Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 60. Fakta Baru Lagi


__ADS_3

Kemalangan tak pernah bisa diduga, jika harus memilih maka sudah pasti setiap manusia tidak akan memilih mendapatkan kemalangan. Ujian lagi-lagi selalu datang menghampiri untuk memperkuat diri meski saat hal itu tiba manusia selalu menunjukkan kerapuhannya.


Tanda manusia bukanlah makhluk sempurna yang bisa berdiri tegak meski diciptakan lebih tinggi derajatnya dari makhluk lain yang diciptakan sang pemberi hidup. Tanpa sang pemberi hidup manusia memang tak pernah ada apa-apanya. Maka, gantungkan lah segala harapan mu pada-Nya dalam setiap untaian doa mu.


Belva selalu berharap dalam setiap ujian hidupnya tak akan berakhir dengan sebuah penyesalan. Sekuat tenaga dalam menghadapi masalah yang melibatkan dua buah hatinya, wanita itu tak akan membiarkan mereka merasakan kepahitan yang sama seperti dirinya. Hanya kebahagiaan dan kesenangan yang selalu Belva usahakan untuk keduanya.


Buah hatinya yang masih kecil itu cara kehadirannya memang berbeda. Tapi Belva sama sekali tak pernah menolak mereka tumbuh dalam rahimnya meski rasa tak percaya itu pernah ada saat awal pertama mengetahui kehadiran mereka. Seiring berjalanya waktu wanita cantik itu terus berusaha menjaga dan melindungi mereka dengan begitu kuat. Anak-anak itu pun begitu kuat menempel padanya sejak dalam rahimnya.


Doa dan harapan agar Duo Kay tumbuh menjadi anak-anak yang baik selalu Belva panjatkan. Beruntung dan bersyukur meski memiliki kekurangan dalam kehidupan mereka, anak-anak itu mendapatkan anugerah yang luar biasa lebih cerdas dari anak-anak yang lain. Dan segala keberuntungan yang selalu didapatkan oleh Duo Kay selama ini tak pernah luput dari doa Belva sebagai seorang ibu.


Seperti saat ini, Belva begitu kuat mendoakan putrinya agar tetap baik-baik saja di dalam ruangan penuh alat medis. Meski sudah mendapatkan stock darah untuk gadis kecil itu tapi nyatanya anak itu masih belum bisa sadar. Tak semudah itu dalam penanganan medis, semua butuh proses yang memakan waktu.


"Bagaimana dokter perkembangan putri saya ?" Tanya Belva.


"Kita berdoa saja, pasien masih belum sadar Nyonya. Untungnya pasien mendapatkan transfusi darah di waktu yang tepat. Kita masih harus menunggu bagaimana reaksi pasien nanti. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin."


"Apa saya sudah bisa menjenguk putri saya ?"


"Maaf untuk saat ini belum diperbolehkan Nyonya. Pasien masih dalam tahap pemantauan kami. Di dalam masih ada beberapa team yang menangani nya."


Belva mengangguk. "Terima kasih dokter."


"Sama-sama saya permisi."


Belva duduk kembali pada kursinya. Dipandanginya wajah anak lelakinya yang sebagian tubuhnya terbalut perban dan obat merah. Anak itu sedari tadi diam tak bicara seakan mengerti keadaan yang sedang terjadi.


"Bella, aku minta tolong sebaiknya bawa Kaili pulang ke rumah saja."


"Tapi kak Vanthe bagaimana ?"


"Aku tak apa. Kasihan Kaili jika harus berada di rumah sakit. Disini banyak penyakit Bella."


"Baiklah, kami pulang dulu nanti kami akan datang untuk membawakan baju ganti untuk mu."


Bella terpaksa harus pulang, apa yang dikatakan Belva ada benarnya. Saat ini masih ada Kaili yang juga harus mereka jaga. Rumah sakit tak nyaman dan tak baik untuk anak-anak yang sehat. Meski memang Kaili tubuhnya lecet-lecet tapi bila lama-lama di rumah sakit pasti juga rentan terhadap penyakit yang lain.


Dengan baju yang masih sama Belva tetap menunggu putrinya. Kotor dan bau anyir menempel pun sudah tak bisa dirasakannya. Yang terpenting putrinya saat ini. Pikirannya hanya fokus pada Kaila seorang.


Disenderkan tubuhnya pada sandaran kursi tunggu dan dipejamkan matanya. Lelah dan kacau pikirannya, hidupnya silih berganti dengan masalah. Bagaimana cerita dua buah hatinya bisa kecelakaan pun dirinya tak mengerti dengan jelas. Semua terjadi dengan begitu cepatnya.


"Pria itu siapa ya ? Dia yang menolong Kaila dan Kaili." Tanya Belva dalam hati saat dirinya baru menyadari jika dua buah hatinya sempat ditolong oleh seorang pria.


"Astaga... Bukankah dia juga terluka saat itu ?"


Pikiran yang masih sibuk itu dan mata yang masih terpejam tiba-tiba terbuka kala suara deheman membuyarkan fokusnya. Belva menolehkan arah pandangannya.


"Maaf mengganggu bagaimana kondisi putri anda ?"


"Maaf anda siapa ?" Tanya Belva mengkerutkan keningnya. Ia tak asing dengan wajah itu dan batu sadar jika pria itu adalah pria yang membantunya memanggil ambulan saat kecelakaan.


"Ah maaf anda yang memanggil ambulan ?" Tanya Belva.


"Betul Nona. Bagaimana keadaan putri anda ?"


"Masih belum ada perkembangan Tuan." Jawab Belva.


"Kita berdoa saja. Saya turut prihatin atas kejadian ini. Tapi bagaimana bisa mereka berada di jalanan, maaf jika pertanyaan saya mengganggu anda."


"Saya tidak tahu karena kejadian itu begitu cepat. Tapi untung saja ada seseorang yang mau menolong anak-anak saya."


"Itu sudah menjadi tugas kami Nona."


"Maksud anda ?" Tanya Belva.


"Maaf... Kami memang ditugaskan Tuan Roichi untuk menjaga anda dan anak-anak anda selama beliau pergi."


Pria itu adalah bodyguard yang diutus Roichi untuk menjaga Belva dan Duo Kay maupun Bella. Dan ternyata yang mencoba melindungi Kaili dan Kaila adalah salah satu bodyguard dari Roichi.


"Jadi... Kalian orang-orang dari Om Roi. Bagaimana keadaannya. Apa dia baik-baik saja ? Dia lebih parah dari Kaila putriku." Tanya Belva.


Terjawab sudah pertanyaan dalam benak Belva mengenai siapa yang begitu berani mengorbankan nyawanya demi anak-anaknya.


Pria itu menghela napas dalam ada raut kesedihan dari pria tersebut akan keadaan teman seperjuangannya.


"Dia koma Nona." Suara itu lirih mengatakan kondisi pria yang nekat berkorban nyawa, bekerja secara totalitas.


Belva tertegun, ada rasa bersalah saat mengetahui pria berhati malaikat itu saat ini koma.


"Maaf... Maaf sudah membuatnya koma demi melindungi Kaila." Air mata Belva menetes.


Di dunia ini masih ada manusia yang baik. Ditengah kepahitan hidupnya ia masih bisa bertemu orang-orang baik. Sejak awal hingga detik ini Belva selalu menemukan kebaikan dari setiap orang yang ada disekitarnya baik secara sadar atau tidak.


"Tidak Nona. Anda tak perlu meminta maaf, ini sudah menjadi tugas kami. Maaf jika saya gagal hingga membuat nona kecil terluka."


"Jangan berkata seperti itu. Bahkan rekan kerja anda sampai koma bagaimana bisa anda mengatakan jika kalian gagal."


Belva tak mengerti dengan cara berpikir pria yang ada dihadapannya saat ini. Mereka sudah rela mengorbankan keselamatan mereka sendiri tapi masih bisa merasa gagal dan bersalah padanya.


"Baik Nona kalau begitu saya permisi dulu. Saya harus menjaga teman saya."


"Iya... Nanti jika keadaan Kaila sudah membaik. Saya akan berkunjung." Ucap Belva.


"Terima kasih Nona, tapi anda tak perlu repot-repot."


"Tidak. Sudah jagalah teman anda. Semoga segera sadar." Ucap Belva kembali.


"Sekali lagi terima kasih Nona. Saya permisi."


Pria bertubuh kekar itu pergi meninggalkan Belva sendirian. Menjadi seorang bodyguard memang sudah menjadi resiko jika nyawa adalah taruhan mereka. Gaji yang diberikan oleh keluarga Hector tak main-main. Sudah pasti mereka yang diambil dari sebuah perusahaan penyedia jasa keamanan yang dengan kualitas dan profesionalitas kerja tinggi tidak akan bekerja secara sembarangan.


Bukti bahwa memang keluarga Hector sangat-sangat menyayangi Belva dan anak-anaknya. Mereka menjaga Belva tanpa sepengetahuan Belva sendiri. Sampai kecelakaan Kaila terjadi baru Belva mengetahui bila mereka dijaga oleh bodyguard. Jika saja sejak awal Belva tahu maka dirinya akan menolak. Merasa itu sangat berlebihan untuk wanita seperti dirinya yang hanya seorang biasa. Tapi lagi-lagi semua tak dipedulikan Roichi, Belva sudah menjadi bagian dari keluarga Hector sekali lagi Roichi menekankan hal itu dalam menjaga dan melindungi Belva serta Duo Kay.


****


Memang benar jika bangkai yang tersimpan rapat itu aromanya akan tetap keluar menembus celah-celah penyimpanan. Sekalipun mayat yang disembunyikan dan menutup rapat jejak itu dengan ditimbun semen sekalipun. Semua itu akan tetap terbongkar pada waktu.


Ingatlah bahwa kita itu adalah manusia. Bak boneka Barbie yang memang sudah ditentukan penciptaannya. Segala sesuatu yang manusia lakukan memang bisa disembunyikan dari manusia yang lain. Tapi terkadang kekhilafan dan bujuk rayu setan mampu menetralkan hati nurani hingga tak lagi bisa merasa, menghilangkan akal sehat serta menumpulkan otak manusia bahwa semua yang manusia lakukan mampu dan selalu disaksikan oleh sang pencipta.


Tidak heran jika ada yang namanya ganjaran atas kebaikan dan ganjaran atas keburukan. Cara sang pencipta untuk membongkar sebuah dosa manusia itu bermacam-macam. Akan ada banyak jalan terutama untuk melindungi hamba-Nya yang selalu teraniaya dari orang jahat.


Jordi masih menunggu Satya di depan ruang tunggu ICU. Dia duduk tenang saat itu, selama ini memang Jordi bukan orang yang grusah-grusuh dalam melakukan segala hal. Justru diamnya Jordi seakan menjadi bom waktu bagi siapa saja yang mencoba menyerang Satya.


Sedikit berbeda dengan Satya, yang sangat cuek terhadap orang-orang yang ada disekitarnya. Tapi jika dirinya mulai menciumi gelagat yang tak menyenangkan dengan beberapa bukti nyata maka dia akan mulai bergerak. Jangan ditanya jika semua sudah diketahui oleh Satya, maka pembalasan Satya akan lebih kejam dari apa yang dia dapatkan dari lawannya.


"Bagaimana Tuan hasil pemeriksaannya ?"


Wajah Satya tampak berbeda, yang tadinya khawatir pada keadaan Alya kini menunjukkan wajah yang datar tapi tersirat kekecewaan.


"Pemeriksaan akan berlanjut." Ucap Satya.


Jordi tersenyum sinis, dengan satu alis menukik tajam. "Mulai ragu ?" Tanya Jordi.


"Kenapa saya seperti menjadi orang bodoh selama ini." Ucap Satya meremas rambutnya.


Jordi menepuk bahu Satya. "Anda bukan orang bodoh Tuan. Selama ini Anda hanya berusah menjalankan amanah dari ibu anda sendiri, toh anda sudah bertanggung jawab dan berusaha mengarahkan mereka tapi mereka sendiri yang tak bisa diatur. Selama ini anda bersikap cuek dan masa bodoh beda hal jika anda begitu perhatian dan mencintai mereka dengan sangat tulus tapi justru dibalas dengan kebohongan dan pengkhianatan. Maka pria itu bisa dikatakan bodoh."


"Alya tidak memiliki golongan darah yang sama denganku dan juga Sonia." Ucap Satya.


"Tidah heran Tuan. Anda sudah tahu bagaimana kelakuan Nyonya Sonia."


"Wanita itu benar-benar tak tahu diri. Bagaimana dengan perintahku kemarin ?"


"Sudah saya kerjakan. Sebagian besar investor sudah menarik investasi mereka dari FF Group." Ucap Jordi.


"Bagus. Jangan sisakan sedikitpun. Bahkan jika perlu semua aset pribadi mereka tersapu habis."


"Tentu Tuan."


Satya begitu marah saat ini, Sonia menghancurkannya berkali-kali dengan kebohongan dan pengkhianatan. Dirinya yang sudah rela mengorbankan hatinya sendiri demi kebahagiaan sang ibu. Berharap pernikahannya dengan Sonia bisa mengubah sedikit isi hatinya tapi nyatanya justru semakin membuat hati itu kosong tak berisi dan tak berasa lagi.


Satya tak pernah berniat menduakan Sonia selama ini, selalu berusaha bertanggung jawab memberikan kebahagiaan pada wanita itu dengan dirinya yang harus tersiksa secara batin. Balasan Sonia sungguh menjatuhkan harga diri Satya sebagai seorang pria mapan.

__ADS_1


Biasanya pria mapan akan bergelimang kesenangan tapi berbeda dengan Satya. Justru banyak harta tapi hatinya kosong, ajaran sang ibu untuk tak pernah mempermainkan wanita selalu dipegang teguh oleh Satya. Meski dirinya harus menyakiti perasaan cinta pertamanya demi kebahagiaan sang ibu yang kala itu telah kritis.


"Bagaimana dengan Nyonya Sonia apakah kita harus mengabarinya Tuan ?" Ujar Jordi menyodorkan paper bag.


"Terserah." Jawab Satya.


Pria itu sudah terlanjur kecewa, sudah tak perduli bagaimana Alya dan Sonia saat ini. Satya lebih memilih beranjak dari ruangan itu dan pergi ke toilet dengan membawa paper bag tersebut.


Hari ini sungguh benar-benar hari yang berat untuk Satya. Semua fakta terbongkar dalam waktu yang bersamaan. Tak membiarkannya bernapas dan berpikir sejenak merenungi satu fakta yang baru saja diketahuinya justru fakta baru lagi yang didapatkannya hari ini.


Usai dari toilet Satya memilih untuk menghampirinya ruangan dimana Kaila sedang mendapatkan perawatan. Percaya tak percaya gadis kecil yang memikat hatinya dengan dua bungkus permen jelly itu nyatanya adalah putri kandungnya.


Langkah yang sedikit ragu, kembali dia langkahkan untuk mendekati Belva. Rasa bersalah masih saja ada dalam hati Satya. Di bingung harus bersikap bagaimana pada Belva.


"Bagaimana keadaannya ?" Tanya Satya.


Suara bariton yang berhasil membuat Belva menolehkan arah pandangannya dari menatap lantai rumah sakit.


"Belum tahu." Jawab Belva.


"Apa suamimu sudah tahu ? Dimana dia ?" Tanya Satya.


Kali ini kalimat yang sedikit formal pada Belva itu entah bagaimana Satya tanggalkan. Dia merasa saat ini tengah berbicara pada pembantu mudanya yang dulu. Meski mungkin nanti jika dihadapkan Roichi pria itu akan kembali menggunakan kalimat formal pada Belva.


Pertanyaan Satya tak dijawab oleh Belva. Dalam hati wanita itu bergumam kesal dan marah. Suami apa ? Bahkan sampai saat ini dirinya masih belum merasakan yang namanya sehari menjadi ratu dalam kursi pelaminan.


"Tuan Roichi, seharusnya ada disini saat ini." Ucap Satya. Sebagian hatinya merasakan keanehan saat dirinya sendiri mengucapkan kalimat itu.


"Dia kerja." Jawab Belva singkat.


"Tak perduli jika anaknya tengah sakit ?" Tanya Satya dingin dan datar.


Belva menatap tajam pada Satya. "Apa hak anda berkata seperti itu ? Apa karena sudah mendonorkan darah untuk putriku Anda mulai seenaknya berbicara ?"


Berani saat ini Belva berbicara lancang pada Satya. Status yang tak sama lagi jika dirinya bukanlah pembantu dari Satya ditambah kisah hidup yang pedih akibat ulah keluarga Satya membuatnya kesal dan marah.


Satya menatap Belva, benar-benar berbeda dengan Belva yang dulu. Polos dan sangat takut padanya.


"Ekhm... Bukan seperti itu. Saya... Saya hanya kasihan pada gadis kecil yang cantik itu."


"Anda tak perlu mengasihani putriku. Terima kasih sudah menolong kami. Dan kenapa anda masih ada disini ?"


"Putriku juga sakit disini." Ucap Satya.


Deg...


Putri ? Putri yang mana maksud Satya ? Belva lagi-lagi terdiam dengan semua yang berhubungan dengan Satya. Tak bisa dipungkiri kehidupannya akan selalu melekat pada seorang Satya. Bila saja pria itu bukan ayah kandung putrinya tentu tak akan membuat Belva merasa terikat dengan semua yang berhubungan dengan Satya.


"O-oh..." Belva hanya ber-oh ria saja. Tak bisa menjawab selain satu kata itu.


Dirinya sudah memutuskan untuk berpura-pura tak mengenal Satya saat ini. Tentu tak mungkin dirinya banyak berbicara pada pria itu, jika tidak seperti itu takut ia akan keceplosan berbicara seolah ia paham benar dengan keluarga Satya.


"Jangan bodoh Belva. Tentu Tuan Satya tak tahu jika kailia adalah putrinya. Pasti Alya yang sedang sakit saat ini." Batin Belva. Dirinya sudah mulai deg-degan tapi sebisa mungkin untuk menenangkannya.


Satya terdiam dirinya bingung harus membuka pembicaraan seperti apa lagi. Sikap Belva padanya sangat berbeda saat ini wanita itu lebih ketus dan tak menunjukkan keramahan padanya seperti dulu saat menjadi asisten rumah tangganya. Dulu meski Satya kerap bersikap cuek pada Belva bahkan jarang sekali menatap wanita itu tapi Belva tetap bersikap ramah padanya.


Belva memalingkan wajah dan pandangan matanya ke arah berlainan dengan posisi duduk Satya yang berada di sampingnya dengan jarak dua kursi. Ia tak ingin terlibat pembicaraan lebih lanjut dengan Satya. Justru kini hatinya sedikit khawatir jika Sonia melihat dirinya bersama Satya. Pasti akan ada pemikiran lain dari Sonia terhadap dirinya. Begitulah yang ada dipikiran Belva saat ini.


Ia tak tahu jika keadaannya sudah berbeda, Sonia sudah tak berhak ikut campur atas kehidupan Satya saat ini karena mereka sudah bercerai.


Tak lama kemudian Jordi datang dengan membawa paper bag. Atas perintah Satya untuk mencarikan baju ganti bagi Belva. Tentu hal itu tanpa sepengetahuan dari Belva. Melihat sikap Belva yang seperti itu padanya dan ingatan beberapa hari yang lalu saat menawarkan tumpangan mobil sangat terlihat jelas jika wanita itu hanya terpaksa menerima tawarannya.


"Nona... Ini untuk anda." Ucap Jordi yang datang tiba-tiba dengan menyodorkan paper bag.


Belva hanya menatap barang itu tangannya sama sekali tak bergerak untuk mengambil barang tersebut.


"Ambilah dan ganti pakaian anda. Ini dari Nona Bella. Dia tak sempat membawanya kemari karena terburu-buru. Bukankah putra anda hanya bersamanya." Ucap Jordi.


Mendengar nama Bella disebut oleh Jordi baru tangannya mau terulur untuk mengambil paper bag tersebut. Satya sedikit mengangkat bibirnya melihat respon dari Belva.


"Saya baru tahu, pasti kamu membenci saya karena sudah menghancurkan masa depanmu dulu." Batin Satya.


"Terima kasih." Ucap Belva.


Jordi mengangguk, Belva langsung berlalu untuk mengganti bajunya di toilet. Saat dibuka paper bag tersebut terdapat peralatan mandi lengkap dengan handuk kecil dan juga pakaian gantinya.


"Bella membawakan ini untukku ? Tapi bisa saja aku tak memiliki handuk kecil mungkin dia membeli di supermarket terlebih dahulu." Gumam Belva.


Satya dan Jordi masih berada di posisi mereka saat ini yakni di depan ruangan Kaila.


"Pasti dia sangat membenci anda Tuan, karena telah menghancurkan masa depannya. Sampai-sampai anda harus menyuruh saya untuk berbohong."


"Sepertinya begitu. Sikapnya yang dulu dengan sekarang sangat berbeda jauh." Ucap Satya.


Belva tak mau berlama-lama di toilet karena harus menunggu keadaan putrinya. Saat tiba di ruang tunggu ia masih melihat dua pria itu masih berada disana.


"Anda masih di sini Tuan Jordi ?" Tanya Belva.


"Ya... Bos saya masih disini." Ucap Jordi melirik Satya yang duduk di kursi seberangnya. Belva hanya mengangguk saja tak lagi membuka suara.


Toh mereka juga jarang berbicara, jadi tak ada topik yang bisa dibahas menurut Belva. Ponselnya berdering, satu panggilan masuk dari Roichi.


"Hallo." Jawab Belva.


"Hallo Vanthe... Bagaimana keadaan Kaila ?"


"Kaila ? Kenapa bertanya seperti itu ?"


"Oh ayolah Van, saya tahu Kaila saat ini sedang berada di rumah sakit. Dia kecelakaan dan anak buahku yang sempat membantunya."


Belva menghembuskan napas. Benar juga, mana mungkin bodyguard itu tak memberikan kabar pada pria itu terlebih ini masalah yang serius.


"Masih belum sadar."


"Apakah separah itu ?" Tanya Roichi.


"Ya... Anak buahmu bahkan sampai koma untuk melindungi Kaila." Ucap Belva lirih.


"Ya... Xander mengabariku seperti itu. Besok saya pulang kesana."


"Tidak usah, bukankah pekerjaan di Jerman masih belum selesai ? Selesaikan dulu pekerjaan disana." Ucap Belva.


"Tidak bisa... Bagaimana dengan Kaila. Atau biar Tuan dan Nyonya Hector saja yang ke sana." Ucap Roichi.


"Tidak !!" Ucap Belva tegas.


Nada tegas Belva menjadi pusat perhatian Satya dan Jordi yang sedang mendengarkan Belva bercakap-cakap dengan seseorang yang ada di balik ponselnya tapi wanita itu tak sadar jika diperhatiin.


"Jangan... Jangan sampai Mama dan Papa tahu. Pikirkan kesehatan mereka. Awas ya jangan kabari mereka."


"Kamu mengancam ku Vanthe ?" Tanya Roichi dengan nada tak kalah tegas.


"Eh... Tidak bukan begitu maksud ku. Terserah anda yang mulia Roichi lakukan sesukamu. Pokoknya jangan kabari Mama dan Papa atas kecelakaan ini." Ucap Belva dengan nada kesal. Roichi selalu saja tak bisa dibantah yang terkadang membuatnya kesal.


"Kamu kesal padaku ?" Tanya Roichi.


"Tidak."


"Kaili dimana ?" Tanya Roichi


"Kaili di rumah bersama Bella. Tak baik jika berada di rumah sakit lama-lama."


"Bagus. Baiklah jaga diri mu besok saya akan pulang."


"Hemm. Ya sudah kututup teleponnya."


Belva menutup panggilan telepon tersebut. Saat memperhatikan sekeliling. Dirinya baru menyadari jika diperhatikan oleh dua pria yang sedari tadi masih saja berada di situ.


"Ada apa ?" Tanya Belva karena merasa diperhatikan.


"Ah tidak Nona." Jawab Jordi. Belva menghendikan bahunya cuek.

__ADS_1


Satya pun langsung mengalihkan arah pandangnya.


"Tuan Roichi ternyata. Sepertinya memang pria itu sangat menyayangi mereka." Batin Satya. Kembali hatinya merasa aneh kala mengingat ada pria lain yang begitu perduli pada Belva dan anaknya. Anak yang baru saja diketahuinya.


****


Hari berganti, Belva masih berada di rumah sakit menjaga anaknya. Satya dan Roichi kembali pulang ke rumah masing-masing. Sejujurnya Satya tak tega jika harus meninggalkan Belva sendirian tapi apa mau dikata hubungan mereka tak dekat. Satya hanya memerintahkan para bodyguardnya untuk berjaga di sekitar Belva.


Mengenai Alya, Satya tak terlalu memperdulikannya. Toh Jordi sudah menghubungi Sonia. Perkara wanita itu mau menjaga putrinya atau tidak Satya tak mau tahu. Bila terlanjur kecewa Satya tak akan mau mendekat lagi.


Hari ini Satya masih menyempatkan diri untuk datang ke kantor sebentar lalu datang ke rumah sakit. Masih ada urusan yang dia selesaikan di rumah sakit itu.


Bersama Jordi, Satya kembali datang ke rumah sakit Mitra Medika. Tujuan utamanya adalah ruangan Kaila. Saat sampai di ruangan tersebut kosong tak ada siapapun, entah Belva berada di mana Satya tak tahu.


Pria itu memutuskan untuk beralih menuju ruangan Alya yakni di ICU. Di kursi tunggu ada Sonia di sana tapi Satya memilih tak menyapa Sonia. Seakan tak pernah mengenal wanita itu, sudah terlalu banyak kesalahan yang Satya anggap fatal yang Sonia lakukan.


Malas berhadapan dengan Sonia, pria itu melanjutkan tujuannya yakni ke ruangan dokter. Sonia pun tak menyapa Satya saat itu, rasa kesalnya terhadap Satya masih ada. Tapi wanita itu masih tak menyadari apa yang saat ini Satya lakukan.


"Bagaimana dokter. Apakah sudah bisa saya lihat hasilnya ?" Tanya Satya.


"Ini Tuan. Silahkan anda baca dan lihat hasilnya."


Amplop berlogo rumah sakit sama seperti yang diberikan oleh Jordi diterima oleh Satya. Yaa... Satya mengajukan pemeriksaan tes DNA antara dirinya dan juga Alya. Mengetahui golongan darah Alya yang berbeda dengan dirinya dan juga berbeda dengan Sonia membuatnya curiga. Jika saja golongan darah Alya sama dengan Sonia maka dirinya tak akan curiga seperti ini.


Hasilnya ? Satya tak terlalu terkejut ia cenderung biasa saja karena sudah bisa ditebak. Dia hanya memejamkan matanya sejenak dan menghela napasnya.


Tak ada lagi yang mau dilakukan oleh Satya saat ini hanya menunggu Alya segera sadar. Dirinya dan Sonia selaku ibu Alya sudah bercerai tak ada tanggung jawab lagi dirinya atas kehidupan Alya.


"Terima kasih dokter. Saya permisi." Ucap Satya.


"Permisi dokter." Ucap Jordi.


"Silahkan Tuan." Jawab dokter.


Satya dan Jordi keluar dari ruangan dokter melewati ruangan Alya. Tak ada niat untuk berhenti kali ini. Selesai sudah semuanya tak ada hubungan keluarga apapun antara dirinya dan juga Sonia maupun Alya.


"Satya !" Panggil Sonia. Tapi Satya tak bergeming.


Sonia mencekal lengan Satya. "Satya berhenti. Apa yang kamu lakukan ?"


Satya melepaskan cekalan tangan Sonia dengan kasar.


"Apa ?" Tanya Satya tak paham.


"Satya, harusnya kamu ikut menjaga Alya saat ini. Kenapa seperti tak terjadi apapun pada putrimu." Ucap Sonia.


"Bukankah sudah ada ibunya yang menjaga ?" Ucap Satya.


"Yaa... Tapi kamu Daddy nya. Meskipun kamu selalu mengabaikan Alya setidaknya saat dia sakit tunjukkan rasa perhatian mu padanya."


"Memang sudah seharusnya bukan ? Jika aku mengabaikan putri mu." Satya tampak tenang.


"Apa maksudmu Satya. Kamu tak bisa mengabaikan Alya !." Ucap Sonia marah.


"Mengapa tak bisa ? Aku bukan Bapaknya."


Jedeeer...


Sonia terkejut, satu lagi kebohongannya yang terbongkar. Wanita itu tak sadar jika saat ini mereka berada di rumah sakit, terlebih Alya lah yang sakit bisa dengan mudah Satya mengetahui kebenarannya.


"Dua puluh satu tahun kamu menipuku dengan mengatakan Alya adalah anakku. Yaa... Anggap saja kamu tak menipuku dia memang anakku karena aku menikahi ibunya. Tapi kini kita tak ada lagi hubungan apapun. Alya bukan lagi anakku dan bukan tanggung jawabku."


"Satya... Maaf... Maafkan aku. Aku tak bermaksud menipumu. Aku..."


"Tapi kamu memang sudah menipuku." Potong Satya.


"Tapi Satya, dia tumbuh bersamamu. Bahkan dia tak tahu akan kebenaran ini."


"Dia hanya tumbuh di sekitarku. Tapi tak selalu bersamaku. Dia lebih mendengarkan didikan mu daripada didikan ku."


"Perkara tahu atau tidak itu urusanmu bukan urusanku. Urusanku masih banyak yang lebih penting daripada kalian." Imbuh Satya.


Bagi Satya kini Sonia dan Alya tak penting lagi. Jika mereka tak mengusik dirinya, maka dia tak akan mengursi kedua wanita itu. Satya berlalu tanpa beban lagi, kini dirinya hanya akan fokus pada masalah pribadinya dengan Belva dan juga anak-anak yang dinyatakan sebagai anak kandungnya.


Tidak ada kemarahan yang meluap-luap dari Satya pada Sonia dan juga Alya. Menurutnya tidak penting lagi toh sudah terjadi dan kenyataan tak bisa diubah lagi. Kini yang penting dirinya tak mau berhubungan dengan mereka lagi. Bahkan saat sadar nanti Satya akan menuntut Alya atas tindakan percobaan pembunuhan yang terjadi pada Kaila dan Kaili.


"Hhaaahh... Sialan. Kenapa aku sampai ceroboh tak memikirkan hal ini."


"Jika sudah seperti ini. Sudah pasti Alya akan di depak dari rumah Satya. Tidak ada lagi yang bisa aku manfaatkan dari Alya."


Sonia mengigit bibir bawahnya karena kesal. Ia harus memikirkan cara agar tetap bisa hidup enak sama seperti saat bersama Satya dulu. Semua fasilitasnya dari Satya sudah benar-benar ditarik oleh pria itu. Tabungan ? Sonia memang memiliki tabungan tapi apa bisa tabungannya yang tak seberapa itu mencukupi kebutuhan hidupnya yang tinggi.


Sonia wanita sosialita yang memiliki perkumpulan dengan orang-orang dari kalangan high class. Apa jadinya nanti jika mereka tahu Sonia sudah tak lagi menjadi istri Satya dan hidup jatuh miskin. Pasti harga dirinya akan terjun bebas tanpa tameng.


Faris ? Sudah pasti pria itu kalah jauh dari Satya. Entah Sonia masih bisa hidup dengan seperti saat ini atau tidak nanti saat bersama Faris.


****


Saat Satya menghampiri ruangan Kaila, ternyata sudah ada Belva dan Roichi. Cepat sekali Roichi sampai di Indonesia kembali, saat melakukan panggilan telepon dengan Belva, pria itu menggunakan fasilitas dari keluarga Hector untuk melakukan penerbangan dari Jerman ke Indonesia. Roichi menggunakan helikopter untuk terbang ke Indonesia.


Atas perintah Roichi, semua pegawai yang menghandle helicopter diperintahkannya untuk tak memberitahukan pada Tuan Hector yang sedang berada di Paris. Memang saat dari Indonesia pria tua itu lebih dulu melakukan perjalanan bisnis ke Jerman baru kembali ke Paris.


Roichi dan Belva duduk di kursi ruang tunggu dengan berdampingan. Bahkan terlihat oleh Satya jika Roichi memeluk bahu Belva. Rasa tak suka itu pasti ada karena memang nyatanya Satya memiliki ketertarikan dengan istri pria itu. Sampai detik ini Satya masih mengira jika Belva adalah istri dari Roichi.


"Permisi." Sapa Satya.


"Tuan Satya ? Anda disini juga ?" Tanya Roichi. Yang langsung berdiri menyalami tangan Satya.


Satya mengangguk. "Ya... Putriku sedang sakit."


Satya dan Jordi mengambil posisi duduk di seberang kursi Roichi dan Belva.


Belva mengalihkan pandangannya, dadanya sesak sejujurnya mendengar Satya mengucapkan itu untuk Alya. Tapi, sebenarnya Satya mengatakannya itu memang ditujukan untuk Kaila yang sedang sakit saat ini.


"Oh pantas tadi saya melihat Nyonya Sonia, istri anda ada di rumah sakit ini." Ucap Roichi.


"Dia sedang menjaga Alya." Ujar Satya.


Semakin percaya Belva jika Satya di rumah sakit hanya untuk menjaga atau menemui Alya. Roichi tampak kembali mengusap bahu Belva, dia tahu jika saat ini Belva sedang tak baik-baik saja.


"Di ruangan mana putri anda di rawat Tuan ?" Tanya Roichi.


Satya tampak masih diam, dalam hati dia enggan mengakui Alya menjadi putrinya lagi karena kenyataannya tidak seperti itu.


"Tuan Roichi. Bukankah Anda berada di luar negeri ?" Tanya Jordi mengalihkan pertanyaan Roichi.


"Ah iya Tuan Jordi. Mendengar Kaila sakit saya langsung melakukan penerbangan ke Indonesia."


"Sepertinya anda sangat menyayangi gadis kecil itu Tuan." Ucap Jordi kembali.


"Tentu saja, dia putri kecilku yang cantik dan pintar. Tentu saya sangat menyayanginya."


"Oh iya saya dengar kalian yang membawa Kaila ke mari. Terima kasih banyak Tuan Satya dan Tuan Jordi." Ucap Roichi.


"Sama-sama. Memang sudah seharusnya kita saling tolong menolong." Ucap Satya.


"Bagaimana perkembangan Kaila ?" Tanya Satya.


Kini dia tak lagi menggunakan kata 'putri anda' lagi pada Roichi. Satya seakan tak rela jika Kaila diakui sebagai anak dari Roichi. Dia masih menahan diri untuk tak membahas hal ini dengan Belva Terlebih ada Roichi saat ini.


"Masih belum ada perkembangan. Kaila masih belum sadar. Sepertinya kecelakaan itu cukup parah." Ujar Roichi.


"Iya memang sedikit parah, tapi kemarin untung saja ada yang melindungi Kaila, memeluknya saat itu." Ucap Satya.


"Kalian berada di tempat kecelakaan kemarin ?" Tanya Roichi.


"Iya saya dan Jordi tak sengaja melewati jalan itu." Ujar Satya berbohong.


"Saya akan mencari seseorang yang mencelakai Kaila agar orang itu mempertanggung jawabkan perbuatannya." Ucap Roichi yang hanya diangguki oleh Satya.


Sebelum Roichi bertindak tentu Satya yang akan bergerak lebih dulu untuk mendapatkan keadilan bagi putrinya Kaila yang sedang terbaring lemah saat ini. Dirinya sudah mengetahui siapa yang melakukan perbuatan fatal ini dan tentu saja sangat siap menjadi saksi atas pelaporan nanti karena dengan mata kepalanya sendiri Satya melihat jika mobil Alya yang menabrak Kaila.

__ADS_1


__ADS_2