
"Maaf anda siapa dan ada keperluan apa?" Tanya Inah dengan sopan.
Penampilan wanita yang ada di depannya ini terlihat rapi dan bersih. Sangat tidak mungkin jika seorang wanita sembarangan. Maka dari itu Inah menjaga sikapnya yang sering bertindak spontan dan bermulut pedas.
"Selamat pagi, saya Rania teman dari pemilik rumah ini. Apa Satya ada di rumah? Karena saya sempat ke kantor tapi tidak ada."
"Ah iya pagi, Nyonya. Silahkan masuk dulu biar saya panggilkan Tuan Satya dulu."
"Baik terima kasih, mbak." Ucap Rania tersenyum pada Inah.
Inah berlalu ke dapur menanyakan dengan pasti pada Janis mengenai keberadaan majikannya.
"Janis, Tuan Satya benar di kamar baby As?" Tanya Inah.
"Iya ada apa?"
"Ada yang mencari Tuan Satya dia bilang teman dari Tuan."
"Panggil saja Tuan Satya ada di kamar baby As bersama Nyonya."
Inah menjalankan tugasnya untuk memanggil sang majikan di kamar baby As. Sedangkan di dalam kamar baby As, Satya sedang bermanja-manja pada istrinya. Rasa rindu karena tadi malam tidak tidur bersama sang istri membuat Satya ingin menghabiskan waktu sejenak bersama Belva sebelum nanti siang dirinya berangkat ke kantor.
"Sayang, kamu yakin tidak mau melakukan itu?" Tanya Satya dengan wajah memelas.
"Mas, bukan aku tidak mau tidak ingin kamu sentuh hanya saja aku ingin masih takut jika terjadi sesuatu pada bayi kita. Dokter bilang usia dua bulan masih rawan dan aku takut."
Lagi-lagi jawaban Belva membuat Satya sedikit kecewa, dia tidak bisa menyalahkan sang istri meski merasa kecewa tapi masih bisa dimaklumi karena apa yang istrinya lakukan itu semata-mata demi keselamatan bayi mereka saja.
Belva memang pernah mengandung, tapi ini adalah pengalaman pertamanya hamil di dampingi oleh suaminya. Selama hamil Duo Kay dirinya hanya terfokus dengan kandungannya saja tidak pernah terpikirkan oleh hal-hal lain seperti melayani suami dalam keadaan hamil.
Kekhawatiran setiap orang berbeda-beda, bukan berlebihan tapi hanya untuk mencoba memberikan yg terbaik. Tidak bisa menyamakan antara kamu dan dia, posisikan dirimu ketika kamu berada di posisinya lalu seorang yang lain membandingkan dirimu dengan orang lain lagi.
Setelah melakukan konsultasi itu rupanya semakin membuat Satya merasa jauh dengan keinginannya. Belva justru merasa terlalu khawatir pada usia kehamilan yang masih terhitung muda itu.
'Tahu begitu tidak usah konsultasi saja ke dokter.' Gerutu Satya dalam hati.
Meski tak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya Satya tetap mencoba berpikir positif untuk bayi mereka. Tapi dirinya seorang pria normal yang membutuhkan kebutuhan bio*logisnya. Kepala Satya jadi pening memikirkan nasib dirinya.
Pintu terketuk, Satya yang sedang berbaring dengan berbantalkan paha sang istri langsung bangun karena Belva hendak berdiri untuk membuka pintu.
"Siapa itu?"
"Tidak tahu, makanya bangun biar aku buka pintunya."
"Hais... Mengganggu saja." Gerutu Satya.
Pintu dibuka oleh Belva, Inah berdiri di depan pintu dengan wajah segan pada Belva. Sejak kejadian waktu lalu Inah merasa malu dan segan terhadap Belva.
"Ada apa, Mbak?" Tanya Belva biasa saja.
Belva pun memiliki sikap yang sedikit berbeda dengan Inah sejak tahu sikap Inah. Meski dirinya wanita yang ramah tapj dengan asisten rumah tangganya yang satu itu Belva sedikit menjaga jarak. Itulah sikap yang diambil oleh Belva agar wanita yang ada dihadapannya itu tidak lagi bersikap tak sopan padanya. Bukan karena dirinya seorang istri dari majikan di rumah besar itu sehingga dirinya merasa seorang yang besar hanya saja sikap Inah memang tidak baik dan tidak sopan.
"Di bawah ada tamu untuk Tuan, Nyonya."
"Tamu? Siapa?"
"Seorang wanita, Nyonya. Kalau tidak salah namanya Rania."
"Rania?" Gumam Belva.
'Apa itu teman massm Satya yang waktu itu?' Batin Belva.
"Iya, tunggu sebentar nanti Tuan turun ke bawah. Oh iya lihat mbak Janis?" Tanya Belva.
"Ada di dapur, Nyonya."
"Oke, nanti minta tolong untuk ke sini ya jaga baby As sebentar."
"Baik, Nyonya kalau begitu saya permisi."
"Iya, mbak." Jawab Belva yang kemudian menutup pintu setelah Inah pergi.
Belva kembali berjalan menuju suaminya yang masih duduk di sofa.
"Siapa, yank?" Tanya Satya.
"Tamu untukmu, katanya Rania."
"Oh... Kenapa ke sini ya?" Tanya Satya pada Belva.
"Ya mana aku tahu mas, lebih baik kamu temui saja langsung. Dia menunggu di bawah."
"Ya sudah ayo kita turun." Ajak Satya.
"Tunggu Mbak Janis ke sini dulu tadi aku sudah bilang ke Mbak Inah."
Satya mengangguk, dia paham jika tidak mungkin meninggalkan baby As sendirian. Tak lama Janis datang memasuki kamar baby As.
"Nyonya, memanggil saya?" Tanya Janis.
"Iya, mbak. Aku mau ke bawah, ada tamunya mas Satya tolong jagakan sebentar."
"Baik, Nyonya saya akan menjaga baby As selama anda pergi."
"Terima kasih, Mbak." Ujar Belva pada Janis.
"Ayo, sayang kita ke bawah." Ajak Satya setelah sudah ada Janis yang bisa menjaga baby As.
Pria itu begitu mesra meraih pinggang istrinya ketika berjalan menuruni tangga. Sengaja memang agar lebih lama sampai ke bawah. Sampai tangga terakhir, mereka dapat melihat seorang wanita cantik duduk dengan anggun di sofa ruang tamu milik mereka. Keduanya menghampiri wanita itu yang tak lain memang Rania, teman semasa SMA Satya.
"Rania." Panggil Satya membuat wanita cantik itu menoleh ke arah Satya dan Belva.
Rania langsung berdiri dari duduknya demi menghargai pemilik rumah. Ia tersenyum manis ke arah Belva dan Satya.
"Satya... Nyonya..." Sapa Rania terhadap sepasang suami-istri pemilik rumah besar yang kini tengah dikunjunginya.
Belva tersenyum ramah pada Rania, rupanya benar wanita yang ada dihadapannya adalah Rania wanita yang sempat membuatnya salah paham terhadap Satya sebelum mereka menikah. Belva pun mengulurkan tangan terlebih dahulu, ia tahu diri bahwa dirinya lebih muda dari Rania jadi sebagai tanda menghormati maka Belva menyalami Rania lebih dulu. Uluran tangan itu disambut baik oleh Rania.
__ADS_1
"Kita belum berkenalan secara resmi hanya sekedar bertemu saja waktu itu. Perkenalkan saya Belva, panggil saja Belva. Sebutan Nyonya terlalu tua untuk saya sebenarnya." Belva tersenyum memperkenalkan diri.
"Saya Rania, salam kenal. Anda sungguh cantik sekali dan sangat ramah pantas saja Satya sedikit berubah akhir-akhir ini lebih berseri bahagia." Rania terkekeh kecil saat mengatakan kebenaran perubahan Satya yang ia rasakan akhir-akhir ini.
Belva hanya menanggapi dengan senyumannya saja. Satya pun hanya diam seperti biasa dirinya tak terlalu banyak berekspresi berlebihan.
"Duduklah, Rania. Ada apa datang ke rumah saya." Ujar Satya.
Mereka bertiga kini telah duduk di sofa. Satya duduk berdampingan dengan Belva di sofa yang muat untuk dua orang sedangkan Rania duduk di sofa panjang. Tak lama Fitri datang dengan membawa nampan berisi satu gelas jus jeruk untuk Rania.
"Aku tadi datang ke kantormu tapi Nona Grace mengatakan jika kamu tidak masuk hari ini. Aku datang untuk mengantarkan berkas milik suamiku, bukankah seharusnya kemarin kalian bertemu? Jordi mengatur ulang jadwal pertemuan kalian."
"Em ya... Waktu itu saya memang tidak ke kantor setelah meninjau tempat yang akan menjadi proyek kami selanjutnya."
"Iya maka dari itu aku datang membawakan berkas milik suamiku, dia tidak bisa mengantarkannya sendiri sejak kemarin dia berada di luar kota."
Rania menyerahkan satu map berwarna merah kehadapan Satya.
"Oh iya sepertinya tadi malam aku melihatmu berada di hotel Grand Lux. Apakah itu benar kamu? Aku juga mihat Jordi..."
Satya melebarkan kelopak matanya, jantungnya berdegup kencang sekali saat ini. Pria itu mulai panik mendengar ucapan Rania. Bisa gawat jika Rania mengatakan semuanya Belva akan curiga padanya dan kebohongannya tadi malam bisa terbongkar saat ini juga.
'Siyal bagaimana Rania bisa melihatku.' Batin Satya.
Satya mendadak menjadi orang bo*doh. Hotel sebesar Grand Lux tentu saja siapa saja bisa datang dan berkunjung ke tempat itu tak terkecuali Rania yang datang ke hotel tersebut untuk mengantarkan titipan dari temannya yang berkunjung ke Jakarta.
"Em ya saya ada meeting dengan klien. Kamu... Em ada urusan apa kamu di sana?"
Apapun yang diucapkan oleh Satya adalah sebuah usaha untuk menutupi kebohongannya.
"Oh aku ada janji dengan temanku, kamu ingat Sera anak baru yang masuk di saat kita kelas tiga SMA?" Ucap Rania.
Satya tak ingat dengan nama wanita yang disebutkan oleh Rania tapi demi mengalihkan pembicaraan mengenai kehadirannya di hotel maka satua berpura-pura mengingatnya.
"Ah iya... Ya saya ingat. Apa ada reuni lagi?" Tanya Satya.
Belva yang sedari tadi menyimak tak menaruh rasa curiga sama sekali. Hal yang wajar jika terjadi pertemuan yang tak sengaja dan tak disadari. Percakapan kini beralih pada cerita-cerita masa sekolah Satya dan Rania dulu. Belva hanya menjadi pendengar yang baik saja dan hanya sesekali ikut masuk ke dalam obrolan meski hanya dengan mengajukan pertanyaan yang menurutnya sangat membuat dirinya penasaran. Hingga satu nama disebutkan oleh Rania tanpa sengaja yang membuat suasana menjadi canggung.
'Siapa wanita itu kenapa Rania mendadak pucat setelah menyebutkan nama wanita itu.' Batin Belva.
Raut wajah Satya pun berubah tak ramah den sehangat tadi. Satu nama itu sanggup mengembalikan sikap dinginnya yang sempat mengendap dalam diri Satya.
"Am, maaf aku harus pamit pulang, ada acara yang harus aku hadiri untuk mewakili suamiku." Ucap Rania sembari memperhatikan jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. Ada pula rasa canggung dan tidak enak hati yang dirasakan oleh Rania karena dirinya terlalu asik berbincang hingga lepas kontrol dan hampir saja membahas hal yang tak seharusnya dibahas oleh dirinya.
Satya diam tak menanggapi ucapan pamit dari Rania. Belva merasa tidak enak jadi dirinya yang mewakili sang suami.
"Ah iya Nyonya, silahkan. Terima kasih sudah mampir ke rumah kami."
"Maaf mengganggu waktu kalian dan terima kasih untuk waktu dan minumannya. Saya pergi."
Belva mengangguk, Rania melihat raut wajah Satya sudah tak bersahabat pun memilih diam dan pergi. Dirinya ya tak bisa membahas hal ini di tempat ini dan saat ini juga terlebih ada Belva yang sudah menjadi istri Satya.
"Mas, kamu baik-baik saja?" Tanya Belva yang melihat suaminya bersikap berbeda.
"Ya, maaf mas harus ke kamar dulu mau siap-siap untuk ke kantor."
Belva terdiam, suaminya pergi begitu saja tanpa kata-kata lain dan tanpa mengajak dirinya. Kepergian Satya terus ditatap oleh manik mata Belva dengan tatapan penasaran bercampur sedih.
"Ada apa dengannya? Kenapa berubah seperti ini setelah mendengar nama wanita yang disebutkan oleh Rania?" Gumam Belva lirih.
Mengenai masa kalau Satya Belva benar-benar tak mengerti. Hanya masa lalu Satya bersama Sonia dan juga almarhumah Alya saja yang ia ketahui itupun karena dirinya pernah bekerja di rumah besar itu.
Belva mengambil gelas bekas Rania lalu membawanya kembali ke dapur. Bukan membiarkannya tergeletak dan pada akhirnya para asisten rumah tangganya lah yang mengurusnya, Belva bukan tipe wanita yang sok berlagak bos meski diperistri oleh Satya.
Merasa penasaran dengan nama wanita yang disebutkan oleh Rania hingga membuat suasana hati Satya berubah dengan cepat, maka Belva bergegas mengikuti sang suami menuju kamarnya.
Benar saja Satya sedang berada di kamar mandi, Belva lalu menyiapkan pakaian ganti untuk Satya. Menunggu suaminya itu keluar untuk menuntaskan rasa penasarannya.
"Mas, ini pakaianmu."
"Hem iya letakan saja di situ, bisakah buatkan saya kopi?" Tanya Satya pada Belva.
"Ya?" Tanya Belva memastikan.
Kalimat yang Satya keluarkan terdengar sedikit hambar bagi Belva, tidak ada kata tolong dan tidak ada panggilan seperti biasanya.
"Buatkan saya kopi. Kepala saya pusing."
Semakin aneh saja pria itu, entah mungkin suasana hatinya kini yang sedang tidak baik. Melihat kondisi yang tak memungkinkan Belva mengurungkan niatnya.
"Iya, tunggu sebentar."
Belva beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar. Satya terdiam duduk di sofa kamarnya. Ucapan Rania benar-benar double kill baginya dan sukses membuat suasana hatinya kacau.
Belva benar-benar membuatkan kopi untuk suaminya tanpa menyuruh asisten rumah tangganya. Pikiran dan hatinya sama-sama kacau saat ini, ucapan Rania benary membuat sepasang suami istri itu kacau.
**
Hari hingga minggu terus terlewati, sejak kedatangan Rania sikap Satya sedikit berubah. Pria itu mengalihkan pikirannya yang kacau dengan sibuk bekerja hingga keterusan serta di dukung oleh pekerjaan nya yang benar-benar menumpuk.
"Bagaimana pelaksanaan pembangunan proyek di Bandung?" Tanya Satya.
"Kita sudah mulai bergerak, alat berat sudah di turunkan untuk meratakan tanah." Jawab Jordi.
"Bagus, siapkan keberangkatan kita ke Bali." Ujar Satya.
"Ke Bali? Bukankah kita tidak ada jadwal pekerjaan di sana?" Ucap Jordi.
"Kamu lupa, saya harus ke Bali bersama Siwi. Dia meminta liburan ke Bali."
'Ah ya kenapa aku baru ingat.' Batin Jordi.
"Maaf saya lupa, Tuan. Baiklah saya akan segera mengurus keberangkatan kita nanti."
Sore hari Satya kembali ke rumah meski sikpanya berubah tapi tetap pria itu akan membalas sambutan dari istri dan anaknya dengan sebuah kecupan di kening.
"Daddy, besok weekend kita jalan-jalan ya?" Pinta Kaili.
__ADS_1
"Maaf, boy. Daddy tidak bisa besok pekerjaan Daddy sedang banyak-banyak nya."
"Emm okee... Tapi hari Senin boleh ya ikut ke kantor Daddy." Ujar Kaili.
"Besok Senin Daddy ada meeting, jadi nanti tidak ada yang menjagamu." Ujar Satya berbohong. Mulai besok pagi dirinya akan terbang ke Bali bersama Jordi dan Siwi.
"Yaaahh... Padahal besok kan kita juga libur hari Senin dan Selasa jadi kita liburnya empat hari." Ujar Kaili.
Bocah kecil itu berkeinginan saat weekend nanti mereka bisa jalan-jalan bersama keluarga sedangkan hari Senin dan Selasa menghabiskan waktu libur mereka di kantor atau di rumah bersama kedua orang tua mereka.
Belva merasa ada yang tidak beres dengan suaminya. Ia pun merasa curiga sebenarnya siapa wanita yang disebutkan oleh Rania hingga membuat Satya berubah seperti itu padanya terutama pada anak-anaknya.
Satya sudah berlalu ke kamar, pria itu hendak mengemasi beberapa pakaiannya untuk kepergiannya besok.
"Anak-anak kita ke kamar dulu yuk. Bantu Mami jaga baby As yaa."
"Ayo Mami." Ucap Kaila.
Mereka berempat dengan Belva menggendong baby As masuk ke dalam lift mwnuju lantai dua.
"Yaah padahal besok liburnya cukup panjang tapi Daddy sibuk sekali." Keluh Kaila.
Belva dapat melihat dengan jelas raut wajah sedih dari kedua anaknya.
"Kalian sabar ya sayang mungkin Daddy memang belum bisa bawa kita jalan-jalan. Kalian tahu sendiri perusahaan Daddy itu besar jadi sudah pasti kerjaannya banyak sekali. Besok saat kalian libur kita buat perkemahan di halaman belakang saja, bagaimana?" Usul Belva demi menyenangkan hati kedua anaknya kembali.
"Benar, Mami?" Tanya Kaili dengan semangat.
"Iya nanti kita buat tenda di taman belakang, nanti kita ajak aunty-aunty yang ada di sini, kita ajak juga nanti Mbah Jajak sama Om Amir."
"Yeee... Pasti seru nanti banyak yang ikut." Ujar Kaila dan Kaili.
Di dalam kamar baby As sudah ada Janis, Belva menitipkan anak-anaknya pada Janis. Setelah itu dirinya masuk ke dalam kamar untuk bebricara dengan suaminya. Tapi dirinya terkejut saat melihat Satya tengah mengemasi pakaian ke dalam koper.
"Mas, kamu mau ke mana?"
"Ada apa?" Tanya Satya.
"Kita perlu bicara."
"Bicara saja ada apa? Saya sibuk Belva."
Deg...
Lagi-lagi Satya bersikap hambar pada dirinya. Tak tahu apa kesalahannya, tapi Satya memperlakukan dirinya dengan dingin dan hambar membuat hatinya nyeri.
"Apa aku punya kesalahan yang tak pernah aku sadari?" Tanya Belva menahan air matanya.
Deg...
Satya pun terdiam. Sejenak dirinya menyerapi pertanyaan istrinya, dia pun sedikit bingung dengan apa yang terjadi. Istrinya tiba-tiba bertanya seperti itu padanya.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Mas, sejak kedatangan Rania kamu menjadi berubah. Terlebih saat Rania menyebutkan nama wanita itu, sebenarnya siapa wanita itu mas hingga membuatmu bersikap dingin dan cuek padaku dan anak-anak."
Pertanyaan yang beberapa minggu lalu tertahan kini akhirnya bisa terucapkan juga. Satya mengeraskan rahangnya emndengar pertanyaan Belva.
"Untuk apa kamu bertanya? Itu tidak penting untuk kamu tanyakan." Ujar Satya.
"Bagiku penting karena kamu mulai berubah, mas. Dan akhir-akhir ini juga kamu lebih sering pergi dan tak pulang dengan alasan pekerjaan. Sebenarnya ada apa denganmu?"
Kepala Satya terasa pusing mendengar pertanyaan Belva. Pikirannya dan juga perasaannya akhir-akhir ini memang kacau. Pria itu sejujurnya merasa tertekan dengan apa yang telah dilakukannya dibelakang Belva terlebih diperburuk oleh kedatangan Rania dengan membawa-bawa masa lalunya.
"Belva cukup. Saya sedang sibuk, pikiran saya pusing memikirkan pekerjaan akhir-akhir ini jangan memperkeruh keadaan." Ujar Satya dengan menahan emosinya agar tak membentak sang istri.
Demi menghindari keributan Satya pergi masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan diri. Satya memang tidak pernah suka ribut dan bertengkar terlebih pada keluarganya sendiri. Dia selalu memilih menghindar dan menahan emosi agar tidak bertindak lebih jauh. Saat emosi pastinya dirinya tanpa sadar akan melakukan apa saja yang bisa menyakiti istrinya.
Belva pun mengambil napas dalam-dalam meredam emosinya yang mulai tersulut oleh sikap Satya. Ia menatap suaminya yang masuk ke dalam kamar mandi hingga pintu kamar mandi tertutup.
Saking penasarannya dengan perubahan Satya, ia teringat hal yang bersifat privasi terletak pada sebuah benda mati yang tak lain adalah ponsel milik Satya. Selama ini Belva tak pernah mengurusi ponsel Satya karena begitu percaya dengan suaminya dan pasti ponsel itu hanya berisi mengenai pekerjaan saja.
Secara diam-diam Belva melihat isi ponsel Satya. Tidak ada percakapan yang mencurigakan terlbih tidak ada kontak perempuan selain nomor Grace sekertaris Satya. Nomor ponsel Grace pun tak luput dari penyelidikan Belva tapi nihil tidak ada chat yang mencurigakan.
"Jordi, dia kan selalu berceriy apa saja pada asistennya yang setia itu." Gumam Belva.
Ternyata benar dalam percakapan antara Jordi dan Satya terdapat pembahasan yang membuat manik mata Belva membulat sempurna. Dadanya bergemuruh menahan emosi tapi sebisa mungkin Belva bersikpa tenang. Hingga terdapat satu bukti yang dengan cepat Belva kirimkan ke dalam ponselnya. Belva bergerak cepat saat tak lagi terdengar bunyi air mengucur dari dalam kamar mandi.
Setelah meletakkan ponsel Satya Kemabli seperti semual Belva langsung buru-buru keluar dari dalam kamar mereka. Satu tempat yang Belva tuju saat ini, yaitu kamar tamu. Dirinya ingin menyendiri dengan menyelidiki bukti yang didapatkannya dari dalam ponsel Satya.
"Mbak Fitri, punya headset?" Tanya Belva saat Fitri melintas di depannya.
"Nyonya, saya punya, ada apa Nyonya?"
"Saya pinjam sebentar ya. Saya tunggu di kamar tamu."
"Oh iya, Nyonya sebentar saya ambil di kamar dulu."
Belva mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar tamu dan menguncinya dari dalam. Dadanya terasa sesak saat ini, perubahan Satya akhir-akhir ini ternyata karena kedekatan Satya dengan seorang wanita.
"Apa isi dari rekaman ini, kenapa dia begitu yakin melakukan perselingkuhan itu." Gumam Belva dengan nada terdengar bergetar.
Perbuatan Satya di belakang Belva rupanya mulai tercium oleh Belva sendiri. Satya yang awalnya ingin bermain cantik agar sang istri tak mencurigai dirinya pun pada akhirnya kalah oleh kacaunya pikiran Satya sendiri.
Saat mendapatkan bukti tadi Belva sudah berniat tidak akan langsung menyerang Satya dengan sebuah amukan dan pertengkaran karena dirinya masih mengingat kondisi anak-anaknya yang pasti akan terguncang secara psikis jika mereka bertengkar, terlebih Belva juga harus memikirkan secara matang langkah apa yang akan dia lakukan nanti. Yang terpenting adalah ia akan mengumpulkan bukti-bukti pendukung yang lebih banyak sebelum mengambil keputusan terbaik atas hubungan pernikahan mereka.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Terima kasih banyak atas support kalian sampai saat ini 🙏🙏
Terima kasih yang sudah kasih Like, Komen, Kembang setaman dan Vote nya. Semoga sehat selalu dan bahagia selalu.
Semoga cerita receh author bisa menghibur kalian 🙏🙏
__ADS_1
Yang minggu kemarin masuk peringkat 1 masih ditunggu chatnya yaa. Terima kasih 🙏🙏