
Sonia kesal selalu saja ia disalahkan dalam hal mendidik anak oleh Satya. Entah mengapa hari ini suasana hatinya selalu dibuat kacau oleh orang-orang sekitarnya.
"Ck... Kamu mau liburan kemana lagi Alya. Kenapa selalu membuat masalah sih." Ucap Sonia dengan nada kesal.
"Mom, siapa yang membuat masalah ? Aku hanya meminta uang jajan itu saja."
"Alya, tidak bisakah kamu berbuat hal yang membuat Mommy dan Daddy bangga ? Hanya sedikit Alya sedikit saja."
"Mom, kenapa memojokkan ku seperti itu ? Aku tahu aku tak bisa berbuat apa-apa. Tapi tidak bisakah kalian menghargai ku ?" Kini Alya menjadi kesal dan jengkel.
"Setidaknya kamu membuat kami bangga Alya. Agar Daddy mu tak menyalahkan Mommy terus. Agar apa yang kamu minta pada Daddy mu dia tak perlu ceramah panjang lebar padamu. Apa itu saja kamu tak mengerti ?" Bentak Sonia.
Hanya perkara meminta uang jajan saja justru membuat permasalahan bisa merembet kemana-mana. Sonia dan Alya menjadi berdebat.
Para ART tak hanya bisa mendengarkan perdebatan mereka sejak tadi tanpa berani ikut campur dan bersuara. Mereka mengelus dada dan menggelengkan kepala heran. Mengapa setiap mereka berkumpul akan selalu ada perdebatan dari hal kecil menjadi besar.
Rumah akan terasa tenang dan sepi jika hanya Tuan rumah saja yang berada di rumah atau jika semua majikan mereka pergi. Otomatis mereka para ART menyimpulkan jika keberadaan Sonia dan Alya selalu membawa keributan dan masalah.
Greekk... Suara kursi terdorong mundur oleh Alya yang tiba-tiba berdiri dengan kasar. Gadis itu menatap kesal dan kecewa pada Mommy nya. Matanya sudah berkaca-kaca, dadanya sesak menahan amarah.
Gadis itu berjalan cepat meninggalkan meja makan. Sonia hany menghela napas dengan kasar. Tangannya memegang kening dan mengurut keningnya.
Alya memasuki kamar dan membanting pintu dengan kasar hingga suara itu terdengar sampai ke lantai bawah.
"Brengsek !!! Sialan !!!" Teriak Alya.
Sampai di dalam kamar ia meluapkan segala amarahnya. Semua barang-barangnya disapu habis oleh tangan Alya.
"Semua ini gara-gara perempuan kampung itu. Sejak dia hadir di rumah ini Mommy dan Daddy selalu membandingkan aku, selalu menganggap aku tak berguna."
Alya memang beruntung secara finansial ia memilikinya secara berlebihan dari kedua orang tuanya. Tapi secara kecerdasan Alya memang tidak secerdas Daddy nya. IQ nya bisa dibilang jongkok selama bersekolah selalu jauh dari kata sepuluh besar. Soal fisik tidak ada yang cacat tapi tak terlalu cantik hanya bersih karena perawatan mahal.
Sikap Sonia yang memanjakannya membuat Alya menjadi anak yang malas, termasuk malas belajar. Satya sejak dulu sudah menasehati baik dengan cara lembut ataupun dengan cara kasar tapi gadis itu memang tak pernah mau mendengarkan. Hingga membuat Satya jengah dan malas mengurusinya. Sonia selalu ikut campur membela jika Satya menentang perilaku Alya yang melenceng.
"Alya kamu mau kemana ?" Tanya Sonia.
Alya terlihat sudah rapi menggunakan dress yang cukup mini, Sling bag sudah tergantung di pundaknya, dengan sepatu sneakers.
Pertanyaan Sonia tak digagas sama sekali oleh Alya, ia terus berjalan keluar menuju mobilnya. Sonia mengejar dan berteriak pun tetap tak dihiraukan oleh Alya.
"Mau kemana anak itu malam-malam begini." Gumam Sonia.
"Ck... Sudahlah, dia sudah besar bukan lagi anak TK yang harus ku ikuti kemana dia pergi." Sonia kembali naik ke atas menuju kamarnya.
Mobil yang dikendarai Alya berjalan dengan cepat menuju suatu club malam. Ia sudah memiliki janji temu dengan teman-temannya.
Terlebih dia juga sudah merindukan kekasihnya Jack.
Seperti sudah terbiasa masuk, hingga para bodyguard yang menjaga di pintu depan pun mengenal Alya. Ia berjalan masuk mencari dimana meja teman-temannya berada.
Lambaian tangan dari seorang wanita cantik berpakaian mini dan seksi menjadi tanda meja pertemuan mereka. Pertemuan para wanita yang selalu cipika-cipiki menjadi sambutan mereka.
"Maaf lama. Sudah dari tadi kalian ?" Tanya Alya.
"Tiga puluh menit yang lalu. Minum apa ?" Tanya Noella.
"Biasa samakan saja." Ucap Alya.
"Oh iya mana Gwen ?" Tanya Alya.
"Gwen sudah beberapa hari tak ada kabar." Jawab Noella.
Alya mengerutkan kening, apa yang terjadi dengan temannya itu.
"Ada sesuatu ?" Tanya Alya. Tentu yang ditanyakan itu adalah keadaan Gwen.
Noella menghendikan bahunya pertanda gadis itu tak tahu menahu soal keadaan Gwen.
"Sebelum pertemuan kita yang terakhir kali, dia sempat bercerita jika sedang bermasalah dengan Daddy nya. Kartu kreditnya disita dan bisa jadi saat ini ada masalah dengan itu." Ucap Kristal.
Alya mendesah kecewa, ia juga tadi beberapa kali menghubungi Gwen tapi tak ada jawaban sama sekali justru nomor Gwen berada di luar jangkauan.
Tak mau ambil pusing lagi mengenai temannya yang tak ada kabar Alya lebih memilih menikmati suasana di club malam. Melepaskan penat dan masalah yang sedang dipikirkannya saat ini.
Noella membagikan satu bungkus rokok pada kedua temannya. Alya dengan cepat meraih kota itu dan mengambil satu batang rokok milik Noella.
Ketika perempuan itu mengobrol bersama tertawa terbahak-bahak entah apa yang mereka ceritakan. Yang jelas terlihat seakan tak memiliki beban, mereka begitu menikmati kebersamaan mereka di tempat remang-remang yang full dengan suara musik itu.
Tak lama Jack kekasih dari Alya datang menghampiri mereka. Alya memang sudah memiliki janji temu juga dengan pria itu. Bagi Alya hanya pria itu saja yang bisa mengerti dirinya. Jack selalu memberikan kasih sayang yang tulus untuk Alya, mau mendengarkan semua keluh kesahnya.
"Hai Baby." Sapa Jack.
"Hai Beb." Senyum Alya tampak mengembang saat Jack datang.
Kedua pipi mereka saling bertautan tak lupa Jack selalu memberikan ciuman lembut pada bibir Alya. Jack juga menyapa kedua teman Alya seperti biasa. Noella dan Kristal menatap Jack dengan senyuman mereka.
"Sudah lama di sini ?" Tanya Jack pada Alya.
"Belum juga." Jawab Alya
"Mau minum apa ?" Tanya Alya.
"Ini saja." Jack mengambil minuman Alya lalu diminumnya. Alya tak keberatan mereka selalu berbagi apapun saat bersama.
Akhirnya ke empat manusia itu sama-sama menikmati keriuhan yang ada di dalam ruangan besar itu. Jack bosan hanya duduk saja di tempat itu. Pria itu mengajak Alya untuk turun ke lantai dansa bergabung bersama dengan pengunjung yang lain.
"Baby, ayo joget. Tidak enak jika hanya duduk-duduk manis saja." Ajak Jack.
"Ya sudah ayo kita ke sana. Kalian berdua mau ikut tidak ?" Tanya Alya pada Noella dan Kristal.
"Kalian saja, kita duduk di sini saja." Tolak Kristal yang diangguki Noella.
Alya dan Jack akhirnya mereka berdua berjoget bersama mengikuti irama musik yang ada. Keduanya begitu asik, tawa pun tak pernah luntur dari bibir Alya. Jack memang sudah terbiasa bermain di club, terbiasa dengan wanita-wanita cantik dan seksi. Selalu tak tahan bila melihat tubuh yang menggoda mata. Tanpa ragu di depan orang banyak itu Jack beberapa kali mencium pipi Alya hingga bibir gadis itu. Tidak ada penolakan sama sekali dari Alya karena gadis itu merasa Jack adalah kekasihnya.
"Alya beruntung dapat si Jack ya dia sepertinya sayang sekali dengan Alya." Ucap Kristal.
"Iya." Jawab Noella. Matanya lekat menatap sepasang manusia yang tengah berjoget. Lebih lama Noella menatap Jack.
Noella teman yang paling dekat dengan Alya, saat Jack mendekati Alya. Gadis itu terus memperhatikan Jack. Menelisik sikap dan karakter pria tersebut.
Kembali mereka meminum minuman beralkohol yang ada dihadapan mereka. Obrolan kembali terjadi tapi entah apa yang mereka bicarakan.
"Guys... Aku duluan ya." Alya berpamitan pada kedua temannya bersama Jack.
__ADS_1
"Oke Al." Jawab Kristal.
Noella hanya mengangguk dan menatap Alya dan Jack. Tatapan mata Noella bertatapan dengan mata Jack. Pandangan diantara keduanya tak bisa diartikan. Ada sesuatu yang tersembunyi dari pandangan mereka masing-masing. Sorot mata Noella menatap tajam pada Jack, ditatap seperti itu Jack menghindari tatapan itu.
"Ayo Beb cepat." Ucap Jack.
"Iya. Ya sudah kita jalan dulu ya. Bye..." Ucap Alya.
Sepasang kekasih itu berlalu meninggalkan meja Noella dan Kristal. Jack tampak menggandeng mesra tangan Alya. Melewati ramainya pengunjung club' malam.
Mereka menuju ke apartemen milik Jack. Malam ini Alya tak berniat pulang ke rumah, tempat yang selalu membuatnya tak nyaman. Bersama Jack ia mendapatkan kenyamanan. Pria itu begitu pintar membuat Alya nyaman dan bertekuk lutut padanya.
Bukan seorang Jack namanya jika kalem-kalem saja saat berduaan dengan seorang perempuan. Terlebih pakaian yang digunakan Alya sungguh menantang adrenalinnya sebagai lelaki.
Mereka sampai di apartemen, semenjak di dalam mobil tangan Jack tak bisa diam untuk tidak menyentuh kulit Alya. Kulit bersih dan mulus serta harum. Mulai dari memegang tangan, berpindah pada mengusap lembut bahu serta punggung Alya. Jangan lupakan mini dress Alya yang menampakkan paha putih mulus itu tak luput dari sapuan tangan Jack.
Alya yang dibutakan oleh perasaan yang namanya cinta. Gadis itu tak menampik perlakuan Jack padanya. Secara sukarela Alya mempersilahkan Jack berbuat apa yang pria itu inginkan.
"Baby... kita ke kamar saja." Ajak Jack dengan suara yang sudah setengah berbisik. Suara itu sudah bukan suara orang yang berbicara dengan normal.
Belum Alya menjawab bibir gadis itu sudah disambar oleh Jack. Ciuman yang nampak terburu-buru karena Jack langsung ********** dengan menuntut.
Dengan tergesa-gesanya Jack menggendong Alya masuk ke dalam kamarnya. Jack pria yang memiliki hasrat begitu tinggi dalam kegiatan percintaan. Sebelum mengenal Alya berulangkali Jack menghabiskan malam bersama dengan beberapa wanita.
Kamar apartemen Jack selalu menjadi saksi bisu malam panjang pemiliknya. Kini malam panjang itu terjadi antara jack dan Alay untuk kesekian kalinya.
****
Sudah tiga hari Belva sakit dan tak berangkat ke butik. Bella dan Budhe Rohimah lah yang mengurus butik. Sedangkan Duo Kay diurus oleh Roichi yang memang weekend adalah hari liburnya.
Kini Belva sudah kembali masuk bekerja, beberapa pesanan yang menumpuk untuk di desainkan olehnya. Dalam keadaan seperti itu selalu putri kecilnya ambil bagian untuk membantu dengan kelebihan yang dimiliki bocah kecil itu, meski hanya beberapa sketsa desain saja. Tapi itu cukup untuk membantu Belva.
"Mami yang mana yang bisa aku bantu ?" Tanya Kaila.
Seperti biasa setelah butik Evankay mulai ramai Duo Kay akan lebih banyak menghabiskan waktu di butik setelah pulang sekolah. Terkadang setelah makan siang mereka akan pulang bersama Budhe Rohimah. Kegiatan dua bocah kecil itupun juga cukup sibuk, tiga hari dalam seminggu mereka juga memiliki kegiatan les tambahan di luar sekolah, salah satunya latihan bela diri di Dojo yang mereka ikuti sebelum memutuskan mendaftar sekolah.
"Hari ini satu desain dulu saja ya sayang. Habis itu nanti kamu istirahat lagi. Nanti masih ada les tidak boleh terlalu lelah. Oke."
"Oke Mami." Jawab Kaila patuh.
Catatan atas nama Aruni yang kini tengah Kaila garap. Setiap detail dalam catatan Belva membantu untuk menjelaskan pada Kaila apa saja yang dibutuhkan dalam gambaran sketsa.
Kaila dan Belva berkutat dengan kertas dan juga pensil mereka. Kaili, pria kecil itu sibuk dengan gadgetnya sendiri. Bermain game ataupun menonton video berbahasa asing. Tak jarang dia juga menggambar sesuai dengan hobinya sejak kecil.
Masih setengah jadi sketsa yang Kaila buat tapi waktunya gadis kecil itu kembali ke rumah untuk mempersiapkan diri mengikuti latihan di Dojo.
"Nduk, sudah jam dua, ini nanti si kembar mau berangkat latihan atau tidak ?" Tanya Budhe Rohimah.
Belva menghentikan pekerjaannya, ia lihat jam di pergelangan tangannya. Benar sudah waktunya mereka pulang.
"Oh iya ya. Kaila... Kaili... Bereskan barang-barang kalian sayang. Sudah waktunya pulang istirahat sebentar lalu berangkat latihan." Ucap Belva.
Duo Kay menurut dengan perintah ibu mereka dengan dibantu Budhe Rohimah mereka membereskan barang-barang milik mereka.
Biasanya memang jika hendak berangkat les mereka akan kembali ke rumah terlebih dahulu untuk beristirahat sejenak tidur siang lalu bersiap berangkat berlatih atau les.
"Nduk, kita pulang pakai taksi online saja. Pekerjaan di butik masih banyak sekali. Buang waktu kalau kamu antar kami pulang dan kembali lagi ke butik lalu kembali lagi menjemput si kembar ke tempat latihan."
"Ya sudah, Belva pesankan dulu taksi online nya sebentar. Nanti saat akan berangkat latihan Belva jemput mereka." Ucap Belva.
"Tidak apa-apa Budhe. Biasanya aku yang antar mereka."
"Iya tapi pikirkan kesehatanmu. Kalau kamu sakit lagi, kasihan si kembar mereka pasti sedih dan tak ingin pergi ke sekolah lagi seperti kemarin."
Belva menghela napas, apa yang dikatakan Budhe Rohimah ada benarnya. Sejak tiga hari kemarin saat dirinya sakit, kedua anaknya susah sekali berangkat sekolah tapi untung ada Roichi yang dengan sabar membujuk mereka agar mau berangkat ke sekolah.
Mau tak mau Belva mengikuti saran Budhe Rohimah. Demi kebaikan bersama meski Belva merasa sudah sembuh tapi yang namanya orang baru saja sembuh pasti belum segar sepenuhnya.
Budhe Rohimah dan Duo Kay akhirnya pulang menggunakan taksi online. Hari ini Belva bisa fokus mengerjakan pekerjaannya. Ia melanjutkan sketsa desainnya.
Waktu-waktu yang dilalui Belva memang tak pernah lepas dari butik dan juga Duo Kay. Pesanan demi pesanan dapat dikerjakan Belva dan para karyawan dengan baik. Seperti yang sudah-sudah banyak dari para customer yang merasa senang dan puas akan hasil karya Belva yang dibantu para pegawainya. Kepuasan itu menjadi suntikan semangat untuk Belva dan yang lain dalam bekerja lebih giat dan terus meningkatkan kualitas lebih baik lagi.
"Nona, hari ini ada pertemuan dengan Nyonya Dimitri untuk membahas gaun pernikahan putrinya."
"Oh iya aku hampir saja lupa. Aku akan bersiap terlebih dahulu. Bella kamu di butik saja biar aku berangkat sendiri saja."
"Baik Nona."
Belva bersiap untuk pergi keluar butik menemui Nyonya Dimitri membahas gaun yang kini tengah dikerjakan oleh Belva. Pertemuan mereka dilakukan di sebuah cafe yang berada di mall salah satu kota Jakarta.
Menggunakan mobil miliknya, wanita muda itu meninggalkan butik menuju pusat perbelanjaan. Macetnya jalan ibukota tak membuat wanita itu kehilangan semangat. Justru kali ini ia sangat bersemangat mengingat Nyonya Dimitri adalah customernya yang paling istimewa bagi Belva.
Butuh waktu sedikit lebih lama akibat kemacetan jalanan ibukota. Sampai di area perbelanjaan, mobil ia perkirakan dengan rapi. Penampilannya begitu cantik dengan rambut panjangnya, kulit putih bersih dan make up tipis yang terkesan natural tak lupa mata hitamnya memakai softlens warna abu-abu untuk kali ini.
Semenjak hidup bersama keluarga Tuan Hector, perubahan drastis memang terjadi pada wanita itu. Penampilannya sangat elegan dan modis, hal itu didukung oleh keluarga angkat yang berada dan juga pemilik butik ternama di Jerman. Dulu ia seorang gadis polos yang tak mengerti fashion sama sekali. Berdandan ala kadarnya hanya mengandalkan wajah cantik alaminya saja.
Setiap langkahnya berjalan menuju tempat pertemuan beberapa orang menatap Belva dengan tatapan kagum dan suka karena wanita itu memang benar-benar sangat nyaman untuk dipandang. Bahkan banyak pria yang mencuri pandang meski tengah berjalan bersama istri mereka.
Plak... !!
"Papa... Matanya jangan jelalatan ya !"
Seorang wanita tertangkap oleh pandangan Belva sedang memarahi suaminya karena telah berani memandang dirinya. Belva hanya tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya.
"Astaga... Seperti itukah jika punya suami. Haahh... Harusnya mencari suami jangan yang mata keranjang." Gumam Belva dalam hati dengan terkikik geli.
Sampai di sebuah cafe xxx, ia mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita paruh baya yang tampak masih terlihat muda diusianya meski bertubuh sedikit gemuk.
Lambaian tangan dari orang yang dikenalnya telah menyapa dari jarak yang agak jauh. Belva tersenyum, lagi-lagi senyumannya itu mampu membuat pengunjung cafe tak tahan untuk tak melirik wanita itu. Belva melangkahkan kaki sedikit cepat untuk menghampiri meja Nyonya Dimitri.
"Nyonya, maaf membuatmu menunggu."
Mereka berdua saling menautkan pipi sebagai bentuk salam pertemuan demikian juga dengan putri Nyonya Dimitri.
"Tidak masalah kami juga baru saja datang. Kenalkan ini putriku yang akan menikah." Ucap Nyonya Dimitri.
"Azura. Pasti anda Nona Vanthe." Putri Nyonya Dimitri mengulurkan tangan pada Belva.
"Ah iya anda benar Nona. Salam kenal dan senang berkenalan dengan anda." Belva menyambut uluran tangan Azura.
"Bagaimana kabar anda Nyonya ? Apakah anda senang berkunjung kembali ke Indonesia ?" Tanya Belva tak lupa setiap obrolan itu selalu ada senyum dari bibir Belva.
"Kabarku sangat baik. Kamu benar sekali Nona Vanthe. Indonesia sungguh negara yang indah. Kamu tahu kunjunganku saat di butikmu itu adalah kunjunganku yang pertama kali setelah beberapa puluh tahun lamanya. Kami jalan-jalan ke pulau Bali, sungguh menyenangkan sekali pulau itu."
__ADS_1
"Tentu saja Nyonya, bahkan pulau itu lebih terkenal daripada negaranya sendiri. Terkadang ada warga asing yang tak mengerti pulau itu berasal dari negara mana." Belva sedikit tertawa akan hal itu.
Nyatanya memang benar adanya jika pulau Dewata Bali lebih terkenal dibandingkan negara Indonesia sendiri. Tak jarang mereka warga negara asing hanya mengenal pulau Bali saja.
"Ya kurasa mereka belum sepenuhnya menjelajahi setiap pulau di negara ini. Karena banyak pulau-pulau yang begitu menawan di Indonesia." Ucap Nyonya Dimitri.
"Pulau Bali, Mommy tak membawaku ke sana." Azura tampak mengeluarkan sedikit kalimat protesnya.
Nyonya Dimitri dan Belva tersenyum mendengarkan Azura.
"Setelah urusan gaunmu selesai kita ke sana sayang, tenang saja."
"Bagaimana sketsa gaunnya Nona Vanthe ?" Tanya Nyonya Dimitri.
"Oh iya." Jawab Belva lalu wanita itu terdiam.
"Maaf Nyonya, sketsa gaunnya sudah jadi tapi tertinggal di dalam mobil, bolehkah saya ambil dulu Nyonya." Ucap Belva dengan tak enak hati.
Kenapa bisa kali ini ia teledor, melupakan hal sepenting itu dalam pertemuannya kali ini. Tapi beruntunglah Belva, Nyonya Dimitri sudah begitu percaya dan dekat dengannya jadi tak ada masalah berarti untuk keteledorannya saat ini.
"Tenang Nona, santai saja kita masih bisa berbincang cukup lama. Ambillah terlebih dahulu." Ucap Nyonya Dimitri.
"Maaf saya permisi dulu Nyonya... Nona Azura."
Belva kembali keluar dari dalam cafe menuju parkiran untuk mengambil satu map yang dikhususkan untuk segala keperluan pesanan gaun milik putri Nyonya Dimitri.
Tak perlu waktu lama, ia kembali lagi ke dalam cafe. Wanita itu memang tahu jika dirinya diperhatikan oleh beberapa orang Karena kecantikannya tapi ia abaikan, itu adalah hak mereka saat memperhatikan dirinya. Ia tak bisa melarang mereka karena berada di tempat umum.
Bruk...!!
"Aow..." Pekik Belva. Pinggangnya membentur meja cafe. Cukup sakit tapi ia tahan.
Matanya terbelalak lebar dengan mulut terbuka. "Astaga... !!"
Mapnya sebagian sudah tersirat minuman hingga basah. Buru-buru Belva mengambil map tersebut dan mengibas-ngibaskannya agar air menyusut. Bahkan ia reflek menarik tisu yang ada di meja cafe sampingnya untuk mengelap map itu.
"Kalau jalan pakai mata !! Lihat itu minumanku tumpah berantakan gara-gara kamu." Ucap sinis orang itu pada Belva.
Belva yang fokus pada map nya kini teralihkan pada suara orang tersebut. Matanya menatap tajam pada orang itu, rasanya emosi dalam dadanya terasa begitu memburu.
"Apa kamu lihat-lihat !! Seharusnya orang seperti kamu tak pantas masuk cafe ini. Lihat kelakuanmu yang tak tahu aturan."
"Yang tak tahu aturan saya atau kamu ? Saya rasa kamu yang sengaja menyenggol saya dari arah samping. Dan kamu sengaja menumpahkan minumanmu itu kan ?" Belva tak mau kalah. Ia merasa tak bersalah dalam hal ini justru dirinya lah yang dirugikan atas kejadian ini.
"Kamu..." Mata orang itu melotot karena marah Belva melawan dirinya. Tangannya sudah terangkat untuk menampar Belva. Tapi sayang Belva lebih tanggap akan pergerakan tangan itu.
"Hentikan Alya. Jangan karena kamu anak dari keluarga kaya, kamu bisa seenaknya padaku."
Orang itu adalah Alya yang sedari tadi melihat Belva memasuki cafe. Belva menangkap pergelangan tangan Alya yang sudah melayang hendak menampar Belva.
"Lepas !!" Alya menghempaskan dengan kasar tangan Belva.
"Perempuan kampung sepertimu tak pantas menyentuh tanganku."
Plak... !!!
Kali ini Belva tak siap saat Alya menampar dirinya menggunakan tangan kiri setelah tangan kanannya berjasa dicekal Belva.
Alya tersenyum sinis, ia puas bisa menampar Belva kali ini. "Kamu tak bisa melawanku perempuan kampung."
Semua yang ada di dalam cafe menatap ke arah Alya dan Belva. Bahkan kejadian dari awal hingga penamparan itu terjadi ada beberapa yang melihatnya dengan jelas tapi ada pula yang hanya melihat secara setengah-setengah.
Nyonya Dimitri dan Azura terkejut melihat Belva hampir terjatuh dan juga ditampar oleh seseorang. Mereka menghampiri Belva dengan cepat.
"Ada apa ini ? Hei Nona kenapa kamu menamparnya ?" Tanya Nyonya Dimitri.
Alya menatap Nyonya Dimitri dengan tatapan anehnya, bola matanya menatap wanita paruh baya itu dari atas ke bawah.
"Jangan ikut campur Nyonya. Orang seusia anda seharusnya duduk manis saja tidak perlu ikut campur urusan orang lain." Ucap Alya tanpa tahu sopan santun.
"Alya !!! Kenapa kamu tidak sopan seperti itu." Ucap Belva yang merasa tak enak dengan Nyonya Dimitri. Tangan kanannya masih memegang pipi kanannya yang ditampar Alya.
"Tahu apa kamu tentang sopan santun dasar perempuan kampung."
Plak... !!!
Baru saja Alya selesai dengan ucapannya, tapi pipinya langsung mendapatkan sentuhan pedas dari Azura. Gadis itu tak terima ibunya diperlakukan seperti itu, selama ini tak ada yang bersikap tidak sopan dengan ibunya. Matanya juga menatap map yang berisi sketsa gaunnya yang telah basah. Bahkan perkataan Alya yang menghina Belva pun membuatnya cukup geram.
"Anda memang tak tahu sopan santun Nona. Bagaimana bisa anda berbicara seperti itu pada orang yang lebih tua ? Tutur kata anda bahkan seperti orang tak pernah mengenyam pendidikan. Bahkan wanita yang anda katakan perempuan kampung masih memiliki kesopanan, beda dengan Anda yang berkelakuan seperti orang hutan." Ucap Azura yang sama pedasnya dengan tamparan yang diberikannya pada Alya.
"Anda pikir saya tak melihat apa yang anda lakukan ? Sengaja menabrak Nona Vanthe dan menyiram berkasnya dengan minumanmu itu huh !!" Imbuh Azura.
Alya merasa kesal dan marah, merasa dipermalukan dengan dimarahi dan ditampar di depan umum. Tangannya terkepal kuat, seorang Alya yang selama ini selalu mendapat apa yang diinginkannya tentu ia tak tinggal diam diperlakukan seperti itu.
Alya mendorong Azura, tapi Alya salah orang. Azura pun bukan gadis lemah, ia memiliki segalanya, status sosial yang tinggi hingga rasa percaya dirinya pun tak diragukan lagi. Azura tak terima didorong, ia membalas dan mendorong Alya dengan kasar hingga gadis itu terjengkang jatuh ke lantai.
"Jangan mengganggu orang lain jika dirimu tak mau diganggu. Berani kamu mendorongku, kupastikan wajahmu yang tak seberapa itu penuh dengan jejak kuku-kuku indah dariku." Ucapan yang tegas tanpa takut apapun itu keluar dari bibir Azura. Bibir itu terlihat sinis saat berucap. Mata gadis itu tak kalah tajam menatap Alya yang sudah melotot.
"Sayang, sudah jangan dilanjutkan." Lerai Nyonya Dimitri.
"Nona, sudah... Tidak enak kita dilihat banyak orang." Ucap Belva yang juga merasa keadaan semakin mencekam.
"Tidak masalah Nona, biar perempuan ini tahu sedikit sopan santun dan tata krama." Ucap Azura yang masih emosi.
"Hajar saja Nona, memang dia keterlaluan sudah salah justru berani menampar orang lain." Ucap pengunjung cafe yang melihat kejadian dari awal hingga akhir karena tepat disamping mejanya.
Semua pengunjung sedari tadi sudah sibuk berbisik-bisik terlebih saat pengunjung cafe ada yang berani bersuara menyalahkan Alya keriuhan semakin menjadi-jadi.
"Kamu lihat ini !!! Ini adalah sketsa gaun pernikahanku yang kamu rusak dengan sengaja. Apa kamu bisa mengganti nya huh !!" Azura berucap dengan nada sedikit tinggi. Kesal dan marah sketsa gaun pernikahannya kacau akibat ulah Alya.
Pegawai cafe sedari tadi sudah mencoba untuk melerai tapi Alya dan Azura sama-sama perempuan yang berani dan keras. Merasa tak mampu melerai pegawai cafe memanggil satpam pusat perbelanjaan.
Satpam menanyakan apa.yang terjadi, Azura menjelaskan di tempat kejadian perkara saat itu juga. Pengunjung cafe juga mendukung atas penjelasan Azura. Alya tak bisa berkutik lagi, memang jelas-jelas dirinya yang salah. Dengan sengaja ia ingin membuat Belva malu di cafe itu tapi justru dirinya sendiri yang merasa malu dengan kelakuannya sendiri.
****
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Terimakasih buat para reader setia.
Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.
Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys π
__ADS_1
Btw komentar positif kalian sejujurnya membuat author semangat untuk menulis bagaimana part selanjutnya, meski tulisan ini masih sangat receh dan sadar belum sempurna, masih banyak kekurangan. Typo, alur dan beberapa hal yang lain masih kurang dengan masukkan dari kalian setidaknya bisa sedikit demi sedikit bagi author untuk memperbaiki. Terimakasih banyak reader ππ