Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 196. Awal Kebahagiaan Siwi


__ADS_3

Sejak kehilangan Kaila karena diculik oleh Fahmi hingga sampai saat ini gadis kecil itu belum juga ditemukan. Belva sudah tak memiliki semangat hidup lagi, kesedihan mendera wanita cantik itu. Satya rasanya begitu frustasi dan sedih melihat istri tercintanya murung sejak kemarin.


"Bagaimana, mas dimana Kaila?" Tanya Belva dengan wajah murung.


"Kita bisa mendapatkan Kaila asalkan kita menukar dengan baby As. Pria itu menginginkan baby As."


"Baby As? Tidak. Bisakah kita cari cara lain, untuk apa dia meminta baby As. Aku yakin dia bukan orang baik yang bisa merawat putraku dengan baik." Tolak Belva.


Satya sudah yakin jika istrinya tidak akan membiarkan bayi Alya ditukar begitu saja. Lagipula dirinya juga tidak mungkin melakukan hal itu. Egois rasanya jika sampai menukarkan baby As demi keselamatan anak kandungnya sendiri.


Saat sedang berbicara berdua saja, ponsel Satya berdering. Asistennya lah yang menghubungi dirinya.


"Hallo, Jordi ada apa?"


"Hallo, Tuan kami sudah menemukan dimana keberadaan terakhir nomor ponsel itu."


"Dimana katakan, kita harus segera menemukan pria gila itu." Ujar Satya tak sabar.


"Nomor itu terlacak di pinggiran kota Jakarta, Tuan."


"Kita ke sana sekarang." Titah Satya.


"Saya akan ke rumah anda untuk menjemput anda."


"Oke, terima kasih Jordi."


Satya menutup panggilan dari Jordi, Belva sedari tadi menatap suaminya ingin tahu informasi apa yang diberikan oleh Jordi.


"Bagaimana mas? Apa ada informasi terbaru mengenai Kaila?" Tanya Belva berharap ada kabar baik.


"Jordi berhasil menemukan keberadaan terakhir nomor ponsel Fahmi. Kita akan ke sana semoga kita segera menemukan Kaila."


"Aku ikut, mas aku ingin memeluk Kaila." Pinta bva dengan semangat.


Wajah yang semula murung kini mulai berganti dengan senyum tipis. Ada harapan pada binar mata Belva saat mendengar Jordi telah menemukan keberadaan Kaila.


Satya tak ingin istrinya kenapa-kenapa dan kelelahan mengingat bahwa wanita itu kini tengah hamil empat bulan.


"Sayang, sebaiknya kamu menunggu saja di sini biar mas dan Jordi yang cari Kaila. Ingat kamu tidak sendiri, ada baby di sini yang harus kamu lindungi. Kaila akan sedih nanti jika adiknya kenapa-kenapa hemm..."


Lembut dan sabar Satya memberikan pengertian pada sang istri. Bahaya jika Belva mengikuti dirinya, jika Fahmi berbuat macam-macam Satya bisa bergerak cepat untuk melindungi Kaila tapi jika Belva ikut maka fokusnya akan terpecah antara melindungi Kaila atau melindungi wanitanya.


"Tapi mas... Aku tidak sabar ingin bertemu Kaila."


"Sayang, dengarkan mas... Kamu dan Kaila adalah sama-sama orang terpenting dalam hidup mas jadi mas tidak ingkn kalian terjadi sesuatu. Terlebih saat ini ada calon anak kita di dalam perutmu, adik Kay dan baby As. Please demi kebaikan bersama turuti apa yang mas katakan. Mas janji sebisa mungkin nanti kembali dengan membawa putri kita."


Oke, mau tak mau Belva harus menurut demi kebaikan bersama. Jordi sampai di rumah besar Satya, pria bermata hazel itu langsung turun ke bawah menemui Jordi di temani Belva.


"Satya, kalian akan pergi mencari Kaila?" Tanya Tuan Hector.


"Iya, Pa. Jordi sudah menemukan keberadaan nomor yang tadi malam menghubungi saya."


"Oke, pergilah. Maaf Papa tidak bisa ikut tapi anak buah Papa sudah standby di luar kalian bisa pergi bersama."


Satya mengangguk, "Baik, Pa terimakasih. Kami pergi dulu titip istri dan anak-anak saya."

__ADS_1


"Tentu saja, semoga kalian berhasil membawa Kaila." Ujar Tuan Hector.


"Hati-hati, mas bawa Kaila pulang." Ucap Belva penuh harap.


"Tentu, sayang. Mas pergi dulu jaga diri baik-baik, jangan terlalu banyak pikiran."


Satya berpamitan pada Belva, diciumnya kening dan pipi Belva serta tak lupa perut yang mulai buncit itu pun tak luput dari usapan lembut dan kecupan lembut dari sang Daddy.


Satya dan Jordi pergi bersama untuk menyusul keberadaan terakhir dimana nomor Fahmi terlacak. Sebelum itu mereka berhenti di pinggir jalan untuk berkoordinasi bersama anak buah Tuan Hector. Mereka menyusun rencana dalam penggrebekan Fahmi. Untuk kali ini mereka tak langsung menghubungi piwah berwenang karena Satya masih menuntaskan permainannya berdama Fahmi yang sudah berani menyentuh keluarga kecilnya.


Tak ada ampun bagi mereka yang berani mengganggu kedamaian kehidupan Satya dan keluarganya. Apapun akan Satya lakukan untuk melindungi dan membuat jera mereka yang berani bermain-main dengannya.


Beberapa hari ini Satya sibuk mengurus keberadaan putrinya yang hilang. Sejak pertemuan terakhir mereka di rumah sakit waktu itu, Siwi tak lagi bertemu atau berhubungan dengan Satya. Beberapa kali dirinya mencoba menghubungkan Jordi tapi diabaikan oleh asisten Satya.


Kesal tak kunjung mendapatkan kanat atau keberadaan Satya di kantor pun pria pujaan hatinya itu juga tak nampak. Kali ini siwo berbuat nekat di hadapan para karyawan Bala Corp. Semua perbuatan yang dilakukan secara diam-diam atas perintah Satya itu kini dipublikasikan oleh Siwi.


Semua berawal dari saling senggol antara karyawati yang ada di kantor Satya dengan Siwi yang saat ini memang tengah sensitif. Mungkin pengaruh dari kehamilan wanita itu sehingga lebih mudah tersinggung atau suasana hatinya lebih cepat memburuk.


"Hai kamu tidak punya mata ?! Lihat-lihat dong kalau jalan, bajuku jadi kotor karena minuman mu!!" Bentak Siwi.


"Maaf saya tidak sengaja." Ucap karyawati kantor Satya.


"Memang dengan kata maaf mu bajuku bisa kembali bersih huh!! Ini baju mahal, baju branded!! Gajimu tidak akan cukup mengganti bajuku."


Dengan sombongnya Siwi membanggakan bajunya yang dibeli dari hasil mendekati Satya. Wanita itu sudah seperti Nyonya pemilik Bala Corp bertingkah seolah-olah mereka yang ada disekitarnya tak mampu seperti dirinya.


"Saya akan mengganti bajumu nangi setelah akhir bulan gajian, tidak perlu sombong seperti itu." Ujar karyawati itu dengan sedikitnya kesal melihat sikap Siwi.


Menurutnya mereka sama-sama karyawan yang bekerja di perusahaan Bala Corp. Derajat mereka sama jadi ia merasa kesal dengan sikap pegawai yang statusnya sama tapi tampak sangat sombong sekali.


"Cih... Gajimu satu bulan saja tidak bisa menggantikan bajuku yang sudah terkena noda ini."


"Memang kenapa?" Tanya karyawati tersebut.


"Cepat katakan dari divisi mana kamu!!" Siwi memaksa dengan meninggikan nadanya.


Beberapa pasang mata memperhatikan perdebatan kedua wanita yang mereka sama-sama tahu bahwa mereka sama-sama karyawan di perusahaan besar itu.


"Wanita berbaju putih itu bukankah karyawan baru yang menggantikan karyawan berkasus itu ya?"


"Iya belum lama dia bekerja di sini tapi sudah sombong sekali."


"Iya gayanya sudah seperti pemilik perusahaan saja."


Bisik-bisik para karyawan yang lain saat menyaksikan perdebatan Siwi dengan karyawati di area kantin.


"Divisi marketing, kenapa? Kamu takut saya lari dari tanggung jawab. Ini kartu nama saya, kamu tidak perlu khawatir saya orang yang bertanggung jawab." Ujar karyawati itu dengan tegas.


"Pegawai rendahan saja sudah bergaya seolah kamu memiliki jabatan besar di perusahaan ini. Saya tidak perlu ganti rugi kamu, besok saya pastikan kamu tidak lagi bekerja di perusahaan ini." Ucap Siwi dengan percaya diri dan tegas, seolah menunjukkan kekuasaannya dihadapan karyawati tersebut dan orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Hah?! Memang kamu siapa? Kamu karyawan baru kan? Kamu mau mengadu hanya karena bajumu terkena noda minuman? Alasan tak masuk akal seperti itu tidak akan membuat pimpinan memecat karyawannya secara sembarang jangan seperti anak kecil." Ucap karyawati itu tanpa merasa takut.


Secara waktu karyawati itu sudah lebih lama bekerja di perusahaan Satya tentu tahu bagaimana prosedur yang ada di kantor tersebut. Pimpinan mereka tidak akan memecat karyawan hanya karena masalah sepele yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.


Grace, sekertaris Satya pun berada di kantin tersebut tanpa mau ikut campur wanita cantik itu hanya memperhatikan tingkah laku Siwi. Dalam hatinya merasa lucu melihat sikap Siwi yang berlebihan.

__ADS_1


Beberapa karyawan yang mendengar ucapan temannya pun ikut tersenyum karena memang tidak akan mungkin pimpinan memecat karyawan secara sembarang. Kesal ditanggapi dengan remeh, Siwi tak main-main dengan kata-katanya. Wajahnya diliputi keseriusan saat mengungkapkan sebuah fakta dari dirinya.


"Jadi kamu menantang ku? Tidak masalah, tunggu saja hari-hari terakhir mu di perusahaan ini. Asal kalian tahu, saya adalah calon istri Tuan Satya dan sebentar lagi kami akan menikah karena di sini." Siwi menunjukan perutnya yang masih rata.


"Di sini di dalam perutku, aku telah mengandung anak Tuan Satya. Calon pemilik perusahaan ini." Ucap Siwi dengan lantang dan tegas. Wanita itu penuh percaya diri dalam mengungkapkan fakta.


Grace membulatkan matanya, ia tak percaya dengan apa yang Siwi katakan. Tapi selama ini beberapa kali memang dirinya melihat Siwi pergi bersama Satya.


'Tidak mungkin. Apa ini benar? Jadi Tuan Satya berselingkuh di belakang Nyonya Belva?' Batin garce bertanya-tanya.


Mata Grace menatap serius pada Siwi, terlihat dengan jelas bahwa di wajah Siwi menunjukan keseriusan dalam berbicara. Beberapa karyawan pun ada yang menanggapi serius ucapan Siwi ada pula yang hanya menanggapi dengan tawa dan mengira Siwi hanya berhalusinasi saja. Dari keseluruhan karyawan yang mendengar banyak dari mereka yang percaya dengan ucapan Siwi yang sangat serius.


"Kamu! Tunggu saja nasibmu nanti. Tuan Satya tidak akan tinggal diam saat calon istrinya diperlakukan remeh seperti ini, terlebih saat ini aku sedang mengandung anaknya." Ujar Siwi kembali dengan wajah sinisnya.


Siwi berlalu begitu saja dengan hati yang kesal tapi juga puas karena berhasil membungkam banyak karyawan yang semula memandang remeh dirinya.


Sepeninggal Siwi kasak-kusuk dan bisik-bisik para karyawan menggema di tempat tersebut. Banyak dari mereka yang bergosip menanyakan kebenaran ucapan Siwi dengan sesama mereka meski mereka pun tak tahu jawaban sebenarnya.


"Ini tidak bisa dipercaya, bukankah beberapa waktu lalu Tuan Satya membawa dua bocah dan aku dengar mereka adalah anak-anak Tuan Satya."


"Iya aku pun mendengar jika Tuan Satya sudah menikah tapi kenapa wanita itu mengaku sebagai calon istri Tuan Satya?"


"Apa jangan-jangan teejadi perselingkuhan dalam rumah tangga."


"Itu Nona Grace coba tanyakan saja padanya." Saran seorang karyawati menunjuk pada Grace.


"Hai Nona, apa benar yang dikatakan wanita tadi? Bukankah Tuan Satya sudah beristri?" Tanya nya pada Grace.


Grace bingung harus menjawab apa, sejujurnya dirinya pun membutuhkan sebuah jawaban pasti akan pemikirannya sendiri atas Tuannya.


"Aku rasa itu hanya gosip, selama aku tak mendengar secara langsung dari Tuan Satya maka aku tidak akan mempercayai nya." Jawab Grace.


Wanita itu memilih untuk mengamankan diri dari berbagai pertanyaan yang akan muncul kembali. Ia pergi dari kantin tanpa membawa apapun, rencana makan siangnya gagal total akibat ucapan dari Siwi yang berhasil membuat riuh dan gaduh area kantin.


"Jordi, aku harus tanya pada manusia satu itu. Apa benar terjadi perselingkuhan hingga wanita itu hamil. Ini sulit dipercayai, Nyonya Belva begitu cantik dan muda, masa iya Tuan Satya tega dan nekat menyia-nyiakan berlian hanya demi batu kali semacam Siwi si nela generasi ke dua." Gumam Grace.


Siwi yang sudah kembali di ruangannya, ia duduk dengan tersenyum. Merasa puas pada akhirnya bisa membuka jati dirinya sebagai wanita yang paling disayangi oleh Tuan Satya meski akhir-akhir ini merasa kesal tidak mendapat kabar dari Satya yang menghilang begitu saja.


"Hmm... Sabar ya Nak, sebentar lagi Daddy mu akan segera menemui kita. Mama yakin Daddy mu akan bereaksi dengan pengakuan Mama." Gumam Siwi mengelus perutnya yang masih rata.


"Kamu akan menjadi pewaris perusahaan besar ini, sayang. Mama senang kehadiran kamu membawa kebahagiaan untuk Mama."


Siwi merasa senang sekali, bayangannya bisa menggantikan posisi Belva terus terngiang di dalam kepalanya. Hidupnya akan sangat mudah penuh kebahagiaan dengan bergelimang harta dari pria pujaan hatinya. Tentu saja Satya akan menyayangi dirinya seperti bayangan Siwi saat mereka sedang menghabiskan waktu dan berlibur.


Mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar itu cukup memberikan keberuntungan bagus Siwi. Dari segi materi dirinya sudah mendapatkan uang yang cukup banyak hanya sebagai karyawan yang merangkap sebagai simpanan. Terlebih nanti jika sudah sah menjadi istri dari pemilik Bala Corp maka materinya akan beelimpah-limpah.


Siwi tak bisa membayangkan jika waktu itu dirinya menolak pekerjaannya kali ini sudah tentu hidupnya akan menderita dan susah. Betapa bahagianya saat dirinya berhasil menggaet Satya sang pemilik perusahaan besar sekaligus bosnya sendiri. Kabar kehamilannya pin menambah deret kebahagiaan bagi Siwi.


****


To Be Continue....


Hai my dear para readers ku tersayang


Mohon maaf kalau akhir-akhir ini jarang up, masih masa pemulihan guys.

__ADS_1


Terima kasih yang masih setia membaca karya receh author, terimakasih banyak buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian 🙏🙏🙏


Semoga kita semua sehat selalu ya guys, jaga kesehatan, bahagia selalu 🤗🙏🙏


__ADS_2