Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 151. Menangis


__ADS_3

Perjalanan yang cukup panjang dan memakan waktu yang tidak sebentar. Belasan jam hingga harus menginap di dalam pesawat. Keluarga kecil itu tak pernah sepi dari obrolan ringan hingga canda tawa. Keberadaan Duo Kay begitu menghibur dan mewarnai kehidupan Satya. Pria yang biasanya memasang wajah datar, dingin hingga serius itu kini berubah menjadi lebih hangat dan penuh dengan senyuman. Wajah hangat dan ramah itu hanya diperlihatkan bagi keluarga kecilnya saja dan orang-orang terdekatnya.


Sampai di bandara Chrales de Gaulle, Satya menggunakan trolly bandara untuk mengangkut beberapa koper yang mereka bawa. Tak hanya koper saja Duo Kay pun ikut menaiki trolly yang Satya bawa. Dua bocah itu sangat senang tanpa harus berjalan kaki mereka tinggal duduk manis di atas tumpukan koper.


Belva berjalan mendampingi sang suami, sesekali saat mereka harus berhenti karena mengantri keluar bandara Satya tak melewatkan kesempatan untuk merangkul pinggang Belva.


"Kita harus cari taksi dulu mas nanti."


"Tidak perlu sayang, kita sudah ada yang menjemput."


"Hah? Siapa? Mas, telepon Papa atau Mama? Kan kita mau kasih kejutan ke mereka, mas."


"Bukan sayang, jangan marah-marah. Ada orang-orang mas yang akan jemput kita."


Rupanya Satya sudah mempersiapkan semuanya. Mereka sudah dijemput oleh orang-orang suruhan Satya. Sebagai pebisnis yang tidak hanya merambah di dalam negeri tentu Satya memiliki relasi di luar negeri seperti Paris salah satunya.


Sampai di luar bandara, seseorang sudah mengenali Satya. Pria itu berjalan mendekati Satya dengan menyapa sopan pada Satya menggunakan bahas Perancis yang tentunya Belva pun sudah paham artinya.


"Selamat pagi, Tuan." Sapa pria tersebut yang memang mendapat tugas untuk menjemput Satya.


Satya mengangguk memberikan respon atas sapaan pria tersebut. Belva tersenyum ramah pada pria itu. Duo Kay tampak terdiam mengamati seseorang yang memang menjemput mereka.


"Langsung jalan saja." Ucap Satya.


"Baik Tuan. Mari saya bantu membawakan kopernya, Tuan."


Satya menyerahkan trolly pada pria tersebut.


"Sayang, ayo turun. Kopernya mau dibawa uncle ini."


Kaili menggeleng, gadis kecil itu merasa nyaman duduk di atas tumpukan koper.


"Kaila mau di sini saja."


"Aku juga, jalan kaki jauh." Ucap Kaili.


"Bisa Daddy gendong nanti." Ucap Satya.


"No kita di sini saja." Ucap Kaili kembali.


Tak mau memaksa kedua anaknya, Satya dan Belva pun meminta pria tadi untuk berjalan lebih dulu agar kedua orang tua itu bisa mengawasi Duo Kay.


Kembali saat berjalan Satya meraih pinggang istrinya. Mereka berjalan dengan langkah santai sampai ke mobil yang akan mereka tumpangi. Duo Kay diturunkan oleh pria yang sebentar lagi menjadi sopir bagi keluarga kecil Satya.


Semua koper di masukkan ke dalam bagais mobil. Satya, Belva dan Duo Kay sudah duduk tenang di kursi penumpang. Mobil itu tampak lebih luas sehingga Duo Kay memilih untuk duduk di kursi penumpang paling belakang.


"Mami habis ini kita jalan-jalan kan?" Tanya Kaila.


"Tidak sayang kita istirahat dulu. Kita jalan-jalan setelah acara uncle Marko dan aunty Azura selesai ya." Ucap Belva.


"Memang acara uncle Marko kapan, Mi?" Tanya Kaili.


"Besok sayang. Jadi, kita harus banyak-banyak beristirahat agar nanti tampak lebih segar saat menghadiri acara."


"Oke Mi." Jawab Duo Kay.


"Kalian tetap akan di belakang?" Tanya Satya.


"Iya Daddy, di sini lebih luas." Jawab Kaila.


"Ya sudah kalian jika mengantuk tidurlah lebih dulu." Ucap Satya.


Duo Kay mengangguk. Satya merasa senang kali ini pasalnya pria beranak dua itu bisa duduk bersama sang istri hanya berdua saja. Satya menggenggam tangan istrinya meski mereka duduk bersebelahan.


"Kamu lelah?" Tanya Satya pada Belva.


"Lumayan. Mas, lelah?" Tanya Belva bergantian.


"Tidak terlalu, wajar saja perjalanan jauh. Tidurlah jika lelah." Satya menarik kepala sang istri untuk bersandar pada dada bidangnya.


Semerbak haruf parfum sang suami menguat dengan begitu jelas menyapa indera penciuman Belva.


"Hmm... Mas parfum kamu wangi sekali."


"Namanya juga parfum sayang ya wangilah kalau tidak wangias tidak akan pakai."


"Mas tidak pakai parfum juga wangi."


"Benarkah?" Tanya Satya.


Belva mengangguk, "Meski tidak mandi pun tetap wangi."


Satya terkekeh mendengar ucapan istrinya, dikecupnya pucuk kepala Belva dengan sayang. Seseorang yang sudah merasa mencintai mungkin akan selalu merasa pasangannya menjadi yang terbaik dalam segala hal dan dalam kondisi apapun.


Mobil yang sudah berjalan beberapa menit yang lalu rupanya membuat Duo Kay sudah teler karena rasa lelah. Satya dan Belva masih terus berbincang satu sama lain seperti pasangan yang masih dalam tahap pacaran. Memanfaatkan waktu mereka berdua tanpa gangguan Duo Kay.


"Sudah mas bilang tidurlah jika mengantuk."


"Tapi nanti kita kesasar kalau aku tidur, kan mas dan sopir mas belun pernah ke rumah Mama."


"Sayang, sopir yang ada di depan kita ini penduduk asli negara ini jika kamu lupa. Sebutkan saja alamat rumah Mama."


"Oh iya lupa hihi." Belva tersenyum dengan memamerkan deretan gigi putihnya.


Satya mengacak rambut Belva karena gemas dengan kelakuan istrinya.

__ADS_1


"Pak, ke jalan xxx No. 10 ya." Ucap Belva pada sopir mereka.


"Baik, Nyonya." Jawab sopir.


"Sudah kan? Kita tidur saja, semua aman sayang." Ucap Satya.


"Iya mas."


Belva membenahi posisinya duduk lebih merapat pada suaminya. Semakin menempelkan wajahnya pada dada bidang Satya. Wanita itu memeluk erat tubuh Satya dan pria itupun membalas pelukan sang istri dengan suka cita.


Kedatangan mereka ke Perancis memang tak diberitahukan kepada Tuan dan Nyonya Hector. Saat Mama angkat Belva menanyakan apakah mereka akan datang untuk menghadiri acara pernikahan Marko dan Azura mengingat Nyonya Hector juga menjadi teman bagi Mama sang kedua calon pengantin. Belva mengatakan jika dirinya kemungkinan besar tak dapat menghadiri karena kesibukan sang suami dan anak-anaknya bersekolah. Belva hanya ingin memberikan kejutan pada kedua orang tua angkatnya saja.


Seluruh penumpang mobil yang terlihat cukup mewah itu tertidur akibat rasa lelah mereka. Hingga sampai di rumah Tuan Hector penjaga rumah itu membukakan gerbang dan mengintrogasi perihal kedatangan mobil itu.


"Maaf anda ada keperluan apa datang ke sini?" Tanya penjaga rumah Tuan Hector.


"Saya menjemput Tuan dan Nyonya ini dari bandara dan mengantarkan mereka ke alamat ini." Ucap sang sopir.


"Siapa maskudmu?" Tanya oenjaga yang benar-benar detail karena tak ingin kecolongan hingga membahayakan kedua majikannya yabg sudah lanjut usia.


"Mereka coba kalian lihat saja." Sopir itu membuka sediki jendela kaca yang langsung menampilkan wajah Satya dan Belva.


Untuk wajah sang pria mereka memang tak mengenal nya tapi untuk wajah bemva mereka masih mengingay dengan jelas. Dalam hati mereka bertanya-tanya siapakah pria yang menjadi sandaran bagi Nona mereka.


"Nona Vanthe, bersama siapa dia?" Tanya penjaga rumah Tuan Hector.


"Bersama anak dan suaminya. Maaf bisakah kita masuk?"


"Masuklah."


Sang penjaga rumah langsung membuka pintu gerbang dengan lebar. Melihat yang ada di dalam mobil adalah Nona mereka, maka dengan mudab mereka mengijinkan. Mobil berjalan perlahan masuk ke dalam pekarangan rumah.


Sang sopir mau tak mau harus membangunkan Satya.


"Tuan... Tuan... Kita sudah sampai." Sopir mencoba membangunkan Satya dengan sedikit tepukan pada lutut Satya.


Pria matang itu terbangun merasakan lututnya tersentuh dengan cukup keras bila dikatakan sebuah sentuhan.


"Ah iya, ada apa?" Tanya Satya dengan suara serak.


"Kita sudah sampai, Tuan."


"Oh iya." Jawab Satya.


"Sayang, bangun Kuta sudab sampai." Satya membangunkan istrinya dengan tepukan lembut pada pipi Belva.


Tak sudah untuk terbangun, Belva langsung membuka matanya dan langsung mendongak melihat suaminya.


"Kita sudah sampai sayang." Ucap Satya kembali.


"Ah iya... Anak-anak masih tidur?"


Satya dan Belva menoleh ke belakang yang memang benar Duo Kay masih tertidur pulas. Satya langsung meraih tubuh Kaili dan mencoba membangunkan nya.


"Umhhmm... Mengantuk." Gumam Kaili.


"Hey boy, bangun dulu kita sudah sampai."


"Mengantuk Daddy."


Kaili merasa tak memiliki niat dan tenaga untuk bangun. Satya terpaksa mengangkat tubuh putranya dan keluar dari mobil. Demikian pula Belva keluar dari mobil atas perinta Satya. Tubub Kaili diberikan pada Belva untuk digendongnya sedangkan Satya kembali masuk ke dalam mobil untuk meraih tubuh Kaila.


Sopir yang mengantar mereka sibuk menurunkan koper yang ada di bagasi dengan bantuan beberapa penjaga rumah Tuan Hector.


Mereka masuk ke dalam rumah dengan dibukakan pintu oleh salah satu asisten rumah tangga Tuan Hector.


"Nona Vanthe, ada kembali?" Tanya ART tersebut dengan wajah terkejut.


"Jasmine, iya aku kembali. Bagaimana kabarmu?" Tanya Belva pada ART yang usianya sepantaran dengan Belva.


"Saya baik, Nona. Senang bisa bertemu dengan anda kembali. Anda datang bersama siapa, Nona?" Tanya Jasmin yang mencuri pandang pada Satya yang berwajah tampan.


"Bersama suamiku." Ucap Belva tersenyum.


Jasmin sedikit terkejut tapi tidak terlihat saat melihat wajah suami Belva yang sudah tak lagi muda tapi masih terlihat tampan.


"Yang benar saja ini suami Nona Vanthe? Tampan tapi mereka sepero berbeda jauh usia mereka." Gumam Jasmine.


"Mama ada?" Tanya Belva membuyarkan lamunan Jasmine.


"Eh maaf Nona, Nyonya masih berada di butik sedangkan Tuan ada di taman belakang."


"Oh oke, aku ke kamar dulu ya. Tolong jangan bilang pada Papa dan Mama jika aku datang. Aku akan menemui mereka sendiri sebagai kejutan."


"Ah iya baik Nona. Silahkan masuk." Ucap Jasmine.


"Mas, ayo masuk." Ajak Belva pada suaminya.


Satya mengangguk dengan masih menggendong putrinya yang bertubuh subur. Dia mengikuti Belva yang berjalan masuk ke dalam rumah. Jasmine mengangguk hormat pada mereka. Pasangan suami istri bersama kedua anak mereka yang mereka gendong itu berjalan ke arah kamar Belva. Mereka pun masuk dengan mudah karena pintu kamar tidak terkunci.


"Sayang, ini kamar mu?"


"Iya mas, kenapa?"


"Apa ada yang menempatinya selama kamu pergi?"

__ADS_1


"Tidak sepertinya, Mama tidak pernah bercerita apapun."


"Tapi kamar ini seperti selalu ditempati." Ucap Satya.


Kamar tersebut meski sudah lama tak terisi tapi tetap terlihat bersih dan segar. Tidak ada aroma pengap dalam kamar tersebut. Pintu pun tak dikunci karena memang setiap hari dibersihkan oleh para ART.


"Mungkin setiap hari mereka membersihkannya. Letakkan saja dulu anak-anak di atas ranjang, Mas."


Kedua bocah kembar itu diletakkan di atas ranjang membiarkan mereka tertidur pulas menikmati waktu istirahat mereka. Sebenarnya ada kamar Duo Kay sendiri tapi Belva lebih memilih membawa mereka ke dalam kamarnya.


Setelah meletakkan anak-anak mereka, Satya langsung memeluk Belva dari belakang. Pria itu dari hari ke hari semakin merasa menyayangi istrinya.


"Mas, kenapa?"


"Tidak, hanya pingin peluk istri mas saja."


"Mas, kita harus temui Papa dulu."


"Sebentar saja, yank. Mas kangen sama kamu."


"Jangan sembarang mas dari kemarin kita sama-sama terus loh."


Satya terkekeh. "Iya tapi mas kangen sama kamu entah mas juga tidak tahu."


Tok...!! Tok...!! Tok...!!


Suara ketukan pintu terdengar dari luar, membuat sepasang suami istri itu langsung menoleh ke arah pintu.


"Sebentar aku buka pintu dulu, mas."


Terpaksa Satya melepaskan pelukannya, dalam hati dirinya tak ingin melepaskan wanitanya itu. Rasa rindu tiba-tiba menyapa ingin rasanya Satya menikmati waktu yang hanya berdua saja dengan Belva tanpa ada yang mengganggu.


"Permisi, Nona. Ini koper Anda dan yang lain." Ucap penjaga rumah Tuan Hector.


"Oh iya, tolong dibawa masuk ya." Ujar Belva.


"Stop! Letakkan saja di situ, biar saya yang urus." Ucap Satya secara tiba-tiba.


Belva dan penjaga rumah itu merasa bingung pada Satya. Biasanya majikan akan merasa senang jika semua dikerjakan boleh pekerjanya. Belva terdiam, ia baru ingat jika sejak mereka menikah Satya paling anti jika ada pekerja atau orang lain masuk ke dalam kamar pribadi mereka.


"Ah iya, maaf letakkan saja di sini. Terimakasih Pak." Ucap Belva.


"Baik Nona saya permisi kalau begitu." Pamit penjaga rumah.


"Sayang, mas tidak suka jika ada yang masuk ke kamar kita." Satya berjalan mendekati Belva.


"Maaf mas aku lupa, biasanya kamar aku boleh masuk ART soalnya."


"Kamu lupa sudah bersuami dan suamimu ada di sini?" Ucap Satya sedikit kesal.


"Hihi... Ya tidak seperti itu juga mas. Aku ingat kok punya suami. Ya maaf kalau kelupaan, lagian belum punya suami tapi sudah punya anak sih." Celetuk Belva.


Tiba-tiba Satya merasa sedih saat Belva mengatakan hal itu. Raut wajahnya tiba-tiba berubah murung dan diam tak membalas ucapan Belva. Satya langsung mengambil koper miliknya dan anak-anaknya serta koper yang berisi oleh-oleh dari Indonesia.


Belva menatap suaminya, ia mengingat kembali perkataannya tadi. Perubahan terjadi saat dirinya terakhir berbicara.


"Mas, maaf aku tidak bermaksud seperti itu."


"Tidak apa-apa, memang itu kan kenyataannya." Ucap Satya.


"Mas, aku minta maaf." Belva meraih tangan suaminya.


Tapi Satya melepaskannya dan kembali sibuk mengangkat kopernya. Belva merasa bersalah dengan ucapannya tadi. Ia menunggu suaminya selesai memasukkan koper demi koper. Begitu selesai Belva langsung memeluk suaminya.


"Mas, aku minta maaf. Jangan marah."


Satya menghembuskan napas sedikit kasar, mengendalikan perasaannya yang tiba-tiba merasa sedih dan kesal saat mengingat masa lalu Belva.


"Mas tidak marah, mas merasa bersalah dan sedih." Ucap Satya yang tiba-tiba air matanya menetes.


Memeluk erat tubuh istrinya demi mencari ketenangan saat ini. Menghirup aroma tubuh Belva adalah obat mujarab bagi Satya.


"Mas menangis?" Tanya Belva saat merasa bahunya terkekna tetesan air.


Belva langsung melepaskan pelukannya, ia menatap suaminya dan mengusap pipi Satya yang basah. Belva mengerutkan keningnya, hanya karena rasa bersalahnya yang tak hilang Satya sampai menangis.


"Mas, kamu baik-baik saja? Tidak perlu menangis ih. Tumben sekali kamu menangis, aku tidak bermaksud membuatmu sedih."


"Tidak, sayang. Mas tidak menangis, mata mas perih tadi kena tangan mas saat memelukmu." Kilah Satya pada Belva.


"Masa? Sini aku tiup. Sakit sekali ya sampai seperti orang menangis begini."


Belva berniat meniup mata Satya yang mengaku terkena tangannya sendiri. Belum juga meniup Satya sudah menyambar bi*bir istrinya dan melu*matnya merasai manis yang selalu menjadi candu nya.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Simak terus guys kelanjutan ceritanya, yang bilang ini cerita muter², muyer² bikin pusing. author sudah sampaikan sebelumnya ya jika alurnya memang lambat. Mohon pengertian nya 🙏🙏


Terimakasih banyak yang masih setia support author ❤️🙏


Thank buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian 🙏🙏

__ADS_1


Sehat selalu, bahagia selalu dan semoga menghibur.


__ADS_2