
Kejadian pertengkaran antara Satya dan Sonia membuat Alya anak mereka menjadi geram dan kesal. Pikiran nya tertuju pada seseorang yang diduganya menjadi pendukung keretakan rumah tangga kedua orangtuanya.
Alya mendengar semua pembicaraan Satya dan Sonia dimana Satya tak pulang karena tuduhan Sonia jika Satya pergi dengan wanita lain.
Di dalam kamar Alya mondar-mandir memikirkan sesuatu untuk memberikan pelajaran pada seseorang itu.
"Apa jangan-jangan memang dia yang melakukan semua ini ? Ini tidak bisa dibiarkan."
PRANG...!!!
Gelas dibanting hingga percah berhamburan di lantai.
"Dia datang dengan membawa anak nya, iya aku yakin perempuan waktu itu pasti Belva yang sudah kembali dan meminta pertanggungjawaban atas anak nya."
"Aku harus mencari nya, dia harus mendapatkan balasan karena membuat Mommy dan Daddy bertengkar pasti karena ulah nya."
Wajah Alya sudah berubah gelap tidak ada sinar-sinat berseri seperti kebiasaan nya ketika bermalas-malasan dan bermanja-manja. Sorot mata kebencian nya pada Belva kini terbit kembali.
Tangan gadis itu mengepal membangkitkan setiap kebencian, rasa iri pada Belva yang jauh lebih baik daripada diri nya.
Kecantikan Belva, kecerdasan Belva, semua yang ada pada diri Belva merupakan kelebihan yang tidak dimiliki oleh Alya. Gadis itu merasa pembantu nya itu sudah membuat nya buruk dimata kedua orangtuanya. Padahal Belva tak pernah melakukan apapun hingga membuat kedua orangtua Alya menilai buruk Alya.
Sikap dan sifat asli Alya lah yang membuatnya buruk bila dibandingkan sikap dan sifat asli Belva.
Bahkan Belva tak pernah memiliki niat sama sekali untuk mencari perhatian Tuan dan Nyonya nya dulu. Semua yang dilakukan Belva murni dari dalam hati nya, bekerja keras dan berusaha semampunya membalas kebaikan orang tua Alya yang mau menampung dengan mengijinkan nya bekerja membantu Budhe Rohimah dan membantu kehidupan nya dalam bersekolah meski tak sepenuhnya Sonia dan Satya yang membiayai sekolah nya karena Belva juga mendapatkan beasiswa prestasi dari sekolahnya dulu.
Budhe Rohimah yang tadi mendengar suara benda jatuh pun dengan cepat menghampiri kamar Alya. Berniat untuk bertanya apa yang terjadi tapi niat nya terhenti saat mendengar Alya bermonolog dengan membawa nama Belva.
Rasa takut dan khawatir menyelimuti hati Budhe Rohimah. Takut jika keponakan dan cucu nya nanti menjadi korban kejahatan majikan nya sendiri.
"Aku harus bertemu dengan Belva, jangan sampai Non Alya bertemu dengan mereka." Gumam Budhe Rohimah dalam hati.
Budhe Rohimah memutuskan untuk pergi dari depan kamar Alya. Menuju kamar nya, gerak gerik Budhe Rohimah mengawasi sekitar dalam rumah. Dirasa sudah aman budhe Rohimah masuk ke kamar dan menghubungi Belva.
Beberapa waktu lalu saat bertemu dengan Belva di pasar, Belva meninggalkan nomor kontak nya untuk Budhe Rohimah. Nomor itu memang berguna untuk mereka saling berkomunikasi.
Budhe Rohimah meminta untuk bertemu dengan Belva di taman dekat klinik waktu lalu.
Belva calling ....
"Hallo Budhe."
"Nduk... Hallo... Hari ini apa kamu sibuk ?"
"Hari ini aku cukup sibuk Budhe, ada apa ?" Belva seperti menangkap ada sesuatu yang serius dari Budhe nya.
__ADS_1
"Ada hal penting yang mau budhe sampaikan Nduk. Bisa kah kita bertemu secepat nya ?" Harapan yang besar bagi Budhe Rohimah untuk segera bertemu dengan keponakan nya.
"Hal penting apa Budhe ? Bisa katakan saja sekarang jika memang sangat penting."
"Tidak bisa Nduk, kita harus bertemu langsung. Kalau bisa budhe ingin bertemu dengan mu secepat nya."
"Ya sudah besok pagi saja Budhe. Sekalian aku mau kenalkan anak-anak ke Budhe."
"Ah baiklah, Budhe jadi semakin tidak sabar bertemu dengan mu dan cucu-cucu Budhe."
"Hehe... Iya Budhe sampai bertemu besok ya."
"Iya Nduk, kita ketemu di taman yang dekat klinik kemarin saja. Ya sudah Budhe tutup telepon nya."
Sambungan telepon terputus setelah Percakapan mereka selesai. Dalam hati Budhe Rohimah terus berdoa agar Tuhan melindungi keponakan dan cucu-cucu nya.
Budhe Rohimah tidak ingin kehilangan Belva untuk kedua kalinya. Hanya perempuan cantik itu saja keluarganya yang tersisa. Terlebih sekarang sudah ada anggota keluarga baru untuk Budhe Rohimah.
Selepas menghubungi keponakan nya, Budhe Rohimah kembali mengerjakan pekerjaan rumah yang belum selesai. Sejak kepergian Belva, memang pekerjaan nya semakin berat. Terlebih tubuh nya yang sudha mulai renta dan tidak ada waktu untuk berolahraga pun membuat kinerja nya sedikit menurun bila dibandingkan dulu.
"Loh kok sendal ku bisa sampai sini." Budhe Rohimah merasa sedikit heran sendal nya bisa tergeser jauh dari depan pintu kamarnya.
"Apa tadi aku saking buru-buru nya masuk sampai tidak sadar tergeser begini kali ya." Gumam Budhe Rohimah.
Berjalan menuju ruang belakang Budhe Rohimah mulai mencuci baju dan menyetrika baju yang sudah kering. Baru saja duduk meletakkan bokong, suara Alya sudah menggelegar memanggil nama Budhe Rohimah.
****
"Sayang, sudah selesai ?" Tanya Belva pada duo Kay.
"Kita mau ke mana Mami ?" Tanya Kaila yang memang lebih cerewet.
"Kita mau bertemu dengan Uti." Belva tersenyum lembut pada duo Kay.
"Uuuttii ?" Kaila tampak berfikir dengan satu kata singkat yang asing baginya.
"Makanan atau tempat hiburan itu Mami ?" Tanya Kaili. Pertanyaan Kaili membuat Belva merasa geli.
"Hahaha... bukan makanan atau tempat hiburan sayang. Uti itu panggilan untuk nenek atau oma bagi orang Indonesia terutama bagi orang Jawa."
"Kita akan bertemu dengan Uti Rohimah nama nya. Ayo kita keluar. Sudah siap semua kan ?" Tanya Belva dengan menggandeng tangan duo Kay. Kedua bocah itu mengangguk kan kepala.
Budhe Rohimah pun juga sudah bersiap untuk bertemu dengan Belva dan cucu-cucu nya. Meski pekerjaan belum sepenuhnya selesai tapi Budhe Rohimah harus menyempatkan diri untuk pergi menemui Belva.
Berpamitan pada orang satpam rumah Satya sebelum pergi dengan alasan hendak pergi ke apotek membeli obat kebutuhan kotak p3k yang ada di rumah.
__ADS_1
Di taman Budhe sudah menunggu di bangku besi bercat warna warni. Tangannya saling meremas seperti tidak sabar bertemu dengan Belva dan duo Kay.
"Budhe..." Panggil Belva.
"Nduk... Kamu sudah datang ?" Mata Budhe Rohimah langsung menatap duo Kay. Kedua cucunya itu tampan dan cantik.
"Ya ampun wajah mereka sangat mirip dengan Tuan Satya." Bisik Budhe Rohimah dalam hati.
Mata nya berkaca-kaca melihat dua bocah kecil itu. "Nduk, ini anak-anak mu ?" Tanya Budhe Rohimah rasa haru dan bahagia merasuk ke dalam hati nya.
"Iya Budhe... Ini anak-anak Belva. Sayang, ini namanya Uti Rohimah, ayo perkenalkan diri kalian pada Uti." Ucap Belva.
"Hallo... Anak-anak manis. Sini sama Uti." Budhe Rohimah berjongkok menyetarakan tubuhnya dengan duo Kay.
Duo Kay menatap Mami nya seakan meminta persetujuan. "Mendekat lah sayang, Uti Rohimah adalah keluarga kota juga. Orang tua Mami." Belva tersenyum dan mengangguk pada duo Kay.
Kaila dan Kaili perlahan mendekat pada Budhe Rohimah. Wanita paruh baya itu langsung memeluk keduanya dengan haru. Tangis nya pecah bisa menyentuh dan memeluk anggota keluarga baru nya.
Selesai melepaskan keharuan nya pada anak-anak Belva. Kini Budhe Rohimah duduk bersama Belva di bangku taman. Duo Kay bermain tak jauh di depan kedua orang dewasa itu.
"Ada apa Budhe seperti nya ada yang serius ?" Tanya Belva memulai percakapan.
"Nduk... Seperti nya Non Alya sudah tahu keberadaan kamu. Tadi Budhe tidak sengaja mendengar jika dia punya rencana jahat untuk kamu. Tapi budhe tidak tahu rencana apa yang akan dibuatnya untuk mu. Budhe harap kamu bisa menjaga diri Nduk." Budhe Rohimah menggenggam tangan tangan Belva.
Dari genggaman tangan itu Belva tahu jika Budhe nya merasakan takut dan khawatir padanya.
"Budhe... Sebenarnya beberapa waktu yang lalu ada seorang perempuan yang mencurigakan. Dia sempat mengikuti ku dan Kaila saat berada di supermarket. Apa jangan-jangan itu Alya." Belva membalas genggaman tangan Budhe Rohimah.
Raut wajah khawatir semakin terlihat di wajah Budhe Rohimah. Sejak kepergian Belva kelakuan Alya semakin menjadi-jadi. Tidak lagi bersikap sopan pada Budhe Rohimah. Ketus, judes dan tidak menyenangkan untuk Budhe Rohimah.
"Nduk kamu harus berhati-hati jaga diri dan anak-anak mu. Non Alya sekarang berbeda bukan seperti Non Alya yang dulu. Dia orang nya nekat."
"Kejadian yang kamu alami, Budhe tahu itu bukan kesalahan kamu. Tapi itu perbuatan Non Alya yang berencana menjebak mu dengan Paijo sopir tua tetangga sebelah rumah tapi ternyata salah sasaran." Ucap Budhe Rohimah dengan mata berkaca-kaca.
Belva terkejut dengan penuturan Budhe Rohimah. Alya yang dianggap nya baik dan hanya dialah satu-satunya teman Belva justru tega berbuat keji merusak masa depan nya. Belva menutup mulutnya tak percaya, tapi tidak mungkin jika Budhe nya berbohong karena jika mengingat dulu memang Belva merasa ada yang aneh dengan tubuhnya hingga kejadian yang seharusnya bisa ditolak nya secara brutal justru kalah dengan rasa aneh dalam tubuhnya.
Pertemuan Belva dan Budhe Rohimah itu mendapatkan perhatian dari seseorang yang sedari tadi mengawasi pertemuan mereka. Raut wajah datar yang tak terdeteksi bagaimana perasaan nya saat ini. Pikiran nya terlalu sibuk sendiri.
****
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Siapa lagi tuh yang diam-diam memperhatikan Budhe Rohimah dan Belva ?? Rencana apa yang akan dibuat Alya nanti ? Simak terus kelanjutan nya !!!
Terimakasih buat para reader setia.
__ADS_1
Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.
Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys π