Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 162. Bayi Malang


__ADS_3

Manusia diciptakan dengan segala macam perbedaan fisik, sikap dan segala keberuntungan yang diperolehnya. Sikap baik dan buruk bercampur menjadi satu dalam hiruk pikuk kehidupan. Hal yang wajar karena bumi tempat dari banyak sifat dan sikap makhluk-Nya. Jika semua makhluk bersikap baik tak bercela, bukan bumi namanya melainkan surga. Jika semua makhluk bersikap buruk penuh cela maka neraka lah tempat yang tepat.


Disisi lain sikap buruk menyebalkan yang dimiliki Sonia, ia tetap perempuan yang memiliki hati untuk dirinya sendiri dan untuk putrinya. Egois memang tapi itulah Sonia, mendengarkan kabar kematian sang putri Sonia tentu saja syok. Satu-satunya orang yang paling disayangi dan dikasih oleh wanita itu hanyalah Alya seorang setelah semua pergi meninggalkannya dengan sejuta kebencian atas semua sikapnya sendiri.


Sonia tampak terdiam menatap kosong pada meja yang ada di depannya. Wanita itu masih duduk di tempat pertemuannya dengan seorang pria yang diduga adalah ayah kandung Alya. Bahkan Sonia tak menghiraukan apa yang pria itu katakan sejak tadi. Seakan tak penting Sonia masih saja memikirkan Alya, mengenang saat terakhir dirinya bertemu dengan Alya. Sonia sempat membantu putrinya saat Alya tengah tersandung kasus percobaan pembunuhan anak-anak Belva yang tak lain juga anak-anak kandung sang mantan suami.


"Sonia, kamu tak mendengarkan ku?" Ucap pria itu.


"Apalagi yang harus kudengarkan dari mu." Ucap Sonia.


"Ini semua salahmu, jika kamu bisa mendidiknya dengan baik maka dia masih akan tetap hidup. Kamu sibuk menjual diri hingga lalai jika jejakmu diikuti oleh putrimu sendiri."


Tanpa perasaan pria itu terus saja menyalahkan Sonia atas kematian Alya. Dia tak berkaca bahwa dirinya sendiri pun salah tak bertanggung jawab atas kehadiran Alya di dunia ini.


Sonia tersenyum sini pada pria yang ada dihadapannya. Menatap dengan penuh kemarahan dan kebencian.


"Terserah kamu mau mengatakan apapun padaku. Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu merasa telah menjadi manusia yang baik? Bahkan dosa dan kesalahanmu tak jauh berbeda dariku." Ucap Sonia dengan sinis.


Hatinya sudah sakit dan hancur mendengar sang putri meninggal dunia kini ditambah oleh omongan pedas pria yang telah memberikannya seorang putri.


"Kamu... Ada hak apa kamu sehingga dengan ringan mulutmu berucap seolah-olah kamu orang baik dan mampu mendidik Alya. Saat Alya ku hadir di dunia ini saja kamu bahkan tak mau bertanggung jawab padanya. Jangan pernah berbicara perihal mendidik jika kasih sayang pun tak pernah Alya dapatkan darimu."


"Tutup mulutmu, Sonia. Kamu tahu dengan jelas bukan alasan apa yang kumiliki. Jangan seolah-olah aku membuang Alya dari kehidupanku begitu saja." Ucap pria itu tak mau disalahkan.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini. Kehadiranmu tak dapat mengubah apa yang telah terjadi pada Alya. Terima kasih sudah memberikan informasi penting ini padaku. Terima kasih sudah sedikit membantu Alya di terakhir masa hidupnya." Ujar Sonia setelah berniat mengusir pria itu.


"Alya juga anakku, Sonia. Seha..."


"Tapi dia tak perlu tahu akan hal itu dan aku bersyukur sampai tiada dia tak pernah mengetahui hal itu." Ucap Sonia memotong pembicaraan pria itu.


Sonia sudah lelah dan malas menghadapi pria yang ada dihadapannya. Tak penting lagi pria itu baginya terlebih Alya kini telah tiada jadi tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan pria di masa lalunya itu.


Hancur hati Sonia sebagai seorang ibu tentu dirinya merasa sakit tak bisa bertemu dengan putrinya di saat-saat terakhir Alya. Mengantarkan di tempat peristirahatan terakhir pun tak dapat ia lakukan. Hukumannya begitu berat yang harus dijalani saat ini. Satya tak main-main dengan tuntunannya pasal berlapis Satya sangkakan padanya. Kekuasaan Satya benar-benar digunakan untuk memberikan pelajaran pada mantan istrinya itu.


Sonia berdiri dari duduknya, sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan dengan pria itu. Ia hanya ingin sendiri saat ini, merenung dan mengenang putrinya selama mereka masih bisa bersama dulu.


"Sonia." Panggil pria itu.


"Pak, saya sudah selesai. Saya mau kembali ke dalam." Ucap Sonia pada petugas kepolisian yang menjaga pertemuan mereka tanpa menghiraukan panggilan pria tadi.


Seakan memang sudah nyaman di dalam jeruji besi, salah satu petugas menuntun Sonia dengan begitu mudah tanpa perlawanan. Wanita itu hanya bisa diam tanpa berbicara satu patah katapun.


Pria yang berniat menjenguk untuk memberikan kabar duka pada Sonia itu hanya bisa menatap punggung wanita yang pernah ada di masa lalunya. Semua perkataan Sonia membuatnya merasa bersalah pada putrinya yang kini telah tiada. Seharusnya bukan salahnya jika dirinya tak bisa bertanggung jawab pada kehadiran Alya, semuanya begitu rumit baginya. Pria itu hanya bisa menghela napas yang terlihat seperti menahan beban berat.


"Sonia, seharusnya kamu mendengarkanku dulu. Kita perlu membicarakan bagaimana bisa putri kita meninggal seperti ini." Batin pria itu dalam hati.


Merasa dirinya tak memiliki kepentingan lagi di tempat itu. Maka pria itu berdiri dari duduknya, seorang petugas yang masih berdiri di tempat itu langsung menunduk memberikan hormat pada pria itu. Memang pria itu tak sebesar Satya perihal harta tapi dirinya pun memiliki kekuasaan dalam bidang tertentu.


Di dalam sel tahanan, Sonia tampak murung. Air matanya bahkan terkadang menetes tanpa dirinya minta dan tanpa permisi. Kenangan bersama Alya meski tak se-harmonis keluarga yang lain karena mereka terlalu sibuk masing-masing tapi tetap saja mereka adalah dua orang yang memiliki ikatan darah yang sangat kental.


"Alya, maafkan Mommy. Mommy tak bisa menemanimu di saat terakhir mu. Kenapa kamu harus pergi secepat ini, sayang. Kamu bahkan belum menjenguk Mommy di tempat baru Mommy." Ucapan lirih Sonia dengan perasaan hancur dan air mata mengalir.


Wanita itu benar-benar meratapi nasibnya saat ini yang begitu menyedihkan berbanding terbalik dengan kehidupannya yang dulu. Itulah kehidupan apa yang kita lakukan pasti akan ada akibatnya yang harus kita terima. Jika kita berlaku baik maka karma baik yang akan menghampiri tapi sebaliknya jika berlaku buruk yang kita lakukan maka karma buruk tak segan terus mengiringi kehidupan kita pada waktunya.


Kisah hidup yang sungguh miris bagi seorang Sonia. Akhirnya ia hanya hidup seorang diri tanpa ada orang yang berada di sampingnya dengan memberikan perasaan cinta dan kasih sayang. Alya satu-satunya yang ia miliki kini telah tiada. Benar kata Satya jika dirinya lebih cocok tinggal di dalam jeruji besi, seperti itulah yang Sonia rasakan saat ini. Ia merasa lebih baik tinggal di dalam hotel prodeo daripada di luar sana tanpa seseorang yang bisa menjadi tujuan hidupnya.


***


Setelah kepergian Duo Kay bersama dengan Roichi dan juga Jasmine kini Satya dan Belva berada di dalam kamar mereka. Tuan dan Nyonya Hector, mereka memiliki kegiatan lain bersama perkumpulan para lansia dalam rangka perayaan ulang tahun salah satu teman mereka di kelas senam para lansia.


Berdiri di samping pintu balkon memperhatikan sang suami yang sibuk menggeser sofa dari dalam kamar menuju balkon. Suara gesekan antara kaki sofa dengan lantai pun terdengar jelas oleh pendengaran Belva.


"Tunggu. Mas, empat hari yang lalu aku mendengar suara seperti ini tapi di pagi hari. Apa itu ulah mu?" Tanya Belva yang mendengar suara gesekan kaki sofa dengan lantai.


Satya yang sibuk menggeser sofa itu masih saja sibuk dengan kegiatannya tapi jangan salah, pertanyaan Belva masih bisa di dengar Satya. Selesai dengan tugasnya mendorong sofa hingga balkon kini pria itu duduk menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Haahh... Akhirnya selesai juga." Ucap Satya menghela napas lega.


"Sini sayang." Ajak Satya pada Belva yang masih berdiri di samping pintu menuju balkon. Tangannya menepuk sofa yang ada di sebelahnya.

__ADS_1


Belva mendekati suaminya dan menuruti Satya hingga duduk di samping suaminya.


"Mas, dengarkan pertanyaan ku?" Ujar Belva yang sudah duduk di dekat suaminya.


"Iya, mas dengar. Memang benar itu mas sedang menggeser sofa ini. Subuh saat mas mengajakmu untuk melihat matahari terbit."


"Pantas saja aku seperti mendengar suara aneh." Gumam Belva.


Kini rasa penasarannya pada suara aneh yang pernah di dengarnya terjawab sudah.


"Oh iya mas, ada yang ingin aku bicarakan padamu." Ucap Belva mengingat sesuatu setelah beberapa hari terabaikan karena Satya yang tengah mabuk akan kehamilan simpatik.


"Mengenai apa?" Tanya Satya. Tangan pria itu tak bisa diam, selalu saja tertarik untuk merangkul bahu istrinya.


Keduanya duduk di sofa balkon melihat pemandangan yang masih tampak asri. Rumah Tuan Hector memang sengaja dibangun dengan konsep yang asri. Rumahnya memang besar tentu halamannya pun juga lebih besar. Di sekeliling rumah tersebut memiliki beberapa halaman luas yang banyak ditumbuhi oleh pohon serta tanaman yang begitu terawat. Satya dan Belva selalu saja terlihat romantis dari hari ke hari. Rona bahagia selalu terpancar dari wajah keduanya.


"Mas, beberapa hari yang lalu Noella menghubungiku dan ini terkait dengan anak Alya."


"Ada apa dengannya? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Satya yang langsung menatap Belva dengan wajah serius.


Belva terdiam sejenak, "Sedikit bermasalah mengenai bayi Alya."


"Maksud kamu bagaimana sayang? Apa kondisi kesehatannya menurun?" Satya semkin serius menanggapi pembicaraan istrinya saat ini.


"Bukan, kondisi kesehatan bayi Alya baik-baik saja. Bayi itu sangat kuat untuk bertahan hidup. Tapi dia memiliki masalah pada organ dalamnya karena efek dari kelahiran prematur." Ucap Belva.


"Astaga... Katakan pada perempuan itu, mas akan melakukan apapun untuk kesembuhan bayi Alya. Walau bagaimanapun mas merasa bayi Alya juga masih bisa menjadi tanggung jawab mas. Dia tidak memiliki siapapun selain ayah kandungnya. Jika mereka tak sanggup mas masih sanggup mengurus nya." Ucap Satya tanpa ada keraguan. Dia dengan ikhlas bersedia merawat bayi Alya.


"Iya mas, aku tahu. Aku juga tidak keberatan jika harus merawatnya. Tapi ini ada masalah lain yang Noella hadapi mengenai bayi Alya. Orang tua mereka akhirnya mengetahui keberadaan dan fakta mengenai bayi Alya. Mereka tidam menerima bayi Alya, mas." Ucap Belva menjelaskan apa yang sedang terjadi atas bayi Alya.


Satya sedikit terkejut mendengar penjelasan sang istri. Dia merasa terbebani kembali dengan masalah baru ini. Bukan merasa terbebani karena repot karena dirinya langsung berpikir keras mengenai nasib bayi Alya jika kedua orang tua Noella menolak keberadaan bayi mungil tersebut.


Flashback On


Saat Noella memutuskan untuk merawat bayi Alya dengan Jack yang akhirnya menyetujui niat istrinya, mulai dari niat itulah perempuan itu sangat rajin mengunjungi rumah sakit hanya untuk memperhatikan perkembangan bayi mungil tersebut. Betapa bersyukur dan lega hati Noella kala bayi Alya dapat bertahan hidup dan memiliki perkembangan yang cukup baik.


Kedatangan Noella dan Jack sebenarnya dari awal hanya berniat untuk berkunjung saja beberapa minggu. Meski keduanya sudah memiliki rumah sendiri di sebuah perumahan elit tapi kedua orang tua Jack maupun Noella menginginkan mereka untuk tetap berada di Amerika.


"Noe, kamu mau ke mana?" Tanya Mama Dona yang tak lain adalah Mama Noella.


"Emm... Noe mau bertemu teman-teman dulu." Ucap Noella berbohong.


Sebenarnya Noella hendak berkunjung ke rumah sakit seperti rutinitasnya. Ia tak akan absen barang sehari pun jika dirinya sedang tidak benar-benar sibuk.


"Mama perhatikan beberapa hari ini sejak kedatangan Mama dan Papa kamu terus keluar di jam seperti ini. Sebenarnya mau ke mana? Mama tahu kamu tidak bekerja, sayang."


"Emm... Ada pembahasan yang mengarah ke rencana kerjasama bisnis yang akan Noe lakukan bersama teman-teman." Ujar Noella kembali untuk menutupi kebohongannya.


"Oke, pergilah sayang." Ucap Mama Dona dengan begitu saja mengijinkan Noella setelah mendengar alasan putri sambungnya.


"Oke, Noe pergi dulu, Ma." Pamit Noella.


Perempuan itu pergi dengan terburu-buru karena ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan dokter pada Noella perihal perkembangan kesehatan bayi mungil Alya. Mobil Noella melaju dengan santai, ia tak ingin mencelakakan dirinya sendiri dengan terburu-buru saat mengendara.


Tak langsung percaya begitu saja Mama Dona berniat mengikut Noella. Ia merasa curiga Noella sering sekali memiliki jadwal pergi di waktu yang sama setiap harinya. Wanita itu bersiap mengambil tas dan juga ponselnya. Saat ingin keluar rumah mobil sang suami datang.


"Mama mau ke mana?" Tanya Mattew, Papa Noella.


"Pa, ayo ikut Mama. Ada yang ingin Mama ketahui."


"Apa? Kemana?" Tanya Mattew bingung.


"Sudah ayo ikut saja jangan banyak bertanya kelamaan, Pa." Paksa Mama Dona.


Akhiri pasangan paruh baya itu pergi menyusul Noella lebih tepatnya mengikuti kemana Noella akan pergi. Karena cara Noella mengendari mobil dengan santai maka kedua orang tuanya masih dengan mudah mengikuti jejaknya.


"Rumah sakit?" Gumam Mama Dona bersamaan dengan Mattew.


Keduanya saling pandang saya berada di dalam mobil melihat mobil putri mereka memasuki kawasan rumah sakit.

__ADS_1


"Ma, untuk apa Noella ke rumah sakit? Apa dia sakit?" Tanya Mattew.


"Mama tidak tahu, Pa. Ini yang membuat Mama penasaran beberapa hari ini Noella selalu pergi di jam yang sama.m tapi Mama tidak tahu dia pergi ke mana. Ayo Pa, kita turun. Mama takut jika Noella sakit dan menyembunyikan itu dari kita." Ucap Mama Dona dengan wajah khawatir.


Ia mengira jika Noella sakit dan berusaha menutupi dari mereka. Langkah kaki Noella diikuti oleh Mama Dona dan Mattew hingga mereka sampai di depan ruangan khusus bayi.


"Dia jenguk bayi siapa, Pa?" Tanya Mama Dona penasaran.


"Ya Papa juga tidak tahu lah, Ma kan kita ikutin dia karena Mama yang ajak."


Rasa penasaran terus bergelayut di benak Mama Dona. Mereka berdua masih terus mengintai Noella yang menghabiskan beberapa menit waktunya di dalam ruangan khusus bayi.


Saat Noella hendak keluar rupanya Mama Dona dan Mattew sudah berdiri di depan pintu hingga membuat Noella begitu terkejut.


"Mama... Papa... Kalian kenapa bisa ada di sini?" Tanya Noella dengan wajah yang sangat jelas terkejut. Ia khawatir jika kedua orang tuanya mengetahui rahasia besar yang masih disembunyikannya bersama sang suami.


"Bayi siapa yang kamu jenguk, Noe?" Tanya Papa Noella.


"Itu... Itu... Bayi..." Noella tergagap harus menjawab apa pada Papa nya.


"Permisi Nona, anda sudah ditunggu dokter untuk membicarakan perihal perkembangan bayi anda." Ucap suster yang tiba-tiba berada di samping Noella.


Tentu saja Noella bertambah kali lipat rasa terkejutnya. Degup jantungnya berdetak semakin cepat. Wajah kedua orang tuanya sudah menatap dirinya dengan penuh telisik.


"Apa maksud ini Noella?" Tanya Papa Noella dengan suara yang sudah terdengar tegas dan serius.


"Mati aku. Bagaimana ini?" Batin Noella cemas.


"Kita temui saja dokter lebih dulu, Pa. Bukankah tadi suster mengatakan ingin bertemu dengan Noella mengenai bayi itu." Ujar Mama Dona seakan tahu celah untuk mendapatkan informasi lebih.


Noella dengan pasrah masuk ke dalam ruangan dokter bersama suster yang mengabari dirinya jika dokter sudah menunggu. Di dalam ruangan tersebut Noella sudah seperti orang tercekik kehabisan oksigen. Keringatnya mulai keluar dari pori-pori masih takut jika rahasia itu harus terbongkar lebih cepat.


Singkat cerita setelah penjelasan dokter selesai mereka semua keluar ruangan dokter. Kembali pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulut Mattew maupun Mama Dona. Terpaksa Noella harus berkata jujur karena Matteo sudah memaksa dirinya bersama Jack untuk kembali ke Amerika.


"Tidak, Pa. Aku harus di sini untuk merawat bayi itu."


"Apa alasannya? Berikan Papa alasan kuat kamu bertahan di sini hanya untuk merawat bayi itu. Jika kamu ingin memiliki anak, kamu bisa mendapatkan sendiri bersama suamimu."


"Tidak bisa, Pa tolonglah mengerti. Bayi itu tidak salah bayi itu sudah tak memiliki siapapun selain kami. Bayi itu anak Jack, Pa."


Jedeerr...


Kedua manik mata orang tua Noella membuat. Rahang Papa Noella sudah mengeras mendengar pengakuan Noella. Dia tak terima jika ternyata Jack memiliki anak dari wanita lain selain putrinya.


"Apa maksud kamu?!" Tanya Papa Noella dengan nada yang sudah tak enak didengar.


"Pa, aku tidka tahu jika ternyata Jack menghamili wanita lain dan wanita itu adalah teman Noella sendiri." Ucap Noella.


Kemabli hatinya merasa perih saat mengatakan hal tersebut. Tapi mau bagaimana lagi cepat atau lambat fakta itu pasti akan terbongkar.


"Tidak, Papa tidak setuju kamu mengurus bayi itu. Kita pulang sekarang, kita harus bicarakan masalah ini sekarang juga. Suruh pulang suamimu sekarang." Ucap Papa Noella dengan tegas lalu pergi meninggalkan Noella di rumah sakit.


Mama Dona hanya bisa terdiam dia sendiri tak tahu harus berkata apa. Tak menyangka jika menantunya bisa melakukan kesalahan se-fatal ini. Ia bisa melihat ada luka dari mata putri sambungnya.


Diusapnya lembut punggung Noella. "Sabar sayang, kita harus bicarakan ini segera. Pulanglah, kamu tahu bagaimana sikap Papa mu. Kita bicarakan bini baik-baik di rumah." Ucap Mama Dona dengan lembut.


Noella hanya bisa mengangguk lemah. Masalah ini pasti dihadapinya saat dirinya memutuskan untuk merawat anak Alya. Noella siap tak siap harus bisa memulihkan keadaan dan meyakinkan orang tuanya untuk menerima bayi Alya. Ia pulang dan tak lupa menghubungi sang suami untuk kembali ke rumah. Di rumah Noella terjadi keributan yang cukup menegangkan dan serius bahkan main fisik pun diperoleh Jack dari orang tuanya sendiri karena sikap Jack yang sudah keterlaluan mempermalukan kedua orang tuanya. Keputusan kedua orang tua Jack dan Noella adalah menolak untuk merawat bayi Alya. Mereka masih dalam keadaan emosi yang tak terkendali atas kenyataan yang mereka dengar.


Flashback Off


Sungguh menyedihkan, bayi mungil itu yang sudah dalam keadaan lemah dan berusaha bertahan hidup sungguh malang nasibnya.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Selaluuu terimakasih banyak atas support kalian sampai saat ini, Terimakasih Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian yang menjadi suntikan semangat author. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Bantu dan doakan semoga bulan ini dapat 1jt view dan kalian yang masuk Rangking 3 besar kategori readers paling support author, tunggu kejutan kecilnya hehe...🙏🙏


Semangat terus, bahagia selalu dan sehat selalu 🤗🤗


__ADS_2