
Kedatangan Siwi mampu mengacaukan suasana hati para penghuni rumah besar Satya. Nyonya Hector paling merasakan syok dari kabar yang dibawakan oleh Siwi. Wanita paruh baya itu merasa lemas saat mendengar menantunya telah mendua dan bahkan menghamili wanita lain ketika putrinya sendiri tengah mengandung.
Tuan Hector dan Belva mengikuti Nyonya Hector yang tengah dipapah oleh Pak Jajak dan Pak Amin masuk ke dalam kamar. Belva tak menyangka bahwa Siwi akan nekat datang ke rumah besar Satya saat kebetulan Tuan dan Nyonya Hector berada di sana.
"Ma, Mama tidak apa-apa? Apa yang Mama rasakan? Ada yang sakit?" Tanya Belva merasa khawatir.
"Mama tidak apa-apa. Apa itu benar, sayang? Apa yang Mama dengar apa itu benar-benar terjadi?"
"Mama jangan percaya perempuan itu, dia hanya mengarang cerita semua baik-baik saja, Ma." Jawab Belva.
Belva tidak ingin Mamanya bersedih dan memikirkan hal yang tidak-tidak hingga mempengaruhi kesehatan wanita paruh baya itu.
Mereka adalah orang tua yang selama ini menyayangi dirinya selain Budhe Rohimah. Bahkan Belva merasa dirinya lebih dekat dengan kedua orang tua angkatnya daripada bersama Budhe Rohimah. Bukannya apa-apa tapi karena Tuan dan Nyonya Hector begitu perhatian dan selalu berusaha melindungi Belva serta membahagiakannya meski mereka tinggal terpisah.
"Jangan pikirkan yang tidak-tidak, pikirkan kesehatanmu, Ma." Ujar Tuan Hector ikut menenangkan istrinya.
"Nak, bisakah kamu menyuruhnya untuk tidak berada di sini terlebih dahulu? Kita membutuhkan ketenangan saat ini, kehadiran wanita itu membuat kita tidak nyaman." Pinta Tuan Hector.
"Iya, Pa. Vanthe akan menyuruhnya pulang. Papa dan Mama tunggu di sini, jangan berpikiran yang tidak-tidak, semua baik-baik saja." Ujar Belva sebelum keluar dari kamar.
Istri sah dari Satya itu keluar kamar berniat untuk mengusir Siwi dari rumahnya. Ternyata benar wanita itu masih berada di ruang tamu duduk manis seperti nyinyao rumah sembari memainkan ponselnya.
Dalam hati Belva begitu kesla melihat wanita itu. Tidak tahu diri dan tidak beretika dalam bertamu. Ingin sekali rasanya Belva mencakar dan menampar wajah Siwi hingga puas. Tapi mengingat dirinya yang tengah hamil muda maka Belva masih memikirkan dirinya sendiri dan keselamatan anaknya dalam kandungan.
"Tante, silahkan pergi dari rumah ini. Kami tidak menerima tamu untuk saat ini." Ujar Belva masih dengan nada yang sopan dan biasa karena menahan diri agar tetap tenang tanpa emosi.
Siwi langsung mengalihkan pandangannya pada Belva. Menatap sinis pada istri sah Satya.
"Ini rumah calon suamiku sebentar lagi aku juga akan tinggal di sini. Tidak ada hak kamu mengusirku." Ujar Siwi yang masih duduk santai di sofa.
"Seharusnya kamu yang tahu diri, segera urus perceraianmu dengan mas Satya karena sudah terbukti aku mengandung anaknya." Imbuh Siwi.
Belva menarik napas dalam, mendengar ucapan Siwi ada rasa sesak membayangkan anak itu adalah anak kandung sang suami.
"Jangan menguji kesabaran saya, Tante. Oke, jika memang anda berhak di rumah ini, itu bukan sekarang waktunya. Saya masih istri sah dari mas Satya. Pernikahan saya bahkan masih sah di mata hukum negara dan agama, sedangkan anda?"
"Saya minta pergilah dari rumah ini, pelaporan atas tuduhan membuat kegaduhan serta ketidak-nyamanan di rumah orang lain masih bisa di terima oleh pihak kepolisian saya rasa. Jadi, jangan menunggu kesabaran saya habis dan membuat keamanan di sini menyeret anda keluar." Imbuh Belva.
Siwi langsung berdiri menatap tajam pada Belva. Ia kesal dan geram dengan sikap Belva terhadap dirinya. Merasa mengandung anak dari Satya membuat Siwi merasa berhak berkunjung ke rumah Satya. Tak terima jika dirinya diusir oleh Belva yang menurut pemikiran Siwi pun hanya menumpang di rumah Satya.
"Berani kamu mengusirku dan hendak melaporkan ku ke polisi? Mas Satya akan lebih membelaku jika itu terjadi." Siwi masih kekeuh berani dan percaya diri.
Belva mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya erat. Emosinya sudah tak tertahankan lagi mendengar ucapan serta tingkah Siwi. Wanita yang mengaku mengandung anak dari suaminya itu selalu saja bersembunyi dibawa nama Satya suami sah dari Belva.
Menghirup oksigen dalam-dalam lantas Belva mengeluarkan suaranya lebih tinggi.
"Keluar!!! Wanita tidak tahu diri!! Saya bilang keluar dari rumah saya!!" Ucap Belva dengan suara menggema di seluruh ruangan.
Para asisten rumah tangga mulai bermunculan dari arah dapur karena mendengar teriakan sang majikan yang selama ini tidak pernah bernada tinggi seperti itu.
Tak hanya asisten rumah tangga tapi Pak Jajak dan Pak Amin yang sudah kembali ke pos satpam pun kembali masuk saat mendengar suara gaduh dari dalam rumah majikannya.
Siwi pun cukup terkejut dengan suara lantang dan tinggi yang keluar dari bibir Belva. Ujung matanya melirik ada beberapa orang yang menatap ke arah nya siapa lagi jika bukan para asisten rumah tangga Satya.
"Neng, ada apa?" Tanya Pak Jajak.
__ADS_1
"Bawa perempuan ini keluar dari rumah ini, Pak. Kami sedang tidak menerima tamu." Ucap Belva.
Pak Jajak mengangguk, pria paruh baya itu bersiap mendekati Siwi untuk membawa tamu yang diusir oleh Belva.
"Mari Nona anda bisa keluar dari rumah ini." Ujar Pak Jajak.
"Tidak bisa! Kalian tidak bisa mengusir saya." Tolak Siwi yang masih kekeuh.
Para asisten rumah tangga Satya yang memang lebih banyak para perempuan itu pun berbisik setelah mendengarkan penolakan dari Siwi.
"Dia itu sudah diusir sejak tadi oleh Nyonya Belva tapi tetap saja tidak mau pergi." Ujar Siti pada yang lain.
"Iya sepertinya tadi juga aku mendengarnya. Lagi pula dia siapa sih? Berani sekali sudah diusir Tuan rumah tapi tidak mau pergi." Tanya Fitri.
"Dia mengaku calon istri Tuan Satya dan katanya dia sedang mengandung anak dari Tuan." Jawab Siti.
"Masa sih? Tuan Satya bukankah dia pria yang setia? Waktu Tuti mencoba menggoda Tuan Satya saja ditolak mentah-mentah. Tuan kan cuek orangnya." Ujar Inah.
Rupanya waktu dihari terakhir Tuti berada di rumah besar Satya sebelum dipecat, Inah sempat mencuri dengar dan mengintip apa yang dilakukan Tuti pada Satya demi bertahan di rumah besar Satya.
"Mbok, tidak percaya kalau wanita itu mengandung anak Tuan Satya. Beberapa tahun yang lalu juga ada wanita yang datang mengaku telah dihamili oleh Tuan Satya." Ucap Mbok Yati dengan suara cukup keras bahkan Siwi menoleh pada wanita paruh baya itu.
"Heh!! Apa maksudmu berkata seperti itu? Kamu mau menuduhku hanya mengaku-ngaku saja huh?!!" Ucap Siwi dengan nada emosi dan kesal.
"Tidak bisakah anda bersikap sopan, Tante?" Tegur Belva.
"Nona, lebih baik anda pergi saja dari sini. Anda ini tidak tahu diri sekali, sudah di usir masih saja tetap di sini." Ujar Siti.
"Daripada membuat keributan di sini, mengganggu aktivitas kami saja. Pergi saja, Nona. Anda masih punya rumah kan? Bukan gelandangan yang takut tak memiliki tenpat tinggal ketika di usir." Ujar Inah dengan nada nylekit.
"Kita usir ramai-ramai saja, orang seperti itu jika tidak di serang dia tidak akan pergi." Ujar Fitri.
Mbok Yati yang melihat tingkah para anak buahnya menjadi tergerak karena geregetan. Ia pun mengarahkan anak buahnya untuk membantu Belva mengusir Siwi dari rumah Satya.
"Pergi!! Pergi!! Hush... Hush..." Ujar Mbok Yati.
"Iya pergi dari sini atau kita keroyok ramai-ramai di sini. Jadi tamu kok tidak tahu diri." Ujar Siti sembari mengeluarkan kekesalannya akibat Siwi yang memarahi dirinya tadi.
Alat pembersih rumah itu mereka acungkan pada Siwi membuat wanita itu kembali membulatkan matanya. Tidak lucu jika dirinya sampai dikeroyok menggunakan alat-alat pembersih rumah seperti itu.
Para asisten rumah tangga itu terus maju mendekat Siwi, wanita itu mulai panik menoleh ke kanan dan ke kiri menatap Belva maupun Pak Jajak yang tampak diam saja justru terkesan membiarkan aksi bar-bar itu terjadi. Tak ingin babak belur konyol di rumah Satya akhirnya Siwi memilih kabur dengan berjalan cepat keluar dari rumah Satya.
Bersamaan dengan itu ponsel yang ada di genggaman bemva berdering. Nomor Jordi menghubungi Belva, tak biasanya asisten sang suami menghubungi dirinya.
"Om Jordi? Tumben." Gumam Belva.
Tiba-tiba perasaan Belva berubah menjadi tidak enak. Perasaan cemas kembali menyerang dirinya. Kenapa Jordi yang tidak biasa menghubungi nya tiba-tiba menghubungi.
"Hallo, om ada apa?" Tanya Belva saat mengangkat panggilan.
"Hallo, Nyonya. Maaf mengganggu anda, Tuan Satya dan Nona Kaila berada di rumah sakit."
Mata Belva terbuka lebar, tangannya menutup mulutnya yang juga ikut terbuka mendengar informasi dari asisten sang suami.
"Apa? Rumah sakit? Apa yang terjadi pada mereka, om?" Pekik Belva panik.
__ADS_1
Belva tak lagi menggubris keramaian yang terjadi di ruang tamunya. Fokusnya saat ini tertuju pada pikirnya mengenai suami dan putrinya.
"Mereka terluka dan harus di rawat, anda bisa datang ke rumah sakit Mitra Medika."
"Oke... Oke... Aku ke sana sekarang." Ucap Belva dengan nada panik.
Tanpa menunggu balasan dari Jordi, Belva langsung memutuskan panggilan telepon secara sepihak.
Belva langsung berlari menuju tangga tanpa terpikirkan bahwa ada lift yang lebih cepat. Ia bahkan sedikit melupakan kondisinya yang tengah hamil. Panik memang selalu tak bisa mengendalikan kondisi sekitar.
"Neng, jangan lari-lari." Teriak Mbok Yati.
Belva tak lagi menggubris pekikan dari Mbok Yati. Melihat dan sedikit mendengar kepanikan dari nada Belva, Mbok Yati segera menyusul Belva yang naik ke atas menyusuri tangga.
"Haduh, ada apa ini sebenarnya? Kenapa hari ini sangat rumit sekali. Biasanya rumah ini tampak tenang." Gumam Mbok Yati.
Wanita itu ngos-ngosan saat menyusul Belva, ia khawatir dengan keadaan istri majikannya itu. Mbok Yati mengikut hingga depan kamar Belva yang ada di lantai tiga, menunggu pemilik kamar keluar dari kamar.
"Neng, ada apa? Kenapa panik seperti ini?" Tanya Mbok Yati langsung saat Belva keluar kamar.
"Mbok, Kaila dan mas Satya sekarang berada di rumah sakit Mitra Medika. Aku harus ke sana sekarang melihat keadaan mereka."
"Tapi Pak Subagyo sedang keluar, Neng. Apa tidak sebaiknya menunggu Pak Subagyo datang saja dulu baru ke sana."
"Tidak, kita tidak tahu berapa lama Pak Subagyo akan sampai di rumah. Biar aku pakai taksi saja ke sana."
"Jangan lari-lari, gunakan lift saja Neng." Mbok Yati mengingatkan.
Keduanya masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai satu. Mbok Yati melihat ada Pak Amin dan Pak Jajak yang masih berada di dalam ruang tamu.
"Pak Jajak atau Pak Amin salah satu dari kalian antar neng Belva ke rumah sakit sekarang." Titah Mbok Yati.
Kepala asisten rumah tangga Satya tak tega melihat majikannya yang tengah hamil harus pergi menggunakan taksi sendiri menuju rumah sakit.
"Saya saja, Mbok." Pak Amin mengajukan diri karena merasa lebih muda dari Pak Jajak sehingga dia merasa lebih sigap dalam bergerak.
Mbok Yati mengangguk, Belva tak perduli lagi dengan orang-orang rumahnya. Pikirannya hanya tertuju agar dirinya cepat sampai di rumah sakit.
"Nyonya, mari saya antar." Ujar Pak Amin.
"Ya sudah ayo cepat, Pak." Ujar Belva.
Kabar dari Jordi membuat ibu hamil itu menjadi panik dan cemas. Kaila, putrinya tak sanggup jika terjadi sesuatu hal yang fatal pada putrinya. Dua anak kembarnya itu seakan sudah menjadi nadi, hidup dan mati bagi Belva. Ia sanggup kehilangan apapun asalkan jangan suami terutama anak-anaknya.
Siwi? Belva tak perduli lagi apakah wanita itu sudah benar-benar pergi atau masih berada di area rumahnya. Dalam hati berdoa agar semua tetap baik-baik saja, ia pun sedikit merasa bersyukur karena putrinya dapat segera ditemukan. Meski ia tak tahu bagaimana kondisi pasti putrinya.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang.
Terima kasih masih setia support, terima kasih buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian ππ
Semoga kalian yang masih setia sampai saat ini lancar rejeki, sehat selalu dan bahagia selalu.
__ADS_1
Semoga cerita receh author masih bisa menghibur kalian yes βΊοΈπ