Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 123. Bibit Ancaman


__ADS_3

Disaat Satya sibuk menikmati waktu bulan madu sederhana nya. Di kantor Satya kembali dihampiri oleh seorang wanita yang tempo lalu datang hendak bertemu dengan Satya. Kembali wanita itu beradu mulut dengan Grace karena lagi-lagi memaksa untuk masuk ke dalam ruangan Satya.


"Nona, anda tidak paham atau bagaimana? Sudah saya bilang berkali-kali, anda tidak boleh masuk ke dalam ruangan Tuan Satya." Ucap Grace dengan nada sedikit tinggi akibat rasa kesalnya.


"Kamu yang tidak paham, sudah saya katakan saya ingin bertemu dengan Tuan Satya." Ucap wanita itu tak kalah sengit membalas Grace.


"Tapi Tuan Satya tidak ada di tempat."


"Jika dia tidak ada lalu mengapa ruangannya menyala?" Tanya wanita itu.


"Ruangan Tuan Satya memang seperti itu, lagi pula sejak kemarin Tuan Satya tidak datang ke kantor ini."


"Jangan berbohong kamu!! Saya pastikan kamu akan dipecat dari kantor ini karena bersikap tidak sopan dengan tamu bos mu sendiri." Ancam wanita itu.


"Saya menjalankan pekerjaan sesuai instruksi dari bos saya. Memang anda siapa bisa memastikan saya dipecat dari pekerjaan saya ini?!!" Grace sudah kesal dan tak bisa menahan lagi emosinya.


Sudah dikatakan Grace tidak akan menyembunyikan rasa tidak sukanya kepada orang lain jika orang tersebut sudah keterlaluan. Dengan berani Grace berbicara dengan nada sedikit meninggi pada tamu Satya.


"Cih kita lihat saja nanti, saya atau kamu yang akan bertahan di tempat ini." Ucao wanita itu dengan nada angkuhnya.


Mendengar keributan yabg terjadi di luar. Jordi segera melangkah keluar ruangan, pria itu berada di dalam ruangan Satya untuk menghandle pekerjaan bos-nya yang sejak kemarin tidak masuk bekerja.


"Ada apa ribut-ribut?" Sapa suara bariton itu di ambang pintu.


Lagi-lagi kedua wanita itu merasa suara bariton mengalihkan adu mulut mereka. Mereka meoleh ke arah Jordi.


"Nona, anda lagi? Ada urusan apa lagi? Tuan Satya untuk beberapa hari ke depan tidak akan datang ke kantor ini." Ucao Jordi.


"Saya hanya ingin bertemu dengannya. Jika begitu berikan saya alamat rumahnya saja."


Bola matanya Grace sedikit membelalak dengan kening mengerut merasa aneh dengan wanita yang ada di hadapannya. Pasti bukan urusan pekerjaan jika wanita itu sudah berani untuk berniat menghampiri rumah bos-nya.


"Maaf, semua urusan pekerjaan selalu Tuan Satya selesaikan di kantor, Nona." Ucap Jordi.


Pria itu tahu sebenarnya maksud wanita itu yang sejak kemarin datang ke kantor Satya. Wanita itu adalah anak dari klien Satya.


"Oke jika seperti itu, ini bukan urusan pekerjaan tapi urusan pribadi. Sekarang berikan saja alamat nya." Ucap wanita tersebut.


"Maaf, saya tidak bisa memberikannya tanpa seijin Tuan." Ucap Jordi menolak.


Dia tidak ingin bulan ini gajinya dipotong hanya karena menggangu waktu liburan Satya bersama istrinya. Tahu jika bos-nya itu tak ingin diganggu untuk beberapa hari maka Jordi dengan patuh sejak kemarin tak berusaha menemui Satya meski ada pekerjaan yang penting dan mendesak.


"Tidak masalah, saya bisa mencarinya sendiri." Ucap wanita itu yang kemudian berlalu meninggalkan Jordi dan Grace tanpa kata pamit.


"Dasar wanita sinting. Dia pikir dia siapa keluar masuk kantor ini seenak jidat." Omel Grace karena kesal dengan wanita yang sedari kemarin mencari bos-nya itu.


"Apa dia sudah dari tadi?" Tanya Jordi.


"Lima menit yang lalu sebelum kamu keluar." Ucap Grace.


"Resiko untuk pria seperti Tuan Satya. Lain kali jangan membuang tenagamu untuk tamu seperti itu. Panggil saja satpam." Ucao Jordi.


"Dia membuat ku benar-benar kesal. Kakak beradik mungkin dengan Si Nela." Celetuk Grace.


Jordi hanya menggelengkan kepalanya, dia tahu bagaimana sifat dan kebiasaan seorang Grace jika sudah tidak menyukai orang. Jordi kembali masuk ke ruangan Satya karena tututan pekerjaan yang sangat penting. Grace kembali dengan pekerjaan nya mengatur jadwal dan merekap beberapa kebutuhan pekerjaan nya dan bos-nya.


Di rumah besar Satya setelah pagi tadi mendapatkan pembukaan aktivitas yang sangat menyenangkan hingga menambah kadar semangat pria tersebut. Pasangan pengantin itu hanya berbaring tak jelas di atas ranjang. Belva bingung harus melakukan apa untuk mengisi kekosongan itu karena suaminya tak mengijinkannya untuk keluar kamar barang sedikit pun. Satya menempel padanya seperti tubuhnya terdapat lem yang mampu merekatkan Satya padanya.


"Mas, bosan aku di dalam kamar."


"Kita nonton, mau film apa? Tanya Satya yang memberikan saran agar istrinya tidak bosan.


"Memang punya film apa?" Tanya Belva.


"Ada beberapa." Satya beranjak dari ranjang dan menuju pada nakas yang letaknya di bawah televisi besar menempel pada dinding.


Di dalam nakas tersebut rupanya terdapat beberapa flashdisk disimpan khusus yang berisi beberapa film yang bisa diputar dan disambung ke televisi melalui PC tablet miliknya. Pria itu kembali berbalik ke ranjang menghampiri sang istri dengan membawa beberapa flashdisk dan PC tablet nya.


"Ini pilih saja film yang mau kamu lihat, yank"


Belva meraih PC tablet dan flashdisk yang diberikan oleh Satya. Memasang dan mencari deretan film yang ada di dalam layar tersebut, keningnya nya mengernyit.


"Kok film nya begini semua?" Ujar Belva.


Pasalnya deretan film itu tidak ada yang ia sukai karena berisi film action, film yang kebanyakan disukai dan di tonton oleh laki-laki.


"Kenapa?" Tanya Satya.


"Ini filmnya perang-perang kaya begini. Tidak ada yang lain?"


"Itu ada beberapa flashdisk tapi sepertinya hampir semua isinya sama. Kamu mau nonton sinetron?" Tanya Satya yang berpikir biasanya perempuan terlebih seorang ibu rumah tangga pasti suka menonton sinetron.


"Ya bukan sinetron juga mas, yang film romantis sedikit gitu atau film keluarga pokoknya yang bukan berisi kekerasan begitu lah."


"Ya sudah coba lihat saja yang ini."


Satu flashdisk berwarna berbentuk berbeda dari yang lain bentuknya seperti kartu ATM atau kartu SIM dan semacamnya. Satya berikan pada Belva.


"Ini isinya juga sama perang tapi sedikit berbeda tidak full action." Ucao Satya.


Penasaran maka Belva mengambil flashdisk unik itu. Dicek di layar tablet PC suaminya, matanya membulat saat melihat cover-cover film tersebut.


"Mas!!!" Teriak Belva.


"Apa sih yank teriak-teriak." Ucap Satya terkejut karena Belva berteriak di sampingnya.


"Film apa perang apa ini? Kamu sering nonton film kaya begini?" Tanya Belva penuh selidik.


"Ya itu film perang juga, yank. Tapi perang nya beda, ada romantis-romantisnya juga seperti yang kamu mau kan?" Ucap Satya dengan santai.


Belva menepuk jidatnya, menghela napas. Satya di luar terlihat dingin dan kaku tapi saat bersama dirinya sangat terlihat berbeda, cueknya bukan cuek dingin tapi lebih kepada cuek menyebalkan bagi Belva.


"Kamu sering nonton yang begini mas? Suka nonton seperti ini? Sengaja mengumpulkan film seperti ini?" Kembali pertanyaan itu terucap dari bibir Belva.


"Tidak, mas dapat dari Jordi. Tidak sering juga menonton hanya sesekali saat menginginkannya saja."

__ADS_1


Pikiran Belva melayang pada peperangan mereka dua malam terakhir. Film itu hampir sama dengan apa yang Satya lakukan, pantas saja suaminya itu begitu pandai dalam hal seperti itu. Rupanya belajar secara mandiri dari film-film tersebut. Belva merasa geli dan heran ingin rasanya berteriak pada suaminya itu.


Belva melepaskan flashdisk itu, "Yang lain mana? Ini semua tidak rekomended untuk ku."


"Sini mas carikan yang rekomended untuk mu, film romantis ada kok. Mas baru ingat." Ucap Satya.


Diambilnya flashdisk yang lain, flashdisk yang berbeda dari yang terakhir. Sebuah film yang memilik cover sedikit vul*gar yang diperankan oleh seorang aktor pria yang wajahnya bisa dikatakan mirip dengan dirinya. Aktor itu berperan sebagai Massimo tampan dan gagah seperti dirinya. Satya memilih film tersebut tanpa memperlihatkan cover film pada istrinya.


"Ini mungkin bagus menurutmu."


Film itu sudah tersambung di layar besar televisi mereka. Belva mengamati film itu dengan seksama, diawal film masih biasa-biasa saja. Belva terpana dengan pemeran pria di dalam film tersebut.


"Ya ampun tampan sekali." Ucap Belva tersenyum ke arah layar televisi.


"Sama kan seperti suamimu?" Respon Satya.


Belva langsung beralih ke wajah sang suami lalu kembali melihat layar televisi membandingkan wajah keduanya.


"Eh iya... Kok hampir mirip?" Ucap Belva.


Satya terkekeh lalu merangkul bahu istrinya, mereka menonton bersama film tersebut. Keduanya menikmati waktu bersama mereka seperti menonton di bioskop. Tidak ada yang berani mengganggu, para asisten rumah tangga hanya berani mengetuk pintu pada saat mengantarkan makanan saja.


Hingga tiba pada adegan film peperangan, Belva sedikit terkejut. Pasalnya film itu bukan film romantis biasa tapi alur yang membubuhi tontonan khusus bagi pasangan suami istri halal seharusnya.


"Mas, kok filmnya begini?"


"Sudah jangan protes ini yang paling sedikit adegannya tidak full peperangan." Ucap Satya.


"Yank, kok mas jadi pingin lagi ya?"


Satu alis Belva terangkat naik, dalam hati menebak-nebak jangan sampai suaminya mengajaknya berperang dan yang tak bisa ditolaknya adalah jika suaminya tiba-tiba menyerang.


"Pingin apa? Ngidam?" Tanya Belva secara asal.


"Iya pingin buat kamu ngidam, yank." Celetuk Satya menanggapi istrinya.


Belum sempat Belva membalas ucapan sang suami tiba-tiba pintu terketuk. Keduanya langsung menghadap ke arah pintu kamar mereka.


"Biar aku yang buka, mas."


Belva turun dari ranjang. Dibuka pintu itu oleh Belva, ternyata Janis berada di depan pintu.


"Mbak, ada apa?" Tanya Belva membuka setengah pintunya.


"Nyonya, di depan ada tamu katanya mencari Tuan." Ucap Janis melaporkan kedatangan seseorang. Kali ini perempuan itu memanggil Belva dengan sebutan Nyonya karena ia tahu Satya pasti mendengar jika dirinya memanggil Belva dengan sebutan lain. Setiap ada Satya maka Janis dan yang lain akan patuh memanggil Belva dengan sebutan Nyonya.


"Tamu? Siapa? Apa rekan kerja Tuan?" Tanya Belva.


"Mungkin Nyonya, tapi saya kurang tahu." Ucap Janis.


"Oh oke mbak, nanti aku sampaikan ke Tuan. Terimakasih ya." Ucap Belva tersenyum.


"Sama-sama, Nyonya. Saya permisi."


"Ada apa, sayang?"


"Ada tamu di bawah mencarimu, mas."


"Tamu? Siapa?" Tanya Satya mengerutkan keningnya.


"Mungkin rekan kerja mu. Ada hal penting barangkali sampai datang ke rumah. Mas kan dari kemarin tidak berangkat ke kantor."


"Ck... Apa Jordi tidak memberitahunya untuk tak membawa pekerjaan ke rumah ini untuk beberapa hari." Gerutu Satya, ia kesal waktunya bersama sang istri terganggu.


"Jangan marah-marah, temui saja dulu sebentar, mas. Jika tidak penting pasti tidak mungkin sampai datang ke rumah." Belva mencoba menenangkan suaminya.


"Mau aku temani ke bawah?" Tawar Belva.


"Tidak. Lihat pakaianmu, mas tidak mau ada yang melihat mu seperti ini. Biar mas saja yang turun sayang tunggu saja disini sampai mas kembali."


Belva menghendikan bahunya, menurut saja apa kata sang suami. Tidak terlalu masalah baginya jika tidak menemani Satya menemui tamu dari suaminya. Itu urusan Satya dengan rekan kerjanya.


"Iya tapi pakai baju dulu sebelum keluar." Ujar Belva.


"Ambilkan, yank. Kaos saja." Pinta Satya.


Belva masuk ke dalam walk in closed mengambil kaos suaminya. Satya memang tak pernah mengenakan baju saat tidur dan itu berlangsung hari ini karena merasa dirinya tak kemana-mana hanya di dalam kamar saja bersama sang istri.


Kaos sembarang warna bemva berikan kepada suaminya. Tanpa protes Satya langsung memakai nya. Pria itu menemui tamunya dengan penampilan yang sangat santai, memakai kaos dan juga celana pendek selutut sesuai kebiasaannya di rumah. Masih terlihat sopan untuk bertemu tamu karena ini adalah jam santai nya bukan jam kerjanya.


"Mas, turun dulu. Jangan keluar kamar, awas kalau keluar kamar kita perang sampai tengah malam kalau perlu sampai subuh, mas tidak main-main." Ujar Satya dengan sedikit memberikan ancaman yang menguntungkan dirinya agar istrinya tak keluar kamar.


Entah apa yang ada di dalam pikiran Satya hingga bisa berpikir untuk mengurus sang istri saat ini bahkan keluar kamar saja tidak diperbolehkan. Belva hanya menggelengkan kepalanya, heran dengan kelakuan sang suami. Tapi mengingat suaminya selalu tak pernah main-main saat berbicara Belva patuh pada Satya.


"Iya, sudah sana tamunya sudah menunggu mas di bawah."


"Sini cium dulu." Satya menarik tangan istrinya agar mendekat.


Kecupan kecil dengan sedikit lum*tan serta kecupan di kepala Belva pria itu berikan untuk sang istri sebelum keluar kamar. Kesempatan sekecil apapun untuk bisa menyentuh istri tercinta akan selalu Satya manfaatkan sebaik mungkin.


Menggunakan lift Satya turun dari lantai tiga yang khusus untuk dirinya dan Belva. Di lantai paling bawah Satya berjalan menuju ruang tamu bertepatan dengan Janis yang juga datang dari arah dapur menuju ruang tamu dengan membawa nampan berisi minuman yang bisa dipastikan untuk tamunya.


"Siapa tamu?" Tanya Satya pada Janis.


"Saya kurang tahu, Tuan. Baru melihat kali ini, dia seorang perempuan katanya ada kepentingan dengan Tuan."


"Hem... Oke." Jawab Satya. Tidak ada keramahan dari Satya bersama orang lain Satya akan selalu bersikap seperti itu.


"Permisi Tuan saya antar minuman dulu." Pamit Janis. Satya mengangguk membiarkan Janis berjalan lebih dulu.


Dalam pikiran Satya bertanya-tanya akan siapa tamu wanita yang datang menemuinya di rumah. Satu orang yang ditebaknya, wanita yang belakang ini sering bertemu dengannya hanyalah Rania.


Satya berjalan dengan santai, untuk apa Rania datang ke rumahnya dan mengetahui alamat rumahnya dari siapa itu pun menjadi pertanyaan bagi Satya. Jika sampai Jordi yang memberikan alamat rumahnya saat ini maka bersiaplah Jordi untuk menerima gaji seperempat saja. Waktu yang tidak tepat untuk bertamu di rumah nya.


Janis baru saja akan beranjak dari ruang tamu setelah memberikan minuman itu di atas meja, Satya sudah berada di ruang tamu. Janis menunduk hormat dan berlalu. Kening Satya mengerut saat melihat siapa yang datang.

__ADS_1


Terlihat seorang wanita yang duduk di ruang tamu miliknya. Wanita itu belum menyadari kedatangan Satya karena terlalu sibuk memindai ruangan besar itu. Ada sesuatu hal yang ingi dipastikan nya saat datang ke rumah Satya.


Satya seakan mengingat sesuatu, seperti tak asing dengan wajah wanita itu. Bukan Rania melainkan orang lain yang entah siapa masih samar dalam ingatan Satya.


Wanita itu tersenyum manis pada Satya saat menyadari kedatangan si Tuan rumah tapi pria itu hanya diam saja tak membalas senyuman dari wanita itu. Melihat kedatangan Satya wanita itu pun berdiri dari duduknya pada sofa empuk milik Satya.


"Tuan Satya." Panggil wanita tersebut.


"Ya? Apakah ada yang bisa saya bantu? Maaf dengan siapa?" Tanya Satya dengan nada yang masih terdengar sopan.


"Anda melupakan saya, Tuan?" Tanya wanita itu.


"Apakah kita pernah bertemu?" Tanya Satya dengan nada yang terdengar dingin dan datar.


Wanita itu masih mencoba tersenyum manis pada Satya. Memang seperti itulah sikap dan sifat Satya, ia sudah mengetahui hal itu.


"Wanita yang dulu sempat kamu tolong saat terkena lemparan bola basket." Ucap wanita itu tersenyum dan mencoba membangkitkan ingatan pria yang semakin matang semakin tampan itu.


Satya mencoba mengingat apa yang dikatakan boleh tamunya itu. Tapi tak terlihat jika dia sedang berpikir saat ini justru terkesan cuek dan dingin.


"Silahkan duduk." Ucap Satya.


Satya duduk di sofa single jaraknya cukup jauh dari wanita yang kini sebagai tamunya. Melihat Satya duduk wanita itu ikut duduk tapi ia tak duduk di tempat sebelumnya melainkan duduk lebih dekat dengan Satya.


Kelopak mata bawah Satya sedikit mengerut melihat kelakuan tamunya itu tapi Satya tetap bersikap tenang seperti biasa.


"Ada kepentingan apa anda datang ke rumah saya?" Tanya Satya langsung pada intinya.


"Apa kamu masih mengingatku, Tuan Satya?" Bukan jawaban yang ia berikan pada Satya melainkan pertanyaan untuk memastikan pria dihadapannya itu masih mengingat dirinya.


Satya masih diam, perlahan dia mengingat siapa wanita itu. Wanita yang jika dirinya tidak salah sasaran, seorang temannya di masa lalu saat bersekolah semasa SMA. Wanita yang dulu pernah hampir saja membuat persahabatan nya merenggang bahkan hingga kini dan hampir memutuskan hubungannya dengan sang kekasih hati yang paling dicintainya dulu.


"Ada perlu apa?" Tanya Satya dingin tanpa menjawab pertanyaan wanita itu.


"Kamu masih tak mengingat ku? Sayang sekali." Ucap wanita itu dengan senyum sedikit sedih.


"Tuan Broto Margono, pasti kamu mengenalnya." Ucap wanita itu kembali.


Satya mengangkat satu alisnya, mengapa wanita itu menyebutkan nama pria paruh baya yang menjadi klien nya beberapa hari terakhir.


"Ya saya mengenalnya, apa hubungannya dengan anda?"


"Papaku... Dia adalah Papaku. Bukankah Papaku mengundang mu untuk acara makan malam di rumah kami?"


"Lalu?" Ujar Satya singkat. Wanita itu terlalu berbelit-belit. Membuang waktu berharga Satya untuk menikmati waktu bersama sang istri.


"Apakah kamu tidak ingin menghadiri makan malam di rumah kami? Datanglah... Aku mewakili Papaku mengundangmu."


"Maaf saya sibuk, jadi tidak bisa menghadiri undangan kalian." Tolak Satya.


Kedua kalinya dirinya menolak undangan makan malam dari keluarga klien nya itu. Mereka mengundang Satya di waktu yang sangat tidak tepat. Waktu yang Satya miliki saat ini hanyalah untuk istri tercintanya. Dia rela meliburkan diri mengabaikan banyaknya pekerjaan hanya untuk menghabiskan waktu bersama Belva.


"Sesibuk itu kah hingga makan malam kami tidak bisa kamu hadiri?" Ucap wanita itu kecewa.


"Sepenting apa makan malam kalian hingga saya harus menghadiri nya? Jika hanya untuk merayakan keberhasilan kerjasama antara perusahaan tidak perlu selancang itu untuk mengetahui kesibukan saya." Ucap Satya dengan tatapan tajam pada wanita itu.


Dia tidak suka jika ada seseorang yang seakan memaksa dirinya jika menurut nya tidak penting. Ucapan wanita itu seakan ingin ikut campur bagaimana kesibukannya dan memaksa dirinya untuk bisa datang menghadiri makan malam.


Tidak ada hal yang penting dari kedatangan wanita itu membuat Satya kesal. Waktunya benar-benar berkurang akibat kedatangan tamu tak diundang dan tak diinginkan nya.


Wanita itu terdiam, dalam hati merasa kesal atas sikap Satya yang dingin dengan kata-kata nya yang menusuk.


"Jika tidak ada hal penting lainnya, maka silahkan undur diri. Saya sibuk masih banyak yang harus saya kerjakan." Ujar Satya yang tentu wanita itu tahu jika pria tampan itu mengusir dirinya.


"Oke... Aku pamit. Permisi." Wanita itu berdiri dari duduknya menyambar tas mewahnya tanpa menyentuh sedikitpun gelas berisi minuman yang disediakan oleh asisten rumah tangga Satya.


Satya berdiri dari duduknya dengan kedua tangan masuk ke dalam saku kanan kirinya. Menatap lurus pada wanita yang mulai beranjak keluar dari rumah nya.


"Untuk apa wanita itu muncul di hadapanku. Tuan Broto Margono, jadi itu putri yang diceritakan nya waktu lalu." Gumam Satya dalam hati.


Wanita yang dikenalnya di masa lalu itu tak pernah berubah secara penampilan. Tetap berpenampilan menggoda dan seksi sepertinya itu memang menjadi suatu kebanggaan dan meningkatkan rasa percaya diri bagi wanita tersebut.


Satya kembali ke kamar melalui lift yang menjadi fasilitas rumah nya sejak memutuskan untuk menjadikan Belva sebagai istrinya. Kenyamanan dan kemudahan yang dia berikan untuk anak dan istrinya.


Pria itu tak sadar jika pertemuannya dengan tamu nya tadi mendapatkan perhatian dari dua asisten rumah tangga nya yang selalu berbuat onar di kalangan asisten rumah tangganya. Tuti dan Inah mencuri dengar sedari tadi, kelakuan yang tidak sopan dimiliki oleh kedua gadis itu.


"Nah, wanita itu sepertinya dekat dengan Tuan. Dari cara bicara bercerita nya seperti sudah mengenal lama dengan Tuan."


"Iya setuju. Dan kalau aku tidak salah tebak dari gestur wanita itu seperti menyukai Tuan. Bakalan seru ini, Tut."


Ucapan Inah tanpa disadari perempuan itu telah membuat hati Tuti merasa kesal. Pasalnya asisten rumah tangga Satya yang satu itu rupanya menaruh hati pada Satya sejak pertama diterima bekerja di rumah besar Satya. Otak liar dan liciknya selalu berencana mendekati Satya seperti yang dilakukannya pada majikannya sebelumnya.


"Bakal seru bagaimana maksud kamu?" Tanya Tuti menahan kesal.


"Seru lah, Tut. Coba kamu bayangkan jika wanita itu berduel dengan Nyonya babu itu pasti bakalan seru sekali. Dan wanita itu terlihat lebih tegas dalam artian lebih galak dan menyeramkan pasti Nyonya babu itu bakalan kalah telak dengan wanita tadi."


Tuti berpikir sejenak setelah mendengar ucapan Inah. Otak liciknya mulai menerima dan menemukan titik untuk mengambil celah.


"Ya kamu benar, semoga saja wanita tadi lebih sering berkunjung ke rumah ini. Biar Nyonya babu mu itu kepanasan, biar tahu rasa dia karena telah menggoda Tuan." Ucap Tuti.


"Cari cara kita, Tut. Kita dekati wanita tadi dan dorong dia buat memecah hubungan si Nyonya babu dan Tuan." Ucap Inah dengan lirih.


Tuti tertawa sinis dan puas membayangkan jika nanti Belva dan Satya bertengkar dan berujung perpisahan. Di saat itulah dirinya juga akan maju untuk mengambil celah mendekati Tuan tampan yang menarik hatinya.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Masih setia ya ?? Terimakasih banyak atas kesetiaan kalian, demi apapun jujur author semangat karena kalian yang masih terus setia support author.


Terimakasih banyak untuk Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian. 🙏🙏🙏


Semoga kalian semua sehat selalu dan lancar rejeki 🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2