkan nomor saya?" Tanya Satya dengan nada datar tapi sesungguhnya pria itu menahan emosi.
"Tidak penting dari mana kudapatkan nomormu, sayang. Kamu di mana? Aku merindukanmu, baby kita juga merindukan Papanya."
Ya... Suara itu adalah suara Siwi. Selama hampir satu bulan ini Siwi terus mencari Satya. Wanita itu benar-benar jatuh cinta pada Satya dan semakin cinta saat dirinya kini tengah mengandung.
"Dimana saya itu bukan urusan kamu." Ujar Satya.
"Mas, kamu mau lari dari tanggung jawab? Kamu harus segera menikahiku mas sebelum kandungan ku semakin terlihat membesar."
"Menikah? Saya tidak akan pernah menikahi wanita murahan sepertimu." Ujar Satya sinis.
"Mas!!! Tega kamu denganku, kamu yang telah menodai ku maka kamu yang harus bertanggung jawab." Ujar Siwi.
Satya tak merespon Siwi, baginya apapun yang dikatakan oleh Siwi tidak penting.
"Oke jika kamu tidak mau bertanggung jawab tidak masalah. Toh semua orang juga sudah tahu jika aku mengandung anakmu." Siwi tersenyum puas tapi sesungguhnya ia kesal pada Satya.
"Saya tak perduli dan berhenti menghubungi saya."
"Oh ya? Bagaimana jika nanti akan ada wartawan yang meliput informasi penting ini? Aku mengandung seorang pewaris dari Bala Corp pasti media akan heboh."
"Silahkan saja, buatlah seluruh negeri ini tahu saya tidak perduli."
Tut...
Panggilan terputus lebih tepatnya Satya yang mematikan panggilan tersebut. Pria itu lalu memblokir nomor ponsel Siwi. Ancaman Siwi yang otomatis akan membuat reputasi Satya hancur pun tak digubris.
"Aku tak perduli hanya saja kalian akan lihat apa yang akan kulakukan untuk kalian." Gumam Satya. Rahangnya mengeras dan bibirnya pun mengerut menandakan bahwa pria itu tengah menahan amarah dan dendamnya.
**
__ADS_1
Hari-hari terus berganti waktu terus berjalan dan tak pernah bisa dihentikan. Di Jakarta tepatnya di kantor Bala Corp, Jordi selalu mengunjungi kantor itu jika dirinya tak memiliki pekerjaan di luar kantor. Semua pekerjaan Satya untuk sementara waktu dihandle oleh Jordi.
Jordi tak pernah tenang akhir-akhir ini karena dibebankan tugas yang harus diselesaikannya. Berharap sekali pekerjaan itu bisa secepatnya diselesaikan agar tak menjadi bebannya. Namun, apa daya dirinya tak bisa menyelesaikan secepat itu. Menunggu adalah waktu yang membosankan tapi mau bagaimana lagi semua harus tetap dijalani.
Jika Satya terus berusaha mencari keberadaan istri dan anak-anaknya maka
Jordi terus berusaha mencari alasan agar Siwi tak terus-menerus mengejar dirinya hanya untuk mencari tahu dimana keberadaan Satya.
"Jordi, dimana mas Satya?" Siwi mencegat Jordi saat berada di lantai bawah.
"Nona Siwi, ini di lingkungan kantor bisakah kamu bersikap hormat dan menghargai saya sebagai atasan kamu." Ujar Jordi melepaskan cekalan tangan Siwi.
"Cih... Jangan banyak gaya kamu Jordi, aku calon istri mas Satya. Kamu yang seharusnya menjaga sikapmu dan menghormati ku, kamu tidak takut jika aku nanti memecat mu." Ujar Siwi masih dengan rasa percaya dirinya.
"Tuan Satya tidak akan menikahi wanita yang tidak berkelas. Jangan mimpi terlalu berlebihan lagi pula belum tentu kan jika anak yang kamu kandung itu adalah anak Tuan Satya." Jordi tersenyum mengejek pada Siwi.
Plak!!
Satu tamparan Siwi berikan pada Jordi karena ia merasa Jordi telah menghina dan mempermalukan wanita itu.
Jordi menatap Siwi tajam, semakin muak dan benci pria itu pada Siwi. Jordiemamg sedari awal tak menyukai karyawan baru Bala Corp yang diduga merangkap sebagai simpanan pemilik Bala Corp.
"Berani sekali nyali mu, Nona Siwi. Bukankah yang kukatakan benar? Tuan Satya tidak akan menikahi mu jika tidak ada bukti kuat jika anak yang kamu kandung itu adalah benar-benar darah daging Tuan Satya."
"Brengsyek kamu Jordi. Jelas-jelas ini anak dari mas Satya kenapa kalian meragukan bayiku!!"
Untung saja tempat itu dalam keadaan a sepi jadi tidak ada yang melihat pertengkaran kecil itu. Bagaimana jika ada yang melihat sang asisten ditampar oleh wanita yang sebagian besar karyawan kantor mempercayai bahwa wanita itu adalah calon istri bos mereka. Tentu Jordi akan sangat malu karena reputasinya sebagai orang yang berwibawa dirusak oleh Siwi yang berani menampar pria itu.
"Tes DNA, lakukan tes itu jika kamu yakin itu anak Tuan Satya berikan bukti tang akurat dari keyakinan mu maka Tuan Satya akan segera menikahi mu." Ujar Jordi.
"Brengsyek kalian tega kalian. Oke aku akan melakukan tes itu setelah bayi ini lahir dan jika itu terbukti maka kamu orang pertama yang akan aku singkirkan, Jordi."
Siwi merasa sakit hati untuk kesekian kalinya saat kandungannya diragukan oleh Satya sendiri dan juga Jordi. Jelas-jelas kedua pria itu tahu jika Siwi selama ini selalu bersama Satya pikir Siwi.
"Tidak, itu terlalu lama. Bukankah kamu ingin segera menikahi dengan Tuan Satya? Apakah kamu ingin bayi itu lahir tanpa seorang Ayah?" Pancing Jordi.
Jordi memang mengatur siasat agar Siwi bersedia melakukan tes DNA pada kehamilannya itu tanpa ada paksaan melainkan dengan keinginan Siwi sendiri.
"Gi*la kamu!! Bagaimana bisa aku melakukan itu jika bayiku dan mas Satya belum lahir."
"Tiga bulan... Saat usia kandunganku memasuki usia tiga bulan kita dapat melakukan tes itu. Bukankah lebih cepat lebih baik dan kamu ingin bertemu dengan Tuan Satya dengan segera? Tuan Satya tidak akan muncul sebelum hasil tes itu muncul."
'Tiga bulan? Apakah bisa?' Batin Siwi.
"Oke, saat usia kandunganku tiga bulan kita akan lakukan tes itu. Aku yang akan menentukan dimana harus melakukan tes itu." Ujar Siwi.
"Silahkan saja tidak masalah." Ujar Jordi dengan santai.
**
Tuan Hector selalu memantau apa yang menantunya itu lakukan selama ini. Semua tak pernah dicegah nya sama sekali saat Satya berusaha mencari keberadaan Belva dan anak-anak. Dari pantauannya itulah Tuan Hector mampu menilai dari awal bagaimana sikap Satya.
Saat ini Tuan Hector tengah mengunjungi putri dan cucu-cucu tersayangnya. Sudah dua bulan lebih dirinya berpisah dari sang istri karena Nyonya Hector memilik untuk menemani Belva dan Duo Kay serta baby As. Wanita paruh baya itu tidak akan tega melihat Belva mengurus babu As dalam keadaan hamil.
Usia kandungan Belva mulai memasuki usia tujuh bulan lebih. Bulan depan usia kandungannya sudah delapan bulan itu artinya hari kelahiran bayinya sudah hampir dekat. Namun, permasalahan rumah tangganya belum juga selesai. Belva sangat merindukan sang suami yang bener bulan ini tak pernah dilihatnya. Tuan Hector dan Roichi sangat menjaga ketat agar Belva tak bisa mengakses keberadaan Satya.
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" Tanya Tuan Hector.
"Baik-baik saja. Pa, ini sudah dua bulan lebih aku ingin kembaki ke Indonesia. Aku merindukan rumahku dan semua aktivitas ku di sana." Ujar Belva.
"Papa tahu kamu bukan hanya merindukan aktivitas dan pekerjaan mu tapi kamu merindukan suamimu."
"Pa, tidak seharusnya aku pergi seperti ini seharusnya aku menyelesaikan masalah rumah tangga ku sendiri."
"Bukan kamu yang harus menyelesaikan tapi suamimu yang harus menyelesaikan dan bertanggung jawab atas masalah ini. Jika perlu kalian berpisah saja tidak masalah jika itu lebih baik."
Belva mengelus perutnya yang sudah membuncit. Kedua kalinya ia menjalani kehamilan tanpa didampingi seorang suami. Betapa kuatnya Belva sebagai seorang wanita, istri dan juga ibu. Beruntung meski tidak ada sosok suami yang ada di sampingnya tapi masih ada Nyonya Hector serta orang-orang yang menyayanginya. Ia merasa seakan pengalaman beberapa tahun silam kembali ia rasakan meski tak separah dulu.
"Kenapa kalian seolah menginginkan aku berpisah dengan mas Satya. Aku ingin mempertahankan rumah tanggaku Pa... Ma..." Ucap Belva dengan mata berkaca-kaca.
"Jika suamimu itu benar-benar mencintaimu dan mampu menjaga keutuhan rumah tangga kalian seharusnya tidak akan muncul permasalahan ini. Jikapun ada permasalahan seperti ini maka dia sudah seharusnya menyelesaikan sesegera mungkin dan datang menjemputmu." Ujar Tuan Hector.
"Bagaimana dia bisa menjemput ku jika kalian menyembunyikan aku dan anak-anak di sini. Kalian menjagaku dengan ketat sehingga aku tak tahu bagaimana keadaan suamiku." Belva sudah tak bisa menahan air matanya lagi.
Perasaan ibu hamil itu selalu merasa sensitif saat berjauhan dengan suaminya. Mungkin rasa rindu dan telah terbiasa berada di dekat suaminya. Rasa cintanya juga masih besar untuk Satya, keyakinannya sangat kuat jika rumah tangganya akan baik-baik saja.
"Sudah, sayang tenangkan dirimu. Kamu tidak boleh terlalu banyak pikiran kasihan cucu Mama di sini."
Nyonya Hector mengelus punggung dan juga perut Belva yang sudah membuncit. Ia sangat paham bagaimana perasaan putrinya tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa jika sang suami sudah bertindak.
"Mama sudah sering bilang padamu kan jika semua akan baik-baik saja. Mama mendukungmu, sayang." Ujar Nyonya Hector menenangkan Belva.
Tuan Hector terdiam melirik putrinya yang terlihat sangat begitu mencintai Satya. Keputusannya selama ini hanya untuk melindungi Belva dan juga cucu-cucunya saja di tengah permasalahan yang menurut Tuan Hector bisa saja mencelakakan mereka. Melihat bagaimana sikap Siwi yang pernah mereka temui, tidak salah jika Tuan Hector mengantisipasi dan berjaga-jaga.
Beberapa hari setelah pergi mengunjungi putri dan cucu-cucunya. Tuan Hector kini sudah kembali ke Paris, baru saja pria paruh baya itu keluar drai mobil, manik matanya sudah disuguhi oleh kedatangan sosok yang paling dikenalnya.
Satya dan Jordi berada di depan rumah Tuan Hector. Mereka tak diijinkan masuk oleh para asisten rumah tangga Tuan Hector atas perintah sang majikan. Berjaga-jaga jika memang keadaan rumah kosong maka siapapun tidak diijinkan masuk. Bukan berarti Satya menantu Tuan Hector, pria itu bisa keluar masuk seenaknya. Alasannya tak lain adalah permasalahan yang belum selesai jika Satya diijinkan masuk dalam keadaan rumah kosong maka pria itu bisa saja nekat mengacak-acak rumah Tuan Hector demi mencari keberadaan Belva dan anak-anak.
"Pa..." Sapa Satya. Jordi mengangguk hormat pada Tuan Hector.
"Untuk apa kalian kemari?" Tanya Tuan Hector.
Satya mendekat Tuan Hector dan mencoba menjabat tangan mertuanya. Meski bermasalah nyatanya Tuan Hector tak keberatan saat Satya menjabat tangannya dan mencium punggung tangannya.
__ADS_1
"Pa, saya ingin bertemu istri dan anak-anak saya. Tolong Pa beritahu di mana keberadaan mereka." Ujar Satya memohon.
"Sudah Papa katakan waktu lalu apa kamu lupa hum?"
"Tidak, justru saya ke sini untuk menyelesaikan masalah itu. Saya ingin membuktikan pada Belva jika semua itu tidak benar." Ujar Satya.
"Masuk." Titah Tuan Hector.
David, sopir Tuan Hector membukakan pintu rumah untuk sang majikan dan diikuti boleh Satya dan Jordi. Mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Bukti apa yang ingin kamu berikan pada putriku. Papa tidak masalah jika memang kalian berpisah jika itu lebih baik. Papa sudah memiliki calon penggantimu jika sampai itu terjadi."
Satya begitu terkejut dan membulatkan matanya waspada. Dia takut dan khawatir atas ucapan Papa mertuanya.
"Pa, tolong jangan katakan itu. Saya tidak akan menceraikan istri saya." Ujar Satya tegas dan Tuan Hector hanya memperhatikan saja.
"Saya membawa bukti ini, semua yang terjadi itu hanya salah paham saja, Pa."
Satya memberikan satu amplop besar berwarna putih dengan logo sebuah rumah sakit swasta. Tuan Hector membuka dan membaca isi surat tersebut. Tapi setelah beberapa saat pria paruh baya itu menatap waspada dan tajam kepada Satya.
"Kamu memanipulasi hasil data ini?" Ucap Tuan Hector.
"Tidak, Pa itu hasil yang sebenarnya." Ujar Satya.
"Papa tidak percaya, kenapa tidak memberitahu Papa jika kamu ingin melakukan tes ini?"
Satya mere*mas rambut gondrongnya karena frustasi. Wajahnya sangat terlihat lelah dan frustasi.
"Haish... Pa, selama tiga bulan saya mencari Belva dan anak-anak. Saya menghindari wanita mura*han itu dan lebih baik mencari istri dan anak-anak saya. Saya hampir gila dan kenapa Papa masih tidak percaya kepada saya." Ujar Satya tak tahan.
Pria itu berbicara dengan menggebu menunjukkan betapa dirinya lelah dan tak tahan dengan semua ini.
"Ck... Bagaimana bisa aku memiliki menantu g*ila seperti ini." Ucap Tuan Hector menatap Satya.
Satya dan Jordi menatap Tuan Hector dengan tatapan tak percaya terlebih Jordi. Selama ini tidak pernah dan tidak ada yang berani mengatakan bos-nya itu gila. Baru kali ini dia mendengar secara langsung dan dihadapan Satya secara langsung.
"Pa..."
"Apa?" Jawab Tuan Hector.
"Papa yang membuat saya gila seperti ini. Di mana anak dan istri saya, Pa..." Satya sudah mulai merengek.
"Kamu sendiri yang membuat dirimu gila kenapa kamu menyalahkan Papa. Lagipula kamu tinggal di hutan mana selama ini hah?"
Kembali Satya dan Jordi dibuat bingung oleh Tuan Hector. Maksud pria tua itu apa?
"Hutan? Bagaimana maksud Tuan Hector?" Kali ini Jordi yang membuka suara.
"Kamu tak melihat bagaimana penampilan bos-mu? Kota ini bukan kota di jaman purbakala yang tidak ada barbershop." Ujar Tuan Hector.
Jordi menatap Satya, memang benar Jordi sebelumnya juga merasa kurang pas jika bos-nya berpenampilan seperti itu. Rambut gondrong tak tapi seperti dulu, wajah dipenuhi bulu-bulu yang bukan lagi halus tapi sudah terlihat lebat. Sudah persis seorang mafia pasar tradisional.
"Kamu mau melihat cucuku amit-amit lahir prematur karena Vanthe syok melihat wajah barumu." Ujar Tuan Hector bernada sedikit mengejek pada Satya.
"Maksud Papa? Saya... Saya boleh bertemu dengan Belva?" Tanya Satya dengan wajah girang.
"Perbaiki penampilanmu."
"Di mana Belva, Pa?"
"Di depan sana... Di sana ada barbershop."
Satya kesal Papa mertuanya justru tak menjawab pertanyaannya.
"Pa..." Tegur Satya.
"Kamu tak mendengarkan Papa?" Tanya Tuan Hector.
'Ck... Ini bagaimana sih?' Batin Satya.
"Tapi Papa mengijinkan saya bertemu mereka kan? Papa percaya kan pada saya? Tolong kembalikan istri saya, Pa."
"Kapan Papa pinjam istrimu? Mau kembaki atau tidak itu tergantung istrimu. Resiko untukmu jika dia tidak ingin kembali padamu."
"Sudah, Papa lelah mau istirahat. Kertas ini Papa bawa. Jika kalian lelah terserah mau tidur di mana." Ujar Tuan Hector lalu pergi begitu saja meninggalkan Satya dan Jordi di ruang tamu.
Satya langsung menatap Jordi dengan serius. "Tugas mu belum selesai, awas saja jika istri saya tidak mau kembali pada saya. Saya pecat kamu dan semua asetmu jadi jaminan sebagai ganti rugi." Ujar Satya penuh ancaman.
Jordi membulatkan matanya dan mengangkat tangannya melambaikan pada Satya.
"Ja-jangan, Tuan... Nanti ibu dan adik saya bagaimana nasibnya."
"Itu keluargamu jadi itu urusanmu." Ujar Satya kesal.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Mau tahu bagaimana flashback nya antara Satya dan Siwi?? Terus simak kelanjutannya yaa ☺️
Mohon maaf lama up karena memang ada beberapa kendala salah satunya menunggu banyaknya komentar dulu bagaimana kelanjutan alurnya wkwkwk IQ jongkok author lagi full jadi butuh asupan komen kalian karena komen kalian itu sangat berharga guys.
__ADS_1
Terimakasih banyak atasan support kalian sampai saat ini. Thanks banget buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian yang luar biasa. Terimakasih sekali kalian masih setia menunggu update dari author.
sehat selalu, bahagia selalu dan lancar rejeki buat kalian yaa ☺️🙏