Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 49. Semua Baik-baik Saja


__ADS_3

Roichi memiliki waktu satu hari untuk menikmati suasana perkampungan itu. Kali ini Belva dan Duo Kay tisak ikut dengan Virgo ke warung makan. Duo Kay lebih memilih menghabiskan waktu bersama Roichi, seseorang yang sudah mereka anggap sebagai ayah mereka hingga memanggilnya dengan sebutan Papi.


Tentu saja ketidak-ikutan mereka menjadi bahan pertanyaan para pegawai warung makan dan juga pelanggan yang mencari keberadaan Belva.


"Mas Virgo, Mbak Belva sama si kembar tidak ikut ?" Tanya wanita paruh baya yang sudah menjadi orang kepercayaan Virgo.


"Tidak Bu. Suaminya datang jadi mereka jalan-jalan bersama." Ucap Virgo.


"Oh begitu. Padahal banyak pelanggan yang cari Mbak Belva loh."


"Masa sih Bu ?"


"Iya apalagi itu yang laki-laki pada celingukan mencari Mbak Belva."


Virgo hanya tersenyum mendengar ucapan wanita itu. Tentu saja banyak yang mencari wanita muda itu, wajah cantik dan bersih, tubuh yang ideal. Siapapun pria pasti akan jatuh cinta padanya. Termasuk Virgo yang sempat menyukai wanita itu tapi dia sadar jika wanita itu telah berkeluarga.


Di jalanan sebuah area persawahan, di sana ada sebuah saung kecil yang sering digunakan para petani untuk beristirahat saat bekerja di sawah. Belva dan Roichi duduk di saung kecil itu. Sedangkan Duo Kay bermain di jalanan yang jarang sekali di lalui oleh kendaraan.


"Enak ya disini." Ucap Roichi.


"Hemm... Makanya aku dan anak-anak ke sini."


"Saya tahu masalahmu sungguh berat untukmu. Saya juga dengar dari Bella, anak-anak mendapatkan kejadian buruk di sekolah."


"Ya Kaili bahkan trauma ketika melihat sekumpulan anak-anak kecil. Aku merasa tertekan dengan semua masalah ini. Perlahan Kaili bisa berbaur dengan anak-anak kecil yang lain."


"Kamu wanita kuat. Jangan kalah dengan masalahmu. Hadapi dan jangan takut. Saya selalu mendukungmu. Ada Bella, ada orang tuamu. Kami semua menyayangi mu dan tidak akan meninggalkan mu." Ucap Roichi memandang Belva.


"Sudah kupikirkan selama hampir satu minggu ini. Memang seharusnya aku tak perlu takut. Jika aku takut maka aku akan kalah."


"Nah itu kamu tahu. Maka lakukanlah. Jika mereka nekat maka kamu harus lebih nekat untuk mempertahankan milikmu. Jika mereka baik maka balas lah dengan lebih baik." Kini ucapan Roichi disertai dengan usapan lembut di kepala Belva.


Belva tersenyum, apa yang dikatakan Roichi adalah benar. Selama ini bahkan ia bisa melewati semuanya dengan baik. Membesarkan anaknya sendiri, meski dengan bantuan orang tua angkatnya. Maka kali ini pun ia bisa melewatinya. Saat ini semakin banyak orang-orang yang baik dan mendukungnya lalu apalagi yang harus ditakutkan. Toh dia tak pernah salah selama ini, sang pemberi hidup pasti tak akan tinggal diam terhadap jalan hidupnya.


"Boleh aku memeluk om ?" Tanya Belva.


"Tentu saja saya Papi anak-anak mu berarti saya suamimu bukan ?" Canda Roichi.


Hal itu sukses membuat Belva mendaratkan pukul pada bahu Roichi. Pria itu tertawa terbahak-bahak.


"Aku merasa nyaman dipeluk oleh mu. Seperti di peluk oleh mendiang ayahku." Ucap Belva.


"Astaga tidak lucu bukan jika ibu dan anak ini adalah anak ku. Saya membayangkan itu berarti saya menghamili anakku sendiri."


Belva tertawa dengan pemikiran Roichi, tapi anggapan itu memang benar jika terjadi dalam dunia nyata.


"Ya....dan itu pasti membingungkan jika anakmu melahirkan anak hasil hubungan kalian maka anak itu akan memanggilmu ayah atau kakek ya kira-kira ?" Belva tertawa membayangkan hal itu.


Roichi pun uga tertawa dengan pembahasan konyol mereka. Pria itu memeluk Belva dari samping dengan hangat.


"Semua akan baik-baik saja." Ucap Roichi mencoba mendukung dan menyemangati.


"Terima kasih Om." Jawab Belva.


"Papi... Sini aku dapat ini loh." Ucap Kaili.


Roichi melepas pelukannya pada Belva.


"Mau ikut ? Saya mau ke sana." Tawar Roichi.


"Tidak aku disini saja. Di sana panas."


"Ck... Dasar perempuan." Decak Roichi menggeleng kepalanya. Belva hanya tersenyum.


Roichi, dia selalu saja menuruti kemauan Duo Kay. Tak pernah menolak, semua dilakukannya karena dia menyayangi anak-anak itu dan disisi lain itu juga dianggapnya sebagai perintah dari majikan kecilnya.


"Hemm... Ini belalang boy... Sebentar Papi ambil botol air mineral dulu ya."


"Buat apa Pi ?"


"Buat masukkan belalang ini. Nanti kalian bisa pandangi belalang ini saat di dalam botol."


"Oh oke Pi."


Roichi kembali ke saung kecil itu menghampiri Belva yang disamping wanita itu terdapat botol air mineral. Tangan kekar itu mengambil botol itu.


"Ini minum ?" Roichi menyodorkan botol itu pada Belva.


Wanita itu menatap Roichi, bingung tiba-tiba menghampiri dan menyuruhnya minum.


"Tidak haus." Jawab Belva.


"Oke berarti saya habiskan." Ucap Roichi.


Air yang masih setengah botol lebih itu dihabiskan Roichi tanpa sisa. Belva mengerutkan kening melihat itu.


"Sehaus itu ya Om ?"


"Tidak. Buat tempat belalang. Kaili menangkap belalang."


Mulut Belva hanya membulat. Pria itu berlalu begitu saja. Dihampiri Kaili yang sedang memegang belalang. Dengan hati-hati dimasuki makhluk yang bernapas menggunakan trakea itu. Kaila sendiri sibuk mengejar kupu-kupu.


Udara yang segar di pagi hari itu benar-benar seperti vitamin bagi mereka yang hidup di kota. Rutinitasnya yang full bekerja setiap hari membuat Roichi betah berlama-lama di tempat itu.


Hari semakin siang, matahari yang menyinari pun sudah tak sehat lagi bagi kulit. Roichi mengajak si kembar untuk kembali pulang.


"Anak-anak ayo pulang sudah siang." Ajak Roichi yang menggandeng Duo Kay di sisi kanan kiri.


Mereka menghampirinya Belva yang masih duduk menikmati pemandangan serta hawa sejuk di sekita saung kecil itu.


"Papi kita masih mau main." Protes Kaila.


"Iya besok kita main lagi. Sudah siang, Mami kalian tidak suka panasa-panasan." Ucap Roichi dengan melirik Belva serta sedikit mengejek wanita muda itu.


Belva memutar bola matanya malas. Ia hanya sedikit malas saja jika harus berhadapan dengan panas matahari. Mereka pulang dengan berjalan kaki menuju rumah Bulek Janti. Saat makan siang nanti mereka berencan untuk makan siang di warung makan Virgo sebelum nanti sore mereka harus kembali pulang ke Jakarta.


Sampai di rumah itu, mereka hanya duduk-duduk bersantai. Di depan televisi, Duo Kay sibuk menggambar. Roichy sibuk dengan tablet PC nya sedangkan Belva sibuk menonton televisi.


Mereka saat ini sibuk dengan kegiatan masing-masing. Hingga fokus mereka terpecah saat suara Kaila menjerit kesal.


"Aaa... Kaili kakimu merusak gambaranku." Ucap Kaila kesal.


Duo bocah itu memang duduk berlawanan arah. Kaili tidur tengkurap ketika menggambar sehingga saat kakinya bergerak-gerak tak sengaja menyenggol tangan Kaila yang sedang mewarnay gambar.


"Kaili... Kaila... Jangan ribut nak." Belva memperingati mereka.


"Kaili merusak gambaranku Mami." Ucap Kaila merengek.


"Aku tidak sengaja kok." Ucap Kaili yang tak merasa bersalah.


Kaila kesal melempar pewarnanya pada Kaili. Tapi pria kecil itu bersikap santai saja. Anak itu justru menjulurkan lidahnya. Kaila menangis karena kesal.


"Kaila tidak boleh seperti itu. Kak, minta maaf kalau salah meski disengaja atau tidak." Belva mengingatkan kedua anak kembarnya.


"Kenapa sayang ? Cantik-cantik kok menangis hemm ?" Tanya Roichi lembut.


Roichi yang tadi fokus dengan tablet PC nya teralihkan saat menangis. Benda yang setia menemaninya saat bekerja itu diletakkan begitu saja di sofa.


"Sini sama Papi." Ajak Roichi. Kaila berdiri lalu menghambur pada Roichi.

__ADS_1


Belva melihat begitu dekatnya asisten Papa nya itu dengan kedua anaknya. Terkadang hatinya nyeri karena seharusnya yang berlaku seperti itu adalah ayah kandung mereka.


Kaila mengadu pada Roichi mengenai apa yang membuatnya kesal. "Kaili sini boy."


"Kalian kan anak kembar, jadi tidak boleh saling nakal satu sama lain. Kaili minta maaflah pada Kaila." Bujuk Roichi.


"Maaf Kaila." Ucap Kaili. Pria kecil itu memeluk kembarannya.


Roichi tersenyum melihat pemandangan seperti itu. Betapa menyenangkan jika memiliki anak kembar seperti Duo Kay.


"Ya sudah kalian lanjutkan lagi gambarnya." Ucap Roichi.


Kedua bocah itu melanjutkan kegiatan mereka. Roichi tak sengaja melihat Belva tengah berkaca-kaca menatap mereka.


"Ada apa ? Mau menangis seperti Kaila ?" Tanya Roichi.


"Hah ? Tidak." Ucap Belva.


"Bercerita lah, kenapa ?" Tanya Roichi kembali. Pria itu tak ingin anak majikannya itu menahan segala permasalahannya hingga nanti akan membuat emosi nya tak terkontrol seperti saat itu.


"Om sangat dekat dengan mereka. Harusnya itu dilakukan oleh ayah mereka." Ucap Belva lirih tapi masih bisa didengarkan oleh Roichi.


Pria itu tahu bagaimana perasaan ibu muda itu. Pasti sungguh berat memiliki anak tanpa seorang suami.


"Sudah kukatakan semua akan baik-baik saja."


"Sudah siang bersiaplah, kita jadi makan siang di warung makan Virgo kan ?" Tanya Roichi mengalihkan pembicaraan.


Belva mengangguk, ia mengajak kedua anak nya untuk bersiap. Begitu juga dirinya dan juga Roichi. Saat menyusul Belva dan si kembar memang pria itu tak membawa mobil. Hanya saja dia menyewa seorang supir yang sewaktu-waktu dibutuhkannya jika bepergian. Mobil dan sopir sudah siap di depan rumah. Mereka masuk ke dalam mobil dan bersiap menuju warung makan Virgo.


Mata Roichi memindai suasana warung yang kini tengah mereka singgahi. Konsep yang diberikan cukup menarik dan sangat nyaman. Letak warung yang berada di area persawahan tapi tak jauh dari jalan raya. Memudahkan para pelanggan untuk menemukan letaknya.


"Mbak Belva kesini ? Wah ini suaminya ya Mbak ?" Tanya Ibu paruh baya itu.


"Bu... Iya mau makan siang sebelum pulang ke Jakarta nanti." Jawab Belva.


"Suaminya ganteng loh Mbak." Ibu itu terkikik. Belva hanya menanggapi dengan senyum tak berniat menjawab apapun.


"Oh iya mau makan apa Mbak ? Mari... Mari... Ambil makanannya."


Warung makan itu melakukan sistem prasmanan untuk para pelanggannya dan langsung membayar setelah mengambil makanannya.


"Iya terima kasih Bu. Mas Virgo mana ?"


"Mas Virgo ada di dalam mau saya panggikan Mbak ?"


"Oh tidak. Nanti biar kami yang ke sana saja."


Ibu itu undur diri, Belva dan yang lain mengambil makanan mereka. Cukup repot karena Duo Kay yang lama sibuk memilih menu.


"Sini saya bawakan satu lagi piringnya." Ucap Roichi. Tak mungkin Belva membawa tiga piring sekaligus.


"Terima kasih Om." Ucapan Belva hanya ditanggapi senyum Roichi.


Mereka berempat makan dengan lahap. Menu masakan yang sangat enak. Masakan lokal tapi bumbu yang diberikan pas untuk lidah para pelanggan. Dari meja yang di tempat oleh mereka berempat ini lagi-lagi terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang harmonis.


Virgo keluar dari ruangannya, pria itu melihat kehadiran Belva dan keluarga kecil itu. Tujuannya ke toilet selesai dari tempat itu, dia menghampiri empat orang yang tengah asik berbincang bersama penuh canda tawa.


"Mbak... Mas..." Sapa Virgo.


Roichi sebenarnya sedikit geli mendengar panggilan yang diberikan padanya itu. Terbiasa hidup diluar negeri dan berbaur dengan kalangan atas yang sangat jarang bahkan hampir tak pernah ada yang memanggilnya dengan sebutan Mas. Tapi sekali lagi saat ini dia berada di Indonesia yang beragam bahasa dan suku. Panggilan pun akan bermacam-macam sesuai dengan kebiasaan lidah mereka.


"Mas Virgo. Sibuk ya ? Tumben tidak jaga di bagian kasir." Ucap Belva.


"Tidak juga. Hanya tadi mengecek laporan keuangan saja. Halo Kay... Kalian mau tambah ?"


"Boleh Mami ?" Tanya Kaila.


Jawaban yang membuat Kaila memajukan bibirnya. Menu masakan di warung Virgo membuat Kaila ketagihan.


"Berikan saja, jarang-jarang juga mereka disini." Ucap Roichi.


"Ck... Terus bela saja. Nanti dia kekenyangan sakit perut nangis lagi Om."


Virgo terkekeh mendengar ucapan Belva. Bahkan pria itu juga tak paham dengan wanita itu, terlalu unik menurut nya.


"Kenapa tertawa ?" Tanya Roichi.


"Lucu saja. Mbak Belva masa panggil suamimu dengan sebutan Om."


Belva dan Roichi hanya saling melirik saja.


"Memang dia sudah Om-om. Kalau sudah kakek-kakek pasti kupanggil kakek." Jawab Belva enteng.


Virgo kembali tertawa. Roichi hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Ayo sama Papi, kita ambil makan lagi."


Kaila menurut saja, karena memang ia masih ingin makan lagi. Entah lah semakin lama perut bocah itu semakin bisa menampung banyak makanan. Tak lama Roichi dan Kaila kembali.


"Oh iya mas, kami sekalian mau pamit nanti agak sore kami akan kembali ke Jakarta."


"Benarkah ? Wah rumah jadi sepi lagi tidak ada si kembar."


"Tenang saja Om nanti saat kami libur kami main lagi ke sini." Ucap Kaili.


"He'em... Nanti pas liburan Kaila bakalan rajin-rajin kesini temani Om jualan." Ucap Kaila.


"Hahaha temani Om jualan atau temani para pelanggan menghabiskan makanan ?" Goda Virgo pada Kaila. Semua tertawa dengan upcapan Virgo. Kaila hanya tertawa malu.


Tak terasa waktu semakin bergulir, melihat Duo Kay yang rioanya sudah terlihat tanda-tanda mengantuk. Maka mereka memutuskan untuk kembali ke rumah. Belva menggendong Kaili dan Roichi menggendong Kaila yang tubuhnya lebih berat.


Sampai di rumah Duo Kay tertidur pulas, sementara Belva menggunakan waktu dengan berkemas. Jangan sampai ada barang pribadinya yang tertinggal karena entah kapan lagi mereka akan berkunjung ke rumah itu lagi.


Rumah yang mereka singgahi untuk menenangkan diri. Mengembalikan rasa kepercayaan diri. Mengembalikan semangat dan keberanian mereka untuk kembali menghadapi masalah.


Tempat pukul lima sore, Bulek Janti dan Budhe Rohimah sudah ada di rumah. Virgo masih berada di warungnya. Belva, Roichi dan Duo Kay berpamitan untuk kembali ke Jakarta.


"Budhe... Bulek... Kita pamit ya. Terima kasih sudah mau kami repotkan." Ucap Belva.


"Kamu ngomong apa to Nduk, tidak ada yang repot. Berkunjunglah kapan pun kamu mau, rumah Bulek selalu terbuka lebar untuk kalian."


"Nduk... Hati-hati ya. Maaf Budhe belum bisa temani kalian di rumah. Mbah Minto tidak ada yang jaga."


"Terima kasih banyak Bulek. Iya Budhe tidak apa-apa. Di rumah juga sudah ada Bella."


Mereka semua berpelukan untuk berpamitan tak lupa menyalami tangan kedua wanita paruh baya itu.


"Ibu kami pamit." Ucap Roichi.


"Hati-hati ya Mas ganteng, titip dan jaga istri anak-anak mu." Ucap Bulek Janti.


Budhe Rohimah hanya tersenyum, membuat Roichi dan Belva pun tersenyum kaku.


"Uti Imah... Uti Janti kita pulang dulu ya." Ucap duo Kay.


"Iya hati-hati cucu Uti." Ucap Budhe Rohimah.


"Kapan-kapan main lagi ke rumah Uti ya." Ucap Bulek Janti memeluk keduanya dengan erat. Gemas dan juga sayang yang dirasakan wanita paruh baya itu. Selama hampir satu minggu mereka menjadi hiburan untuk Bulek Janti.

__ADS_1


Kepulangan mereka ke Jakarta menggunakan pesawat. Mengingat besok adalah hari Senin dimana Roichi harus bekerja dan juga Duo Kay harus kembali masuk ke sekolah.


Sampai di Jakarta mereka langsung menuju rumah minimalis Belva. Duo Kay langsung tertidur tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Belva hanya mengganti pakaian mereka dengan piyama saja.


"Beristirahat lah, saya akan pulang."


"Terima kasih Om."


"Tidak masalah. Segera hubungi jika ada apa-apa. Dan ingat besok mulailah harimu seperti biasa jangan biarkan masalah menguasai dirimu."


Belva mengangguk tegas, belaian lembut yang diterima Belva pada kepalanya adalah sebuah pamitan dari Roichi untuk kembali ke rumah besar.


Besok adalah hari baru bagi Belva dan anak-anak. Mereka harus tegas dan kuat. Atau mereka tak akan bisa hidup normal jika terus berada di lingkaran permasalahan yang entah sampai kapan akan selesai.


****


Pagi hari penghuni rumah minimalis itu sudah sibuk dengan persiapan kegiatan mereka hari ini. Mereka tengah sarapan bersama, canda tawa selalu hadir diantara mereka.


"Kakak sudah yakin dan siap masuk kerja hari ini ?" Tanya Bella.


"Yakin. Klien ku pasti sudah banyak yang ingin bertemu denganku bukan ?"


"Tentu saja. Mereka selalu ingin bertemu langsung dengan desainer Evankay boutique."


"Anak-anak juga siap masuk sekolah ?" Tanya Belva.


"Siap Mami..." Ucap Kaili.


"Aku sudah merindukan teman-temanku Mami." Ucap Kaila.


"Oke kita let's go." Ucap Belva semangat.


Ya sebagai seorang yang harus membimbing Duo Kay maka Belva lah yang harus memiliki semangat lebih besar untuk menguatkan dan melindungi anak-anak nya. Jika dirinya saja lemah lalu bagaimana dengan kedua anaknya. Belva dan Bella bersama-sama mengantar Duo Kay ke sekolah.


"Sayang, ingat pesan Mami baik-baik. Di sekolah jangan nakal, belajar yang baik tujuan kalian di sekolah adalah belajar." Pesan Belva.


"Dan ingat juga, jangan dengarkan omongan orang lain selain keluarga Kaila dan Kaili. Oke ?" Ucap Bella.


"Iya sayang dengarkan ucapan Mami dan aunty. Kalian adalah anak-anak yang baik. Ingat tujuan ke sekolah adalah untuk belajar jadi jangan dengarkan omongan orang lain yang akan membuat Kaila dan Kaili menjadi tidak bersemangat."


"Oke Mami."


"Siap Mami."


Jawab Duo Kay dengan mantap. Turun dari mobil ternyata Farel dan juga Donny pun sama-sama baru sampai. Mereka bertemu di parkiran sekolah. Seperti biasa tradisi pamitan para bocah itu lakukan sebelum masuk kelas.


"Belva... Bella..." Panggil Farah.


"Kak Farah." Gumam Belva dan Bella bersamaan.


"Belva, aku senang lihat kamu kembali ceria dan bersemangat seperti ini." Ucap Farah.


"Tentu saja aku harus bersemangat. Hidup terus berjalan bukan ? Aku punya anak-anak yang harus aku lindungi."


"Nah, begitu dong. Harus kuat dan semangat. Jangan mau kalah sama mereka yang nyinyir itu." Ucap Okta yang tiba-tiba datang.


"Kak Okta, iya kak." Ucap Belva.


"Tenang saja kita selalu ada buat kamu, selalu mendukung mu." Ucap Farah yang diangguki Okta dan Bella.


Akhirnya mereka berpisah untuk kembali melanjutkan aktivitas mereka pada hari ini. Belva dan Bella ke butik, sambutan para pegawainya cukup membuat Belva merasa senang dan bersemangat.


Selama hampiri satu minggu ini semua berjalan dengan sangat lancar. Tak ada kenadala apapun bahkan Belva dan Bella kini sangat gencar untuk kembali mempromosikan butik mereka agar semakin banyak dikenal oleh banyak orang.


Weekend adalah hari libur bagi Roichi dan Duo Kay. Saat Belva dan Bella ada di butik, Roichi sengaja datang ke rumah minimalis Belva untuk menjaga dan bermain bersama Duo Kay.


Menjelang sore hari Belva pulang lebih awal, Sedangkan Bella masih tetap tinggal di butik dan setelahnya harus pergi ke luar untuk bertemu dengan temannya. Tadi Belva pulang menggunakan taksi online.


****


Kembali demi menghindari kemacetan, Jordi mengendarai mobilnya melewati jalanan dekat rumah Budhe Rohimah.


"Jordi, aku penasaran dengan siapa Bi Imah tinggal. Kita mampir ke rumah Bi Imah." Ucap Satya.


"Siap Tuan." Ucap Jordi.


Segera mobil itu dilajukannya menuju rumah yang waktu itu pernah Jordi dan Satya sambangi. Rasa penasaran Satya begitu tinggi karena terlihat sikap mantan asisten rumah tangganya yang aneh. Seperti menyembunyikan sesuatu.


Sampai di dekat rumah itu Satya turun, Jordi mencari tempat parkir karena mereka tak ingin parkir tepat di depan rumah Budhe Rohimah. Yang ingin Satya lakukan adalah mencari informasi dengan siapa wanita itu tinggal.


"Permisi Bu."


"Iya Pak ada apa ya ?"


"Benarkah Ibu Rohimah tinggal di rumah pagar hitam itu ?"


"Oh iya benar Pak dia tinggal disitu. Ada apa ya ?"


"Oh tidak apa-apa. Saya hanya ingin berkunjung saja. Apa benar kalau pemilik rumah jarang menerima tamu ?"


"Kalau menerima tamu sih saya kurang tahu Pak karena rumah itu lebih banyak sepi nya. Mereka lebih sibuk di butik Pak."


"Oh iya baiklah. Terima kasih Bu."


Saat Satya akan berlalu seseorang pria datang dengan tujuan yang sama bertanya pada ibu tadi.


"Permisi Bu, maaf mau tanya. Rumah Nona Belva Evanthe sebelah mana ya ?" Tanya pria muda tersebut.


Langkah Satya terhenti, mendengar nama itu. Dan menoleh ke arah pria itu dan si ibu tadi.


"Oh itu rumahnya yang pagar hitam. Bapak ini juga mau ke rumah itu." Ucap si ibu.


"Maaf bisa diulang. Anda mencari siapa tadi ?" Tanya Satya.


"Rumah Nona Belva Evanthe Tuan." Ucap pria tersebut.


Dilihat dari penampilannya, pria tersebut adalah seorang kurir. Dengan motor yang di bagian belakang nya terdapat banyak barang.


Satya tertegun dengan nama itu, dia masih ingat nama itu adalah nama pembantu mudanya yang tak lain adalah keponakan Budhe Rohimah.


"Saya mau mengantar surat ini untuk Nona Belva Evanthe. Bapak juga mau ke rumahnya ?"


"I-iiya mari ke sana." Ucap Satya.


Pikirannya melayang, merasa tak percaya pria itu kembali mengingat-ingat nama keponakan Budhe Rohimah yang pernah bekerja dengannya dulu. Dia sangat yakin jika namanya memang Belva tapi dia tak paham nama lengkap Belva.


"Jika itu nama gadis itu, bukankah gadis itu sudah meninggal ? Aku ingat saat itu Bi Imah langsung tak sadarkan diri setelah mendengar berita itu bahkan sampai jatuh sakit." Batin Satya bergumam.


"Apa maksudnya ini ? Apa benar Bi Imah menutupi sesuatu dariku ? Jika benar gadis itu masih hidup lalu untuk apa disembunyikan ?" Kembali batin Satya bertanya-tanya.


Langkahnya yang tak jauh dari rumah itupun terisi secara otomatis oleh berbagai macam pertanyaan di kepalanya. Kebingungan dan rasa penasaran itu semakin tinggi.


Bahkan sudah sampai di depan rumah minimalis itu Satya tak mengetuk pintu. Begitu tahu pintu itu tak terkunci dia langsung masuk begitu saja untuk bertemu Budhe Rohimah. Melontarkan berbagai macam pertanyaan yang bersarang di pikirannya. Kurir itu saja sampai melongo terheran melihat Satya yang langsung masuk tak sopan santun di rumah orang.


****


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terima kasih para readers ku yang masih setia membaca hingga bab ini. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisannya. Alurnya memang lambat ya dear jadi mohon bersabar. Tapi alurnya sudah sedikit dipercepat dari rencana yang sudah saya buat. ☺️

__ADS_1


Terima kasih atas support teman-teman, like dan komennya terima kasih sekali. Semoga sehat selalu dan lancar rejeki. β˜ΊοΈπŸ€²πŸ˜‡


__ADS_2