
Selesai dengan acara makan bersama dan berbincang di rumah minimalis Belva yang kini sudah ditempati oleh Budhe Rohimah dan Bella, keluarga kecil Satya sudah kembali lagi ke rumah besar Satya dengan Jordi sebagai sopir mereka.
Sore hari mereka baru sampai di rumah besar itu. Satya tak mengijinkan Jordi kembali karena masih ada hal penting yang akan mereka bicarakan. Kedatangan mereka disambut oleh Mbok Yati yang membukakan pintu untuk mereka. Seperti biasa Duo Kay selalu berlari berhamburan sesuka mereka jika berada di area rumah.
"Sayang, mas dan Jordi ke ruang kerja dulu. Kamu bersih-bersih saja dulu."
"Iya, aku bikinkan minum untuk kalian dulu ya baru setelah itu aku mandikan anak-anak."
"Ya sudah kalau begitu mas naik dulu."
Belva mengangguk, Jordi pun menganggukkan kepala pada Belva sebelum mengekor pada bos-nya. Melihat punggung kedua pria itu berlalu dengan lebih memilih menaiki tangga.
Keduanya menuju ruang kerja untuk membahas pekerjaan mereka terlebih membalas rencana mereka untuk memancing seseorang yang selama ini mereka incar atas hadirnya permasalahan di proyek perusahaan nya.
"Jordi, bagaimana sudah dapat karyawan baru?" Tanya Satya.
"Sudah, Tuan. Karyawan HRD sudah memilih salah satu karyawan yang sesuai dengan kriteria dalam rencana kita."
"Bagaimana orangnya?" Tanya Satya kembali.
"Terlihat lebih kalem tapi kita lihat saja besok, Tuan."
"Oke, pantau terus."
"Oh iya bagaimana desain bangunan yang baru, Tuan apakah perlu kita lakukan rapat bersama karyawan untuk pembangunan in!?"
"Tentu saja kita harus perkenalkan desain bangunan ini pada mereka. Seseorang yang menjadi kaki tangan orang itu akan terus memantau dan membocorkan setiap informasi yang ada bukan?"
Jordi tersenyum miring, benar apa yang dikatakan Tuannya. Seseorang yang menjadi kaki tangan tidak akan mungkin bisa bergerak sendiri sesuai dengan inisiatif mereka tanpa ada otak penggerak dibaliknya.
"Tunggu di sini saya akan memanggil putraku." Ujar Satya dan Jordi mengangguk menunggu di dalam ruang kerja Satya.
Saat Satya keluar dari ruang kerjanya rupanya belva juga baru datang dengan membawa satu nampan berisi dua cangkir kopi.
"Mas, mau ke mana?"
"Panggil Kaili, kami harus membahas desain yang mas minta tempo hari."
"Mas masuk saja biar aku yang panggil Kaili."
"Tidak sayang, mas tidak ingin kamu lelah mondar-mandir. Kasihan baby kita." Satya mengusap perut istrinya.
Pria itu begitu menyayangi calon anak mereka yang ada di kandungan sang istri. Hingga dirinya berusaha untuk tidak merepotkan sang istri atau istrinya itu akan kelelahan demi membantu dirinya meski itu hanya hal kecil.
"Ya sudah aku taruh minuman ini di dalam, nanti aku susul ke kamar anak-anak."
Belva masuk ke dalam ruang kerja Satya yang masih ada Jordi di sana. Biasa saja tidak ada rasa canggung saat ini karena dirinya sudah mulai terbiasa. Satya menuju kamar Duo Kay untuk memanggil putranya. Kaili dibutuhkan saat ini untuk membantu rencana sang Daddy menyelesaikan permasalahan yang ada.
"Hai boy, sedang apa?" Sapa Satya pada putranya.
"Daddy, aku sedang menonton teknik menggambar bangunan."
"Bisa ikut Daddy dulu sayang?"
"Ke mana?"
__ADS_1
"Ke ruang kerja Daddy, kita lihat hasil gambaranmu bersama uncle Jordi."
"Oh oke tunggu sebentar aku ambil gambarnya. Emm... Daddy bisa bantu mengambilkannya?"
"Di mana boy?"
"Ada di dalam rak nomor tiga itu. Mami menyimpannya di sana agar lebih aman kata Mami."
"Baiklah, buat Daddy yang ambil."
Satya mengambil kertas yang terguling rapi dan terletak di rak yang cukup tinggi tidak dapat dijangkau oleh bocah itu. Tak lama Belva juga menyusul masuk setelah selesai mengantarkan minuman di ruang kerja suaminya.
"Mam, Daddy dan Kaili ke ruang kerja dulu."
"Iya jika sudah langsung kembali ke kamar ya, Nak. Kamu harus mandi." Ucap Belva saat Satya berpamitan sebelum keluar kamar.
"Oke Mami. Ayo Dad." Ajak Kaili.
"Aku boleh ikut?" Tanya Kaila.
"Sayang, kamu di sini saja bersama Mami. Itu urusan para lelaki." Ucap Belva.
"Urusan apa?" Tanya Kaila.
"Sayang, kakakmu sedang membantu pekerjaan Daddy. Kaila bantu pekerjaan Mami saja bagaimana?" Ujar Belva mengalihkan keinginan putrinya.
"Bantu apa Mami?"
"Bantu Mami rapikan barang mainan kalian, itu sedikti berantakan." Tunjuk Belva pada arah pojokan kamar di mana beberapa mainan Duo Kay memang terletak di sana.
Satya tersenyum, putrinya tak memaksa untuk ikut dirinya ke ruang kerja meski dirinya tidak masalah sebenarnya. Satya dan Kaili pergi ke ruang kerja. Jordi sudah menyeruput secangkir kopi yang dibawakan oleh Belva.
"Tuan, maaf saya minum lebih dulu."
"Tidak masalah. Minumlah, kopi itu juga dibuatkan istriku untuk mu."
Satya menurunkan Kaili yang digendongnya dari kamar tadi dan mendudukkan Kaili di sofa tepat samping dirinya.
Gulungan kertas yang dibawanya tadi kini sudah dibuka oleh Satya. Goresan demi goresan terpampang nyata di sana menunjukkan beberapa bagian sebuah bangunan yang akan mereka bangun. Konsep yang diusung masih sama tradisional modern tapi dilihat dari gambar Kaili yang saat ini jauh lebih bagus dari sebelumnya. Tentu pembangunan resort baru itu akan jauh memakan biaya yang tinggi dan itu Satya rasa akan mempermudah dirinya memancing musuhnya yang tak terlihat. Biaya yang cukup mahal akan membuat musuhnya lwbih tertarik untuk berusaha membuat Satya merugi lebih banyak.
Jordi merasa terpana kali ini dengan desan yang Kaili buat. Bener kaki manik matanya menatap secara bergantian antara desain bangunan itu dan juga Kaili. Seorang bocah kecil yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menggambar sebuah desain yang sangat bagus dan rapi.
"Gila, ini benar-benar gila. Sangat bagus dan rapi. Bagaimana bisa anak kecil menggambar desain sebagus ini." Gumam Jordi lirih dan tak jelas bagi pendengaran Satya dan Kaili.
"Daddy sangat puas dengan hasil karyamu, boy." Satya memberikan acungan jempol pada putranya dengan senyum mengembang yang membuat Kaili ikut tersenyum senang.
"Tuan, ini sangat bagus sekali. Apakah ini benar hasil karya Tuan Kaili?"
"Siapa lagi jika bukan putraku? Saya melihat sendiri putraku menggambar desain ini di sela-sela waktu kosongnya."
Jordi mengangguk percaya, Satya tak mungkin berbohong padanya. Tapi dirinya masih benar-benar tidak percaya dengan hasil karya Kaili yang jauh diatas rata-rata bocah kecil pada umumnya.
"Saya masih tidak percaya jika Tuan Kaili mampu menggambar seperti ini. Anda sungguh sangat beruntung memiliki putra yang cerdas seperti Tuan Kaili." Puji Jordi.
Satya tersenyum tipis, dirinya saja bahkan sampai saat ini pun terkadang masih belum percaya jika putra putrinya memiliki kemampuan di atas rata-rata.
__ADS_1
"Coba jelaskan, boy ini bagian apa saja yang kamu gambar untum Daddy." Pinta Satya dengan lembut pada putranya.
"Oke Daddy, aku menggambar nya terkdang terinspirasi dari beberapa video yang aku lihat."
Kaili mulai menjelaskan dengan gaya bahasa dan penyampaiannya khas seperti anak-anak pada umumnya. Terkadang putra Satya dan Belva itu mengingat banyak kata yang harus disampaikannya pada Daddy nya dan Jordi. Satya dan Jordi pun terkadang ikut berpikir atas maksud dari penyampaian Kaili. Tidak cukup membuat mereka pusing karena Kaili tidak terlalu ribet dalam menyampaikan maksudnya.
Tak hanya menjelaskan bagian dari gambar desiannya saja tapi Kaili juga memiliki kemampuan menjelaskan perkiraan biaya bahan bangunan yang akan digunakan.
"Bangunan ini bisa saja menghabiskan biaya yang cukup banyak, Daddy."
"Oh iya? Berapa?" Tanya Satya dengan pertanya santai karena dia pikir itu hanya celotehan seotang anak kecil.
"Mungkin bisa mencapai angka seratus miliyar. Kurang lebih seratus dua puluh miliyar biaya yang akan kita keluarkan. Itu bisa kita minimalisir lagi jika kita meminta bantuan Opa Gan mengisi furniture di resort ini."
Mata Jordi membulat sempurna, biaya yang dikeluarkan lebih dari resort yang saat ini sedang mangkrak karena tengah bermasalah. Bagaimana bisa saat ini perusahaan sedang bermasalah tapi harus mengeluarkan biaya sebanyak itu. Dari penjelasan Kaili, kedua pria dewasa itu semakin terkejut.
"Tuan, kita perlu konsultasikan pada arsitektur kantor." Ucap Jordi yang merasa tidak percaya dengan upaya akumulasi yang diucapkan oleh Kaili.
"Iya kita lakukan besok." Ujar Satya menyetujui.
Percakapan cukup lama terjadi, hingga Belva mengetuk pintu ruang kerja Satya. Sebenarnya tidak enak karena akan menggangu diskusi penting yang dilakukan oleh suaminya tapi mau bagaimana lagi hari semakin beranjak Gela dan Kaili harus segera mandi. Satya membuka pintu ruang kerjanya dan mendapati istrinya di depan pintu.
"Sayang, ada apa?"
"Mas, apakah sudah selesai? Ini sudah hampir jam enam. Kaili harus mandi."
"Ah iya maaf mas lupa, sayang. Nak, Mami menjemput mu, mandilah." Ucap Satya pada Kaili yang masih duduk di sofa dengan berbincang kecil serta candaan kecil yang dilakukan boleh Jordi.
"Ini sudah selesai ya?" Tanya Kaili.
"Sudah, boy kamu harus mandi. Besok kita diskusi lagi, oke."
"Oke Dady."
"Uncle, aku mandi dulu ya." Pamit Kaili lalu turun dari sofa. Jordi mengangguk dan mengacungkan jempolnya pada Kaili.
Pria kecil itu berjalan menghampiri Maminya yang berdiri di depan pintu.
"Mas, jika sudah selesai nanti bilang padaku biar aku siapkan air untuk mu mandi. Aku mandikan Kaili dulu karena Kaila sudah mandi lebih dulu."
"Iya sayang terima kasih ya." Ucap Satya tersenyum pada istrinya.
Semua terlihat oleh pandangan mata Jordi. Kelurga kecil Tuannya itu tampak sangat harmonis dan bahagia bahkan dirinya lebib sering melihat bos-nya itu tersenyum dan lebih cerah dibandung dulu.
"Semoga selalu bahagia seperti ini, Tuan. Bencana kebahagiaan." Gumam Jordi tersenyum tipis. Mengingat bagaimana masa lalu membentuk sebuah keluarga kecil itu.
Setelah Belva pergi bersama Kaili, Satya kembali menutup pintu ruang kerjanya. Dia kembali mendiskusikan rencana mereka, perencanaan harus sangat matang agar mereka tidak gagal dalam menyeleksi permasalahan ini. Rencananya sebelum diadakan rapat bersama para karyawan Satya akan membahas hal ini bersama Roichi dan mungkin bersama mertuanya dengan meeting secara online. Bukan Satya tak bisa menyelesaikan sendiri permasalahannya tapi mertuanya sangat kekeuh untuk membantu Satya paling tidak mengerti akan situasi yang sedang terjadi. Mengingat resort yang bermasalah itu juga ada kerjasama dengan perusahaan Hector Group. Tentu Tuan Hector tidak ingin Satya salah langkah yang akan semakin membuat kerjasama mereka semakin merugi lebih banyak lagi.
****
To Be Continue....
Hai my dear para readers ku tersayang
Thanks buat support kalian sampai saat ini, Thanks buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian yang luar biasa 🙏🙏🙏
__ADS_1
Masih author tunggu yang belum klaim hadiahnya sampai hari Sabtu. Terima kasih 🙏🙏