Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 185. Rahasia


__ADS_3

"Tuan, anda tidak mampir dulu?" Tanya Siwi dengan nada yang lembut.


"Tidak, lain kali saja. Saya harus segera bertemu dengan istri saya."


Satu penolakan dan penjelasan yang membuat hati Siwi merasa kesal. Baru saja dirinya mendapat perilaku manis dari Satya selama berada di Bandung kini Satya kembali mengutamakan istrinya daripada dirinya.


Jordi pun melihat raut wajah Siwi yang berubah menjadi lebih sedikit masam karena Satya lebih memprioritaskan Belva sebagai istri ketimbang Siwi. Pria itu menahan diri untuk tidak tersenyum saat melihat perubahan raut wajah Siwi.


"Baiklah pergilah. Terima kasih sudah mengantar." Ucap Siwi dengan menahan kesal.


"Hem saya pergi sampai bertemu besok." Ucap Satya.


Sontak saja ucapan Satya mampu membuat Siwi kembali tersenyum, itu artinya Satya tak keberatan jika nanti dirinya berusaha mendekati Satya itulah yang ada dalam pikirannya.


"Baiklah, hati-hati di jalan." Siwi melambaikan tangannya melepas kepergian Satya.


Mobil Satya berlalu dari hadapan Siwi, mereka langsung pulang menuju rumah besar Satya. Dalam perjalan Satya mengotak-atik ponselnya, banyak sekali pesan serta emial yang masuk setelah ponselnya mendapatkan sinyal yang begitu kuat. Sebenarnya sedari tadi Satya ingin membuka pesan dari ponselnya tapi Siwi selalu saja menempel padanya membuatnya tak bisa leluasa. Satya berniat menghubungi sang istri, nomor ponsel Belva sudah terpampang jelas di layar ponsel tapi sebelum memencet tombol menghubungi Satya mengangkat kepalanya menatap Jordi yang ada di depannya.


"Jordi, ingat jangan sampai kamu keceplosan dihadapan istri saya."


"Baik, Tuan semua aman."


"Hemm..." Satya berdeham dan mengangguk.


Satya menghela napas sebelum benar-benar menghubungi istrinya. Ada rasa sedikit bersalah tapi ada juga rasa rindu yang membuncah dalam hatinya. Sudah beberapa hari Satya tak dapat mendengar suara dan melihat wajah cantik istrinya.


"Hallo, mas? Ini kamu mas?"


Suara sedikit memekik dari seberang telepon.


"Hallo, sayang iya ini mas. Maaf baru bisa menghubungi di sana tidak ada sinyal. Mas sudah dalam perjalanan kembali ke rumah."


"Kami baik-baik saja kan, mas?" Tanya Belva yang masih khawatir.


"Iya, sayang. Mas baik-baik saja. Jangan khawatir, bagaimana kamu dan anak-anak di rumah?"


"Kami baik, mas tapi anak-anak hampir setiap hari menanyakan keberadaan mu. Kamu mengingkari janji pada kami, mas." Ucap Belva dengan wajah cemberut tapi itu tak terlihat oleh Satya karena mereka hanya menggunakan fitur telepon biasa.


"Maaf, sayang nanti mas ceritakan padamu apa yang terjadi di sana sehingga mas tidak bisa cepat kembali. Ya sudah mas tutup telepon nya sampai bertemu nanti sayang. Mas merindukanmu."


Belva tersenyum, "Iya mas hati-hati ya kami menunggumu. Kami juga merindukanmu."


Satya mengangguk dan tersenyum hingga akhirnya sambungan telepon terputus. Tak lama mobil sampai di rumah besar Satya. Pak Jajak seperti biasa membukakan pintu gerbang untuk majikannya.


"Jordi, kamu bisa langsung pulang saja, istirahatlah. Jika lelah besok tidak usah masuk ke kantor tidak masalah. Ingat jaga rahasia ini."


Lagi-lagi Satya kembali mengingatkan Jordi, dia jadi merasa khawatir sendiri harus merahasiakan apa yang dijalaninya dibelakang sang istri tercinta.


"Baik, Tuan besok apakah anda tidak masuk ke kantor?"


Jordi pun merasa bersalah pada Belva karena harus membantu Satya menyembunyikan rahasia yang mungkin menurut Belva ini sebuah masalah besar bagi wanita itu.


"Ya besok seharian penuh saya akan berada di rumah bersama Belva dan anak-anak. Jika ada hal penting tolong kamu handle dulu bersama Grace."


"Lalu jika nanti Siwi mencari anda bagaimana, Tuan?"


Satya menghela napas, ini yang dia cemaskan saat bersama ank dan istrinya nanti Siwi mencari dirinya yang akan membuat Belva curiga padanya.


"Kami handle dia jangan sampai merusak waktu saya dengan keluarga saya, lakukan apapun lah terserah kamu asal jangan mengganggu saya untuk sementara waktu."


"Baik, Tuan masuklah. Selamat beristirahat, Tuan."


"Hemm... Berhati-hatilah."


"Tuan, tunggu." Cegah Jordi.


"Ada apa lagi, Jordi."


"Sebaiknya anda gunakan parfum anda kembali takutnya parfum Siwi menempel pada anda."


Satya baru ingat jika sedari tadi Siwi menempel pada dirinya dan mungkin saja parfum Siwi akan menempel padanya bisa-bisa Belva langsung curiga dan apa yang dilakukannya di belakang Belva akan lebih cepat terbongkar.


"Parfum saya di dalam koper."


"Pakai punya saya saja, Tuan." Jordi menyodorkan parfumnya yang tersimpan di dashboard mobil.


Sebelum Satya turun dari mobil, dia mengambil parfum dari tangan Jordi dan menggunakannya untuk mengantisipasi parfum Siwi yang menempel. Selesai dengan itu Satya turun dari mobil dan membawa kopernya sendiri karena tak ingin terlalu banyak merepotkan Jordi yang tentu saja sudah lelah seperti dirinya.


Fitri, asisten rumah tangga Satya membuka pintu untuk Satya.


"Tuan, anda baru pulang."


"Iya, mana anak dan istri saya?"


"Nyonya ada di kamar Tuan kecil dan Nona kecil."


"Oke, terima kasih."


"Sama-sama, Tuan. Kopernya biar saya bawakan, Tuan."


"Baiklah, gunakan lift saja dan letakkan di depan pintu kamar saya."


"Baik, Tuan."


Satya berlalu meninggalkan Fitri lebih dulu menaiki tangga menuju kamar Duo Kay. Dia tak menggunakan lift karena membiarkan Fitri menggunakannya untuk mengantarkan kopernya. Sejak kejadian salah satu asisten rumah tangga yang menaruh rasa padanya Satya menjadi lebih menjaga jarak dan mengantisipasi terulangnya masalah.


Perlahan Satya mendekati pintu kamar Duo Kay dan membuka pintu.


Ceklek...


Belva dan Duo Kay yang berada di dalam kamar langsung menoleh ke arah pintu. Kedua anak kembar itu langsung berteriak gembira melihat kedatangan Daddy mereka.


"Daddyyy!!!" Duo Kay langsung berlari menghambur memeluk Satya.


Seketika Satya tersenyum, melihat kedua anaknya yang sangat merindukan dirinya rasa khawatirnya akan rahasia yang dia miliki hilang dalam sekejap.


Satya memeluk kedua anaknya secara bersamaan. Mendekap erat menyalurkan rasa rindunya yang juga telah menggunung untuk kedua anaknya.


"Kalian merindukan Daddy?"


"Iya rinduuuu sekali." Ujar Kaila.


"Daddy kenapa lama pulangnya?" Tanya Kaili.


Bersamaan dengan pertanyaan Kaili, Belva sudah berada di samping mereka. Seketika rasa bersalah pun kembali menghampiri Satya.


"Maaf Daddy terjebak cuaca ekstrem di sana karena tempat yang akan kita bangun resort baru berada di bukit. Jalan utama tertimbun longsor jadi untuk beberapa hari Daddy dan yang lain tidak bisa kembali." Jelas Satya pada anak dan juga istrinya.


"Tapi tidak terjadi hal yang buruk pada kalian kan, mas?" Tanya Belva tampak raut kekhawatiran di wajah cantik itu.


Satya semakin merasa bersalah, Istri begitu mengkhawatirkan dirinya sedangkan dirinya? Sekuat hati Satya berusaha untuk meredam rasa bersalahnya, mencoba mengendalikan diri agar tak terlihat tengah melakukan sebuah kesalahan dihadapan sang istri yang membuat istrinya curiga.


"Kami baik-baik saja, Mam. Maaf membuat kalian khawatir."


"Oleh-oleh nya mana, Daddy?" Tagih Kaila.


'Aduh lupa membelikan oleh-oleh untuk mereka.' Batin Satya merutuki kembali kesalahannya.


"Ah maaf, sayang Daddy lupa membelikan oleh-oleh karena Daddy buru-buru untuk kembali pulang."


Kaila seketika cemberut mendengar jawabannya Daddy nya.


"Tapi besok Daddy janji khusus besok Daddy yang akan menjemput dan mengantar kalian lalu sepulang sekolah kita akan jalan-jalan bersama membeli apapun yang kalian mau sebagai ganti karena Daddy lupa memberikan kalian oleh-oleh, kita jalan-jalan sepuasnya, bagaimana?"


"Benar Daddy." Tanya Kaila antusias.


"Iya janji." Satya mengacungkan jari kelingkingnya.


"Boleh main di Time zone sepuasnya dan beli Lego baru?" Tanya Kaili.


"Tentu, apapun untuk kalian." Jawab Satya.


"Horeee!!!!" Sorak Duo Kay dengan melompat gembira.


"Yes!! Besok jalan-jalan." Ucap Kaila sambil bergoyang-goyang menggemaskan membuat Satya dan Belva tertawa melihat Kaila bergoyang.


"Mas, kamu tidak ke kantor besok?"


"Tidak, Mam besok Daddy akan beristirahat dan menghabiskan waktu bersama kalian. Untuk menembus kesalahan Daddy pada kalian."


"Kesalahan?" Tanya Belva.


"Ah maksudnya karena mengingkari waktu yang seharusnya hanya sehari menjadi tujuh hari."


Hampir saja Satya keceplosan sendiri atas rasa bersalahnya.


"Tidak apa-apa, mas namanya juga cuaca yang tidak bisa kita kendalikan."


Satya mengangguk, "Kalian sedang apa?" Tanya Satya.


"Kami sedang bermain bersama tapi setelah itu kami lomba menggambar." Ujar Kaili.


"Oh ya? Siapa yang menang?" Tanya Satya kembali.


"Belum selesai Daddy sudah pulang." Jawab Kaila.


"Emm... Kita lanjutkan ayo lomba menggambar nya." Ajak Satya.


Sejenak Satya mengabaikan rasa lelahnya demi menemani kedua anaknya. Dia tahu pasti kedua anaknya begitu merindukan dirinya. Hampir satu jam Satya menemani Duo Kay menggambar. Canda tawa dari anak kembarnya itu mampu sedikit mengurangi rasa lelahnya. Sementara Satya menemani Duo Kay menggambar Belva menyiapkan air hangat untuk Satya serta pakaian ganti untuk suaminya. Koper yang ada di luar kamar pun sudah Belva masukkan ke dalam kamar. Saat ia buka koper rupanya seluruh baju Satya sudah tampak bersih sehabis di laundry.


"Baju-baju nya sudah bersih tumben sekali. Dulu dia selalu membawa pakaian kotor saat pergi keluar kota atau ke luar negeri." Gumam Belva mengingat kebiasaan Satya dulu saat dirinya masih menjadi asisten rumah tangga Satya.


Disusunlah pakian dari dalam koper Satya ke dalam lemari milik suaminya. Setelah itu dirinya keluar untuk menemui Satya yang masih menemani Duo Kay.


"Mas, air hangat sudah aku siapkan lebih baik mandi dulu nanti kalian lanjutkan lagi. Anak-anak kalian juga harus mandi sudah sore ini."


"Oke, Mam. Ayo Kay kita mandi dulu." Ajak Satya.


"Ayo, sayang kalian mandi bersama Mami biar Daddy mandi dulu."


"Daddy nanti saja, Mam. Ayo sayang Daddy bantu mandikan kalian." Ajak Satya.


Duo Kay mandi dibantu oleh kedua orang tua mereka. Bocah kembar itu merasa senang memiliki kedua orang tua yang begitu menyayangi mereka.

__ADS_1


Selesai memandikan dan membereskan Duo Kay Satya kembali ke kamar bersama Belva. Di dalam kamar Satya lamgsy memeluk istrinya dengan erat seakan takut kehilangan sang istri.


"Mas, kamu terlalu erat memelukku. Engap, mas."


"Ah maaf, sayang. Mas terlalu merindukanmu." Satya mengendurkan pelukannya agar Belva merasa nyaman.


"Mas, kamu wangi sekali tapi kok parfummu beda ya?"


"Hah? Iya ini parfum Jordi tadi mas harus menemui klien sebentar. Tidak mungkin mas menemui klien dengan tubuh yang bau karena belum mandi terpaksa mas memakai parfum milik Jordi karena parfum mas ada di dalam koper."


"Oh ya sudah mandilah, mas."


"Iya sebentar ya mas mandi dulu."


Pelukan mereka terlepas, Satya memang harus segera mandi karena tubuhnya sudah merasa gerah dan lengket.


Belva tak merasa curiga karena memang hanya tercium parfum milik laki-laki. Sembari menunggu sang suami selesai mandi dirinya mengecek ponselnya beberapa pesan masuk termasuk dari Tuan dan Nyonya Hector, kedua orang tua angkat Belva itu sangat memperhatikan dirinya dan juga kedua anaknya. Mereka begitu menyayangi dirinya dan Duo Kay, Belva sangat bersyukur atas kehidupannya saat ini yang tercurah kasih sayang dan kebahagiaan untuk dirinya. Belum lagi ia mendapatkan suami yang juga sangat mencintai dirinya dan sangat memperhatikan dirinya dan anak-anaknya.


Selesai membersihkan diri Satya keluar dengan menggunakan handuk yang melingkar pada pinggangnya menutupi aset penting dan langka yang hanya dimiliki oleh dirinya seorang serta hanya bisa dijamah oleh istrinya seorang.


"Mas, sudah selesai?"


"Iya. Kamu sedang apa, sayang?"


"Mengecek pesan, Mama dan Papa menanyakan kabar kita."


"Apa kamu merindukan mereka?" Tanya Satya.


"Jika membahas rindu tentu saja aku merindukan mereka, merekalah yang berjasa dalam hidupku dan anak-anak. Begitu perhatian pada kami hingga sampai saat ini meski aku bukan anak kandung mereka." Ucap Belva menerawang masa lalunya dan menatap ke arah depan tepat pada foto pernikahannya dengan Satya yang terpampang jelas pada dinding tepat di atas kepala ranjang mereka.


Satya yang sudah ikut duduk disebelah Belva pun langsung memeluk istrinya dari samping. Belva bersandar pada dada bidang suaminya.


"Mas, kita harus segera menjemput baby As. Kemarin suster mengabarkan padaku bahwa ada yang mencoba masuk secara diam-diam ke dalam ruangan baby As."


Satya terkejut dan langsung mengendurkan pelukannya. Menatap serius pada sang istri.


"Kamu serius, sayang? Kapan? Kenapa tidak menghubungi mas?"


"Mas, ponselmu tidak bisa dihubungi kamu bilang di sana tidak ada sinyal."


Satya langsung meraup wajahnya, ini masalah yang serius. Jangan sampai baby As mengalami sesuatu yang buruk.


"Tapi besok mas sudah janji untuk membawa Kay jalan-jalan."


"Kita bisa mengajak mereka jalan-jalan sebentar lalu setelah itu kita ajak mereka menjemput baby As." Saran Belva.


"Bagaimana bisa terjadi ada orang masuk secara diam-diam, bukankah rumah sakit itu memiliki penjagaan dan peraturan yang ketat?"


"Salah satu suter yang menjaga saat itu kecolongan, dia suster magang yang ditinggal oleh suster yang biasa menjaga ruangan baby As."


"Lalu bagaimana dengan orang itu apakah tertangkap?"


"Orang itu kabur setelah di sapa oleh suster membuat suster curiga dan sejak saat itu beberapa orang tua langsung lebih berhati-hati dan mereka secara bergiliran menjaga di depan ruangan para bayi."


"Baiklah, besok kita jemput baby As. Kamar baby As sudah beres semua, sayang?"


"Sudah kemarin aku sempat membeli beberapa perlengkapan bayi bersama anak-anak mereka sangat antusias sekali."


"Mas ikut senang jika anak-anak bisa menerima baby As dengan baik."


"Iya, lalu untuk baby sitter nya apakah besok sudah bisa datang, mas?"


"Besok coba mas tanyakan pada Jordi."


"Jika belum bisa tidak apa aku bisa merawatnya sendiri, masih ada mbak Janis atau mbak-mbak yang lain yang membantuku mengurus baby As."


"Jika memang terpaksa seperti itu baiklah asal kamu tidak keberatan dan jangan terlalu lelah, ingat ada baby kita juga di dalam perutmu. Adik dari Kay dan baby As."


"Iya, mas sudah pakai pakaian mu dulu nanti kita makan malam bersama."


"Oke, sayang."


Satya memakai pakaian yang telah disiapkan oleh Belva. Mengingat nanti masih makan malam maka Satya tetap menggunakan kaos, Belva akan marah jika melihat suaminya keluar kamar tanpa mengenakan kaos.


Pagi harinya, Satya benar-benar menepati janjinya untuk mengantarkan kedua anaknya. Selesai sarapan Satya dan Belva mengantar Duo Kay berangkat sekolah.


"Anak-anak ayo kita berangkat sekarang, ini sudah siang nanti kalian terlambat." Ajak Belva.


"Sebentar Mami, pensil warna ku tertinggal aku harus ambil dulu." Ujar Kaili.


"Biar Mami ambilkan kamu tinggu di sini."


"Mami, aku mau bekal sosis gurita goreng nya di tambah lagi." Pinta Kaila.


"Mami ambilkan bekal untuk Kaila dulu ya sayang baru ambil pensil warnamu." Ucap Belva, sekalian masih berada di ruang makan jadi pikirnya menyelesaikan pekerjaan yang terdekat dulu daripada mondar-mandir.


"Biar Daddy yang ambilkan, Mami urus bekal ila saja." Ujar Satya yang tahu bagaimana repotnya sang istri mengurus kedua anak serta dirinya sekaligus.


"Oke, Dad biasanya pensil warna di dalam laci meja belajar."


"Oke, Mam. Boy, tunggu dulu di sini."


"Siap Daddy." Jawab Kaili.


Bekal sudah disiapkan dan masuk ke dalam tas. Pewarna juga sudah Satya ambil dan masuk ke dalam tas Kaili. Kini mereka sudah bersiap berangkat.


"Ayo sayang sudah semua kan tidak ada yang tertinggal?" Tanya Belva.


"Tidak Mami." Jawab Kaili.


Keluarga kecil Satya masuk ke dalam mobil seperti biasa Satya akan membukakan pintu bagi anak dan istrinya. Mereka selalu diperlakukan seperti raja dan ratu oleh Satya. Apapun akan Satya lakukan demi kebahagiaan keluarga kecilnya.


Satya dan Belva mengantar Duo Kay berangaky sekolah. Setelah itu Satya mengantar Belva ke butik. Pria itu tak berangkat ke kantor melainkan ikut sang istri yang bekerja di butik.


"Mas, mau minum kopi? Biar aku buatkan dulu."


"Boleh, sayang."


"Oke, aku ke bawah sebentar."


Satya mengangguk saat istrinya turun ke bawah Satya fokus ke layar ponselnya. Jordi menghubungi dirinya.


"Hallo ada apa, Jordi?"


"Tuan, Siwi mencari anda."


"Kamu di kantor?"


"Iya, Tuan karena Grace mengabari jika ada klien yang datang ke kantor untuk membahas kerjasama kita. Seharusnya hari ini anda menandatangani kontrak kerjasama ini tapi saya sudah menghandle nya dan mengatur ulang jadwal temu."


"Ah baiklah, maaf saya lupa. Mengenai wanita itu kamu berikan alasan apapun terserah padamu. Oh iya baby sitter untuk baby As apakah hari ini bisa bekerja?"


"Baik, Tuan. Untuk baby sitter sepertinya hari ini tidak bisa berangkat secara mendadak, Tuan. Mungkin besok pagi baru bisa berangkat."


"Baiklah tidak apa, bagaimana ciri-ciri baby sitter yang kamu carikan untuk baby As?"


"Masih muda dan cekatan, Tuan."


"Usia berapa?" Tanya Satya.


"Kurang lebih dua puluh tujuh tahun. Dia memiliki riwayat pekerjaan yang baik dan dari pihak penyedia jasa pun merekomendasikannya untuk kita."


"Skip. Ganti dengan yang usianya lebih matang. Saya tidak ingin hal gila kembali terjadi di rumah saya. Terlebih dia orang baru, saya tidak ingin rumah tangga saya kacau lagi."


"Baik, Tuan tapi ini pasti akan lebih lama lagi kita mendapat baby sitter."


"Tidak masalah, istri saya akan bisa menghandle nya selama belum ada baby sitter."


"Oke, tapi secepat saya akan mencarikannya."


"Terima kasih, Jordi. Saya tutup dulu jika ada apa-apa lagi kamu tolong handle sebisa mu."


"Baik, Tuan."


Panggil terputus tepat saat Belva masuk ke dalam ruangannya dengan membawa secangkir kopi hangat untuk suaminya. Cangkir kopi itu diletakkan di atas meja tepat dihadapan Satya.


"Kopinya, mas."


"Terima kasih, sayang."


"Baru saja ada yang menghubungi mu, mas?"


"Iya, Jordi mengabarkan jika ada klien datang. Mas lupa jika hari ini harus tanda tangan kesepakatan kerjasama tapi Jordi sudah menghandle semuanya."


"Oh beruntung Jordi bisa diandalkan. Dia sangat baik dan setia padamu, mas."


"Tentu saja mas menggajinya dengan gaji yang tinggi. Oh iya mengenai baby sitter, sepertinya akan lebih lama sayang karena mas mengganti baby sitter pilihan Jordi."


"Kenapa?"


"Terlalu muda, mas tidak ingin kejadian waktu lalu terulang kembali."


Belva paham yang dimaksud oleh Satya, ia cukup merasa senang karena Satya berusaha menjaga keutuhan rumah tangga mereka. Senyum manis tersungging di bibir Belva. Bagaimana dirinya tidak semakin cinta pada suaminya jika sikap sang suami sangat mengerti dirinya.


"Terima kasih, mas."


"Untuk apa?"


"Karena kamu lebih mementingkan kenyamanan kami."


"Bukan hanya kenyamanan kalian saja tapi kenyamanan mas juga. Jika anak dan istri mas tidak nyaman maka mas juga tidak akan nyaman. Kalian yang paling penting dan utama untuk mas."


Belva tersenyum ia langsung duduk di samping Satya dan memeluk tubuh suaminya. Menyalurkan rasa syukur dan juga sayangnya pada sang suaminya. Satya membalas pelukan Belva. Merasa lega dan bahagia ketika melihat sang istri tersenyum penuh kebahagiaan.


Aksi romantis dan harmonis sepasang suami istri itu harus usai saat dering telepon berbunyi. Belva harus melanjutkan pekerjaannya, Satya mengerti akan hal itu dan membiarkan sang istri menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya pada kliennya.


Jam sebelum kepulangan Duo Kay, Satya dan Belva sudah bersiap untuk menjemput anak-anak kesayangan mereka. Janji Satya adalah membawa mereka jalan-jalan sebentar lalu pergi menjemput baby As. Sampai di sekolah Duo Kay, keduanya masih menunggu bel tanda pulang selama lima menit. Begitu terdengar bel pulang, Belva langsung turun menuju depan kelas Duo Kay.


"Mas, aku jemput anak-anak dulu."


"Oke, sayang. Mas tunggu di sini saja ya."


Belva mengangguk, ia turun dari mobil dan menjemput Duo Kay. Melihat kedatangan Maminya, Duo Kay langsung berlari kearah Belva.

__ADS_1


"Mami sudah datang." Ujar Kaila.


"Mana Daddy?" Tanya Kaili.


"Iya, sayang. Daddy ada di mobil, ayo kita pulang. Daddy menepati janji untuk mengajak kalian jalan-jalan."


"Horeee!!! Ayo Mami." Ajak Duo Kay.


Ibu dan anak itu pergi meninggalkan kelas dan masuk ke dalam mobil di mana Satya sudah menunggu.


"Daddy." Sapa Kaila.


"Daddy, kita jadi jalan-jalan main di time zone?" Tanya Kaili.


"Hai, sayang. Jadi dong kan Daddy sudah janji dengan kalian."


Kaila bertepuk tangan sedangkan Kaili mengepalkan tangan dan mengangkatnya tinggi-tinggi tanda yes.


"Duduk yang benar, sayang nanti kalian jatuh saat Daddy jalankan mobilnya." Ucap Belva mengingatkan Duo Kay. Dengan patuh Duo Kay mengangguk, mereka duduk dengan benar agar Daddy dan Mami mereka tidak membatalkan rencana jalan-jalan mereka.


Mobil sudah bergerak meninggalkan area sekolah. Celotehan Duo Kay menghiasi perjalanan keluarga kecil mereka.


"Sayang, ada yang ingin Mami bicarakan tadi pagi Mami lupa."


"Ada apa, Mami?" Tanya Kaili.


"Nanti kita jalan-jalan nya sebentar saja ya."


"Loh kan Daddy janji kalau kita bisa jalan-jalan sepuasnya itu artinya bisa sampai sore kan?" Ujar Kaila.


"Iya tapi ada hal yang lebih penting, Nak. Kalian tidak ingin bertemu baby As?" Tanya Belva.


"Kan baby As di rumah sakit memang kit nanti juga mau ke rumah sakit lihat baby As?" Tanya Kaila.


"Iya setelah makan siang kita ke rumah sakit untuk menjemput baby As, kalian tidak apa-apa kan?"


"Maksudnya bawa pulang baby As ke rumah?" Tanya Kaili.


"Iya, boy nanti kita akan jemput adik kalian di rumah sakit."


"Benaran, Mami?" Tanya Kaili kembali.


"Benar, sayang hari ini baby As harus pulang. Kalian tidak mau bermain dengan baby As?" Tanya Belva.


"Mau... Mau... Kita jalan-jalan di mall saja ya nanti kita belikan baby As mainan juga." Ucap Kaila sangat bersemangat.


Satya dan Belva saling melirik dan tersenyum, antusiasme kedua anaknya membuat mereka bahagia. Mereka saling menerima satu sama lain, cukup membuat Satya bangga. Istrinya berhasil mengarahkan dan memberikan pengertian pada Duo Kay agar bisa menerima baby As.


Sampai di pusat perbelanjaan paling besar di Jakarta, keluarga kecil Satya turun dan masuk ke dalam. Mereka saling bergandengan tangan, Belva dengan Kaili dan Satya dengan putri cantiknya. Mereka asik berkeliling dan akhirnya berhenti di time zone tempat yang diinginkan oleh Kaili tentu Kaila juga akan ikut merasa senang karena dirinya juga bisa bermain bersama beberapa anak baru yang di temuinya.


Satya sesekali ikut bermain bersama anak-anaknya sedangkan Belva hanya menjadi pemandu sorak menyemangati anak dan suaminya. Jangan lupakan peran seorang ibu-ibu yang membawakan minum dan beberapa kantong plastik hasil jajanan Duo Kay.


Tawa canda kegembiraan hadir dalam kegiatan jalan-jalan bersama tersebut.


"Ayo Daddy ambil bonekanya." Teriak Kaila menyemangati Daddy nya saat menjalankan permainan capit boneka.


"Mas sedikit lagi mas... Hati-hati jangan sampai lepas." Belva tak kalah menyemangati suaminya.


"Yaaahh!!! Daddy payah, masa gagal lagi." Ujar Kaili.


"Hai ini cukup sulit, boy. Coba kamu memang kamu bisa?" Tantang Satya.


"Sini biar aku coba." Kaili menerima tantangan Daddy nya.


Satya menggendong Kaili agar sampai di atas untuk mengendalikan tuas pencapit boneka.


"Daddy pegang aku yang benar jangan gerak-gerak ya." Pinta Kaili.


"Siap, boy tenang saja. Kamu itu ringan seperti kapas."


Kaila, Belva dan Satya mengamati aksi Kaili yang berusaha mendapatkan boneka di dalam kotak kaca tersebut. Satu kali Kaili gagal dalam permainan membuat keluarganya pun menyoraki kegagalan Kaili tapi selanjutnya memberikan semangat.


"Ayo Kaili semangat!!" Ujar Kaila.


"Ayo, boy semangat." Ujar Satya.


Belva tersenyum manis menatap putranya, dan akhirnya bocah kecil itu mendapat keberuntungannya mendapatkan Boneka teddy bear kecil berwarna putih.


Kaila bersorak gembira hingga melompat meluapkan ekspresi kebahagiaannya, ia pun bertepuk tangan.


Belva mengambil boneka teddy bear yang turun dari dalam lorong kotak kaca tersebut. Kaila mengulurkan tangan meminta boneka tersebut.


"Kaili ini boleh untukku?" Tanya Kaila.


Kaili mengangguk, "Boleh, itu mainan perempuan aku kan bukan perempuan tapi laki-laki."


Satya dan Belva tersenyum melihat kedua anaknya.


"Sayang, panggil kakak Ken jangan panggil seperti itu." Ucap Satya.


"Kan kita sama lahirnya bareng kata Mami." Ujar Kaila.


Satya hanya melirik istrinya saja, Belva hanya menghendikan bahunya.


"Sayang anak Mami yang cantik, meski kalian lahir bareng tapi kakak Ken lebih dulu lalu setelahnya Kaila yang cantik ini yang lahir jadi Kaili menjadi kakak untuk mu."


"Jadi aku harus panggil kakak Ken? Tapi Kaila lebih enak panggil Kaili saja."


"Dia memang selalu seperti itu." Ujar Belva pada Satya.


"Ya sudah ayo kita makan siang, ini sudah hampir jam makan siang." Ujar Satya setelah melihat jam tangannya.


"Ayo Daddy, Kaila juga sudah lapar."


"Kamu itu tukang makan Kaila." Ledek Kaili.


"Biarin wleekk. Ayo Mami." Ucap Kaila menggandeng tangan Maminya.


Mereka mencari tempat makan di dalam pusat perbelanjaan tersebut. Saat ini Belva merasa menginginkan untuk memakan bakso jadi mereka semua menuruti ibu ratu dalam keluarga Balakosa.


"Mam, Daddy ke toilet dulu ya."


"Oke, jangan lama-lama kita mau ke rumah sakit, Dad."


Satya langsung berlalu ke toilet yang ada di dalam pusat perbelanjaan tersebut. Tanpa disadari nya Siwi pun berada di tempat yang sama. Saat makan siang wanita itu memutuskan untuk jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Suasana hatinya sedang buruk karena tak melihat Satya berangkat ke kantor. Betapa beruntungnya ia saat ini menemukan sang pujaan hati yang mulai membuka jalan untuknya mendekati pria itu.


Siwi berlari untuk mengejar Satya tapi tak terkejar, terpaksa dirinya harus menunggu Satya tak jauh dari toilet tersebut. Saat Satya keluar pria itu merasa terkejut karena Siwi menghampirinya.


"Tuan." Sapa Siwi dengan senyum manisnya.


"Kamu, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Satya terkejut.


Siwi mengulurkan tangan untuk memegang lengan Satya.


"Aku bosan karena tak melihatmu di kantor."


Rahang Satya mengeras saat Siwi memegang lengannya, Satya melepaskan pegangan Siwi pada lengannya. Diapun melirik ke kanan dan ke kiri khawatir jika ada orang yang mengenalinya atau bahkan istrinya.


"Siwi, jaga sikapmu ini di tempat umum."


"Iya maaf, aku merindukanmu. Bisakah nanti kita bertemu?"


"Tidak bisa, hari ini waktu khusus untuk keluarga saya. Jika ingin bertemu besok saja."


Siwi kembali kesal dan kecewa.


"Jangan khawatir, saya selalu menepati janji. Besok saja kita bertemu."


"Benarkah? Kapan? Datang ke apartemen ku saja ya." Ucap Siwi.


"Nanti biar Jordi menghubungi mu untuk mengatur rencana pertemuan kita."


"Kenapa harus Tuan Jordi kenapa tidak dirimu sendiri saja." Siwi sedikit menunjukkan sikap merajuknya. Ia mulai berani berbicara cukup santai pada Satya.


"Untuk saat ini mengertilah, saya memiliki istri dan anak. Jika kamu tidak mau maka pergilah."


"Iya... Iya... Tapi janji ya?" Ucap Siwi pasrah, ia tak ingin kehilangan kesempatan.


"Hem. Sudah lebih baik pergilah. Ingat jaga sikapmu di depan umum seperti ini. Saya harus pergi ada urusan penting."


Satya langsung berlalu meninggalkan Siwi yang menahan kesal dalam hatinya. Langkah kaki Satya yang berjalan cepat, Siwi menatap kepergian pria pujaan hatinya itu.


'Urusan penting apaan, paling juga sama istri dan anaknya yang tidak penting itu.' Batin Siwi.


Demi menghindari agar Belva tidak bertemu dengan Siwi yang bisa jadi akan menimbulkan masalah. Satya langsung membawa istri dan anaknya pergi dari pusat perbelanjaan tersebut.


"Sayang, kita ke rumah sakit sekarang yuk." Ajak Satya setalah sampai dari toilet.


"Oh iya, ya sudah ayo anak-anak." Ajak Belva.


Mereka semua pergi meninggalkan pusat perbelanjaan untuk menuju rumah sakit. Duo Kay sangat bersemangat saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Mereka tak perlu repot-repot lagi membawa baby As nanti karena Jordi pun sudah mengurus seluruh administrasi dan bukti perwalian atas nama baby As yang saat ini jatuh pada Satya dan Belva.


Sebelumnya Belva sempat berkonsultasi pada dokter yang menangani baby As saat Satya masih berada di Bandung. Bayi mungil itu sudah bisa lepas dari inkubator dan sebagai gantinya nanti saat baby As dibawa pulang, mereka harus rutin membawa baby As berjemur di bawa sinar matahari dan rutin memeriksakan baby As.


Semua selesai setelah proses yang sedikit demi sedikit mereka lakukan untuk membawa baby As sebelum nya. Akhirnya Satya dan Belva membawa baby As kembali ke rumah. Belva sudah paham dalam menggendong seorang bayi. Duo Kay sangat gembira mereka sering sekali menoel pipi baby As karena merasa gemas saat di dalam mobil.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Terima kasih masih setia support author πŸ™πŸ™


Terima kasih banyak buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian πŸ™πŸ™


Terus ikuti alurnya meski tidak sesuai dengan harapan kalian. Semua pasti ada up and down nya. Kalau alurnya lempeng2 ajaaahh nanti kalian bosen wkwkwk harus ada seneng dan susah sedihnya juga sama kaya author yang seneng terus mendapatkan support dari kalian dan susah juga dalam memikirkan alur selanjutnya, sedih juga kalau ada komentar yg nylekiit hahaha. Btw, author itu pasti cari info dulu untuk melengkapi tulisan author karena beberapa memang author blm paham. Jadi, apa yang author tulis itu sesuai dengan artikel yg author baca yaaaa bukan karepe author deweeee. Yang gak suka sama alur ceritanya boleh di skip, author seneng kalau ada yg komen nylekiit tentang sikap tokohnya tapi kalau ada yang bilang ceritanya bodoh atau gak bagus atau apalah kok keknya author merasa gimana gt ya soalnya yg nulis cerita kan akika ya saayy hahaha maklum masih receh saaayyy it's oke kalau berbeda pendapat gk masalah sih. Tetap terima kasih berkenan mampir πŸ™πŸ™πŸ™



Monggo buat kak @afida rosita

__ADS_1


sesuai janji author sampe Sabtu kmrin author pantau buat kalian yg masuk rangking 1 kategori paling support author bisa chat author buat klaim kejutan kecil kamu. Terima kasih β˜ΊοΈπŸ™


__ADS_2