
Keluarga kecil itu kini telah berada di dalam mobil yang dikendarai oleh Jordi. Seperti biasa pria itu menjadi sopir bagi Tuannya tapi bedanya bila biasanya hanya mengantar satu penumpang kini dirinya mengantar empat penumpang yang duduk di jok belakang.
Kebisingan tak hanya terdengar dari banyaknya suara kendaraan di luar mobil tapi juga di dalam mobil terdengar cukup ramai oleh ocehan kedua bocah itu yang saling mengomentari apa yang mereka lihat. Tapi tentu saja yang banyak mengoceh adalah Kaila.
"Daddy, nanti jemput kita kan ?" Tanya Kaila.
"Iya sayang nanti Daddy jemput."
"Bobok lagi di rumah baru Daddy ?" Tanya Kaili.
"Itu tanya Mami, boleh atau tidak."
Satya mengusap kepala Belva meski dirinya dan Belva duduk dengan berjarak oleh Duo Kay, tangan kekarnya masih bisa menjangkau wanitanya.
Belva menurunkan tangan Satya, menolak untuk diusap oleh pria itu. "Kita tidur di rumah. Pekerjaan Mami banyak yang tertinggal di rumah."
"Yaaahh... Kenapa kita tidak tinggal satu rumah saja ? Seperti teman-teman ku, mereka tinggalnya bersama Mami dan Daddy mereka." Ujar Kaili.
Tampak sedikit murung di wajah Kaili saat mengatakan hal itu. Dipikiran pria kecil itu terbayang mengapa dirinya tak bisa menjadi satu tinggal bersama kedua orang tua mereka.
"Besok kita tinggal sama-sama jagoan. Jangan sedih, belum waktunya saja. Rumah Daddy sedang di renovasi jadi untuk sementara kita tinggal terpisah dulu... Hemm jangan sedih, oke ?" Ucap Satya mencoba menenangkan.
"Dad... Apa yang kamu katakan ?" Tanya Belva.
Satya hanya menatap Belva dengan senyum tipisnya saja. Lalu menarik bahu Belva agar mendekat padanya.
"Kita akan segera menikah sayang." Bisik Satya lembut di akhiri dengan tiupan pada telinga Belva hingga membuat wanita itu merasa geli. Tak hanya itu Satya tiba-tiba juga mengecup pipi putih mulus Belva.
Didorong lah secara reflek bahu Satya oleh Belva. Belva menatap sebal pada Satya yang kubu sudah mulai berani bertindak lebih padanya. Wajahnya memerah setiap kali Satya berperilaku seperti itu padanya.
Perbuatan Satya tanpa sadar dilihat oleh Jordi yang mengintip dari kaca spion yang ada di atas kepalanya.
"Astaga pria duda itu kenapa berubah menjadi tak normal seperti itu." Batin Jordi.
Sikap Satya yang tak pernah selembut dan semesra itu dulu saat masih bersama Sonia yang jelas-jelas istri sahnya. Kini bersama Belva mantan asisten rumah tangganya itu berubah drastis.
Pria itu akhir-akhir ini lebih lunak meski sikap nya masih saja dingin dan datar pada semua orang yang tak begitu dekat dengannya.
Saat masih setengah jalan dan hampir sampai di sekolah Duo Kay. Ternyata jalanan di titip banjir menyebabkan beberapa aktivitas terhambat. Terpaksa mereka putar balik lagi, kini Duo Kay lebih memilih ikut sang Mami ke butik.
Jordi dan Satya mengantar ibu dan anak itu ke butik. Tidak hanya menurunkan saja di depan butik melainkan Satya juga ikut masuk ke dalam butik.
"Sayang, Daddy berangkat kerja dulu ya." Pamit Satya tak hanya pada Duo Kay tapi pada Belva juga.
"Oke, hati-hati Daddy. Nanti jemput kami ya." Ucap Kaila.
"Siap cantiknya Daddy. Kalian jangan nakal, hemm. Jangan merepotkan Mami."
"Oke siap bos." Ucap Kaili mengacungkan jempolnya.
Satya mencium kening dan pipi Duo Kay satu persatu sebelum pergi. Lalu beralih mendekati wanita kesayangannya.
"Saya berangkat dulu."
"Hem... Hati-hati. Nanti tidak usah menjemput kami akan pulang bersama Bella."
"Lihat saja nanti saya tidak janji." Ucap Satya. Seakan memang pria itu tak mau membiarkan istri dan anaknya pulang sendirian.
"Ck... Aku bilang tidak usah ya tidak usah...ih. Sudah berangkat sana." Ucap Belva kesal.
Wanita itu tak mau jika nanti harus tiba-tiba terjebak untuk bermalam lagi di apartemen pria itu. Meski ia tahu jika anak-anaknya akan merasa sangat senang tapi tidak dengan dirinya.
"Jangan marah-marah, Mam. Nanti customer nya kabur." Ucap Satya tersenyum tipis.
Belva mendelik kesal. "Daddy berangkat dulu Mam." Pamit Satya pada Belva kembali.
Satya mengecup kening Belva sedikit lama lalu beralih mengecup kepala Belva sedikit menikmati harumnya rambut sang istri. Eh... Calon istri maksud nya. Satya tak sabar ingin menjadikan wanita itu sebagai istrinya.
Belva, entah saat ciuman di kening itu terjadi tak menolak padahal dalam hatinya merasa kesal pada Satya. Apa yang terjadi pada dirinya, ia pun tak tahu. Yang ia rasakan saat bibir Satya menyentuh kulit keningnya dan pucuk kepalanya. Wanita itu merasakan kelembutan dan kasih sayang, ia merasa nyaman.
"Hubungi saya jika terjadi sesuatu, sayang." Bisik Satya pada Belva. Wanita itu bak terhipnotis dengan rasa nyamannya lantas ia mengangguk.
Satya pergi keluar setelah berpamitan pada ibu dan anak itu. Dia dan Jordi menuju kantor nya guna bekerja semakin mengambang luaskan perusahaan.
"Bagaimana rasanya Tuan ?" Tanya Jordi.
"Rasanya apa ?" Tanya Satya bingung.
__ADS_1
"Ekhm... Apa terjadi sesuatu tadi malam."
Satya yang wajahnya sibuk dengan layar ponsel kini beralih pada Jordi.
"Apa maksudmu ?" Tanya Satya.
"Emm... Apakah hangat ? Berkeringat ? Atau..."
"Enak dan puas." Jawab Satya singkat lalu beralih pada ponselnya kembali. Dia tahu mana arah pembicaraan Jordi.
"Ja-jadi kalian melakukan hal itu lagi ?" Tanya Jordi kembali.
"Hem..." Jawab Satya sekenanya. Dia sibuk membalas pesan dari rekan bisnis yang dimana akan melakukan pergelangan pesta untuk putrinya.
Pertanyaan Jordi dimaksudkan Satya lain. Dia kitmra Jordi menanyakan apakah Belva melakukan apa yang asistennya itu sarankan hingga dirinya dan Belva melakukan saran itu. Satya tak terlalu fokus dengan maksud pertanyaan sebenarnya dari Jordi.
"Wah gila... Si bos sudah main gasrak gusruk saja pada Belva." Batin Jordi.
"Sepertinya anda harus segera menikahi Belva, Tuan."
"Tentu saja." Jawab Satya.
Keduanya sampai di kantor, seperti biasa sapaan demi sapaan terdengar dari beberapa karyawan. Pikiran Jordi melayang kemana-mana. Membayangkan gaya apa saja yang bos duda nya itu lakukan pada Belva tadi malam.
Entah, mengapa pria itu berpikiran mesum seperti itu pada bos nya sendiri. Karena yang jelas wajah Satya tampak terlihat lebih bersinar bila dibandingkan saat masih berumah tangga dengan Sonia dulu.
"Pagi Tuan." Sapa Grace.
"Pagi Grace, antarkan beberapa berkas untuk ku dan buatkan kopi ya." Ucap Satya dengan sedikit tersenyum pada Grace.
Wanita cantik dan seksi itu merasa heran pada bos-nya. "Baik Tuan akan segera saya laksanakan."
"Terima kasih Grace. Saya masuk dulu." Pamit Satya.
Pria itu menghilang dibalik pintu kaca gelap ruangannya sendiri.
"Eh ? Apa yang terjadi ?" Gumam Grace.
Satya berkata sedikit lunak pagi ini, kesan dingin dan datar sedikit berubah. Bahkan pria itu menampakan senyumnya pagi ini.
"Dapat jatah malam." Jawab Jordi singkat lalu pergi ke ruangannya sendiri.
Grace sedikit berpikir pada akhirnya paham dengan jawaban Satya. Pantas saja menjadi lebih cerah seperti itu pikir Grace. Wanit itu langsung pergi melakukan tugasnya.
Sejauh ini berjalan cukup lancar bahkan beberapa karyawan merasa sangat lega karena Satya bersikap.lebih lunak dibandingkan hari-hari sebelumnya. Mereka selalu merasa senang jantung jika berhadapan dengan bosnya itu.
Hampir makan siang tiba, Satya mendengar keributan di depan ruangannya. Dirinya yang sibuk menyelesaikan pekerjaan merasa terganggu. Pintu kacanya seperti dilempari sesuatu yang ngga menimbulkan bunyi.
Diliriknya pintu itu ternyata, benar saja ada keributan. Satya langsung beranjak dari kursi kekuasaan nya.
"Ada apa ini ?" Tanya Satya dingin dan datar.
"Satya !! Aku mau kita kembali Satya. Aku tidak mau bercerai dengan mu."
Sudah pasti itu adalah Sonia, mantan istri Satya.
Satpam dan Grace yang berada di lantai khusus pemilik perusahaan itu merasa terkejut atas pernyataan Sonia.
"Hah ? Bercerai ? Maksudnya bagaimana ini ?" Batin Grace.
"Bawa pergi wanita itu keluar dari sini. Jangan pernah ijinkan dia masuk ke kantor ini." Ucap Satya memberi perintah pada satpam kantor nya.
"Tidak !! Lepaskan brengsek !!!"
Sonia menerjang melepaskan diri dari satpam yang memegangnya lalu mendekati Satya. Memohon pada Satya agar mau menerima dirinya kembali.
Kesal karena Satya hanya diam tanpa kata wanita itu melayangkan pukulannya pada dada Satya.
"Jawab Satya !! Aku tidak mau bercerai dengan mu. Maafkan aku Dad. Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan itu lagi. Berikan aku kesempatan. Aku ingin rujuk denganmu."
"Stop !! Diantara kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi Sonia. Berhenti memanggilku Daddy karena ada yang lebih pantas dari mu Sonia."
"Apa maksudmu Dad ? Kamu tetap suami ku Satya."
"Berkaca lah apakah pantas saya mendampingi orang gila seperti mu heh ?"
Kini kata-kata Satya semakin menyakitkan bagi Sonia. Pria itu tak segan mengeluarkan kata-kata kasar. Seperti tak perduli jika wanita yang dihadapannya itu merasa sakit hati atau tidak.
__ADS_1
"Seret dia keluar dari tempat ini. Apa kalian tuli ? Apa kalian mau dipecat huh ?!"
"Siap Tuan." Jawab satpam kantor dengan cepat dan serentak.
"Nyonya, ayo keluar dari sini." Ajak satpam masih dengan cara yang sopan.
"Tidak !!"
"Satya... Kenapa ? Apa karena wanita kampung itu kamu benar-benar menolak ku huh ?!" Ujar Sonia masih dengan tidak tahu dirinya.
"Siapa yang kamu maksud. Saya tidak mengerti, lebih baik pergilah." Ujar Satya dingin.
"Pembantu tidak tahu diri yang murahan dan kampungan itu yang telah menggodamu kan ? Sehingga kamu menolak ku. Satya apa kamu lupa kita sudah berjalan bersama selama puluhan tahun."
"Tutup mulut mu Sonia. Berkacalah sedikit saja karena betapa mengerikannya dirimu."
"Ya... Saya tak akan pernah lupa jika bertahun-tahun saya memang hidup bersama seorang pengkhianat. Berjalan bersama wanita murahan seperti mu."
Sonia tercekat, Grace dan kedua satpam kantor itu pun sedikit terkejut. Mereka menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang yang menjadi atasan mereka itu. Sedangkan Jordi diam menyaksikan, pria itu sudah tahu apa yang terjadi.
"Jordi, seret wanita murahan ini jika perlu lempar wanita ini. Saya tidak perduli bagaimana dengannya."
Ucapan Satya terdengar oleh semua orang yang ada di tempat itu tanpa terkecuali. Sonia benar-benar tak percaya jika satya tanpa rasa bersalah dan dengan entengnya berbicara seperti itu dihadapan banyak orang.
Pria itu masuk ke dalam ruangannya, suasana hatinya berubah menjadi mengesalkan. Untuk melakukan pekerjaannya pun Satya sudah merasa tak nyaman dan tak bersemangat.
Lebih memilih keluar dari ruangannya dan menghampiri Jordi di ruangan sang asisten. Ternyata pria itu belum juga kembali dari mengurus wanita perusuh suasana hatinya.
"Grace, Jordi belum kembali ?"
"Belum Tuan, sepertinya masih di bawah."
"Saya keluar, atur ulang semua jadwal hari ini."
"Tapi Tuan, hari ini ada pertemuan yang sangat penting sekali dengan Tuan Maxim." Grace berusaha menolak keinginan bos-nya.
"Saya butuh istirahat." Ujar Satya singkat lalu berlalu begitu saya.
Sikap Satya kembali seperti semua, sikap dinginnya. Grace hanya menghela napas, sudah biasa baginya menghadapi Satya yang terkadang seenaknya sendiri. Pria itu selalu mengikuti pikirannya. Jika dirinya berkata A maka semua itu harus terjadi.
Sampai dilantai bawah ternyata satpam dan Jordi masih saja berdebat dengan Sonia. Wanita itu keras kepala sekali tidak pergi dari kantor Satya.
Bahkan keributan itu menjadi tontonan gratis bagi karyawan Satya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing mengapa istri dari atasannya itu sampai diseret keluar oleh Satpam.
"Nyonya Sonia, bersikaplah dengan baik. Apa anda tidak merasa malu menjadi tontonan seperti ini ?" Ujar Jordi.
"Diam kamu... !!! Ini semua juga gara-gara kamu. Bukan membela ku malah ikut mengusir ku." Ujar Sonia menatap tajam Jordi.
Jordi tersenyum miring menatap Sonia. "Cih membela seorang pengkhianat berarti sama saja saya bagian dari pengkhianatan. Dan itu bukan tipe saya Nyonya."
Sonia semakin kesal dan marah mendengar ucapan Jordi yang juga mengatakan dirinya pengkhianat. Tapi memang itulah kenyataannya, Sonia tidak bisa menghindar dari faktanya sendiri.
Geram melihat sikap keras kepala Sonia maka Satya memecah keributan itu.
"Cukup Sonia !!" Suara Satya terfengar dingin dan sangat serius. Bahkan intonasinya cukup meninggi.
Semua menatap ke arah Satya. "Jangan membuat keributan di kantor saya. Apakah etika mu memang sudah benar-benar hilang ?"
"Pergilah dari sini sebelum saya berubah pikiran untuk menjebloskan mu ke penjara atas perbuatanmu. Kantor ini sangat anti dengan yang namanya pengkhianatan. Bahkan tukang sapu di kantor ini saja langsung saya tendangan dari sini apalagi kamu."
Langsung saja semua orang semakin memperhatikan bos mereka. Bahkan terkejut dengan apa yang mereka dengarkan. Sontak langsung terdengar kasak-kusuk dari beberapa karyawan dan menatap Sonia dengan tatapan aneh.
Satya benar-benar merendahkan Sonia dihadapan para karyawannya. Dia tak perduli lagi sekarang, apa yang dilakukan Sonia padanya tak sebanding dengan apa yang di lakukan nya saat ini.
Wanita itu lebih memilih untuk pergi dari kantor Satya setelah mendengar apa yang dituturkan oleh Satya. Ia merasa dipermalukan oleh mantan suaminya yang masih diakui nya sebagai suami sah nya.
"Dengarkan semuanya. Terlebih kalian yang berada di garda depan kantor ini. Jangan biarkan wanita itu masuk lagi ke dalam kantor ini. Jika ada yang berani membiarkannya masuk maka pekerjaan kalian taruhannya." Perintah Satya pada para karyawannya terlebih bagian receptions dan Satpam. Bukan hanya perintah melainkan bisa dibilang ultimatum untuk para karyawannya.
Mereka semua mengangguk paham dan mengerti. Tanpa banyak bertanya karena memang tidak berani bertanya. Meski dalam hati mereka terus bertanya-tanya mengapa Satya melakukan hal itu pada Sonia. Merek banyak yang masih belum paham mengenai apa yang terjadi antara Sonia dan juga Satya. Hanya dua satpam yang sedikit paham dengan alur kejadian itu.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku... Maaf kemarin gk bisa up karena pulang kerja langsung tepar. Kayaknya badan author lagi enggak beres, ada yg tahu egk sih mulai dari leher sampe tulang belikat nyeri gt buat nunduk, nengok kanan kiri bahkan buat ngangkat leher ke atas pun sakit semua buat gerak dikit sakit gt 😭😭
Terima kasih yang masih support. love banget sama kalian yang masih setia support 🙏🙏🙏
__ADS_1