
Satya membawa Belva masuk ke dalam kamarnya tepatnya ke ruangan walk in closed miliknya. Memang Belva pernah beberapa kali masuk ke dalam ruangan itu dulu saat menjadi pembantu di rumah Satya.
Belva terdiam saat Satya membawanya ke ruangan tersebut. Sebenarnya dirinya tahu jika pakaian Satya berada di dalam ruangan tersebut hanya saja dirinya malas melakukan apa yang Satya minta.
"Masih ingatkan dengan letak ruangan ini ?" Tanya Satya dengan nada dingin.
Sikap pria itu kembali berubah. Satya merasa kesal, dia tahu Belva sengaja tak ingin mengambilkan pakaiannya.
"Sebelah kiri lemari milik saya. Apa kamu lupa ?"
"Meskipun saya tidak lupa tapi itu bukan tugas saya. Saya bukan pembantu anda." Ucap Belva kesal.
Satya menatap Belva dengan wajah seriusnya. "Kamu memang bukan pembantu saya, tapi kamu Maminya anak-anak saya."
"Lalu maksud anda apa menyuruh saya mengambil pakaian anda."
"Anda... Anda... Kamu ingin saya memposisikan kamu sebagai pembantu lagi di rumah ini ? Berhentilah memanggil saya Tuan dan semua kata-kata formal itu." Ucap Satya kesal.
"Tidak ada larangan dan peraturan untuk hal itu." Jawan Belva cepat.
"Saya tidak suka, saya Daddy nya anak-anak. Bisakah kamu bersikap biasa saja ? Ayolah Belva... Bersama Roichi saja saya lihat kamu bisa bersikap biasa. Kenapa dengan saya, kamu seakan menjaga jarak."
"Bukanlah anda tahu sendiri jika Roichi adalah suami saya. Bahkan anda lancang sekali maksa saya masuk ke dalam ruangan pribadi anda hingga mengambil kesempatan tidur memeluk saya." Belva semakin kesal. Satya sangat aneh sekali.
Satya tersenyum miring pada Belva. "Suamimu ? Mana cincin pernikahan kalian ? Mana foto pernikahan kalian ?"
Belva kembali terdiam, seakan kalah dengan apa yang Satya tanyakan. Seharusnya dirinya mempersiapkan semuanya secara matang saat berada dengan Satya.
"Tidak ada ? Atau kalian hanya berpura-pura saja hemm ?"
"Keluarlah saya mau ganti pakaian." Ucap Satya dingin pada Belva.
Pria itu merasa kesal dan marah kenapa Belva menyebutkan bahwa Roichi adalah suaminya. Tapi Jordi dengan jelas dan tegas meyakini jika diantara Belva dan Roichi tidak ada hubungan apapun.
Masih dengan ke-terdiaman nya wanita itu keluar saat Satya memintanya keluar. Sikap Satya kembali dingin padanya, tidak ada kelembutan seperti sebelumnya. Sungguh Belva merasa aneh dengan sikap Satya padanya. Terkadang lembut tapi terkadang dingin seperti ini.
Satya memilih untuk menahan sekuat-kuatnya rasa kesalnya pada Belva. Wanita itu masih saja menjaga jarak pada dirinya. Susah sekali membuat wanita itu merasa bahwa diantara mereka tidak ada lagi hubungan antara majikan dan pesuruh.
"Kenapa cepat sekali, tidak jadi tidur bersama ? Apa permainannya tidak memuaskan jadi Tuan Satya mengusirnya keluar ?" Gumam Tuti dalam hati.
Pembantu muda itu benar-benar hati dan pikirannya busuk sekali. Tidak sadarkah wanita itu apa yang dilakukannya bisa saja berdampak buruk pada dirinya sendiri. Perbuatan buruk akan selalu berdampak buruk pada diri kita sendiri.
Seandainya Tuti tahu apa yang terjadi pada Alya dan Sonia mungkin dirinya akan berpikir ulang untuk berperilaku buruk. Karma tidak akan pergi tanpa jejak meski sudah bertobat sekalipun semua yang kita tabur pasti akan kita tuai. Hanya saja karma yang diterima mungkin saja bisa lebih ringan disaat kita sudah bertobat.
Janis menatap tak suka pada Tuti yang sedari menatap Belva dengan pandangan yang juga tidak suka.
"Tuti kerjakan pekerjaan mu. Jangan biasakan diri mengurusi urusan orang lain."
"Ck... Kamu saja mengurusi urusanku apa bedanya huh ?!!" Ucap Tuti kesal pada Janis.
"Tuti... Tolong bedakan ya. Mengurusi urusan orang lain dengan mengingatkan itu berbeda. Aku mengingatkan mu." Ucap Janis tak kalah kesal.
Rumah Satya hari ini penuh dengan perasaan kesal. Entah itu dirasakan oleh majikannya atau pembantu nya.
Belva masuk ke dalam kamar Duo Kay untuk mencuci muka saja. Dirinya akan mandi setelah sampai di rumah saja.
"Anak-anak, kita bersiap untuk pulang ya." Ucap Belva lembut.
"Pulang ? Kita jadi pulang ?" Tanya Kaila murung.
"Jadi dong Nak. Mami harus bekerja besok."
"Yaaahh... Padahal masih mau disini." Ucap Kaili.
"Iya besok weekend kalian bisa kesini lagi. Kaili besok juga harus sekolah." Ucap Belva lembut.
Duo Kay ingat dengan pesan Daddy mereka. Jadi tanpa banyak alasan apapun Duo Kay menurut saja. Belva senang melihat anaknya kembali menurut padanya.
__ADS_1
Sejak bertemu dengan Satya, dua anak itu tak mau menurut padanya. Belva tak bisa tinggal diam, wanita itu memang harus segera pulang. Jika berlama-lama di rumah besar ini, anak-anaknya akan kacau.
Semua barang-barang mereka sudah siap untuk dibawa hanya tinggal menunggu Satya saja yang mengatakan akan mengantar mereka pulang.
Tak lama Satya masuk ke dalam kamar anak-anaknya. Terlihat Belva dan Duo Kay sudah siap.
"Kaili... Kaila... Sudah siap sayang ?" Tanya Satya lembut.
"Sudah Daddy..." Jawab Duo Kay kompak.
"Ayo kita turun..." Ajak Satya.
Pria itu mengambil tas yang berisi barang-barang Duo Kay. Menggandeng salah satu anaknya untuk turun ke bawah. Dia tak hanya menatap Belva sekilas saja tanpa berkata apapun. Pria itu masib kesal dengan Belva rupanya. Bukan kesal karena tak mau mengambilkan pakaiannya tapi kesal karena Belva mengakui Roichi sebagai suami dari wanita itu.
Hati dan perasaan Satya tak rela jika Belva lebih memilih orang lain daripada dirinya yang sebagai Daddy dari Duo Kay. Daripada ribut karena dirinya mengungkapkan apa yang dirasakan nya maka Satya lebih memilih diam, pria itu sebenarnya tak suka keributan.
Belva menyipitkan matanya lalu bersikap abai pada sikap Satya yang berubah seperti itu padanya. Diangkatnya sebagian barang yang ada dan menggandeng Kaili.
"Ayo sayang, kita keluar." Ucap Belva lembut dan tersenyum pada putranya.
Keempat manusia itu keluar dari rumah besar itu. Mereka masuk ke dalam mobil milik Satya. Belva memilih duduk di belakang bersama Kaili.
"Duduk depan." Ucap Satya.
"Biar Kaila yang di depan." Ucap Belva.
Tanpa Belva tahu, Satya menghela napas. Tak lagi berbicara lebih memilih diam. Pria itu beralih perhatian pada Kaila.
"Pakai sabuk pengamanannya dulu sayang." Ucap Satya dengan lembut pada Kaila. Dia memakaikan sabung pengaman untuk putrinya.
Selesai Satya menatap kaca spion yang ada di atas kepalanya memastikan putranya dan juga Belva memakai sabuk pengaman. Terlihat Kaili sudah siap duduk diam di belakang bersama Belva.
Mobil itu bergerak keluar dari area rumah besar Satya. Gerbang tinggi itu sudah dibukakan oleh Pak Jajak. Dalam perjalanan tak ada pembicaraan sama sekali diantara Satya dan juga Belva. Justru dia orang dewasa itu masing-masing sibuk mengobrol dengan putra-putri mereka.
Sampai di rumah minimalis Belva. Satya turun dari mobil membawa barang-barang Belva dan juga Kaila. Belva menuntun kedua anaknya memasuki rumah. Begitu juga Satya ikut masuk ke dalam rumah.
"Sudah dong Uti. Makanya Kaila bisa bobok di rumah Daddy." Ucap Kaila dengan polosnya memamerkan jika dirinya kemarin menginap di rumah Satya.
Budhe Rohimah menatap sekilas Satya.
"Jadi sudah sejak kemarin pulang dari rumah sakit?" Tanya Budhe Rohimah dengan wajah bingung menatap Kaila dan Belva secara bergantian.
"Iya Budhe... Maaf ya tidak langsung pulang. Anak-anak ingin sekali menginap di rumah Tuan Satya." Ucap Belva.
Satya melirik Belva, susah sekali mengubah kebiasaan Belva terhadapnya. Tapi saat ini Satya memilih diam, tidak ingin protes atau semacamnya.
"Tidak apa-apa Nduk. Mungkin anak-anak memang ingin bersama dengan ayah mereka. Budhe maklum saja karena Budhe tahu pasti mereka juga merasa senang bisa menginap di rumah ayah mereka."
"Anak-anak... Ayo kalian masuk dulu ke kamar kalian." Ucap Belva.
"Tapi sama Daddy." Ujar Kaila.
"Ayo Daddy temani." Satya mengulurkan tangannya pada Kaila dan Kaili.
Tanpa kata Satya berlalu menggandeng Duo Kay di sisi kanan dan kirinya. Ayah dan anak itu masuk ke dalam kamar Duo Kay.
Di ruang tamu Budhe Rohimah menarik lengan Belva untuk duduk. Ungkapan Kaila bahwa merek kemarin sempat menginap.di rumah Satya membuat Budhe Rohimah dilanda rasa penasaran.
"Sini Nduk... Budhe ada yang mau ditanyakan."
"Apa Budhe ?"
"Kalian benar-benar menginap di rumah Tuan Satya ?"
Belva mengangguk membenarkan bahwa itu adalah sebuah kenyataan yang tidak dibuat-buat.
"Budhe sudah dengar sendiri kan dari Kaila tadi."
__ADS_1
"Bagaimana bisa ? Lalu bagaimana dengan Nyonya sonia dan Non Alya ? Apa kamu tidak takut jika mereka mengetahuinya ?" Budhe Rohimah tampak khawatir.
"Sebenarnya ada rasa takut, Budhe. Tapi Tuan Satya sudah bilang padaku jika dia akan melindungi anak-anak. Lagi pula Tuan Satya dan Nyonya Sonia sudah bercerai Budhe."
"Apa ?!! Bercerai ?!!" Budhe Rohimah terkejut dengan berita yang didengarnya itu.
"Iya, kemarin saat kami menginap tidak ada Nyonya Sonia dan juga Alya. Itulah kenapa aku tidak terlalu keberatan anak-anak menginap di rumah Tuan Satya."
"Budhe benar-benar terkejut mendengar berita perceraian mereka. Entah harus merespon seperti apa tapi Budhe rasa itu lebih baik untuk Tuan Satya."
"Maksud Budhe ?" Tanya Belva tak mengerti apa maksud Budhe Rohimah.
"Banyak hal dalam pernikahan mereka yang Budhe lihat memang sudah tak selayaknya dipertahankan." Ujar Budhe Rohimah.
Flashback On
Sebelum Belva ikut ke Jakarta mang Budhe Rohimah sudah bekerja sejak lama dengan Satya. Sejak pria itu belum berkeluarga hingga menikah dengan Sonia.
Budhe Rohimah tahu jika Satya sangat sibuk dan jarang sekali berada di rumah. Pria itu lebih memilih pekerjaannya daripada meluangkan waktu bersama keluarga.
Saat Alya masih SMP, gadis itu sedang mengikuti kegiatan perkemahan yang diadakan oleh pihak sekolah. Saat itu pula asisten rumah tangga hanya ada tiga orang. Budhe Rohimah, Mbok Yati dan juga Pak Jajak.
Mereka bertiga melihat bagaimana sikap Sonia saat Satya tidak ada di rumah. Tak menjaga martabat nya sebagai seorang istri. Sonia justru membawa pria lain masuk ke dalam rumah Satya.
Beberapa kali dan hanya dihitung oleh jari pria itu datang ke rumah Satya. Cukup tampan tapi jelas lebih tampan Satya. Ketiga asisten rumah tangga itu hanya diam saja saat sang Nyonya rumah membawa pria lain ke rumah tersebut. Ancaman Sonia pun turut memperkuat sikap bungkam mereka.
Pria itu Budhe Rohimah pikir adalah saudara Sonia karena Sonia terlihat begitu dekat dengan pria itu. Tidak ada yang mencurigakan dari kedua orang tersebut. Tapi Budhe Rohimah tak sengaja melihat hal yang tak sepantasnya terjadi antara Sonia dan juga pria itu.
Di dalam kamar Satya, Sonia dan pria itu memadu kasih. Keduanya menunjukkan sikap liat mereka di atas ranjang. Tentu saja Budhe Rohimah begitu syok, degup jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Tubuhnya bergetar dan ingin sekali untuk pergi dari tempat itu. Sayang, tubuhnya tak sengaja menyenggol meja di dekat kamar Satya.
Sonia dan pria itu merasa terganggu hingga kegiatan mereka harus terhenti. Sonia pun jantungnya berdegup kencang takut-takut jika ada Satya di luar kamar mereka.
"Bi Imah... Apa yang Bibi lakukan disini ?!" Tanya Sonia terkejut dan panik.
"Ti-tidak Nyonya... Maaf saya... Saya tiba-tiba pusing dan tak sengaja menyenggol meja." Budhe Rohimah tampak gugup dan berkeringat.
Sonia memicingkan matanya, ia tak percaya dengan Budhe Rohimah.
"Bibi mengintip saya di kamar ?" Tanya Sonia.
"Ti-tidak Nyonya... Sungguh saya tidak mengintip."
"Saya tidak percaya, kenapa Bibi gugup seperti itu ?" Tanya Sonia dengan wajah menyelidik.
"Dengar Bi... Jika Bibi masih ingin lama bekerja disini. Jangan pernah membuka mulut Bibi tentang semua yang saya lakukan di rumah ini. Bibi paham ?" Ucap Sonia dengan nada mengancam.
Budhe Rohimah mengangguk patuh tanpa berkata apapun. Ia hanya menatap sekilas wajah Nyonya nya. Saat Sonia kembali masuk Budhe Rohimah menatap tubuh Sonia yang hanya berbalut handuk berwarna putih. Cukup untuk menutupi bagian dada hingga pahanya saja.
Sejak saat itu semua yang dilakukan Sonia hanya dianggap angin lalu orang ketiga asisten rumah tangga itu. Mereka tidak ingin mempersulit diri mereka sendiri dengan ikut campur urusan majikan mereka.
Flashback Off
Belva menatap tak percaya pada Budhe Rohimah. Ia baru mengetahui rahasia yang tersimpan lama itu. Apakah itu yang menjadi penyebab Satya bercerai dengan Sonia, Belva pun tak tahu. Yang Belva tahu Sonia adalah istri setia meski jarang sekali melihat kemesraannya Sonia dan Satya. Bagaimana bisa Sonia sangat marah padanya saat mengetahui dirinya hamil anak Satya sedangkan Sonia sendiri mendua dengan pria lain. Rahasia Sonia mendua benar-benar membuat Belva tak percaya.
"Jadi selama ini Tuan Satya tak mengetahui bagaimana sikap Nyonya Sonia ?"
"Entah tapi Budhe rasa dia tak tahu karena selalu sibuk di luar rumah. Kami juga tidak berani berbicara apapun pada Tuan Satya. Yang ada dipikiran kami adalah bagaimana bisa bertahan bekerja di rumah besar itu dengan gaji yang sangat menjamin kehidupan kami."
"Apa itu penyebab terjadinya perceraian mereka, Budhe ?" Gumam Belva pada Budhe Rohimah.
Budhe Rohimah menggelengkan kepalanya. Wanita itu benar-benar tak tahu karena kejadian itu sudah cukup lama.
"Bagaimana bisa Tuan Satya mengetahui nya bahkan kami tak bercerita apapun. Tuan Satya terlihat cuek ketika berada di rumah. Kejadian itu sudah cukup lama."
****
To Be Continue...
__ADS_1
Enggak pernah lupa author selalu ucapkan terima kasih banyak atas support dari kalian my dear para readers ku. Sungguh baru kali ini author bisa dapat readers yang ramah dan baik hati seperti kalian. Selalu dukung karya receh author. Terima kasih banyak. 🙏🙏🙏