Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 181. Siwi


__ADS_3

Rapat inti sekaligus membahas rencana merekapun telah selesai dilaksanakan, semua yang berkaitan dengan rencana pembangunan proyek baru telah mereka kantongi. Kini rapat dilakukan bersama para karyawan yang akan terlibat dalam pembangunan baru termasuk satu karyawan baru yang dalam pengawasan pihak Satya.


Terjadi sedikit perdebatan karena beberapa dari karyawan merasa keberatan adanya pembangunan proyek yang baru, tim yang ditunjuk oleh Jordi masih sama yaitu tim yang sebelumnya menangani proyek pembangunan resort yang ada di Bali. Hal itu dilakukan guna menyelidiki lebih dalam siapa saja yang terlibat dalam permasalahan penggelapan dana pembangunan. Biasanya seseorang jika melakukan kesalahan yang dapat menguntungkan dirinya sendiri tanpa ketahuan maka mereka akan mengulanginya kembali. Sama seperti maling dalam aksi pertama berhasil dengan pendapatan besar maka dia akan melakukan aksinya berulang kali.


"Tapi Tuan, bagaimana dengan proyek yang sebelumnya bahkan kasus itu belum jelas. Bagaimana jika perusahaan merugi besar dan mengakibatkan kefatalan bagi perusahaan ini." Protes salah satu karyawan.


Mereka takut jika perusahaan merugi besar akan mengakibatkan pengurangan karyawan karena biasanya seperti akan seperti itu. Demi menyelematkan perusahaan sebagai dari pemiliknya perusahaan akan menjalankan sistem pengurangan karyawan.


"Iya, Tuan apakah setidaknya kita menunggu terlebih dahulu hingga kasus kemarin selesai. Proyek pembangunan yang kemarin itu kita benar-benar kehilangan banyak dana."


"Tuan, ini sudah kami hitung perkiraan dana yang akan kita keluarkan untuk proyek ini sangat banyak. Mencapai seratus hingga dua ratus miliyar lebih ini ide yang sungguh gila jika kita nekat melakukan pembangunan ini keuangan perusahaan akan terkuras banyak sekali." Ucap Wahyu karyawan perencanaan anggaran pembangunan.


Jordi mengamati satu persatu karyawan yang ada di dalam ruangan tersebut. Terutama perhatiannya fokus pada karyawan baru yang sedari tadi hanya diam tak mengeluarkan pendapat apapun. Entah masih bingung dengan pekerjaannya atau memang mengamati situasi perdebatan dan akan mengambil celah dari permasalahan yang sedang berlangsung.


Wanita cantik dengan pakaian ketat ala kantoran yang membuatnya semakin terlihat cantik dan seksi itu tak sadar jika dirinya sedang diamati secara diam-diam.


Satya terus menampung setiap masukkan dan kritik dari karyawannya yang tengah berdebat. Rencananya tak mungkin mundur lagi bukankah ini semua demi memecahkan permasalahan perusahaan yang tak kunjung mendapatkan pelaku.


Setelah cukup lama mereka semua mengungkap pendapat atas pembangunan proyek baru itu, wanita cantik yang tengah menjadi target operasi Jordi itu akhirnya membuka suara. Ia mengangkat tangan untuk mengemukakan pendapatnya.


"Ya, kamu silahkan berbicara." Ujar Satya mengijinkan.


"Maaf sebelumnya Tuan dan rekan-rekan. Perkenalkan saya Siwi karyawan baru dari divisi perencanaan anggaran pembangunan, dari hasil perhitungan memang biaya yang akan kita keluarkan cukup banyak, sebelumnya juga terjadi perdebatan dalam divisi kami mengapa perusahaan tidak menuntaskan kasus terlebih dahulu tapi justru membangun proyek baru. Jika saya boleh berpendapat, perusahaan pasti sudah mempertimbangkannya dan jika perusahaan sampai berani mengambil resiko sebesar ini saya rasa perusahaan sudah memiliki suntikan dana yang lebih besar." Ucap Siwi dengan tenang, wajah cantiknya mampu mengalihkan seluruh perhatian para peserta rapat.


Tek... Suara petikan jari yang dilakukan boleh Satya.


"Pendapat yang sesuai. Saya butuh karyawan yang masih berpikir secara luas dan positif. Kami sudah memikirkan dengan matang mengenai pembangunan ini jadi kalian tak perlu khawatir. Kalaupun perusahaan ini dalam kondisi kritisi saya pasti bertanggung jawab dengan nasib kalian." Ucap Satya dengan tegas.


"Saya rasa pendapat dari Nona Siwi pun sejalan dengan saya, kalian hanya perlu menjalankan tugas kalian dengan baik sesuai dengan pekerjaan masing-masing. Kita memerlukan target untuk pembangunan ini, dalam jangka kurang dari satu tahun semua sudah harus selesai. Semakin lama proyek berjalan maka akan semakin membengkak anggaran yang dikeluarkan." Ucap Roichi.


Satya mengangguk setuju demikian juga dengan Jordi. Para karyawan yang lain pun terpaksa mau tak mau harus mengikuti peraturan sang atasan. Mereka semua secara tulus bekerja di perusahaan Satya karena perusahaan itu cukup memahami kebutuhan para karyawannya. Ketakutan akan goyangnya perusahaan hingga berakibat fatal dapat mereka rasakan dan mereka pun was-was. Tidak ada perusahaan yang berani menggaji karyawan dengan tinggi dan memenuhi keperluan karyawannya lebih dari kata layak. Jika perusahaan gulung tikar di mana lagi mereka mencari perusahaan seperti Bala Corp.


"Baiklah karena dalam rapat ini hanya Nona Siwi yang mampu berpikir secara luas, maka saya menyerahkan untuk menghandle segala urusan anggaran dana yang dibutuhkan kepada Nona Siwi." Putus Satya dengan tegas.


"Tuan, tapi bukankah Nona Siwi masih karyawan baru dan harus banyak belajar terlebih dahulu. Apa tidak terlalu beresiko nanti? Maksud saya beresiko untuk kedua belah pihak, Nona Siwi merasa terbebani dengan tanggung jawab besar dan pihak perusahaan pun akan mendapatkan resiko mengingat kinerja Nona Siwi yang masih baru." Ucap Wahyu.


"Bukankah semua yang diterima bekerja di sini harus siap dalam segala.tugas dan tanggung jawab? Tentu saja perusahaan tidak akan menerima karyawan yang belum memiliki jam terbang yang tinggi." Ucap Satya.


Rencananya tidak boleh gagal, dia sengaja melimpahkan tanggung jawab besar dalam anggaran dana pembangunan. Menyelidiki gerak-gerik dan niat terselubung dari wanita itu.


Siwi cukup merasa kesal dengan ucapan Wahyu yang meremehkan kinerjanya. Selama di perusahaan lama dirinya tak pernah mengecewakan bos-nya bahkan saat akan keluar dan berhenti bekerja di perusahaan lama pun dirinya ditahan oleh bos-nya karena kinerja yang memuaskan.


Wahyu terdiam saat Satya membuka suara merespon pendapatnya. Sejujurnya Wahyu hanya khawatir saja jika Siwi salah langkah dan justru merugikan perusahaan. Kembali Wahyu hanya mengikuti saja keputusan bos-nya.


"Terima kasih atas kesempatan dan kepercayaan yang Tuan berikan kepada saya. Sejujurnya saya merasa tersanjung dan juga merasa deg-degan ini pekerjaan serta tanggung jawab besar yang pertama kali saya harus lakukan di perusahaan ini. Sekali lagi terima kasih, Tuan." Ucap Siwi dengan senyum manisnya menatap Satya.


Satya menanggapi ucapan Siwi dengan mengangguk, "Saya harap kinerja kamu sesuai dengan harapan saya. Lakukan yang terbaik"


"Baik, Tuan terima kasih." Ucap Siwi dengan senyum yang kembali terbit dengan manisnya hingga kecantikannya bertambah.


Beberapa karyawan pria cukup terpukau dengan wajah Siwi. Wanita itu terlihat dewasa dan juga sangat menarik sekali.


Rapat dibubarkan setelah semua selesai, tujuan Satya, Jordi dan Roichi hanya ingin melihat sikap dan kinerja yang sekilas karyawan baru itu miliki. Karyawan yang mereka bidik sebagai target untuk saat ini.


Satya kembali ke ruangannya, di mana Grace menemani Kaili yang sibuk menggambar desain bangunan. Grace hanya cukup menemani saja dan menyiapkan segala yang diminta oleh Kaili tapi sepanjang ditinggal rapat oleh Satya, pria kecil itu tak menyusahkan Grace sehingga wanita itu merasa senang dalam menjaga Kaili bahkan dirinya bisa melanjutkan pekerjaan sekaligus menemani Kaili.


Pintu ruangan terbuka, tanda bahwa seseorang memasuki ruangan. Bukan hanya seseorang tapi melainkan tiga orang pria yang status jabatan lebih tinggi dari Grace. Sontak wanita itu berdiri memberikan hormat pada ketiganya. Meski terkadang garce bersikap sembrono terhadap Jordi tapi ketika dihadapan Satya dan Roichi maka ia akan menempatkan diri dengan baik.


"Tuan." Sapa Grace menunduk hormat.


"Daddy, Daddy sudah selesai?" Tanya Kaili menyapa.


Saat Grace menyapa Satya membalas dengan anggukan lalu tersenyum hangat pada Kaili.


"Sudah, boy. Bagaimana apa kamu bosan?" Tanya Satya.


"No, aku menggambar dan sesekali aunty Grace mengajakku mengobrol."


Satya kembali tersenyum pada Kaili.


"Papi juga masih di sini? Aku kira Papi langsung pergi lagi." Ucap Kaili beralih pada Roichi.


"Papi masih ingin bersamamu. Apakah tidak boleh hem?" Tanya Roichi lembut seperti biasa memperlakukan Duo Kay.


"Boleh, Papi memang seharusnya lebih lama di sini Papi terlalu sibuk."


Roichi terkekeh kecil, "Papi bekerja, boy. Kan di sini sudah ada Daddy yang menemani."


Satya sudah mulai terbiasa jika Roichi bersikap lembut dan memanjakan kedua anaknya. Dia sadar jika Roichi pun berjasa dalam kehidupan istri dan anak-anaknya. Tapi untuk melihat Roichi berdekatan dengan istrinya Satya masih belum bisa menahan rasa cemburunya. Sesama seorang pria Satya tahu jika Roichi pun memiliki rasa untuk istrinya tapi Satya tak ingin memperbesar masalah itu jika Roichi tak mengusiknya kehidupannya.


"Iya Daddy selalu menemani, mengantar sekolah dan menjemput sekolah jika Daddy tidak sibuk hampir sama seperti Papi dulu. Tapi Papi lebih sibuk dari Daddy."


Satya dan Roichi terkekeh mendengar ucapan Kaili. Memang benar adanya jika Satya selalu berusaha meluangkan waktu untuk keluarga kecilnya sedangkan Roichi yang diberikan tugas dan tanggung jawab besar oleh Tuan Hector memang harus bekerja dengan maksimal. Waktu pria itu lebih banyak tersita oleh pekerjaan. Roichi pun tak protes dengan kehidupannya yang lebih padat akan pekerja dibandingkan dengan keluarganya. Justru dirinya merasa lebih nyaman bekerja karena merasa bebas dan terfokus pada satu titik saja.


"Papi mu memang seperti itu dia pekerja keras jika kamu menginginkan sesuatu mintalah pada Papi mu dia banyak uang, boy." Ujar Satya pada Kaili dengan santai.


Roichi langsung melirik ke arah Satya, "Hei apa tidak terbalik siapa yang banyak uang di sini?" Protes Roichi. Bisa-bisanya Satya mengumpan dirinya sebagai pria banyak uang sedangkan jelas-jelas Satya lah yang lebih dari dirinya dalam bidang materi.


"Tapi jika untuk anak-anak ku, saya pun tidak keberatan juga sih. Selama saya mampu." Ujar Roichi kembali.

__ADS_1


Melihat percakapan diantara Roichi, Satya dan Kaili membuat Grace merasa bingung dan penasaran. Sedekat itukah Satya dengan rekan kerjanya hingga putra bos-nya itu sampai memanggil Roichi dengan sebutan Papi.


Tak mau ambil pusing Grace langsung memilih untuk berpamitan keluar ruangan Satya karen merasa masih banyak pekerja.


"Tuan, maaf saya permisi."


"Ah iya Grace. Terima kasih sudah menjaga putra saya."


"Sama-sama, Tuan."


Grace langsung keluar ruangan, Jordi masih tetap berada di dalam ruangan Satya. Mereka masih membahas kelanjutan rencana mereka. Sebelum itu Satya meminta Jordi untuk memberitahu Grace bahwa mereka tidak bisa diganggu untuk sementara waktu. Pintu ruangan Satya terkunci otomatis, ruangan itu tersekat oleh kaca tebal berwarna putih buram dari bawah hingga atas. Ruangan tersebut pun terpasang peredaman suara jadi mereka tak khawatir saat membicarakan masalah yang bersifat serius dan privasi.


"Kita sudah mulai bergerak tugasmu mengawasinya terus, Jordi." Titah Satya.


"Baik, Tuan tenang saja semua akan saya pantau bersama anak buah saya."


"Iya, jangan sampai terlewatkan sedikitpun. Jangan sampai untuk kali ini kita kecolongan dan merugi kembali. Pastikan orang itu tertangkap dan membayar semuanya."


"Menurutku kita harus kerja cepat, bergerak lebih cepat dan mengantisipasi dengan menyiapkan beberapa planning untuk mengantisipasi kegagalan." Ujar Roichi.


"Itu sudah pasti, kita harus menyusunnya dengan sebaik mungkin." Ucap Satya.


Jordi mengangguk paham, Kaili hanya diam mendengarkan pembicaraan ketiga orang dewasa itu sembari menggambar desain bangunan yang dipesan oleh seseorang kepadanya. Bocah kecil itu tak pernah sepi dari permintaan para pecinta karyanya. Kaili tak pernah memasang tarif untuk karya yang dihasilkannya tapi mereka selalu menghargai karya bocah kecil itu dengan cukup tinggi sebanding dengan hasil karyanya. Maka dari itu beberapa orang yang baru mengenal karya Kaili sudah merasa minder jika hanya memberikan harga rendah atas hasil karya bocah itu. Otomatis semua berjalan begitu saja sesuai dengan kebiasaan yang sudah Kaili dapatkan.


"Oh iya, Tuan baru saja Bella memberikan kabar jika Nyonya dan Nona kecil menemui Nona Iva membahas kerjasama Nona kecil dan Tuan kecil yang masih berlangsung." Ujar Jordi.


"Bella menghubungi mu?" Tanya Satya memastikan.


Jordi mengangguk sedikit ragu saat melihat senyum misterius dari Satya yang terkesan lebih ke arah meledeknya. Roichi mengerutkan kening atas ekspresi kedua pria yang ada dihadapannya.


"Ada apa?" Tanya Roichi bermaksud menayangkan ekspresi mereka.


"Ekhem, tidak. Apakah Bella menemani putri dan istri saya?" Tanya Satya.


"Tidak, Tuan. Bella menghandle butik. Nyonya dan Nona kecil pergi menggunakan taksi online."


"Sugeng ke mana? Kenapa tidak ngantar mereka?" Tanya Satya dengan wajah berjbah serius.


Sugeng adalah sopir baru yang disiapkan oleh Satya untuk istrinya. Sopir yang lama terpaksa Satya pecat karena tidak disiplin dalam bekerja hingga membuat Belva harus pergi kemanau sendiri meski istrinya itu tidak pernah keberatan.


"Bukankah, Tuan sudah mengijinkannya pulang kampung untuk menemui ibunya."


"Astaga... Kenapa jadi pikun begini?" Gumam Satya.


"Faktor U tidak usah heran." Ucap Roichi dengan santai karena mendengar Satya bergumam.


Satya langsung memasang wajah sebal dan garang pada Roichi. Rupanya semakin mereka lebih akrab sifat-sifat menyebalkan satu sama lain sudah mulai terlihat diantara mereka hingga mulai ada perdebatan kecil seperti anak-anak.


"Setidaknya aku tidak menjadi pria pikun seperti mu. Jangan sampai kamu faktor U yang kamu miliki membuatmu lupa apda istri mu." Ledek Roichi, Satya semakin sebal dengan pria yang pernah menjadi rivalnya dalam memiliki perasaan pada Belva. Bukan pernah bahkan sampai saat ini pun satuasih merasa Roichi adalah rivalnya.


"Jangan berharap saya melupakan istri saya, jangan cari kesempatan kamu." Ujar Satya sinis.


"Haha kesempatan itu harus digunakan sebaik mungkin jika ada." Celetuk Roichi.


"Hei kamu berani mengambil kesempatan dalam kesempitan." Ucap Satya kesal.


Jordi menatap kedua pria itu dengan tatapan tak percaya bahwa Roichi dan Satya akan berdebat seperti anak kecil.


"Stop. Kenapa kalian malah ribut seperti ini? Ponsel anda berbunyi Tuan Roichi." Jordi menyudahi keributan kecil yang terjadi dihadapannya.


Benar saja ponsel Roichi berbunyi, Tuan Hector menghubungi untuk menanyakan perkembangan perusahaannya di Indonesia dan juga permasalahan perusahaan menantunya.


Perhatian Tuan Hector pada kondisi menantunya itu membuat Satya merasa hangat di dalam hatinya. Dirinya sudah bukan anak kecil lagi tapi Tuan Hector masih memberikan perhatian seperti seorang ayah kepada anaknya.


"Tuan tenang saja, perusahaan Bala Corp akan tetap baik-baik saja. Kita sedang membahas rencana selanjutnya karena kita sudah memulai hari ini."


"Baguslah, terus kawal permasalahan perusahaan Bala Corp. Saya tidak ingin anak dan cucu saya merasa bersedih atas kasus yang menimpa menantuku."


"Baik, Tuan kita akan bersama-sama menyelesaikan kasus ini."


Ada rasa sakit yang dirasakan Roichi saat Tuan Hector menyebutkan bahwa Satya sebagai menantu. Pikirannya terputar dengan dua kata seharusnya dan seandainya dirinyalah yang menjadi menantu Tuan Hector.


***


Hari berlalu kini Satya membawa istrinya pergi ke rumah sakit. Lagi-lagi Belva tak mengerti tujuan Satya membawanya ke rumah sakit. Pikirannya mengatakan bahwa Satya akan mengajak menemui baby As tapi ternyata bukan.


Tak perlu mengantri lagi karena Satya sudah melakukan janji tentu untuk berkonsultasi pada dokter tersebut tanpa sepengetahuan Belva.


"Mas, kenapa ke sini?" Tanya Belva.


"Sudah ayo masuk, kita tidak perlu mengantri mas sudah membuat janji pada dokter."


Keduanya masuk ke dalam ruangan dokter tersebut. Keduanya disambut oleh senyum ramah dari dokter berwajah Arab tersebut.


"Silahkan masuk, Tuan Satya."


"Terima kasih, dokter."


"Silahkan duduk, apakah ini istri anda?" Tanya dokter berwajah Arab tersebut.

__ADS_1


"Iya benar, ini istri saya."


"Wah cantik sekali, anda beruntung mendapatkan daun muda, Tuan." Kekeh dokter cantik tersebut.


Name tag nya bertuliskan dr. Latifah Raiz, Sp. OG. Gelar yang tak mudah didapatkan dan tak sembarang untuk didapatkan. Mengemban tugas dengan sumpah sebelum benar-benar diijinkan terjun dalam berpraktek menyelamatkan dan menolong sesamanya.


Satya tersenyum tipis, beruntung memang sudah pasti bak ketiban durian runtuh dan rejeki nomplok baginya saat berhasil mendapatkan Belva.


"Baiklah, Nyonya perkenalkan saya dokter Rais yang akan menggantikan dokter Amalia karena beliau dipindah tugaskan ke daerah perbatasan." Ujar dokter Raiz memperkenalkan diri.


"Ah iya dokter Rais, saya Belva panggil saja Belva." Belva menyambut uluran tangan dokter Raiz.


"Apakah ada keluhan selama ini?" Tanya dokter Raiz.


Belva menggelengkan kepalanya, bahkan dirinya tak merasakan adanya permasalahan terhadap kandungannya.


"Tidak ada, dok."


"Lalu ada apa, Tuan Satya?" Tanya dokter Raiz.


"Emm... Begini dokter. Istri saya sedang mengandung dua bulan. Apakah kami boleh melakukan hubungan?" Tanya Satya tanpa ragu pada akhirnya.


Selama istrinya dinyatakan hamil Satya belum sama sekali menyentuh istrinya secara berlebihan karena masih takut dan masih belum paham apakah diperbolehkan atau akan membahayakan bayinya.


Belva mendengar pertanya Satya yang tanpa ragu itu langsung menoleh pada suaminya dan mendelikkan matanya. Tangan Belva mencubit paha suaminya, mengapa suaminya itu tidak membicarakan langsung pada dirinya jika ingin berkonsultasi hal itu.


"Mas..."


"Aow... Yank." Ucap Satya menahan pedas pada pahanya.


Dokter Raiz tersenyum geli melihat tingkah sepasang suami istri yang tergolong unik tersebut karena perbedaan usia yang cukup jauh.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Ini hal yang wajar dan justru bagus karena Tuan berani untuk berkonsultasi lebih dahulu sebelum melakukanya." Ucap dokter Raiz tersenyum..


"Dengar kan, yank ini bagus." Ucap Satya merasa bangga pada diriny sendiri.


Belva menghela napas, entahlay terkadang suaminya itu bersikap menyebalkan. Tapi Belva juga cukup penasaran dengan jawaban dokter atas pertanyaan suaminya.


"Begini Tuan dan Nyonya, karena usia kehamilan Nyonya masih memasuki usia dua bulan maka sebaiknya ditahan dulu karena usia kehamilan masih termasuk trisemester pertama. Usia kehamilan ini masih dalam tahap perkembangan awal baik janin maupun plasenta (ari-ari) jadi masih rawan, Tuan dan Nyonya. Berhubungan in*tim dapat memicu kontraksi pada rahim dan dapat menyebabkan lepasnya kantung kehamilan dan embrio berserta plasentanya. Dan itu bisa mengakibat terjadinya abortus atau keguguran." Jelas dokter Raiz dengan lembut agar kedua pasangan suami istri itu dapat memahami penjelasan darinya.


Satya sedikit kecewa dengan penjelasan dokter. Pasalny dia harus menahan hasr*at alamiahnya yang sejak kemarin belum juga tersalurkan.


"Lalu kapan kami bisa melakukannya, dok?" Tanya Satya kembali dengan rasa antusias karena berharap secepatnya dirinya bisa terbebas dari siksaan itu.


"Tidak ada batasan sebenarnya karena kondisi setiap ibu hamil itu berbeda-beda. Tapi akan lebih baik diatas usia enam belas minggu karena janin sudah lebih kuat dan lebih aman."


Itu artinya Satya harus menahannya selama dua bulan lagi. Pria itu langsung down seketika, kepalanya pun terasa pusing jika harus memikirkan dirinya yang terlantar akibat kehamilan istrinya.


"Jadi saya harap Tuan dan Nyonya bisa menahannya lebih dulu ini demi kebaikan ibu dan bayi, terlebih Nyonya masih terlihat sangat muda sayang sekali jika pada kehamilan pertama ini harus keguguran."


"Maaf dokter ini kehamilan kedua saya." Ucap Belva meluruskan.


Ucapan Belva membuat dokter Raiz ber-oh ria. Tapi ada rasa aneh dan penasaran mengapa pasangan suami istri dihadapannya tak paham dengan peraturan berhubungan saat hamil.


"Oh begitu, seharusnya kalian sudah mengerti mengenai peraturan berhubungan jika ini kehamilan yang kedua."


Belva dan Satya terdiam, nyatanya mereka memang tidak mengetahui perihal tersebut. Kehamilan pertama saja Belva tak bersuami sedangkan Satya tak mengetahui meski pernah berumah tangga. Saat bersama Sonia ketika wanita itu hamil Satya tak pernah menyentuhnya sama sekali hingga melahirkan baru Satya baru menyentuhnya itupun hanya bisa dihitung dengan jari.


"Amm... Saat istri saya hamil untuk pertama kalinya, saya tidak mendampinginya jadi kami tidak paham." Ujar Satya.


Kening dokter Raiz berkerut, bagaimana bisa seorang istri hamil tapi suami tak mendampingi.


"Apakah anda seorang prajurit? Tapi sepertinya penampilan anda tidak menunjukkan jika anda seorang prajurit."


"Suami saya seorang pengusaha, dokter jadi dia sibuk mengurus bisnis hingga ke luar negeri jadi kami jarang bertemu saat kehamilan pertama saya." Jawab Belva, ia melihat Satya terlihat bingung harus menjawab seperti apa.


"Ah iya saya paham, memang seorang pebisnis selalu sibuk terlebih jika usahanya sangat maju. Lalu bagaimana anak pertama, Tuan dan Nyonya? Berapakah usianya?"


"Lima tahun, Dok." Jawab Satya.


Kembali dokter tersebut sedikit terkejut itu artinya pasiennya menikah di usia yang sangat muda. Banyak yang ia pikirkan tapi sebagai seorang dokter tak pantas jika harus mengkorek informasi lebih dalam terlebih menyangkut privasi seseorang.


Percakapan terus berlangsung mengenai konsultasi tersebut hingga keduanya berpamitan setelah dirasa cukup. Satya cukup merasa kecewa tapi demi istri dan bayinya dia mencoba untuk menerimanya. Satya pun tak ingin jika Belva dan calon bayinya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Rumah sakit tempat konsultasi Satya dan Belva masih menjadi satu dengan tempat di mana baby As dirawat. Sebelum mereka pulang mereka menyempatkan untuk menjenguk baby As tapi mereka merasa penasaran dengan seseorang yang terus memperhatikan tempat baby As dirawat.


"Mas, itu siapa?" Tanya Belva menunjukkan seseorang yang berdiri di depan kaca jendela memperhatikan ke arah dalam.


"Mungkin salah satu orang tua bayi yang ada di dalam." Jawab Satya.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Terima kasih masih setia support author sampai saat ini, masih mau menunggu kelanjutan cerita receh ini 🙏🙏🙏


Terima kasih buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian 🙏🙏

__ADS_1


Jangan lupa besok Sabtu author umumkan buat readers yang masuk peringkat 1 yang terpantau readers paling support author. 🙏


__ADS_2