Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 40. Seperti Perhatian Ayah


__ADS_3

Makan siang menjadi hal yang paling ditunggu sejak tadi oleh Roichi. Kedatangannya ke Jakarta selalu menyenangkan hatinya karena bisa bertemu dengan dua bocah kembar yang menggemaskan.


Pria itu keluar dari ruang kerjanya dan berjalan menuju lift untuk langsung turun ke basement yang langsung bertepatan dengan letak mobilnya terparkir.


Pria gagah itu mengendarai mobilnya yang selalu diletakkan di kediaman Hector. Ia mampir terlebih dahulu ke sebuah resto untuk memesan makanan yang akan dibawakannya ke rumah minimalis Belva.


Saat akan keluar dari mobil, dia baru ingat harus menanyakan terlebih dahulu dimana si kembar berada pada Bella. Putrinya itu mengatakan jika Duo Kay berada di rumah karena Belva sedang sakit. Roichi terkejut mendengar jika Nonanya sedang sakit dan hanya dijaga oleh dua bocah kecil saja.


Dengan tergesa-gesa Roichi kembali melajukan mobilnya. Masalah makanan tadi Bella sudah mengatakan jika ia sudah memesankannya untuk si kembar dan juga Belva.


"Astaga bagaimana bisa hanya mereka anak-anak kecil yang menjaganya." Gumam Roichi tak habis pikir.


Siang hari jalanan tak seramai saat pagi hari, mungkin karena cuaca yang panas jadi beberapa orang malas untuk bepergian terkecuali terpaksa. Mobil Roichi sampai di depan pagar rumah minimalis Belva, pria itu membuka sendiri pintu pagar rumah itu.


"Ya ampun pagarnya tidak terkunci."


Dia juga melihat sepeda kecil milik si kembar tergeletak begitu saja di halaman rumah dalam keadaan tak lagi berdiri. Pintu pagar itu dibukanya lebar-lebar untuk memasukkan mobilnya. Hingga dia kembali menutup pintu pagar tersebut.


Berjalan mendekati pintu rumah, dibukanya handel pintu. Pintu itu terkunci, Roichi cukup lega. Walaupun bagaimana pun yang berada di dalam hanyalah anak-anak kecil dan wanita dewasa dalam keadaan lemah. Itu membuat Roichi khawatir jika terjadi sesuatu dengan anak majikannya.


Tok... Tok... Tok...


"Nona... Kaili... Kaila..." Panggil Roichi..dia berulangkali mengetuk pintu tapi tak ada juga yang menjawab.


Dia memutar melewati belakang rumah Belva, dicobanya dibuka pintu belakang rumah. Tak terkunci mungkin mereka lupa karena biasanya yang berada di rumah adalah Budhe Rohimah. Roichi masuk ke dalam rumah. Tujuan utamanya adalah kamar si kembar. Kembali mengetuk pintu kamar si kembar tak ada jawaban, dibukanya pintu itu ternyata kosong.


"Kalau di sini kosong berarti mereka ada di kamar Nona." Gumam Roichi.


Pria itu berjalan ke depan pintu kamar Belva, mengetuk pintu menunggu hingga dibukakan. Dia tak berani membukanya secara langsung karena dia yakin di dalam ada Belva yang sedang sakit. Lama mengetuk pintu tak juga kunjung dibukakan. Dengan ragu dibukanya sendiri pintu kamar Belva.


Saat membuka pintu kamar, ternyata Belva baru saja akan bangun dari ranjangnya. Wanita muda itu terlihat pucat dan lemas sekali.


"Nona..."


"Om... Kenapa ke sini ? Bukankah ini hari Jumat ?" Tanya Belva dengan lirih karena keadaan tubuhnya.


"Saya ada pekerjaan di sini. Nona sakit apa ?"


Roichi melihat Duo Kay berbaring secara sembarang di atas ranjang Belva. Mereka tertidur dengan gadget berada di samping mereka masing-masing.


"Astaga pantas saja tidak dengar mereka bertiga tidur tadi." Gumam Roichi dalam hati.


Pria itu berjalan mendekati ranjang Belva. Wanita muda itu masih terduduk di atas ranjangnya dan bersandar pada kepala ranjang.


"Demam sedikit, kepalaku juga pusing." Jawab Belva.


"Sudah periksa ke dokter ?" Tanya Roichi.


"Tidak perlu. Tadi sudah minum obat."


"Saya pindahkan si kembar ke kamar mereka dulu. Kalian sudah makan siang ?"


Belva menggeleng lemas. Ia baru saja bangun karena ketukan pintu dari Roichi.


"Tunggu, nanti akan ada makanan yang datang. Bella sudah memesankan untuk kalian."


Roichi mulai mengangkat satu persatu si kembar untuk diletakkan ke kamar dua bocah kecil itu. Agar tidur mereka tak saling terganggu.


Keluar dari kamar si kembar, ketukan pintu dari luar terdengar. Dugaan Roichi itu adalah makanan yang dipesan oleh Bella. Benar saja saat membuka pintu seorang pria memberikan makanan pesanan mereka.


Kantong kresek berwarna putih itu diletakkan di atas meja makan, dia menyiapkan makanan untuk Belva terlebih dahulu. Satu piring berisi makanan dengan lauk ayam bakar madu dan lalapan serta satu gelas air putih Roichi bawakan ke dalam kamar Belva.


"Makan dulu Nona."


Makanan itu diletakkan di atas nakas samping ranjang Belva. Pria itu melepaskan jas hitam miliknya dan meletakkan di atas sofa yang ada di kamar Belva serta menggulung lengan panjangnya hingga batas siku.


Belva hanya melirik sekilas pada makanan disebelahnya dengan malas. Lidahnya terasa pahit saat makan itu membuatnya tak berselera makan.


"Kenapa diam saja ?"


"Lidahku terasa pahit, aku tak berselera." Jawab Belva.


"Selain pahit apalagi yang Nona rasakan ?"


"Masih sedikit pusing, tubuhnya lemas."


"Maaf." Ucap Roichi lalu mengulurkan tangannya pada kening Belva mengecek suhu wanita itu. Susah tak panas lagi, tapi masih terasa hangat.


"Makanlah agar Nona memiliki tenaga dan cepat sembuh."


Belva tetap menggelengkan kepalanya, ia tak mau makan. Tak ada seta sedikitpun untuk makan meski menu yang diberikan Roichi siang ini cukup lezat.


Ketika sakit memang makanan apa saja yang terlihat lezat akan berubah menjadi tak ada seleranya. Bahkan untuk menelan ludah saja rasanya pahit bagi Belva.


"Nona, ingin makan apa biar kubelikan asal Nona mau makan. Jangan buat orang-orang sekitarmu khawatir Nona."


"Tapi aku tak berselera Om."


"Ya sudah, katakan ingin makan apa biar saya keluar mencarinya."


"Eh... Tidak usah, jangan Om." Belva menolak, tangannya bergerak-gerak pertanda agar Roichi jangan keluar membeli apapun.


Pria itu hanya menghela nafas, ia bingung harus bagaimana membujuk Nonanya makan.


"Saya mohon makanlah. Setelah itu saya harus mengurus si kembar kasihan mereka belum makan."


"Cepatlah sembuh, agar bisa mengurus si kembar dan juga butik lagi."


"Makan ya, saya akan menyuapkan makanan untukmu." Ucap Roichi lembut.


Belva memperhatikan makanan yang sudah dipegang oleh Roichi. Kata-kata Roichi mengingatkannya bahwa hari ini kedua buah hatinya tak masuk sekolah hanya untuk menjaga dirinya. Pekerja di butik juga sedang banyak-banyaknya.


Meski telah memiliki anak tapi Belva masih muda, terkadang sikap manja dalam dirinya sebagai perempuan yang masih muda juga muncul disaat-saat seperti ini. Akhirnya ia mengangguk, setuju untuk makan.


"Biar aku makan sendiri saja Om."


"Tidak saya yang menyuapi mu makan."


Pria itu sudah menyendokkan makanan dan bersiap menyuapi Belva. Mau tak mau ibu muda itu menerima suapan dari Roichi. Ayam bakar itu sebenarnya terasa sangat lezat, Roichi saja beberapa kali melirik karena menginginkan makanan itu. Tapi makanan itu untuk Nonanya tak mungkin dia meminta.


"Om, makan ayam dengan lalapan seperti ini lebih enak menggunakan tangan kosong."


"Maksud Nona ?"


"Makan tanpa sendok." Jawab Belva.

__ADS_1


"Nona yakin ? Saya menyuapi mu dengan tangan kosong ?"


Belva mengangguk tanpa ragu. "Apa om keberatan ? Biar aku makan sendiri saja tidak apa-apa Om."


"Tunggu saya cuci tangan dulu. Jangan gunakan tangan Nona."


Selesai mencuci tangan, pria bermata sipit itu menyuapi Belva kembali dengan tangannya tanpa sendok. Roichi tak merasa risih saat menyuapi Belva. Sedangkan Belva mulai menikmati makanannya.


Wanita itu merasa senang, ia seperti diperhatikan oleh ayahnya sendiri. Dulu saat masih sekolah, tak jarang Ayah Belva menyuapinya seperti saat ini Roichi menyuapi dirinya.


Beberapa kali perhatian Roichi yang diberikan padanya membuatnya teringat akan Ayahnya. Itulah yang membuat Belva semakin merasa nyaman berada dekat dengan Roichi. Bahkan wanita itu tak pernah menganggap Roichi sebagai seorang pelayan melainkan sebagai Om nya sendiri.


"Om sudah makan ?" Tanya Belva.


"Nanti saja, setelah kalian selesai makan."


"Om suka ayam bakar madu ?"


"Makanan ini sangat lezat, tidak mungkin saya tak menyukainya Nona."


"Cobalah sedikit Om, menurut lidahku ini pahit. Tapi pasti menurut Om ini sangat lezat."


"Tidak Nona." Roichi menolaknya. Bagaimana bisa dia makan satu piring bersama Nonanya. Terasa kurang etis menurutnya yang hanya seorang pelayan di keluarga Hector.


Meski Roichi tahu Belva bukanlah anak kandung dari keluarga Hector dan keluarga Hector juga telah menganggapnya sebagai keluarga tapi dia tak berani berbuat lancang.


Belva terus memaksa Roichi agar merasakan makanannya, mau tak mau Roichi menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya sendiri. Memang makanan itu terasa sangat lezat sekali baginya.


"Om belum makan, pasti lapar. Kalau mau makan saja bersamaku sekalian agar setelah mengurus si kembar Om bisa beristirahat. Lagipula aku tak akan habis memakan ini selera makanku sedang menurun." Ucap Belva.


Kembali Belva memaksa Roichi, jadilah mereka makan bersama bergantian Roichi menyuapi Belva dan juga dirinya sendiri. Itu terasa aneh baginya. Merasa sedikit canggung, bahkan dia tak pernah makan bersama satu piring dengan putrinya Bella.


Makanan itu habis tanpa sadar oleh mereka berdua. Roichi tersenyum saat melihat makanan habis dengan seimbang dari suapan mereka berdua. Dia mengingat jika tadi Belva tak akan menghabiskan makanan itu karena selera makannya yang berkurang. Tapi nyatanya sembari makan mereka bercerita beberapa kegiatan mereka selama ini hingga tak terasa makanan habis.


Obat kembali diberikan untuk Belva agar wanita itu cepat sembuh. Setelah mengurus Belva, pria itu kembali menyiapkan makanan untuk si kembar yang masih tidur di kamar mereka.


Benar saja masuk ke dalam kamar keduanya masih tertidur pulas. Dengan lembut Roichi membangunkan Duo Kay untuk makan. Mereka berdua seperti biasa jika bangun tidur terkadang tingkah manja mereka sebagai anak kecil akan muncul. Kaila merengek karena tidurnya terganggu. Dengan sabar Roichi membujuk Kaila agar mau makan.


"Kaila, makan dulu sayang, baru nanti tidur lagi. Opmud suapin ya." Bujuk Roichi dengan lembut.


"Ayo Kaili bangun Nak, makan dulu."


Kaili bocah itu dengan malas bangkit dan duduk menyandar pada kepala ranjang. Matanya kembali terpejam. Melihat hal itu Roichi tersenyum gemas dengan tingkah mereka. Diangkatnya Kaila agar duduk di atas ranjang Kaila agar dia bisa dengan mudah mengurus dua bocah itu.


Saat sudah dipindahkan Kaili justru duduk menyandarkan dirinya pada tubuh Roichi yang tengah duduk di atas ranjang Kaila.


"Kalian makan dulu ya, ini makanannya bela sekaki pasti kalian suka." Bujuk Roichi.


"Pangkuuu." Rengek Kaila, bocah itu masih mengantuk.


Tak keberatan Roichi memangku Kaila di pahanya. Kaili masih bersandar pada tubuh Roichi. Sedikit repot memang karena mereka menempel padanya. Kembali menggunakan tangan kosong Roichi menyuapi kedua bocah itu. Mereka mengunyah dengan lambat bahkan Kaili sesekali berhenti mengunyah dan matanya terpejam.


"Astaga bisa-bisanya anak ini tertidur saat makan." Gumam Roichi dalam hati. Bibirnya tersenyum melihat tingkah Kaili.


Sabar sangat sabar Roichi mengurus mereka hingga makanan sudah mulai habis tapi keduanya tak ingin lagi menghabiskan makan mereka. Mereka masih mengantuk jadi terpaksa Roichi menghentikan mereka untuk makan.


"Haah... Ternyata mengurus anak kecil sangat menguras tenaga. Padahal cuma menyuapi makan saja." Gumam Roichi.


Duduk di sofa kamar si kembar, pria itu menyandarkan tubuhnya. Berniat meluruskan punggungnya yang sedikit pegal. Tapi tak terasa pria itu justru tertidur dengan lelapnya.


****


Saat beberapa wanita yang sudah berstatus sebagai seorang istri sibuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan rumah tangga atau bekerja membantu suami. Sonia justru hari-harinya dihabiskan dengan kegiatan yang tidak jelas menurut Satya.


Wanita itu sibuk dengan dirinya sendiri, sang suami pernah menuntutnya untuk berada diam di rumah mengurus rumah dan keluarga pun tak mau. Entah apa yang dilakukan oleh Sonia di luaran sana. Yang Satya tahu istrinya terlalu sibuk bersenang-senang bersama teman-teman sosialitanya.


Pergi pagi pulang malam, tak tentu waktu. Asal sudah bosan makan wanita itu akan pulang. Sudah sama seperti wanita lajang yang tak memiliki tanggung jawab dalam berkeluarga.


Pun demikian putri satu-satunya dalam keluarga Balakosa, ia melakukan hal yang sama dengan sang ibu. Entah karena kurangnya perhatian dari orang tua atau memang sudah di atur tapi tak mau. Nyatanya Satya sebagai kepala keluarga sudah beberapa kali menegur putrinya bahkan sempat membandingkan dengan pembantu mudanya dulu pun tak membuahkan hasil. Tidak ada perubahan dari seorang Alya.


Satya bukanlah pria yang terlalu sibuk ikut campur dalam urusan orang lain. Termasuk urusan keluarganya sendiri. Waktunya habis untuk bekerja memenuhinya kebutuhan istri dan anaknya yang begitu royal.


Pernah suatu kali Satya sengaja mengirimkan uang dengan jumlah di bawah kebiasaannya mentransfer uang bulanan. Pria itu langsung mendapatkan protes keras dari sang istri dan putrinya. Sudah Satya pastikan jika Sonia dan Alya memang tak bisa hidup susah. Sejak kecil Alya selalu dimanjakan oleh Sonia. Wanita itu pun terbiasa hidup senang dan mewah dari orang tuanya.


Sejak orang tuanya Satya dan Sonia menjodohkan mereka. Orang tua Sonia melimpahkan tanggung jawab pada Satya selaku suami. Satya pria bertanggung jawab dan juga tegas maka pria itu tak menampik jika harus bertanggung jawab atas kehidupan istrinya meski tak ada rasa cinta untuk seorang Sonia sejak awal perjodohan.


"Mom, dari mana ?" Tanya Alya yang sudah ada di rumah.


"Kamu tahu kegiatan Mommy kan ?" Jawaban yang begitu mudah Sonia lontarkan tanpa harus menjelaskan panjang lebar.


"Kenapa wajah Mommy seperti kesal sekali ?"


"Kamu tahu ? Mommy kalah start dalam hal fashion kali ini. Biasa-biasanya wanita itu lebih dulu menemukan butik dengan koleksi baju yang sangat bagus."


Alya hanya memutar bola matanya jengah. Hal seperti itu saja bisa membuat Mommy nya kesal.


"Ya sudah tinggal beli saja pakaian yang lebih bagus. Gampang kan." Ucap Alya santai.


"Itu sudah pasti. Mommy sudah pesan gaun yang bagus sesuai keinginan Mommy dan pasti pakaian Mommy akan jauh lebih bagus." Sonia tersenyum sinis.


"Di mana Mommy beli ?"


"Evankay butik. Di sana koleksinya bagus-bagus sayang. Kamu harus coba datang ke sana langsung. Pasti kamu akan jatuh cinta dengan beberapa pakaian yang ada di sana."


Alya yang sedari tadi tak begitu memperhatikan Mommy nya dalam berbicara, ia sibuk dengan ponselnya. Tiba-tiba ia terkejut dengan nama butik yang disebut oleh Sonia. Wajahnya mendongak ke arah Sonia.


"Itu kan butik yang dikelola perempuan kampung itu." Gumam Alya dalam hati.


"Ada apa kenapa kamu melihat Mommy seperti itu ?"


"Ah... Tidak... Aku hanya teringat sesuatu saja." Jawab Alya.


"Kamu mengetahui butik itu sayang ?"


"Tidak.." jawab Alya dengan singkat.


"Kamu harus kesana, pemilik butik itu berasal dari Jerman. Dan pemilik itu sendiri yang mendesain baju pesanan para customer. Tapi sayang Mommy tak bisa bertemu dengannya. Hanya dilayani oleh pegawainya saja yang Mommy pikir perempuan itu orang kepercayaan pemilik butik."


"Sudah kuduga tidak mungkin butik itu milik perempuan kampung itu. Mungkin dia hanya pegawai di sana." Alya masih bergumam dalam hati.


"Ah iya bagaimana pekerjaan si Gwen ya ? Ish... Anak bodoh itu kenapa tak mengabariku." Alya masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Alya... Halloo Alya..." Panggil Sonia karena merasa pembicaraannya tak ditanggapi oleh putrinya.


Buukk...

__ADS_1


"Aow... Issh... Mommy ! Apa-apaan sih. Sakit."


"Halah pukulan ringan saja kamu mengeluh. Dasar anak manja."


Alya mencebik, matanya melebar. Sonia memukul Alya menggunakan tas mahalnya tepat di kepala samping Alya. Aksesoris yang tas yang terbuat dari besi itu mengenai pelipis Alya tentu terasa sakit berdenyut.


"Aooww... Ah... Sakit Alya. Apa-apaan kamu !! Berani kamu mencubit Mommy huh ?!!"


Sonia memelototkan matanya ke arah Alya. Lengannya terasa perih dan juga berdenyut. Alya membalas sang Mommy dengan mencubit cukup keras, hingga lengan itu terlihat memerah.


"Salah mommy sendiri. Mommy pikir tas itu selembek bubur."


"Ish... Menyebalkan." Alya berlalu meninggalkan Mommy nya yanng tengah sama kesalnya seperti dirinya.


Entah bagaimana kedua wanita berbeda usia yang notabene adalah ibu dan anak itu bisa bersikap seperti itu. Terlihat jika keduanya memang memiliki keegoisan masing-masing. Meskipun tak jarang Sonia tetap memikirkan nasib putrinya jika Alya berada dalam masalah besar.


Mereka kini masing-masing masuk ke dalam kamar. Entah melakukan apalagi yang jelas kegiatan yang mereka kehendaki untuk mengisi waktu menunggu jam makan malam tiba.


Malam ini Satya kembali dengan wajah seperti biasa cukup lelah setelah seharian bekerja. Ia masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan istrinya. Masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.


Dia baru saja bertemu dengan klien lamanya di sebuah restoran sore tadi sebelum pulang ke rumah. Jalinan kerjasama yang berjalan sangat baik selama ini membuat hubungan mereka terlihat dekat dan akrab.


Sebuah jam tangan dengan harga yang terbilang sangat mahal menjadi oleh-oleh kecil untuk Satya. Tentu saja Satya tak menolak benda tersebut yang hobi mengkoleksi sebuah jam tangan mewah.


Paper bag berisi jam tangan tersebut diletakkannya di ruang kerjanya bersamaan dengan tas kerjanya. Selesai mandi ia keluar dengan menggunakan pakaian santai rumahan menuju ruang kerjanya.


Pria itu tak membuka suara untuk sekedar menyapa sang istri. Satya sudah terlanjur malas dan kecewa dengan sikap Sonia istrinya yang sebenarnya memang tak pernah dicintainya.


Bayangkan bila kita sudah tak menyukai sebuah model baju, lalu kita berusaha memodifikasinya sesuai yang kita harapkan agar kita bisa menyukai baju tersebut tapi nyatanya justru baju tersebut susah untuk dimodifikasi. Bagaimana perasaan kita ? Ada yang pasrah menerima ada pula yang tak mau memakainya. Seperti itu lah Satya terhadap Sonia.


Sudahlah pria itu tak mencintai Sonia, dia berharap Sonia bisa menjadi istri yang baik dan penurut tapi nyatanya Sonia kekeuh pada sikap dan sifatnya yang entahlah tak sejalan dengan Satya. Tentu pria itu hanya pasrah dan mengabaikan saja jika sudah tak bisa dinasehati.


Bagaimana bisa tanpa ada rasa cinta tapi Alya bisa tumbuh dan berkembang sebesar sekarang ? Tentu saja, Satya pria normal yang tak akan melewatkan sentuhan begitu saja terlebih dari wanita yang sah menjadi istrinya.


Satya meletakkan jam tangan pemberian kolega bisnisnya ke walk in closed khusus untuk barang-barang koleksinya. Di ruangan itu terdapat bermacam-macam model dan brand mahal dari jam tangan, dompet, parfum, sepatu dan beberapa batang fashion yang lain. Ruangan itu khusus hanya untuk Satya sendiri. Berbeda dengan walk in closed yang bergabung dengan kamarnya.


"Selama aku pergi hanya anak itu yang di rumah. Para ART tak mungkin berani mengambilnya." Gumam Satya.


Pria itu sangat teliti terhadap barang-barang koleksinya. Dia melihat salah satu batang koleksinya hilang karena tempat itu kosong secara tiba-tiba tanpa ia pernah memakainya.


Dengan sikap tenang Satya akan menyelidiki dimana benda kesayangannya hilang. Setelah puas menatap semua benda koleksinya, dia keluar dari ruangan itu.


"Tuan... Maaf makan malam sudah siap. Baru saja saya akan memanggil anda di kamar." Ucap Mbok Yati.


"Ya. Saya akan turun."


"Nyonya, ada di kamar Tuan ?" Tanya Mbok Yati.


"Alya dan Sonia ada di kamar." Jawab Satya.


Pria itu turun setelah menjawab pertanyaan Mbok Yati. Sikapnya yang dingin dan datar itu sudah menjadi hal biasa bagi Mbok Yati dan para pekerja yang lain.


Mungkin ada beberapa pekerja yang kaget dan takut dengan Satya karena mereka masih baru tapi tidak dengan mereka yang sudah lama bekerja.


Satya sudah duduk di ruang makan. Mbok Yati memanggil Sonia dan Alya untuk makan malam. Tak butuh waktu lama bagi Satya untuk menunggu karena dia sudah pernah mengatakan jika tak suka menunggu. Jadi anak dan istrinya sudah paham akan hal itu.


Dalam kegiatan makan malam tak ada percakapan. Kebiasaan yang sudah Satya lakukan dan tanamkan pada keluarganya.


"Mom, besok aku mau liburan bersama teman-temanku." Ucap Alya selesai dengan makannya.


"Lalu ?" Tanya Sonia cuek.


"Uang jajanku menipis Mom." Rengek Alya.


Sonia hanya diam saja tak menanggapi. Dirinya saja harus merayu sang suami agar mendapatkan uang. Jatah bulanannya sudah habis untuk arisan dan kegiatannya bersama teman-teman sosialitanya.


"Moommm... Bagaimana dong. Aku tak mungkin tidak ikut, aku sudah memesan tiketnya."


"Haduh Alya, Mommy juga lagi ada kebutuhan sayang."


"Ck... Dad..." Alya menatap Satya dengan wajah memelas agar Daddy nya mau memberikan uang padanya.


"Berapa usiamu ?" Tanya Satya.


"Hah ?" Alya bingung.


Pertanyaan yang menurut Alya tidak nyambung sama sekali dengan topik pembahasan Alya.


"Maksud Daddy ?"


"Berapa usiamu saat ini. Apakah kebutuhanmu semakin meningkat ?"


Pertanyaan Satya tiba-tiba seperti menjadi bohlam lampu yang menyala sangat terang. Ia sudah berpikir jika Satya akan menambahkan uang jajannya sejalan dengan usianya yang semakin bertambah.


"Dua puluh dua Dad." Ucap Alya tersenyum.


"Bukan usia anak TK lagi bukan ? Tapi kenapa pikiranmu masih sama seperti anak TK yang hanya bisa meminta dan meminta."


Deesss...


Kalimat Satya yang langsung membuat senyum di bibir Alya menghilang seketika. Sonia menatap Satya dan beralih menatap putrinya. Ucapan Satya sungguh mengena untuk hati Alya. Bukan sindiran lagi tapi teguran pedas dari sang Daddy.


"Sonia, seharusnya ajari anakmu agar tidak sama seperti dirimu yang bisanya hanya menghamburkan uang."


"Dad, apa maksudmu ? Bukankah itu wajar kamu kepala keluarga kamu Daddy nya Alya. Apa salah dia meminta padamu ?!!" Nada Sonia cukup tinggi karena tak terima dengan teguran Satya.


"Tidak salah jika dia mau menurut dengan didikan ku." Mata Satya menatap tajam pada Sonia.


"Katakan berapa uang yang kuberikan pada kalian dalam sebulan."


"Apa perlu kalian tinggal di jalanan agar kalian mengerti berapa banyak uang yang kuberikan."


Tatapan mata tajam itu menatap secara bergantian pada Sonia dan juga Alya. Menghadapi dua perempuan yang berada satu rumah dengannya itu selalu membuatnya kesal.


Satya berlalu meninggalkan keduanya di meja makan dan masuk ke dalam ruang kerjanya. Rasanya memikirkan pekerjaannya lebih bermanfaat daripada memikirkan mereka.


****


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Terimakasih buat para reader setia.


Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.


Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys πŸ™

__ADS_1


Btw komentar positif kalian sejujurnya membuat author semangat untuk menulis bagaimana part selanjutnya, meski tulisan ini masih sangat receh dan sadar belum sempurna, masih banyak kekurangan. Typo, alur dan beberapa hal yang lain masih kurang dengan masukkan dari kalian setidaknya bisa sedikit demi sedikit bagi author untuk memperbaiki. Terimakasih banyak reader πŸ™πŸ™


__ADS_2