
Akhir-akhir ini banyak sekali hal-hal yang harus dikerjakan oleh Satya dan juga Jordi. Urusan yang sangat penting tak mungkin mereka limpahkan pada karyawan biasa. Menyangkut keberhasilan dan keberlangsungan perusahaannya sendiri, maka Satya akan lebih memilih untuk turun tangan sendiri.
Sudah bertahun-tahun Satya berkerja keras untuk membangun perusahaan hingga sebesar dan semaju seperti sekarang ini. Jika ada orang lain yang macam-macam dengannya untuk menjatuhkan perusahaannya dalam bentuk apapun. Jangan harap seorang Satya hanya berpangku tangan saja.
"Mengenai FF Group, saya juga tak menyangka mengapa materi kita bisa berada dalam genggaman mereka." Ucap Jordi.
"Anda mengatakan jika berkas itu hilang, dan seingat saya bukankah berkas itu sudah anda pegang sendiri ?" Ucap Jordi kembali.
"Iya berkas itu memang telah kupegang. Apa kamu mencurigaiku ? Apa kamu pikir aku gila memberikan berkas penting itu pada orang lain ?!" Satya menatap tajam pada Jordi yang ada di sampingnya.
"Bu-bukan seperti itu Tuan. Maksud saya, apakah tidak ada hal mencurigakan sebelum berkas itu hilang. Penyusup atau sesuatu hal yang bisa mengakibatkan berkas itu berpindah tempat."
Jordi, melihat tatapan mata tajam Satya, pria itu merasakan ketakutan. Salah bicara bisa-bisa gajinya yang menjadi sasaran.
"Aku rasa tidak ada hal mencurigakan di dalam rumahku. Semua berjalan seperti biasa."
Jordi hanya mengangguk anggukkan kepalanya saja. Dia harus bekerja ekstra untuk kali ini. Dua pekerjaan sekaligus yang tak mudah untuk diselesaikan. Masing-masing masalah memiliki teka teki tersendiri.
"Kendarai mobilmu lebih cepat Jordi. Kita sudah terlambat. Kamu tahu kan waktu adalah uang." Perintah Satya dengan percaya diri.
"Ini sudah cepat Tuan, tapi Tuan tahu sendiri saat ini adalah weekend jadi jalan lebih macet daripada biasanya." Jawab Jordi sesuai fakta.
"Ck... Kamu saja yang lambat dari tadi mengendarai mobil. Ini sudah hampir lima menit kita terlambat." Satya mengomel.
"Iya tadi karena harus berhenti di minimarket, jadi kita sedikit terlambat Tuan."
"Jadi kamu menyalahkanku Jordi ?" Kembali tatapan tajam didapatkan oleh Jordi.
"Ya ampun astaga. Kenapa setiap hal yang salah selalu aku yang kena." Gumam Jordi dalam hatinya.
"Bukan seperti itu Tuan, tapi kan tadi memang kita harus berhenti be..."
"Haahh... Sudah... Sudah... Kamu fokus ke depan saja. Pikiran bagaimana caranya menyalip mobil-mobil di depan."
Perintah yang menyesatkan, di jalanan depan sudah jelas ramai sekali mobil berderet. Jika nekat untuk menyalip sana-sini bisa jadi memang sampai lebih cepat. Tapi bukan di tempat pertemuan meeting melainkan di IGD rumah sakit.
****
Belva bersama keluarganya yang lain kini tengah mengantar pulang seorang wanita tua yang telah ditolongnya tadi. Kebaikan hati Belva membuat Roichi dan juga Bella menatap kagum pada perempuan muda itu.
"Sudah turun di depan gang itu saja Nak." Ucap wanita tua itu.
"Apa rumah Nyonya masih jauh dari gang itu ? Biar kita antarkan saja sampai depan rumah." Ucap Belva.
"Tidak, hanya jalan beberapa meter saja. Mobil tidak bisa masuk ke dalam."
"Baiklah." Ucap Belva. Roichi pun juga mengangguk.
Kali ini mobil dikendarai oleh Roichi sendiri. Belva duduk di depan bersama Roichi. Sedangkan bagian belakang diisi oleh si kembar, Bella dan juga wanita tua tersebut.
Mobil berhenti sesuai dengan permintaan wanita tua itu. Belva ikut turun dari mobil, membantu wanita paruh bayar itu.
"Biar saya temani sampai ke depan rumah Nyonya. Belva membawakan sekantong plastik besar berisi barang belanjaan tadi.
Melihat Belva merasa sedikit kesulitan, Roichi akhirnya turun tangan. Ikut membantu dengan membawakan barang bawaan tersebut sedangkan kini Belva bisa dengan mudah memapah wanita tua tersebut.
"Nak, terima kasih atas kebaikan kalian. Semoga kebaikan kalian akan berbalik kepada kalian kembali. Aku mendoakan semoga kalian sehat selalu dan lancar dalam hubungan kalian." Doa dan harapan baik yang tulus dari wanita tua itu untuk Belva dan juga Roichi.
"Terima kasih Nyonya." Jawab Belva dan juga Roichi.
"Kamu beruntung Nak, mendapatkan wanita muda ini. Sudah cantik wajahnya, cantik pula hatinya. Jaga dia dengan baik pasti banyak orang di luar sana yang menginginkannya." Wanita tua itu tersenyum pada pada Belva dan Roichi, tangan rentanya menepuk-nepuk kecil lengan Roichi.
Belva mengernyitkan dahinya atas ucapan itu yang ditujukan pada Roichi. Pria itu menjadi tidak enak hati. "Maaf Nyonya maksud anda apa ?" Tanya Roichi dengan sopan.
"Bukankah Nona cantik ini istrimu ? Kamu sangat beruntung mendapatkannya."
"Hah ? Anda salah sangka Nyonya. Saya bukan istrinya. Bagaimana bisa dia adalah Om saya Nyonya." Belva terkekeh mendengar penuturan wanita itu.
"Oh maaf, aku kira kalian sepasang suami istri. Meski jika dilihat-lihat memang sepertinya jarak usia kalian berbeda."
Roichi hanya tersenyum saja ketika pembicaraan kali ini membahas masalah usia. Memang Roichi seorang pria yang sudah kepala empat. Berbeda jauh dengan Belva yang masih kepala dua.
"Kita sudah sampai. Ini rumahku, ayo mampir dulu."
"Terima kasih tapi maaf Nyonya kami harus segera kembali. Lain waktu kami akan mampir." Ucap Belva berpamitan.
"Ya sudah terima kasih sekali lagi kalian telah menolongku."
"Sama-sama Nyonya. Kami permisi dulu. Ini barang belanjaan Anda." Ucap Roichi memberikan barang belanjaan wanita tua itu.
Belva dan Roichi akhirnya kembali pulang. Mereka berjalan menuju mobil kembali. Belva masih terkekeh dalam perjalan mengingat ucapan wanita tua tadi.
"Ada apa Nona ?" Tanya Roichi yang melihat Belva tertawa.
"Apa Om tidak merasa lucu. Nyonya tadi bisa-bisanya menyangka jika aku adalah istrimu. Apakah kita terlihat sedekat itu." Belva terkekeh kembali.
Roichi hanya menanggapi dengan senyum lebarnya. Melihat wanita muda yang ada di sampingnya tertawa lepas hingga menambah kadar kecantikannya.
"Mungkin, banyak sekali yang menyangka seperti itu. Terlebih saat kita jalan-jalan bersama si kembar." Ucap Roichi.
"Benarkah ? Kenapa aku tak mengetahuinya."
"Iya Nona. Bahkan rekan kerjaku pun menyangka jika dirimu adalah istriku."
"Tapi memang lucu sekali, masih pantaskah saya memiliki anak sekecil Duo Kay." Kini Roichi yang terkekeh mengingat sangkaan orang-orang di luar sana.
Belva pun ikut terkekeh dengan cerita Roichi. Tapi sesaat dirinya mulai terdiam. Pertanyaan Roichi masih pantaskah pria seusianya memiliki anak sekecil Kaili dan Kaila. Jika Belva kembali melihat wajah Roichi sepertinya usia mereka hampir sama. Mereka yang Belva maksud adalah Roichi dan Ayah kandung si kembar.
"Eeemm... Om. Apakah usia Om sekitar 40 tahun ?"
Roichi menoleh ke arah Belva, sedikit merasa bingung akan pertanyaan itu. "Iya. Memang ada apa Nona ?"
"Ah tidak... Hanya menanggapi yang tadi. Bahkan ada yang usianya 50 tahun ke atas tapi mereka juga masih memiliki anak kecil."
"Maksud Nona jadi saya masih pantas memiliki anak kecil ?"
"Tentu saja, mereka yang memiliki istri tiga atau empat itu bahkan usia mereka bisa lebih dari 50 tahun. Dan mereka juga terkadang memiliki anak kecil dalam pernikahan mereka.
"Iya Nona benar juga. Kita langsung pulang ?" Tanya Roichi.
"Iya. Anak-anak pasti sudah lelah."
Mereka kembali pulang ke rumah minimalis milik Belva. Selama Roichi mengunjungi mereka memang pria itu menginap di rumah Belva.
Si kembar memang sudah terlihat kelelahan. Sampai di rumah mereka membersihkan diri lalu beristirahat. Hari ini adalah hari yang padat sekaligus menyenangkan bagi Duo Kay.
Keberadaan Roichi seakan membuat mereka bisa merasakan bagaimana rasanya berlibur bersama keluarga yang lengkap. Meski Roichi bukanlah ayah kandung mereka. Tapi pria itu selalu berusaha memberikan apa yang diinginkan oleh Duo Kay.
Sore sudah mulai menempati posisinya. Duo Kay terbangun dari tidur mereka. Kegiatan istirahat itu cukup membuat tubuh dua bocah kecil itu kembali segar dan pulih dari rasa lelahnya.
"Mami..." Panggil Kaila yang masih dalam keadaan setengah sadar. Rambutnya masih acak-acakan.
__ADS_1
Gadis kecil itu berjalan keluar mencari Maminya. Ia tahu Maminya jika bukan di ruang keluarga pasti di dapur. Karena rumah yang tak terlalu luas Kaila dapat menemukan Maminya dengan mudah.
"Sayang, kamu sudah bangun ? Dimana kakak ?" Tanya Belva meletakkan segelas jus yang hendak diberikan pada Budhe Rohimah dan juga Roichi.
"Kaili masih tidur. Mami aku haus."
"Ooohh anak Mami haus. Tunggu sebentar, Mami ambilkan air minum." Belva mengangkat putrinya untuk diletakkan di kursi meja makan.
Gelas kecil berisi air putih diberikan pada gadis kecil kesayangan Belva. Selesai dengan minumnya, Kaila terdiam sejenak. Sepertinya bocah itu berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"Sayang kamu tunggu di sini dulu. Mami antar jus untuk Uti dan Om Roichi dulu ya."
Kaila mengangguk saja tanpa bertanya macam-macam. Belva mengantarkan jus ke teras belakang rumah. Tempat itu menjadi favorit mereka saat sore hari. Karena dari tempat itu mereka bisa melihat sorot matahari yang akan tenggelam dalam tempat persembunyiannya.
"Terima kasih Nduk. Kamu mau ke mana ?" Tanya Budhe Rohimah.
"Membawa Kaila ke sini. Dia sudah bangun, tadi aku menyuruhnya menunggu di meja makan selagi aku mengantar jus ini."
"Oh iya, bawalah cucuku kesini. Apa Kaili belum bangun ?"
"Belum kata Kaila dia masih tidur. Sebentar Budhe."
Belva berlalu dari teras belakang menuju dapur. Roichi menatap kepergian Belva, lalu beralih menatap Budhe Rohimah.
"Bu, maaf jika saya lancang. Sebenarnya di mana Ayah si kembar ?" Tanya Roichi yang sedari dulu sudah penasaran dengan keberadaan Ayah kandung Duo Kay.
Budhe Rohimah menatap serius pada Roichi setelah pertanyaan itu didengarnya. Ia tahu di mana ayah si kembar tapi ia takut jika Belva tak berkenan orang lain mengetahui masalah pribadinya.
"Maaf Nak, apa yang sudah kamu ketahui mengenai Belva ?" Jawaban Budhe Rohimah justru menjadi sebuah pertanyaan untuk Roichi.
"Saya hanya mengetahui jika Nona hamil tanpa suami. Selebihnya saya tidak tahu. Mungkin ada cerita kelam yang dialami oleh Nona dalam hal ini."
"Iya, kamu benar. Maka dari itu Ibu tidak berani menceritakan masa lalu Belva. Biar semuanya terkubur dengan seiring berjalannya waktu. Saat ini dia sudah bahagia dengan kehidupannya."
"Maaf, saya hanya penasaran saja. Tapi bukankah seiring berjalannya waktu juga si kembar semakin bertumbuh dewasa dan pasti mereka akan bertanya mengenai hal ini ?" Roichi kembali bersuara.
"Iya tapi biarkan semua itu ibunya sendiri yang menjelaskannya. Karena hanya dia yang memiliki kapasitas untuk itu." Ucap Budhe Rohimah.
Keduanya berhenti membahas hal itu karena kedatangan Belva dan juga Kaila. Gadis kecil itu terlihat lengket dengan Maminya. Mungkin ia ingin bermanja-manja dengan Maminya. Bahkan duduk saja masih menempel seperti anak koala.
"Hei Tuan putri, kenapa tumben sekali minta digendong." Roichi menggoda Kaila. Gadis kecil itu hanya menatap saja tanpa menjawabnya.
"Iya ini tumben sekali. Biasanya bangun tidur langsung ambil pensil warna." Belva terkekeh.
"Mami... Besok ada acara di sekolah, Mami tidak lupakan ?" Tanya Kaila.
"Tidak sayang Mami tidak lupa." Jawab Belva.
Saat ini mereka sedang bercengkrama, mengobrol bersama. Dalam perkumpulan itu hanya kurang Bella dan Kaili saja. Bella sehabis kembali gadis itu memutuskan untuk ke butik Belva. Sedangkan Kaili masih juga belum terbangun dari tidurnya.
"Mami... Mami.... Uti..."
"Aunty... Mami..."
Kaili rupanya baru saja terbangun, melihat saudara kembarnya sudah tidak ada di kamar mereka. Pria kecil itu keluar kamar tapi terlihat sepi. Berteriak memanggil orang-orang dewasa yang biasa menjaganya.
"Sepertinya itu Tuan kecil sudah bangun Nona." Ucap Roichi
"Iya, sayang turun dulu. Mami bawa kakak ke sini dulu." Tapi sayang Kaila tetap tak ingin turun dari pangkuan Maminya.
"Tidak mau. Kaili... Ooo Kaili." Gadis kecil itu justru berteriak memanggil kembarannya.
Belva hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan putrinya. Budhe Rohimah dan Roichi pun tersenyum melihat tingkah Kaila.
"Ibu duduk saja, biar saya saja yang membawanya ke sini." Cegah Roichi. Budhe Rohimah mengangguk dan duduk kembali.
Roichi berdiri masuk ke dalam rumah menghampiri Kaili. Pria kecil itu terlihat mengucek matanya. Wajah menggemaskan khas balita sangat terlihat jelas.
"Tuan kecil, sudah bangun. Apa masih mengantuk ?" Tanya Roichi. Pria kecil itu hanya mengangguk.
"Ayo kita ke teras belakang, kita berkumpul di sana." Ajak Roichi.
Kaili langsung mengulurkan tangannya, Roichi tahu maksudnya. Pria itu menggendong bocah itu dan berjalan menuju teras belakang.
"Aku tidak mau turun." Tolak Kaili saat Roichi hendak menurunkannya.
Belva menatap putranya. "Sayang, Om Roi pasti lelah. Turunlah."
"Tidak apa-apa Nona. Saya tidak lelah, lagipula berat tubuh Tuan kecil tidak seberapa." Roichi memang tidak merasa keberatan atau kerepotan atas sikap Kaili.
Pria itu justru merasa senang bisa berdekatan dengan kedua bocah kembar itu. Hiburan tersendiri baginya jika bersama Kaili dan Kaila. Anaknya sudah besar jadi tidak mungkin lagi bisa digendongnya seperti itu lagi.
"Terserah Om saja, jika lelah jangan dipaksakan." Ucap Belva. Roichi hanya tersenyum.
Hari semakin gelap, mereka yang berada di rumah minimalis itu telah terlihat lebih segar. Mereka menikmati makan malam bersama dengan suasana penuh kekeluargaan.
Belva melayani seluruh anggota keluarganya termasuk Roichi. Bukan hal yang baru, Bella bahkan sudah paham dengan sikap rendah hati yang dimiliki oleh bosnya itu. Roichi awalnya sempat menolak tapi jika melihat bagaimana sikap Belva selama ini yang tidak pernah bersikap sombong. Roichi mengalah meski terkadang ada perasaan tidak enak.
"Ayah, akan kembali malam ini ?" Tanya Bella saat makanan di piring sudah mulai habis.
"Iya rencananya seperti itu, tapi Ayah masih ada urusan dengan si bos kecil nanti." Roichi melirik Kaili. Bocah kecil itu mengacungkan jempolnya.
Kaili sudah paham apa yang dimaksud oleh asisten pribadi kakeknya itu. Pasti masalah pekerjaan yang akan mereka bahas nanti.
"Maaf Nona, apakah saya bisa meminjam kamar si kembar untuk membahas masalah pekerjaan bersama Tuan kecil ?"
"Oh tentu bisa saja Om. Kaila, nanti bawa peralatanmu ke dalam kamar Mami. Kita menggambar bersama di kamar Mami."
"Oke Mami." Jawab Kaila.
"Sepertinya Nona juga terlihat sibuk. Bagaimana perkembangan butik Nona ?" Tanya Roichi.
"Om pasti tahu, aku tidak hanya bekerja untuk butikku saja tapi untuk butik Mama. Banyak sekali pesanan gaun di butik Mama. Apa di sana sedang musim pesta saat ini ?" Tanya Belva dengan terkekeh.
"Beberapa bulan lagi akan ada pesta perayaan pernikah Tuan Arnold. Jadi mungkin mereka sudah mulai mempersiapkannya sedari sekarang. Tuan Arnold mengundang banyak orang baik dari kalangan bawah hingga kalangan atas." Jelas Roichi.
"Oh pantas saja, banyak sekali pesanan gaun di butik Mama." Ucap Belva sembari membereskan piring-piring belas makanan mereka.
Belva di bantu oleh Bella dan juga Budhe Rohimah. Merek saling bekerjasama agar pekerjaan rumah cepat selesai. Kaili dan juga Roichi selesai makan malam mereka masuk ke dalam kamar bocah kecil itu.
"Tuan kecil." Panggil Roichi.
"Opmud. Bolehkah ketika kita bersama jangan memanggilku seperti itu."
Roichi mengernyitkan dahi, selama ini tidak pernah ada masalah atau protes dari bocah kecil itu.
"Memang ada apa Tuan ?" Tanya Roichi.
"Aku masih anak-anak kenapa memanggilku Tuan. Sudah seperti orang tua saja, sebenarnya aku tidak suka." Protes Kaili.
"Kenapa seperti itu ?" Tanya Roichi kembali.
__ADS_1
"Opmud... Bisakah memanggilku seperti Mami memanggilku ?"
Pertanyaan Kaili semakin membuat Roichi bertambah bingung. Dia tak mengerti maksud sebenarnya tuan kecilnya itu.
"Maaf tuan kecil, saya tidak mengerti."
"Opmud... Maksudku panggil aku seperti kamu memanggil aunty Bella dan anak-anak Opmud yang lain." Ucap Kaili lirih.
Baru Roichi paham apa yang sebenarnya diinginkan oleh cucuk dari Tuannya itu. Dia paham akan perasaan bocah kecil itu. Sepertinya bocah kecil itu memang benar-benar merindukannya sosok seorang Ayah.
"Apa maksud Kaili, Opmud harus memanggilmu sama seperti seorang Ayah memanggil anaknya tanpa bahasa yang formal ?" Roichi berusaha memahami bocah kecil itu dan berkata selembut mungkin.
Bocah kecil itu mengangguk pelan. Ada tatapan penuh harap dari Kaili. Berharap Roichi mau menerima keinginannya.
"Jika Mami mu dan Tuan Hector pasti mereka akan marah pada Opmud." Roichi sedikit menggoda Kaili.
"Tidak, aku akan bilang pada Mami. Dan jangan sampai Opa dan Oma tahu. Apa Opmud bisa ?" Tanya Roichi.
Roichi hanya tersenyum dan mengangguk. Pria dewasa itu menarik Kaili untuk dipeluknya. Dia paham akan bocah kecil itu, merasa kasihan sebenarnya. Bocah sekecil itu seharusnya juga membutuhkan kasih sayang dari seorang Ayah. Tapi mungkin keadaan tidak memungkinkan bocah itu mendapatkan hal itu.
"Tentu saja Nak. Apapun akan Opmud lakukan untukmu. Lakukanlah hal yang membuatmu nyaman." Jawab Roichi.
"Terima kasih Opmud. Sekarang kita akan membicarakan apa Opmud ?" Tanya Kaili. Bocah kecil itu senang jika Roichi mau mengerti keinginannya.
Demikian Roichi, pria itu juga merasa lebih santai ketika berbicara dengan Kaili. Bahkan membahas pekerjaan bersama kali ini pun terasa lebih menyenangkan. Suasana hati Kaili yang sangat baik mampu memberikan efek yang cukup bagus dalam diskusi mereka kali ini.
Masalah pembangunan resort itu, secara diam-diam Kaili turut ambil bagian. Perencanaan pembangunan dengan segala macam hal yang dibutuhkan dalam pembangunan itu. Semua bisa bocah kecil itu prediksi. Dan biasanya setiap prediksinya tidak pernah meleset.
Selesai dengan diskusi mereka, sepertinya Roichi harus mengundur jadwal kepulangannya ke Bali. Dia akan melakukan penerbangan besok pagi.
Pagi ini, Belva bersiap untuk mengikuti acara yang diadakan oleh sekolah Duo Kay. Bella membantu persiapan itu. Hari ini Bella tidak bisa mendampingi Belva dan Duo Kay. Ia harus mengurus butik Evankay selagi ditinggal oleh Belva.
****
Pagi ini Budhe Rohimah memutuskan untuk pergi ke pasar. Semua kebutuhan dapur telah habis. Beberapa kali memang Budhe Rohimah mengajukan diri untuk berbelanja di pasar sendiri. Belva sempat menolak karena khawatir akan kesehatan Budhenya tapi wanita paruh baya itu meyakinkan jika dirinya baik-baik saja.
Berbelanja di pasar susah menjadi hal biasa, untuk tawar menawar barang pun sudah luwes dilakukan. Latar belakangnya sebagai orang dari desa dan juga pekerjaan sebelumnya yang mengharuskannya pergi berbelanja di pasar.
Dengan mudah semua kebutuhan dapur telah dibeli oleh Budhe Rohimah. Saat berada di pasar ia melihat penjual ayam dengan beraneka warna. Melihat ayam kecil-kecil itu, ia berinisiatif untuk membelikannya untuk Duo Kay.
Masing-masing dibelikan lima ekor anak ayam oleh Budhe Rohimah. Setelahnya wanita tua itu berjalan kaki untuk pulang ke rumah. Jarak pasar tak jauh dari rumah Belva saat ini.
"Pasti Duo Kay senang dengan anak-anak ayam ini." Gumam Budhe Rohimah sembari melihat anak ayam yang diletakkan di dua kantong plastik transparan dengan lubang kecil-kecil. Tangan kanannya mengangkat tas belanjanya.
"Tuan, bukankah itu Bibi Imah ?" Tanya Jordi pada Satya. Telunjuknya menunjukkan ke arah ke depan.
Satya memperhatikan arah telunjuk Jordi. Seorang wanita paruh baya yang berjalan berlawanan arah dengan mobilnya.
"Jordi, kita putar balik. Aku harus menemuinya." Perintah Satya.
Jordi memutar balik arah mobilnya. Mereka mengikuti Budhe Rohimah. "Cepat Jordi berhenti di depannya."
"Tuan, apa tidak sebaiknya kita ikuti saja Bi Imah. Bukankah dia pergi tanpa berpamitan pada Anda. Saya merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan olehnya."
Satya mencerna ucapan Jordi, memang setelah dia menjenguk waktu itu asisten rumah tangganya sempat mengatakan jika akan berhenti bekerja dan tinggal bersama keluarganya.
Tapi bukankah wanita itu sudah tak memiliki keluarga lagi. Terlebih di kota ini, ia pernah mengatakan jika tak memiliki keluarga sama sekali.
"Kamu benar, kita ikuti saja dulu." Putus Satya.
Jordi dan Satya mengikuti Budhe Rohimah dengan jarak yang cukup jauh agar tidak mencurigakan. Saat sampai di gang sempit Budhe Rohimah masuk ke jalan itu.
"Jordi, mobil tidak bisa masuk ke dalam."
"Sebaiknya kita keluar saja Tuan. Mengikutinya jalan kaki." Saran Jordi.
Satya dan Jordi keluar dari mobil. Mereka mengikuti Budhe Rohimah. Tapi barang belanjaan Budhe Rohimah ada yang terjatuh, saat menengok ke belakang ia melihat mantan majikannya berada tak jauh dari dirinya.
"Tuan Satya, Tuan Jordi. Kenapa mereka ada di sini." Batin Budhe Rohimah.
"Tuan Bi Imah melihat kita." Ucap Jordi..
"Sudah kita hampiri saja dia." Satya berjalan cepat dan memanggil Budhe Rohimah.
Wanita paruh baya itu terlihat khawatir saat mantan majikannya menghampirinya. Tak mungkin lari, karena pasti akan semakin membuat kedua pria itu curiga.
"A-ada apa Tuan ?" Tanya Budhe Rohimah dengan sedikit gugup.
"Bi... Kenapa Bibi ada di sini ? Pihak rumah sakit mengatakan jika Bibi sudah dijemput oleh keluarga Bibi. Bukankah Bibi sudah tak memiliy keluarga ? Lalu kenapa Bibi masih ada di kota ini ?"
Sederet pertanyaan muncul dari bibir Satya. Pria yang terbiasa berbicara singkat itu tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"Anu... Itu... Iya saya memang dijemput oleh keluarga saya Tuan."
Satya memperhatikan kegugupan Budhe Rohimah. Memang sepertinya apa yang dikatakan Jordi benar jika ada yang sedang disembunyikan oleh wanita paruh baya itu.
"Lalu mengapa Bibi masih ada di kota ini. Bukankah Bibi tidak memiliki keluarga di sini ?"
"Ada Tuan. Saudara jauh. Saya memiliki saudara jauh di sini." Budhe Rohimah masih mencoba menutupi kegugupannya. Perlahan ia sedikit tenang saat mengetahui jawaban apa yang harus diberikan pada mantan majikannya.
"Saudara jauh ?" Kali ini pusat dahi Satya mengerut.
"Iya saudar jauh. Saya di sini tinggal bersama saudara jauh saya. Dulu saya tidak sengaja bertemu saat di pasar." Jawab Budhe Rohimah.
"Ada apa Tuan ? Kenapa Tuan ada di sini ?" Budhe Rohimah berbalik bertanya pada Satya.
"Kami bertemu klien di sekitar sini Bi." Jordi yang menjawab karena Satya masih terdiam mencari jawaban yang pas.
"Ah iya bertemu klien. Bi... Mbok Yati mengatakan jika barang-barang mu masih tertinggal di rumah. Apa Bibi tidak ingin mengambilnya ? Atau Bibi ingin barang-barang itu dipaketkan saja ?" Tanya Satya.
"Oh iya. Maaf Tuan kapan-kapan saya ambil sendiri saja." Jawab Budhe Rohimah.
Ia tak ingin jika dipaketkan maka alamat rumah Belva akan diketahui. Itu sangat berbahaya jika Alya dan Sonia mengetahuinya nanti, begitulah pikir budhe Rohimah.
"Tuan, apakah masih ada hal penting ? Jika tidak saya permisi karena saya tidak enak lama-lama bepergian." Budhe Rohimah beralasan karena sebenarnya kepalanya sudah mulai terasa sakit lagi.
Setelah kecelakaan itu, terkadang kepalanya terasa sakit. Hanya butuh istirahat rasa sakit itu akan hilang kembali.
"Ah iya. Maaf menghentikan perjalanan Bibi. Kalau begitu kami permisi dulu." Ucap Jordi.
"Mari Tuan, kita masih menemui klien kembali." Ajak Jordi. Bahkan pria itu berani menggeret lengan bosnya.
Melihat kedua pria itu telah pergi dan menghilangkan dari hadapannya. Budhe Rohimah merasa lega dan kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
****
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Terimakasih buat para reader setia.
Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.
__ADS_1
Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys π