Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 76. Pingsan


__ADS_3

Belva dan Duo Kay menunggu di dalam kamar rawat Kaila. Tak lama Satya kembali lagi, entah sikap ketus Belva yang sempat hadir itu kenapa saat ini tak muncul lagi dihadapan. Ketika mantan majikannya itu memerintahkan dirinya untuk menunggu maka dengan patuh dirinya menunggu.


Satya kembali masuk ke dalam kamar rawat Kaila. Wajah tampan itu masih terlihat dingin dan datar saat memasuki kamar rawat. Tapi sampai di depan Duo Kay langsung berubah hangat dan lembut.


"Ayo pulang." Ajak Satya.


Belva menggendong Kaila demikian Satya menggendong Kaili. Terlihat sejuk dan nyaman dipandang mata. Seperti keluarga yang harmonis dan bahagia dengan sepasang suami-istri yang cantik dan tampan serta dikaruniai anak-anak yang tak kalah tampan dan cantik.


"Mami, aku mau tidur dengan Daddy nanti." Pinta Kaili di sela-sela perjalanan mereka menuju tempat parkir.


Suara khas anak kecil itu terdengar cukup keras hingga beberapa pengunjung rumah sakit menatap ke arah mereka. Ada yang berbisik melihat keempat orang tersebut, memuji dan bergosip akan paras tampan dan cantik mereka ada pula yang bergosip mengenai hubungan yang berbeda usia dengan jarak cukup jauh.


"Itu bukan kah Tuan Satya ? Yang pengusaha pemilik perusahaan Bala Corp."


"Masa sih ? Memang benar ya ? Wah tampan sekali."


"Itu istri dan anaknya ? Kenapa sangat muda sekali istrinya ?"


"Bukankah istrinya bukan yang itu ya ?


"Entah aku tak tahu, lihat pria itu saja aku baru kali ini apalagi istrinya."


"Tapi kalau benar itu istrinya meski usia mereka tak sama tetap terlihat serasi."


Seperti itulah bisik-bisik gosip yang mereka lakukan, bahkan Satya dan Belva pun mendengar. Bukan bisik-bisik namanya jika sampai bisa terdengar oleh orang yang bersangkutan.


Dalam hati Satya tersenyum mendengar jika dirinya terlihat serasi dengan Belva. Meski ada rasa sedikit tak nyaman saat menyangkut usianya yang jauh dari Belva. Tapi Satya tak akan perduli dengan itu yang terpenting dirinya saat ini merasakan yang namanya kebahagiaan.


Belva terdiam dalam hati hanya bisa membatin. "Apa maksudnya ? Siapa yang menjadi istrinya. Masa iya aku punya suami yang usianya sama seperti usia Ayah ku yang benar saja."


Tak pernah terbayangkan dalam benak Belva jika dirinya memiliki suami yang terpaut usia sangat jauh. Sampai detik ini pun jika harus jujur Belva masih tak menyangka jika dirinya sudab menjadi seorang ibu dari dua anak. Usianya masih terbilang muda yang seharusnya saat ini dirinya masih sibuk bekerja dan bermain bersama teman-teman sebayanya. Kesana kemari menikmati masa mudanya.


"Mami Kaila juga mau tidur bersama Daddy. Kata Kaili kamar kita bagus loh aku mau lihat." Sambung Kaila yang juga sudah sangat penasaran dengan bagaimana wujud kamar barunya di rumah Satya.


"Kita pulang dulu saja ya, Kaila masih harus istirahat." Jawab Belva.


Masih belum siap jika dirinya juga harus langsung datang ke rumah Satya. Rumah yang bertahun-tahun lalu nya bersamaan dengan hadirnya kepahitan hidupnya.


"Tapi Mami, kan Mami sudah bilang boleh tadi." Ujar Kaila.


Belva belum merespon karena mereka sudah sampai di parkiran. Satya membukakan pintu untuk Belva dan Kaila di depan samping kemudi.


Ragu Belva rasanya memasuki mobil itu. Duduk bersanding dengan Satya kembali di dalam mobil. Tapi tak urung Belva tetap memasuki mobil tersebut. Tangan Satya yang bebas tak memegang Kaili digunakannya untuk melindungi kepala Belva dan Kaila menghindari kepala dua perempuan beda usia itu terbentur pintu mobil. Dirasa ibu dan anak itu sudah duduk dengan nyaman, maka Satya menutup pintu mobil. Dia berjalan memutari depan mobil untuk ikut masuk ke dalam mobil.


Satya tak meletakkan Kaili di jok belakang tapi justru memangku putranya itu bersama dirinya yang mengemudikan mobil.


"Tuan, apa tak bahaya jika Kaili duduk disitu ?" Tanya Belva khawatir.


"Tidak apa, saya akan berhati-hati mengemudikan mobil." Jawab Satya santai.


Mobil pria tampan itu perlahan mulai berjalan, meninggalkan area rumah sakit. Duo Kay begitu senang dan bahagia saat itu. Hal yang paling mereka dambakan, berjalan bersama kedua orang tuanya yang lengkap.


Dua bocah itu sangat asyik bercerita, menceritakan segala hal yang mereka lihat di jalan. Keduanya mengoceh saling bersahutan membuat Satya dan Belva tersenyum kecil.


Benar saja, Satya berhati-hati dalam mengemudikan mobilnya. Dengan kecepatan sedang dia begitu menikmati perjalanan yang tampak sangat menyenangkan untuk pertama kalinya. Sedekat ini bersama Duo Kay dengan status dirinya sebagai ayah kandung Kaili dan Kaila.


Arah jalan yang dilalui oleh Satya berbeda dengan arah jalan menuju rumah minimalis Belva. Wanita itu sudah mulai merasa tak enak kenapa arah jalannya berbeda.


"Tuan, kita mau kemana ? Arah jalan rumah saya bukan ini."


"Saya tahu memang bukan ini." Jawab Satya.


Tak lama mobil sampai di area perumahan elit milik Satya. Rumah besar Satya yang dulu pernah menjadi tempat tinggal bagi Belva.


"Tuan ? Kenapa harus ke sini ?!" Tanya Belva tak suka.


Tapi Satya tak meresponnya sama sekali. Klakson mobil dinyalakannya agar Pak Jajak membukanya pintu gerbang. Mobil masuk saat pintu gerbang yang cukup tinggi berwarna hitam itu dibukakan oleh Pak Jajak.


"Mami, ini kita kemana ?" Tanya Kaila. Gadis kecil itu tak tahu jika rumah itu adalah milik Satya, Daddy nya.


"Ini rumah Daddy, Kaila." Jawab Kaili yang memang sebelumnya sudah pernah datang.


"Benarkah ?" Tanya Kaila dengan mata berbinar dan semangat.


Satya menoleh ke arah putrinya yang tampak sangat bahagia sekali. Senyum di bibir Satya tak bisa ditahannya lagi.


Belva menatap diam putrinya, entah harus ikut senang atau harus sedih dan marah. Dirinya tak nyaman jika harus kembali ke rumah penuh kenangan pahit itu. Bagi Belva ini terlalu cepat untuknya. Memang bagi siapapun yang merasa tak suka atau tak nyaman pada satu hal pasti dia akan selalu merasa tak siap jika dihadapkan.


"Ayo kita turun." Ajak Satya.


Pria itu dengan menggendong Kaili serta melindungi kepala Kaili agar tak terbentur pintu mobil, dia keluar dari dalam mobil. Saat berjalan di depan mobil, Belva tak kunjung keluar dari dalam mobil. Mau tak mau Satya harus menghampiri Belva dan membuka pintu mobil tersebut.


"Ayo turun, apa kamu ingin terus berada di dalam mobil ? Lihatlah Kaila sudah ingin turun."


Belva hanya menatap Satya dengan tatapan tak suka. Malas rasanya jika harus masuk ke dalam rumah itu. Melihat Belva bersikap seperti itu Satya menghela napas.


"Ayo sayang, gendong Daddy saja. Kita masuk ke dalam." Ucap Satya. Dia menurunkan Kaili sejenak dan mengambil alih Kaila untuk digendongnya. Kemudia digedong Kaili disebelah kirinya.


Satya, pria yang memiliki otot kuat. Rajin berolahraga membuat dirinya merasa tak terlalu masalah menggendong Duo Kay dalam waktu bersamaan. Dua bocah itu masih ringan untuk hitungan Satya.

__ADS_1


Meninggalkan Belva yang masih terdiam di dalam mobil dengan pintu mobil yang masih terbuka. Dari jarak yang sedikit jauh, Pak Jajak kembali memperhatikan Satya. Majikannya itu kini membawa pulang dua orang bocah berbeda jenis kelamin.


"Tidak salah lagi, itu pasti anak-anak neng Belva dan Tuan Satya." Lirih Pak Jajak.


"Pak, itu siapa yang dibawa Tuan Satya ?" Tanya Pak Amin sesama satpam rumah Satya.


"Tanya saja sama Tuan biar lebih jelas. Jangan tanya sama saya." Ucap Pak Jajak. Dirinya masih memilih diam untuk saat ini sampai semuanya benar-benar jelas.


Satya sudah sampai depan pintu utama, kembali pria itu berdiri diam dan menoleh pada mobil. Belva belum juga mau keluar mobil.


"Panggil Mami dulu sayang untuk bantu Daddy buka pintu." Ucap Satya.


Alasan yang sangat logis, dirinya menggendong dua orang bocah. Akan sangat sulit jika harus membuka pintu.


"Mamiii !!!" Panggil Kaili dan Kaila. Tak mendapatkan respon kedua bocah itu terus memanggil dan melambaikan tangan mengajak Maminya ikut masuk.


Tentu saja Belva mendengar karena pintu mobil masih terbuka. Sedari tadi pun Belva memperhatikan Satya dan kedua anaknya dari dalam mobil. Mau tak mau Belva juga harus keluar dari dalam mobil.


"Mami kok lama sih ?" Ujar Kaila.


"Ada apa Kaila ?" Tanya Belva.


Wajahnya sudah menampakkan rasa ketidak-nyamanan nya. Satya bisa melihat itu, tapi dirinya memilih diam saja. Kesempatan langka dirinya bisa membawa Belva saat ini ke rumahnya. Momen yang tepat karena pas sekali dengan keluarnya Kaila dari rumah sakit.


"Daddy tidak bisa buka pintu, Mami tolong Daddy." Ucap Kaila.


Tak mungkin Belva menolak, jadi ia membukakan pintu bagi Satya dan Duo Kay. Dari kejauhan Pak Jajak masih memperhatikan objek yang menjadi fokusnya.


"Neng Belva..." Batin Pak Jajak.


"Jadi, benar itu neng Belva bersama Tuan Satya dan anak-anak mereka." Kembali Pak Jajak bergumam dalam hati.


Ada rasa lega yang dirasakan Pak Jajak data melihat keempat orang itu. Pak Jajak tahu jika Belva bukan perempuan yang tidak benar, dirinya pun meyakini jika keponakan Budhe Rohimah itu hanya dijebak saja.


Satya dan Duo Kay masuk ke dalam rumah diikuti oleh Belva. Berjalan belum sampai tangga mereka bertemu dengan Mbok Yati. Wanita paruh baya itu sedikit terkejut melihat Satya menggendong dua bocah kecil dan satu wanita berada di belakang Satya.


"Neng... Neng Belva ?" Panggil Mbok Yati.


Belva terdiam sejenak menatap Mbok Yati. "Mbok Yati." Lirih Belva.


Wanita cantik itu mendekat pada Mbok Yati dan mengulurkan tangan untuk menyalami Mbok Yati. Sikap Belva masih sama seperti dulu yang Mbok Yati kenal. Sopan dan ramah selalu menghormati yang lebih tua. Tak hanya sekedar menyalami saja tapi Belva juga mencium punggung tangan Mbok Yati.


"Neng, neng kesini dengan Tuan ?" Tanya Mbok Yati sedikit ragu. Belva menjawab dengan mengangguk.


"Oohh iya neng." Jawab Mbok Yati singkat dan mengangguk.


Sebenarnya banyak sekali yang ingin Mbok Yati tanyakan pada Belva saat ini tapi karena ada Satya maka Mbok Yati merasa sungkan. Segala pertanyaan yang ada di dalam kepalanya itu ditahan dan disimpannya rapat untuk saat ini.


"Baik Tuan." Ucap Mbok Yati.


"Mbok, saya permisi dulu." Pamit Belva.


"Iya neng."


Belva mengikuti langkah Satya yang terus berjalan menaiki anak tangga. Mbok Yati masih memperhatikan majikannya dan juga Belva. Hingga orang-orang yang dilihatnya tak terlihat lagi oleh pandangan matanya.


Tujuan utama Satya adalah kamar dari Duo Kay. Kamar kedua bocah itu terletak dekat dengan kamar Satya. Selama perjalanan di dalam rumah itu Belva terus memperhatikan setiap sudut rumah Satya. Masih sama seperti dulu, tak ada yang berubah sama sekali.


Saat melintas depan kamar Satya, tubuh Belva seakan tiba-tiba menjadi kaku. Susah untuk digerakkan nya. Manik matanya memandang tepat pada pintu kamar Satya. Memorinya saat limat tahun yang lalu kbaki berputar dimai dirinya membantu Satya yang tengah mabuk masuk ke dalam kamar itu, perlakuan Satya dan juga dirinya yang terburu-buru dengan katakutan keluar dari ruangan itu.


Sedih, marah, kecewa semua bercampur menjadi satu saat ini. Kala ingatan itu kembali terpampang di ingatannya. Rahangnya mengeras dan tangan Belva terkepal, meremas ujung blouse yang tengah digunakannya itu.


Satya tak menyadari apa yang terjadi dengan Belva saat ini. Pria itu terlalu larut dengan kebahagiaan yang dirasakannya bersama Duo Kay. Mereka justru memasuki kamar baru Duo Kay dengan senyum yang sedari tadi mengembang.


Kekaguman diperlihatkan oleh Kaila saat pertama kali melihat kamar barunya. Sungguh kamar itu mampi menjadi tempat ternyamannya saat ini. Gadis kecil itu jatuh cinta pada pandangan pertama pada tatanan kamarnya.


"Waaahh Daddy !! Ini bagus sekali !!" Ujar Kaila girang.


Satya menurunkan Duo Kay dari gendongannya. Bocah-bocah itu berlari berhamburan menuju sudut kamar yang terdapat banyak mainan.


Satya terus mengikuti keduanya dengan wajah bahagianya.


"Apa Kaila senang ?" Tanya Satya.


"Ya Daddy. Tentu saja, ini sangat bagus sekali." Ucap Kaila. Tangannya sibuk menyentuh banyaknya boneka Barbie dihadapannya.


"Kaila sini !!! Ini mobil yang aku ceritakan padamu." Teriak Kaili pada Kaila.


Dengan membawa boneka Barbie di tangannya Kaila menghampiri Kaili. Bocah lelaki itu mengajak Kaila untuk menaiki mobil mainan itu.


Saat memperhatikan Duo Kay, Satya menoleh ke belakang. Sedari tadi tak ada respon apapun dari Belva. Ternyata wanita itu tak ada di dalam kamar itu. Lantas Satya berjalan keluar kamar Duo Kay.


"Belva..." Lirih Satya.


Pria itu bisa melihat jika Belva berdiri menghadap kamar Satya. Dengan napas yang tak beraturan, Satya bisa melihat jika pundak Belva bergerak dengan cukup cepat.


Dihampirinya Belva dengan perlahan, Satya terus memperhatikan sikap Belva. Terlihat aneh bagi Satya, dilihatnya arah tatapan Belva yang tertuju pada kamarnya. Sedetik kemudian dia sadar akan apa yang terjadi saat ini.


"Belva..." Satya menyentuh pundak wanita itu dengan lembut.

__ADS_1


Belva menoleh ke arah Satya dengan tatapan yang tak biasa. Satya melihat ada luka dalam tatapan Belva padanya. Rasa bersalah yang sempat bersemayam dalam hati Satya kini muncul kembali. Dia tahu apa yang Belva rasakan saat ini.


"Kenapa anda membawa kami ke rumah ini ?" Tanya Belva dengan wajah dingin dan terlihat tak ada keramahan dan kelembutan.


"Saya tidak bermaksud seperti itu Belva." Ucap Satya.


"Lalu apa maksud anda ? Seharusnya saya tak perlu mengingat kekejaman kelurga ini saat ini Tuan."


"Kalian... Kalian keluarga yang tega menyakiti saya. Tanpa tahu apa salah saya. Saya berusaha keras meluapkan semuanya tapi kenapa anda membawa saya dan anak-anak saya ke tempat ini !!!" Teriak Belva.


Gagal... Belva gagal mengendalikan emosinya. Kepahitan hidup yang dia rasakan, sakit hati yang dirasakannya kini kembali terasa.


Satya memejamkan mata, saat Belva meluapkan emosinya dengan teriakan itu. Jujur Satya saat ini merasa sakit dalam hatinya, melihat ibu dari anak-anaknya yang meluapkan perasaan lukanya.


"Maaf Belva... Saya tak bermaksud membuatmu teringat akan kejadian itu. Saya hanya ingin membawa anak-anak melihat kamar mereka saja." Ucap Satya dengan lembut.


Tapi Belva masih terus berteriak meluapkan apa yang dirasakannya saat ini. Ketakutan, sakit hati, kecewa serta berbagaiacam perasaan tak nyaman yang bersemayam dalam hatinya itu kini tengah bermain bersama campur aduk.


Teriakan Belva mampu memancing penasaran para asisten rumah tangga Satya. Mereka berlari ke lantai dua karena teriakan Belva. Termasuk Mbok Yati yang juga khawatir terjadi sesuatu.


Saat asisten rumah tangga datang, Satya tengah berusaha menenangkan Belva. Mbok Yati sampai menutup mulutnya melihat kejadian itu hingga terkejut.


"Neng Belva !!"


"Belva !!"


Belva pingsan akibat terlalu menggebu-gebu meluapkan emosinya. Menyesali dan kecewa atas perbuatan keluarga Satya padanya dulu.


Satya dengan sigap mengangkat tubuh Belva ke dalam ruang kerjanya. Satya tahu kamarnya adalah sumber masalah saat ini yang membuat Belva hingga pinsan. Ruang kerja Satya pun terdapat ranjang berukuran sedang yang biasa digunakannya untuk istirahat saat bekerja.


"Mbok, tolong ambilkan air putih." Titah Satya.


"Baik Tuan, tunggu sebentar."


Satya berjalan untuk mengambil kotak P3K. Dicarinya minyak kayu putih untuk membantu menyadarkan Belva. Diluar ruang kerja Satya, para asisten rumah tangga berkerumun. Mereka terlihat sangat penasaran dengan wanita yang digendong oleh Satya tadi.


"Mbok, siapa wanita tadi ?" Tanya Janis.


"Ck... Sudah bubar... Bubar... Kamu juga Janis jangan kepo. Sudah ayo kembali bekerja." Ucap Mbok Yati.


Wanita paruh baya itu berlalu begitu saja tanpa menjawab pertanyaan dari Janis. Pertanyaan yang mewakili perasaan para asisten rumah tangga yang lain.


Mereka semua turun dari lantai dua menuju dapur dan beberapa tempat yang lain untuk melanjutkan pekerjaan mereka.


Mbok Yati kembali dengan membawa segelas air putih hangat untuk Belva. Ia masuk kembali ke dalam ruang kerja Satya. Mbok Yati juga penasaran akan apa yang terjadi hingga membuat Belva pingsan seperti itu.


Bagaimana tidak pingsan jika wanita itu merasa tertekan dengan perasaannya dan juga memori yang kembali terkenang ditambah beberapa hari belakangan ia sangat lelah secara fisik tapi berusaha ditahannya demi sang buah hati.


"Tuan, ini air minumnya."


"Letakkan di atas nakas Mbok. Bisa tinggalkan kami Mbok ?"


"Baik Tuan, maaf saya permisi."


Mbok Yati keluar dari ruangan tersebut. Satya membutuhkan waktu berdua saja dengan Belva saat ini. Wanita itu belum sadar, Satya akan terus berusaha menyadarkannya.


Aroma minyak kayu putih perlahan mampu membangunkan Belva dalam kesadaran. Manik mata itu perlahan terbuka dari anyaman bulu mata yang menutup rapat kelopak matanya. Manik mata itu memindai langit-langit ruangan tersebut. Serta menoleh ke sekeliling tapi yang terlihat oleh nya adalah wajah tampan milik Satya.


"Kamu sudah sadar ?" Tanya Satya.


"Minumlah dulu, saya bantu." Satya membantu membangunkan Belva hingga wanita itu bersandar pada kepala ranjang.


Diberikan segelas air putih hangat pada Belva. Setengah isi dari gelas itu habis oleh Belva. Kembali Satya letakkan gelas di atas nakas.


"Apa yang kamu rasakan saat ini ?" Tanya Satya dengan sangat lembut.


"Kenapa anda membawa saya ke ruangan ini ?" Tanya Belva.


"Kamu pingsan tadi, jika kamu lelah beristirahatlah."


"Kenapa Tuan membawa saya dan anak-anak saya ke rumah terkutuk ini." Ucap Belva dingin.


"Harus berapa kali saya meminta maaf padamu Belva ? Saya benar-benar minta maaf. Kalau boleh jujur saya ingin menembus semua kesalahan saya padamu dan anak-anak, Belva."


"Saya bukan pria yang tak bertanggung jawab, saya bukan pria bejat yang berbuat kejam seperti itu lalu pergi begitu saja. Yakinlah padaku Belva, saya tahu semua tak bisa kamu hapus begitu saja dalam hidupmu. Tapi niat saya saat ini dan kedepannya tidak ada yang buruk untukmu dan juga anak-anak."


Satya kembali berbicara panjang pada Belva, berusaha meyakinkan wanita itu agar tak berpikir yang tidak-tidak pada dirinya. Dirinya benar-benar ingin bertanggung jawab pada Belva dan anak-anaknya.


Belva terdiam, ia mengingat sebelum dirinya tak sadarkan diri tadi sempat los control. Tak bisa menahan diri, entah kenapa ia tak bisa menahan segala emosi nya saat melihat kamar Satya. Memang tak mudah membuang, menghapus atau mengabaikan sesuatu hal yang terlalu dalam melukai hidup dan hatinya.


Satya berusaha memahami keadaan Belva, kehidupan wanita itu memang terlalu menyedihkan. Satya sudah tahu bagaimana cerita masa lalu Belva saat mengandung anak-anaknya dulu. Dirinya seorang pria memang tak akan bisa benar-benar merasakan apa.yang Belva rasakan. Tapi hatinya juga ikut merasa sakit saat membayangkan betapa sulitnya kehidupan Belva saat itu.


****


To Be Continue...


Maaf ya kalau cerita nya masih jalan di tempat. author benar-benar belum ada waktu yang pas dan nyaman buat nemu alur cerita yang bisa jalan lebih cepat.


Semoga masih tetap berkenan πŸ™πŸ™

__ADS_1


Terimakasih buat kalian yang masih support dengan beberapa komen, like dan kasih hadiahΒ² atau vote buat cerita ini. Semoga kelancaran rejeki dan kesehatan selalu menempel pada kalian. Amiinn πŸ™πŸ™


__ADS_2