
Malam sudah mulai beranjak, kini sudah pukul sebelas malam. Belva sudah berada di dalam kamar besarnya di lantai tiga. Selesai makan malam bersama para asisten rumah tangga, Belva menyempatkan diri sebentar untuk menunggu matanya mengantuk dengan cara mengobrol bersama Janis di Gasebo taman belakang rumah.
Hanya gadis itu yang bersedia menemani Belva di dalam kesendirian nya di rumah besar Satya. Mbok Yati sudah merasa lelah setelah seharian melakukan aktivitas, selesai mencuci semua peralatan makan wanita tua itu memilih untuk langsung tidur.
Rasa kesal itu pasti ada saat dirinya ditinggalkan sendiri di hari pertamanya menjadi seorang istri dari Aryasatya Balakosa. Beda cerita jika Satya pergi tetapi masih ada Duo Kay, dirinya tidak akan merasa kesepian seperti tadi.
Lelah menunggu kepulangan Satya yang hingga malam tak pulang-pulang, akhirnya mata Belva sudah mulai berat dan tak tertahankan lagi. Ia tertidur tanpa sadar di sofa dalam kamar nya. Meringkuk tanpa menggunakan selimut sama sekali.
Satya pulang tepat pukul dua belas malam, jas nya diletakan di lengan kirinya. Pria itu berjalan dengan langkah sedikit lesu karena merasa lelah. Dibukanya pintu kamarnya yang sudah berpindah di lantai tiga.
Kosong... Keningnya mengernyit istrinya tidak ada di dalam, ranjang besar itu kosong. Manik matanya tak dapat menemukan keberadaan istrinya.
"Sayang..." Panggil Satya, manik matanya masih mengedar menyusuri satu ruangan besar itu.
Dia berjalan dengan langkah tergesa-gesa menuju kamar mandi. Di dalam ruangan itu pun tak terlihat sosok isterinya. Perasaan Satya cukup khawatir istrinya tidak ada. Dia berjalan menuju pintu walk in closed belum sampai pada tujuannya, dia melihat sosok istrinya tengah tertidur pulas di sofa panjang yang menghadap ranjang.
"Astaga..." Des*ah Satya, dia menggelengkan kepalanya.
Merasa bodoh karena takut jika istrinya menghilang. Rupanya sang istri masih berada di dalam kamar mereka. Satya mendekati sofa panjang itu dan menatap wajah cantik sang istri.
"Maaf sayang harus meninggalkan mu di malam pertama kita setelah menikah." Lirih Satya, dia mengecup kening Belva cukup dalam dan lama.
Merasa ada sesuatu menyentuh keningnya, Belva mengerutkan kening. Kelopak matanya terbuka perlahan. Hanya leher seseorang yang bisa dilihatnya saat itu. Tangannya mendorong orang tersebut agar menjauh dari dirinya.
"Sayang, maaf mengganggu tidur mu."
"Mas... Kamu sudah pulang ? Jam berapa ini ?" Tanya Belva dengan nada serak khas bangun tidur.
Satya mengangguk lalu menatap jam di pergelangan tangannya. "Jam dua belas, tidur lah kembali."
Belva lalu beranjak dari posisinya berbaring di sofa, ia duduk di hadapan Satya yang tengah berjongkok sedari dirinya masih tertidur tadi.
"Dari mana ?" Tanya Belva.
"Mas, ada urusan penting di luar sayang."
"Bukan karena kecewa karena aku bilang belum memikirkan soal pembicaraan kita sebelum mas pergi ?"
"Pembicaraan soal memiliki anak kembali ?" Satya memastikan.
"Iya... Aku lihat tadi mas kecewa."
"Mas memang merasa sedikit kecewa sayang tapi mas paham kita baru saja menikah, ada Kay juga yang masih harus kita prioritaskan."
"Hmm... Terimakasih mas sudah memahami ku. Lalu urusan penting apa yang membuat mu harus pergi sampai selarut ini." Selidik Belva dengan mata menatap serius pada Satya.
"Mas menemui Sonia tadi karena ada sesuatu hal yang penting."
"Nyonya Sonia ? Jadi mas pergi untuk menemui mantan istri mu."
Sontak saja Belva merasa semakin kesal. Dirinya yang baru saja menikah dengan Satya justru di hari yang sama setelah pernikahan itu terlaksana suaminya lebih memilih pergi meninggalkan nya hanya untuk menemui sang mantan istri.
"Oh..." Hanya satu kata itu yang Belva ucapkan. Wajahnya sudah terlihat tidak menyenangkan, kusut dan cemberut.
Wanita itu beranjak dari sofa berjalan menuju nakas. Tenggorokan nya terasa sedikit kering, gelas berisi air putih itu diraih oleh Belva dan diteguk hingga seperempat.
"Yank..." Panggil Satya yang melihat perubahan wajah Belva.
"Hm..." Jawab vva dengan sebuah deheman, pertanda dirinya malas menjawab panggilan suaminya.
Satya dengan tubuh yang terasa lelah mendekati Belva tapi istrinya itu seakan tak ingin untuk di dekati.
"Lebih baik bersihkan dirimu. Istirahat... Habis bertemu mantan istri tubuh mu lelah bukan ?" Ucap Belva dengan nada dingin dan cuek.
Satya mengerutkan keningnya, otak nya berpikir apa maksud ucapan Belva. "Apa maksud mu, yank ?"
"Tubuh mu lelah atau tidak ?" Tanya Belva.
"Sedikit..." Ucap Satya jujur.
"Bersihkan tubuhmu lalu tidur lah." Titah Belva, ia menahan kesal pada suaminya.
Belva membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk yang seharusnya ia gunakan sejak tadi. Demi menunggu Satya dirinya sampai tertidur di sofa.
Satya tak ingin terpancing emosi karena tubuhnya yang terasa lelah. Pria itu langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Belva yang tidak ingin terus merasa kesal, ia lebih memilih turun menuju kamar anak-anak nya. Berada dalam satu ruangan bersama suaminya membuatnya merasa kurang nyaman. Belva hanya ingin meredakan kekesalannya saja dengan mengunjungi kamar Duo Kay. Selain kesal dengan Satya, dirinya juga sudah merindukan anak kembarnya itu.
Kamar Duo Kay masih terlihat sangat rapi, ia mencoba merebahkan diri di atas ranjang Duo Kay. "Sayang, Mami merindukan kalian. Coba kalian berada disini pasti Mami tidak merasa sepi seperti ini."
Niat hati hanya ingin meredakan kekesalan nya saja dengan menghibur diri di kamar Duo Kay tapi ternyata Belva tertidur di kamar anak-anaknya.
Satya yang sudah selesai membersihkan diri, pria itu keluar dari kamar mandi. Belva lagi-lagi tak terlihat oleh pandangan matanya. Di sofa tidak ada, di ranjang pun juga tidak ada. Biasanya jika di apartemen istrinya itu akan menyiapkan baju untuk nya yang diletakkan di atas ranjang. Tapi kini baju itu tidak ada.
"Sayang..." Panggil Satya pada Belva saat membuka pintu ruangan walk in closed.
Dia pikir Belva berada di dalam ruangan tersebut, mungkin untuk menyiapkan pakaiannya. Nyatanya di dalam ruangan itu tidak ada Belva.
"Kemana Belva ?" Gumam Satya.
"Sayang ?? Kamu dimana ?" Satya terus berteriak di dalam kamarnya mencari Belva.
Buru-buru Satya mengambil kaos nya dan celana pendek selutut miliknya. Dia mencari keberadaan istrinya yang entah menghilang kemana.
Satya khawatir, dia berjalan mengelilingi kamar tidak ada istrinya. Teringat sebelum masuk ke dalam kamar mandi, wajah istrinya itu tertekuk dan sedikit cemberut. Nada bicaranya juga berubah tak sehangat biasanya.
Keluar dari kamarnya Satya langsung menuju ke lantai dua, dia ingin memeriksa kamar Duo Kay. Feeling Satya mengatakan jika istrinya pasti berada di kamar anak-anaknya.
Benar saja saat pintu di buka, Satya langsung melihat Belva yang tengah tertidur di atas ranjang Duo Kay. Pria itu menghela napas saat berhasil menemukan Belva. Dia berjalan mendekati ranjang itu. Tak seharusnya Belva tidur di kamar Duo Kay. Akhirnya Satya mengangkat tubuh istrinya untuk dibawanya kembali ke kamar mereka.
Merasa terganggu tidurnya Belva membuka matanya, ia sedikit membelalakkan matanya. Lagi-lagi Satya yang mengusik kenyamanan tidurnya. Melihat wajah suaminya, Belva masih merasa kesal.
"Mas... Apa-apaan ini, turunkan."
__ADS_1
"Kenapa bangun?" Tanya Satya.
"Kamu mengganggu tidur ku."
"Tak seharusnya kamu tidur di kamar anak-anak, sayang."
"Turunkan aku, mas!!!" Belva sedikit berteriak.
Satya terus berjalan keluar kamar tak perduli dengan kata protes dari istrinya.
"Diam jangan teriak-teriak. Tutup pintunya." Ujar Satya yang justru menyuruh Belva untuk menutup pintu kamar Duo Kay, kedua tangannya kesulitan menutup pintu.
"Tidak, cepat turunkan aku!!" Nada suara Belva kini sedikit lebih tinggi dan Satya tahu jika istrinya tengah marah.
"Semua orang sudah tidur, kamu mau membangunkan mereka yang kelelahan bekerja dengan teriakan mu?"
Seketika Belva langsung menyadari jika saat ini memang sudah malam dan pastinya semua sedang tidur. Belva tak mau menutup pintu kamar Duo Kay hingga Satya yang berusaha menutup pintu kamar Duo Kay.
Menggendong tubuh sang istri ala bridal style, Satya melangkah menuju lift. Di dalam lift pun pria itu enggan menurunkan sang istri. Tak sampai limat menit lift sampai di lantai tiga. Dengan sedikit kesulitan kembali Satya membuka pintu, masuk dan menutup kembali dengan kakinya.
"Turunkan aku!!" Teriak Belva saat sudah masuk ke dalam kamar.
Satya tak menggubris istrinya, sampai di ranjang Satya sedikit melempar tubuh istrinya ke atas ranjang hingga tubuh sang istri terpantul akibat ranjang yang empuk.
"Kenapa tidur di kamar Kay?" Tanya Satya berkacak pinggang.
"Memang kenapa? Ada yang salah? Itu kamar anakku." Ucap Belva ketus.
"Tahu itu kamar anakmu, tapi tempat tidurmu bukan disana, sayang."
Belva malas berdebat dengan suaminya, ia bangkit dari ranjang berjalan memutar untuk memposisikan diri tidur di ranjang paling ujung sebelah kiri. Jarak yang jauh dari posisi berdiri Satya saat ini.
"Yank, mas belum selesai bicara. Kamu ada apa marah-marah begini? Kita baru saja menikah tadi. Tidak lucu jika kita langsung bertengkar seperti ini."
Belva langsung membalikan tubuhnya, ia menatap Satya dengan tatapan tajam.
"Iya baru saja menikah dan kamu pergi meninggalkan istri mu hanya untuk menemui mantan istri mu hingga larut, apakah itu lucu?"
Pas... Satya langsung tertohok menyadari kesalahannya. Dia tak sadar akan perasaan sang istri saat dirinya meninggalkan Belva tadi. Satya memejamkan mata, meraup wajahnya dengan satu tangan kanannya sedangkan tangan kirinya masih berada di pinggang.
Satya mendekati sang istri, dia merasa bersalah. Istrinya lebih membutuhkan dirinya tapi dia juga terpaksa harus pergi mengurus Sonia.
"Jangan mendekat, aku malas denganmu." Ucap Belva.
Mata Satya membulat, sedikit tak terima saat Belva berucap seperti itu. Dia tahu jika dirinya salah dalam hal ini tapi tak sepenuhnya itu kesalahannya. Satya terus mendekati Belva. Meraih tangan istrinya tapi langsung di tepis oleh Belva.
"Sudah ku bilang jangan mendekati ku. Kenapa kamu tidak pulang sekalian, jika tahu kamu pergi lebih baik aku tadi pulang ke rumah Mammpphh..."
Geram karena luapan kemarahan istrinya, Satya langsung menyambar bibir istrinya yang terus saja bergerak tanpa henti seperti kereta yang melaju.
Cara yang akan selalu Satya lakukan saat istrinya itu banyak berbicara. Membungkam dengan cara paling menguntungkan bagi dirinya.
Tak hanya menempel saja, tapi Satya benar-benar menyerang bi*bir Belva hingga ke bagian paling dalam. Jika sebelumnya mereka beradu mulut berdebat karena sikap Satya kini Satya mencoba menyerang dengan lid*ahnya.
Cukup lama peperangan itu terjadi, tanpa ada balasan dari sang istri. Tangan Belva memukul dan mendorong dada serta bahu suaminya agar melepaskan dirinya. Satya sadar jika sang istri merasa semakin pengap, dia lantas melepaskan pag*utan nya.
"Kenapa tidak membalasnya?" Tanya Satya dengan suara yang sudah mulai serak. Dia menatap dalam mata sang istri.
Belva yang merasa kesal dan malu menjadi satu tak tahan ditatap oleh suaminya seperti itu. Ia palingkan wajahnya ke samping menghindari tatapan suaminya. Gerakan dadanya naik turun akibat berusaha meraih oksigen sebanyak mungkin.
Masih tetap diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun Belva tak mau menjawab pertanyaan sang suami.
"Tatap saya." Satya meraih wajah istrinya yang berpaling darinya untuk kembali menatap dirinya.
Meski telah menghadap Satya tapi tatapan mata Belva tak mau menyorot pada Satya justru menatap ke arah bawah.
"Apa yang kamu lihat? Suamimu berada di depan, sayang."
Masih tak menggubris, Belva tak mengalihkan pandangannya. Hal itu membuat Satya tersenyum sinis. Otak liciknya mulai bermain demi menguntungkan dirinya.
Satya langsung berpindah posisi dengan menindih tubuh sang istri tapi tetap kedua lengan nya bertumpu pada sisi kanan kiri Belva.
"Mas!!!" Pekik Belva.
"Awas ih... Kamu apa-apaan sih. Awas ah aku pengap gara-gara kamu, minggir."
"Kamu marah dengan, mas?" Tanya Satya tanpa mau memindahkan posisinya.
"Kamu tahu lebih baik aku pulang ke rumah mama dan..."
Cup...
Satya kembali menci*um bibi*r Belva.
"Kamu tidak akan pulang kemana-mana, rumah kamu disini bersama saya." Bisik Satya pada telinga Belva.
Wanita itu bergidik merasa geli dan sedikit terasa aneh saat napas suaminya yang terasa hangat menyentuh kulit telinganya.
Tak hanya itu tanpa ijin tanpa permisi pria itu mengecup pipi sang istri. Dia mulai mainkan perannya yang paling ringan. Menj**ilat daun telinga Belva dengan alur yang semakin turun ke bagian leher. Menge*cup leher jenjang itu beberapa kali dengan tak jarang sapuan li*dahnya turut bermain.
"Maass..." Suara protes Belva tapi tak bernada ketus justru terdengar sedikit aneh.
"Sialan kenapa dengan nada suaraku." Umpat Belva dalam hati.
Satya tak menggubris suara Belva, dia sudah terhipnotis dengan keasikan kelakuannya sendiri. Satya pria normal yang tentu merasa senang melakukan aksinya. Hasratnya sudah tak terbendung lagi saat ini, lama dirinya menahan dan menjaga diri agar tak melakukan hal bejat di luar sana secara sadar.
Saat masih berumah tangga pun Satya tak pernah mendapatkan hal nya secara bebas, seorang istri yang seharusnya memperhatikan kebutuhannya secara lahur dan batin nyatanya lebih memperhatikan kebutuhan lahir dan batin pria lain.
Semua yang bisa dijangkau nya dilakukan begitu saja sesuai dengan dorongan dalam hati dan pikiran nya. Tangan kekar itupun tak tinggal diam, bergerak menyusuri perbukitan yang tak pernah terjamah oleh manusia dalam golongan Adam.
Belva menggigit bib*ir bawahnya menahan gejolak yang tak sempat dirasakan nya dulu kala membantu Satya menurunkan demam suaminya. Sensasi yang Belva peroleh semakin lama semakin dalam dan lebih terasa. Wanita itu masih memegang bahu suaminya tanpa melawan dengan dorongan. Justru tangannya sedikit mencekram bahu itu.
"Aaahh..." Satu des*ah*an lolos dari bibir Belva.
__ADS_1
Tahu suara aneh itu muncul dari bibirnya, Belva kembali menggigit bib*ir bawahnya. Terdengar deru napas Satya sudah tak beraturan saat bergerak naik turun antara leher dan telinga.
"Mmmhh... Maasss..."
"Sudah lama mas tidak mendapatkan ini, sayang." Suara berat dengan deru napas tak beraturan itu semakin terdengar jelas di Belva.
Suaminya itu sudah berpindah haluan sejak ketiga kalinya suara aneh Belva terdengar. Satya sudah melahap perbukitan beserta batu kerikil yang menancap di ujung perbukitan.
Perbukitan yang terasa kenyal seperti jelly beraneka rasa membuat pria itu begitu betah men*ce*cap dan men*ji*lati nya. Memainkan kerikil kecil itu dengan li*dah nya hingga istrinya merasakan hangat dari sapuan itu.
Aliran darah dua manusia itu seperti mengalir lebih cepat dan terasa panas dengan detak jantung yang semakin cepat berirama dalam bergerak. Tubuh mereka terbakar oleh efek dari peranan kecil Satya.
"Haahh... Sayang... Mas, menginginkan nya sekarang. Mas sudah tidak tahan, bolehkah ?" Satya masih dengan deru napas tak beraturan yang memburu.
Tak hanya itu tangan kekar itu masih bergerak diperbukitan, cara yang ampuh baginya untuk mendapatkan sebuah anggukan persetujuan dari sang istri. Peranan tangan kekar itu semakin mendorong hasrat alamiah Belva.
"Mmmhhhpp..."
"Nikmati tanpa harus kamu tahan, sayang."
Ci*uman yang kini berubah menjadi begitu panas dan menuntut. Pria duda yang kini tidak lagi berstatus duda itu melepas semua pintalan benang yang menutupi pahatan sempurna dari sang maha agung.
"Mas!!" Pekik Belva, tangannya mencengkram kuat bahu suaminya. Sakit terasa saat jarum pentul super itu menu**suk ke dalam.
"Maaf sayang, milikmu sedikit sulit."
"Sakit ?" Tanya Satya lembut.
Belva mengangguk dengan wajah meringis. Sebagai suami yang begitu menyayangi sang istri, Satya menghentikan aksinya sejenak. Mencium kening Belva dengan cukup lama, seakan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Tahan sebentar. Mas akan melakukan nya dengan perlahan. Kamu percaya sama mas ?" Suara yang begitu lembut Belva dengar dari bibir suaminya.
Belva kembali mengangguk. "Pelan-pelan nanti sakit." Ujar Belva lirih.
"Percayalah mas tidak akan menyakiti mu. Jika sakit kamu boleh berpegang erat pada tubuh mas."
"Boleh mas mulai ?" Tanya Satya penuh harap. Hanya anggukan yang dapat Belva berikan.
Satya memulai pergerakan nya secara perlahan. Membiasakan sang istri menerima dan merasakannya. Terbukti jika istrinya merasa lebih nyaman meski kening sang istri sedikit berkerut yang mungkin saja masih menahan rasa sakit.
"Apa sudah lebih nyaman ?" Tanya Satya.
Meski dia sudah dikuasai hasrat alamiahnya, dia masih bisa mengontrol dirinya agar tak menyakiti sang istri demi kepuasannya sendiri.
"Em... Sedikit lebih baik." Jawab Belva.
Satya tersenyum mendengar jawaban Belva, dia kembali mengecup bi*bir sang istri merasai manisnya salah satu anggota tubuh Belva yang sudah sah menjadi miliknya.
Perlahan dan pasti begitu nyaman pergerakan Satya bagi Belva hingga wanita itu tak merasakan lagi kesakitan. Pria itu tahu betul dan pandai merubah suasana menjadi sensasi menyenangkan dan memabukkan. Bahkan untuk dirinya sendiri Satya merasa ini pengalaman yang paling membahagiakan. Sangat berbeda jauh dari pernikahan nya sebelumnya. Kini Satya benar-benar menikmati kebutuhan batinnya.
Suara keramat dan khas peperangan itu selalu terdengar dari Belva. Itu semakin membakar diri Satya untuk berbuat lebih dan lebih. Dengan persetujuan sang istri irama pergerakan semakin lebih cepat.
Sungguh gila sensasi yang Belva terima dari Satya. Pria itu begitu pandai memanjakannya tanpa menyakiti. Selalu meminta pendapatnya terlebih dahulu, hal yang pertama kali Belva dapatkan dengan cara terhormat. Berbeda dengan apa yang terjadi dulu tanpa sadar, tanpa persetujuan dan begitu menyakitkan secara fisik dan batinnya.
Peperangan terjadi hingga beberapa jam, melihat istrinya sudah kelelahan Satya menghentikan gencatan senjata itu. Puncak peperangan sudah didapatkan nya beberapa kali.
"Kamu lelah sayang ?" Tanya Satya berbisik lembut dan dengan nada kelelahan.
"Emm..." Gumam Belva lirih.
"Maaf membuatmu kelelahan. Terima kasih sayang, kamu luar biasa bisa membuat mas bahagia malam ini."
"Apa kamu selalu bahagia sesaat setelah melakukan nya? Termasuk saat melakukannya dengan..."
"Ssst... Jangan menyebut nama orang lain saat kita sedang melakukan nya, sayang." Jari Satya menyentuh bibir Belva agar wanita itu tak melanjutkan ucapannya.
"Tapi kamu pernah..."
"Sayang, dengarkan mas. Mas minta maaf membuat mu marah dan kesal. Mas tahu mas salah. Asal kamu tahu, mas merasa bahagia memiliki istri seperti mu, bisa memiliki mu secara utuh."
Satya berbicara tanpa merubah posisinya yang masih mengungkung istrinya. Napas keduanya masih beradu untuk berlomba meraih oksigen.
"Kamu lelah tidurlah, sayang." Satya mengecup kening Belva lalu bergerak turun untuk mencium perut Belva.
"Berlomba lah untuk memenangkan kehidupan calon anak Daddy." Batin Satya.
Dia masih berharap jika tak lama lagi Belva akan kembali mengandung benihnya.
"Apa yang kamu lakukan ?" Tanya Belva menatap sang suami yang masih mengusap dan mencium perutnya.
Satya mendongak menatap Belva dan tersenyum. Pria itu memilih membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Tangan kekarnya memeluk perut istrinya.
"Mencium perut mu, memang apa lagi ?"
"Kenapa harus melakukan itu ?" Tanya Belva
"Tidak apa-apa. Kamu masih marah dengan mas ?" Tanya Satya. Tangannya bergerak mengusap lembut perut Belva.
"Tidak." Jawab Belva singkat.
"Lalu kenapa marah-marah tadi ? Pakai acara ingin pulang ke rumah Mama. Kita baru saja menikah sayang. Ini malam pertama kita." Ucap Satya dengan lembut, tangannya masih mengusap lembut perut rata milik sang istri.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Sumuk aku guys 😅😅 tempat kalian sumuk gak apa hujan ??
Maaf kemarin gak sempat up sibuk syekaleee. Tapi... tapi... tapi... terimakasih banyak buat kalian yang masih setia support author ❤️🙏
Thanks buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Semoga kalian sehat selalu dan lancar rejeki 🤗🙏