
Belva tersenyum kecut, memanggil Roichi dengan sebutan itu adalah keinginan mereka sendiri. Tapi dirinya juga turut ambil bagian meski hanya sedikit, dirinya yang meminta Roichi untuk menjadi ayah pura-pura bagi Duo Kay demi menghindari bahaya dari Sonia dan Alya. Jadi, saat anak-anaknya memanggil Roichi dengan sebutan Papi Belva tidak keberatan sama sekali.
"Tetap saja Papi Roi adalah Papi kalian yang selalu menjaga kalian selama ini. Dia Papi yang sangat baik bukan ?" Ujar Satya.
"Iyaaa... Papi Roi sering mengajak kami jalan-jalan saat weekend dan membelikan kami mainan. Jika bersama Mami pasti Mami akan marah karena mainan kami sudah banyak." Ujar Kaili.
"Oh ya ? Nanti Mami tidak akan marah lagi karena Daddy yang akan membelikan kalian mainan kapanpun kalian mau." Ucap Satya tersenyum.
"Benarkah Papi eh Daddy ?" Tanya Kaila.
Satya tertawa karena putrinya bingung memanggil dirinya. "Panggil saja Daddy agar kalian tidak bingung sayang." Ucap Satya.
"Oke Daddy." Jawab Duo Kay.
Terlihat sangat jelas raut wajah Duo Kay yang sangat bahagia bertemu dengan Satya si pria dingin dan datar yang akan berubah saat berhadapan dengan kedua anak kembarnya.
"Budhe senang sekali akhirnya si kembar bisa mengetahui ayah kandungnya." Ucap Budhe Rohimah pada Belva. Wanita muda itu tersenyum dan mengangguk. Mengelus lembut tangan Budhe Rohimah yang masih bertengger di pundaknya.
"Saya juga senang dan bahagia bisa bertemu dengan anak-anak saya. Alya bukanlah anak kandung saya Bi." Ucap Satya.
Belva dan Budhe Rohimah sontak saja langsung memperhatikannya Satya. Ucapan Satya menarik keinginan tahuan mereka.
"Maksud Tuan ?" Tanya Budhe Rohimah.
"Nanti akan saya ceritakan. Tidak disini." Satya melirik kedua anaknya. Belva dan Budhe Rohimah paham jika tak mungkin membicarakan hal itu dihadapan Kaila dan Kaili.
"Iya Tuan kami mengerti." Jawab Budhe Rohimah.
Setelah mereka menjelaskan bahwa Satya adalah ayah kandung mereka. Banyak sekali pertanyaan demi pertanyaan muncul dari kedua bocah itu. Satya dan Belva menjawab dengan sabar satu persatu pertanyaan dari mereka.
"Jadi, aku bisa bertemu dengan Daddy setiap hari kan ? Daddy tidak akan sering pergi-pergi kan ?" Tanya Kaila.
"Bisa sayang, makanya Kaila cepat sembuh nanti kita akan sering jalan-jalan bersama." Ucap Satya.
"Yeeaayy... Jalan-jalan dengan Daddy." Kaila sangat senang sekali.
Kedua anak itu sangat mudah sekali akrab dan berbaur dengan Satya. Tidak takut sama sekali karena mereka merasakan kenyamanan saat bersama Satya.
"Kaila, sekarang istirahat ya sayang. Baru minum obat harus banyak istirahat." Titaj Belva dengan lembut.
"Tapi Kaila belum mengantuk Mami. Kaila mau sama Daddy."
"Oke Kaila sama Daddy, Daddy temani tapi ila harus istirahat supaya cepat sembuh." Ucap Satya. Kaila mengangguk patuh.
"Kakak, sama Mami dulu ya, Daddy harus temani adek Kaila." Ucap Belva pada Kaili. Diangkat tubuh Kaila yang sedari tadi berada di pangkuan Satya.
Satya berbaring di samping tubuh Kaila. Belva, Kaili dan Budhe Rohimah beralih duduk di sofa. Dari sofa mereka melihat bagaimana Satya dengan lembut dan penuh kasih sayang menepuk paha Kaila agar gadis kecilnya itu tertidur. Beberapa kali Satya juga mencium pipi Chubby Kaila.
"Nduk, Budhe merasa lega sekarang kita tidak harus menyembunyikan si kembar dari Tuan Satya."
"Belva juga lega Budhe. Tapi aku masih khawatir jika nanti Nyonya Sonia dan Alya tahu bagaimana."
"Sudah jangan khawatir. Ada Tuan Satya kita percaya saja padanya, si kembar akan baik-baik saja." Budhe Rohimah mengusap punggung Belva.
"Kaili, senang sayang bisa bertemu Daddy ?" Tanya Budhe Rohimah.
"Senang, Kaili bisa jalan-jalan bersama Daddy setiap hari." Jawab Kaili.
Belva mencium kepala Kaili setelah mendengar jawaban dari putranya. Tangan Budhe Rohimah beralih mengelus kepala Kaili. Kebahagiaan menyelimuti hati mereka untuk saat ini. Diam-diam Belva pun turut bahagia, melihat buah hatinya begitu bahagia.
****
Hidup itu seperti roda bisa di bawah bisa di atas. Dulu Sonia dan Alya hidup enak berada di atas dan berlaku sesuka hati tanpa memikirkan orang lain. Kini mereka sedang berada di bawah dengan masalah-masalah yang menghampiri mereka.
Sonia yang dulu begitu mencintai Faris dan mengutamakan pria itu. Mau melakukan apapun demi Faris justru pria itu kini seolah memperlakukan nya seperti sampah. Selagi untung disayang-sayang, jika sudah merugikan nya maka seenaknya pria itu memperlakukan.
Wanita yang dulu selalu terlihat cantik dan glamor itu penampilannya sekarang terlihat berantakan. Wajah pucat, rambut berantakan, baju pun sembarang yang dikenakan nya.
Plak !!!
"Mau kemana kamu ?!!" Tanya Faris dengan nada marah.
Pria itu tak mengijinkan Sonia pergi begitu saja sampai dirinya merasa puas membuat Sonia sengsara. Menurutnya karena Sonia perusahaan yang dibangunnya dengan susah payah itu harus lepas dari tangannya sendiri.
"Lepas Faris !! Aku tak mau bersama mu lagi !!" Teriak Sonia dengan memegang pipinya yang terasa panas.
Senyum sinis serta remeh itu diberikan pada Sonia. "Tak mau bersamaku ? Kamu yakin ? Apa kamu sudah siap hidup di jalanan tidur di emperan toko ?"
Faris melihat tas Sonia yang terjatuh dilantai, beberapa isinya berhamburan keluar. Ingin merebut tas tersebut tapi Sonia kalah cepat dengan Faris.
"Wooww... Pintar juga kamu sayang. Mau kabur dengan membawa barang-barang ini ?"
Kartu kredit milik Faris, perhiasan yang sempat dibelikan pria itu, serta buku tabungan milik Sonia sendiri Faris dapatkan dari dalam tas Sonia.
"Berikan padaku Faris, itu milikku !!" Sonia mencoba merebutnya tapi tetap tak bisa.
"Milikmu ? Hahaha milikmu itu milikku sayang termasuk..." Faris dengan mata mesumnya menatap Sonia jelalatan tepatnya pada tubuh Sonia.
"Tubuhmu yang aduhai ini." Faris mencengkram kedua pipi Sonia.
"Jangan kamu berani-berani kabur dariku dengan membawa semua barang-barang ini Sonia. Kamu seharusnya bertanggung jawab atas hilangnya perusahaanku dari tanganku."
Lalu Faris melepaskan cengkraman pada pipi wanita itu dengan kasar. Sonia meringis kesakitan. Dulu saat bersama Satya tak tak pernah diperlakukan dengan sekasar itu kecuali saat terakhir mereka akan berpisah.
Saat berumah tangga dengan Satya, pria itu lebih memilih diam dan pergi ketika mereka berdebat daripada berlaku kasar padanya Sonia. Haruskah Sonia menyesal telah berkhianat pada Satya ? Tentu saja dirinya harus menyesal tapi percuma semua tak akan bisa kembali lagi.
Faris mengeluarkan sebuah kertas putih yang telah berhiaskan susunan huruf membentuk setiap kalimat demi kalimat. Kertas itu disodorkannya pada kekasihnya itu.
"Cepat tanda tangani surat ini." Titah Faris pada Sonia.
Sonia membaca kop surat, tertuliskan Surat Kuasa. Kening Sonia mengernyit untuk apa Faris menyodorkannya surat itu padanya.
"Ayo cepat tanda tangan !"
"Biarkan aku membacanya dulu." Ucap Sonia.
__ADS_1
"Tak perlu kamu baca, ini surat kuasa atas tabungan milikmu." Ucap Faris.
"Untuk apa kamu memberikan surat kuasa atas tabungan ku ? Apa yang kamu rencanakan ?"
"Kamu tak perlu tahu, aku membutuhkan uang. Kamu pikir setelah perusahaan ku diambil alih oleh mantan suamimu itu aku bisa memiliki pendapatan lagi ?" Faris tertawa sinis dan miris. Tergambar jelas rasa kesal, amarah dan penyesalan bertindak ceroboh dan bodoh hingga berimbas pada perusahaan dan keuangan pribadi miliknya.
"Aku tidak mau, itu tabunganku. Kamu tak boleh memakainya."
"Boleh atau tidak kamu harus menandatangani nya." Ucap Faris kekeuh.
"Aku tak mau !!" Teriak Sonia.
Plak !!!
Plak !!!
Tamparan bolak-balik hingga kedua pipi Sonia kembali merah merata. Faris geram karena Sonia pun keras kepala tak mau menandatangani surat yang dia berikan.
"Cepat tanda tangani atau kamu akan mati kelaparan."
"Lebih baik aku mati daripada harus memberikan tabunganku padamu."
Plak !!!
"Baiklah akan aku kabulkan pilihanmu. Wanita ****** seperti mu memang pantas mati secara perlahan."
Faris sekarang sudah lebih sering main tangan terhadap Sonia. Wanita itu mendapatkan kekerasan secara fisik dan verbal. Siapa yang menyangka jika memang terkadang kejahatan bisa justru lebih sering dilakukan oleh orang terdekat sendiri.
Wajah Sonia sudah babak belur memerah dan mungkin esok atau sebentar lagi akan membiru. Wanita itu menangis menahan sakit pada fisik dan hatinya. Orang yang disayanginya tega melakukan hal itu padanya.
Digeret lengan Sonia oleh Faris ke dalam kamar. Semua barang yang berharga milik Sonia diambil seluruhnya oleh Faris. Kasar itulah perilaku pria itu kini, dilemparnya tubuh Sonia ke dalam kamar tersebut lalu mengunci pintu kamar tersebut.
Wanita mantan Nyonya Balakosa itu menangis meraung sembari memukul pintu. Berteriak meminta untuk dibuatkan, menangis sejadi-jadinya. Meratapi nasib yang tengah dialaminya saat ini.
Sama halnya dengan Sonia saat ini Alya tengah melamun dan menangis. Ia begitu syok mengetahui dirinya hamil dengan kondisi kehamilan yang sedikit bermasalah. Hingga lima bulan dirinya tak mengetahui jika dirinya hamil. Kehidupannya seakan terjungkir ke dasar paling bawah saat ini.
"Aku hamil ? Jack... Dia harus bertanggung jawab atas kehamilan ku." Gumam Alya.
"Aaarggghh !!! Brengsek !!! Sialan !!!" Maki Alya sembari berteriak-teriak di dalam kamar rumah sakitnya.
Beberapa barang yang ada di atas nakas dibuang olehnya. Menyalurkan emosinya atas apa yang sedang dialaminya.
Brak !!! Prang !!!
"Kenapa aku yang harus merasakan semua ini !!! Harusnya bocah itu yang mati dan Belva yang merasakan kesialan ini. Aaarggghh !!!"
Alya terus berteriak-teriak mengeluarkan segala keluh kesahnya. Segala kesialan yang dirasakan saat ini. Alya tak terima jika dirinya merasakan kesusahan karena yang seharusnya merasa susah adalah Belva.
Memang seperti itu jika terlalu mendendam karena rasa iri. Tidak ada kesalahan yang diperbuatnya untuknya tapi ia justru ingin membalas dendam seakan orang tersebut pernah melakukan kesalahan padanya.
Suster masuk ke dalam kamar rawat Alya dengan dua orang polisi yang berjaga di depan kamar rawat Alya.
"Nona, apa yang terjadi ?" Tanya suster khawatir.
Alya ingin pergi dari rumah sakit untuk mencari Jack. Ia ingin kekasihnya itu harus segera mengetahui jika dirinya sedang hamil anak dari pria itu.
"Nona, jangan !!" Teriak suster yang melihat Alya hendak melepaskan selang infus yang menempel di punggung tangannya.
Sigap suster berlari menahan tangan Alya tapi gadis itu terus memberontak. "Lepas !! Minggir kamu !!" Teriak Alya.
"Nona, tenang ! Jangan seperti ini, jika terjadi sesuatu katakan saja nanti kami akan berusaha membantu anda Nona." Ucap suster mencoba menenangkan Alya.
"Lepas !! Aku harus menemui kekasihku !!" Alya masih saja terus berteriak.
Suster kewalahan dengan Alya yang terus memberontak. Tak hilang akal Alya menendang perut suster dihadapannya hingga wanita itu jatuh tersungkur. Dengan sigap polisi mencekal Alya agar gadis yang sudah menjadi target mereka tak kabur.
"Nona, tenang." Ucap polisi tersebut.
Satu polisi yang lain sudah berlari keluar mencari dokter. Mereka tak bisa menenangkan Alya sendiri harus ada dokter yang bisa mengawasi Alya dan mungkin mereka yang lebih baik menenangkan gadis itu dengan cara medis.
"Dokter !! Tolong kami pasien atas nama Nona Alya sedang mengamuk." Ucap polisi yang untung saja menemukan dokter Andrew.
"Mengamuk ? Baik ayo kita segera kesana." Ucap dokter Andrew dengan cepat.
Satya yang sebelumnya memang baru saja mengobrol dengan dokter Andrew pun merasa penasaran. Meski sudah tak peduli tapi pria itu juga penasaran mengapa anak dari mantan istrinya itu bisa sampai mengamuk.
Dokter Andrew dan polisi langsung berlari menuju kamar rawat Alya diikuti oleh Satya yang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika kedua orang yang diikutinya masuk ke dalam ruang rawat Alya. Satya lebih memilih menunggu di luar saja.
"Apa yang terjadi sampai anak itu mengamuk ?" Batin Satya.
Pria itu duduk tenang di depan kursi ruangan Alya. Menunggu dokter Andrew keluar dari ruangan tersebut. Yang ditunggu tak kunjung keluar justru dua orang polis saja yang keluar dari ruangan itu.
"Apa yang terjadi Pak ?" Tanya Satya pada polisi itu.
"Nona Alya mengamuk, kami juga kurang tahu bagaimana bisa seperti itu. Tapi tadi saya dengar jika dia ingin mencari kekasihnya." Ucap polisi.
Kening Satya mengkerut. Hanya demi mencari pria yang menjadi kekasihnya, gadis itu sampai mengamuk. Satya tak tahu penyebab sebenarnya hingga dia hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
Tak berselang lama dokter Andrew dan suster keluar dari ruangan Alya.
"Sus, jika terjadi sesuatu lagi segera hubungi saya." Ucap dokter Andrew pada suster.
"Baik dokter."
Mereka sudah merasa sedikit lega pasalnya Alya sudah tenang akibat diberikan suntikan obat penenang. Jika tak seperti itu maka Alya akan terus memberontak dan melepaskan selang infus nya.
"Tuan Satya, anda ikut kemari ?" Tanya dokter Andrew.
Satya mengangguk. "Apa yang terjadi ?"
"Mari ikut saya ke ruangan saya saja Tuan jika anda ingin tahu lebih lanjut." Ajak dokter Andrew.
"Apakah masalah serius ?" Tanya Satya.
Dokter Andrew hanya menjawab dengan sebuah anggukan saja. Satya mulai mengikuti dokter Andrew ke ruangan pria itu. Entah dirinya hanya ingin tahu saja seserius apa hingga mantan anaknya itu mengamuk.
__ADS_1
"Silahkan duduk Tuan."
"Terimakasih." Ujar Satya, dia duduk di hadapan dokter Andrew.
"Sebenarnya masalah mengenai Nona Alya ini saya sampaikan kepada pihak keluarga terlebih dahulu tapi karena tidak ada pihak keluarga yang menjaganya maka terpaksa saya mengatakannya pada Nona Alya." Ucap dokter Andrew langsung membahas permasalahan Alya tanpa Satya tanya kembali.
Mendengar kata keluarga Alya, Satya merasa sedikit kurang nyaman. Dirinya dulu menjadi keluarga bagi gadis itu tapi setelah tahu semua fakta yang ada hingga membuatnya kecewa Satya tak mau lagi berurusan dengan mereka.
"Lalu ?" Tanya Satya dingin.
"Nona Alya hamil Tuan dan kandungannya juga sedikit bermasalah karena melalu pengecekan ternyata Nona Alya mengkonsumsi obat-obatan terlarang."
Satya cukup terkejut dengan kabar itu. Dia tak menyangka jika Alya bisa melakukan hal yang benar-benar melanggar aturan agama dan juga hukum. Lengkap sudah perbuatan buruk Alya. Percobaan pembunuhan, mengkonsumsi barang haram dan hamil di luar nikah.
Walau bagaimanapun Alya pernah menjadi bagian hidupnya di masa lalu. Kecewa masih bisa dirasakan pria itu kala mendengar dan mengetahui semua perilaku Alya. Andai saja Alya mau mendengarkan didikannya tentu semua itu Satya pastikan tidak akan pernah terjadi.
Apa mau dikata lagi, Alya dan Sonia sudah menorehkan kekecewaan dalam kehidupan Satya. Pria itu hanya bisa menghembuskan napasnya dalam.
"Apa Sonia tak pernah lagi menjaganya selama di rumah sakit ?" Tanya Satya pada dokter Andrew.
"Beberapa kali memang saya melihat Nyonya Sonia menjaga gadis itu. Tapi beberapa hari terakhir tak terlihat batang hidungnya. Tak ada kabar sama sekali bahkan Nona Alya saja tak mengetahui dimana Nyonya Sonia berada." Ucap dokter Andrew.
Satya hanya diam, mau bagaimana lagi dirinya tak ingin ikut campur masalah dua wanita itu lagi. Cukup tahu saja apa yang sedang terjadi pada Alya.
"Emm... Ya sudah kalau begitu saya permisi dokter Andrew." Pamit Satya. Tak ada hal penting yang harus dilakukannya lagi.
Dokter Andrew menatap Satya, pria itu pun cukup merasa aneh pada Satya yang tak memberikan respon simpati maupun empati pada Alya.
"Apa anda tak merasa kasihan padanya Tuan ? Bukankah dia anak anda juga meski anda sudah tak bersama lagi dengan Nyonya Sonia."
"Anak ? Bukan... Dia hanya anak Sonia dan sudah menjadi mantan anakku." Ucap Satya tanpa beban.
Tega ? Memang seperti itulah Satya jika sudah terlanjur kecewa. Dirinya bisa menahan diri tersiksa hidup bersama Sonia tapi tak salah bukan jika Satya berperilaku seperti itu. Jika saja Alya berperilaku baik dan mau mendengarkannya maka Satya masih bisa menerima Alya menjadi anaknya walau kenyataan bukanlah anaknya.
Satya berlalu dari ruangan dokter Andrew. Ditatap punggung lebat Satya oleh dokter Andrew. Pria berjas putih itu menggelengkan kepala heran. Dia masih bisa diberi kesempatan bertemu dengan seseorang seperti Satya.
Tak salah jika Jordi berperilaku hampir serupa dengan Satya karena hidup bergaul dengan Satya sudah bertahun-tahun lamanya. Yang sebelumnya dokter Andrew merasa bingung dengan perilaku sahabatnya yang berubah menjadi lebih cuek dalam beberapa hal.
"Astaga... Biasanya mantan istri memang ada tapi ini ? Bahkan aku mendengar langsung pria itu menyebutkan mantan anak." Gumam dokter Andrew.
Satya kembali ke ruangan Kaila, untuk seharian penuh pria itu menemani putrinya. Kenyataan yang membahagiakan bagi Satya adalah setelah mengetahui jika dirinya adalah ayah kandung Duo Kay, Kaila tak ingin ditinggal oleh Satya.
"Daddyyy... Hiks... Huuu huuu."
Kaila menangis saat Satya masuk ke kamar rawatnya. Belva sedang menenangkan Kaila.
"Ssstt... Sayang jangan menangis dong. Daddy nya kan cuma keluar sebentar nak." Belva mengusap air mata Kaila dan mengusap dada gadis kecil itu.
"Kaila ? Kenapa menangis sayang ?" Tanya Satya berjalan mendekati putrinya.
"Hiks... Daddyyy... Daddy tidak boleh pergi." Rintih Kaila yang masih menangis lirih.
"Daddy tidak pergi sayang, kan Daddy antar kakak ke depan sama Uti, mereka harus pulang dulu." Ucap Satya.
Melihat Kaila yang begitu takut ditinggalkan olehnya, maka Satya duduk di ranjang Kaila berseberangan dengan Belva yang duduk di kursi dekat ranjang Kaila.
"Sini minum dulu Nak." Belva sudah membawa segelas air putih untuk Kaila.
Satya membantu Kaila untuk duduk agar gadis itu bisa meminum air putih yang diberikan oleh Belva.
Tangisan Kaila menyisakan senggukan pada bocah itu, Satya dengan lembut mengusap punggung Kaila.
"Sini peluk Daddy ?" Tawar Satya. Kaila tanpa basa-basi langsung memeluk Daddy nya.
"Gendong." Ucap Kaila dengan napas yang tersengal akibat menangis.
Satya pun menggendong putri cantiknya itu. Bahagia sekali karena merasa sangat dibutuhkan oleh Kaila.
"Kamu sudah makan ?" Tanya Satya pada Belva. Tangan pria itu masih mengusap lembut punggung Kaila yang bersandar pada bahunya.
"Nanti saja, anda sendiri bukan kah belum makan ?" Ujar Belva.
"Ya sudah kita makan bersama saja. Nanti orang ku akan datang membawa makan siang."
"Tidak perlu Tuan saya bisa makan di kantin." Tolak Belva.
"Duduk diam disini jaga Kaila tak usah kemana-mana. Jangan mempersulit diri sendiri." Ucap Satya.
"Saya tak merasa sulit, saya tidak ingin merepotkan orang lain."
"Saya tidak repot. Untuk mu dan anak-anak tidak masalah untukku."
"Tapi..." Ucapan Belva terpotong.
"Kamu Maminya anak-anak saya, jadi tidak ada kata repot tentang semua yang berkaitan dengan Kaila dan Kaili." Ucap Satya. Faktanya memang selain dari ibu dari Duo Kay, Satya memang tak pernah merasa direpotkan oleh wanita yang mampu menarik hatinya.
Belva tak bisa membantah atau menyanggah lagi. Berkeras diri pun pasti Satya akan tetap memaksa dirinya. Keduanya terdiam Belva sibuk dengan pikirannya yang bercabang memikirkan keadaan Kaila dan pekerja. Satya masih sibuk menggendong Kaila hingga gadis kecil itu kini kembali terlelap tidur.
Perlahan Satya menidurkan putrinya di ranjang Kaila. Sebuah senyuman Satya keluarkan saat menatap wajah putrinya.
Belva beralih duduk di sofa, ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang banyak dikejar deadline. Belum lagi pesanan gaun Nyonya Dimitri belum juga selesai. Saat Belva sedang sibuk dan fokus dengan pekerjaannya pintu kamar Kaila diketuk dari luar. Otomatis fokus Belva teralihkan dengan suara tersebut.
"Biar saya saja, kamu lanjutkan pekerjaan mu." Ucap Satya. Belva diam mengangguk.
****
To Be Continue...
Maaf my dear para readers ku hari ini malam baru bisa up karena leher author sakit dan gak nyaman banget buat digerakin kerasa sakit 😢
Semoga kalian tetap setia dan enggak kabur karena up nya lama 😬. Mohon maaf sekali lagi.
Terima kasih buat kalian yang masih mengingatkan author untuk up cerita lagi. Terima kasih banyak buat support kalian. Para readers ku kalian luar biasa baik nya. 🙏🙏
Sehat selalu buat kita semua dan dilancarkan dalam segala hal. Amin 😇
__ADS_1