Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 82. Mendidik Duo Kay


__ADS_3

Sesi berfoto bersama sudah selesai, mereka kembali duduk di kursi yang sudah di sediakan di tempat itu. Satya terus melihat layar ponselnya menatap satu persatu foto yang diambil dari kamera ponselnya. Saat foto melihat-lihat isi foto tersebut, Satya sedikit tersenyum tipis kala dirinya sedang berbisik pada telinga Belva pun dijepret oleh karyawan tadi. Foto itu menjadi foto favorit bagi Satya, digunakanlah foto itu menjadi wallpaper di ponselnya.


"Sekarang anak-anak Daddy mau kemana lagi hemm ?" Tanya Satya pada Duo Kay.


"Beli mainan boleh ?" Tanya Kaili.


Untuk membeli mainan Kaili maupun Kaila akan selalu bertanya terlebih dahulu karena sudah menjadi suatu kebiasaan bagi mereka. Belva seringkali melarang mereka membeli mainan karena kebutuhan mereka jauh lebih penting dari sekedar mainan.


"Tentu saja... Ayo." Ucap Satya.


"Tidak. Jangan beli mainan terus. Sayang lebih baik kalian menabung daripadanya beli mainan jangan menjadi kebiasaan." Seperti itulah larangan dan nasehat dari Belva untuk kedua anaknya jika berkaitan dengan mainan.


Duo Kay langsung berubah murung saat mendapatkan larangan sepertinya itu dari sang Mami.


"Tidak apa-apa, mereka tidak setiap hari membeli mainan." Ucap Satya lembut.


"Tuan..."


"Mam..." Ucapan Belva langsung dipotong oleh Satya seraya melirik kedua buah hatinya. Mengingatkan jika di depan Duo Kay harus berhati-hati dalam hal manggil memanggil.


"D-dad..." Belva merapatkan gigi-gigi saat memanggil Satya, terasa aneh dan canggung.


"Jangan memberikan kebiasaan itu pada mereka, saya sudah melatih mereka untuk tidak boros pada mainan." Ucap Belva..


Dalam hati Satya tersenyum melihat Belva yang masih berat untuk memanggilnya seperti itu. Berkaitan dengan mainan Satya menghela napas.


"Sayang, coba minta ijinlah pada Mami dulu." Ucap Satya untuk meminta ijin pada Belva. Dirinya harus menghormati pola didikan Belva terhadap anak-anak nya.


"Mami, boleh ya... Ini yang terakhir untuk minggu ini." Ucap Kaila.


Belva membulatkan matanya dengan maksud Kaila. "Minggu ini ? Berarti kalian akan membeli mainan dalam setiap minggunya ?"


"Tidak... Itu namanya pemborosan buang-buang uang sayang. Lebih baik kalian menabung untuk masa depan kalian." Ucap Belva.


"Bukankah setiap minggunya Papi juga seperti itu, selalu membelikan kita mainan ?" Ucap Kaili.


Satya menatap pada Belva, Roichi saja rutin membelikan mainan untuk anak-anak nya kenapa dirinya tidak boleh.


"Mam, beli mainan pakai uang Daddy jadi tak masalah. Jangan khawatir dengan masa depan anak-anak, Daddy sudah mempersiapkan itu." Ucap Satya lembut memberikan pengertian pada Belva.


"Tapi akan menjadi kebiasaan bagi mereka dan saya tak suka itu." Sanggah Belva.


"Jika Roichi saja bisa membelikan mereka mainan setiap satu minggu sekali kenapa saya sebagai Daddy mereka tidak boleh ?" Tanya Satya menyeret nama Roichi pada Belva.


"Anda sebagai Daddy nya seharusnya membantu saya untuk mendidik mereka bukan malah merusak aturan yang sudah saya buat untuk mendisiplinkan mereka." Ucap Belva mendebat Satya.


Berbeda sekali cara Belva dengan Sonia. Satya terkesan akan cara mendidik Belva pada anak-anak nya.


"Iya oke... Daddy, janji ini yang terakhir untuk bulan ini. Boleh ?" Tanya Satya pada Belva.


Belva melirik Satya. "Benar anda akan pegang janji anda ?" Tanya Belva.


"Iya asalkan dengan syarat." Ucap Satya.


"Apa ?" Tanya Belva.


"Rubah panggilanmu kepada saya terutama di depan anak-anak. Jika tidak saya akan menuruti semua yang mereka minta bahkan setiap hari."


Belva menghela napas, dirinya benar-benar harus belajar membiasakan diri pada Satya.


"Oke..." Belva memutar bola matanya jengah.


Satya tersenyum puas, lagi-lagi dengan menggunakan Duo Kay dirinya mendapatkan keuntungan. Senjata yang paling ampuh bagi Satya memang kedua anak kembarnya.


"Ayo kita jalan sekarang." Ajak Satya.


"Gendong." Kaili mengulurkan tangannya pada Satya. Pria kecil itu ingin bergantian digendong oleh Satya.


"Aku gendong Daddy." Rengek Kaila.


"Sayang, gendong Mami saja. Gantian ya... Mami kan juga mau gendong anak cantiknya Mami." Bujuk Belva pada anak gadis kecilnya yang cantik itu.


Kaila mengangguk patuh, mereka berempat berjalan berkeliling mall. Mencari toko mainan, mereka memasuki toko tersebut. Belva dan Satya berkeliling toko dengan menggendong Duo Kay. Membantu anak-anak mereka untuk melihat serta memilih mainan.


"Mau yang mana Nak ?" Tanya Satya pada Kaili.


Kaili menggeleng tidak ada mainan yang diinginkannya berada dalam toko itu.


"Aku mau mobilan yang bentuknya kaya mobil Daddy di rumah itu loh. Tapi warna merah." Ucap Kaili.

__ADS_1


Karena tak paham betul dengan mainan yang diinginkan putranya. Satya bertanya pada si penjaga toko.


"Mbak, mobil mainan yang seperti mobil sport xxx adakah ?"


"Maaf Tuan, mobil mainan yang anda maksud tidak ada di toko kami. Coba cari di lantai tiga Tuan barangkali ada karena disana juga ada toko mainan."


Satya mengangguk. "Permisi."


"Silahkan Tuan. Mohon maaf Tuan."


Satya kembali mengangguk. Dirinya pergi meninggalkan si penjaga toko tersebut. Dia mencari Belva dan juga Kaila yang berpisah untuk mencari mainan putrinya.


Terlihat Belva menurunkan Kaila dan duduk di kursi yang entah apakah itu disediakan untuk pengunjung atau tidak. Kaila hanya sibuk berjalan kesana-kemari melihat dan menyentuh mainan yang ada di toko tersebut.


"Kaila... Sudah dapat mainannya sayang ?" Tanya Satya.


"Belum... Mau lihat yang itu tapi Mami bilang capek gendong Kaila. Jadi Mami istirahat sebentar."


Kaila menunjukkan mainan masak-masakan yang terlihat di rak paling atas.


Satya memperhatikan Belva sebentar lalu beralih pada Kaila yang kembali sibuk melihat mainan yang diambilnya lalu dilekatkan lagi pada tempatnya.


"Kamu capek ?" Tanya Satya pada Belva.


"Sedikit." Jawab Belva.


"Kaili turun dulu ya... Daddy mau bantu adikmu lihat mainan itu dulu." Ucap Satya dengan menunjukkan mainan yang ditunjukkan oleh Kaila. Kaili mengangguk.


"Ayo kita lihat." Ucap Satya menggendong Kaila dan mendekat pada mainan masak-masakan yang diinginkan oleh Kaila.


Satya membantu mengambilkan mainan itu untuk Kaila. Dilihat-lihat mainan tersebut dan Kaila tertarik. Akhirnya Kaila memilih mainan itu untuk dibelinya. Sudah tak ada lagi yang mau dipilih oleh Duo Kay karena Kaila sudah menemukan mainannya dan mainan pilihan Kaili tidak ada di toko tersebut. Mereka berempat keluar dari toko mainan itu. Duo Kay digendong oleh masing-masing orang tua mereka.


Saat akan menuju lantai tiga dimana mereka akan kembali mencari toko mainan. Satya berbelok arah ke toko perlengkapan bayi. Belva bingung mengernyitkan dahinya. Untuk apa Satya masuk ke dalam toko tersebut.


"Tuan..." Panggil Belva tapi justru mendapat tatapan tajam dari Satya.


"Eh maksudnya Dad... Kenapa kita ke toko ini ?" Tanya Belva bingung.


"Sudah ayo ikut saja." Jawab Satya. Pria itu terus masuk ke toko lebih dalam lagi.


"Selamat datang Tuan ada yang bisa saya bantu ?" Tanya karyawan toko.


"Maaf Tuan cucunya usia berapa biar saya carikan yang pas."


"Ya ?" Tanya Satya.


Belva melirik Satya dan pegawai toko itu. Terkejut dan rasanya ingin tertawaan saat pegawai toko itu mengatakan jika Duo Kay adalah cucu dari Satya.


"Ekhm... Dad, Mbak nya menanyakan usia berapa cucu anda." Belva mengulangi pertanyaan pegawai toko. Terlihat jika Belvae menahan senyumnya. Hal itu membuat Satya kesal.


"Apa kita sudah memiliki menantu, sayang ?" Tanya Satya pada Belva. Pria itu puas saat melihat Belva membulatkan matanya atas pertanyaan Satya.


"Kaili coba tanyakan pada Mami, apakah Mami sudah memiliki menantu." Ucap Satya.


"Menantu ? Apa itu Daddy ?" Tanya Kaili.


"Coba tanyakan pada Mami mu."


"Mami, apa itu menantu ?" Tanya Kaili pada Belva.


Pegawai toko itu terus saja memperhatikan dan mendengar pembicaraan keluarga kecil itu. Tanpa bertanya lagi ia sudah paham jika dirinya salah bertanya. Duo Kay adalah anak dari pria yang ada di hadapannya.


"Maaf Tuan... Saya kira cucu anda." Ada rasa bersalah dari pegawai toko itu.


"Memang seharusnya seperti itu." Gumam Belva lirih tapi masih bisa di dengar oleh Satya karena berada di belakang Satya.


"Jangan menyindir suamimu sayang." Ucap Satya pada Belva dengan selembut dan semanis mungkin. Cara yang dilakukan Satya untuk balas dendam karena Belva membuatnya kesal.


"Usia mereka masih empat tahun. Benar kan Mam ?" Satya meminta pembenaran pada Belva. Wanita itu hanya diam karena semakin kesal.


"Maamm... ?" Panggil Satya.


"Iyaaa... Empat tahun usia mereka mbak." Ucap Belva.


"Baik, mari ikut saya." Ucap pegawai toko.


Mereka berempat mengikuti pegawai toko menuju tempat dimana deretan stroller berada. Dengan berbagai macam model dan warna. Serta bisa digunakan untuk usia berapa saja.


Satya memilih stroller khusus balita dengan model dua tempat duduk yang menyatu. Stroller yang memang dibuat untuk sepasang anak kembar.

__ADS_1


Setelah semua selesai pembayaran, Satya menyuruh Duo Kay untuk duduk di stroller baru mereka. Dengan begitu dirinya dan Belva tak akan merasa kelelahan menggendong Duo Kay.


Kembali mereka berjalan menuju lantai tiga. Satya mendorong stroller Duo Kay. Belva membawa paper bag berisi mainan Kaila. Benar-benar keluarga idaman sekali. Bahkan mereka sering mendapatkan tatapan perhatian dari beberapa pengunjung mall.


Sampai di toko mainan, kembali Satya bertanya pada pegawai toko mengenai mainan yang diinginkan oleh Kaili.


"Maaf Tuan... Untuk mainan tersebut kami tidak menyediakan dalam jumlah banyak. Hanya saat ada yang memesan saja karena batang tersebut yang diproduksi secara terbatas dan pengiriman dari luar negeri."


Pegawai toko menjelaskan tidak tersedianya mainan incaran Kaili


"Begitu ya... Baiklah terimakasih kami permisi." Ucap Satya.


Mereka kembali berjalan keluar dari toko mainan tersebut.


"Tidak ada sayang, mainan yang kamu inginkan harus pesan di luar negeri." Ucap Satya menjelaskan pada Kaili.


"Sudahlah Kaili... Beli mainan yang ada saja ya nak." Ucap Belva.


"Tapi aku maunya mainan itu Mami." Kaili merengek.


Entah dihadapan Satya bocah laki-laki itu menjadi lebih manja. Berbeda saat bersama Roichi anak itu tidak mengeluarkan sikap manjanya yang berlebihan.


"Tapi mainannya tidak ada sayang. Kaili harus mengerti Nak. Semua yang Kaili inginkan tidak semuanya bisa didapatkan." Ucap Belva.


Dirinya tak ingin membuat anak-anaknya menjadi orang yang memaksa keadaan bahkan yang lebih bahaya adalah ketika besar nanti mereka akan nekat melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.


"Daddy, akan pesankan untuk..."


"Stop... Jika tidak ada di Indonesia ya sudah. Jangan membuat anak-anak menjadi manja." Belva menatap Satya dengan tajam dan serius. Meluapkan kekesalannya pada Satya.


"Tapi Kaili menginginkannya." Ucap Satya.


"Please... Jangan merusak aturan saya mendidik mereka. Harusnya anda sebagai Daddy nya ikut mendidik mereka dengan benar." Ucap Belva kesal.


Melihat sedari tadi wajah Belva tak menyenangkan. Satya memilih mengalah, dia paham Belva mendidik dan mengajarkan hal-hal baik pada Duo Kay.


"Oke... Tidak perlu marah-marah. Saya takut." Ucap Satya sembarang dengan santainya.


"Kaili... Mainan itu kan pesan..."


"Tidak perlu lagi dibahas Daddy Satya..." Ucap Belva geregetan dengan pria itu hingga tanpa sadar dengan ringan memanggil Satya dengan sebutan itu.


Satya menghela napas, tampaknya Belva saat ini berada dalam suasana hati yang tidak baik.


"Percaya padaku Mam..." Ucap Satya.


Lalu pria itu beralih pada Kaili. "Nak, dengarkan Daddy... Benar kata Mami, untuk saat ini Kaili beli saja dulu mainan yang ada. Nanti Kaili harus menabung terlebih dahulu untuk mendapatkan mainan yang Kaili inginkan karena mainan itu harus pesan dari luar negeri dan tentunya memerlukan uang yang banyak Nak. Jadi, Kaili harus rajin menabung. Oke ?" Ucap Satya.


Dirinya memberikan embel-embel untuk Kaili agar mau menyambung demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Meski Satya sendiri pasti mampu membelikan untuk anaknya semahal apapun.


Mengingat Belva mengatakan jika dirinya juga harus membantu mendidik anak-anaknya. Maka Satya sebisa mungkin mengalihkan keinginan Kaili agar mau melakukan sesuatu yang positif.


Satya juga tak ingin jika nanti anak-anak nya akan tumbuh tanpa didikan yang benar sama seperti Alya yang saat ini entah bagaimana hancurnya kehidupan gadis itu akibat didikan dari Sonia.


Belva yang mendengar perkataan Satya untuk putranya itu merasa apa yang Satya ucapkan cukup benar. Mendorong Kaili untuk mau menabung terlebih dahulu untuk mendapatkan apa yang anak-anaknya inginkan. Mereka harus diajarkan untuk mau bersusah payah mencapai sesuatu daripada hanya bisa meminta dan meminta.


"Iya sayang, apa yang Daddy katakan benar. Kaili harus menabung terlebih dahulu. Kaila juga ya sayang." Ucap Belva mendukung apa yang Satya katakan.


Kaila mengangguk semangat karena memang mainan yang diinginkannya sudah dia dapat berbeda dengan Kaili yang masih sedikit murung.


"Jangan sedih... Sekarang bagaimana kalau kita makan es krim ?" Tawar Satya mengeluarkan idenya untuk menghibur Kaili.


"Mau... Mau..." Jawab Kaila dengan cepat. Untuk urusan makan Kaila memang nomor satu. Badannya lebih berisi dibandingkan Kaili.


"Boleh... Tapi kita makan dulu baru makan es krim. Kaila juga harus minum obat sayang." Ucap Belva.


Memang dari Belva sangat banyak aturan tapi itu semua untuk kebaikan anak-anaknya. Terlebih sebelum bertemu dengan Satya, Belva adalah orang tua tunggal yang harus mendidik dua anak sekaligus. Pasti tak mudah tapi aturan demi aturan perlahan diterapkan pada Duo Kay dan bocah-bocah itu selama ini baik-baik saja serta menurut.


"Oke... Kita dengarkan Mami... Makan dulu baru makan es krim ya. Nanti sepuas kalian mau beli es krim rasa apa saja." Ucap Satya.


Tak habis pikir Satya dengan Belva yang mampu memberikan banyak peraturan pada Duo Kay yang masih kecil. Tapi dirinya tak bisa tiba-tiba merubah semua aturan yang dibuat oleh Belva. Kecuali dirinya siap untuk bertengkar dengan Belva. Rasanya Satya tak akan mau jika hal itu terjadi.


****


To Be Continue...


Biarkan Satya dan Belva berbaur mendidik Duo Kay ya guys 😅 pengenalan dulu bagaimana kebiasaan Belva dalam mendidik Duo Kay.


Thanks buat kalian yang masih setia support. Author semangat di tengah letih aktivitas karena support dari kalian. 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2